CERAIKAN SAJA AKU…!!!


CERAIKAN SAJA AKU…!!!

Ada hal yang sangat menggembirakan bagi saya hari-hari ini, yakni kegembiraan mendengar dan membaca berita tentang adanya pemberlakuan secara efektif larangan merokok di tempat yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Dilarang Merokok (KDM) pada hari Kamis kemarin (06/04).
Dari berita yang saya dapat bahwa menurut pasal 13 Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (PPU), ada lima areal publik yang dikategorikan bebas asap rokok. Artinya, tidak ada seorang pun boleh kebal-kebul di kawasan itu, baik di ruangannya atau pun di tempat terbukanya, misalnya di halaman atau lahan parkir. Tidak ada smoking area di lima tempat ini. (detik.com/06/04)
Salah satunya adalah tempat publik berupa tempat kerja atau kantor swasta dan pemerintah, di mana pengelola tempat publik tersebut harus menyediakan suatu tempat khusus bagi perokok.
Pelarangan merokok di tempat publik berupa tempat kerja atau kantor pemerintah inilah yang membuat saya bergembira. Tanya kenapa? Soalnya walaupun baru berlaku efektif kemarin—dengan adanya penindakan tegas terhadap yang melanggarnya—namun di tempat saya sudah berlaku efektif jauh-jauh hari sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Raya bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI mensyahkan perda tersebut. Tentunya karena mendengar adanya sanksi berat berupa denda maksimal Rp50 juta.
Di tempat saya bekerja terutama di seksi di mana saya berada, dari sepuluh orang pegawai—dimana di dalamnya ada dua wanita—ada 40% pegawainya yang merokok. Maka bisa dibayangkan bukan jika mereka bersama-sama merokok apalagi pada jam-jam istirahat, asapnya berhamburan kemana. Dan dikarenakan ruangannya berpendingin maka jelas ruangan tersebut tertutup rapat sehingga asapnya pun tidak kemana-mana. Belum lagi kalau ada teman-teman sesama perokok yang ikut nimbrung mengobrol.
Yang dirugikan otomatis adalah perokok pasif seperti saya ini. Perlu diketahui perokok pasif adalah orang yang tidak merokok namun menghirup gas buangan dari rokok yang dihisap oleh si perokok. Bahkan berdasarkan penelitian lama disebutkan resiko terburuk dan terbesar diderita oleh perokok pasif bukan perokok aktif tersebut. Mulai dari kanker paru-paru, kelainan jantung, dan impotensinya itu loh…
Saya jelas tidak bisa menegur, pertama karena tidak enak saja. Tapi ada kok teman wanita yang keras kalau dalam masalah ini, ia langsung menegur pada orang yang merokok di dalam ruangan. Hebat euy…
Yang kedua karena ketika sudah saya tegur, eh malah saya yang kena damprat. Kalau sudah begitu, saya bisanya cuma diam saja. Sambil kadang menggerutu dan berkata dalam hati: “Awas loh entar di akhirat nanti, saya minta pertanggungjawaban ente-ente pade.” Sadis nian…
Dengan berjalannya waktu dan dengan pernafasan yang tercemar dengan asap rokok, serta kesabaran yang tiada habis-habisnya, akhirnya keluar juga peraturan yang melarang merokok di tempat umum tersebut. Saya menyambut gembira peraturan ini.
Efeknya memang tidak langsung dapat dirasakan. Karena kebanyakan ketika teman-teman di sini ditakut-takuti dengan ancaman hukuman itu, mereka malah ngelunjak dan malah balik bertanya: “memang kantor sudah menyediakan tempat untuk kami. Inikan hak asasi kami juga?” Wah…wah…
Tapi lama-kelamaan, sepertinya mereka merasa tidak enak juga karena setiap hari diberitakan dengan gencarnya di media massa ataupun media elektronik tentang sosialisasi yang dilakukan pemprov terhadap para perokok di tempat publik. Akhirnya dengan kesadaran sendiri mereka mengalah dan mencari tempat merokok yang aman dari gangguan—minimal cemberutan—teman-teman yang tidak merokok.
Tempatnya sekarang adalah ruangan dapur berukuran 2 x 1,5 meter, yang dipintunya ditempel secarik kertas bertuliskan:

SMOKING AREA
Kapasitas Terbatas: 3 Orang
Antri……….Bozzzzzzz
—No Drugs—

Tapi kapasitas maksimal itu tidak bisa ditaati oleh mereka, karena sudah kebelet dan mulut sudah terasa asamnya, lima orang dalam ruangan sempit seperti itu sepertinya tidak jadi masalah. Biarlah, yang rugikan mereka sendiri…
Sebenarnya secara tidak langsung adanya peraturan ini untuk mengurangi masyarakat akan ketergantungan terhadap rokok. Karena dengan tidak bebas lagi merokok dan mencari tempat untuk merokok pun susah, masyarakat lama kelamaan akan mengurangi jatah merokok dalam seharinya.
Karena hal ini pernah dirasakan oleh saya, maka saya menyadari susah memang untuk berhenti merokok kecuali dengan adanya tekad yang kuat dan adanya teman-teman yang mendukung usaha itu.
Tapi sudah hampir dua belas tahun saya enjoy dan menikmati sekali hidup tanpa rokok di mulut, menikmati sekali bangun pagi tanpa merasakan tenggorokan sakit, mulut asam sehabis makan, hidup sumpek dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan yang lain. (Untuk lebih jelasnya tentang proses kreatif saya berhenti dari merokok, baca: Berhenti Merokok itu Gampang di http://10.9.4.215/blog/dedaunan/13743 ).
Kerinduan itu pasti ada, tapi sewaktu di awal memulai perjuangan untuk tidak merokok. Sekarang kerinduan itu tidak ada lagi, bahkan hawa kebencian saja adanya. Tapi sering kugoda Qaulan Sadiida, “Ummu Maulvi, bagaimanakah jikalau jiwa merana ini kembali untuk merasakan kenikmatan semu duniawi. Berenang di lautan api dan pelangi asap yang melangit ke angkasa dengan indahnya?”
Apa coba jawabnya: “Ya Abu Muhammad, jikalau jiwa merana yang engkau miliki berhasrat untuk menikmati debu api neraka seperti itu lagi, maka ceraikan saja aku…”sambil cemberut dan melengos. Weks….Kagak kuat…Mantap nian ketegasan untuk tidak kembali kepada keburukan. Itulah ia.
By the way, saya perlu mengucapkan terimakasih kepada Anggota DPRD DKI Jaya dan Pemprov DKI yang telah mengeluarkan peraturan daerah yang sangat bermanfaat sekali bagi kesehatan masyarakat banyak dan juga sebagai modal pembentukan bangsa yang sehat dan kuat ke depan.
Sekarang, Alhamdulillah ruangan saya bersih dari asap rokok. Pagi terasa nikmatnya dengan udara segar, siangnya pun tidak terasa semakin panas dan pengap. Di saat kerja pun tiada lagi gangguan asap dari teman-teman yang merokok yang mampir di meja saya.. Semoga saya bisa merasakan nikmatnya udara segar ini selamanya.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di saat pagi indah dengan cerahnya sinar mentari pagi
09:29 07 April 2006

Tujuh Tahun Berpacaran


Tujuh tahun sudah mereka berpacaran. Banyak kisah sedih, banyak kisah gembira membungkusnya. Di setiap hari, di setiap pekan, di setiap bulan, hingga di setiap tahun yang mereka lalui, selalu berusaha untuk bisa memahami diri masing-masing.
Tentunya selalu ada konflik mengiringi, dan di lain pihak ada pula solusi sebagai klimaksnya. Seperti seorang teman mereka selalu katakan: “setiap hari adalah waktu untuk bisa memahami”.
Dari kesepahaman yang dipilin pelan-pelan di setiap detiknya, selalu ada keinginan membentuk jalinan tambang yang kuat. Hingga akhirnya ada saja keberkahan yang diberikan Allah muncul di dalamnya.
Mulai dari hanya sekadar memiliki rumah yang dicicil hingga lima belas tahun. Pemberian kipas angin, televisi bekas, rak plastik, kompor, talenan, magic jar dari banyak kawan yang bersimpati kepada mereka. Lalu perlahan-lahan memiliki alat transportasi yang membuat mereka sedikit berhemat dan dapat lebih mobil ke sana kemari.
Ditambah dengan lahirnya dua prajurit yang mengisi hari-hari mereka dengan keriangan. Lalu dengan sedikit tabungan merenovasi rumah agar bisa menambah kamar tidur untuk anak-anak mereka.
Dan begitu banyak rezeki lainnya yang tak pernah sempat mereka bayangkan sebelumnya. Tak sempat terlintas seumur hidup mereka. Tak berani mereka impikan karena bagaikan pungguk merindukan bulan. Tapi Allah selalu membuka jalan. Dan mereka berkesimpulan inilah berkah yang Allah berikan kepada mereka selama tujuh tahun pacaran, tentunya setelah menikah.
Ya, karena mereka malah tidak mengenal satu sama lain sebelum ikatan sah itu terjalin. Karena mereka lebih menginginkan proses ta’aruf (pengenalan) dan tafahum (pemahaman) berjalan setelah sahnya hubungan mereka secara agama dan negara, maka mereka rela untuk tidak mengenal terlebih dahulu. Biarlah waktu yang akan membuktikan proses ta’aruf dan tafahum itu.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Lebih dari tujuh tahun lalu. Di saat krisis moneter melanda negeri indah ini, dengan azzam yang tak terkira dan tak terbendung oleh manusia di muka bumi pada saat itu, lelaki muda yang baru setahun setengah lulus dari kampus tercintanya ini, melangkahkan kaki dan mengetuk pintu rumah sang murabbi hanya untuk mengatakan: “Insya Allah, saya siap.”
Setelah itu, sepucuk amplop putih tidak terlalu tebal telah berpindah tangan. Dan menjadi pemikirannya di sepanjang perjalanan pulangnya, di pinggiran jendela Kopaja 613. Ia sudah memahami apa yang ada di dalamnya. Gambaran diri seseorang yang kelak akan memenuhi hari-harinya di masa mendatang.
Tapi ia tak mengetahui siapa. Dari sedikit informasi yang diberikan sang murabbi, ia hanya mengetahui di mana ia bekerja. Lalu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, sosok wajah yang baru dikenalnya dalam sebuah kepanitiaan yang belum lama dibentuk. ”Ia kah…?” Sejuta tanya menggelayut di benak.
Ini adalah sebuah konsekuensi. Kesiapannya yang telah ia katakan belum lama telah membentuk sebuah dinding tebal yang tak mudah untuk diruntuhkan. Yang mudah dan sulitnya harus ia bebankan di pundaknya sendiri.
Sudah dua hari ia tak menyentuh amplop putih yang ia taruh di laci meja kantornya. Ia memasrahkan pada Allah apa yang akan ditunjukkanNya kepada dirinya. Hanya harap yang terbaik yang diberikan kepadanya, sambil mengingat dialognya dulu.
”Kriterianya apa?”tanya sang murabbi.
”Terserah antum, Ustadz. Bekerja atau tidak, bukan masalah. Lebih tua atau muda, bukan masalah. Kaya atau miskin, bukan masalah. Sekalipun janda itu pun bukan masalah bagi saya. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Ustadz, Insya Allah, siapapun yang antum tawarkan ini akan menjadi yang pertama dan terakhir. Sehingga tidak perlu mengulang proses semuanya dari awal,”jawab lelaki itu panjang, bernas.
Lalu hari ketiga, setelah dhuha yang cerah, saatnya ia menguatkan hati untuk membuka amplop putih itu. Bismillah. Secarik kertas dengan satu lembar pasfoto hitam putih ukuran 4 x 6 telah di genggaman tangannya.
Ternyata bukan yang pernah terlintas dalam pikirannya. Tidak pernah ia kenal. Dan ia pun baru tahu namanya saat itu walaupun perempuan ini adalah adik kelasnya juga. Yang paling mengejutkan bagi dirinya adalah perempuan ini pun menjadi ketua keputrian dalam acara forum silaturahim itu.
Maka ajang rapat final menjadi saat tepat untuk melihat calon pendamping dari dekat. Secukupnya tentu. Lelaki ini pun yakin sang perempuan belum mengetahui bahwa data dirinya ada padanya.
Lalu acara yang diselenggarakan di daerah pegunungan tersebut pun lagi-lagi menjadi saat tepat bagi lelaki muda ini untuk melihat perempuan itu lagi. Tentunya dengan mencuri-curi pandang.
”Ah, inikah yang Allah tunjukkan untukku…?”tanyanya dalam hati.
Lalu setelah acara itu selesai, tanpa menunggu lebih lama lagi lelaki ini langsung meneruskan perjalanan menuju tempat sang murabbi, hanya untuk mengatakan: ”Insya Allah, ya.”
Lagi, di sepanjang perjalanan pulang dengan Kopaja 613, semuanya menjadi bahan perenungannya. Jatidirinya telah ia serahkan kepada sang murabbi untuk diteruskan kepada perempuan itu dengan foto berwarna seukuran kartu pos. Lelaki dalam foto itu bersetelan jas dan dasi pemberian saat menjadi anggota kepanitian wisuda, tentunya dengan senyum sedikit yang tersungging di wajah.
Kini bola ada di tangan perempuan itu yang akan memutuskan menerimanya atau tidak.Dan ia akan sabar menunggu. Entah sampai kapan. Ia cuma berharap akan adanya sebuah kepastian di genggaman tangannya, agar bisa melanjutkan proses selanjutnya perkenalan atau melihat jatidiri orang lain lagi.
Dua minggu setelah itu, tepatnya pada pergantian tahun, kabar kepastian itu datang pada lelaki muda itu.
”Bagaimana ustadz?”
”Insya Allah tidak menolak.”
”Alhamdulillah, lalu kapan kita akan ta’aruf, ustadz?”
”Tidak usah, langsung saja tanya, kapan antum bisa pergi ke orang tuanya untuk menentukan tanggal khitbah dan akadnya.”
Lelaki ini memaklumi tidak ada proses ta’aruf dengan perempuan itu dikarenakan perempuan ini binaan dari istri ustadz itu sendiri. Berarti sudah tahu betul tentang perilakunya. Pun ini agar prosesnya tidak bertele-tele sesuai keinginan lelaki muda itu sendiri.
Akhirnya satu bulan kemudian dengan seorang sahabat terdekatnya, lelaki itu memberanikan diri pergi bersilaturahim dengan keluarga pihak perempuan. Dengan niat baik agar tidak ada zinah hati di antara mereka, maka lelaki itu meminta agar proses khitbah bisa dipercepat.
Satu bulan berikutnya setelah kedatangan pertamanya, maka lelaki itu kembali dengan rombongan kecilnya untuk mengkhitbah sang perempuan. Tanggal pelaksanaan akad nikah pun ditentukan satu bulan setelah khitbah ini.
Suatu waktu yang diluar harapan sang lelaki. Tidak perlu berlama-lama dan cuma mengucapkan akad di depan penghulu, itu sudah lebih dari cukup. Namun pihak keluarga perempuan memandang lain, bahwa ini adalah kesempatan pertama menikahkan anak perempuannya, maka sudah selayaknya ada suatu walimatul ’urusy.
Akhirnya, tiba saat itu, saat di mana sesuatu yang haram menjadi halal, sesuatu yang dilarang menjadi diperbolehkan, sesuatu yang penuh shubhat menjadi ladang amalan sunnah. Walimatul ’urusy yang menjadi puncak penantian selama kurang lebih empat bulan lamanya terlaksana dengan lancar, tentu dengan syarat bahwa ada pemisahan antara tamu pria dan wanita, tidak ada kemubadziran, mengundang tanpa membedakan status seseorang, dan semua ini membuat mata-mata itu memandang heran kepada pasangan baru tersebut.
Sejak saat itulah, proses pacaran itu dimulai untuk bisa saling memahami, mengerti, dan mencintai apa adanya karena Allah ta’ala. Di sana ada tarik ulur, mengalah, diam, marah, sedih, negosiasi, proses komunikasi verbal, bahasa tarbawi dan dakwah, bahkan ssst…dengan bahasa cinta.
Tentu ada saja riak gelombang yang mengguncang perahu yang berlabuh di dermaga. Kadang besar, kadang kecil, membuat perahu itu semakin berkeyakinan ini adalah bentuk ujian untuk bisa menuju kesempurnaan bahkan paripurna dari suatu pemahaman. Lelaki itu cuma bisa berharap agar Allah menguatkan dirinya untuk dapat melindungi dirinya dan perempuan yang telah menjadi istrinya itu dari panasnya siksa api neraka.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Ah, lelaki itu masih saja membuka album pernikahannya. Memandang sosok-sosok yang telah membantu mereka agar proses itu cepat selesai, tetap pada koridor Islami, dengan doa, kerja keras tak mengenal lelah, dan jauh dari keluarga. Sungguh tiada balasan yang lebih baik daripada balasan yang Allah berikan kepada mereka.
Senja itu sama seperti senja tujuh tahun lalu, yang masih saja menguning dengan matahari yang membulat. Tiba-tiba anginnya menelusup sejuk melalui sela-sela jendela, membuai, dan menyadarkan masih ada kenangan yang tersisa di antara selaput otaknya yang sudah mulai kehilangan sebagian memorinya. Ah tidak, tidak hilang untuk memori tentang sebagian dari mereka.
Senja itu masih sama seperti senja tujuh tahun lalu…
****

Lelaki yang kini sudah tidak muda lagi itu dan tentunya kini sudah dengan dua prajurit kecilnya, menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawan seperjuangannya yang telah membantu banyak di waktu tujuh tahun lalu itu.
Kepada akh Lukman Bisri Hidayat: sang pendamping setia dan sang saksi, akh Ujang Sobari, akh Ramli, akh Bambang (munsyid Najmuddin), akh Binhadi (MC berbahasa Jawa) akh Henjang, akh Anang Anggarjito, semoga Allah merekatkan ukhuwah dan mengumpulkannya kembali kelak di surga-Nya.
Sang Perempuan menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawannya pula: yakni untuk ukht Ira Melati (seseorang yang sempat terlintas di benak lelaki muda itudan menduga data di amplolp itu adalah data dirinya), Kwatri, Dini, Tari, Azimah Rahayu (yang tak sempat untuk menjadi ketua panitia), Mela, Fitri, Mbak Erna, dan lain sebagainya.
Kata kedua pasangan itu kepada saya, ”maaf untuk yang belum disebut namanya, sesungguhnya Allah Mahamengetahui, dan Mahapembalaskebajikan.”

Jika malam masih meracau dengan kesunyiannya,
maka terlelaplah engkau segera, karena dunia belumlah kiamat.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:14 02 April 2005

Whenever, Whereever


21.03.2006 – Whenever, Whereever

Terpikir tidak sih bahwa dosa-dosa yang telah dan sering kita lakukan begitu banyaknya sehingga tidak bisa dihitung. Mungkin dosa-dosa besar memang tidak kita lakukan (amit-amit yee, dan semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian), tapi dosa-dosa kecilnya itu loh. Yang sedikit demi sedikit, disadari atau memang sengaja dilakukan, tahu-tahu bertumpuk dan sudah setinggi gunung, sedalam samudra.

Mulai dari kedengkian kepada teman atau tetangga, dendam tiada berkesudahan, mulut yang tidak bisa diredam untuk tidak menyakiti hati orang lain, mencela, mengoleksi kata-kata hinaan, menggunakan mata, tangan, dan kaki kita untuk melakukan keburukan-keburukan kepada sesama, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lalu terpikir tidak sih pada sedikitnya kebaikan yang telah kita lakukan karena kita susah sekali untuk membuat wajah kita enak dipandang mata dengan senyum yang terindah tersungging di wajah. Atau menyapa saudaranya dengan salam rahmat dan perdamaian padahal seringkali mulut terasa kaku dan kelu.

Pula karena kita tidak pernah mengikhlaskan hati untuk memaafkan, berinfak dengan harta yang kita punyai di waktu lapang atau sempit, mendoakan orang tua dan keluarga, mengasihi yang lebih muda, menghormati yang labih tua, persangkaan yang baik, menyingkirkan duri, dan berjuta-juta kebaikan lainnya.

Maka terpikir tidak sih ketika mizan kebaikan dan keburukan di pertontonkan kepada kita kelak, kita akan terkejut bahwa sejuta kebaikan yang pernah kita lakukan dan persangkakan menjadi pemberat timbangan ternyata nihil dan terangkat pada sisi lainnya karena lebih banyak keburukan yang kita lakukan. Dan kita akan diberikan kitabnya dari belakang, sehingga kita akan berteriak: “celakalah aku”.

Lalu kita hanya mengandalkan dan berharap pada rahmat Allah, syafaat Rasulullah, dan orang-orang yang mati berperang di jalan Allah? Itu pun dengan izin Allah yang seringkali kewajibanNya yang diperintahkan kepada kita diabaikan begitu saja di dunia. Penyesalan pun sia-sia.

Masya Allah, selagi belum terlambat, semasa nafas masih menghela, sesaat waktu yang kian cepat berlari, begitu banyak ladang kebajikan terhampar di depan kita. Tidak perlu yang besar-besar dengan memberikan banyak hadiah kepada teman dan berinfak dengan seluruh harta kita, jikalau engkau belum mampu untuk melakukannya. Tidak memulainya terlebih dahuku dengan berjihad berperang di jalan Allah, selagi di dalam hati kita masih saja punya cinta dunia dan takut mati.

Yang kecil, saat ini, begitu banyak kebaikan yang telah ranum dan siap untuk dipetik oleh kita. Meluruskan niat salah satu contohnya saja sudah membongkar perangkap syirik yang siap memenjarakan kita. Yang kecil, saat ini juga.

Atau seperti teman saya ini, kerana menyadari bahwa masih sedikitnya kebaikan yang ia lakukan dan betapa banyaknya sarana atau wasilah yang ia miliki. Ia tidak segan-segan untuk selalu membagi-bagikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena ia ingat:

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong[353] dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (Annisa:123)

Ia mengerti betul bahwa ketika ia membagi-bagikan kebaikan maka ada energi kebaikan yang ia akan dapatkan. Dan ia mengerti betul di kala keburukan yang ia sebarkan, maka ada energi keburukan yang akan memantul pada dirinya. Sehingga dengan ini ia akan berhati-hati dan berpikir dua kali untuk menyebarkan keburukan. Sehingga dengan ini pula ia bersegera dan bersemangat untuk melakukan kebaikan kerana pahalanya itu akan mengalir pada dirinya entah sampai kapan.

Maka contohlah ia yang selalu di setiap paginya, sesaat akan berangkat ke kantor, ia membersihkan jalan depan rumahnya dari segala sesuatu yang mengakibatkan orang lain sengsara, seperti batu-batu jalanan dan benda-benda tajam. Maka contohlah ia yang selalu membagi-bagikan peraturan perpajakan yang terbaru kepada para peserta milis yang membutuhkannya.

Contohlah ia—karena ketidakpunyaan yang dirasakannya—mengazamkan diri untuk tidak datang terlambat pada pertemuan di setiap pekannya, dan mengisi di tempat-tempat lain dengan hanya menaiki sepeda kayuh.

Contohlah ia yang berusaha untuk tetap memberikan senyuman yang terindah kepada istrinya setelah tiba di rumah walaupun di tengah lelah yang menghimpit kerana berdesak-desakan di atas kereta api sore hari. Contohlah ia yang tak pernah tega untuk mengucapkan kata-kata keras kepada anak-anaknya.

Contohlah ia yang tidak pernah memaki, menghina, ataupun mengeluarkan persangkaan buruk kepada saudara seimannya. Contohlah ia yang di dalam setiap doanya selalu meminta agar para tetangganya mendapatkan kebaikan dan rahmat dari Allah Yang Mahakaya. Contohlah ia yang tak pernah menuduh orang lain berbuat curang sebelum ia telah menunjukkan keempat jarinya pada dirinya sendiri lalu ia menasehatinya.

Ah…begitu banyak kebaikan yang bisa dilakukan teman-teman saya ini. Sungguh saya ingin meniru mereka, dengan menyebar banyak kebaikan. Kapan saja, di mana saja. Apa saya bisa? Mereka bisa, kenapa saya tidak?

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih saja seperti ini

10:45 21 Januari 2006

Memilih di Antara Dua Wanita


Memilih di Antara Dua Wanita

Perempuan yang satu ini memang luar biasa, dengan kegesitannya ia berhasil mengumpulkan premi dari nasabah sebesar lebih dari 800 juta rupiah tahun lalu. Padahal ia baru saja dua tahun bergabung
Keberhasilannya itu membuat dirinya meraih penghargaan sebagai agen terbaik Takaful—perusahaan asuransi syariah pertama di Indonesia, dan perusahaan berniat mengganjarnya dengan mencalonkannya sebagai anggota klub elit agen peraih premi jutaan dollar, Million Dollar Round Table (MDRT). Dengan pencalonan ini, jika disetujui, maka PT Asuransi Takaful Keluarga akan menjadi perusahaan syariah pertama yang memiliki perwakilan di MDRT. (Republika, 01 Maret 2006).
Untuk itu kinerjanya akan dipantau sampai dengan bulan Juli nanti, jika sesuai dengan target yang diemban—sejak menjadi agen terbaik tersebut targetnya terus dinaikkan—maka kunjungan ke San Diego, Amerika Serikat dan ke salah satu kota di Australia akan terlaksana.
“Saya harus lebih kerja keras, lagi nih,” katanya sambil menunjukkan harian nasional itu kepada saya.
”Tapi ingat loh, mbak ini sudah punya anak. Jadi biasanya neracanya seringkali akan tidak seimbang. Ada dua kaki yang dipijak antara dunia kerja dengan dunia pengasuhan anak-anak. Jika tidak hati-hati, anak sebagai harta tak ternilai seringkali terlupa dan terlantar.” kata saya panjang sok menggurui. Ia cuma manggut-manggut saja.
”Jadi bagaimana mas, mau ikut kan? Kalau ikut berarti turut serta berjasa mengantarkan saya loh mas,”desaknya.
”Ya nanti dulu, saya diskusikan dengan yang di rumah.”
”Oke nanti kamis besok saya kemari, menerima jawabannya, yah…”desaknya lagi.
”Ohya, masih liqo kan?”tanya saya tak menghiraukan jurus marketingnya yang hampir-hampir ampuh untuk menaklukkan saya.
”Alhamdulillah masih. Barusan minggu kemarin ikutan dauroh murabbi.”
”Wah mantap, nih…?”
”Ah tidak, saya cuma aktif kecil-kecilan saja di DPRa. Kalau suami memang aktifnya di DPC.”
”Baguslah, memang mbak ini sudah liqo sejak tahun kapan sih?”setengah penasaran.
”1993…”
”Luar biasa, senior nih,” pikir saya. Walaupun lama atau tidaknya seseorang bukan menjadi parameter untuk menilai keberhasilan dalam berdakwah dan penataan ruhiyah, tapi seringkali kesenioran dan pengalaman bisa diambil menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi ke depan.
Pertanyaan serupa pun saya ajukan kepada salah satu perempuan agen asuransi takaful yang lainnya, yang telah mendapatkan dua premi dari saya untuk asuransi pendidikan anak.
Tapi sayang, sejak kepindahannya dan ikut bersama dengan suaminya tinggal di tempat yang baru, ditambah dengan kehamilan pertamanya membuat jalan transfer pertemuan tidak berjalan mulus. Entah karena kesibukannya mengurus anak dan suami atau karena hal lainnya. Sehingga berbulan-bulan sampai menginjak tahun pertama tidak ada aktivitas jama’i yang dilakukan, suaminya pun sibuk dengan urusan bisnis.
”Mbak, Cobalah bergabung kembali, hubungi saja DPRa terdekat, Insya Allah mereka siap menerima, kok,” saran saya.
”Insya Allah, Mas.” jawabnya pelan. ”Tapi mas jadi bukan untuk mengambil produk yang ini?” Wajahnya memelas begitu. Memang beda sekali perempuan yang terakhir ini dengan yang pertama.
Kalau yang pertama terlihat gesit sekali, cepat, ulet, dan luwes bahkan kuat—coba bayangkan naik motor keliling Jakarta yang panas untuk menjumpai dan mencari customer di tengah hukum rimba belantara lalu lintas ibukota.
Sedangkan yang kedua terlihat lemah lembut, pelan dalam perkataan namun tidak mengurangi kepintarannya dalam menjelaskan semua jenis produk asuransinya. Satu lagi adalah ia benar-benar seperti akhwat yang saya kenal di kampus dulu, dari cara berpakaiannya yang rapih dan ghodul bashor-nya itu loh.
”Mbak, nanti dulu yah, saya bicarakan dengan yang di rumah. Insya Allah ketika kami sudah sepakat saya akan menghubungi mbak.” Lagi-lagi alasan ini yang menjadi andalan saya untuk berkelit, walaupun memang kami sedang membutuhkan salah satu produknya tapi melihat kondisi keuangan yang ada, kami butuh waktu lagi untuk memutuskan ikut atau tidaknya.
Sekarang saya mempunyai dua penawaran yang diberikan oleh orang-orang yang dekat dengan kami. Walaupun tidak dekat-dekat amat sih terutama untuk perempuan yang pertama. Qaulan Sadiida pun belum mengenalnya.
Tapi setidaknya dengan menjatuhkan pilihan padanya, turut membantu dirinya lebih berprestasi lagi. Bisa ke luar negeri, Boo. Bahkan katanya kalau prestasinya bisa dipertahankan, hadiah pergi umroh ke tanah suci sudah menanti. Wow…Lagipula dia masih liqo loh…Soalnya banyak sekali wanita aktifis (dan pria-nya juga) yang semula bersemangat sewaktu di kampus, namun 180 derajat berubah setelah berada di lingkungan kerja yang lebih mementingkan hasil daripada proses.
Mungkin bila pilihan itu jatuh pada dirinya, sebagian besar karena kami salut padanya yang tetap semangat dan berpegang teguh pada jalan yang ia pilih. Kerja iya, dakwah juga iya. Two thumbs up.
Tapi untuk perempuan yang kedua ini, kami sudah cukup erat dan lama berhubungan dengannya sejak tahun 2000. Di awali dengan memilih asuransi kesehatan yang ia tawarkan tapi kami tarik lagi setahun kemudian untuk biaya persalinan, juga berlanjut dengan dua tawaran asuransi pendidikan yang kami ambil dan pertahankan sampai sekarang. Mungkin jika pilihan itu jatuh pada dirinya, satu yang pasti adalah karena kedekatannya dengan kami, itu saja. Duanya adalah membantunya untuk membeli baang satu atau dua kotak susu untuk anak pertamanya itu.
Ah, pilihan sulit. Tapi kiranya tidak ada salahnya mereka menghubungi Qaulan Sadiidan yang kantornya cuma satu kali naik angkutan kota dari sini. Biarlah mereka berbicara dengan hati yang cuma dimiliki oleh wanita. Lalu biarlah Qaulan Sadiidan yang memberikan kata vonis. Soalnya terkadang saya—pria—seringkali malah menggunakan perasaan secara berlebih, tidak dengan nalar secukupnya. Pada akhirnya: memilih di antara dua wanita memang bukan keahlianku.

Ah, pilihan sulit juga. Tapi kiranya tidak, bila dua upaya telah dilaksanakan: istikharah dan musyawarah. Pembaca pasti tahu tentang istikharah ini bukan? Apalagi bagi Anda yang masih menjomblo dan berniat mendapatkan pasangan yang sholih atau sholihah. Masya Allah, Anda kiranya sampai mencucurkan air mata untuk menentukan pilihan pada siapa perahu cinta ini akan berlabuh? Si diakah yang telah membuat hati menjadi tertambat? Atau kepada si diakah yang dengan akhlaknya dan ke-isitiqamah-annya membuat cintamu bertambah pada-Nya. Subhanallah.
Ah, untuk memilih saja, Islam telah mengajarkan dengan begitu indahnya.

”Dari jabir bin Abdullah ra, ia berkata:
Rasulullah saw mengajari kami istikharah dalam semua urusan, sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur’an kepada kami, beliau bersabda:
Apabila salah seorang di antara kalian menghadapi suatu urusan maka hendaklah ia ruku’ (shalat) dua raka’at bukan fardhu kemudian hendaklah ia mengucapkan:

”Ya Allah,
Sesungguhnya aku meminta dipilihkan kepada-Mu dengan ilmu-Mu,
Dan aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuatan-Mu,
Dan aku meminta kepada-Mu dari keutamaan-Mu yang Maha Agung,
Karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedangkan aku tidak kuasa,
Dan Engkau mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui,
Dan Engkau maha Mengetahui yang Ghaib.
Ya Allah,
Jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku
—atau beliau mengucapkan: urusanku yang segera dan yang kemudian hari—
Maka taqdirkanlah ia untukku
Dan mudahkanlah ia untukku
kemudian berkatilah ia untukku,
tetapi jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah buruk bagiku
didalam agamaku,
kehidupanku, dan akhir urusanku
—atau beliau mengatakan: urusanku yang segera dan yang kemudian hari—
Maka palingkanlah ia dariku
Dan palingkanlah aku darinya,
Dan taqdirkanlah kebaikan untukku apapun adanya,
Kemudian ridhailah aku dengannya”.

Nabi saw bersabda: ”Dan ia menyebutkan keperluannya.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam Shohihut Targhib wat Tarhib 1/358, hadits ini shahih)

Maka saya ucapkan: ”Memilih, istikharahlah…”

Allohua’alam bishshowab

Maraji:
1. Republika, 01 Maret 2006;
2. Terjemahan dari kita: Al-Muntaqa min Kitab at-Targhib wat-Tarhib lil Mundziri (Dr. Yusuf Qaradhawy).

Allohua’lam bishshowab.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Rabu, 01 Maret 2006

Takaful Daftarkan Wakil ke MDRT

JAKARTA — PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) berencana mengajukan salah seorang agennya, Sumaryanti (30), menjadi anggota klub elit agen peraih premi jutaan dolar, Million Dollar Round Table (MDRT) pada Senin, (28/2). Jika disetujui Takaful bakal jadi perusahaan syariah pertama yang memiliki perwakilan di MDRT.

”Takaful akan diakui secara internasional. Ini bagus sekali,” kata Presiden Direktur PT Syarikat Takaful Indonesia, Wan Zamri Wan Ismail, usai menghadiri seminar dan penghargaan agen terbaik Takaful, Senin, (28/2). Sumaryati dipromosikan karena tahun lalu menghimpun premi Rp 858 juta. Ia baru dua tahun bergabung dengan Takaful.

Menurut Wan Zamri, MDRT merupakan grup yang terdiri dari ribuan orang berprestasi dalam penjualan produk asuransi. Kata dia, ribuan orang berprestasi tersebut mewakili sedikitnya 74 negara. ”Setahu saya, hingga kini, MDRT memiliki 38.900 anggota sedunia,” katanya.

Ia juga menyebutkan, pengajuan perwakilan Takaful juga bertujuan untuk mempelajari sistem dan metode yang digunakan MDRT dalam mengembangkan industri asuransi konvensional di dunia. Ia berharap industri keuangan syariah di dunia juga memiliki MDRT terpisah. ”Menurut pemikiran saya, May mendatang sudah ada MDRT berbasis Syariah,” katanya.

Wan Zamri menyebutkan, saat ini, jumlah perusahaan asuransi syariah di dunia mencapai hampir 80 perusahaan. Jumlah agen diperkirakan sebanyak 10 ribu orang. Berdasarakan data tahun 2004, premi yang dikelola asuransi syariah di sejumlah negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) mencapai 30 miliar dolar AS.

Pengamat asuransi, Ida Kuraeny, menyatakan terdapat sejumlah keuntungan yang diperoleh Takaful usai bergabung dengan MDRT. Selain diakui secara internasional, Takaful juga akan diikutkan dalam sejumlah program asuransi internasional. ”Hal ini bagus untuk pengembangan Takaful ke depan,” kata wanita yang juga mantan anggota MDRT ini.

Siapakah Engkau Kiranya?


Duh,
kiranya tiada kegembiraan
selain melihat seorang sahabat bercahaya
dengan kata-kata mengalun bak buluh perindu.
Wahai saudaraku, wahai akhi…
Semoga Allah merahmati kami dengan satu Qaulan Sadiidan dan dua prajurit-Nya yang kudamba menjadi pejuang-pejuang Islam kelak dewasa nanti.
Sang mutaakhir, kuidamkan menjadi sosok-sosok cerdas dari kader Islam yang senantiasa detik demi detiknya berjuang untuk agamanya yang lurus.
Sang muhandis Yahya ‘Ayyasy kuidamkan menjadi seorang hafidz dan ‘ulama yang faqih dalam ilmunya, merendahkan diri, tidak suka berjidal namun tinggi didepan musuh-musuh Allah.
Wahai saudaraku,
kiranya nama-nama yang engkau sebutkan membuatku semakin bertambah keyakinan bahwa ukhuwah ini telah membuatku merindukan masa-masa lalu
faisal,wisnu,amran,maman,lukman,abas,anwar,agus,totok.. .
atun,yetty,titi,murdiana,sobiroh,ita,…….
tak kusebut nama yang ditebalkan karena ia tak layak dibandingkan dengan nama-nama di sisinya.
Wahai akhi, wahai saudaraku
siapa gerangan engkau yang telah membuat bambu hatiku terusik dengan suara berisik oleh angin perkataan syahdumu
ah…kiranya engkau sudi memperlihatkan wajah rembulanmu…
sekarang atau nanti?

— Previous Private Message —
Sent by : bercahaya
Sent : 16 March 2006 at 11:12am
wa ‘alaikum salaam
duh senangnya kau baca tulisanku
ingin rasanya ku belajar menulis darimu
dimanakah kau belajar?
gimana kabar keluargamu? sehat-sehat sajakah?
diriku mengenal dirimu
riza,faisal,wisnu,amran,maman,lukman,abas,anwar,agus,totok.. .
atun,yetty,ria,titi,murdiana,sobiroh,ita,…….
bukankah mereka sahabat fikrohmu
rasanya baru kemarin…
juniormupun akan sekolah dasar
ngomong-ngomong dah berapa ya putramu?
ah…

SANG MUTAAKHIR


SANG MUTAAKHIR
Oleh: Riza Almanfaluthi

Anak itu memandang dengan tatapan kosong ke dalam kelas dari balik pintu. Dari wajahnya tergurat kesedihan dan bekas airmata yang tertahan di pipinya. Ya, sedih karena ia terlambat dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti tes masuk Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Hikmah, padahal terlihat bahwa Ibu Penguji baru saja membagi-bagikan kertas soal ujian dan belum memulai memberikan waktu kepada anak-anak untuk mengerjakan soalnya.
Sang ayah menghampiri sang anak, “Sudahlah mas, nanti tunggu saja dulu yah. Mas boleh kok ikut ujian masuk, tapi nanti yah setelah semuanya selesai. Sesudah ujian tertulis ini nanti ada permainan yang akan dinilai, Mas bisa ikut gabung, dan sesudah permainan itu, baru Mas ikutan ujian susulan.”
Sang ayah dan ibu dari anak itu memang terlambat datang dari jadwal yang sudah ditentukan, yakni pukul delapan tepat. Dikarenakan ketidakjelasan informasi dari pihak pengelola, sampai pada hari H ada saja yang menjadi penyebab keterlambatan tersebut, mulai dari si Dedek yang rewel, mengatur belanjaan yang harus dimasak untuk para tukang di rumahnya, hingga urusan bahan bangunan yang harus segera diperoleh. Jadilah pukul 08.30 pagi sang ayah berangkat dengan mobil butut tahun 91-an yang ia pun harus berjalan berlambat-lambat ria karena ia belum mahir mengendarai roda empat.
Pukul setengah sepuluh tiba di SDIT cabang Cipayung yang pusatnya di Bangka Mampang itu. Tatapan banyak orang tua atau wali calon murid mengiringi rombongan kecil memasuki tempat ujian. Celetukan dan sedikit perkataan bernada candaan terlontar dari mulut mereka yang sebenarnya adalah teman-teman sang ayah dan ibu. “Wah…akhi ente muta-akhir.”
Celetukan yang sebenarnya adalah sekadar nasehat itu bagi sang ayah bukanlah menjadi pelipur kegundahan dirinya karena telah datang terlambat, bahkan menjadi sesuatu yang telah menggores dan melukai hatinya. Bagi sang ayah nasehat yang diberikan bukan pada tempat dan waktunya bahkan menjadi sesuatu yang kontraproduktif dan sia-sia.
Tanpa memedulikan semua celetukan tersebut, sang ayah pun pergi ke ruang sekretariat panitia, itu pun tanpa ada teman yang membantu tanpa diminta untuk menunjukkan ruangan ataupun prosedur yang harus dijalani.
Sang ibu bersegera naik kelantai dua—setelah bertanya di mana tempat ujian berada. Ketergesaannya ternyata sia-sia, sang anak tidak diperbolehkan masuk walapun soal ujian baru saja dibagikan.
“Nanti saja, di gelombang berikutnya, kalau tidak hari ini berarti ya besok pagi,” kata sang penguji tegas tapi sedikit ketus. Sang ibu cuma bisa tertegun dan berpikir bahwa kemungkinan besar sang anak tidak akan bisa diterima di sekolah ini. Dus, pernyataan ini telah meluluhlantakan benteng keteguhan sang anak yang sempat mendengar semuanya. Isaknya mulai terdengar.
Dengan berjalannya waktu, ternyata tidak hanya satu anak saja yang terlambat, masih ada sekitar empat teman sebayanya yang mengalami hal yang sama, salah satunya adalah anak dari ustadz ternama. Dengan jumlah yang sedemikian maka peluang masih terbuka untuk mengadakan ujian susulan pada hari itu juga.
Setelah beberapa waktu lamanya, ujian calistung (baca tulis menghitung) itu pun selesai. Saatnya sang anak untuk bergabung dengan permainan keaktifan yang dinilai. Cuma setengah jam saja kiranya. Setelah itu bagi yang sudah selesai ujian permainan ini mereka diperbolehkan untuk mengukur baju seragam yang kelak akan dipakai nanti setelah pengumuman penerimaan.
Sedangkan sang anak kini saatnya untuk masuk kembali ke dalam kelas mengikuti ujian susulan yang akan menentukan ia dapat sekolah di sana atau tidak. Sang ayah dan ibu masih berdiskusi dan memikirkan untuk mengambil formulir pendaftaran di sekolah lain untuk antisipasi ketidaklulusan.
Tiba-tiba panggilan dari pengeras suara mengusik diskusi mereka. Sang ayah dan ibu memasuki ruang kelas di bawah untuk diwawancarai tentang perkembangan sang anak dari maslah kesehatan dan aktivitas kesehariannya. Tidak lupa mengisi formulir kontribusi yang dapat diberikan kepada sekolah ini. “Semoga lulus ya Pak,” kata pewawancara mengakhiri.
***
Matahari sudah meninggi dan mulai tergelincir ke bawah. Siang terasa terik tapi itu tidak lama karena sesaat kemudian mega mendung dari utara begitu cepatnya menutupi langit di atas. Bahkan tiada terasa rintik-rintik mulai turun satu-satu. Tidak deras, cuma rintik belaka.
Dalam perjalan pulang, sang ibu bertanya kepada sang anak, “bagaimana ujiannya sayang? bisakan?” Sang anak Cuma tertawa-tawa saja seperti melupakan apa yang baru saja ia tangisi dan kerjakan itu.
Sang ibu masih tetap bertanya sembari mendiamkan sang dedek yang mulai kambuh rewelnya, “Mas, tadi menuliskan nama di kertas soal, nama yang mana?”
“Nama panggilan,” jawabnya dengan enteng. Lengkap sudah jawaban itu melengkapi kegundahan mereka terhadap kelulusan sang anak. Karena nama panggilan tersebut jauh berbeda dengan nama lengkap yang ia punyai.
Sang ayah dan ibu saling berpandangan.

***
Empat hari kemudian, pesan pendek dari teman sang ibu yang sekaligus juga adalah panitia penerimaan mampir. Isinya konfirmasi tentang soal ujian dari sang anak, karena ternyata nama sang tidak ada dalam daftar induk nama-nama calon siswa.
Siangnya telepon genggam sang ibu berdering. Melihat sepintas pada layar dan langsung menempelkan di telinganya.
“Ya, Bu…ada kabar buat saya?” tanya sang ibu.
“Iya tuh, bagaimana yah dengan anak ibu…” jawab di seberang sambil menghela nafas, memperlambat bahkan menghentikan suaranya.
Dengan adanya suasana itu membuat sang ibu sudah memasrahkan segalanya pada Sang Kuasa. “Ya, sudahlah, nggak apa-apa kok nggak lulus,” kata sang Ibu pelan.
“Ya sudahlah, yang sabar ya Bu. Tapi ngomong-ngomong kata siapa anak Ibu tidak lulus?”
“Ya Ibu tadi bukan…”
“Ah, saya tidak berkata demikian, malah saya mau mengabarkan kepada Ibu bahwa anak ibu itu lulus dan rangking satu di kelas Mangga. Nilainya mendapat 9,75 poin.”
“Masak…? Alhamdulillah…” puji sang ibu.
Ternyata semua itu cuma godaan dan candaan dari sang teman ibu.
Sang ibu segera membagi kebahagiaannya pada sang ayah. Sujud syukur dan dhuha menjadi penghias pagi dengan matahari yang sudah sepenggalah.

***
Nama sang anak itu memang berada di urutan pertama saat dilihat pada malam harinya oleh sang ayah sepulang dari tempat kerjanya. Ada deg-degan juga. Ini mengingatkan sang ayah dan sang ibu pada kenangan masa lampaunya saat setiap kali pengumuman semesteran di kampus dulu. Kenangan di kampus yang sering men-DO-kan mahasiswa yang indeks prestasinya di bawah standar yang ditetapkan.
Ah, ya nama sang anak itu berada di urutan pertama. Subhanallah, padahal mereka sering underestimate pada sang anak. Walaupun prestasi di taman kanak-kanak juga telah membuktikan kesalahan penilaian mereka pada sang anak, tapi itu belumlah cukup. Kini yakinlah mereka pada sang anak.
“Jangan pernah berpikir itu lagi,” tekad mereka. Dan jangan pula meremehkan dia. Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir, karena Abu Dzar pun mutaakhir, tapi ia tetap menyusul rombongan Rasulullah yang telah lama pergi untuk berjihad.
Jangan sesekalipun meremehkan sang mutaakhir. Perkataan yang juga layak ditujukan kepada teman sang ayah dan ibu.
Ah, ya nama anak itu cuma: Maulvi Izhharulhaq A.

*******


BIODATA

Nama : Riza Almanfaluthi, S.Sos. MM
Tempat/tanggal lahir : Jatibarang, 24 Juli 1976
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Menikah dengan satu istri dua anak
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
NIP : 060089098
Pangkat/Gol. Ruang : Penata Muda/IIIa
Jabatan : Account Representative
Alamat Kantor : Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat
Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan
12750
Alamat Rumah : Komplek Puri Bojong Lestari Blok HH No.23 RT. 11 RW.17
Pabuaran, Bojonggede, Bogor
Alamat email : almanfaluthi@gmail.com
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
URL : http://dirantingcemara.blogspot.com
Nomor Rekening : 0060005113679
Bank Mandiri Cabang Dewi Sartika
a.n. Riza Almanfaluthi

Riwayat Pendidikan:
– Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (lulus tahun 1988);
– Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (lulus tahun 1991);
– Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (lulus tahun 1994);
– Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan
Keuangan, Departemen Keuangan (lulus tahun 1997);
– Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Adminsitrasi Negara Republik
Indonesia (STIA LAN RI) Jurusan Administrasi Bisnis (lulus tahun 2002);
– Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
(lulus tahun 2007).

Cintanya Tak Semurni Bensinku


20.02.2006 – Cintanya Tak Semurni Bensinku (Kado buat Hizbiyoon)

Berbeda dengan debat yang dilakukan di alam nyata, debat di dunia maya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan suatu tema diskusi. Karena di sana komunikasi yang terjadi antara penyampai dan penerima informasi tergantung dari kualitas jejaring masing-masing peserta diskusi juga perlu digarisbawahi bahwa dalam komunikasi tersebut tidak disertai dengan bahasa tubuh.

Maka terbentanglah jurang di antara mereka, sehingga dengan adanya gap itu kesalahpahaman seringkali terjadi bahkan berujung dengan caci maki, walaupun sudah dibantu dengan visualisasi bahasa tubuh (wajah) melalui ikon Smiley, yang terkadang ternyata digunakan untuk menutupi maksud hati yang sebenarnya.

Maka saya yang merasa jago debat, pandai bersilat tangan (maaf di sini saya tidak memakai lidah karena sama sekali tidak digunakan) dan tidak memakai hati memanfaatkan benar untuk bisa menjatuhkan lawan diskusi, apalagi didukung dengan teman seperjuangan yang satu ide.

Bila perlu celaan dan hinaan harus disampaikan agar benar-benar lawan diskusi dibuat tidak berkutik. Dengan alasan pembenaran bahwa Rasulullah pun seringkali mencela orang-orang jahil. Bahkan tidak hanya lawan diskusi yang perlu dicela, hatta ulama lokal, ulama asal Mesir yang kini tinggal di Doha Qatar dan berkaliber dunia serta telah diakui kapasitas ilmu dan amalnya pun tak luput dari celaan saya hingga sampai pada penyetaraannya sebagai ulama Syaitan. Tak lupa bukunya pun wajib dibakar.

Tanpa disadari (atau memang sadar dengan sesadar-sadarnya) dengan pelabelan itu telah melanggar batasan yang dipegang oleh saya sendiri (tentu juga oleh lawan diskusi saya) untuk tidak mengafirkan sesama muslim. Karena tidak dapat disangsikan lagi dan semua tahu manalagi selain makhluk durhaka bernama syaitan yang berjuluk sebagai penghulu kekafiran. Namun batasan itu tak perlu jika memang saya menganggap ulama tersebut telah keluar dari Islam. Dan saya tak perlu minta maaf.

Selain itu di suatu waktu jika saya telah kehabisan kata-kata yang harus disampaikan kepada lawan diskusi yang menurut anggapan saya mereka masih ngeyel terhadap puluhan hujjah, maka tak dapat disangsikan segala cara dan upaya ditempuh untuk mengambil puluhan sumber hujjah sebagai penguat.

Bahkan jika tidak ada hujjah dalam bentuk softcopy, kalau perlu semalaman saya tidak tidur untuk menyalinnya ke dalam program pengolah kata. Yah, biasanya sholat malam terlewatkan, bahkan shubuh pun kesiangan, tapi ’Alhamdulillah’ di kantor belum ada finger print sehingga kesiangan pun tidak apa-apa, dan yang penting tak ada potongan gaji.

Setelah sampai di kantor, kiranya saya tak perlu memikirkan kerja dululah. Kan ada yang lebih penting lagi yakni menyampaikan kebenaran, amar ma’ruf nahy munkar, sampaikanlah satu ayat walaupun pahit, apalagi untuk melawan para ahlul bid’ah dan hizby yang setiap harinya mereka menulis dan menyebarkan pemikirannya di ” partisipasi”, dan tak pernah memberikan kesempatan kepada saya untuk membanting hujjah mereka yang ringkih seperti sarang laba-laba. Apa karena ada penyensoran?

Tapi tak apalah, saya masih punya kesempatan untuk melawan pemikiran mereka di forum diskusi. Perlu diketahui lawan saya banyak sekali, selain hizby, ada juga dari tahriry, tablighy, dan surury.

Untunglah suasana kantor mendukung sekali karena saya ada di seksi nonteknis jadi lumayan tidak banyak pekerjaan. Bahkan kalaupun berada di seksi teknis pun saya harus berjuang untuk menyisihkan waktu agar perjuangan ini tetap berlanjut.

Andaikan tak ada waktu pun maka saya tetap harus mementingkan perjuangan memberantas kemungkaran yang disebarkan para hizbiyun dan jahiliyun itu. Iya sih, kadang-kadang saya seharian tak pernah menyentuh pekerjaan karena asyik banget melihat mereka kabakaran jenggot dan jilbabnya.

Ada satu tuh akhwat dari mereka kalau kebakaran jilbabnya, nesu-nesu tak karuan. Bahkan menantang untuk datang ke daerahnya. Emang saya cowok apaan. Cowok panggilan? Saya tak peduli. Cintanya tak semurni bensinku. Loh kok nggak nyambung…

Ohya, sebenarnya gampang sekali mematahkan argumen mereka, karena mereka sama sekali tidak mempunyai dalil dan hujjahnya. Jika mereka nyerocos tanpa referensi gampang saja tanyakan kepada mereka: ”mana dalilnya?”. Biasanya mereka langsung terdiam begitu rupa.

Atau dengan menampilkan copy paste-an saya yang bisa berlembar-lembar halaman, mereka langsung keok. Padahal copy paste-an saya ini juga terkadang tidak sempat saya baca seluruhnya tapi saya sih sangat, sangat, sangat tsiqoh sekali kepada ustadz-ustadz dan ulama-ulama saya karena mereka adalah para ahli hadits dan anti hizbiyun. Ohya, saya juga heran mereka kok tak pernah menghujat ulama saya, ”ah pasti karena mereka tidak mempunyai celah untuk menghujat atau karena mereka takut hujjah mereka dibanting atau takut karena Allah? Ah sabodolah.

Tapi ada juga dari mereka yang seringkali mempunyai argumentasi yang kuat bahkan mantap, dan tidak bisa dijawab oleh saya ataupun teman-teman pendukung saya.. Menghadapi hizby seperti ini gampang bilang saja mereka jahil, dasar khawarij, tutup mulutmu, atau sedikit-dikit dengan makian mantap seperti ”embahmu…”.

Walaupun demikian mereka tetap bergeming, ini yang membuatku marah, dongkol, serta sakit hati. Bahkan setiap saat saya selalu memikirkan perkataan mereka. Lagi istirahat, lagi sholat, mau tidur, mau makan, ataupun dalam perjalanan pulang. Dan memikirkan balasan apa yang setimpal untuk mereka. Saya tak peduli mereka sakit hati atau tidak. Jadi memang sakit hati harus dibayar dengan sakit hati pula.

Tapi ada yang bilang dari para hizbiyun itu, ”awas loh penyakit hati.” Ah, saya bilang saja kepada mereka: ”sok menjaga hati lu”. Eh, ngomong-ngomong masalah hati kemarin saya mendapat tugas dari kantor pusat untuk mengikuti diklat manajemen qolbu di pesantren Daruttauhid pimpinan Aa Gym itu. Padahal Aa Gym itu kan sudah diberi raport merah oleh ustadz kami.

Ikut tidak yah…? Ah, ikut sajalah, inikan tugas kantor, nanti kalau tidak ikut saya akan di black list untuk tidak mengikuti diklat apapun. Yang rugi saya juga dong. Ohya, raport merahnya perlu saya sampaikan enggak yah kepada Aa Gym. Ini juga untuk kebaikan dia sendiri agar tidak terjerumus terlalu lama dalam kebid’ahan. Kalau dia tidak terima, ya sudah tugas saya selesai.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Kalau mereka tak puas dengan hujjah saya, saya siap menerima tantangan mereka, ini nih nomor telepon genggam saya 0817-6969-xxx.

Telepon itu saya buka 24 jam setiap harinya, tujuh hari dalam seminggu. Kalau perlu kopi darat juga boleh, ingat saya juga pandai bersilat lidah. Saya pun akan bawa kitab-kitab rujukan, tidak hanya terjemahan, asli Arab gundul juga akan saya bawa. Ini pasti akan membuat mereka gentar dan berkeringat dingin. Tenang saja saya akan membawa termomoter untuk mengukur suhu keringatnya benar-benar telah mencapai titik terendah.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Apa? Saya anti ukhuwah? Heii, hizby. Lebih baik saya menjadi pendosa daripada menjadi ahlul bid’ah seperti kalian.

Ah, sudah. Pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati.

****

Teettttttttttt…tettt…!!! Suara rentetan klakson kendaraan di belakang mengagetkan saya yang kiranya sedang berada di dekat pintu lintasan kereta api. Pintu itu sudah terbuka setelah hampir tiada mau membuka karena memberikan kesempatan lewat terlebih dahulu kepada enam kereta rel listrik Jakarta Bogor.

Melihat forum diskusi di ANTAHBERANTAHnet seharian tadi membuat saya melamun begitu panjangnya. Memikirkan si jago dan ahli debat yang menganggap saya ahlul bid’ah dan hizbiyyun yang tak pantas untuk mencium wanginya surga.

Memikirkan mereka dan apa yang dilakukannya malah menguras energi saya untuk beramal. Menguras energi saya untuk memikirkan para tetangga yang setiap malamnya masih bertanya-tanya makan apa besok harinya. Menguras energi saya untuk menghidupkan sholat berjamaah di masjid yang sudah lima tahun lamanya tak kunjung selesai dibangun.

Memikirkan mereka menguras energi saya untuk mendidik dan mempersiapkan generasi rabbani dengan tali ukhuwah yang kuat, yang di malamnya bagaikan rahib dan di siangnya bagaikan singa mengaum membela Islam dari segala rongrongan. Yang dari mulut mereka tak terluncur celaan dan hinaan melainkan penggugah dan penyejuk hati, penyegar pemikiran dan pecerahan menuju ridhonya Allah.

Memikirkan mereka menghalangi diri saya untuk selalu bermuhasabah menghitung dosa-dosa yang menggunung. Malah membuat hati saya yang sudah kotor semakin kotor memikirkan membalas cacian mereka.

Memikirkan mereka menambah penyakit hati dengan adanya kesombongan jikalau sukses menjatuhkan mereka para ahli debat itu. Membuat kebenaran yang sudah tampak di depan mata semakin buram karena tak mau mengalah dan kesombongan.

Alhamdulillah ternyata saya tidak jago debat. Saya tidak pandai mengolah kata. Saya tidak lincah mencela. Saya gagap untuk menyakiti banyak hati. Saya tak bisa membandingkan ilmu dan amalku dengan milik para ulama yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk perjuangan Islam, bahkan untuk menyamakan mereka dengan para syetan.

Biarkan saya akhiri jenak-jenak kata dengan nasehat yang diucapkan Ibnu Taimiyah kepada muridnya, Ibnul Qayyim:

Akhi Da’iyah:

Jangan jadikan hatimu mudah dihanyutkan syubhat, seperti bunga karang di tepi laut yang kian ternoda manakala diterpa gelombang air. Jadilah bak cermin yang tetap kokoh. Berbagai isu dan tuduhan hanya lewat di hadapannya, dan tidak menetap padanya. Cermin menolak semua itu dengan kekokohannya. Bila tidak demikian, bila hatimu mengharap semua syubhat yang melewatinya, niscaya ia akan menjadi sarang segala tuduhan dan isu yang tak jelas.

Ketahuilah, di antara kaidah syari’at dan hikmah menyebutkan, bahwa siapa yang banyak dan besar kebaikannya, dan telah menanam pengaruh nyata dalam Islam, mungkin saja melakukan kekeliruan yang bisa jadi tidak dilakukan orang selainnya. Orang seperti itu dapat dimaafkan. Maaf yang tidak diberikan pada selainnya. Sesungguhnya kema’syiatan itu adalah kotoran, dan air bila mencapai dua kulah, tidak membawa kekotoran.

(Jasim Muhalhil, 1418 H)

Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ba’da maghrib dingin

19:03 19 Pebruari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

riza.almanfaluthi@pajak.go.id

Merekalah Penggoda Syahwatku


14.02.2006 – Merekalah Penggoda Syahwatku (no risk no gain)

Tidak terasa sudah hampir enam bulan lamanya saya hidup tanpa handphone (HP) di tangan, tanpa deringnya yang mengganggu sepanjang perjalanan pulang, tanpa rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, tanpa debar jantung saat ada panggilan dari kantor dan Wajib Pajak, dan tanpa-tanpa lainnya. Saya merasa nyaman, itu saja.

Walaupun kadangkala ada saja saat di mana saya benar-benar membutuhkannya. Untuk hal yang demikian terpaksa HP Qaulan Sadiida saya pinjam barang satu sampai tiga hari, itu pun cuma sekali saja waktu saya pergi melancong ke Palangkaraya. Selebihnya saya benar-benar belum (untuk tidak mengatakan TIDAK) membutuhkannya.

Nah, kenyamanan yang saya rasakan itu sepertinya mulai terusik sejak sepekan ini. Pertama, saya teringat bahwa salah satu alasan kenapa saya tidak memakai HP adalah nomor HP lama yang telah saya cabut masih bisa saya pakai kembali sebelum enam bulan lewat sejak dilaporkan hilang. Jadi karena belum genap enam bulan itulah yang memperlama keinginan saya untuk tidak memakai HP.

Satu pekan ke depan adalah batas waktu bagi saya untuk kembali mengaktifkan nomor itu. Jika tidak maka nomor itu bisa dipakai kembali dengan mengeluarkan ongkos cukup besar dibandingkan dengan mendaftar sebagai user baru, karena dianggap sebagai nomor pesanan.

Wah, inilah godaan pertamanya, tetap pada nomor itu atau ganti dengan nomor baru, atau bahkan ganti dengan operator lain yang lebih murah dan banyak menawarkan fitur menarik dengan ditambah handset–nya lagi.

Kenyamanan saya juga terusik dengan yang kedua ini yaitu adanya tawaran bisnis penjualan pulsa elektronik berbagai macam operator dari teman saya. Saya cukup menyediakan uang 300 ribu rupiah sebagai jaminan dan bisa dikembalikan ketika saya memutuskan untuk tidak berjualan lagi.

Praktis modal saya cuma dengan satu buah HP dan lima jari untuk mengirimkan sms (gratis) kepada agen besar itu agar mengirimkan pulsa kepada pelanggan saya. Itu saja. Menarik bukan? Sekalian belajar mengasah kepekaan berwirausaha. Inilah godaan keduanya.

Lagi-lagi kenyamanan saya terusik dengan adanya yang ketiga ini yakni teman saya yang satu lagi tiba-tiba menawarkan HP miliknya kepada saya, berhubung dia telah memiliki HP baru. Tentunya tawaran itu tidak gratis. Jikalau saya mau saya cukup membayarnya di bawah harga pasaran.

Inilah godaan ketiga itu, walaupun secara fisik HP seken itu jauh dibandingkan HP saya yang hilang. Tidak ada kameranya, tidak ada fitur-fitur menarik layaknya HP berbasis symbian lainnya. Apalagi bentuknya yang sudah ketinggalan zaman karena belum mungil seperti kebanyakan wujud HP saat ini.

Tapi saya tidak peduli dengan semua itu. Karena saat ini saya menyadari bahwa secanggih-canggihnya fitur dan semahal-mahalnya HP yang saya miliki dulu ternyata kebanyakan tidak berguna. Yang biasa saya pakai cuma fasilitas calling dan sms-nya saja. Dan dengan HP seken ini kebutuhan dasar saya sudah cukup terpenuhi. Jadi mau apalagi? Mau gaya-gayaan? Tidak lah yau…Dan kini HP seken itu telah menjadi penggoda ketiga bagi saya.

Sekarang HP itu masih di tangan saya untuk sekadar dilihat-lihat dan dipertimbangkan sematang-matangnya, walaupun proses negosiasi masih terus berlangsung karena belum ada titik temu masalah harga di antara kami.

Yah, jika Allah berkehendak dalam waktu dekat tiga godaan itu sepertinya cukup kuat untuk mendobrak benteng kekukuhan dan kenyamanan saya. Tentunya dengan paradigma berbeda bahwa HP saya nanti bukanlah untuk memenuhi syahwat gaya saya tapi penuh muatan dan niat untuk menambah penghasilan halal. Itu saja.

Tidak lupa mental kembali harus dipersiapkan, karena akan ada lagi deringnya yang mengganggu di sepanjang perjalanan pulang, akan ada pula rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, dan juga debar di jantung saat ada panggilan dari kantor ataupun Wajib Pajak. Tapi inilah resiko bisnisnya. No risk no gain.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 11 Pebruari 2006

Prajurit di atas Kuda Trengginas


14.02.2006 – Prajurit di atas Kuda Trengginas

Peluang menyebarkan kebaikan selalu ada kapan saja, di mana saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja yang menginginkan dirinya menjadi prajurit-prajurit kebenaran demi tegaknya panji-panji Islam dimuka bumi ini. Mereka hanya meyakini bahwa Allah lah tujuannya, Muhammad teladannya, Alqur’an hukumnya, Jihad jalannya, syahid cita-cita tertingginya.

Mereka rela berpeluh debu, berkeringat darah, berhias sayatan pedang. Mereka berbaris rapih dengan kuda-kuda trengginas yang siap berlari kencang dengan terengah-engah di padang pertempuran melawan para perintang sejatinya. Karena hakikinya pertempuran itu adalah pertempuran abadi dengan akhir berupa kibaran kebenaran.

Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”. Dengan shalat hanya sekadar penunai kewajiban. Dengan dzikir hanya pemanis mulut. Dengan doa kering tanpa ruh. Dengan malam-malam tetap berselimut tebal. Dengan subuh yang telah menjadi peneman mentari.

Dengan harta dan kemewahan tanpa pembersih. Dengan senyum yang sulit tersungging. Dengan mata penuh kerinduan birahi tak halal. Dengan amarah menjadi desahan nafas. Dengan lisan penuh tuba menoreh luka. Dengan dengki pewarna hati. Dengan haji hanya sebagai pelengkap nama. Dengan kekuasaan penuh tangan-tangan terzalimi meminta ampun. Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”.

Jika tidak, akan menjadi apa diri ini sedangkan engkau kelak akan berkeluh kesah: ”Oh nikmatnya menjadi binatang kerana tak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di mahkamah yang paling agung di mahsyar sana.”

Tiada kata terlambat jika sadari bahwa nafasmu belumlah satu-satu. Kakimu masih kuat untuk dilangkahkan. Tanganmu ringan selalu di atas. Mulut masih bisa digerakkan seimbang. Dan mata lengkap tiada tara nikmatnya.

Maka sekecil kebaikan yang engkau lakukan adalah mulanya kuncup yang akan bermekaran. Mulanya tetesan air untuk menjadi gelombang. Mulanya pisau tumpul untuk menjadi pedang tajam mengilat. Mulanya prajurit kecil tak bernama untuk menjadi jenderal gagah tawadlu’.

Maka tekadkan diri mulai desah nafas yang engkau hembuskan saat ini untuk tetap menjadi penyebar kebaikan hatta sebesar dzarrah. Karena sekecil apapun kebaikan yang engkau berikan kepada yang lain ia akan memantulkan kembali kebaikan itu kepadamu.

”Siapa saja yang pertama memberi contoh prilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikitpun….” (HR Muslim)

Maka peluang itu telah ada dihadapanmu, di halaman ini, di forum diskusi ini, engkau telah menjadi satu dari sekian para prajurit kebenaran. Yang selalu mengisinya dengan nasihat dan yang selalu memberi sesuatu yang berguna.

Maka tak masalah jika engkau sekadar berkomentar asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyapa asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menulis asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyalin asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar melampirkan asalkan ia adalah kebaikan.

Maka tak terhitungnya pahala yang engkau akan dapatkan dengan memberi AlQur’an Digital, Shollu pengingat waktu sholat, Alquran Ms Word, kumpulan fatwa ulama sholih, murattal merdu para ustadz, nasyid penyemangat ruh, ebook ilmu Islam, kabar gembira dari tanah jihad, artikel pencerahan, antivirus, dan lainnya.

Maka seberapa pahala yang engkau akan dapatkan jika engkau menjadi penyebar kebaikan. Pahala itu akan mengalir dari banyak orang yang telah engkau beri kebaikan. Bahkan dari orang lain yang telah diberikan kebaikan dari orang pertama yang engkau beri kebaikan itu, hingga seterusnya. Maka seberapa lama pahala itu akan mengalir kepadamu hatta engkau telah menjadi penunggu kubur kerana ilmu bermanfaat yang engkau sebarkan.

Sebaliknya…
”…Dan siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun. (HR Muslim).

Cacian, makian, hasutan, kesia-siaan, pornografi, dan penentanganmu pada alHaq yang engkau sebarkan kepada orang lain, sudah sepantasnya gunungan dosa menjadi pemberat pada timbangan sebelah kirimu, tak ada yang bisa merubahnya kecuali dengan rahmat TuhanMu. Itupun kalau engkau pantas menerimanya.

Tak berpanjang lebar, akankah engkau menjadi salah satu prajurit kecil pengusung dan pembawa kemasalahatan pada yang lain atau sebaliknya? Terserah padamu neraca itu berat ke kanan atau sebaliknya? Atau terserah padamu, kitab itu diserahkan padamu dari sebelah kanan atau dari arah belakangmu sembari dilempar?

Kalau engkau pilih yang pertama, sebaik-baiknya tempat adalah untukmu. Jika yang engkau pilih adalah yang terakhir maka tak perlu engkau hidup saat ini juga (aku berlindung pada Mu ya Allah dari semua ini).
Kini peluang itu ada dihadapanmu. Kini pilihan itu ada ditanganmu…

###dialog antara aku dan aku
sebuah introspeksi diri

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
teh manis terhidang di meja
21:52 13 Pebruari 2006

Gudang Ebook


08.02.2006 – GUDANG EBOOK (Ayo Diunduh…)

GUDANG E-BOOK

Dalam suatu perburuan buku di sebuah pameran kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, saya mendapatkan buku yang pernah saya idam-idamkan waktu di SMP dulu. Buku ini berjudul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart (1978) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H. Mahbub Djunaidi (1982).
Karena buku itu sudah habis terjual di seluruh toko buku di Jatibarang, tempat saya tinggal, saya akhirnya berusaha mencari di kota Cirebon, hasilnya sama NIHIL. Saya menyerah untuk mencari buku itu.
Baru setelah dua belas tahun kemudian, tanpa sengaja saya menemukannya di pameran buku tersebut. Dengan harga 50 ribu—kalau tidak lupa—saya dapat memiliki buku itu. Dan telah lama buku itu selesai dibaca.
Dalam buku tersebut diurutkan tokoh-tokoh yang paling berpengaruh terhadap jalannya sejarah dunia. Sang pengarang buku menempatkan Nabi Muhammad SAW pada rangking pertama (Coba bandingkan saat Arswendo menempatkannya pada urutan ke tujuh). Dan banyak lagi tokoh-tokoh lainnya, entah itu sang penemu, ilmuwan, filsuf, atheis, diktator, penakhluk dan lain sebagainya.
Menurut saya buku ini bagus sekali untuk dibaca dan dimiliki. Dengan membacanya Anda akan mempunyai wawasan luas tentang pertimbangan-pertimbangan apa tokoh-tokoh tersebut berpengaruh terhadap putaran sejarah manusia.
Apalagi di sana pun ada tokoh seperti Umar Bin Khaththab dengan banyak usahanya dan kebesarannya pada saat ia memerintah dunia Islam, ia mampu mengalahkan tokoh-tokoh lainnya. Pokoknya saya merekomendasikan pada Anda bahwa buku ini layak untuk Anda baca.
Jikalau Anda kesulitan untuk mencarinya, ternyata buku itu punya versi e-booknya. Dan itu baru saja saya temukan pada hari ini, yaitu saat saya mengobok-obok situs Kanwil Sidoarjo, tepatnya pada alamat:
http://kwlsidoarjo/download/Software/

Coba saja Anda mengunduhnya. Tampilannya sungguh menawan hati. Ditambah dengan gambar-gambar dari tokoh-tokoh itu. Tapi jangan berharap Anda akan menemukan gambar Baginda Mulia Nabi Muhammad SAW. Karena dalam Islam penggambaran beliau adalah sesuatu yang diharamkan. Apalagi dengan mengkarikaturkan beliau dengan berbagai penggambaran yang tercela. Na’udzubillah.
Setelah saya buka e-book itu, saya mendapatkan informasi lain bahwa sumber e-book itu diunduh dari situs :
http://www.pakdenono.com
Berhubung komputer saya ini terhubung dengan internet dan lagi bagus jaringannya walaupun melalui proxy, saya mencoba surfing ke sana. Dan hasilnya adalah di sana banyak Ebook Islam, Ebook Kristologi, Artikel Islam, Mp3 Ceramah Kristologi, Situs, Artikel & Buku Harun Yahya berbahasa Indonesia lengkap dengan gambar berformat file zip /chm.
Berikut link-link yang ada pada situs itu:
Download buku Islam / ebook Islam, buku kristologi & artikel Islam file chm:
HJ. Irena Handono,muallaf mantan biarawati : Islam Dihujat – (menjawab buku Robert Morey, The Islamic Invation).
Michael H. Hart : 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah.
Dr. Maurice Bucaille : Bibel, Quran & Sains Modern.
Prof. H.S. Tharick Chehab : Alkitab (Bible) / Sejarah Injil.
Prof. Dr. M.M. Al-A’zami : Sejarah Teks Alqur’an. Terjemahan dari buku : The History of The Qur’anic Text.
Professor James Barr : Alkitab di Dunia Modern
Ahmed Deedat : The Choice Islam & Christianity.
Hartono Ahmad Jaiz : Kumpulan buku karya Hartono Ahmad Jaiz.
DR Yusuf Al Qardhawi : Fatwa Fatwa DR Yusuf Al Qardhawi.
Adnin Armas, M.A : Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran.
Prof David Benjamin Keldani, bekas Uskup Kaldea : Muhammad SAW dalam Perjanjian Lama & Baru.
dll.

Download Web Site file chm lengkap dg gambar:
Seluruh situs Harun Yahya bahasa Indonesia:
http://www.yesusakankembali.com, http://www.bangsamusnah.com, http://www.keajaibanalquran.com,
http://www.dibalikperangdunia.com, http://www.tragedipalestina.com,
http://www.evolutiondeceit.com (keruntuhan teori evolusi) & http://www.insightmagazine.com
– Kumpulan Buku Harun Yahya –
– Kumpulan Artikel Harun Yahya dalam 1 file chm –
– MCB Swaramuslim / Swaramuslim Cyber Book –
– Artikel-artikel Mediaisnet –
Kebohongan Kristen, dari http://www.geocities.com/
dll.

Download mp3 Islam – Kristen:
Ceramah Kristologi:
– Yesus Ternyata Poligami – (DR. H. Sanihu Munir, Kristolog)
– Strategi Memurtadkan Ummat Islam – (HJ. Irena Handono, muallaf mantan biarawati)
– Perayaan Natal Antara Dogma & Toleransi – (HJ. Irena Handono, muallaf mantan biarawati)

dan puluhan eBook lainnya…
Halaman Download Gratis

wewewepakdenonodotkom

Akhirnya saya menemukan juga gudang e-book yang bermutu setelah lama mencari di mana situs yang menyediakan e-book tentang Islam secara gratis. Jadi kembali saya merekomendasikan kepada Anda untuk menjadikan situs itu sebagai situs favorit Anda.
Saya cuma bisa mendoakan semoga yang menyediakan situs itu mendapatkan pahala atas usahanya. Terutama pula kepada yang membuat program ebook-nya. Serta para penulisnya karena ini pun demi tersebarnya pengetahuan Islam agar peradaban Islam kembali jaya.

Allohua’lam.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan