Merekalah Penggoda Syahwatku


14.02.2006 – Merekalah Penggoda Syahwatku (no risk no gain)

Tidak terasa sudah hampir enam bulan lamanya saya hidup tanpa handphone (HP) di tangan, tanpa deringnya yang mengganggu sepanjang perjalanan pulang, tanpa rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, tanpa debar jantung saat ada panggilan dari kantor dan Wajib Pajak, dan tanpa-tanpa lainnya. Saya merasa nyaman, itu saja.

Walaupun kadangkala ada saja saat di mana saya benar-benar membutuhkannya. Untuk hal yang demikian terpaksa HP Qaulan Sadiida saya pinjam barang satu sampai tiga hari, itu pun cuma sekali saja waktu saya pergi melancong ke Palangkaraya. Selebihnya saya benar-benar belum (untuk tidak mengatakan TIDAK) membutuhkannya.

Nah, kenyamanan yang saya rasakan itu sepertinya mulai terusik sejak sepekan ini. Pertama, saya teringat bahwa salah satu alasan kenapa saya tidak memakai HP adalah nomor HP lama yang telah saya cabut masih bisa saya pakai kembali sebelum enam bulan lewat sejak dilaporkan hilang. Jadi karena belum genap enam bulan itulah yang memperlama keinginan saya untuk tidak memakai HP.

Satu pekan ke depan adalah batas waktu bagi saya untuk kembali mengaktifkan nomor itu. Jika tidak maka nomor itu bisa dipakai kembali dengan mengeluarkan ongkos cukup besar dibandingkan dengan mendaftar sebagai user baru, karena dianggap sebagai nomor pesanan.

Wah, inilah godaan pertamanya, tetap pada nomor itu atau ganti dengan nomor baru, atau bahkan ganti dengan operator lain yang lebih murah dan banyak menawarkan fitur menarik dengan ditambah handset–nya lagi.

Kenyamanan saya juga terusik dengan yang kedua ini yaitu adanya tawaran bisnis penjualan pulsa elektronik berbagai macam operator dari teman saya. Saya cukup menyediakan uang 300 ribu rupiah sebagai jaminan dan bisa dikembalikan ketika saya memutuskan untuk tidak berjualan lagi.

Praktis modal saya cuma dengan satu buah HP dan lima jari untuk mengirimkan sms (gratis) kepada agen besar itu agar mengirimkan pulsa kepada pelanggan saya. Itu saja. Menarik bukan? Sekalian belajar mengasah kepekaan berwirausaha. Inilah godaan keduanya.

Lagi-lagi kenyamanan saya terusik dengan adanya yang ketiga ini yakni teman saya yang satu lagi tiba-tiba menawarkan HP miliknya kepada saya, berhubung dia telah memiliki HP baru. Tentunya tawaran itu tidak gratis. Jikalau saya mau saya cukup membayarnya di bawah harga pasaran.

Inilah godaan ketiga itu, walaupun secara fisik HP seken itu jauh dibandingkan HP saya yang hilang. Tidak ada kameranya, tidak ada fitur-fitur menarik layaknya HP berbasis symbian lainnya. Apalagi bentuknya yang sudah ketinggalan zaman karena belum mungil seperti kebanyakan wujud HP saat ini.

Tapi saya tidak peduli dengan semua itu. Karena saat ini saya menyadari bahwa secanggih-canggihnya fitur dan semahal-mahalnya HP yang saya miliki dulu ternyata kebanyakan tidak berguna. Yang biasa saya pakai cuma fasilitas calling dan sms-nya saja. Dan dengan HP seken ini kebutuhan dasar saya sudah cukup terpenuhi. Jadi mau apalagi? Mau gaya-gayaan? Tidak lah yau…Dan kini HP seken itu telah menjadi penggoda ketiga bagi saya.

Sekarang HP itu masih di tangan saya untuk sekadar dilihat-lihat dan dipertimbangkan sematang-matangnya, walaupun proses negosiasi masih terus berlangsung karena belum ada titik temu masalah harga di antara kami.

Yah, jika Allah berkehendak dalam waktu dekat tiga godaan itu sepertinya cukup kuat untuk mendobrak benteng kekukuhan dan kenyamanan saya. Tentunya dengan paradigma berbeda bahwa HP saya nanti bukanlah untuk memenuhi syahwat gaya saya tapi penuh muatan dan niat untuk menambah penghasilan halal. Itu saja.

Tidak lupa mental kembali harus dipersiapkan, karena akan ada lagi deringnya yang mengganggu di sepanjang perjalanan pulang, akan ada pula rasa panik yang melanda jika HP tidak ada di saku celana, dan juga debar di jantung saat ada panggilan dari kantor ataupun Wajib Pajak. Tapi inilah resiko bisnisnya. No risk no gain.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 11 Pebruari 2006

Advertisements

One thought on “Merekalah Penggoda Syahwatku

  1. Luar biasa. Bisa menahan godaan teknologi. Saya jadi ingat saya pernah mengatakan pada keluarga bahwa kami bisa hidup tanpa tv. Waktu itu memang tv masih berharga tinggi untuk yang berkantong tipis. Tetapi ketika anak menonton tv tetangga saya. Tentanggku seorang tukang becak, Anak saya mengangkat tumit untuk bisa lihat lewat jendela melalui tralis kawat karatan. Tiba-tiba sreett tirai ditutup. Anak saya yang kecil kembali. Dan saya tidak mampu menahan godaan. Saya bilang sama bos. Bos baik hati kantor kami dan saya bayar berdua selanjutnya kami punya televisi. Melihat dunia yang jauh. Dan kini untuk mendengar yang jauh-jauh sudah jadi candu juga. Ya Tuhan anda bisa tahan godaan itu. Salam kenal. dan Selamat.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s