KENA SANKSI ADMINISTRASI


Ibu Puspa mengirim email kepada saya dan menanyakan tentang hal ini:
Saya membaca di internet tentang konsultasi pajak. Kami didatangi petugas kantor pajak yang menyatakan telat bayar PPN tahun masa pajak – 12122009. Tanggal jatuh tempo 15 Januari 2010, tanggal bayar 10 Desember 2010, telat 10 bulan.

Perusahaan kami baru berdiri jadi pada tahun 2009 belum ada yang menangani pajak. Kami baru masuk bulan November 2010, dan pembayaran pajak baru dilakukan bulan Desember 2010. Pada saat itu tidak ada yang menangani. Mohon tips untuk mengatasi masalah ini. Terima kasih banyak sebelum dan sesudahnya. Sangat kami tunggu.
*
Ibu Puspa yang saya hormati, kalau sudah didatangi oleh petugas pajak itu berarti sudah dalam proses penagihan aktif karena ada Surat Tagihan Pajak (STP) yang sampai dalam jangka waktu tertentu belum juga dilunasi oleh perusahaan Ibu.

Kalau dari apa yang diterangkan oleh Ibu, memang betul telah terjadi kelalaian berupa keterlambatan dalam pembayaran PPN Masa Pajak Desember 2009 tersebut yang seharusnya ibu bayar paling lambat tanggal 15 Januari 2010 tetapi baru dilakukan pembayaran pada tanggal 10 Desember 2010.

Kantor Pelayanan Pajak atas keterlambatan pembayaran tersebut menerbitkan STP untuk menagih sanksi administrasi berupa bunga itu kepada perusahaan Ibu. STP tidak segera dilunasi maka diterbitkan surat teguran. Setelah ditegur juga tidak dilunasi segera dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka diterbitkan surat paksa yang kemudian disampaikan oleh petugas pajak ke domisili perusahaan Ibu.

Tidak ada tips lain dari saya terkecuali perusahaan ibu segera melakukan pembayaran atas STP tersebut. Karena secara formal dan material penerbitan STP tersebut sudah benar. Sedangkan alasan bahwa di tahun 2009 tidak ada orang yang menangani pajak di perusahaan tidak bisa diterima.

Saya dapat sedikit menyimpulkan bahwa Ibu datang di perusahaan tersebut di bulan November 2010 untuk menangani masalah pajak dan mengetahui adanya pembayaran PPN yang belum dilakukan lalu Ibu berinisiatif untuk melakukan pembayaran tetapi tidak disadari bahwa ternyata akan timbul sanksi administrasi. Apa yang dilakukan Ibu adalah suatu hal yang sudah benar, karena jika pembayaran PPN itu tidak dilakukan atau ditunda-tunda karena khawatir akan dikenakan STP maka malah akan menambah besarnya sanksi administrasi tersebut. Tentu ini akan memberatkan perusahaan juga.
Saran saya konsultasikan lebih lanjut dengan Account Representative perusahaan ibu di KPP.

Demikian jawaban saya semoga dapat dipahami.
***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11.35 13 Desember 2011

Tags: surat tagihan pajak, stp, bunga, telat bayar pajak, pajak pertambahan nilai, ppn, telat bayar, konsultasi pajak, konsultasi pajak gratis

CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS


CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS

Ini ilmu yang perlu diketahui  seluruh calon jama’ah haji Indonesia. Kata Ketua Rombongan saya ilmu yang baik ini harus dibagi. Okelah kalau begitu. Soalnya beliau saja yang sudah pergi bolak-balik ke tanah suci saja belum tahu kalau ada ilmu seperti ini. Saya kira sudah tahu.

Ini berguna buat halaqah, majelis taklim, yayasan, masjid, musholla, madrasah, ma’had, lembaga pendidikan, pengajian RT, pengajian RW, pengajian PKK, pengajian desa yang ingin mengganti atau menambah Alqur’an buat jama’ahnya.

Sudah tiga periode sejak tahun 2007 Masjid Al-Ikhwan menitipkan proposal permintaan Alqur’an kepada pengurusnya yang pergi haji untuk disampaikan kepada Pengurus Masjid Nabawi, Madinah. Sebut saja pengurus karena kita tidak tahu nama sebenarnya dari lembaga pewakaf Alqur’an tersebut.

Nah, tentu syarat utama dari keberhasilan proposal ini adalah kerelaan dari yang dititipkan untuk dibebani banyak Alquran dengan berat total sebesar 10 kg itu. Karena mau tidak mau amanah ini akan mengurangi jatah berat maksimal dalam kopor untuk dirinya. Atau minimal bikin ribet selama perjalanan pulang kalau ditenteng.

Proposalnya seperti apa sih? Sebenarnya cukup surat satu lembar saja. Rinciannya begini:

  1. Kop Surat. Saya lihat ada juga yang tidak pakai. Tetapi lebih baik surat tersebut memakainya sebagai tanda bahwa permintaan ini resmi.
  2. Pakai bahasa apa? Bahasa Arab boleh. Bahasa Indonesia juga boleh. Bahasa Betawi Bojong juga tidak apa. Tidak dibaca soalnya.
  3. Ditujukan kepada siapa surat tersebut? Tulis saja Pengurus Masjid Nabawi.
  4. Struktur suratnya bagaimana? Salam, kalimat pembukaan seperti biasa yang terdiri dari rasa syukur dan shalawat, inti surat yang isinya bahwa lembaga kita butuh alqur’an, dan penutup.
  5. Tanda tangan pengurus. Dalam surat saya ditambah pula tanda tangan Ketua RW.
  6. Cap. Ini penting banget. Mereka, para penjaga, akan meminta cap kalau dalam surat itu—di atas tanda tangannya—tidak ada cap. Walaupun pada akhirnya tetap akan diberi. Saya sarankan untuk memakai cap buat surat itu. Selesai.

Proposalnya disampaikan kemana? Kalau sudah sampai di Masjid Nabawi pergilah ke pintu 18. Gate 18 ini seingat saya bernama Gate Umar Bin Khaththab. Masuklah dari Gate King Fahd lalu cari di sebelah kanan. Di sana akan ditemukan ruangan kecil yang d idepannya ada tempat antrian untuk masuk ke ruangan itu dan mengambil Alqur’an.

Saya lupa di hari ke berapa saya bawa proposal itu ke sana. Tetapi saya masih ingat saya mengambilnya pada waktu dhuha. Sekitar jam 10-an pagi. Kalau memang belum buka coba tanya-tanya sama penjaga pintu Masjid Nabawi, pakai bahasa tarzan sambil menunjukkan surat itu Insya Allah mereka paham.

Tak hanya orang Indonesia yang bawa proposal, orang Tajikistan, orang Turki, orang dari negeri seberang banyak juga tuh yang bawa. Pokoknya yang enggak bawa proposal sudah pasti tidak boleh masuk. Nanti akan ada penjaganya yang menyortir setiap pengantri bawa proposal atau tidak. Kebetulan saya lihat yang jaga sambil nyortir juga dzikir pakai biji tasbih. Pikir saya di pusat gerakan salafy ini ada juga orang dzikirnya memakai biji tasbih yang katanya bid’ah itu.

Karena saya bawa surat saya diperkenankan untuk masuk. Di sana surat hanya dilihat sebentar (tidak dibaca) oleh para penjaga yang lain lalu diberi lembaran kertas yang divalidasi olehnya dan diberikan kepada saya. Lalu saya disuruh masuk ke ruangan yang lain dengan menunjukkan lembaran kertas kecil tersebut.

Di tanya oleh penjaga yang berada di ruangan itu: “ustadz fi madrasah?” Saya jawab: “Na’am”. Saya enggak bohong kok jawabnya. Saya memang seorang guru dalam sekolah informal pekanan. Lalu saya diberi satu kardus berisi Alqur’an.

Karena saya dari Indonesia, Sang Penjaganya memberi tambahan lagi satu Alquran Terjemah dan satu buku tafsir. Tapi saya diharuskan minta validasi lagi ke penjaga sebelumnya. Satu hal yang perlu diingat kertas validasi itu jangan sampai hilang.

Mau bawa berapa proposal? Mau bawa tujuh proposal dan antri setiap harinya enggak apa-apa, yang penting bisa tidak bawa pulangnya ke tanah air. Saya cuma bawa satu saja cukup. Ada juga jama’ah haji Indonesia yang bawa dua proposal. Dua proposal berarti dua kardus.

Kardus itu berat sekali. Pada saat penimbangan tas kopor dilakukan saya iseng untuk menimbang kardus alqur’an wakaf itu ternyata beratnya berkisar 10 kg. Lalu bagaimana cara bawa kardus itu ke tanah air? Soalnya para jama’ah haji sudah ditakut-takuti oleh para petugas haji sejak di tanah air sampai pemulangan itu bahwa kita tidak boleh bawa tas tenteng selain tas tenteng berlogo maskapai penerbangan. Ah, masa iya sih?

Alternatif cara pertama adalah mengirimkannya dengan kargo. Hitung saja kalau ongkosnya sekitar 8 real per kilonya. Berarti total 80 real. Kalau dikurskan ke rupiah berkisar 200 ribu rupiah. Ini sama saja dapat Al Qur’an enggak gratis. Tapi tidak masalah kalau yang dititipkan memang ikhlas dan berniat infak serta tak mau direpotkan dengan membawa banyak barang tentengan.

Alternatif kedua adalah dengan memasukkannya ke dalam kopor. Tentu saja ini akan makan tempat apalagi tas kopor para jama’ah haji dibatasi beratnya hanya maksimal 32 kg. Tapi sebenarnya tak apa beratnya melebihi itu yang penting berat total satu kloter tidak melebihi batas maksimal 32 kg dikalikan jamaah dalam satu kloter.

Paling tidak jika beratnya melebihi batas yang telah ditentukan biasanya akan jadi perahan para pekerja perusahaan kargo. Untungnya Ketua Rombongan kami tahu trik ini jadi ketika diperas Ketua Rombongan kami dengan tegas menolak permintaan uang tambahan itu karena yang jadi patokan adalah berat total dalam satu kloter itu. Kebetulan banyak juga dari jamaah haji rombongan kami yang beratnya tidak melebihi 32 kg.

Kalau memang tasnya masih kempes dan hanya diisi dengan sedikit oleh-oleh tidaklah mengapa kalau kopor itu diisi dengan Alqur’an itu. Masalahnya adalah bisa tidak kita mengemas Alqur’an sebanyak 19 buku itu dalam kopor? Kalau masih muat silakan saja.

*Jumlah 19 Kitab Alqur’an wakaf ini baru diketahui setelah tiba di tanah air.

Alternatif ketiga adalah dengan menentengnya. Petugas haji Indonesia yang garang-garang di bandara itu tidak akan mungkin untuk meminta kita untuk membuang kardus wakaf alqur’an ini. Jika ditanya isinya apa, jawab saja Alqur’an wakaf dan siapkan kertas validasi jika mereka enggak percaya. Mereka cuma pegang-pegang kardusnya pada saat pemeriksaan untuk mengecek kalau-kalau ada air zam-zam di dalam kardus itu.

Cara alternatif ini tentu merepotkan tapi tidaklah mengapa jika yang bawanya ikhlas. Semoga amalnya dihitung oleh Allah sebagai amal kebaikan. Repotnya gimana sih? Ya karena rawan lupa atau tertinggal barang bawaannya. Apalagi kalau sudah tiba di bandara tanah air dan embarkasi. Sedikitnya ada 4 bawaan di setiap jamaah antara lain Tas tenteng di tangan kanan, tas paspor yang digantung di leher dan diikat di pinggang, tas gemblok di punggung, dan air zam-zam 5 literan di tangan kiri, ditambah satu kardus Alqur’an entah di tangan yang mana lagi.

Satu saran saya terakhir jika memang kardus itu mau ditenteng, siapkan saja sapu tangan tebal untuk ditaruh di talinya. Tanpa sapu tangan itu siap-siap saja tangan lecet kena tajamnya tali kardus. Itu saja.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

semoga kita dipertemukan kembali…

14.55 12 Desember 2011

Tags: masjid nabawi, pintu 18, gate 18, proposal alqur’an gratis, gate King Fahd, gate umar bin Khaththab, cara dapat alqur’an gratis, proposal alqur’an.

SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH


SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH

    Ada waktu senggang yang kami manfaatkan setelah ritual wajib haji telah tertunaikan yaitu rihlah ke berbagai tempat di Makkah dan sekitarnya. Yang akan sedikit saya ceritakan kali ini adalah Masjid Terapung di Jeddah. Sebenarnya bukan terapung begitu saja, tetapi masjid ini didirikan dengan tiang pancang pondasinya yang tertancap persis di pinggir Laut Merah. Sehingga ketika Laut Merah sedang pasang airnya maka masjid ini dikelilingi air dan seakan-akan mengapung di atas air laut.

    Kami berangkat dari pondokan di Makkah jam dua siang melalui jalan lama Mekkah Jeddah. Karena katanya kalau melalui jalan baru nanti akan melewati pos pemeriksaan dan urusan akan ribet. Jarak Mekkah Jeddah melalui jalan lama sekitar 85-an kilometer.

Dalam perjalanan kami mampir dulu ke peternakan unta. Foto-foto bersama unta dan seumur hidup baru kali itu bisa mencium unta yang baunya “prengus” karena sejak lahirnya ia tak pernah mandi. Lalu beli satu botol susu unta murni yang nantinya akan saya sesali. Hu…hu…hu…

Ketua Rombongan sudah bilang untuk tidak langsung meminum susu itu. Dan itu sudah saya turuti. Karena bagi yang tidak cocok dengan susu murni seperti itu walaupun terasa gurih dan enak, isi perut bisa keluar semua.

    Sampai di Masjid Terapung, kalau tidak salah sudah hampir jam 4. Shalat ashar di sana lalu menikmati pemandangan yang ada sambil menunggu maghrib tiba. Benar-benar tepat singgah di sana sewaktu sore. Tersajikan sebuah pesona alam yang sungguh indah dipandang mata.

    Lengkungan kubah dan tiangnya, menara tinggi menjulang, angin yang menderu kencang, Laut Merah dengan ombak kecilnya, langit hitam, dan matahari senja yang hendak turun ke peraduan membuat hati saya tergetar. Subhanallah indahnya.

*Suasana senja di Masjid Terapung

*Pemandangan lain di sekitar Masjid Terapung

    Saya tak dapat menggambarkan lagi apa yang saya rasakan di sana. Ada kebahagiaan dan ketenangan yang didapat saat menikmati semuanya itu. Hasrat untuk memainkan kata-kata mulai timbul. Tapi sungguh hanya cuma terlintas dalam hati. Dan tak dapat tertuliskan sampai kemarin. Jika boleh, inilah huruf-huruf yang bisa terangkai hari ini.

    selalu saja ada senja di setiap sudut

    pun di laut merah

    jika angin yang menerpa dan cahayanya melukis di wajahmu

    akankah ada ufuk hanya untukku

    langit hitam takkan menjadikanku hitam

    tapi serinai siluetmu

menerobos kelalimanku

aku menjadi putih di merah hatimu.

**

Aduh biyunggg…tobaat…Cuma kata-kata itu yang bisa tertangkap. Banyak foto indah yang bisa dibuat. Tapi tak bisa saya unduh di sini. Paling di facebook. Insya Allah. Lihat saja di sana. Hanya sedikit ini.

  • Selalu ada senja di setiap sudut

    

    *Salah satu sudut Masjid Terapung

    

  • Di mana-mana ada senja. Bolehkah aku gunting dan kulipat engkau di sakuku?

Setelah foto-foto, kami menikmati jagung bakar yang dijaja di sana. Penjualnya bisa memikat hati para pengunjung yang mayoritas orang Indonesia dengan sedikit kepintarannya berbahasa Indonesia. “Lima real…! Lima Real…!” Satu biji setara Rp12.500,00.

Setelah makan jagung bakar yang dibeli dan nasi kotak yang disediakan oleh Ketua Rombongan, adzan maghrib berkumandang. Saya mengambil air wudhu di toilet Masjid. Jangan bayangkan seperti di Masjidil Haram yang berlimpah air dan banyak WC serta krannya, di Masjid Terapung sarananya minim, kami harus antri panjang untuk sekadar mengambil air wudhu.

Ada yang membuat hati saya bergetar kembali. Bacaan imamnya itu indah sekali. Walaupun di saat maghrib itu penuh dengan jamaah namun saya membayangkan jika tidak di musim haji. Imam yang sudah sepuh itu memimpin segelintir jamaah di suatu maghrib, di tepi laut merah. Syahdu. Berasa seperti shalat maghrib atau shubuh di sebuah desa di pegunungan atau di puncak Bogor. Tiba-tiba saya membayangkan saya punya pesawat jet, maka sabtu atau minggu pergi dari tanah air untuk sekadar shalat maghrib di sana. Mustahil? Insya Allah tidak.

Setelah shalat maghrib, perjalanan rihlah dilanjutkan ke Masjid Qishosh, melewati air mancur setinggi 100 meter lebih, melewati pula makam Siti Hawa, dan berakhir di pusat perbelanjaan Corniche Commercial Centre, Balad. Beli apa di sana? Beli unta-untaan made in China buat Kinan dan keponakan. Unta-untaan itu kalau ditepuk langsung nyanyi: “Ya Thoybah…ya Thoybah…”. Di Jeddah, di Makkah, dan di Madinah harganya sama, 15 Real.

Tidak lama setelah itu kami pulang. Sampai di pondokan jam 11 malam. Dan berakhir sudah rihlah di hari itu.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

mana senjamu?

17.51 11 Desember 2011

Tags: hajj 2011, mekkah, madinah, jeddah, corniche commercial centre, siti hawa, masjid terapung,

MUSTAJAB BANGEEET…


MUSTAJAB BANGEEET…

    Bagaimana cara bertemu dengan teman yang kita tidak tahu nomor kloternya berapa, tinggal di sektor mana, rumah pondokannya berapa? Suatu hal yang mustahil saya mencari satu orang di antara ratusan ribu jama’ah Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru mata angin kota Makkah.

    Tapi di sana tidak ada yang mustahil. Tinggal berdoa saja di depan Kakbah, di sebuah tempat yang paling mustajab, di waktu yang mustajab, dengan 100% keyakinan pada Allah, maka tunggu dan biarkan mekanisme doa itu berjalan sendirinya untuk kita. Dan saya hanya terlongong-longong ketika teman saya itu muncul di hadapan saya begitu saja. Terpana. Tak dinyana. Tak terduga. Allah Akbar.

Mustajab banget doa di sana. Banyak sekali doa yang dikabulkan. Oleh karenanya tak pandang sepele semua keinginan saya panjatkan. Dengan bahasa Arab ataupun pakai bahasa orang Bojong. Doa kecil ataupun doa besar. Maksudnya? Doa kecil itu semisal minta supaya saya tak ada masalah pada saat mengantri toilet di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMINA). Doa besar semisal agar saya bisa dikumpulkan dengan orang-orang yang saya cintai di Firdaus A’laa bersama Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Saran saya buat yang mau berangkat haji di tahun-tahun mendatang adalah siapkan stok doa sebanyak mungkin. Doa berbahasa Arab yang sudah kita hapal, kita pahami betul maknanya sehingga tak sekadar diucapkan di lisan. Bahkan jika kita hanya punya satu doa andalan—doa sapu jagat, Robbana aatina—tak mengapa itu diulang ribuan kali atau menjadi doa pada saat thawaf dan sa’i. Jika sudah selesai dengan doa yang berbahasa Arab berdoalah dengan doa berbahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang kita kuasai. Allah Maha Mendengar.

Jangan malu untuk buka-buka buku pada saat doa di sana. Buku paket doa dan dzikir yang dibagikan pemerintah di tanah air itu juga bisa mencukupi. Atau dengan buku yang dibagikan pada saat kita mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Di buku itu ada tulisan Arabnya dan terjemahannya. Saya pakai buku yang terakhir dan membaca terjemahannya di saat berdoa karena saya anggap isinya bagus banget.

Jangan sepelekan buku dzikir dan doa yang dibagikan oleh pemerintah yang isinya juga bagus-bagus. Mentang-mentang tak ada keterangan doa ini dari hadits (Nabi) atau dibuat oleh siapa jadi enggak dipakai. Padahal buku doa dan dzikir dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS) pun sama bae. Enggak ada keterangan doa itu riwayat dari siapa atau ditakhrij oleh siapanya.

Keuntungan yang dimiliki oleh orang-orang Makkah dan Madinah adalah mereka punya tempat yang mustajab untuk berdoa—di Makkah yakni di Multazam sedangkan di Madinah yakni di Raudhah—yang bisa mereka kunjungi kapan saja. Tak ada kendala jarak dan waktu.


Tampak seorang Pakistan berdoa dengan khusyu’ memandang Kakbah

di lantai paling atas tempat sa’i Masjidil Haram (18/11)

Tapi Allah Mahaadil, Allah memberikan kepada kita—kaum Muslimin secara keseluruhan—saat yang mustajab untuk kita berdoa. Oleh karena betapa susahnya kita doa di tempat yang mustajab itu maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya saat-saat yang tepat itu dan jangan sekali-kali meremehkannya. Saat-saat itu adalah antara lain waktu sahur, sepertiga malam terakhir, turun hujan, antara adzan dan iqamat, berbuka puasa, dan pada saat khatib jumat duduk.

Berdoalah apa saja sesuai hajat kita dengan sepenuh hati. Pun dengan adab-adab doa yang telah kita ketahui bersama antara lain seperti memulai dan mengakhirinya dengan mengucapkan rasa syukur dan shalawat, mengangkat tangan, khusyuk, serta penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan Allah.

Satu hal lagi adalah ada saat berdoa yang mustajab yang tidak bisa dimiliki oleh kaum muslimin hatta penduduk Makkah dan Madinah sekalipun kecuali mereka yang berhaji yaitu pada saat wukuf di Arafah. Jangan sia-siakan waktu yang enam jam itu untuk kita tuntaskan semua hajat kita dengan doa. Waktu itu dimulai saat tergelincirnya sampai terbenamnya matahari.

Kebanyakan dari jama’ah haji Indonesia hanya memanfaatkannya sebentar yaitu pada saat dimulainya khutbah wukuf sampai selesainya. Atau paling lama sampai waktu ashar tiba. Saran saya adalah berdoalah sampai benar-benar maghrib tiba. Saya merasakan sekali betapa waktu itu terasa pendek dan teramat berharga. Seperti merasa waktu itu hanya akan mampir cuma sekali dalam seumur hidup. Seperti merasa hanya punya waktu sehari saja untuk hidup di dunia atau mau dihukum mati besok harinya. Oleh karenanya di penghujung waktu itu saya ulangi semua hajat dan keinginan terbesar saya dan minta agar saya bisa kembali untuk menjumpainya.

Semoga kita bisa menjumpai saat itu dan memanfaatkan waktu yang terbaik untuk berdoa dengan sebaik-baiknya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lagi, bukan di depan bangunan hitam itu kita dipertemukan

03.15 11 Desember 2011

LANGIT BIRU DI SIANG MAKKAH


LANGIT BIRU DI SIANG MAKKAH

Senin (5/12) dini hari, bus rombongan dari Bandara Soekarno Hatta menuju asrama haji Bekasi itu melewati jalan tol yang sudah sepi. Lampu papan iklan yang besar-besar di pinggir jalan itu dengan beraneka produk yang ditawarkan telah memastikan saya bahwa saya sudah benar-benar kembali ke negeri tercinta. Saya seperti kembali dari sebuah keterasingan menuju peradaban.

    Bagaimana tidak, 40 hari lamanya saya tak pernah tahu sama sekali tentang kondisi tanah air. Tak pernah buka internet, buka email, baca koran, atau nonton televisi. Kalau yang terakhir bisa saya lakukan selama 9 hari terakhir di Madinah tetapi pada kanal televisi kabel berbahasa arab dan Inggris yang memberitakan seputar tanah Arab dan Eropa.

    Dalam hari-hari itu saya merasa benar-benar hanya terkoneksi dengan langit. Berusaha menghapus sisi-sisi kelam apa yang ada pada diri dan untuk semata-mata mencari ridha Sang Penguasa Langit dan Bumi. Bahasa sederhananya adalah di sana itu untuk ibadah, ibadah, dan ibadah. Lalu sampai pada suatu titik semua yang saya lakukan itu—dengan segala kekurangan yang ada—bisa diterima oleh-Nya tanpa riya dan sum’ah.

    Lebih dari 40 hari pula saya tidak menulis. Menulis tentang apapun. Tak ada buku diari yang penuh dengan coretan seperti catatan harian para pengelana Barat itu. Tak ada. Semuanya hanya saya rekam dengan mata lalu disimpan di otak. Dan yang saya rasakan sekarang adalah betapa kapasitas otak ini sudah tak bisa lagi untuk menahan beban mati ini. Harus segera dikeluarkan. Maka malam ini kembalilah saya menulis.

    Menulis begitu banyak pengalaman yang ada. Saking banyaknya yang menarik, baru, dan ingin saya ceritakan itu membuat saya bingung untuk memulai dari mana. Tetapi yang pasti akan ada yang tertulis—insya Allah—walau tidak sistematis seperti cerita haji di blog-blog yang lain. Saya hanya menulis yang saya sedang suka, hampir lupa, dan harus segera dituliskan. Ada sebuah harap cerita yang tertulis ini bisa bermanfaat buat yang lain. Jika tidak? Anda tahu apa yang harus Anda lakukan.

    Sebuah permohonan maaf dari saya jika ada email yang belum sempat saya balas, pertanyaan konsultasi yang belum terjawab, blog yang tak ada tanda-tanda kehidupan selama hari-hari itu, notifikasi facebook yang terabaikan, permintaan pertemanan yang tiada respon, dan segalanya. Semoga maaf ini bisa diterima. Seperti langit biru di atas Makkah yang menerima semua yang tertuju padanya. Banyak doa, harap, dan menara.

*Babul Malik Abdul Aziz—16 November 2011

    Lalu kapan mulai berceritanya? Nantilah. Ini sudah jam 2 pagi. Waktunya untuk tidur. Tidurlah…

***

Riza Almanfaluthi

bukan di bangunan hitam itu kita dipertemukan

dedaunan di ranting cemara

02.00 10 Desember 2011