Trilogi Nestapa: 2. Pacta Sunt Servanda



bagaikan matahari,
aku kering di belahan sahara
menagih cinta yang tercecer
saat aku terpana dulu

dan engkau masih termenung
melihat keluar dari jendela bus
yang terguncang tak tentu arah
oh…
kau masih memikirkan aku rupanya


***
xbata lantai 4

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:21 27 Februari 2009

Trilogi Nestapa: 1. Preambule


rajang setetes dua tetes air mata di atas wajan kemarahanmu
biar aku dulang ia dengan merkuri cintaku
hingga terpisahlah
dan berkilaulah
emas kasihmu
lalu aku terpukau
dengan raut muka terkejut berkata:
ternyata engkau masih punya cinta

***

xbata lantai 4

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:45 24 Februari 2009

Menunggu Birunya


di atasku ada langit biru
tebing tinggi datang menyoretnya menjadi kelabu
ada bayang-bayang setelahnya
jika itu terjadi
ingin aku beri engkau
segenggam hati penuh warna
yang sempat engkau campakkan dulu
hati itu hidup untukmu

***
xbata lantai 4

***
riza almanfaluthi
16:04 25 Februari 2009

Hasrat Tertusuk Sembilu


suatu malam pernah aku singgah di hasratmu
dan aku temukan secarik kertas putih mewarna di deraian nafasmu yang terengah-engah
di sana tertulis:
cintai aku apa adanya
lalu kau gambar jantung retak tertusuk sembilu
merah berdarah-darah

***
xbata, lantai 4

perempuan itu menemukan gumpalan kertas tisu bertuliskan rangkaian kalimat di atas.

***
Riza Almanfaluthi
16:02 24 Februari 2009

Soulmate


sobekan kecil tertempel di cermin, bertuliskan:

ada telaga bening di matamu
di sana, ingin kudayung sampan cintaku
berlabuh, merengkuh jatuh
purnama yang membayang rapuh

****
dari suaminya yang sedari shubuh pergi
berjibaku merenangi lautan knalpot di belantara jakarta

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Februari 2009

purnama setengah


 
Aduhai bulan yang menari di batas awan

kapan sudinya engkau menyentuhku

pada buaian yang takkan membuatku terlelap

kerana sepanjang malam engkau selalu menjadi lautan nafasku

jikalau tidak, tentu pagi hanyalah sebuah kepastian.

 

 

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ritmis hati gerimis
16:28 07 April 2008

pukul 01.30 wib


pukul 01.30 WIB

***

masih mencari huruf demi huruf
dalam samudra kata
membingkainya dalam bait-bait
tanpa makna bagi dirimu
bagi diriku ini segalanya
*
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 01.30

MENCONGAK RINDU


mencongak rindu
***
satu biji

dua biji
  tiga biji
aku congak ribuan rindu di hati
bila kurang aku ambil
 sebiji dua biji rindu
bila lebih aku serahkan
 sebiji dua biji rindu
rindu dari siapa?
rindu untuk siapa?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.35 WIB
 

menyapa ramai di tepian kubur


menyapa ramai di tepian kubur
***

ada raga dingin di balik putihnya kain
menghela keramaian sekeliling
menghiba kala agar cepat menyingkir
maka aku bopong tubuhmu tanpa darah mengalir
kerandamu sudah menunggu
tikar pandan sudah menggulungmu
kini, tanah merah sudah menelanmu
lalu keraiaman apalagi yang kau tunggu
keramaian apa lagi yang kau sapa
kecuali dua yang datang padamu

setelah itu aku melihatmu
pada bayang-bayang malam
sepanjang malam…

*

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.30 WIB
janjian tawuran berujung nyawa,
duhai anak tetanggaku

Pesolek


bedakmu tak akan bisa
menghapus kecantikanmu
karena kamu adalah
mata air keelokan
***
Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13 Maret 2008 08:25

 Catatan:

Terinspirasi saat melihat seseorang di kantor yang sedang memulas bedak pada wajahnya.