WASIAT TERAKHIR


WASIAT TERAKHIR

Salah satu wasiat yang disampaikan oleh almarhumah Ibu saya sehari menjelang kematiannya adalah menyuruh kami untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di warung-warung yang terlihat sepi. “Sekalian shodaqoh,” katanya. Wasiatnya itu baru saya ketahui tadi malam dari bapak saya setelah satu setengah tahun ibu meninggalkan kami.

Pembicaraan tentang ini bermula dari keprihatinan saya melihat bapak-bapak tua penjual kerak telor yang sepertinya barang dagangannya tidak laku-laku. Sang penjual duduk termenung dengan pandangan kosong menanti pembeli yang tak kunjung tiba.

“Belilah,” kata bapak saya. “Sekalian shodaqoh,” lanjutnya. Barulah saya mendengar bahwa apa yang dikatakan oleh bapak saya itu adalah salah satu dari sekian wasiat yang Ibu sampaikan kepadanya. “Membeli barang dagangannya adalah bertujuan untuk menyenangkan dirinya dan membuatnya gembira,” katanya lagi.

Saya tertegun mendengar wasiat itu. Bagi saya ia adalah bukan hanya sekadar wasilah untuk bisa bershodaqoh tapi pun ia adalah sebuah wasilah untuk membuka hati. Dengan terbukanya hati maka ini adalah langkah awal untuk mengajak orang menuju kebaikan-kebaikan. Bukankah yang terlebih dahulu harus tersentuh dari sebuah kerja besar yang bernama dakwah adalah hati seorang manusia?

Ah, saya menjadi teringat bahwa Rasulullah saw. pernah berkata, “sebaik-baik amal perbuatan adalah membuat muslim lainnya merasa gembira, atau meringankan kesulitannya, atau membayarkan hutangnya, atau memberinya makan.”

Ikhwatifillah, para penjual barang dagangan yang sedari pagi belum pernah didatangi oleh para pembeli tentulah merasa senang dengan kedatangan Anda yang memang berniat membeli barang dagangannya. Ia senang, ia bahagia, ia menjadi lebih optimis bahwa rezeki itu sudah ada yang mengaturnya, lalu Anda pun berpahala.

Ikhwatifillah ketika ia senang, ia gembira dan ia tersentuh dengan nilai-nilai dakwah maka suatu saat ia akan mampu memberikan segala yang dimilikinya untuk agamanya Allah. Bahkan dirinya sendiri. Allohukariim.

Percayalah ikhwatifillah, gembirakanlah manusia, senangkanlah hatinya maka ia akan senantiasa mendengar apa yang Anda ucapkan. Semuanya. Apakah selalu dengan membeli barang dagangannya? Aih, tentu tidak.

Senyum terindah Anda,

salam lembut Anda,

jabat erat tangan Anda,

pandangan kasih sayang Anda,

panggilan yang terbaik buat namanya,

pertanyaan Anda tentang kesehatan dan kondisi keluarganya,

ucapan selamat Anda karena kesuksesannya,

SMS Anda di sepertiga malam terakhir untuk membangunkannya,

dan masih banyak lagi yang lainnya, semua itu adalah sarana untuk membuka pintu hati yang dulu terkunci rapat, tergembok besar, terantai kuat, yang pelan-pelan akan mencair bak salju terakhir di musim semi. Itu karena anda telah menyentuh sisi terdalam dari kemanusiannya yaitu hati.

Maka benarlah wasiat itu. Semoga Allah merahmati engkau Ibuku.

 

***

Catatan kecil: Bila Anda memang berniat untuk melakukannya maka lakukanlah sekarang juga. Jangan Anda tunda menyentuh hatinya di lain waktu. Karena setan memang selalu berdaya upaya agar Anda tidak melakukannya.

 

 

 

Riza Almanfaluthi

23:55 01 Juli 2008

beradu waktu

 

 

 

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s