KHUMAIRA ATAU RIANTI?


KHUMAIRA ATAU RIANTI?

Sabtu sore, saya berteriak keras dalam ruangan periksa ketika dokter kandungan yang memeriksa istri saya menegaskan bahwa janin berumur 8,5 bulan itu berkelamin perempuan.

“Alhamdulillah!!!” teriakku. Dokter dan dua perawat yang berada dalam ruangan tersebut tertawa. “Memang sebelumnya apa?” tanya dokter tersebut.

“Dua-duanya laki-laki, Dok,” jawabku. Pada pemeriksaan via USG yang keempat kalinya inilah saya baru bisa mendapatkan kabar gembira itu.

Allah Mahabesar. Allah telah mengabulkan doa yang senantiasa saya panjatkan dalam setiap kesempatan. Dan kini saya sedang menanti doa-doa lainnya yang sedang antri untuk dikabulkan Allah. Antara lain semoga proses persalinan istri saya di akhir Juli atau Agustus 2008 nanti berjalan lancar tanpa ada suatu masalah sedikit pun. Sehat bayinya, sempurna jasadnya, sempurna akalnya, dan sempurna ruhnya.

Hati saya amatlah bergetar mendengar kepastian itu. Setelah mendapatkan hasil rapor Haqi yang amatlah tidak mengecewakan di hari jum’at kini saya mendapatkan kabar gembira yang lain lagi. Subhanallah, banyak sekali nikmat yang Allah berikan kepada saya. Walaupun secara sadar saya masih banyak kekurangannya untuk dapat merealisasikan diri sebagai bagian dari golongan orang-orang yang bersyukur.

Bagi yang lain mungkin kehadiran anak perempuan adalah hal yang biasa. Tetapi bagi saya adalah sebuah pengalaman baru di tengah rekam jejak keluarga saya yang teramat dominan dengan persepsi dan fakta sebuah maskulinitas. Saudara kandung saya laki-laki semua. Saudara sepupu saya 95% laki-laki.

Maka adalah sebuah kebahagiaan yang teramat besar saat mengetahui berita ini di tengah kepasrahan dan dugaan saya bahwa memang sudah dari sononya gen laki-laki sangat kuat mengalir dalam darah saya. Namun Allah berkehendak lain. Allah memberikan saya bibit perempuan dalam janin yang dikandung istri saya. Tinggal kini saya berharap bahwa Allah menuntaskan 1% sisa dari tingkat kepercayaan hasil USG yang baru 99% itu pada saat hari H nanti dengan menunjukkan kepada saya bahwa benarlah yang dilahirkan itu adalah bayi perempuan.

Tapi di lain itu saya berpikir tentang sebuah amanah berat yang menghadang kelak. Merawatnya, membesarkannya, mendidiknya, menjaganya, menikahkannya, mendoakannya, menjadikannya sebuah sumber kesalihan, mampu berjuang untuk agamanya dan lain sebagainya. Saya berharap semoga saya mampu mengemban amanah itu.

Di tengah perenungan itu saya sempat tersenyum simpul memikirkan sebuah masa depan. Nanti kelak saya bisa mengucapkan kalimat ini di depan banyak orang: “Saya nikahkan anak saya, ……………… binti Riza Almanfaluthi dengan mas kawin, bla, bla, bla…”. Aih…

Ngomong-ngomong tentang nama yang hendak diberikan, kami sudah mulai memikirkannya namun belum ketemu juga. “Sambil jalan sajalah,” pikir saya.

“Khumaira atau Rianti,” gurau saya sambil melirik istri. Nama-nama itu adalah nama pelaku utama dan nama asli pemerannya dari sebuah sinetron yang ditayangkan oleh televisi swasta dan sedang heboh-hebohnya dibicarakan oleh banyak ibu rumah tangga.

Kan dia cantik, lembut, sabar, sholihah, mau jadi istri pertama, enggak iri sama madunya yang lebih muda, bahkan merelakan dirinya berkorban agar suaminya menyayangi istri keduanya itu. Sholihah betul si Khumaira itu,” goda saya.

“Ah itu cuma di sinetron,” jawabnya sambil cemberut.

“Lalu apa dong…? Sabrina Hanifa? Nama itu kan sudah dipakai oleh teman Ummi,” tanya saya.

“Ya nanti sajalah,” katanya lagi.

Pembicaraan tentang nama yang sudah mulai terbersit dalam hati-hati kami dihentikan sejenak sampai Hari H Nanti. Ya betul. Karena nama adalah doa. Tentu tak bisa sembarangan untuk memberikan dan mengambil nama dari orang-orang yang terkenal terkecuali ia mempunyai kepribadian yang agung antara idealita dan realita. Tentu menurut ukuran ad-Din al-Haq, Islam.

Semoga ini bukanlah pembicaraan yang mendahului takdir Allah. Tetap harapan utama kami adalah semoga benarlah adanya apa yang dikatakan dokter tersebut dan Allah memudahkan kami dalam persalinan nanti. Dan semoga Allah memberikan kegembiraan lain dan tidak memberikan ujian yang tidak sanggup kami untuk memikulnya.

Wahai Pemilik Langit dan Dunia berikanlah kesehatan pada istriku dan bayi yang dikandungnya. Jadikanlah ia permata bagi kami, segala yang menyenangkan bagi kami, segala nikmat yang mulanya tiada menjadi ada, mulanya awal hingga akhirnya, mulanya nihil menjadi tak terhingga.

Aku menunggunya Ya Allah…

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:10 01 Juni 2008

Advertisements

5 thoughts on “KHUMAIRA ATAU RIANTI?

  1. “Saya nikahkan anak saya, ……………… binti Riza Almanfaluthi dengan mas kawin, bla, bla, bla…”.

    Kalo’ yang menikahkan bapaknya sendiri kan gak pake BINTI… ^_^

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s