CUMA JARKONI….?


“Saya ini sudah diundang berceramah kemana-kemana. Kemarin ke Hongkong dan besok akan ke Hongkong lagi,” demikian diungkapkan oleh aktor sinetron Indonesia saat ditanya tentang kegiatannya di bulan Ramadhan. Ya, di bulan Suci itu ia telah berganti profesi dari sebuah profesi yang bergelimang dengan hedonisme kepada sebuah profesi yang tuntutannya berat di akhirat kelak.
Tayangan infotainment itu mengejutkan saya dan saya ucapkan dalam hati semoga ia berkesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Soalnya dulu saat ada konflik antara Bang Haji Rhoma Irama dengan Inul Daratista, ia pendukung berat dan berada di belakang Inul untuk tetap eksis dengan goyang ngebornya. Bahkan mengecam Bang Haji sebagai golongan orang-orang munafik dan sakit hati karena tidak kebagian order manggung.
Apalagi setelah ia membintangi sinetron laris tahun lalu berjudul Kiamat Sudah Dekat yang disutradarai oleh Dedi Mizwar membuat keyakinan saya tentang dirinya bertambah bahwa ia telah menemukan jalan yang benar. Plus setelah saya membaca berita ia diundang bersama Cici Tegal berceramah dihadapan ribuan buruh Indonesia di Hongkong.
Ini yang disorot oleh Infotainment tentang maraknya pertaubatan para artis di bulan ramadhan. Maraknya mereka menjadi ustadz yang diundang berceramah ke mana-mana. Ada satu pertanyaan yang dicoba untuk diajukan kepada pemirsa. Apakah ini cuma trend sesaat di bulan ramadhan atau telah menjadi bagian seutuhnya yang tidak bisa dipisahkan dari jiwa para artis tersebut.
Haji Amidhan—ketua MUI, mantan Dirjen Departemen Agama—adalah salah seorang narasumber yang diminta pandangannya terhadap fenomena ini. Satu saja poin yang beliau ungkapkan: ”Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ya, ustadz itu adalah tuntunan bukan tontonan. Saya setuju itu, sebagai sebuah nasehat bagi diri yang lemah ini, nasehat itu amat menohok bagi saya yang sering berperilaku sebagai seorang hipokrit tulen (sudah hipokrit, tulen lagi).
Tapi, teman-teman, harapan saya salah. Persis keeseokan harinya ternyata ada berita yang menayangkan sosok aktor kita ini lagi. Tidak berpakaian batik dan berpeci seperti yang saya lihat sebelumnya, kini ia berpakaian macho banget (bukan ini masalahnya) dan ada bagian yang membuat saya terhenyak. Ia berangkul-rangkulan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Wanita penyiar tivi berambut laki-laki itu dirangkulnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya saya lupa merangkul siapa. Katanya ia akan pergi ke Eropa bersama rombongan tersebut untuk jalan-jalan.
Harapan saya menemukan suatu perubahan pada diri aktor tersebut pupus sudah. Atau karena ia belum tahu dan sedang dalam proses menuju perbaikan? Entahlah. Setidaknya ketika ia diundang berceramah kemana-mana bekal ilmu hendaknya senantiasa ia perbanyak, dan ketika persiapan pemenuhan bekal itu dilakukan ia pastinya akan menemukan bab tentang muhrim dan bukan muhrim.
So, ternyata jadi ustadz itu berat, ia harus menyelaraskan ucapan dan perbuatannya. Satu yang pasti lagi ia harus senantiasa menjadi teladan bagi yang lain. Karena dengan keteladanan, objek dakwah akan dapat terbuka hatinya untuk bisa mencontoh semua perbuatan panutannya dan menerima nasehat-nasehat kebaikan. Jika tidak, yang ada cuma semburan panas celaan seperti munafik, omdo (omong doang), jarkoni (ngajar ora dilakoni). Mengutip perkataan Menteri Pertanian kita Anton Apriantono, “Kalau pemimpin tak bisa jadi uswah (teladan), jangan berharap anak buah mengikuti,” ujarnya.
Saudara-saudaraku kita hanya bisa berharap kepada Allah semoga Ia memudahkan upaya kita untuk senantiasa selaras antara perkataan dengan perbuatan. Semoga Allah menetapkan hidayah ini kepada kita, karena sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang Ia kehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Amin.

riza almanfaluthi
astaghfirullah…
dedaunan di ranting cemara
08:40 31 Oktober 2006

TIGA CARA MASUK SURGA


http://10.9.4.215/blog/dedaunan/25764

Sabtu kemarin saya diundang untuk ikut berbuka puasa bersama di salah satu rumah anggota pengajian pekanan istri saya. Saat jelang magrib saya didaulat untuk memberikan taushiyah di acara itu. Pendaulatan itu mau tidak mau harus saya terima. So, saya butuh referensi cepat untuk itu. Dengan membuka-buka mushaf syamil yang ada di tangan, mata saya terantuk pada dua ayat di Surat Ali Imran. Tepatnya di ayat 133 dan 134.
Kawan, inilah isi dari ayat tersebut:

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dari dua ayat tersebut saya ambil kesimpulan, kalau mau jadi orang bertakwa yang dijanjikan kepada mereka dua hadiah istimewa yakni ampunan Allah dan surga yang seluas langit dan bumi maka kita harus dapat mengerjakan tiga amalan ini:

1. berinfak di waktu lapang dan sempit;
2. menahan amarah;
3. memaafkan kesalahan orang.

Lalu apa susahnya? Ternyata memang berat, memang susah. Maka pantas saja bagi Allah untuk memberikan kepada yang mampu melakukannya imbalan terbesar itu. Ya, bagaimana tidak manusia sesungguhnya mempunyai tabiat kikir artinya manusia tidak mau melepaskan sebagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya. Ditambah lagi dengan setan yang menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan. Otomatis lintasan pikiran untuk berbagi tidak menjadi mainframe kehidupan manusia.
Tapi bagi mereka yang mengetahui bahwa segala harta bendanya itu hanya amanah yang dititipkan Allah kepada dirinya, dan mengetahui bahwa sebenar-benarnya harta yang dimiliki adalah harta yang ia infakkan maka tabiat kekikiran dan tipuan setan itu mudah dikikis. Karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah tipu daya yang lemah.
Lalu bagaimana jikalau kita-kita ini sebagai manusia dengan tabiat kikir yang sudah diredam sehingga selalu timbul semangat untuk berbagi di setiap kesempatan tapi masalahnya kita tidak punya kelapangan rezeki? Nah, inilah salah satu bentuk ujian bagi kita. Wajar sih kalau lagi kaya kita selalu berinfak, tapi sungguh luar biasa jikalau sebaliknya. Ia papa, tidak punya apa-apa tapi selalu bersemangat dalam berbagi.
Inilah yang perlu kita tiru. Di lapang ataupun sempitnya keadaan kita, semangat berbagi hendaknya senantiasa menjadi hiasan hidup kita. Apalagi kalau kita mendengar janji Allah yang akan melipatgandakan sepuluh kali lipat bahkan menggandakan 700 kali lipat buat orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. (Pantas saja saya belum merasakan ketiban rejeki nomplok ratusan juta rupiah, karena pancingan untuk mendatangkan rejeki itu cuma infak ribuan perak doang )
Kalau meniru bahasanya Ustadz Yusuf Mansyur: ”ente-ente mau kaya, sedekahlah”. Matematika kehidupan yang berlawanan 180 derajat dengan pakem teori ekonomi yang paling canggih di abad ini. Atau dengan bahasa lainnya: ente-ente mau sehat, sedekahlah atau ente-ente mau selamat dari malapetaka, sedekahlah. Sedekah mengatasi masalah tanpa masalah.
Satu nasehat baik untuk diri saya sendiri.
***

Menahan amarah. Ini juga suatu perbuatan yang rada-rada sulit dan berat. Apalagi kalau marah disaat kita mempunyai kekuasaan, punya power, kesempatan untuk membalas dan menyakiti orang lain. Maka pantas saja ada statement bahwa orang yang terbaik adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya disaat ia mampu membalas. Pantas pula Rasulullah SAW pernah berkata: ”janganlah kamu marah, maka bagimu surga”.
Saat marah yang tidak pada tempatnya itulah saat di mana setan menguasai hati dan akal kita. Sehingga wajar saja orang yang sedang marah ia tidak akan mampu memberikan penalaran yang baik terhadap kondisi sekitar. Marah bisa menjadi awal untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menyakiti secara lisan dan fisik hingga terjadi pembunuhan.
Di sana ada api yang membakar diri. Yang cuma bisa dipadamkan dengan cara-cara Rasulullah SAW contohkan: pindah tempat berganti posisi dan berwudhu. Gampang sih, cuma karena nalar kita sudah dibolak-balikkan maka perbuatan yang semudah itu saja susah sekali dilakukan. Tinggal kuat-kuatnya kita dan orang lain saja menyadarkan diri ini. Pantas bagi orang yang bisa menahan amarah ia mendapatkan surga dan ampunan Allah.
Satu nasehat baik untuk diri saya sendiri.
***

Wahai kawan, ternyata memaafkan kesalahan orang lain pun menjadi suatu perbuatan mulia yang memang berat dilakukan. Bagaimana tidak, ketika kita disakiti orang lain dengan perkataan ataupun perbuatan maka sebagai manusia normal kita ingin sekali membalasnya dengan perbuatan yang setimpal bahkan jika perlu dibalas dua sampai sepuluh kali lipat. Kita sampai tidak bisa tidur hanya untuk memikirkan balasan itu. Hati kita gelisah, dongkol dan mangkel. Marah pun berkecamuk.
Ketika ia berusaha untuk memaafkan orang lain maka ia berarti sudah memutus habis banyak perkara. Ia menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Ia telah menghilangkan penyakit pada hatinya. Ia menjadi orang yang benar-benar pemaaf dan berjiwa besar. Melapangkan dadanya dari kesalahan saudaranya. Ia membuat tidurnya lebih nikmat dirasakan tanpa gundah yang membuncah. Pantas saja bagi orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain mendapatkan ampunan Allah dan surgaNya.
Kawan pasti ingat tentang sebutan calon penghuni surga dari Rasulullah SAW terhadap salah seorang sahabatnya sehingga membuat penasaran sahabat yang lain. Di saat dicek amalan hariannya, amalan yang ia lakukan adalah amalan yang biasa dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang lain. Ternyata cuma satu yang beda: di setiap malamnya , sebelum tidur, ia memaafkan kesalahan saudara-saudaranya di hari itu. Subhanallah. Pantas saja bagi orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain mendapatkan ampunan Allah dan surgaNya.
Sungguh, satu nasehat baik untuk diri saya sendiri.
***

Ba’da maghrib itu saya mendapatkan dua santapan yang mengenyangkan. Santapan ruhani—nasehat untuk diri saya sendiri dan Insya Allah beguna pula untuk yang lain—dan santapan jasmani berupa nasi, mie goreng, plus ayam bakar. Tidak hanya itu silaturahim pun terjalin dengan erat menambah semarak ramadhan mubarak. Menambah keyakinan sebuah cita. Satu cita pasti bagi kami: berkumpul di jannahNya. Insya Allah.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:22 17 Oktober 2006

Anti Hukuman Mati


Sampai saat ini saya tidak mengerti jalan pikiran orang-orang yang menentang hukuman mati. Biasanya argumentasi yang biasa mereka kemukakan adalah kita sebagai manusia tidak punya hak untuk mencabut nyawa manusia. Ini adalah merampas hak yang paling hakiki milik Tuhan. Berkenaan dengan masalah si terkuhum mati itu telah menghilangkan nyawa orang lain dan melakukan pelanggaran berat sebelumnya ini masalah lain.
Argumen lainnya ialah hukuman mati ini tidak memberikan kesempatan kepada si terhukum untuk menginsyafi perbuatannya dan membuktikan pertaubatannya kepada masyarakat. Ada lagi argumen tentang siapa yang akan menanggung dosa dari si terhukum sebagaimana sebuah komentar yang mampir di blog saya terkait dengan eksekusi Tibo dkk. Begini komentarnya:

Posted by Anonymous[Not Login]
sapakah yg akan menangung dOsa krn mengambil nyawa tibO dkk???bukankah itu jUga bukan hak hukum yg katanya adil tapi kasat mata…hapUskan hUkUman Mati di IndOnesia!!!!itU bUkan keadIlan…itU hanya sekeDar..napsU pembalasan Dendam…

Menanggapi ini menurut saya tidak usah memakai dalil-dalil seabrek-abrek. Karena walaupun dikemukakan dalil segunung tetap saja tidak bisa dipahami jika hati ini tiada punya iman terhadap syariat Allah.
Tentang masalah hak Tuhan, kata siapa Tuhan tidak memberikan hak tersebut kepada kita. Syariat Islam sudah mengatur hal sedemikian rupa. Coba buka Al-Qur’an deh, niscaya kita banyak menemukan kisas ini. Sebagai clue, coba buka 2:178, 2:179, 5:45, 6:151, 17:33. (Maaf saya tidak menampilkan ayat-ayatnya karena seperti sudah saya kemukakan di atas, tidak perlu tampilan dalil di sini).
Yang kedua tentang bahwa manusia tidak berhak merampas nyawa manusia lainnya, lalu kenapa si terhukum tidak pernah memikirkan bahwa perbuatannya menghilangan nyawa (misalnya) manusia lainnya adalah perbuatan tercela dan tiada hak. Aneh jika kita menggunakan asas ketidakseimbangan dalam menimbang permasalahan ini.
Dan kata siapa pula itu bukan keadilan, bahkan hukuman itu adalah bentuk dari keadilan itu sendiri. Secara naluri kemanusiaan, maka keluarga yang ditinggalkan karena dibunuh itu merasa tidak pernah puas dan tidak rela melihat kematiannya. Dan ia akan menuntut balas. Jika ini tidak diselesaikan dengan syariat maka niscaya balas dendam tidak akan berkesudahan.
Ini bukan pula NAFSU tapi ini NALURI. Maka Islam datang dengan syariatnya itu untuk mendudukkan persoalan itu kembali pada tempatnya. Dengan hukuman mati inilah cara terefektif menghentikan dendam. Walaupun secara syariat pula Islam memberikan jalan keluar bahwa hukuman mati tidak akan dilaksanakan jika pihak keluarga memaafkan si pembunuh dan si pembunuh membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.
Tentang dosa Tibo, ya tentu dosa ditanggung sendiri. Dalam Islam Pahala dan dosa menjadi milik manusia itu sendiri. Tidak ada seseorang yang berbuat dosa lalu dosanya ditimpakan kepada yang lain. Enak saja kalau begini… Memangnya malaikat pencatat amal manusia itu tidur dan buta? Lalu bagaimana dengan para hakim dan pelaku eksekusi itu apakah mereka berdosa? Menurut saya mereka tidaklah berdosa karena mereka menjalankan hukum yang telah memutuskan bahwa Tibo dkk bersalah. Mereka dilindungi oleh hukum. Enggak percaya? Kita lihat saja di akhirat nanti .
Kalaulah saja mereka memakai nuraninya dan pula memakai akalnya maka niscaya mereka akan memahami ternyata ada begitu banyak hikmah dan kebaikan di balik kisas ini. Sebagaimana Allah menjanjikan adanya jaminan kelangsungan hidup bagi manusia dalam kisas tersebut bahkan puncaknya menjadikan para penerap kisas ini mendapatkan gelar orang-orang yang bertakwa layaknya hasil yang didapat bagi orang-orang yang berpuasa di ramadhan. Orang yang dikisas pun tidak akan mendapatkan balasan di akhirat—ini pun jika ia bertaubat.
Salah satu hikmah lainnya adalah timbulnya efek jera dalam masyarakat. Biasanya yang anti hukuman mati akan bertanya: ”mana buktinya? Tidak ada penurunan signifikan dalam angka kriminalitas.” Ya, betul, karena hukuman mati yang dilaksanakan di Indonesia dilaksanakan tertutup dan diam-diam. Yang kita pun–masyarakat awam—ini tidak bisa meyakini orang tersebut sudah tewas atau belum karena banyak dugaan adanya teori konspirasi dan lain-lain. Lalu kalau begini, bagaimana bisa menggedor urat-urat syaraf jera dan ketakutan bagi masyarakat.
Yang benar adalah pelaksanakan hukuman mati tersebut dilakukan di tengah keramaian atau di suatu lapangan yang bisa ditonton banyak orang dan diliput besar-besaran, disiarkan langsung oleh media elektronik. Saya yakin kalau kejadiannya begini, angka kriminalitas di negeri ini akan turun. Insya Allah.
Kalau kita mau melihat statistik kecil tentang penerapan syariat ini maka kita bisa melihat di Bulukamba dengan data sebagai berikut:
Tingkat kriminalitas di Bulukamba, Sulawesi Selatan, setelah diterapkannya Perda Anti Maksyiat di tahun 2002 sampai dengan sekarang:
A.
2002 : 220 (dengan berbagai jenis kejahatan)
2003: 148 (dengan berbagai jenis kejahatan)
2004 : 87 (dengan berbagai jenis kejahatan)
2005 : 13 (dengan berbagai jenis kejahatan)
B.
Salah satu detilnya adalah:
Statistik dari Perkosaan.
2002: 41
2003: 3
2004: 3
2005: NIHIL
Statistik Pencabulan.
Tahun 2004: 2
Tahun Lainnya Nihil.

C.
Dari 10 Jenis Kejahatan, Di Tahun 2005 Cuma Tiga Kejahatan Saja:
1. Pembunuhan Sebanyak 2 Kasus
2. Psikotropika 2 Kasus
3. Miras 9 Kasus
Sumber: Makalah Fauzan Al Anshari dari Polres Bulukamba.
Bila kita melihat data di atas yang hanya didasarkan dengan penerapan hukuman nonfisik seperti denda dan kurungan maka kita bisa melihat kecenderungan angka kriminalitas yang semakin menurun. Apalagi kalau kisas benar-benar diterapkan. Maka percayalah kehormatan dan keamanan manusia akan terjamin. Insya Allah. Bila demikian mengapa masih anti dengan hukuman mati?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ramadhan indah
09.14 04 Oktober 2006

CALON GUBERNUR KUDU BISA BACA ALQURAN


CALON GUBERNUR KUDU BISA BACA ALQURAN

Ini mungkin menjadi yang paling unik dan satu-satunya di dunia, tes membaca Alqur’an untuk setiap calon kepala daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Berarti setiap calon yang tidak lulus dari tes ini maka ia dipastikan tidak akan lolos menjadi bakal calon gubernur NAD. Karena salah satu syarat dari berbagai macam syarat menjadi gubernur NAD setiap calon harus mampu membaca Alqur’an dengan baik dan benar tepatnya tartil dan sesuai dengan ilmu tajwid.
Ini yang saya dengar dan lihat dari berita di televisi saat dilakukannya tes tersebut di Masjid Baiturrahman. Walaupun sampai detik ini saya belum mendengar kabar terakhir dari hasil tersebut tapi setidaknya bagi saya ini merupakan capaian prestasi mengagumkan dari negeri serambi Mekkah ini untuk mencari pemimpin yang benar-benar amanah dan sesuai syariat Islam tentunya. Suatu capaian dahsyat setelah negeri itu diterpa dengan kekejaman rezim terdahulu, perang saudara, dan bencana terpedih yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Aceh sendiri tapi seluruh saudara-saudaranya ditanah air tercinta ini.
Penerapan syarat kemampuan membaca Alqur’an ini tentunya merupakan satu capaian sukses dari capaian-capaian lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama salah satu capaian lainnya itu adalah penerapan hudud berupa hukuman cambuk bagi para pelaku maksiat seperti judi dan zina. Suatu hal yang ditentang habis-habisan oleh para sekuler negeri ini tanpa memahami kerinduan yang dirasakan masyarakat Aceh terhadap penerapan syariat Islam di negeri itu.
Ada satu pertanyaan menggelitik dari diterapkannya uji kemampuan membaca Alqur’an ini. Apakah kemampuan membaca Alquran itu mempunyai relevansi yang signifikan dengan keberhasilan sang pemimpin untuk dapat menyejahterakan masyarakatnya, menghilangkan ketidakjujuran yang bermuara ke korupsi, mengurangi kriminalitas dan parameter-parameter lainnya dari keberhasilan suatu kepemimpinan daerah?
Tentunya jawaban yang akan diberikan adalah jawaban yang panjang sepanjang perkembangan peradaban Islam yang bermula pada era keemasan rasulullah saw sampai saat ini. Dari janji Allah dan RasulNya yang mulia Muhammad SAW, maka dapat dipastikan jawabannya adalah 100% ya. Dengan satu syarat jika Alquran itu tidak sekadar dibaca oleh pemimpin yang memang mampu untuk membacanya. Jika sang pemimpin itu, tidak berhenti di titik itu saja. Sang pemimpin harus mampu untuk mennadabburi dan mengamalkannya. Itu saja.
Ya, Bagaimana mungkin dia mampu mengetahui isi Alquran yang merupakan pedoman itu sedangkan ia tidak mampu untuk membacanya. Tidak cukup dengan terjemahannya? Tentu tidak, karena aktivitas membaca Alquran adalah aktivitas bernilai ibadah yang satu hurufnya bisa bernilai 10 kebaikan. Yang bila dijumlahkan terdapat berjuta-juta nilai kebaikan. Bila diulang-ulang terus maka dilipatkan pula nilai kebaikan yang didapat itu. Maka sang pemimpin pun menjadi seseorang yang mempunyai modal untuk melangkah kepada kebaikan-kebaikan lainnya.
Tidak hanya itu selain mendapatkan nilai kebaikan sang pemimpin akan mempunyai kekuatan ruhiyah, intelektual, atau sikap mental yang tinggi, positif dan tidak mudah tertipu dengan kenikmatan semu karena Alquran adalah cahaya yang menerangi, pengingat dan rahmat bagi umat manusia.
Aktivitas membaca Alquran itu pun adalah jalan bagi para pemimpin untuk memperoleh petunjuk kebenaran dan menjadikan dirinya senantiasa sensitif terhadap kemungkaran. Ia akan mampu untuk memperoleh satu syarat mutlak kepemimpinan dalam Islam yakni kemampuan membedakan kebenaran dan kebathilan sebagaimana salah satu nama Alquran itu sendiri adalah Alfurqon yakni pembeda (antara yang hak dan batil). Ia akan mampu membedakan kebenaran yang berada pada cahaya—pada akhirnya selesailah semua permasalahan—dengan kebatilan yang selalu berada di sisi gelap atau kejahiliyahan yang merupakan sumber masalah umat dan perintis munculnya masalah.
Semua inilah yang memang harus lekat pada diri pemimpin-pemimpin kita. Agar senantiasa mereka tercerahkan dan selalu memikirkan keadaan rakyatnya. Dan saat ini kita memang merindukan pemimpin yang demikian, tidak hanya untuk rakyat Aceh juga semua rakyat Indonesia yang merindukan terciptanya negeri tercinta ini menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghoffur. Kapan ia akan datang? Tunggu saja…

121. Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya[84], mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al Baqarah]

****
Intermezo:

1. Ustadz Hidayat Nurwahid hafal 30 juz (berita ini sedang dalam konfirmasi)
2. Mantan Menteri Agama juga hafal 30 Juz, tapi dituduh melakukan korupsi. Siapa salah? Alqur’an mungkin sekadar bacaan saja. Nul Aplikasi.
3. Salah satu menteri di New Era pernah berkunjung ke sebuah pesantren dan berdialog dengan dengan salah satu santri kecil di sana yang sudah hafal 30 juz, Sang Menteri bertanya: ”berapa juz lagi dek hafalnya…? Weks…

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:46 11 September 2006

KADO TERAKHIR BUAT TIBO, DOMINGGUS, DAN MARINUS


KADO TERAKHIR BUAT TIBO, DOMINGGUS, DAN MARINUS

Eksekusi yang saya tunggu-tunggu Sabtu dinihari kemarin ternyata batal juga. Tibo Cs tidak jadi ditembak oleh satu regu eksekutor. Yusuf Kalla–di Kompas hari ini (senin, 14/8)–menyatakan ada pertimbangan yang diberikan oleh SBY sebagai presiden yakni pertama adanya kesibukan dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia  dan kedua suara-suara protes dari elemen masyarakat, juga dari Vatikan.
        Mantap, Indonesia, sekali lagi, selalu lemah di bawah tekanan asing. Dan lagi-lagi tidak berdaya. Apapun alasannya pemerintah bagi saya ini merupakan suatu bentuk kelemahan. Memperpanjang ketidakpedulian terhadap penegakan hukum. Tapi kita lihat apakah pemerintah juga bersikap adil terhadap rencana eksekusi Amrozi dkk. Saya tidak mempunyai urusan kepada para pelaku bom bali tersebut. Tapi bila tetap dipaksakan juga untuk dilakukan eksekusi terhadap mereka, sedangkan kepada Tibo Cs ditunda-tunda lagi, maka tampak sekali bahwa ketidakadilan sudah dilakukan oleh pemerintah. Tentunya kita tahu siapa pihak asing yang bisa menekan pemerintah kita.
        Dan saya setuju pula bahwa eksekusi pun harus dilakukan terhadap para narapidana yang sudah habis upaya perlawanan hukumnya sampai ke tingkat grasi. Entah itu dari kasus narkoba atau kasus  pembunuhan. Hendaknya pula agar menimbulkan efek jera–sebagaimana amanat falsafah hukum–maka eksekusi itu dilakukan di hadapan khalayak ramai, di lapangan terbuka dan diliput oleh media. Jangan ditutup-tutupi seperti sekarang ini. Yang eksekusinya dilakukan dinihari dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melihatnya. Maka saya yakin tidak ada terapi kejut yang bisa diterima oleh masyarakat. Dan saksikan saja angka kriminalitas pun tidak mempunyai perubahan yang signifikan ke arah penurunan.
        Kembali kepada masalah eksekusi Tibo Cs, pemerintah kiranya lupa terhadap penderitaan yang dirasakan oleh korban yang lolos dari kekejian Tibo Cs dan para keluarga korban yang tewas dibantai mereka. Betapa tidak ratusan–bahkan ada yang mengatakan ribuan–nyawa melayang akibat ulah bejat gerombolan kelelawar pengecut seperti mereka yang bisanya cuma menganiaya dan membunuh orang-orang yang tak bersalah dan tak berani untuk berhadapan face to face dengan pasukan putih dari pihak muslim.
        Suara-suara elemen masyarakat–Sampai-sampai Gubernur Nusa Tenggara Timur, asal salah satu pelaku tersebut, pun ikut-ikutan–yang memprotes eksekusi dengan alasan bahwa Tibo Cs bukan aktor intelektual menjadi alasan utama permintaan penundaan itu. Bagi saya itu cuma alasan yang mengada-ada. Dibuat-buat. 
        Dan bagi saya, sungguh amat terlambat bagi kepolisian mencari-cari siapa saja dalang dibalik peristiwa itu setelah sekian lama peristiwa itu terjadi. Mengapa tidak sedari dulu investigasi itu dilakukan agar tampak yang benar-itu benar dan yang salah itu tetap salah. Tapi lagi-lagi kiranya seperti ada awan gelap menyelimuti kasus ini. Tapi berdasarkan hasil persidangan dan persaksian para korban hidup yang melihat Tibo Cs sebagai pelaku langsung dari aksi pembantaian itu sudah menjadi bukti cukup untuk segera menembak jantung mereka agar tidak lagi diberikan kesempatan untuk menarik nafas di muka bumi ini.
Kiranya saya tidak usah berpanjang lebar mengurai masalah Tibo ini, karena sudah puluhan berita media yang mengupas masalah ini. Namun terlihat sekali ada dua blok terbentuk dalam kasus Tibo ini. Yang membela dan menginginkan eksekusi Tibo Cs adalah mereka yang mempunyai afiliasi ideologis yang sama dengan tiga penjahat besar tersebut. Kelompok minoritas yang didukung medianya, nasional dan lokal tentunya—sampai-sampai ada liputan TV yang mengungkapkan sisi-sisi kemanusian Tibo Cs yang mereka buang entah kemana saat menyembelih para santri.
Dan kelompok kedua adalah kubu para korban dan ormas-ormas Islam yang minim dukungan dari media. Tentunya mereka inilah yang merasakan kekecewaan berat atas penundaan tersebut. Kini mereka dan saya tentunya tinggal menunggu janji dari pemerintah bahwa eksekusi tersebut tetap akan dilaksanakan setelah peringatan 17 Agustusan ini. Saya harap ini merupakan kado terbesar dan terakhir buat Tibo Cs.
Jika tidak, maka makin teranglah sikap pemerintah ini, seterang sinar matahari di siang bolong. Dan tentunya kita lihat betapa terpuruknya nasib pencari keadilan jika ia adalah seorang muslim. Itu saja bagi saya.

riza almanfaluthi
uneg-uneg yang tiada habisnya
dedaunan di ranting cemara
10:21 14 Juli 2006

BINTANG DAVID DI MANA-MANA


BINTANG DAVID DI MANA-MANA: “Gue Israel Loh…”
( http://10.9.4.215/blog/dedaunan )

Dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari dengan sepeda motor, di tengah keramaian lalu lintas Jakarta, seperti biasa saya mengambil sisi kiri jalan untuk dapat melaju lebih lancar. Saya dikejutkan dengan stiker yang ditempelkan di bagian belakang motor di depan saya. Tentu stiker ini tidak akan mempunyai makna apapun bila tidak ada kejadian yang mengharubirukan siapapun yang masih punya hati nurani melihat kebiadaban bangsa penjajah di Timur tengah sana pada pekan-pekan ini.
Stiker ini berupa bintang sudut enam berwarna putih, Bintang David. Ya, semua orang yang mengikuti perkembangan berita dunia tahu tentunya bahwa ini adalah simbol kebanggaan dan kejayaan bagi bangsa Israel. Tapi sayangnya kebanggaannya itu adalah dengan mengorbankan ribuan nyawa tak bersalah. Dan kejayaan yang dicita-citakannya adalah berdiri di atas pondasi berupa tumpukan tulang-tulang yang direkatkan dengan gelimangan darah ribuan manusia. Mengerikan.
Saya gemas sekali melihat stiker ini. Rasanya saya ingin benar-benar menegurnya apakah ia masih mempunyai nurani dan sensisitivitas atau memang ia tidak tahu atau benar-benar menantang. Tapi saya cuma bisa berdiam diri saja dengan banyak alasan dan memendam kegemasan tentunya.
Dan anehnya sore hari itu pula, di saat dalam perjalanan pulang, kembali saya menemukan stiker itu lagi. Kalau stiker yang saya temukan di pagi hari itu cuma Bintang David putih saja, kali ini benar-benar Bintang David berwarna biru di antara dua strip. Nah…kalau yang ini benar-benar bendera Israel, si penjajah La’natullah. So, saya meyakini benar bahwa orang ini benar-benar tidak sensitif. Saya kira ia benar-benar menantang dengan pemajangan stiker itu. ”Nih Gua Israel Loh…”.
Dan kali itu saya benar-benar ingin menghentikannya, tapi ditegur oleh istri saya.
”Jangan emosi, mungkin dia benar-benar orang Yahudi,” istri saya memperingatkan.
”Loh, kalau ia memang orang Yahudi, tidak selayaknya ia bersikap demikian karena ia hidup di tengah mayoritas Muslim yang sedang prihatin dengan kejadian di Palestina dan Libanon itu, dong,” tangkis saya panjang.
”Saya hentikan dia saja yah, saya marah nih, bener, swer…!”
”Tidak usah, percuma, ini bukan karena Allah kok ” kata istri saya.
”Loh, ini benar karena Allah, saya marah karena Allah kok, melihat kedzaliman ini.”
”Iya memang benar marah, tapi biasanya kalau sudah marah orang biasanya tidak bisa berpikir rasional lagi. Sudahlah saya tidak mau ribut, sekarang pun sudah maghrib lagi.”
Lagi-lagi saya tidak mampu untuk berbuat apapun. Saya cuma bisa omong besar doang. Di tengah penyesalan dan pemakluman di hati bahwa ini merupakan selemah-lemahnya iman karena tidak bisa dengan tangan ataupun bahkan dengan mulut merubah suatu kedzaliman ini, saya berpikir kok bisa-bisanya saya menjumpai bintang ini dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Dan saya berpikir apakah orang-orang sudah tidak mempunyai nurani lagi tentang hal ini setelah kasus Dani Dewa yang memakai Bintang David saat pertunjukkannya. Entahlah…tapi yang paling diuntungkan tentunya Israel juga. Dengan pemajangan simbol ini secara tidak langsung merupakan upaya pengakuan eksistensi dari Israel itu sendiri di muka bumi ini.
Tentunya kita tidak pernah lupa, bahwa bangsa yahudi adalah bangsa yang sangat menyukai simbol-simbol. Dan menjadikan simbol paling utama dari keberadaannya adalah Bintang David itu sendiri. Maka dalam suatu kesempatan, di sebuah milis, setelah akuisisi Indosat oleh perusahaan Singapura dan ditengarai dimiliki oleh perusahaan investasi milik Israel, saya dikecam oleh para peserta milis ketika mengungkapkan hal ini. Tapi faktanya benar-benar bahwa simbol Indosat adalah gradasi dari Bintang David. Ini meneguhkan pernyataan bahwa bangsa Yahudi ini sangat penyuka dengan simbol dan perlambangan.
Dan kasus terbaru tentang Bintang David adalah pemakaian lambang ini oleh Tora Sudiro di acara Extravaganza. Hidayatullah.com memberitakannya sebagai berikut:
Sebagaimana diketahui, TransTV, pada Senin tanggal 7 Agustus 2006 lalu saat acara hiburan, Extravaganza, salah seorang pemainnya, Tora Sudiro, mengenakan sebuah kalung terbuat dari ‘Bintang David’. Sebuah lambang kebesaran Yahudi.
Dalam tayangan tersebut, pihak TransTV berupaya untuk mengelabuhi
pemirsa dengan cara menutup dan mengaburkan simbul penjajah yang kini
sedang menyerang Palestina dan Libanon itu.
(http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3447&Itemid=65)

Kembali ini meneguhkan bahwa betapa banyak orang Indonesia yang sudah tidak mempunyai sensitivitas dan hati nurani lagi untuk berempati dengan saudaranya sendirinya. Bahkan kalau kita runut ke belakang betapa ghozwul fikri ini sudah merambah ke sekolah-sekolah, sehingga dengan bangganya para siswanya membuat grafiti dan coretan-coretan di banyak dinding dengan lambang Bintang David yang ditengahnya terdapat huruf besar-besar: ISRAEL.
Atau jangan-jangan saya yang aneh karena memikirkan kulit saja daripada substansi. Tapi bagi saya, untuk kali ini, kulit dan substansinya adalah sama saja, yakni representasi dari kebiadaban dan keganasan Iblis berbulu domba (emang ada…? biasanya diilustrasikan oleh barat sebagai iblis berkepala kambing)
Ah…saya harap ini cuma segelintir orang saja di tanah air tercinta ini. Yang bahkan perlu diwaspadai lagi adalah jasadnya secara fisik melayu tapi pikiran, tindak tanduknya, fatwanya, lidahnya adalah kepanjangan dari yahudi itu sendiri. Ini dia yang bisanya menusuk dari belakang. Menggunting dalam lipatan. Lempar batu sembunyi tangan. Dan penuh sifat kelicikan dan kepengecutan. Sungguh ini yang perlu diwaspadai.
Ah, terlalu banyak omong dan mencela seringkali melupakan aib diri sendiri. Semoga kegeraman ini berlanjut untuk tidak selama-lamanya dengan selemah-selemahnya iman. Semoga mulut saya dan tangan saya bisa membantu saudara-saudara saya di sini dan di sana. Harap saya yang senantiasa meluncur ke langit. Berharap menembus pintu-pintuNya. Semoga.

Celaan, ejekan, makian, hinaan, cacian, kutukan sila ajukan ke: riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:16 11 Agustus 2006

Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah


Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah

Saat ini dunia sedang dipertontonkan dengan kebiadaban dan kebengisan dari sebagian bangsa Yahudi di tanah Suci Palestina dan Libanon. Sudah ratusan nyawa melayang sejak penyerbuan Israel ke Libanon tersebut. Bahkan sudah tak bisa terhitung lagi berapa nyawa yang melayang sejak bangsa terkutuk tersebut menginjakkan kakinya di awal abad 20 dan kemudian mendirikan negara Israel di tahun 1948.
Dengan kecanggihan teknologi, tontonan kebengisan itu seperti benar-benar tampak nyata di hadapan kita. Realistis, cepat, dan up to date. Dengan demikian tak sedikitpun yang terlewatkan. Dan dunia pun sadar, terkejut, mengutuk pada apa yang dilakukan Israel—terkecuali para antek-antek dan sekutunya.
Kemarin (01/08), satu halaman penuh, Media Indonesia mempublikasikan foto-foto berukuran besar tentang korban-korban yang timbul atas serangan rudalnya ke bangunan sipil. Begitu banyak korban dari anak-anak dan wanita yang belum sempat mengungsi.
Seorang petugas relawan Libanon sampai menangis melihat keadaan itu di saat melakukan evakuasi. Bagaimana tidak ia melihat seorang anak kecil berumur dua tahun yang pada pakaiannya masih tergantung dotnya. Atau seorang ibu yang meninggal dengan posisi melindungi anak-anaknya. Semuanya tewas tertimpa runtuhan bangunan. Semoga Allah memberikan kesyahidan kepada mereka.
Dunia memang terkejut dengan apa yang menimpa warga sipil Libanon. Dan seharusnya dunia pun lebih terkejut lagi sedari awal dengan apa yang dilakukan Israel di tanah Palestina di mana setiap pekannya berapa nyawa yang harus direnggut dari penduduk Palestina.
Bayi-bayi yang robek perutnya kerana peluru bengis Israel. Ribuan tawanan yang teraniaya di penjara-penjara Israel. Anak-anak yang telah kehilangan keriangan masa kecilnya, kehilangan masa belajarnya, kehilangan ibu dan bapaknya, dan kehilangan masa depannya. Atau mereka yang kehilangan semua anaknya. Mereka yang telah kehilangan suami atau istri dan saudara-sauadaranya yang tercinta. Sungguh dunia harusnya terkejut sejak 1948 atau sejak masa-masa sebelumnya.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk dengan kekejaman Israel tersebut. Dengan nama apa pun ia. Karena dibalik nama yang bagus sekalipun tetap saja ia adalah iblis yang menebarkan bencana dan angkara murka.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk Israel dengan segala kebiadabannya itu. Karena sesungguhnya bagi saya pemaknaan nama menjadi tidaklah penting. Bahkan tidak menyentuh sama sekali substansi dari persoalan dan keharusan umat Islam untuk membantu saudaranya di Palestina dan Libanon. Karena bila kembali kepada salah atau benarnya kutukan terhadap yahudi dengan penyebutan Israel (yang berarti hamba Allah), maka begitu banyak di Indonesia dan di dunia yang memakai nama ’Abdullah berada di penjara karena telah berlaku dzalim dengan melakukan pembunuhan, pencurian, korupsi, menipu, berzina, dan lain sebagainya..
Bahkan ada yang memakai nama terbaik yakni ’Abdurrahman tetapi tingkah lakunya seperti orang yahudi sendiri yang bisanya menusuk dari belakang perjuangan umat di tanah air dengan masalah liberalisme dan sekulerismenya.
Dan sungguh ketika kita mengutuk dan mencela tentang kejahatan dari oknum-oknum pemakai nama-nama terbaik itu, kita sesungguhnya tidaklah sedang mengutuk dan mencela ’Abdullah dan ’Abdurrahman lainnya di Indonesia dan di seluruh permukaan bumi ini sedangkan mereka adalah hamba-hamab Allah yang sebenarnya, yang ta’at, takwa, beriman dan beramal sholeh.
Dan sungguh bukanlah fenomena aneh yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin yaitu menyebut negara Yahudi yang dimurkai Allah dengan nama Israel, karena nama itu adalah nama yang tercantum dalam daftar negara pada adminsitrasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Mengapa bisa ia mengklaim nama itu dan umat Islam berdiam diri saja?
Ya jelas karena umat Islam tidak punya harga diri. Umat Islam pada saat ini berada di titik nadir dari kejayaannya. Tidak mampu berbuat apapun ketika di zalimi. Bahkan perang pun kalah, sehingga pada tahun 1948 itu berdirilah negara yang bernama Israel. Dan PBB (tentu dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya) pun mengakuinya. Dan jika kita tidak menginginkan nama Israel itu dilekatkan pada bangsa Yahudi maka ”Wahai umat Islam, bersatulah…! Rebut kembali kejayaan itu! Kalahkan Yahudi! Kalahkan musuh-musuh Allah! Maka dengan semua itu, niscaya PBB pun tidak akan semena-mena lagi membiarkan segala kezaliman itu. Nama itu akan kita cabut dari daftar. Dan tidak perlu lagi ada tertulis di peta dunia.
Karena Yahudi Israel tidak punya hak mendirikan Negara di jantung negeri-negeri Islam sebagai hak yang syar’i (memiliki dasar hukum dalam syariat) dengan mengatasnamakan warisan Ibrahim dan Israel.
Karena kita pun mengakui bahwa Alqur’an mencela orang-orang yahudi dan mengutuk mereka dan Allah memberitakan kepada kita tentang kemurkaanNya terhadap mereka dengan sebutan “orang-orang yahudi” atau “orang-orang kafir dari kalangan Bani Israel”.
Karena kita mengakui bahwa orang-orang yahudi tidak memiliki hubungan din sedikitpun dengan Nabiyullah Israel (Ya’qub ‘alaihis salm) juga tidak dengan Ibrahim Khalilullah ‘alaihis shalatu wassalam.Dan mereka tidak memiliki hak sedikitpun atas warisan keagamaan keduanya. Karena warisan tersebut adalah khusus merupakan hak orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman(artinya) :”Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad) serta orang yang beriman kepada (Muhammad) dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman” (Qs.Ali Imran:68)
Dan karena kita pun meyakini dengan iman yang dalam bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam rangka melepaskan hubungan kekasihnya Ibrahim dari ikatan hubungan dengan kaum yahudi,nashara dan kaum musyrikin (artinya) :”Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (Qs.Ali Imran :67)
Dan karena Kaum muslimin tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi adalah keturunan Ibrahim dan Israel (Ya’qub ‘alaihis salam), tetapi mereka meyakini dengan mantap bahwa orang-orang yahudi itu adalah musuh Allah dan musuh-musuh para utusanNya seperti: Muhammad, Ibrahim, dan Israel. Kaum muslimin memutuskan(berdasarkan hukum syar’i) bahwa tidak bisa saling mewarisi antara para Nabi dan para musuhnya dari kalangan kafirin baik yahudi maupun nashara maupunn musyrikin arab dan yang lainnya, dan bahwa manusia yang paling dekat hubungannya dengan Ibrahim dan semua Nabi adalah kaum muslimin yang beriman kepada mereka,mencintai, dan memuliakan mereka serta mengimani kitab-kitab dan shuhuf yang diturunkan kepada mereka . Kaum muslimin memandang perkara ini sebagai salah satu prinsip dalam agama mereka. Karena itu merekalah pewaris para Nabi dan manusia yang paling dekat hubungannya dengan para Nabi. Dan bumi Alllah hanyalah milik hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya dan kepada para Rasul yang mulia. Maka musuh-musuh para Nabiitu tidak memiliki warsian bumi-terutama yahudi-di dunia ini dan bagi mereka di akhirat siksa neraka yang abadi.
Dan kita sungguh amat yakin bahwa kita tidak pernah menerima—walaupun masih ada sebagian dari kita yang masih mau—menerima klaim yahudi sebagai ahli waris tanah Palestina dan rencana pemugaran kembali Haikal Sulaiman, padahal kaum Yahudi itu kafir kepada Sulaiman dan melemparkan tuduhan keji kepada Beliau.”apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh;maka di antara mereka kamu dustakan dan yang lain kamu bunuh”(Qs.Al Baqarah:87)
Dan kita pun yakin bahwa sungguh demi Allah, niscaya akan datang suatu hari dimana kaum mu’minin yang benar-benar beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dan pada para Rasul serta risalah mereka akan menghancurkan kaum yahudi
Sungguh kami yakin. Insya Allah.
Maka dalam pandangan saya dan sekali lagi ini adalah pendapat saya bahwa hal ini bukanlah suatu perkara mungkar dalam perjuangan kaum muslimin melawan kemungkaran Yahudi Harb atau Israel la’natullah. Bahkan menjadi suatu perkara mungkar di saat kaum muslimin berjuang melawan kezaliman Israel ada sebagian dari kita mencela mereka padahal kita sendiri tidak pernah merasakan debu, keringat, dan darah dari peperangan tersebut. Bahkan menjadi suatu perkara munkar di saat anak-anak di sana menahan sakit dan derita berkepanjangan itu kita tidak mencari solusi tepat untuk membantu mereka malah dengan asyiknya mengejek mereka dan para pembela mereka sebagai pelaku kemungkaran yang wajib diperangi. Masya Allah…
Lalu….. Aina Anta…? Di mana saya, Anda dan kalian akan meletakkan diri sebagai batu karang dari sebuah benteng peradaban Islam yang kukuh, kuat, dan jaya sampai akhir nanti?
Hanya Allah yang tahu segalanya.
Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah, dan segala kesalahan dari diri saya pribadi.
Mohon maaf tiada terkira.

Maraji: http://10.254.4.4/dshforum/forum_posts.asp?TID=7835&PN=1&TPN=1

Hamba Allah yang dhoif dan miskin ilmu
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:39 02 Agustus 2006

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL


Monday, July 31, 2006 – PORNOGRAFI ITU MASALAH KECIL

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL

“Saat ini ideologi Pancasila menjadi semakin jauh dari Bangsa Indonesia. Banyak tingkah laku yang tidak lagi mencerminkan nilai Pancasila. Bahkan sering kali, hal-hal kecil diributkan dan melupakan hal besar yang justru hilang dari kita. Misalnya saja sumber daya alam yang menipis karena dijual ke perusahaan asing.” (Kompas, 28/7)

Hal ini terungkap—seperti diberitakan Kompas—pada dialog publik yang diadakan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan pada hari Kamis yang lalu (27/7) bertema: ”Penegasan Sikap Kebangsaan Kita”. Sebagai pembicara pada acara ini adalah mantan Ketua MPR Amin Rais, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, serta pengamat ekonomi Hartojo Wignyowijoto. Hadir dalam acara itu pula adalah Gubernur Sutiyoso dan tokoh-tokoh partai politik lainnya.

Tidak ada yang mengganjal di hati saya saat membaca berita tersebut sebelum dua paragraf terakhir yang berisi penegasan dari Amin Rais bahwa yang dimaksud hal-hal kecil yang diributkan itu adalah masalah RUU Pornografi.

Kita simak apa yang dikutip oleh Kompas:

Sebenarnya, menurut Amin, di situlah persoalan bangsa, yaitu dijualnya sumber daya alam kepada asing, bukan lalu banyak hal-hal kecil yang diributkan.

”Saya sudah lama mencari sebab mengapa bangsa ini mundur, ditinggal negara lain, bahkan oleh negara yang lebih muda. Kemudian banyak perdebatan, misalnya tentang RUU Antipornografi dan Pornoaksi, padahal bukan di situ masalahnya,” ujar dia.

Saya memang pernah mendengar sebelumnya bahwa Amin Rais pernah mengatakan hal yang demikian. Tapi saya anggap perkataannya adalah perkataan dari seseorang yang mengalami Post Power Syndrom. Jadi saya menganggapnya biasa-biasa saja dan cuma angin lalu. Nanti juga hilang dengan sendirinya.

Tapi dengan statement-nya pada acara itu, membuat saya berpikir lagi, bahwa Amin Rais memang konsisten dan serius dengan masalah keremehan dari pornografi dan pornoaksi tersebut. Dan ini jelas sungguh mengecewakan sebagian umat yang bekerja keras menyelamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran.

Bagaimana tidak, hal itu dikatakan oleh seorang mantan ketua organisasi masyarakat Islam terbesar kedua di Indonesia dan pula yang pernah menjadi ikon perlawanan umat terhadap orde baru.

Dengan pernyataannya itu ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi:

Ia jelas menegasikan bahwa pornografi dan pornoaksi sebagai penyebab kehancuran bangsa ini. Dan ia konsisten sejak tahun 1997 bahwa semuanya karena perampasan sumber daya alam Indonesia oleh asing. Tidak ada yang salah jika ia tetap berkomitmen dengan perlawanannya itu namun seharusnya jika ia lebih bijak dan bisa menahan diri, tak perlu untuk membuat perbandingan atau peremehan terhadap tema besar perlawanan dari sebagian umat lainnya pada saat ini.

Pun dengan demikian ini jelas menimbulkan friksi dan prasangka berkepanjangan terhadap komponen umat lainnya yang seharusnya tidak ada. Bagi umat apa yang ia lakukan adalah seperti menggunting dalam lipatan.

Bahkan menurut saya dengan pernyataannya yang menganggap bahwa masalah bangsa ini bukan pada masalah pornografi dan pornoaksi, sebagai suatu penantangan terhadap ayat-ayat Allah yang begitu banyaknya membahas masalah kemunkaran ini. Dan seperti menafikan berbagai musibah yang datang ini karena ulah manusia akibat dari nafsu syahwat yang diumbar begitu saja.

Umat memang perlu disadari bahwa betapa kekayaan alam bangsa Indonesia ini dikuras habis dan hanya menguntungkan asing saja, sehingga dengan demikian timbul kesadaran bahwa umat perlu menjaga kekayaan ini dan menjaganya, mengelolanya untuk kepentingan umat juga.

Namun demikian umat pun tidak ketinggalan pula harus disadarkan bahwa pronografi dan pornoaksi sudah terang-terangan di depan mata dan akan menjadi bom waktu bagi generasi muda. Dan umat tidak menginginkan bahwa generasi ini menjadi generasi tanpa moral yang tidak menghormati nilai-nilai agama.

Sebenarnya dengan data statistik yang dikeluarkan oleh para pendukung RUU APP, menunjukkan bahwa betapa korban-korban dari ketidaktegasan pemerintah dalam memerangi kemaksyiatan itu senyatanya ada dan mengkhawatirkan bagi para aktivis dan pemerhati masalah moral. Karena korbannya kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sendi-sendi kemajuan suatu peradaban yang kuat yaitu keluarga akan menjadi lemah dan rusak karena pornografi. Kita tidak menginginkan peradaban materialis ala Amerika Serikat yang ditopang oleh masyarakat yang sakit dan tanpa ikatan keluarga—karena ini pula banyak para ahli memprediksikan bahwa kehancuran Amerika Serikat tidak akan lama lagi.

Hamil di luar nikah, kawin cerai, single parent, anak tanpa ibu dan bapak, anak-anak jalanan, gank-gank hitam, lesbian, homoseks, narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, phedophilia menjadi penyakit masyarakat akut dalam keseharian di negara adidaya itu. Dan ini jelas semuanya adalah hal-hal yang sangat dihindari oleh umat Islam yang menginginkan kejayaannya kembali kepangkuannya.

Hal yang dilupakan oleh Amin Rais bahwa sesungguhnya peradaban suatu bangsa tidak bisa hanya fokus pada satu aspek saja dengan melupakan aspek yang lainnya. Sayyid Sabiq tidak melupakan kekuatan akhlak dan maal (harta) dalam enam prasyarat membangun suatu peradaban. Sehingga tidak bisa satu dengan yang lainnya saling menafikan. Tidak bisa untuk saling dikecilkan. Semuanya harus ada.

Akidah yang bersih, ilmu yang mumpuni, akhlak yang tinggi, ukhuwah yang erat, jama’ah yang kuat, dan maal yang banyak menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun peradaban, untuk membangun Indonesia. Dengan sinergi dari berbagai komponen umat tentunya.

Sinergi dari Amin Rais yang berkomitmen tinggi untuk pengembalian harta umat kepada umat. Muhammadiyah dan Nahdhatul ’Ulama dengan pengembangan ilmunya. Ma’had-ma’had Ahlussunah Waljama’ah yang mengajarkan akidah yang bersih dari kemusyrikan. Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam masing-masing sebagai penjaga ukhuwah dan moral. AA Gym dengan pesantren Darut Tauhid-nya dalam penggemblengan pejuang Islam ber-akhlakul karimah. Dan masih banyak lagi peran-peran dari ormas atau komponen umat Islam lainnya yang saling mengisi dan bersinergi.

Maka bila ini terwujud, bangsa ini tidak mundur, dan persoalan yang dikhawatirkan Amin Rais akan cepat terselesaikan. Dan tidak akan ada lagi kegundahan seorang Amin Rais yang mengatakan pornografi dan pornoaksi itu cuma masalah kecil. Kegundahan yang malah melukai perjuangan umat.

Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

cuma resah belaka

22.11 30 Juli 2006

KYAI PORNO


Secara bergurau teman sejawatnya memberikan julukan ini pada KH Ma’ruf Amin—Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)—saat ia mendapatkan amanah sebagai Ketua Tim Pengawal Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) MUI. Ia pun pada gurauan yang lain disebut juga sebagai Ketua Teroris karena mengetuai Tim Penanggulangan Terorisme yang dibentuk MUI.
Tidak hanya itu Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini pun mempunyai julukan sebagai Kyai Bankir karena konsistensinya dalam memperjuangkan penerapan syariah dalam sistem perbankan Indonesia. Istilah-istilah akuntansi, perbankan, keuangan lainnya seperti meluncur dengan ringan dalam setiap pembicaraannya. Tidak menandakan bahwa beliau mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda 180 derajat dengan apa yang ditekuninya sekarang.
Pandangan ini adalah sedikit banyak yang saya tangkap pada sesi yang dibawakan oleh Beliau dalam tema Peranan Dewan Syariah Nasional dalam Pengembangan Perbankan Syariah.
Sesi ini adalah sesi terakhir dari rangkaian sesi sepanjang tiga hari mulai tanggal 04 Juli s.d. 06 Juli 2006 kemarin yang berjudul Executive Overview of Islamic Bank. Overview yang diselenggarakan oleh PT Bank BNI bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus ini memang sangat menarik sekali.
Di samping bahwa hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi aparat pajak—karena sesi yang dibahas sama sekali tidak berkaitan dengan masalah perpajakan yang biasa digeluti—juga memberikan pemahaman yang luas betapa pentingnya penerapan syariah dalam kehidupan perekonomian terutama penerapan syariah dalam sistem perbankan Indonesia.
Sebelum membahas pada hal-hal yang lebih teknis dari perbankan syariah para peserta Overview diberikan pemahaman pentingnya syariah terlebih dahulu di sesi pertama dengan tema berjudul Islamic Way of Live dan Sumber Daya Insani Bank Syariah. Pada sesi ini dijelaskan tentang filosofi dari perbankan syariah.
Setelah sesi pertama yang dibawakan oleh Direktur LPPI ini, M Arie Moodito, kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua dengan pembicara yang sama dengan tema pembahasan Konsep Dasar Sistem Ekonomi Islam. Lalu tema Konsep Riba, Interest, dan Uang menurut Islam dijadikan sebagai sesi terakhir pada hari itu.
Hari kedua diisi oleh Ketua ASBISINDO (Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia), Wahyu Dwi Agung, dengan dua tema lain yakni Prinsip Penghimpunan Dana dan Jasa Bank Syariah dan Prinsip Investasi dan Pembiayaan Bank Syariah.
Di sinilah para peserta Overview diajak untuk lebih mengenal produk-produk apa saja yang dijual oleh bank syariah. Tentunya juga dibumbui dengan permasalahan yang sedang panas dibahas oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan kalangan perbankan syariah yakni masalah pengenaan pajak pada transaksi Murabahah.
Tidak berhenti sampai di situ, pada hari ketiga sesi-sesi tersisa dibawakan oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Sesi bertema Dasar-dasar Akuntansi Bank Syariah dibawakan oleh Sri Yanto, Ak Direktur Teknik dari Ikatan Akuntan Indonesia.
Lalu tentang Kebijakan Bank Indonesia dalam Pengembangan Perbankan Syariah dibawakan oleh Nasriwan, pejabat dari Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Dan sesi terakhir seperti disebutkan di awal dibawakan oleh salah seorang tokoh nasional yang biasanya hanya dapat saya jumpai di televisi dan surat kabar, yakni KH Ma’ruf Amin.
Sungguh akan membutuhkan banyak halaman untuk menuliskan secara lengkap apa yang diperoleh dari overview tersebut, namun setidaknya ada beberapa fakta–fakta dari perkembangan perbankan syariah sejak berdirinya sampai sekarang ini. Ini sedikit yang bisa saya tangkap:
1. Tahun 1990 rekomendasi Lokakarya MUI untuk mendirikan perbankan syariah;
2. Tahun 1992 memasuki era dual banking system Indonesia dan mulai beroperasinya BPRS dan Bank Umum Syariah;
3. Tahun 1998 memungkinkan bank konvensional dapat membuka unit usaha syariahnya dengan dikeluarkannya UU Nomor10 tahun 1998
4. Tahun 1999 beroperasinya unit usaha syariahdari bank umum konvensional;
5. Tahun 2000 diterapkannya instrumen keuangan syariah yang pertama yang menandai dimulainya kegiatan di pasar keuangan antarbank dan kebijakan moneter berdasarkan prinsip syariah;
6. Tahun 2001 Dibentuknya satuan kerja khusus di Bank Indonesia;
7. Tahun 2002 disusunnya Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah;
8. Tahun 2003 disusunnya naskah akademis RUU Perbankan Syariah dan dikeluarkannya fatwa bunga bank haram oleh MUI;
9. Tahun 2004 disusunnya ketentuan persyaratan, tugas, dan wewenang Dewan Pengawas Syariah;
10. Tahun 2005 penjajagan ketentuan jaringan secara lebih efisien dan berhati-hati;
11. Potret Perbankan Syariah Indonesia per Maret 2006: Bank Syariah mempunyai FDR/LDR sebesar 106,96% sedangkan perbankan Nasional Cuma 56,25%;
12. NPF/L Syariah sebesar 4,27% sedangkan Nasional 8,5%.
13. Aset Perbankan Syariah 18,23 Trilyun dengan jaringan sebanyak 22 Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Sedangkan BPRS sebanyak 94 unit;
14. PSAK 59 untuk akuntansi Perbankan Syariah;
15. Di Bank Indonesia masalah perbankan syariah ini hanya digawangi oleh sebuah direktorat bernama Direktorat Perbankan Syariah. Belum ditangani oleh pejabat selevel Deputi Gubernur;
16. Perkembangan Bank Syariah mempunyai efek domino terhadap munculnya instrumen keuangan syariah atau sektor lainnya:
– obligasi syariah;
– asuransi syariah;
– sektor riil berbasis syariah (antara lain hotel syariah, juga bengkel syariah?);
– kurikulum pendidikan (dari SMP hingga PT);
– voluntary sector (ZISWAF);
– aspek hukum dan perundang-undangan;
– perusahaan pembiayaan syariah;
– pasar modal syariah;
– reksadana syariah.

Sampai saat tulisan ini dibuat Rancangan Undang-undang Perbankan Syariah belum menemui kata final padahal pada saat yang sama Singapura berkeinginan untuk menjadi negara dengan istrumen keuangan syariah terbesar di dunia. Apa yang dilakukan negara jiran ini (rencana penerbitan sukuk misalnya) adalah langkah cerdik untuk menyerap dana menganggur pascaWTC dan booming harga minyak dunia. Salah satu caranya adalah dengan mereformasi sistem perpajakannya agar sistem keuangan syariah tersebut lebih dilirik.
Hal yang selalu terlambat dilakukan oleh Indonesia dalam menarik investasi dari Timur Tengah. Padahal sudah ditengarai bahwa para investor dari Timur Tengah tersebut lebih menyukai berinvestasi ke Indonesia dibandingkan ke Filiphina (yang telah mulai menerbitkan sukuk), Singapura, dan China. Ini dikarenakan Indonesia mempunyai kedekatan aqidah dengan mereka dan sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Saat ini adalah era syariah. Apa yang diceritakan oleh KH Ma’ruf Amin dapat menjadi bukti. Suatu saat perusahaan yang bergerak di bidang keuangan ingin membuka produk syariahnya. Untuk mewujudkannya mereka harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemegang saham asing—penguasa 40% saham perusahaan tersebut—yang berada di Singapura dan London. Jawaban dari mereka: ”Anda sudah terlambat, karena era sekarang adalah era syariah.”
Perekonomian dunia berbasis syariah sudah menjadi suatu keniscayaan dan akan menjadi sistem ekonomi dunia yang benar-benar nyata menggusur sistem kapitalis yang amat menindas. Sekali lagi ini adalah suatu keniscayaan karena sesungguhnya Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Bahan Rujukan: banyak makalah dari overview

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20:35 06 Juli 2006

ARAGONES, YOU ARE A LOOSER


ARAGONES, YOU ARE A LOOSER

Pelatih Spanyol ini sudah selayaknya mendapatkan julukan itu setelah timnya dikalahkan oleh Perancis tadi malam dengan skor 1-3 di stadion Niedersachsen, Hannover. Gol kedua Les Blues yang dibuat oleh Playmaker-nya Patrick Vieira di menit ke-83 memupuskan harapan Spanyol untuk mempertahankan kedudukan 1-1 sampai terdengar peluit panjang. Apalagi setelah Zidane membuat gol ketiga di babak additional time. Menambah kepastian bahwa Spanyol harus menyetop ambisinya melangkah ke babak berikutnya.
Bisa jadi inilah tuah yang harus didapat dari Luis Aragones yang telah mengucapkan kata-kata rasis beberapa tahun lalu. Saat sesi latihan yang diliput oleh media itu, Aragones berkata pada salah seorang pemainnya, “seharusnya kamu lebih baik daripada si hitam sialan itu”. Di sini “si hitam sialan” itu adalah Thierry Henry, pemain asal Perancis yang merumput di Arsenal.
Walaupun Aragones tidak pernah meminta maaf atas ucapannya itu Thierry Henry memaafkan Aragones dan tidak ambil pusing dengan sikap rasisnya. Namun ini masih belum bisa dimaafkan oleh teman-teman satu tim Henry, apalagi di saat pertemuan di Piala Dunia 2006 ini kesempatan membalaskan sakit hati itu terbentang.
Tentunya dengan mengalahkan Spanyol merupakan pembalasan yang cukup buat Aragones. Bahkan dari sikap rasis itu menambah semangat bagi tim ayam jantan untuk dapat menjadi pemenang.
Kini terbukti sudah, rasisme membawa petaka buat Aragones. Terbukti bahwa orang yang mengejek orang lain belum tentu lebih baik daripada yang diejek. Kesombongan akan selalu hancur di muka bumi. Dalam pertandingan yang diwasiti Roberto Rosetti itu timnya yang menduduki peringkat ke-5 FIFA ini bertekuk lutut dikalahkan Perancis yang hanya menduduki peringkat ke-8. Walaupun memang dari sejarah tujuh kali pertemuan sebelumnya dapat dilihat bahwa Perancis selalu unggul dengan memperoleh kemenangan 5 kali menang, 1 seri, 2 kali kalah.
Kemenangan ini semakin memperpanjang daftar kemenangan Perancis melawan Spanyol. Juga membuat lemahnya cercaan kepada mereka yang dianggap sebagai tim yang memuja masa lalu dan tim yang diisi dari generasi tua itu. Kemenangan ini pun membuat mereka harus lebih bekerja keras lagi karena yang akan mereka hadapi Ahad nanti di perempat final adalah juara bertahan 2002 dan lima kali piala dunia, Brasil. Tapi moral yang semakin meningkat sudah menjadi modal kuat untuk dapat melangkah menuju semi final.
Kini, Perancis telah melewati salah satu ujiannya untuk mengulangi keemasan 1998. Walaupun banyak yang pesimis mereka dapat menekuk Brasil, tapi bola tetaplah bundar. Sehingga belumlah diketahui secara pasti siapa yang akan memenangkan pertarungan nanti sampai wasit benar-benar meniup panjang peluitnya. Tapi yang pasti, kini, Aragones sudah bermimik sedih dan layak mendapatkan julukan a looser.

Fakta Lain:
Perancis Juara Dunia 1998, Spanyol belum pernah.

***
Syukran, atas missed call dari seseorang yang telah membangunkan saya tepat pukul 03.15 (Sebenarnya karena banyak nyamuk juga sih). Dini hari tadi saya banyak berbuat apa saja. Perancis menerapkan strategi 4-2-3-1, saya cuma 4-4-1 tepatnya 2-2-2-2-1. Terkantuk-kantuk lagi. He…he…he…

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:02 28 Juni 2006