Prajurit di atas Kuda Trengginas


14.02.2006 – Prajurit di atas Kuda Trengginas

Peluang menyebarkan kebaikan selalu ada kapan saja, di mana saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja yang menginginkan dirinya menjadi prajurit-prajurit kebenaran demi tegaknya panji-panji Islam dimuka bumi ini. Mereka hanya meyakini bahwa Allah lah tujuannya, Muhammad teladannya, Alqur’an hukumnya, Jihad jalannya, syahid cita-cita tertingginya.

Mereka rela berpeluh debu, berkeringat darah, berhias sayatan pedang. Mereka berbaris rapih dengan kuda-kuda trengginas yang siap berlari kencang dengan terengah-engah di padang pertempuran melawan para perintang sejatinya. Karena hakikinya pertempuran itu adalah pertempuran abadi dengan akhir berupa kibaran kebenaran.

Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”. Dengan shalat hanya sekadar penunai kewajiban. Dengan dzikir hanya pemanis mulut. Dengan doa kering tanpa ruh. Dengan malam-malam tetap berselimut tebal. Dengan subuh yang telah menjadi peneman mentari.

Dengan harta dan kemewahan tanpa pembersih. Dengan senyum yang sulit tersungging. Dengan mata penuh kerinduan birahi tak halal. Dengan amarah menjadi desahan nafas. Dengan lisan penuh tuba menoreh luka. Dengan dengki pewarna hati. Dengan haji hanya sebagai pelengkap nama. Dengan kekuasaan penuh tangan-tangan terzalimi meminta ampun. Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”.

Jika tidak, akan menjadi apa diri ini sedangkan engkau kelak akan berkeluh kesah: ”Oh nikmatnya menjadi binatang kerana tak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di mahkamah yang paling agung di mahsyar sana.”

Tiada kata terlambat jika sadari bahwa nafasmu belumlah satu-satu. Kakimu masih kuat untuk dilangkahkan. Tanganmu ringan selalu di atas. Mulut masih bisa digerakkan seimbang. Dan mata lengkap tiada tara nikmatnya.

Maka sekecil kebaikan yang engkau lakukan adalah mulanya kuncup yang akan bermekaran. Mulanya tetesan air untuk menjadi gelombang. Mulanya pisau tumpul untuk menjadi pedang tajam mengilat. Mulanya prajurit kecil tak bernama untuk menjadi jenderal gagah tawadlu’.

Maka tekadkan diri mulai desah nafas yang engkau hembuskan saat ini untuk tetap menjadi penyebar kebaikan hatta sebesar dzarrah. Karena sekecil apapun kebaikan yang engkau berikan kepada yang lain ia akan memantulkan kembali kebaikan itu kepadamu.

”Siapa saja yang pertama memberi contoh prilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikitpun….” (HR Muslim)

Maka peluang itu telah ada dihadapanmu, di halaman ini, di forum diskusi ini, engkau telah menjadi satu dari sekian para prajurit kebenaran. Yang selalu mengisinya dengan nasihat dan yang selalu memberi sesuatu yang berguna.

Maka tak masalah jika engkau sekadar berkomentar asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyapa asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menulis asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyalin asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar melampirkan asalkan ia adalah kebaikan.

Maka tak terhitungnya pahala yang engkau akan dapatkan dengan memberi AlQur’an Digital, Shollu pengingat waktu sholat, Alquran Ms Word, kumpulan fatwa ulama sholih, murattal merdu para ustadz, nasyid penyemangat ruh, ebook ilmu Islam, kabar gembira dari tanah jihad, artikel pencerahan, antivirus, dan lainnya.

Maka seberapa pahala yang engkau akan dapatkan jika engkau menjadi penyebar kebaikan. Pahala itu akan mengalir dari banyak orang yang telah engkau beri kebaikan. Bahkan dari orang lain yang telah diberikan kebaikan dari orang pertama yang engkau beri kebaikan itu, hingga seterusnya. Maka seberapa lama pahala itu akan mengalir kepadamu hatta engkau telah menjadi penunggu kubur kerana ilmu bermanfaat yang engkau sebarkan.

Sebaliknya…
”…Dan siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun. (HR Muslim).

Cacian, makian, hasutan, kesia-siaan, pornografi, dan penentanganmu pada alHaq yang engkau sebarkan kepada orang lain, sudah sepantasnya gunungan dosa menjadi pemberat pada timbangan sebelah kirimu, tak ada yang bisa merubahnya kecuali dengan rahmat TuhanMu. Itupun kalau engkau pantas menerimanya.

Tak berpanjang lebar, akankah engkau menjadi salah satu prajurit kecil pengusung dan pembawa kemasalahatan pada yang lain atau sebaliknya? Terserah padamu neraca itu berat ke kanan atau sebaliknya? Atau terserah padamu, kitab itu diserahkan padamu dari sebelah kanan atau dari arah belakangmu sembari dilempar?

Kalau engkau pilih yang pertama, sebaik-baiknya tempat adalah untukmu. Jika yang engkau pilih adalah yang terakhir maka tak perlu engkau hidup saat ini juga (aku berlindung pada Mu ya Allah dari semua ini).
Kini peluang itu ada dihadapanmu. Kini pilihan itu ada ditanganmu…

###dialog antara aku dan aku
sebuah introspeksi diri

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
teh manis terhidang di meja
21:52 13 Pebruari 2006

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s