Cara Jitu Menjadi Top 1 Popular Users


Cara Jitu Menjadi Top 1 Popular Users (User Bodong)

Sampai detik ini masih saja ada yang tanya bagaimana penentuan blogger dikategorikan sebagai Top Popular Users? Kriterianya apa sih supaya bisa dimasukkan dalam daftar yang berada di sebelah kiri paling bawah halaman utama CiBlog itu?
Kalau Anda membuka sebuah blog, di sana disediakan menu membuka profil atau jatidiri dari yang mempunyai blog tersebut. Menunya adalah View my profile. Jika Anda mengklik menu itu, maka akan dimunculkan halaman User Profile. Contohnya di profile saya sendiri, halaman itu berjudul User Profile: dedaunan.
Pada halaman tersebut ditampilkan berbagai macam informasi, seperti info tentang weblog, name, gender, birthday, location, about me, interest, entries written, comments written, comments received, signup date, last login, my friends are, dan terakhir I’m a friend of.
Nah ini dia, yang disebut terakhir ini menjadi kriteria Anda masuk dalam daftar itu atau tidak. I’m friend of ditampilkan dengan jumlah yang berada di dalam tanda kurung. Ditampilkan pula nama teman-teman blogger yang memasukkan Anda sebagai teman mereka.
Jadi untuk bisa masuk dalam daftar Top Popular Users, teman-teman blogger Andalah yang menentukan. Anda bisa meminta terus terang kepada mereka untuk menjadi teman. Anda bisa meminta mereka untuk me- manage friends dan klik Add Friends. Dengan menghiba-hiba atau dengan kesukarelaan mereka karena Anda telah begitu banyak memberikan komentar atas segala postingannya. Mereka tentu tidak enak, masak Anda begitu perhatian, tapi mereka tetap juga tidak menjadikan Anda sebagai teman. Teganya, hiks…
Atau dengan memberikan postingan yang berkualitas sehingga memberikan kesadaran atau pencerahan kepada teman blogger yang lainnya. Dan tentu mereka pun akan sukarela menjadikan Anda sebagai teman mereka, karena Anda selalu memberikan yang terbaik buat mereka. Anda tampil dalam daftar Top 20 Popular Users berarti memang Anda layak dijadikan teman oleh blogger yang lain.
Tapi lagi-lagi ada cara pintas supaya minimal Anda masuk menjadi Top 20 Popular Users, bahkan menjadi Top 1 Popular Users. Cara ini lagi-lagi hanya dilakukan oleh para blogger yang hanya mencari popularitas. Mereka tidak memerdulikan cara sehat dan performance diri mereka lagi. Mereka tidak perlu menghiba-hiba kepada teman blogger atau pendatang baru agar dijadikan teman. Mereka tidak perlu memberikan postingan yang berkualitas kepada teman-teman blogger lain. Caranya?
Sebelumnya saya ingatkan bahwa apa yang saya tulis ini adalah dalam rangka pembelajaran belaka dan dalam rangka supaya Anda dapat mengetahui berbagai macam shorcut dalam mencapai tujuan jangka pendek ini. Selebihnya tidak. Apabila ada yang sampai berbuat di luar itu, maka semuanya diluar tanggung jawab saya (hehehe… enak saja).
Caranya adalah pertama Anda menentukan waktu yang tepat untuk melakukan ini. Mencari waktu supaya Anda dapat dengan cepatnya melakukan transfer data. Berarti waktu yang tepat adalah saat-saat di luar jam kerja. Saat itulah kecepatan akses dan transfer data bisa tercapai dengan maksimal.
Setelah Anda menentukan waktunya, Anda hanya cukup dengan membuat 30 user baru setiap harinya. Namanya bisa apa saja. Ini tentu butuh password. Supaya Anda tidak lupa, buat saja satu password yang sama untuk 30 user itu atau passwordnya samakan saja dengan nama usernya. Baru setelah itu di setiap user Anda cuma me-Manage Friends dan tinggal tulis nama user yang Anda inginkan menjadi Top 1 Popular Users, setelah itu klik Add Friends. Selesai.
Hal yang sama Anda lakukan terhadap 29 user bodong lainnya. Esoknya Anda lakukan hal yang sama dengan membuat 30 user bodong. Dalam jangka waktu 7 hari nama user Anda yang sebenarnya (asli) bisa menjadi Top 1 Popular Users. Melampaui Pj dan Maverick. Atau kalau memang Anda berambisi sekali dan tidak mau terlalu lama menunggu, Anda bisa membuat user bodong itu seharian, sebanyak-banyaknya—itu pun kalau Anda sabar dan mampu. Tapi sudah jelas Anda bukan The Real Blogger.
Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Sekali lagi ini cuma tutorial belaka. Correct me if I wrong.

(Saya tidak tahu apakah ini satu-satunya shortcut atau ada yang lain).

dedaunan di ranting cemara
good and bad
15:39 12 Desember 2005

Sedia Payung Sebelum Hujan (Pujian)


Dalam sebuah bab dari sebuah buku tua yang dimiliki oleh Bapak dan telah dibaca oleh saya pada saat kelas tiga SD diuraikan tentang bagaimana cara seseorang menghadapi kritik. Buku yang ditulis oleh Dale Carnegie ini menggambarkan dengan cantiknya bagaimana perasaan orang yang dikritik dengan berbagai macam kritikan Mulai dari rasa marah, tersinggung, cemas, hingga efek yang ditimbulkannya berupa stress hingga munculnya berbagai macam penyakit.

Kemudian diuraikan pula bagaimana sikap orang yang berpikiran positif dalam menghadapi segala kritikan tersebut. Pada intinya ia bilang ”Siapkan payung dari hujan kritikan”. Siapkan payung disini adalah siapkan mental sekuatnya atas apa saja yang kita lakukan yang akan mengundang banyak kritikan dari orang lain. Banyak contoh diuraikan oleh Carnegie bagaimana cara mempersiapkan payung itu.

Ada satu hal yang kurang dan tidak dibahas dalam buku tersebut. Hal biasa namun ternyata dapat memberikan efek negatif cukup besar bagi mental manusia. Yakni bagaimana setiap orang seharusnya dapat juga mempersiapkan payung dari hujan pujian. Tentu kita maklumi bahwa Dale Carnegie hidup di masyarakat yang menjunjung tinggi materialisme dan kapitalisme. Sehingga penyikapan mereka terhadap pujian pun berbeda dengan penyikapan umat Islam terhadap pujian.

Bagaimana tidak, dalam materialisme, pujian adalah satu paket dengan ketenaran dan pencitraan diri. Sudah menjadi konsekuensi logis bahwa mereka yang tenar dan sukses dalam bidang tertentu mendapat pujian sebanyak mungkin dan dari mana saja. Karena ini berkaitan dengan–sekali lagi—pencitraan dirinya. Semakin dipuji semakin memberikan value added pada dirinya di mata orang lain. Sehingga pada akhirnya ia dapat diterima di komunitas masyarakat yang lebih tinggi derajatnya.

Berbeda dengan nilai-nilai yang dianut dalam Islam. Agama suci ini mengajarkan kepada umatnya berhati-hati terhadap pujian. Karena ini menyangkut hati yang akan terkotori. Mengapa demikian? Karena pujian yang berlebihan akan mengakibatkan melencengnya niat awal bagi yang dipuji. Bila terjadi hal yang demikian maka syirik kecil yakni riya’akan muncul.

Pujian berlebihan juga akan mematikan kreativitas. Ia akan merasa bahwa apa yang ia perbuat nihil dari kesalahan padahal manusia adalah tempat dari lalai dan lupa. Ia tidak mengetahui kekurangan dirinya dan terlambat untuk memperbaiki. Kreativitas pun mandeg atau jalan di tempat.

Pujian yang berlebihan akan mengakibatkan ketidaksiapan yang dipuji untuk menerima hal-hal yang buruk tentang dirinya. Pujian yang berlebihan juga akan memunculkan rasa ’ujub (takjub dan bangga pada dirinya sendiri) atau bahasa gaulnya narsis gitu loh.

Nah, bicara tentang ’Ujub digambarkan secara jelas oleh Ustadz Said Hawwa dalam buku yang ditulisnya berjudul Intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali: Mensucikan Jiwa. Bahwa biasanya manusia akan ’ujub atas delapan hal. Yakni yang pertama adalah ’ujub dengan fisiknya. Kedua adalah ’ujub dengan kedigdayaan dan kekuatan. Yang ketiga ’ujub dengan intelektualitas, kecerdasan, dan kecermatan dalam menganalisa berbagai problematika agama dan dunia.

Yang keempat adalah ’ujub dengan nasab yang terhormat. Kelima ’ujub dengan nasab para penguasa yang zhalim dan para pendukung mereka. Keenam adalah ’ujub dengan banyaknya jumlah anak, pelayan, budak, keluarga, kerabat, pendukung dan pengikut. Ketujuh berupa ’ujub terhadap harta kekayaan. Dan yang terakhir adalah ’ujub dengan pendapat yang salah.

Berkaitan dengan dunia kepenulisan maka ’ujub yang seringkali menimpa adalah bentuk ’ujub yang ketiga yakni ’ujub dengan intelektualitas, kecerdasan, dan kecermatan dalam menganalisa berbagai problematika agama dan dunia, sehingga mengakibatkan sikap otoriter dengan pendapat sendiri, tidak mau bermusyawarah, menganggap bodoh orang-orang yang tidak sependapat dengannya dan kurang berminat mendengarkan para ahli ilmu karena berpaling dari mereka dan melecehkan pendapat mereka. (p:222)

Manusia normal mana sih yang tidak senang dipuji?

”Hei daun kering, tulisan elo bagus-bagus, yah. Bikin gue nangis mulu.” puji si fulan. “Mas Daun Jati, Bikinin gue puisi dong buat pacar gue. Elo kan paling hebat kalo bikin puisi. Gue aja ampe merinding kalo baca puisi elo.” puji si fulan yang lain. Gak kuat…!! Sampai limbung diri ini cari pegangan, supaya tidak jatuh saja sudah susah. Bagaimana tidak besar kepala? Bagaimana tidak akan tidak bergeming dari niat awal mencari ridhoNya kecuali ia memang benar-benar dilindungi Allah dari segala kekotoran hati. Bagaimana tidak akan ‘ujub dari hal itu?

Ustadz Said Hawwa memberikan terapi atas ‘ujub yang demikian yakni dengan bersyukur kepada Allah atas karunia intelektualitas yang telah diberikan kepadanya, dan merenungkan bahwa dengan penyakit paling ringan yang menimpa otaknya sudah bisa membuatnya berbicara melantur dan gila sehingga menjadi bahan tertawaan orang. Ia tidak aman dari ancaman kehilangan akal jika ia ujub dengan intelektualitas dan tidak mensyukurinya.

Beliau menambahkan bahwa hendaknya ia menyadari keterbatasan akal dan ilmunya. Hendaklah ia mengetahui bahwa ia tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit, sekalipun ilmu pengetahuannya luas. Apa yang tidak diketahuinya di antara apa yang diketahui manusia lebih banyak ketimbang yang diketahuinya, lalu bagaimana pula tentang apa yang tidak diketahui manusia dari ilmu Allah?

Hendaklah ia menuduh akalnya dan memperhatikan orang-orang dungu; bagaimana mereka ’ujub dengan akal mereka tetapi orang-orang menertawakan mereka? Hendaklah ia berhati-hati agar tidak menjadi seperti mereka, tanpa disadarinya. Orang cupek akal saja yang tidak mengetahui keterbatasan akalnya, sehingga ia harus mengetahui kadar akalnya dibandingkan dengan orang lain bukan dengan dirinya sendiri, atau dengan musuh-musuhnya bukan dengan kawan-kawannya, karena orang yang berbasa-basi selalu memujinya sehingga semakin ’ujub. Demikian Ustadz Said Hawwa (p:222).

Dalam sebuah tulisan yang berjudul Tawadhu di majalah Sabili, sebagai pembuka, penulisnya menceritakan gundahnya Helvy Tiana Rosa menyikapi fenomena penulis muda yang baru menulis satu atau dua buku sudah merasa paling hebat, merasa paling unggul. Padahal Taufik Ismail yang telah menulis banyak buku begitu tawadhunya dan tetap merasa belum apa-apa dengan segala karyanya itu. Sehingga beliaupun di usianya yang semakin bertambah tetap berkarya dan terus berkreativitas.

”Seharusnya mereka dapat menstabilkan emosinya,” tambah Helvy. Ya, betul perasaan paling unggul, paling hebat akan memandulkan kreativitas dan tidak mau belajar kepada orang lain. Membaca tulisan orang lain pun enggan, seakan usaha itu adalah upaya pengakuan bahwa orang lain lebih hebat daripada dirinya. Dan itu tidak diinginkannya. Dirinyalah yang lebih hebat. Dirinyalah yang pantas dipuji daripada orang lain. ”Ppeee…. betul begitu Mas Daun bersisik?” tanya sisi lain (bukan si Sisil lho).

Jadi bagaimana sih seharusnya kita memuji orang yang memang berhak kita puji dengan segala kecantikan kreativitasnya itu? Mungkin ini bisa menjadi jawaban: beri ia pujian sewajarnya dengan tambahan kritikan. Cara ini perlu agar ia pun bisa mawas diri.

Seperti etika dalam menegur bahwa segala koreksi dan kritikan tidak diungkapkan di depan forum, begitu pula dengan memberikan pujian. Kiranya tidak perlu diungkapkan kepadanya di depan khalayak ramai. Alangkah baiknya melalui surat, email, telepon, atau face to face. Atau kalau memang perlu diungkapkan di depan banyak orang, diusahakan untuk tidak diketahui orang yang dipuji. Ini adalah cara untuk menghindari penyakit hati yang akan timbul dari yang dipuji. Dan terakhir pujilah ia dengan tulus bukan dengan kedok diplomatis, agar ia dapat mensyukuri pujian itu dengan kesadaran bahwa segala pujian hanyalah milik Allah semata.

Tapi, ketakutan terhadap pujian yang berlebihan, ini pun akan mendatangkan sisi ekstrem dengan timbulnya penyakit hati yang lainnya yakni riya’, nah loh. Mengharapkan pujian salah, takut dengan pujian juga salah. Terus gimana dong? Ustadz Yusuf Qaradhawi pernah bilang: ”bersikaplah pertengahan”. Inilah sebaik-baiknya sikap.

So, sebelum kita siapkan payung dari hujan kritikan yang akan mengakibatkan kecemasan dan stress luar biasa, maka siapkan payung dari hujan pujian terlebih dahulu. Karena dengan itu kita akan siap untuk menerima hal-hal yang buruk tentang diri kita sendiri. Setelah itu tinggal nikmati saja badai kritikannya.

Allohua’lam.

Maraji’:

1. Intisari Ihya’ Ulumuddin al Fhazali, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-nafs terpadu diseleksi dan disusun ulang oleh Said Hawwa; 2000; Robbani Press.

dedaunan di ranting cemara

Alhamdulillah

18:39 11 Desember 2005

Cara Jitu Menjadi Top 1 Active Blogs


Sebenarnya banyak cara untuk menjadi Top1 Active Blogs dan menggeser juara bertahan selama ini yang langgeng diduduki oleh abang kita–Abang Jampang–selama berbulan-bulan. Mulai cara yang cantik dan bermutu hingga cara pintas menghalalkan segala cara (emang ada yang haram? enggak tahulah).
Cara yang cantik dan bermutu adalah setiap hari melakukan posting atau entry data, mulai dari berupa artikel orang lain ataupun tulisan sendiri. Kalau mau cepat, minimal Anda harus posting data 50 entries atau lebih setiap harinya. Ini tentu bisa menyebalkan para blogger lain, karena bila entrinya dilakukan sekaligus maka ini membuat postingan dari blogger lain menjadi tertimpa.
Agar tidak mengganggu maka posting data dilakukan saat diluar jam kerja. Keuntungan yang di dapat adalah kecepatan transfer data yang amat cepat, yang biasanya saat-saat jam kerja menjadi lambat hingga blogger kesulitan untuk posting satu entri saja. dan yang pasti anda bisa melakukan entri data di luar jam kerja tersebut kalau Maseko tidak mematikan server Cicadasnya. Betul begitu om eh mas…?
Tapi bila orientasinya hanya untuk tampil agar nama blognya terpampang di active blogs, biasanya ada dilematis yang akan muncul yakni masalah kuantitas atau kualitas dari postingan tersebut. Mungkin tak akan jadi masalah kalau orientasinya adalah kuantitas, sedangkan dilematis itu muncul saat kita mengejar kualitas. Karena saat kita membuat entri yang berkualitas entah dari orang lain dalam bentuk artikel siap jadi atau membuat tulisan sendiri tentu butuh waktu. Sedangkan waktu tidak bisa berkompromi dengan kita, karena sekali kita terlambat maka blogger lain siap untuk merebut ‘tahta’ itu. Memang sungguh dilematis, tapi semua ini terserah kepada diri blogger masing-masing.
Tapi sayangnya ketika orientasi kuantitas menjadi utama dan Blogger tidak sabar untuk mendapatkan artikel atau menulis yang berkualitas, maka ada cara lain untuk menjadi Top1 Active Blogs dengan cara seenaknya saja tanpa ketahuan oleh blogger lain. Artinya Blogger lain tidak mengetahui ia memposting apa tapi tahu-tahu menduduki urutan 20 atau 10 besar. Blogger lain tidak mengetahui seberapa sih kualitas postingannya yang ternyata kalau kita tahu sangat menjengkelkan itu. Dengan cara apa?
Cukup Anda klik Add New Entry, tunggu halaman yang mau diisi, lalu isi dengan satu huruf saja misalnya “a”. Setelah menuliskannya jangan tekan tombol Add New Entry tapi simpan saja dengan mengklik tombol Save As Draft. Postingan tidak akan muncul sebagai entry baru di home atawa halaman utama blog, sehingga blogger lain tidak mengetahuinya, tapi jumlah postingan Anda akan berubah dan bertambah di menu TOP ACTIVE BLOGS. Mengapa ini bisa terjadi?
Ini terjadi karena jumlah yang menjadi dasar penghitungan Anda termasuk dalam active blog atau tidak, adalah jumlah berdasarkan postingan yang masuk melalui halaman http://10.9.4.215/blog/manager/add_entry.php, entah melalui klik tombol ADD NEW ENTRY atau SAVE AS DRAFT, dan tidak didasarkan dari postingan yang ditampilkan melalui halaman utama. Tidak percaya? Coba saja sekarang atau nanti saat semua sudah pulang dari kantor–saat kecepatan akses Ciblog dapat diperoleh secara maksimal. Tapi sekali lagi dalam masalah tutorial, penulis tidak bertanggung jawab terhadap hasil yang diperoleh dari apa yang dilakukan oleh pembaca. Semuanya ditulis dalam rangka pembelajaran saja.
Sehingga untuk mencapai nilai 100 postingan setiap harinya, Anda hanya cukup menulis satu huruf di setiap postingan dan langsung simpan saja, niscaya Anda akan menjadi Top 1 Active Blogs hanya dalam satu minggu saja atau lebih pendek lagi. Tergantung dari kemauan Anda.
Tapi cara itu menurut saya belumlah–kalau tidak mau disebut tidak–elegan. Dan jangan pernah khawatir bagi para blogger yang telah menduduki Top 5 atau Top 10, bila ada blogger yang menggunakan cara ini. Karena sesungguhnya blogger sejati adalah blogger yang bisa memberi dan mencari sesuatu yang baru/inspiratif kepada dan dari para blogger lainnya, sebagaimana yang pernah saya tulis di the real blogger.
Bagi Anda, jangan pernah khawatir untuk tergeser dari top active blogs, karena sesungguhnya secara naluri, para blogger tentu mencari blog yang mempunyai karakter kuat dan berisi. Juga ketertarikan mereka pada blog Anda tidak hanya terletak di sisi kiri halaman utama Ciblog, tapi ada di tangan mereka yang menekan Add to Favorites pada blog Anda di komputer mereka masing-masing. Sehingga mereka–para Blogger–tak perlu melihat sisi kiri Ciblog di setiap paginya, cukup melihat blog Anda di favorites. Karena Anda memang berkarakter dan berkualitas. Tetaplah berkarya.
Demikian tulisan saya, kurang lebihnya mohon maaf. Sesungguhnya Allah adalah Maha Sempurna.
Allohua’lam.
dedaunan di ranting cemara
suatu saat saya akan menulis tentang Blogger Berkarakter Kuat
20:07 09 Desember 2005

Ma’rifatul Maydan


Ceritanya begini, di kantor saya ini sedang heboh-hebohnya melakukan persiapan perjalanan dinas. Saya pun ternyata ditugaskan oleh Kepala Kantor untuk melakukan perjalanan itu. Akhirnya ditetapkan bahwa saya harus pergi ke salah satu Wajib Pajak yang mempunyai lokasi pertambangan di daerah. Tepatnya di Desa Mangkahui, Kelurahan Beriwit, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Waow, ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang sangat baru bagi saya. Maklum saja, selama delapan tahun di KPP PMA Tiga saya tidak pernah melakukan perjalanan dinas. Sebagai Jurusita dulu, paling jauh ke barat Jakarta saya pernah pergi ke Karawaci. Ke timur Jakarta, saya hanya sampai di Cikarang. Ke selatan Jakarta, saya hanya sampai di Gunung Putri. Ataupun secara pribadi, bukan sebagai siapa-siapa, saya paling jauh ke luar Jawa hanya sampai di Lampung. Sedangkan kota yang pernah saya kunjungi di daerah timur adalah Madiun, itu pun di tahun 1999. Sudah lama sekali.
Jadi perjalanan ini adalah perjalanan pertama bagi saya, begitu jauh, dan asing. Saya tidak begitu kenal dengan daerah Kalimantan. Nol besar. Apalagi ini merupakan penerbangan pertama bagi saya. (Hare gini, belum pernah naik pesawat? ck…ck…ck…). Dan bayangan saya tentang Kalimantan adalah pulau di Indonesia yang sepi dan masih banyak hutannya. Saya kesana sendirian lagi, tanpa ditemani oleh siapapun. Sehingga saya benar-benar mengalami rasa takut, ngeri, atau apalah namanya.
Tapi saya sadar, saya takut karena saya asing dan tidak mengenal daerah itu. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, agar saya dapat mengatasi rasa takut itu, agar saya lebih mengenal daerah Kalimantan Tengah, saya pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin yang saya dapat. Istilah kata para da’i kita kudu ma’rifatulmaydan atau mengenal medan terlebih dahulu sebelum melakukan da’wah di suatu tempat.
Pertama saya buka internet, dan langsung mencari daerah Kalimantan Tengah melalui Paman Google. Akhirnya saya mendapat situs Pemprov Kalteng. dari situlah saya mengetahui bahwa Kalteng beribukota Palangkaraya. Maklum saya tak begitu hapal Kalimantan itu terbagi berapa provinsi dan apa saja ibukota provinsi di Kalimantan. Dari sana saya tidak mendapatkan keterangan tentang kabupaten Murung Raya.
Saya kemudian search lagi, dan mendapatkan hasilnya yakni situs Pemkab Murung Raya. Ternyata Murung Raya adalah kabupaten baru, sehingga belum tercantum dalam situs Pemprov. Atau situs Pemprovnya yang belum di update. Ibukota Kabupaten Murung Raya adalah Puruk Cahu. Perjalanan menuju kesana melalui jalan udara hanya dapat ditempuh oleh dua penerbangan saja yang dilakukan oleh DAS (Dirgantara Air Service) dari Palangkaraya, atau dari Banjarmasin (kalau tidak salah).
Untuk menuju ke sana dari Jakarta berarti saya harus naik pesawat ke Palangkaraya terlebih dahulu. Dan ini hanya bisa dilayani oleh dua maskapai penerbangan saja yakni Batavia air dan Sriwijaya Air. Batavia Air terbang dari Jakarta Pukul 12.15, sedangkan Sriwijaya air penerbangan pertama ada pada pukul 09.40.
Dari Palangkaraya saya harus memilih hari yang tepat, karena DAS dalam seminggu hanya melayani tiga hari perjalanan saja. Yakni hari selasa dengan satu kali penerbangan, hari kamis dengan dua kali penerbangan, dan hari sabtu satu kali penerbangan saja.
Dari informasi yang diperoleh dari Wajib Pajak, diketahui bahwa sebenarnya landasan di Puruk Cahu adalah landasan yang dipunyai oleh Wajib Pajak namun juga disewakan kepada DAS. Dan Wajib Pajak sebenarnya sudah menyediakan pesawat dari bandara Sepinggan, Balikpapan ke site. Namun saya bersikeras saya harus datang terlebih dahulu ke Palangkaraya karena ini menyangkut pencairan SPPD. Syarat SPPD cair adalah saya harus mendapatkan stempel dari KPP tempat lokasi kunjungan berada, sedangkan lokasi Wajib Pajak benar-benar berada di wilayah kerja KPP. Walaupun kalau dilihat efisiensi, lebih enak lewat Balikpapan, tapi apa mau dikata, kalau tidak ada legalisasi dari KPP setempat saya tidak akan mendapatkan pengganti atas pembiayaan perjalanan ini. Tapi saya sudah bilang kepada Wajib Pajak kalau pulangnya bisa deh saya ikutan pesawatnya.
Kemudian setelah saya mengetahui jadwal penerbangan ke lokasi, saya pun berusaha mencari tahu tentang suasana di kota Palangkaraya. Oleh karena itu saya bertanya kepada salah satu Kepala Seksi di KPP PMA Tiga yang pernah bertugas lama di daerah Kalimantan. Dari beliaulah saya mendapatkan banyak informasi tambahan yang baru yakni kalau melakukan perjalanan dari Palangkaraya menuju Puruk Cahu melalui jalan darat akan memakan waktu kurang lebih lima jam dan itu pun kalau tidak ditambah dengan banjir. Wah…lama juga.
Yang terpenting juga, beliau menawarkan bantuan untuk menghubungi temannya di KPP Palangkaraya agar setidaknya membantu saya di sana. Mulai dari fasilitas penginapan sampai pesan tiket DAS menuju Puruk Cahu. Tapi saya sudah mewanti-wanti kepada beliau, bahwa saya cuma bisa menginap di penginapan yang murahan saja agar saya dapat menghemat biaya perjalanan itu. Karena saya tidak tahu seberapa besar ongkos perjalanan pulang pergi Jakarta-Puruk Cahu termasuk akomodasinya. Atas hal ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada beliau atas bantuannya.
Pada akhirnya semua ketakutan itu setidaknya berkurang apalagi nantinya saya akan ditemani oleh wakil dari Wajib pajak yang saya kenal akrab dengannya. Sehingga tidak begitu clingak-clingukan di lokasi yang masih asing bagi saya.
Poinnya adalah kita memang perlu melakukan upaya ma’rifatulmaydan dalam melakukan sesuatu perjalanan atau kegiatan apapun. Atau mungkin bahasa kerennya saat ini adalah to plan atau planning, merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Agar kita dapat mempersiapkan apa yang harus kita lakukan supaya tujuan yang diinginkan di awal dapat tercapai.
Oleh karena itu ketika kita akan menikah pun kita perlu ta’aruf terlebih dahulu.
“Lho apa hubungannya Palangkaraya dengan menikah. Jaka Sembung dong,” tanya sisi lain.
“Hehehe….nggak ini cuma intermezo saja Lho anda juga kenapa tanya-tanya segala masalah korelasi dan tidaknya? ” sisi lain balik bertanya.
“Tidak, soalnya masalah ini sensitive lho,” jawab sisi lain.
“Oh ya sudah, kalau gitu saya minta maaf, hehehehe…”pinta sisi lain.
So…ber-ma’rifatulmasydan-lah Anda agar semua rasa takut itu hilang. Setelahnya, biar Allah yang akan melindungi Anda. Insya Allah.
dedaunan di ranting cemara
di antara mimpi-mimpi bumi Kalimantan
18:55 09 Desember 2005

The Real Blogger


Setiap berdiskusi dengan teman saya yang satu ini, seringkali saya mendapat banyak pencerahan. Tentang Both Sides Perspective misalnya, istilah ini saya dapatkan darinya. Hari ini pun dia memberikan sesuatu yang menarik, yang membuat wawasan saya terbuka tentang hal yang menjadi fenomena para Blogger’s pada hari ini. Yaitu untuk menjadikan dunia maya sebagai tempat mencurahkan apa yang dia rasakan dan miliki untuk dibagi dengan yang lain.
Menurutnya, dengan adanya perkembangan zaman dan teknologi yang cukup pesat ini membuat semua pakem masa lalu menjadi berubah 180 derajat dan hampir-hampir tak berlaku pada saat ini. Contoh gampangnya adalah, dulu setiap orang yang mempunyai kesenangan mengungkapkan perasaannya dalam tulisan selalu menumpahkannya ke dalam buku diarynya. Entah perasaan sebal, senang, bahagia, benci, cinta etc. Semuanya tumplek blek di buku itu. Terkunci rapat, digembok pula, tidak ada yang boleh mengetahuinya. Hanya Allah dan dirinya saja yang tahu. Maka, setiap ada orang yang tanpa sengaja membaca buku diarynya atau bahkan menyentuhnya saja, bisa membuat ia marah luar biasa.
Tapi zaman telah berubah, kini orang dengan mudahnya menuliskan perasaannya sehari-hari, baik benci, sebal, senang, bahagia, derita, cinta semuanya ia ungkapkan dalam sebuah wadah yang bernama Weblog atau disingkat menjadi blog saja. Ia tulis agar semua orang mengetahui apa yang ia alami pada hari itu. Ia ikut membagi kesedihannya, kegembiraannya, dan semua perasaan itu kepada semua orang. Ia mempunyai satu tujuan bahwa apa yang ia tulis diharapkan memberikan sesuatu yang baru, pencerahan, pengalaman baru bagi orang lain.Orang yang membacanya diharapkan memiliki respon peka terhadap apa yang ia tulis, sedikit komentar saja bisa membuat ia bahagia.
Di dalam wadah itu ia pun mendapatkan sesuatu yang baru dari teman-temannya. Ia akan mencari para blogger yang dapat memberikan kepada dirinya sesuatu yang baru, sesuatu yang berguna, sesuatu yang membawa dirinya pada cinta, ketergugahan diri untuk selalu semangat memperbaiki diri sendiri. Dimanapun mereka berada walaupun mereka tidak ada dalam daftar top active blogs, top commented blogs, top commenters, top popular users, ataupun new blogs. Inilah blogger sejati. The real bloggers. Give and Take more new experiences.
And then, float to the surface a big question mark. Sudahkah kita menjadi the real blogger, blogger yang dapat memberikan kepada semua orang banyak inspirasi baru, blogger yang sering mencari sesuatu yang baru dari orang lain pula? Jika belum, yuk kita sama-sama belajar untuk menjadi the real blogger. Tiada waktu lain lagi, kecuali sekarang juga.
Allohua’lam.
###
thanks to my best friend: abi attaya
dedaunan di ranting cemara
endeavor to be the real blogger
16:09 09 September 2005

Kutunggu Jandamu


Kalimat ini seringkali diungkapkan oleh mereka yang menjadi ‘pecundang’ dalam pertarungan memperebutkan sang kekasih tercinta. Karena begitu ngebetnya, akal sehat pun tidak dipergunakan lagi. Logika orang kebanyakan seperti “masih banyak wanita lain yang lebih segalanya daripada dia” terabaikan. Bahkan kalau perlu sampai tua pun tidak akan menikah kecuali dengan si dia.

Yang lebih parah adalah si ‘pecundang’ ini sampai-sampai berkonsultasi dengan paranormal hanya karena untuk memenuhi pakem kedua dari para pecundang; ”cinta ditolak dukun bertindak”. Aduh, secantik Zulaikha-kah si dia? Sekaya Khadijah-kah si dia? Senasab Fatimah-kah si dia? Setaat Aisyah-kah si dia? Sampai-sampai kau jual akhiratmu demi duniamu.

Bukan. Kali ini saya bukan mau membahas tingkah menyebalkanmu itu.

###

Seringkali dalam perjalanan mengendarai kendaraan bermotor, para pengguna jalan menemukan hal-hal yang menarik untuk membunuh rasa bosan dan kantuk. Mulai dari tingkah selap-selip pengendara motor, ugal-ugalan angkutan umum, ego dari para pengguna mobil dengan modifikasi yang luar biasa wah-nya, tawuran, kecelakaan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang tak kalah menariknya adalah tulisan yang berada di bagian belakang kendaraan. Mulai yang ditulis besar-besar dengan warna mencolok sampai yang hanya seukuran stiker yang ditempel di bagian ekor motor. Dengan beragam tema pula, mulai dari tema suci ajakan berjihad di tanah Palestina sampai yang mengandung kata-kata jorok plus gambarnya lagi.

Seperti kalimat kutunggu jandamu, yang ditemukan di bagian belakang sebuah truk pasir dengan lembaran karet penahan air hujan dekat ban belakang bergambar dua wanita berpakaian ala kadarnya sedang melamun.

Ada lagi gambar hati merah yang retak dan terbelah bukan dengan panah seperti biasanya tapi dengan kapak 212 Wiro Sableng. Di bawahnya tertulis cinta di tolak dukun bertindak. Di sampingnya ada tulisan lain penggambaran alat-alat yang dipakai dukun seperti ’pelet, santet, teluh, gendam, semar mesem atau apapun namanya’. Mengerikan, semua penghancur hubungan dua manusia itu bak mainan saja dipertontonkan.

Masih banyak lagi gambar dan tulisan lainnya di pintu belakang penutup truk itu. Kalau menyengaja mencarinya, gampang, misalnya datang saja ke pangkalan pasir di sepanjang pantura. Kelak akan ditemukan kelucuan dan kengerian itu.

Ada lagi yang menulis di moda angkutan umum seperti angkot, metromini, atau bajaj yang jumlahnya ribuan di Jakarta ini. Tentang kerinduan terhadap kampung halaman dengan tulisan berlatar belakang alam pedesaan: takana juo. Atau tentang identitas daerah, walaupun ditulis dengan bahasa Inggris ala kadarnya seperti: Far For Sea Nowly. Maksudnya adalah Par Porsea Nauli. Maklum kebanyakan pengemudi berasal dari seberang. Sedangkan bagi orang betawi rangkaian huruf ini sudah cukup mewakili: AP KT NT AJ.

Yang lebih parah dan dapat membuat pembaca tersenyum dikulum, ada yang menulis ungkapan umum ’tidak ada waktu untuk bercinta’ dengan memakai bahasa Inggris tapi salah menuliskannya menjadi No Tame For Love. Atau jangan-jangan maksudnya memang ingin mengungkapkan bahwa dalam bercinta perlu keliaran (tame=jinak), ih…

Bagi kendaraan pribadi biasanya tulisan tercetak dalam bentuk stiker. Ada stiker dari wahana wisata yang langsung ditempel begitu saja tanpa peduli si pemilik mau atau tidak. Ada yang menempelkan stiker bertuliskan awas jangan nabrak, belum lunas di mobil mulusnya. Ada stiker partai kesayangan peserta pemilu tahun 2004 yang masih saja tertempel. Atau yang lebih ’parno’ adalah stiker barcode penanda mobil masih baru walaupun sudah dibeli setahun yang lalu.

Sedangkan untuk di motor ragam stikernya amat bervariasi. Ada stiker yang dibuat agar orang segan, seperti stiker berlambang Bareskrim, Gegana, Brimob, Marinir, Kopassus, atau Kostrad. Ada pula stiker yang menonjolkan arogansi otot dengan tulisan Nabrak Tonjok!, atau Nyenggol Benjut!.

Banyak juga yang menampilkan kelompok eksklusifnya seperti kampus biru, kampus kuning, atau apapun warnanya lengkap dengan jurusannya. Klub bermotor terkenal tak mau kalah untuk lebih tenar lagi seperti Harley Davidson, HTML, dan pendatang baru Mio Club Depok disingkat McD (maksain?).

Stiker lucu juga banyak: awas anak Kapolsek, yang ngerasa cantik boleh ngebonceng, jangan dicolong masih nyicil, otot kawat balung thok. Sampai berisi ejekan pun ada, seperti stiker bertuliskan ’yang membaca g*****’ (maaf saya tak tega menulisnya), juga stiker kartun yang sedang mengacungkan jari tengahnya (maaf)–di closeup lagi. Dan masih banyak lagi ragam dari stiker-stiker tersebut.

***

Satu hal penting dari apa yang diungkapkan di atas adalah bahwa informasi yang disajikan secara mobil akan dilihat oleh banyak orang, dibaca, dan diendapkan dalam memorinya untuk dijadikan informasi lanjutan kelak. Maka akan terlihat betapa efektifnya penyebaran informasi atau opini melalui media tersebut.

Jika begitu dan jika kita adalah seorang pecinta nilai-nilai kebenaran maka kenapa kita tidak mencoba cara itu dengan memuat kata-kata atau kalimat yang lebih dari sekadar kelucuan tanpa makna, kekasaran, ejekan, bahkan pornografi. Karena tidak banyak yang menyediakan sedikit ruang untuk menyampaikan nilai-nilai universal itu.

Tiada kerugian sedikit pun yang kita derita, bahkan jika kita ikhlas dan menjadi perantara turunnya hidayah Allah bagi orang-orang yang mendapatkan nilai-nilai itu maka sudah selayaknya pahala seisi langit dan bumi menjadi milik kita.

Jika kesadaran itu muncul, di banyak truk kita akan melihat sebuah gambar wanita berjilbab dengan tulisan dibawahnya: mar’atushsholihah, engkau adalah perhiasan terindah. Kita akan membaca tulisan di kaca belakang bus antar kota antar propinsi: Jihad is my way. Tak dapat dibandingkan dengan tulisan sebelumnya dangdut is my music.

Di angkot, kampung akhirat bahkan lebih dirindukan daripada kampung halaman dengan adanya kalimat ini: syahid, cita-cita kami tertinggi. Sedangkan di motor, kita akan mendapatkan tanda nasionalisme tanpa sekat-sekat geografis: Save Palestine.

Pula jika kesadaran itu muncul, kita mungkin tak akan pernah lagi menemukan kata-kata para pecundang, yang ada hanya harap: doakan aku dapatkan pendamping yang lebih baik darimu.

Lalu, kapan lagi kalau tidak sekarang?

Semoga.

dedaunan di ranting cemara

mushaf di antara kulit

23.30 06 Desember 2005

Abang Jampang


09.12.2005 – POEM: Abang Jampang, di antara Batavia dan Jakarta

Nih, puisi ane buat untuk menyambut kabar gembira si Jampang nyang mo’ nikah tanggal 17 Desember 2005:
setiap kakek datang
yang ada hanya kegembiraan
bagi Haqi tersayang
bahkan untuk Ayyasy
bersama-sama bernyanyi
dari dua generasi yang berbeda
tak peduli sumbang
tak peduli lirih
tak peduli tak sempurnanya kata
kau mau tahu apa yang mereka nyanyikan?
Abang Jampang lawan centeng
centeng ditenteng
hup hah… hup hah…
lemparin
nyangsang di genteng
husyah…husyah…husyah…
lalu bersama lagi:
cimpompak cimbomber
cimpompak cimbomber
duhai kakek cucu
jika kalian menyanyikan itu
bagaimana aku tidak kembali ke masa lalu
melihat sejarah betawi
dengan golok-golok putih mengilat
kumis panjang melintang
sarung terikat di pinggang
baju dan celana hitam
selampe penutup kepala
dengan ciliwung masih bening
mengundang hasrat mereguknya
atawa passerbaru dengan kerling si mata sipit
bahkan si keling merekejenehe
ah…
sst… itu jadi kuno
itu masa lalu
tapi jangan kau lupakan
karena Jakarta pernah jadi Batavia
maka menarilah bersama dua generasi itu
bernyanyilah lagi:
abang jampang lawan centeng
centeng di tenteng
hup hah… hup hah…
lemparin
nyangsang di genteng
husyah…husyah…husyah…
###
dedaunan di ranting cemara
08.08 09 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Peluru Penghias Jantung


07.12.2005 – POEM: Peluru Penghias Jantung

bidadariku yang cantik
datanglah padaku
tuntun aku
pada taman mewangi mawar
bergemericik syahdu air memancar
membasuh
torehan luka di sekujur tubuh
tanda abadi pedang, tombak, dan panah
dengan debu-debu tanah Palestina,
Afghanistan, bahkan Irak-ku sayang
atau tetesan salju kaukakus dan balkan
bidadariku yang cantik
datanglah padaku
tuntun aku
pada taman firdaus
hapus memori terakhir ini:
ada peluru menembus jantungku
cuma penghias agar aku
dapat menemui Penciptamu segera
sedang mewangi misik masih terasa harumnya.
dedaunan di ranting cemara
kalashnikov berkalang tanah
17:42 07 Desember 2005

Detik Berlalu


06.12.2005 – POEM: detik berlalu

III.
ketika detik berlalu
mengurai masa ke penghujungnya
mengurai benang ke penghabisannya
mengurai cahaya ke kegelapannya
mengurai suara ke keheningannya
mengurai relief ke perabaannya
mengurai hati ke penunggunya
maka sejak itu
harapan ada untukmu
dedaunan di ranting cemara
sepanjang ahad January 12th, 2003

Saya Akan Menikah! Segera!


06.12.2005 – Saya akan Menikah! Segera!

Malam sepertinya belumlah larut pada saat itu. Jarum pendek jam dinding hanya bergeser sedikit dari angka sembilan sedangkan yang panjangnya tetap berkutat menunjuk ke bawah. Segera saya buka jaket penahan angin dingin setelah berjasa menemani dalam perjalanan rutin setiap Ahad malam.
Tiba-tiba saya teringat hari ini adalah hari paling bersejarah bagi seorang teman. Hari di mana ia mengakhiri masa lajangnya dengan bersedia mendengarkan pasangan hidupnya mengucapkan kalimat yang berat pada walinya dengan disaksikan tatapan haru orang-orang tercinta.
Dengan jarak yang begitu jauh dari tempat tinggal, maka saya pun tidak bisa datang ke tempat walimatul’ursy, untuk turut merasakan dan merayakan kebahagiaan teman saya ini, yang tentunya ia adalah teman dari istri saya juga.
“Sudah di telepon, Mi…?” tanya saya pada istri tercinta.
“Oh iya belum, telepon saja sama Abi?” jawabnya sambil masih asyik bercanda dengan si bungsu.
“Lho, Abi kan sudah dari pagi nyuruhnya. Sebenarnya yang pantas untuk menelepon tuh ya Ummi bukan Abi,” tukas saya. ”Seharusnya ketika kita tidak bisa datang memenuhi undangan itu, minimal teleponlah untuk memberikan dukungan, penghargaan sebagai tanda kepedulian kita,” tambah saya panjang.
“Iya deh, Ummi minta maaf, tapi biar Abi saja deh yang menelepon, mumpung belum terlalu malam,” pintanya.
Tanpa menunggu terlalu lama saya angkat gagang telepon, menekan tutsnya, dan membiarkan dering di seberang sana lama terdengar. “Wah, sepertinya sudah tidur,” pikir saya. Selagi berpikir untuk segera menutup gagang telepon, tiba-tiba suara dari seberang terdengar.
“Halo, Assalaamu’laikum, siapa yah?”
“Wa’alaikumsalam, ini saya Abu Haqi,” jawab saya. “Selamat yah, barokallahulaka wabaroka’alaika wajama’a bainakuma fii khoir,” sambung saya dengan doa pendek.
Terdengar ucapan terimakasih yang bertubi-tubi. Terasa ada kegembiraan dari nada suaranya. Setelah berbincang sebentar menanyakan keadaannya, saya segera pamit undur diri agar tidak mengganggu malam pertamanya itu, dengan tak lupa menitipkan salam kami kepada suami tercinta.
***
Perempuan ini sesungguhnya adalah teman istri saya. Ialah yang turut membantu kelancaran jalannya perjodohan kami, sampai pesta walimahan kami terselenggara, walaupun karena kesibukannya dan jauhnya jarak akhirnya ia tetap tak bisa datang.
Walaupun satu angkatan di kampus, saya tidak begitu mengenalnya bahkan saya baru mengenalnya saat ia bersama-sama dengan Ummu Ayyasy menempuh diklat penyesuaian ijazah di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, di pertengahan 2005.
Ia pula yang menjadikan kami sebagai salah satu topik tulisan pada buku pertama yang ditulisnya. Ia adalah seorang penulis. Berbagai penghargaan atas prestasi dalam dunia kepenulisan telah diraihnya. Saat ini telah lima buku ia tulis dan beredar di pasaran.
Dengan segala kesibukannya sebagai PNS, penulis, relawan, dan pengurus pada sebuah jaringan kader penulis ia tak segan-segan untuk berbagi ilmu dan menyemangati saya untuk lebih concern pada dunia kepenulisan. Memang ia layak menjadi mentor bagi saya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah akhir dari sebuah penantian yang panjang. Ini adalah kado ulang tahunnya yang jatuh Agustus lalu bahkan menurut saya ini adalah kado besar ramadhan mubarak. Who knows?
Pernikahannya adalah ajang untuk membuktikan dirinya sanggup menjalankan seperti apa yang sudah lama ia tulis dulu yaitu “tugas mulia dan jihad utama seorang wanita muslimah adalah di rumah, menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya. Di sana pula saya memahami bahwa mendidik anak adalah satu kewajiban ibu muslimah yang tidak mungkin dilimpahkan pada pihak lain.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Lanjutnya lagi ia menulis “Menikah akan membuat saya matang. Menikah akan membuat saya lebih banyak belajar. Belajar lebih tegar dan dewasa. Belajar berbagi dan tidak egois lagi. Belajar menenggang perasaan orang lain. Belajar memahami orang lain. Belajar bekerja sama dan menyelesaikan masalah. Belajar menanggung permasalahan yang lebih besar. Belajar bertanggung jawab atas semua tindakan. Saya tahu, di balik kerasnya kehidupan yang harus saya jalani, Alloh akan memberi sarana untuk memudahkan, karena Alloh tidak membebani hambaNya melebihi kemampuannya. Seperti kata Miranda Risang Ayu dalam bukunya Cahaya Rumah Kita: Cakrawala selalu mengingatkan bahwa di atas bumi selalu ada ruang tak terbatas. Di atas prasangka-prasangka subjektif yang cengeng tentang ketidakmampuan seorang manusia, ada ketidakterbatasan yang menjanjikan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk menjadi lebih baik dan lebih mampu. Syaratnya, hanya berusaha bersandar kepadaNya.” (AMR: Saya tak Lagi takut Menikah, 2001).
Setelah itu dalam kalimat penutupnya ia pun bertekad: “Kalau begitu, saya akan menikah! Segera!”. Walaupun tekad itu baru dapat terlaksana empat tahun setelahnya.
Pernikahannya pada Ahad kemarin adalah ajang pembuktiannya untuk menjadi apa yang dicita-citakannya dalam tulisannya yang lain: menjadi ibu. ”Duh, Ibu. Betapa kesederhanaanmu ternyata menyimpan samudera makna kehidupan yang dalam. Kini, jika saya mengisi lembar biodata lagi yang ada isian cita-cita, saya kembali mengisinya dengan mantap: Menjadi Ibu.” (AMR:Menjadi Ibu, 2002).
Dalam episode perjalanannya menuju titik akhir di Ahad indah itu, tahun lalu ia sempatkan membuat sebuah tulisan yang menyentuh sanubari saya, tidak hanya saya yang berbeda gender, tapi bagi begitu banyak perempuan lainnya. Tentang diamnya ia mendengarkan kesah seorang perempuan dalam penantian panjang mencari pendamping hidup. Diamnya ia bagi saya bahkan menjadi kekuatan menghentak qalbu pada tulisannya yang berjudul ”Semua adalah Pilihan”.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah akhir dari pupus dalam sebuah metáfora kaset. Sehingga tak akan pernah lagi untuk me-rewind-nya, setiap kali ia muncul dalam sebuah puisi. Tentu ini pula adalah sebuah pilihan baginya.
Pernikahannya di Ahad kemarin adalah mula bertukarnya kata-kata indah untuk satu orang saja, yang lebih berhak, dan lebih berkah. Tiada untuk yang lain. Tiada hanya pada malam-malam sepi sembari memandang purnama sedangkan ia sudah punya di sudut jiwanya.
Pernikahannya di Ahad kemarin tidak perlu membuat Anda bertanya-tanya. Anda. tentunya tahu siapa dia bukan?
Pernikahannya di Ahad kemarin, ah…sudahlah, sudah cukup, tidak banyak lagi kata-kata yang bisa ditulis, karena tercekat di ujung pena yang kian menipis bila terus menerus menggores kertas. Sarinya adalah selesai sudah penantian itu. Dan sungguh pertolongan Allah akan datang pada orang-orang yang menikah sebagaimana disabdakan al-musthofa dan diriwayatkan oleh Turmudzi, An-Nasa’I, Al-Hakim dan Daruquthni: “Tiga golongan orang yang pasti akan mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang berjihad di jalan Allah.” (Adhim:1998)
Cairan hangat tiba-tiba terasa di pangkuanku. Bukan, ini bukan airmata. Ini….

“Ya Dedek, kalau mau pipis bilang dong, kan Abi sudah bilang, pipis itu di kamar mandi,” sambil mengangkat si bungsu ini yang dari tadi memaksa untuk ikut duduk di depan komputer melihat saya mengetik tulisan ini.
Pernikahan di Ahad kemarin, alaaah…
dedaunan di ranting cemara
mushaf di antara dua AK-47
22.30 – 05 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan