TETET TOET…!


TETET TOET…!

Saat saya melewati sebuah toko pakaian dan di sana terlihat juga berbagai mainan anak-anak berupa binatang-binatang yang terbuat dari karet saya bertekad untuk membelinya nanti setelah selesai acara makan siang ini. Dan betul, setelah acara itu selesai saya melewati toko tersebut dan mencoba melihat-lihat mainan anak-anak itu.

    Ada ular-ularan, buaya, laba-laba, ikan paus, elang dan masih banyak lagi yang lainnya. Mainan itu kalau dipencet akan berbunyi: “tetet toet…tetet toet. ” Lucu juga nih mainan ini. Akhirnya saya beli dua biji. Satu ular-ularan dan satu lagi buaya yang bisa berbunyi itu. Kalau ditotal cuma Rp9.800,00. Ular-ularan ini buat nakut-nakutin akhwat saya yang ada dirumah. Nanti kalau saya pulang saya akan lempar ular ini ke dia. “Takut enggak yah…”pikir jahat saya. Tapi kiranya saya tak tega untuk melakukannya. Khawatir ada apa-apa. Apalagi hari-hari ini saya sedang menunggu kedatangan anak kami yang ketiga muncul ke dunia ini.

    Kalau yang mainan buaya bisa saya kasih kepada Ayyasy atau Haqi, buat mainan mereka berdua. Atau enggak usah dibawa pulang. Ditaruh saja di meja kantor. Buat refresing di tengah suasana sepi para AR dan fungsional pemeriksa dalam satu ruangan yang tenggelam dalam kesibukannya masing-masing, bunyi tetet toet-nya itu kiranya bisa menyegarkan mereka. Tetet toet…!    

Kata teman saya alam bawah sadar saya yang menuntun saya untuk membeli mainan tersebut. Yah, pada saat itu saya langsung tertarik melihat barang itu saat pelayan di toko sedang menatanya. Dan betul juga, dulu waktu saya masih kecil dan sama sekali tidak mampu untuk membeli mainan, saya melihat mainan seperti itu dimiliki tetangga saya. Saya sangat menginginkannya namun saya cuma bisa meminjamnya belaka karena saya ataupun orang tua saya tak mampu untuk membelinya.

Keinginan itu menjadi keinginan besar yang terpendam dalam diri saya. Terbangkitkan kembali memori itu pada hari ini. Dan kini saya mampu membelinya, saya bisa memilikinya setelah puluhan tahun lamanya.

Berbincang-bincang tentang alam bawah sadar, saya jadi teringat sebuah tulisan (yang juga sempat saya bawakan sebagai tema kultum saya di Masjid Al-Ikhwan Ramadhan 1428 H lalu) tentang mengapa banyak orang Indonesia yang pada musim lebaran melakukan ritual mudik.

Ini sejatinya karena semua itu adalah fitrah manusia untuk kembali ke tempat asalnya, fitrah manusia merindu pada kampung halaman, merindu pada orang tua yang selama ini mengayomnya, seperti kerinduan seorang bayi yang senang digendong pada sisi kiri seorang ibu, karena ia dapat lebih menangkap detak jantung ibunya yang sama persis ia dengar saat masih dalam rahim sang ibu.

Dan sejatinya pula bahwa tempat kembali kita adalah Allah. Karena bukankah kita telah diambil persaksiannya oleh Allah dalam sebuah pesaksian yang mahadahsyat.

Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?!’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Allah).'” (QS. Al-A’rāf [7]: 172)

Peristiwa mahadahsyat berupa sebuah persaksian itu diambil langsung oleh Rabb yang mahakuat, mahaagung, mahaperkasa, mahagagah, mahaindah. Dan itu terekam kuat dalam alam bawah sadar kita. Tidak hanya itu, ia lalu menjadi sebuah fitrah. Fitrah merindui dan berjumpa dengan Allah PEMILIK SEMUANYA ITU. Merindu akan keindahan-Nya, kekuatan-Nya, kegagahan-Nya. Oleh karenanya itu wajar dan sebuah keniscayaan bahwa kita senantiasa akan mati, berjumpa dengan-Nya. Yang jadi masalahnya adalah mengapa kita tidak ingat mati? Ya, karena fitrah sejati kita itu terkadang tertutupi oleh keindahan semu duniawi dan kecantikan yang terindui pada makhluknya.

rindu pada bayangan kecantikannya membuatku lupa…

fantasi liar membuatku lupa pula untuk menjejak pada bumi…

energi kesadaranku pupus dan lunglai tak kuasa menghadapinya…

bahkan yang ada cuma derita imajinasi yang mencandu diriku untuk merengkuhnya…

    bahkan aku gila hingga berbisik pada angin, “sampaikan kerinduan padanya.”

    ***

 

    Aih, ingatan masa kecil yang terekam dalam alam bawah sadar saya pada siang hari ini membuat saya membeli mainan anak-anak dan mengingat sebuah kata bersebut kematian. Tiba-tiba saya teringat, waktu saya kecil, saya juga pernah bermimpi menjadi HULK…

    Tetet toet…!

***

Maraji:

  1. Alqur’anul kariim;
  2.  

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:16 29 juli 2009

 


 

FRAGMEN JUM’AT


FRAGMEN JUM’AT

Pagi ini saya usahakan untuk tidak membuka apapun terkecuali program pengolah kata saat pertama kali menyalakan komputer. Sudah lama saya tidak menulis di pagi hari. Dan kemudian saya berpikir lagi ternyata di lain waktu pun saya tidak menulis juga. Artinya memang sudah beberapa hari atau hitungan pekan ini saya belum menemukan satu, dua atau banyak kepingan gagasan yang enak untuk dijadikan mozaik tulisan.

    Tiba-tiba setelah membuka program pengolah kata itu saya teringat sebuah episode kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkan oleh seorang ulama. Tidak dibuat-buat, tulus, dan apa adanya. Dan ini membuat saya teramat terkesan padanya.

    Suatu ketika, di hari Jum’at, Ia datang memenuhi undangan untuk menjadi khotib di masjid kantor pajak Kalibata. Ia sudah sering kami undang ke masjid kami itu seperti mengisi ceramah bulanan dan ramadhan. Sudah beberapa kali saya mendengar ceramahnya. Insya Allah sudah menjadi jaminan ceramahnya itu tidak membuat pendengarnya terkantuk-kantuk.

Pada Ramadhan 1428 H yang lalu tema ceramahnya tentang dua orang yang berbeda nasib saat di alam kubur, saya sampaikan kembali di hadapan jamaah tarawih masjid komplek rumah saya, Al-Ikhwan. Penuturannya yang lembut amat menggedor batin saya hingga membuat mata saya berkaca-kaca.

Sebenarnya tidak kali itu saja ia membuat mata saya berbening kaca, dulu pada tanggal 3 Sya’ban 1427 H atau bertepatan dengan tanggal 27 Agustus 2006 beliau menjadi salah satu penceramah tabligh akbar majelis Akhlakul Karimah di Masjid At-Tiin yang dihadiri puluhan ribu orang. Pun demikian, ajakannya kepada seluruh peserta tabligh akbar untuk meminta ampunan kepada Allah diiringi isak tangis banyak orang. Allah yang mahamulia. Sungguh mengharukan. Itulah pertama kali saya mendengar ceramahnya.

Dan pada jum’at itu ceramahnya saya dengarkan baik-baik. Pula setiap ayat-ayat yang dilantunkannya saat mengimami jamaah sholat jum’at. Setelah selesai sholat, saya dan takmir masjid yang lain mengajaknya masuk ke ruang khusus takmir. Lalu mempersilakannya menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Ya, sudah menjadi tradisi kami setiap ba’da sholat Jumat kami makan ringan bersama-sama dengan khotib dan pengurus masjid yang lain. Tujuannya selain silaturahim juga adalah dalam rangka mengenal lebih dekat para khotib yang datang memenuhi undangan kami.

Nah, fragmen kerendahhatiannya ditunjukkannya pada saat ia sudah duduk di meja makan tersebut. Saat dipersilakan ia bukannya menunggu piring datang ke hadapannya atau menunggu diambilkan oleh orang lain, tetapi ia langsung mengambil piring dan membagikannya kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. “Silakan-silakan…,”katanya. Ia juga mengambilkan lontong yang terhidang di sana satu persatu kepada kami semua. Lalu sambalnya beliau yang menuangkannya ke piring-piring kami. Kami jadinya merasa tidak enak. Saat kami mencegahnya, ia bersikeras biar ia yang melakukannya saja.

Aih, padahal ia adalah seorang tamu yang harusnya kami layani. Ia doktor ilmu syariah lulusan timur tengah. Pengasuh rubrik konsultasi Pusat Konsultasi Syariah atau syariah online. Pengurus Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), dan wajahnya sering terlihat di layar kaca mengisi siraman rohani pagi.

Dalam hati saya berkata, “Subhanallah, inilah sejatinya ulama yang ilmunya senantiasa dihiasi dengan keindahan akhlaknya.” Ya, seringkali kita melihat betapa banyak mereka yang disebut ulama tetapi akhlaknya berbanding terbalik dengan ilmu yang dimilikinya. Bahkan bukannya malah menjadi penerus mulia kanjeng Nabi Muhammad saw dengan akhlaknya yang paripurna tetapi malah menjadi ulama pemecah umat. Semoga kita terlindung dari semua itu. Saya berdoa semoga ia tetap istiqomah dengan ilmu dan amalnya itu.

Fragmen yang beliau tunjukkan kepada kami meneguhkan tentang dua hal yang tak boleh ditinggalkan oleh orang-orang yang telah menjual hidupnya kepada Allah. Yaitu kelembutan dan kerendahhatian. Dua-duanya mutlak diperlukan untuk memperlancar jalan dakwah. Kebetulan pula saya membaca sebuah transkrip taujih pekanan yang berjudul Bersikap Lembut dan Rendah Hati.

Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan dan badan. BUkanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (nyelekit). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan. Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (qaulan syadidan), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabyyun, buruk sangka, ghibah, pendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.

Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya mendekatkan/mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar, dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur/menyapa terlebih dahulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, cuek dan antipati merupakan lawan dari rendah hati.

Allah berfirman dalam surah Asy-Syu’araa ayat 215, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu.” Bila Rasulullah saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap murabbi, rendah hati terhadap mutarobbi, dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang yang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan kebenaran Al-Qur’an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Qur’an dan Hadits.

Membaca tiga paragraf taujih itu membuat saya termenung. Apa yang dilakukan oleh ulama itu adalah implementasi ayat di atas, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu”.
Menjadi
ulama bukanlah sebuah penisbatan diri bahwa yang lain yaitu pengikut atau umatnya harus melayani dirinya. Bahkan sebaliknya ialah yang kudu melayani dan merendahkan dirinya pada orang-orang yang beriman yang mengikutinya. Satu hal lagi ternyata kelembutan dan kerendahhatian lebih melanggengkan/mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.

Semoga saya bisa meniru akhlak ulama tersebut. Dan sekali lagi semoga beliau senantiasa istiqomah. Insya Allah kami akan mengundang beliau pada tanggal 10 Agustus 2008 di Masjid Al-Ikhwan, Puri Bojong Lestari tahap II, Pabuaran, Bojonggede, pada acara Tarhib Ramadhan.

Kalau antum semua ingin tahu siapa beliau? Ini dia fotonya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

 

 

 

Dr. Muslih Abdul Karim

(Ia pernah dicaci maki sebagai “gembong Ikhwani” oleh mereka yang membencinya, tapi tak menyurutkan beliau untuk tetap berdakwah mengajak dan mengajarkan kebaikan kepada masyarakat).

***

Riza Almanfaluthi

masih ada di rantingnya

09:34 18 Juli 2008.

dedaunan di ranting cemara

BEREBUT PAKAIAN (LPJ BAKSOS)


BEREBUT PAKAIAN

(LPJ BAKSOS)

 

Ikhwatifillah, assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Semoga di pagi yang cerah ini ada sebuah kecerahan dan keceriaan yang menggumpal di dada antum semua . Dan tak lupa untuk menjadi gardu energi positif dan membagikan energi kebaikan itu kepada sesama. Tentu ada balasan yang tak ternilai berupa energi positif yang akan diterima suatu saat kelak oleh antum.

    Ikhwatifillah, kalau antum menyangka bahwa sebuah fragmen rebutan pakaian itu hanya terjadi di sebuah daerah yang sedang tertimpa bencana atau di daerah terpencil di pelosok Indonesia nun jauh di sana, maka pandangan itu tidaklah tepat. Karena di Kampung Wates, Pabuaran, Bojonggede, yang jaraknya tidak cukup jauh dan lama ditempuh dari pusat Ibukota republik ini, Jakarta, maka fragmen itu benar-benar terjadi.

    Ya, pada acara bakti sosial (baksos) yang diselenggarakan pada hari Ahad tanggal 06 Juli 2008 itulah kejadian itu berlangsung. Ini menunjukkan bahwa kehidupan yang berat memang sedang dialami oleh sebagian besar dari bangsa ini. Setelah diawali dengan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) lalu dibombardir dengan naiknya seluruh bahan kebutuhan pokok diiringi pula dengan kelangkaan minyak tanah ataupun gas, masyarakat mulai mengeluh dan menjerit. Apatah lagi ditengah tuntunan biaya untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya di tahun ajaran baru ini.

Didasari oleh itulah baksos tahap pertama ini diselenggarakan dan Insya Allah berjalan dengan sukses. Baksos tahap kedua akan diselenggarakan di bulan ramadhan nanti adalah pula dalam rangka menyiasati kenaikan sembako yang biasanya mulai meroket lagi jelang lebaran.

Kami—para pemuda yang aktif di Yayasan Kharisma Insani—sadar bahwa ini adalah bukan solusi jangka panjang. Karena sebenarnya bila ingin ada perubahan kesejahteraan buat masyarakat yang bersifat permanen dan massal maka itu adalah domain dari pemerintah daerah, bukan kami. Tetapi memang jikalau tidak ada yang memulai bergerak untuk peduli maka siapa lagi yang mau untuk memulainya.

Maka dengan tekad, semangat bulat, dan diniatkan dengan memberikan peluang untuk meraih kebaikan bersama-sama, memberikan kesempatan untuk mengolah ladang amal, disebarkanlah beberapa proposal kerjasama kepada seluruh pihak. Kami bersilaturahim dengan Lembaga Amil Zakat Infak dan Shadaqah PT PLN (Persero) Kantor Pusat. Juga kepada teman-teman di kantor pajak. Khusus dari teman-teman di kantor pajak Alhamdulillah terkumpul dana yang cukup besar senilai Rp2.606.000,00 serta pakaian, buku, dan mainan layak pakai yang banyak sekali.

Subhanallah, dengan dana itu maka dibelikanlah sembako dan terkumpul sebanyak 252 kantung yang siap untuk dibagikan. Satu kantung sembako senilai Rp42.000,00.

Lima puluh dua kantung diberikan secara gratis kepada yang benar-benar tidak mampu (fakir). Sedangkan sisanya sebanyak 200 kantung diberikan kepada masyarakat lainnya dengan membayar sejumlah uang sebesar Rp20.000,00. Insya Allah ini cukup murah sekali. Satu kantung sembako terdiri dari:

  1. Beras 4 liter;
  2. Gula pasir 1 kilogram;
  3. MInyak goreng merek hemart 1 liter;
  4. Supermi sebanyak 5 bungkus.

Selain pembagian paket sembako gratis dan paket sembako murah, kami juga menjual sembako dengan harga murah bagi mereka yang tidak mendapat kupon paket sembako gratis dan murah tersebut. Yang kami sediakan buat sembako eceran ini adalah sebagai berikut:

  1. Minyak goreng kemasan merek hemart sebanyak 72 liter. Dijual setiap liternya sebesar Rp11.000,00;
  2. Gula pasir sebanyak 98 kilogram. Dijual Rp5000,00/kilogram;
  3. Beras sebanyak 62 liter seharga Rp4500/liter kami jual dengan harga Rp7000/2 liter.

Kami melakukan pembagian sembako tersebut setelah acara utama dimulai yang diawali dengan bersama-sama membaca basmallah. Setelah itu Taujih Rabbani, yaitu pembacaan kalam ilahi oleh brother Bahrul Ulum yang membacakan surat Al-Anfal yang teramat menggetarkan hati dan sanggup meluluhkan benteng pertahanan air mata saya. Subhanallah…

Setelah itu sambutan dari Kang Tubagus Sunmandjaya Rukmandis dan Kepala Desa Pabuaran Masduki yang sebelum menjadi kepala desa akrab dipanggil dengan Doklay. Mereka berdua berkesempatan untuk hadir pada acara tersebut. Dan acara utama tersebut ditutup dengan doa oleh Ustadz Idris Ibrahim, Wakil Kepala SDIT Depok.

Barulah setelah itu, diiringi dengan nasyid Syoutul Harokah yang sangat menggelora acara pembagian sembako dan penjualan pakaian layak pakai dimulai. Masyarakat diatur dengan tertib untuk mengambil paket sembakonya. Dan yang saya rasakan bahwa untuk kali ini pembagiannya berlangsung tertib sekali berbeda dengan kegiatan yang sama di waktu lalu.

Yang heboh adalah di stan penjualan pakaian layak pakai. Ibu-ibu saling berebutan untuk mengambil baju-baju yang masih bagus tersebut. Tidak hanya baju yang dijual di sana, ada juga mainan yang kami bungkus rapi dengan plastik dan kami jual seribu rupiah per bijinya. Ada juga tas, sepatu, sandal, kerudung, selimut, dan majalah atau buku anak-anak.

Harga baju dan lainnya itu kami patok dengan harga yang bervariasi. Apabila tampilannya masih baru dan bagus kami jual seharga Rp5000,00 per potongnya. Ada juga yang kami jual goceng tiga, seribu satu atau bahkan gratis sama sekali. Terutama baju-baju anak kecil.

Nah, untuk yang gratis ini, Subhanallah, antusiasme Ibu-ibu dan anak-anak sungguh luar biasa. Mereka saling berebut satu sama lain untuk mendapatkan pakaian yang masih layak dipakai itu. Ibu Wati (30) yang ditanya tentang acara ini saat mengambil baju itu mengatakan dengan logat betawinya yang kental, “Bagus, yang belum punya baju jadinya punya baju deh.”

Tapi ada satu hal yang patut dikagumi dari mereka. Walaupun diberikan secara gratis tidak terlihat upaya dari mereka untuk menguasai atau mengambil semuanya. Mereka cukup mengambil apa yang mereka perlukan dan layak untuk mereka. Ini patut diapresiasi karena setidaknya masih ada izzah atau muru’ah dalam diri mereka.

Tidak hanya itu, keramaian juga berlangsung di stan pemeriksaan mata gratis dan pengobatan thibbun nabawi (bekam) yang diselenggarakan di ruang terpisah buat pasien laki-laki dan perempuan. Target pasien dipatok sebanyak 60 pasien yang ditangani oleh 8 terapis.

Lalu matahari pun beranjak menyengat di atas ubun-ubun kami. Sebentar lagi adzan dhuhur berkumandang. Selesailah sudah acara baksos ini yang ditandai dengan mulai menyepinya masyarakat di tempat itu. Kami mulai beres-beres. Sembako habis terjual. Pakaian layak pakai masih ada beberapa karung. Insya Allah akan kami bagikan nanti pada kegiatan baksoks di bulan ramdhan yang tinggal dua bulan lagi. Tentunya di tempat lain, di desa Pabuaran juga, yang kantung-kantung kemiskinannya masih banyak terpusatkan di beberapa RW.

Kepala Desa Pabuaran sempat dalam sambutannya mengatakan bahwa masyarakat akan tahu mana loyang dan mana emas. Mana yang bekerja untuk masyarakat atau mana yang memerasnya. Dalam hati kami cuma bisa berkata segala pujian itu hanyalah milik Allah. Dan kami beristighfar atas segala kelalaian kami. Cukuplah sumringah dari masyarakat menjadi penawar kelelahan kami.

Ibu Yetti (33) penerima paket sembako murah saat diminta tanggapannya tentang acara ini bilang, ” yang sering-sering saja, kalau bisa gratis.” Bahkan Ibu Euis (30) berkomentar lain dan diluar dari kesanggupan kami. Ia menginginkan bahwa acaranya tidak hanya sembako gratis tapi yang benar-benar menyentuh masyarakat banyak yaitu dengan penggratisan biaya pendidikan. Karena beasiswa yang juga sempat kami berikan di tempat lain hanya menyentuh orang-orang tertentu saja. Waow…kami cukup sadar tidak mudah untuk merealisasikannya. Yang tepat memang tugas ini dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bogor. Yah kita berharap semoga bupati yang terpilih nanti mampu memenuhi harapan masyarakat kecil seperti Ibu Euis ini.

Pada akhirnya Insya Allah acara baksos ini berjalan sukses dan istirahat kami adalah kembali merencanakan kegiatan baksos tahap kedua nanti di bulan Ramadhan 1429 H. Saya mewakili teman-teman mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donator yang telah sudi berbagi kepada sesama. Semoga Allah melimpahkan kebaikan yang berlipat ganda kepada antum semua. Infak Anda adalah amanah berat kami. Semoga keberkahan melingkupi kita semua.

Jazaakallah khoiron katsiira.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

Laporan pemasukan dana khusus dari kawan-kawan Pajak dengan nilai total Rp2.606.000,00. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Azmi             Rp100.000,00
  2. Lavly Day        Rp101.000,00
  3. Anisah             Rp350.000,00
  4. xxx2102        Rp500.000,00
  5. Syafiq            Rp150.000,00
  6. Faisal Riyadi        Rp250.000,00
  7. Intan Berlian        Rp100.000,00
  8. Cut Mala         Rp55.000,00
  9. Mushola Al-iKhlas     Rp1.000.000,00

    KPP Pratama Senen

Untuk baju, mainan, tas, sepatu, sandal, buku dan majalah layak pakainya dari:

  1. Ibu Mona JN;
  2. Ibu Ardiana;
  3. Ibu Lavly day;
  4. Azmi;
  5. Rekan-rekan karyawan pajak di KPP Pratama Senen.

Permintaan maaf tak terkira yang sedalam-dalamnya bagi kawan-kawan yang tak sempat saya kunjungi untuk mengambil baju layak pakianya, dikarenakan waktu sempit yang saya miliki dan serba keterbatasan saya dalam mengelola waktu. Insya Allah niat Anda semua sudah dicatat oleh Allah dan peluang amal tetap terbuka karena baksos tahap kedua akan dimulai lagi di ramadhan nanti.

J

WASIAT TERAKHIR


WASIAT TERAKHIR

Salah satu wasiat yang disampaikan oleh almarhumah Ibu saya sehari menjelang kematiannya adalah menyuruh kami untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di warung-warung yang terlihat sepi. “Sekalian shodaqoh,” katanya. Wasiatnya itu baru saya ketahui tadi malam dari bapak saya setelah satu setengah tahun ibu meninggalkan kami.

Pembicaraan tentang ini bermula dari keprihatinan saya melihat bapak-bapak tua penjual kerak telor yang sepertinya barang dagangannya tidak laku-laku. Sang penjual duduk termenung dengan pandangan kosong menanti pembeli yang tak kunjung tiba.

“Belilah,” kata bapak saya. “Sekalian shodaqoh,” lanjutnya. Barulah saya mendengar bahwa apa yang dikatakan oleh bapak saya itu adalah salah satu dari sekian wasiat yang Ibu sampaikan kepadanya. “Membeli barang dagangannya adalah bertujuan untuk menyenangkan dirinya dan membuatnya gembira,” katanya lagi.

Saya tertegun mendengar wasiat itu. Bagi saya ia adalah bukan hanya sekadar wasilah untuk bisa bershodaqoh tapi pun ia adalah sebuah wasilah untuk membuka hati. Dengan terbukanya hati maka ini adalah langkah awal untuk mengajak orang menuju kebaikan-kebaikan. Bukankah yang terlebih dahulu harus tersentuh dari sebuah kerja besar yang bernama dakwah adalah hati seorang manusia?

Ah, saya menjadi teringat bahwa Rasulullah saw. pernah berkata, “sebaik-baik amal perbuatan adalah membuat muslim lainnya merasa gembira, atau meringankan kesulitannya, atau membayarkan hutangnya, atau memberinya makan.”

Ikhwatifillah, para penjual barang dagangan yang sedari pagi belum pernah didatangi oleh para pembeli tentulah merasa senang dengan kedatangan Anda yang memang berniat membeli barang dagangannya. Ia senang, ia bahagia, ia menjadi lebih optimis bahwa rezeki itu sudah ada yang mengaturnya, lalu Anda pun berpahala.

Ikhwatifillah ketika ia senang, ia gembira dan ia tersentuh dengan nilai-nilai dakwah maka suatu saat ia akan mampu memberikan segala yang dimilikinya untuk agamanya Allah. Bahkan dirinya sendiri. Allohukariim.

Percayalah ikhwatifillah, gembirakanlah manusia, senangkanlah hatinya maka ia akan senantiasa mendengar apa yang Anda ucapkan. Semuanya. Apakah selalu dengan membeli barang dagangannya? Aih, tentu tidak.

Senyum terindah Anda,

salam lembut Anda,

jabat erat tangan Anda,

pandangan kasih sayang Anda,

panggilan yang terbaik buat namanya,

pertanyaan Anda tentang kesehatan dan kondisi keluarganya,

ucapan selamat Anda karena kesuksesannya,

SMS Anda di sepertiga malam terakhir untuk membangunkannya,

dan masih banyak lagi yang lainnya, semua itu adalah sarana untuk membuka pintu hati yang dulu terkunci rapat, tergembok besar, terantai kuat, yang pelan-pelan akan mencair bak salju terakhir di musim semi. Itu karena anda telah menyentuh sisi terdalam dari kemanusiannya yaitu hati.

Maka benarlah wasiat itu. Semoga Allah merahmati engkau Ibuku.

 

***

Catatan kecil: Bila Anda memang berniat untuk melakukannya maka lakukanlah sekarang juga. Jangan Anda tunda menyentuh hatinya di lain waktu. Karena setan memang selalu berdaya upaya agar Anda tidak melakukannya.

 

 

 

Riza Almanfaluthi

23:55 01 Juli 2008

beradu waktu

 

 

 

 

KHUMAIRA ATAU RIANTI?


KHUMAIRA ATAU RIANTI?

Sabtu sore, saya berteriak keras dalam ruangan periksa ketika dokter kandungan yang memeriksa istri saya menegaskan bahwa janin berumur 8,5 bulan itu berkelamin perempuan.

“Alhamdulillah!!!” teriakku. Dokter dan dua perawat yang berada dalam ruangan tersebut tertawa. “Memang sebelumnya apa?” tanya dokter tersebut.

“Dua-duanya laki-laki, Dok,” jawabku. Pada pemeriksaan via USG yang keempat kalinya inilah saya baru bisa mendapatkan kabar gembira itu.

Allah Mahabesar. Allah telah mengabulkan doa yang senantiasa saya panjatkan dalam setiap kesempatan. Dan kini saya sedang menanti doa-doa lainnya yang sedang antri untuk dikabulkan Allah. Antara lain semoga proses persalinan istri saya di akhir Juli atau Agustus 2008 nanti berjalan lancar tanpa ada suatu masalah sedikit pun. Sehat bayinya, sempurna jasadnya, sempurna akalnya, dan sempurna ruhnya.

Hati saya amatlah bergetar mendengar kepastian itu. Setelah mendapatkan hasil rapor Haqi yang amatlah tidak mengecewakan di hari jum’at kini saya mendapatkan kabar gembira yang lain lagi. Subhanallah, banyak sekali nikmat yang Allah berikan kepada saya. Walaupun secara sadar saya masih banyak kekurangannya untuk dapat merealisasikan diri sebagai bagian dari golongan orang-orang yang bersyukur.

Bagi yang lain mungkin kehadiran anak perempuan adalah hal yang biasa. Tetapi bagi saya adalah sebuah pengalaman baru di tengah rekam jejak keluarga saya yang teramat dominan dengan persepsi dan fakta sebuah maskulinitas. Saudara kandung saya laki-laki semua. Saudara sepupu saya 95% laki-laki.

Maka adalah sebuah kebahagiaan yang teramat besar saat mengetahui berita ini di tengah kepasrahan dan dugaan saya bahwa memang sudah dari sononya gen laki-laki sangat kuat mengalir dalam darah saya. Namun Allah berkehendak lain. Allah memberikan saya bibit perempuan dalam janin yang dikandung istri saya. Tinggal kini saya berharap bahwa Allah menuntaskan 1% sisa dari tingkat kepercayaan hasil USG yang baru 99% itu pada saat hari H nanti dengan menunjukkan kepada saya bahwa benarlah yang dilahirkan itu adalah bayi perempuan.

Tapi di lain itu saya berpikir tentang sebuah amanah berat yang menghadang kelak. Merawatnya, membesarkannya, mendidiknya, menjaganya, menikahkannya, mendoakannya, menjadikannya sebuah sumber kesalihan, mampu berjuang untuk agamanya dan lain sebagainya. Saya berharap semoga saya mampu mengemban amanah itu.

Di tengah perenungan itu saya sempat tersenyum simpul memikirkan sebuah masa depan. Nanti kelak saya bisa mengucapkan kalimat ini di depan banyak orang: “Saya nikahkan anak saya, ……………… binti Riza Almanfaluthi dengan mas kawin, bla, bla, bla…”. Aih…

Ngomong-ngomong tentang nama yang hendak diberikan, kami sudah mulai memikirkannya namun belum ketemu juga. “Sambil jalan sajalah,” pikir saya.

“Khumaira atau Rianti,” gurau saya sambil melirik istri. Nama-nama itu adalah nama pelaku utama dan nama asli pemerannya dari sebuah sinetron yang ditayangkan oleh televisi swasta dan sedang heboh-hebohnya dibicarakan oleh banyak ibu rumah tangga.

Kan dia cantik, lembut, sabar, sholihah, mau jadi istri pertama, enggak iri sama madunya yang lebih muda, bahkan merelakan dirinya berkorban agar suaminya menyayangi istri keduanya itu. Sholihah betul si Khumaira itu,” goda saya.

“Ah itu cuma di sinetron,” jawabnya sambil cemberut.

“Lalu apa dong…? Sabrina Hanifa? Nama itu kan sudah dipakai oleh teman Ummi,” tanya saya.

“Ya nanti sajalah,” katanya lagi.

Pembicaraan tentang nama yang sudah mulai terbersit dalam hati-hati kami dihentikan sejenak sampai Hari H Nanti. Ya betul. Karena nama adalah doa. Tentu tak bisa sembarangan untuk memberikan dan mengambil nama dari orang-orang yang terkenal terkecuali ia mempunyai kepribadian yang agung antara idealita dan realita. Tentu menurut ukuran ad-Din al-Haq, Islam.

Semoga ini bukanlah pembicaraan yang mendahului takdir Allah. Tetap harapan utama kami adalah semoga benarlah adanya apa yang dikatakan dokter tersebut dan Allah memudahkan kami dalam persalinan nanti. Dan semoga Allah memberikan kegembiraan lain dan tidak memberikan ujian yang tidak sanggup kami untuk memikulnya.

Wahai Pemilik Langit dan Dunia berikanlah kesehatan pada istriku dan bayi yang dikandungnya. Jadikanlah ia permata bagi kami, segala yang menyenangkan bagi kami, segala nikmat yang mulanya tiada menjadi ada, mulanya awal hingga akhirnya, mulanya nihil menjadi tak terhingga.

Aku menunggunya Ya Allah…

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:10 01 Juni 2008

HARTINI NAMANYA


HARTINI NAMANYA

Suatu ketika di saat saya mengantarkan Haqi untuk melihat pameran kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, saya melihat seorang wanita yang sepertinya pernah saya kenal. Ia bersama dengan anaknya yang satu sekolah dengan anak saya. Saya pikir ia adalah teman saya dulu. Mau saya menegurnya tapi saya khawatir salah. “Masak sih orang Palimanan bisa juga nyasar ke Citayam ini,” pikir saya. Padahal saya juga bersekolah di sana. J Akhirnya dengan menyimpan penasaran saya segera melupakan ingatan pernah berjumpa dengannya. “Enggak mungkin dia…”tegas saya.

Beberapa bulan kemudian (kira-kira
setengah tahun lebih), hari Ahad kemarin (10/6) ketika mengikuti acara perpisahan kelas enam SDIT AlHikmah saya kembali menemui wanita itu. Waktu itu saya bersama dengan Ayyasy berniat untuk ke lantai atas menuju ruang acara diselenggarakan. Di saat saya mau masuk lift ia keluar dari lift tersebut. Akhirnya saya membatalkan untuk masuk dan ingin menuntaskan rasa kepenasaran saya yang dulu. Akhirnya saya sapa saja dia.

“Bu, maaf Bu, Ibu ikutan acara Alhikmah juga yah…? tanya saya.

“Iya betul,” jawabnya sambil terheran-heran memandang saya. Logat Cirebonnya kental sekali.

“Ibu dulu sekolah SMA-nya dimana?” saya langsung bertanya menuju sasaran. Saya pikir kalau salah enggak apa-apa. Selesai sudah urusan.

“Palimanan,” katanya. Oh sudah pasti ia adalah teman saya dulu. Cuma saya lupa juga namanya.

“Saya dari Palimanan juga Mbak,” sekarang saya sudah mengganti panggilannya.

“Kamu siapa sih…? tanyanya.

“Saya Riza dari Jatibarang Indramayu. Kalau Mbak siapa, seingat saya Mbak dari Majalengka kan? Tanya saya. Ia penduduk salah satu daerah di Majalengka yang bersekolah di Palimanan Cirebon.

“Saya Hartini. Oh kamu Riza yah…” barulah kemudian ia ingat saya. “Wah sekarang kamu gemuk yah kayak suami saya…” waduh pisikelly nih. J

Akhirnya terjadilah pembicaraan di tengah keramaian tersebut. Ternyata ia bekerja di Departemen Pertanian, sedangkan suaminya bekerja di salah satu bank swasta ternama. Suaminya adalah kakak kelas kami jauh di atas. Entah angkatan keberapa. Dan kini tinggalnya di Desa Ragajaya, sebelah desa di mana sekarang saya tinggal.

Di tahun 1991 saya ingat waktu itu dia ikut melihat-lihat pertandingan bola antarkelas yang diadakan sekolah kami, di sebuah lapangan dekat Pabrik Tebu Palimanan. Wajahnya mirip-mirip Inka Christy yang saat itu sedang tenar-tenarnya. Sekarang ia sudah memakai jilbab. Syukurlah. Tapi saya belum tahu apakah ia dan suaminya sudah tersentuh dengan dunia tarbiyah atau belum.

Tambah bersyukur pula bahwa setidaknya ia sevisi dengan saya mengenai pendidikan anak-anak dengan menyekolahkan anaknya di sekolah Islam tersebut. Ada harapan anaknya akan menjadi kader-kader dakwah yang tangguh. Yang akan meringankan dan mempercepat laju gerak dakwah dalam memperoleh kemenangan kelak di tahun-tahun mendatang. Semoga.

Ternyata dunia itu sempit. Banyak juga orang Palimanan yang nyasar ke Citayam. Saya tidak sendirian. J

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:47 23 Juni 2008

SELAMAT BUAT IBU LELI LISTIANAWATI


 

Saya juga, Riza Almanfaluthi, dari hati yang paling dalam mengucapkan selamat milad pada hari ini

Selasa, 15 April 2008

buat:

Ibu LELI LISTIANAWATI, S.E., AK., M.B.T.

Kasi Pemeriksaan Wajib Pajak Sektor Sumber Daya Alam

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak

(mantan atasan kami di Seksi PK 3 di KPP PMA Tiga)

 

  1. Semoga Ibu selalu disayang Allah;
  2. Selalu disehatkan-Nya;
  3. Selalu dikabulkan doanya;
  4. Diberikan keberkahan hidup di dunia;
  5. Dan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang sholih, para nabi dan rasul di jannah-Nya Allah.

    Tetap semangat dalam menempuhi kehidupan.

     

 

 

Dari alfakir:

Riza Almanfaluthi & Keluarga

Bos Erwan

Bos Wahyu Diana

Mbak Indah

Bos Ibnu Sakir

Kang Awe

Al Ustadz Tjandra Risnandar

Bos Pinem

Bos Gomgom


 

SELAMAT BUAT BAPAK HIDAYAT NURWAHID


 

Saya, Riza Almanfaluthi, dan keluarga mengucapkan selamat kepada:

Bapak Almukarrom Dr. KH Hidayat Nurwahid Hafidzahullah

(Ketua MPR Republik Indonesia)

yang telah melamar

dr. Diana Abbas Thalib

pada hari Senin 14 April 2008.

Semoga Allah memudahkan Bapak dan Ibu berdua menuju Akad Nikahnya.

Semua ini karena tuntutan dakwah sahaja.

 

 

Dari alfakir:

Riza Almanfaluthi & Keluarga


 

JANGAN ASAL COPY PASTE: TULISAN SAYA DIBAJAK


JANGAN ASAL COPY PASTE(TULISAN SAYA DIBAJAK)***            

 Suatu saat saya menulis tentang artikel perpajakan yang saya unggah di blog saya. Judul tulisan itu adalah:

PROSEDUR (TATA CARA) PENGHAPUSAN NPWP DAN ATAU PENCABUTAN PENGUKUHAN PKP  

bisa pembaca lihat di alamat ini. Saya unggah pada hari Senin tanggal 14 Januari 2008.           

Suatu hari pula saya sedang melakukan pencarian di Google. Dan saya menemukan sebuah situs yang ternyata memuat tulisan saya itu. Bisa dilihat di situs ini: http://satyawikan.com/marimar-blog/ Tulisan dimuat di situs itu pada tanggal 8 Maret 2008.           

Saya terus terang saja tidak masalah tulisan saya dimuat di blog atau di sebuah situs manapun yang tidak komersil tanpa izin dari saya, asalkan mencantumkan sumber pengambilan tulisan tersebut.

Ini adalah sesuai dari misi yang dibuat oleh pengusung kampanye Jangan Asal Copy Paste (JACP) di situs JACP ini.  Mungkin perlu saya sebutkan lagi tujuan adanya kampanye JACP ini—yang saya ambil dari situs tersebut:

Jangan Asal Copy Paste/ JACP adalah sebuah ajakan moral untuk menghargai hasil karya para blogger, karena apapun isinya, apapun wujudnya, blog adalah juga sebuah hasil karya cipta. Kampanye ini terinspirasi dari beberapa kasus penjiplakan dan pembajakan materi blog yang juga pernah saya alami sendiri beberapa waktu silam.           

Kembali kepada masalah tulisan saya tersebut. Mengapa saya sebut tulisan saya dibajak oleh situs itu?

  1.  Karena di situs itu tulisan itu tidak mencantumkan sumber pengambilan artikelnya darimana. Kalau saya melakukan itu, saya sungguh malu-malu sekali. Makanya dalam tulisan saya,  saya selalu mencantumkan referensi yang saya miliki sebagai bahan pengambilannya. Entah dalam bentuk catatan kaki atau dalam bentuk daftar pustaka. Ini saya lakukan agar saya tidak disebut sebagai plagiator. Yang menurut saya adalah julukan terburuk. Ini menandakan bahwa dalam tulisan tersebut tidak murni alur pemikiran saya. 
  2. Alasan kedua mengapa tulisan yang ada di situs tersebut adalah tulisan bajakan dari tulisan saya adalah karena ia cuma membubuhkan satu paragraf hasil pemikiran dia lalu mengutak-atik dua paragraf setelahnya, dengan sedikit perubahan, dan seluruh paragraf setelahnya adalah murni dari tulisan saya. 
  3. Yang menguatkan lagi,  ada dua  kata dalam sebuah paragraf saya yang diganti olehnya. Misalnya seperti ini: Ini adalah tulisan saya yang asli:

    Karena berdasarkan pengalaman yang ada ternyata proses pencabutan NPWP itu memerlukan waktu yang bertahun-tahun lamanya. Tapi Insya Allah dengan adanya undang-undang baru Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (untuk selanjutnya disebut UU KUP) maka batas waktu penyelesaiannya sudah dapat diketahui dengan pasti yaitu cuma 12 bulan untuk Wajib Pajak (WP) Badan.

    Diganti oleh dengan:

    Karena berdasarkan pengalaman yang ada ternyata proses pencabutan NPWP itu memerlukan waktu yang bertahun-tahun lamanya. Tapi Puji Tuhan dengan adanya undang-undang baru Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (untuk selanjutnya disebut UU KUP) maka batas waktu penyelesaiannya sudah dapat diketahui dengan pasti yaitu cuma 12 bulan untuk Wajib Pajak (WP) Badan.           

    Kata-kata Insya Allah dengan Puji Tuhan itu beda. Insya Allah itu berarti sebuah penegasan adanya sebuah ketidakmutlakan. Sedangkan puji tuhan itu adalah kesyukuran atas sebuah karunia. Dalam Islam sebuah kepastian diungkapkan tidak dengan sebuah “saya yakin” atau “saya pasti”, tapi sebagai sebuah kerendahan diri kepada Pencipta, bahwa kita adalah makhluk yang lemah, dan hanya Allah-lah yang punya kuasa mengatur atas segala sesuatu yang bisa jadi menurut kita terjadi ternyata Allah berkehendak lain, maka digunakanlah kata-kata Insya Allah. Demikian. 

  4. Di situs itu tidak ada fasilitas atau ruang untuk berkomentar. Entah kenapa maksudnya. Semoga bukan karena takut untuk digugat. Ini pun tidak sesuai dengan tagline dari situs itu yaitu sebagai “wadah untuk sharing”. ‘

Ya, cukup itu saja dari saya. Semoga ibu Marimar, atau pengisi situs tersebut bisa membaca tulisan saya ini, memahami lalu menyadarinya, dan semoga Allah memberikan hidayah padanya.

Ohya sekadar catatan dari saya, saya telah menyimpan rekam jejak dari tautan tulisan itu, agar saya nanti bisa menunjukkan bukti di saat memang diperlukan untuk membuktikannya. Supaya saya tidak dianggap menuduh sembarangan. Semoga Allah mengampuni saya. 

Hadiah buat Anda: silakan ambil semua tulisan dari saya dan cantumkan pembuat tulisan itu atau cantumkan sumber pengambilannya. Terimakasih. Semoga bermanfaat.  

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:35 02 April 2008    

BASSE, BAHIR, LAPAR


 

BASSE, BAHIR, LAPAR

                Pagi itu masih dingin. Taujih yang disampaikannya membuat semua yang ada di ruangan tertegun. Di selanya ada isak tangis dan air mata yang mengalir. Sebuah keharuan menyeruak dan mengeliminasi segala keegoan dan menyublim menjadi sebuah perenungan tentang kepedulian.

                Ia bercerita, “Sore kemarin saya membeli ayam bakar karena tidak ada lauk yang dimasak sendiri pada hari itu. Dengan sepiring nasi yang banyak dan potongan dari ayam bakar yang paling saya sukai, saya memulai acara peningkatan gizi itu dengan menonton televisi dan mencari acara yang bagus.”

                “Tapi saat itulah saya terpaku pada sebuah pemberitaan dari Makassar. Pemberitaan yang sungguh ironi dan membuat saya tidak enak hati untuk menghabiskan makanan itu. Betapa tidak, ketika saya makan, pemberitaan adanya ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan anaknya yang balita tewas dan satu anaknya yang lain masih kritis di rumah sakit karena kelaparan, membuat saya tersentak,” lanjutnya lagi.

                “Allahu Rabbi.  Saya melihat sendiri dari tayangan betapa sosok ibu itu terbujur kaku. Mereka sudah tidak makan selama tiga hari. Dan kata tetangganya lagi keluarga itu memang jarang makan teratur. Suami ibu itu pun cuma tukang becak.”

                 Semua yang mendengar perkataannya terdiam dan menundukkan kepala. “Saya menjadi marah, sedih, bercampur aduk. Ada apa dengan negeri kita yang tercinta ini yang banyak dikatakan orang luar negeri sebagai negeri yang kaya dan makmur karena sumber daya alamnya. Apalagi keluarga itu mati di daerah yang disebut sebagai lumbung pangan. Allohuakbar. Lalu ke mana para tetangganya? Lalu ke mana para aghniyanya?  Lalu ke mana saudara-saudara muslimnya? Lalu ke mana para aparat pemerintahnya? Lalu ke mana para wakil rakyatnya? Lalu ke mana para pemimpinnya? Tidakkah mereka semua akan dimintakan pertanggungjawabannya?” tanyanya sambil mengusap air mata yang deras mengucur.

                Mendengar dan melihat kegelisahannya tentang sebuah pertanggungjawaban, saya yang hadir dalam pertemuan pekanan itu menjadi teringat kembali sebuah perkataan yang diungkapkan oleh calon kandidat Gubernur Jawa Barat yang saat itu sedang bersilaturahmi di daerah kami. “Sungguh jabatan dalam pengertian kami adalah sebuah amanah yang nanti akan dimintakan tanggung jawabnya oleh Allah swt. Saya tidak memintanya dan sungguh banyak teman-teman saya yang tidak mau untuk dipilih menjadi calon karena besarnya amanah itu.”

“Hanya karena syuralah sehingga saya ditunjuk maju untuk memenangi dakwah ini. Sungguh, bapak-bapak, Ibu-ibu, nanti saya akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah di padang mahsyar nanti bila rakyat yang saya pimpin tidak bisa makan, rakyatnya tidak bisa sekolah dengan baik, tidak bisa diberikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan. Bahkan jikalau ada kerbau yang kakinya keseleo karena jatuh di jalan yang rusak  berlubang, saya pun akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah.”

Saya merenung tentang peran kita sebagai manusia. Kita adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan bertanggung jawab dalam keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pegawai adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya.  

Saya mendengar kembali apa yang ditaujihkannya di pagi itu yang isaknya sudah mulai reda, “Saudara-saudaraku semua, saya mengajak pada diri saya sendiri dan Antum semua untuk memasang telinga, membuka mata, dan hati kita agar bisa merekam peringatan dini yang disampaikan oleh kerabat dan tetangga terdekat kita di lingkungan masing-masing agar tidak sampai terjadi hal yang demikian. Bahkan kita perlu memberikan perhatian yang lebih terhadap mereka-mereka yang karena izzah atau kemuliaan dirinya tidak mau untuk tangannya berada di bawah. Merekalah yang seharusnya patut kita nafkahi.”

“Semoga ini bermanfaat bagi Antum semua dan menyeruak kesadaran kita agar senantiasa peduli. Dan saya tidak akan membiarkan ini terjadi pada kita, maka jikalau Antum punya kesulitan dalam masalah penghidupan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya,” katanya mengakhiri.

                Ah, sungguh dengan keimanan yang kokoh dan akarnya menghunjam ke bumi akan berdiri sebuah bangunan kebaikan di atasnya. Bangunan penyebaran kemanfaatan kepada sesama. Maka agar bangunan itu senantiasa indah dipandang mata memperbaharui keimanan itu adalah sebuah keharusan. Karena iman di dada pada keturunan anak Adam adalah keimanan yang naik dan turun. Dan sensitivitas pada kebaikan, peka pada permasalahan sosial adalah berpangkal pada keimanan yang kokoh itu. Tidak akan mungkin bagi mereka yang tak mempunyai keimanan akan merasakan sebuah sensitivitas yang membuatnya menangis saat melihat fenomena sosial yang melanda negeri ini dan tidak tergerak untuk beraksi nyata.

                Kawan, senantiasalah waspadalah pada kehidupan kita akan sebuah kepastian bernama kematian. Siap atau tidak itu akan membawa kita pada suatu kenyataan amal apa yang telah kita persiapkan untuk menjadi teman kita di alam kubur sambil menanti kiamat yang entah kapan akan datangnya. Seorang yang berwajah rupawan dan itu adalah amal kebaikan kita di saat masih hidup atau sebaliknya? Maka meneguhkan keimanan kita adalah sebuah keharusan. Tak perlu bermuluk-muluk dengan amal yang besar. Sekadar memberi petunjuk kepada kebaikan maka pahala yang diraih sama saja dengan orang yang melakukan kebaikan itu, percayalah. Dan cukuplah sudah dikatakan bukan muslimin di kala kita tidak memperhatikan urusan kaum muslimin lainnya.

Maka tidaklah mungkin seorang beriman yang teguh ia akan tidak peduli kepada saudaranya yang lain. Tidaklah mungkin terjadi peritiwa di atas jikalau pemimpin yang ada di sana atau di sini begitu sadar dan paham tentang beratnya sebuah amanah. Aih…

Kawan, semoga kekayaan kita tidak akan sampai melupakan tetangga-tetangga kita yang kelaparan. Semoga butiran nasi ditambah lauk terlezat yang kita telan tidaklah sampai membutakan mata hati kita pada erangan saudara-saudara kita yang sakit dan tak punya uang untuk berobat ke dokter atau dirawat di rumah sakit. Semoga apa yang kita miliki membuat keberkahan bagi kita sendiri dan apatah lagi buat sekitarnya. Semoga menjadi pembelajaran.

 

Untuk Ibu Basse, Adik Bahir, dan Calon Adik, semoga Allah melapangkan Anda semua.

 

https://dirantingcemara.wordpress.com

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

16:13 03 Maret 2008