AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]
[tulisan keempat]

Pada tulisan terdahulu diuraikan tentang benih-benih timbulnya ketidaksukaan para pemimpin Al-Ikhwan kepada Abdul Aziz maka pada bagian terakhir ini diterangkan tentang upaya Al-Ikhwan melancarkan bughot melawan amirnya, Abdul Aziz bin Abdurrahman.

Pertempuran Sabillah
Al-Ikhwan tidak bisa sesabar Abdul Aziz menunggu dua bulan. Mereka tidak bisa berpikiran tenang dan berpertimbangan matang. Justru kefanatikan yang tidak masuk akallah yang membuat mereka bertentangan dengan Abdul Aziz. Beberapa minggu setelah pertemuan Riyadh, mereka melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuat perdamaian takkan mungkin dicapai lagi dan menghilangkan simpati yang selama ini mereka peroleh.
Di bulan Desember 1928 mereka menyerang rombongan pedagang unta Nejd di Jumaymah, dekat perbatasan Irak. Semua dibunuh dan hewan dagangan mereka dirampas. Sekelompok orang Badui di sebelah utara dibantai pula oleh sepasukan Al-Ikhwan. Nyata-nyata bahwa Al-Saud dan Nejd tidak lagi menghadapi suatu perselisihan agama melainkan penghancurkan negara baru Abdul Aziz.
Mereka menolak kewajiban suatu masyarakat, peraturan yang ada, tak mau menetap dan membentuk pemukiman Ikhwan yang tetap. Mereka ingin kembali menjadi bangsa Badui yang bisa mengembara kemana saja. Faisal Al-Dawisy menulis surat kepada Saud Bin Abdul Aziz, ”…Kau telah menjauhkan kami dari agama kami, kau telah menjauhkan kami dari kesenangan duniawi kami.”
Pasukan kendaraan bermotor dikirim Abdul Aziz di bulan Maret 1929 dipimpin oleh Abdullah Suleiman al-Hamdan, juru tulis kepercayaan Abdul Aziz yang berhasil mengorganisir pengadaan bahan bakar, suku cadang, dan mesiu. Iringan pasukan itu menuju Anayzah dan Buraydah untuk mengumpulkan bantuan. Abdul Aziz menggunakan uang dan pegnaruhnya pada suku-suku Badui yang ada. Ia memberi 6 pound emas kepada kepala suku yang berhasil membawa sukunya untuk bergabung. Tiga pound untuk orang biasa dan kota yang ikut berperang dan dengan janji tambahan lainnya bila tugas selesai.
Di akhir Maret 1929, pasukan Abdul Aziz berhadapan dengan pasukan Faisal al-Dawisy dan Ibnu Bijad di padang Sabillah dekat Artawiya. Tiga berbanding satu. Pasukan pemberontak kalah jauh diukur dari kuantitas pasukan.
Al-Dawiys dan Ibnu Bijad pemimpin penyerangan yang paling ulung. Mereka tak biasa berhadapan dengan lawan yang begitu besar. Tapi mereka mengira bahwa Abdul Aziz tak bisa bertempur lagi, karena Abdul Aziz secara pribadi terakhir ikut pertempuran 12 tahun yang lalu. Mereka yakin Abdul Aziz hanya pandai bicara saja. Dan mereka yakin kemenangan ada di tangan mereka karena sejak 1919 merekalah yang berperang untuk Abdul Aziz. Ketakberanian Abdul Aziz menghadapi Inggris secara langsung, menurut mereka, menajdi tanda kelemahan yang tampak dari Abdul Aziz.
Tapi Abdul Aziz masih cukup galak. Berulang kali utusan pencari kedamaian antara kedua belah pihak saling berunding, mencoba merumuskan gencatan senjata. Tapi gagal. Abdul Aziz marah besar saat utusan Ibnu Bijad tidak mau menjawab salam sebagaimana kebiasaan mereka yang tidak mau menjawab salam kepada mereka yang dianggap ”Bukan Muslim Sejati”.
Bahkan saat Faisal Al-Dawisy datang sendiri ke Abdul Aziz, Abdul Aziz sudah tak punya selera lagi berdamai dan menyarankan kepada mereka untuk menyerah. Saat Al-Dawisy pulang kembali ke perkemahannya, ia mengabarkan bahwa orang-orang Saud itu cuma sekumpulan orang-orang lemah lemas yang hanya bisa tidur di atas kasur. ”Mereka tak berguna sama sekali, bagaikan pelana unta tanpa pegangan,” kata Faisal kepada Ibnu Bijad.
Keesokan paginya Abdul Aziz berkuda mengepalai pasukannya. Ia turun sesaat untuk mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh. Segera pertempuran dimulai. Al-Ikhwan berada diketinggian dan telah membangun suatu tumpukan batu sebagai tempat perlindungan. Di balik itu mereka bisa menembak dengan aman. Saat mereka melihat pasukan Saudi mundur—yang sebenarnya hanya untuk mengambil kesempatan makan pagi yang sudah begitu terlambat—Al-Ikhwan menganggap ini adalah gerakan mundur besar-besaran.
Dengan gembira pasukan Al-Ikhwan menyerbu meninggalkan kubu mereka, mengejar. Tapi mereka langsung dibabat oleh dua belas senapan mesin yang sengaja disembunyikan dan tempat kedudukannya sangat dirahasiakan. Singkatnya ratusan orang roboh, yang selamat cerai berai melarikan diri. Abdul Aziz menyuruh pasukannya mengejar. Pertempuran Sabillah hanya berlangsung setengah jam saja. Inilah kekalahan Al-Ikhwan yang pertama.
Para perempuan Al-Dawisy memohon untuk menyerah. Faisal Al-Dawisy tertembak di punggungnya tapi masih hidup. Abdul Aziz memberikan mereka ampun, tapi tak membiarkan pemukiman Ibnu Bijad utuh, ia menghancurkannya dan menahan Ibnu Bijad. Lalu Abdul Aziz memberi hadiah pada pasukannya yang setia, memberi ganti rugi kepada yang telah berkorban, menyuruh mereka pulang, dan ia sendiri berangkat hají ke Mekah. Ia pikir, Al-Ikhwan telah tamat.

Berontak Kembali
Pemuka Al-Ikhwan yang satu lagi, Dhaidhan bin Hithlain, sedang berada di daerah Timur saat pertempuran Sabillah berlangsung. Kekalahan dua sekutunya mendorongnya untuk segera berdamai. Maka di bulan Mei 1929, ia merundingkan perdamaian dengan Fahad bin Abdullah bin Jaluwi.
Ia diundang ke tenda Fahad. Setelah berunding pada malam harinya Ibnu Hithlain pamit untuk pulang kemahnya. Namun Fahad memintanya untuk menginap. Ditolak oleh Ibnu Hithlain karena ia harus memenuhi janjinya kepada sukunya—Ajman—untuk segera kembali setelah perundingan. Bila tidak memenuhi janji itu maka suku Ajman akan meluruk mereka, ke tempat itu.
Fahad merasa bahwa ini merupakan ancaman terselubung, maka ia memerintahkan pengawalnya untuk menahan Ibnu Hithlain dan kesebelas pengiringnya. Dan meminta mereka dibunuh jika orang-orang Ajman itu datang. Dan benar ketika suku Ajman datang, mereka dibunuh. Padahal di saku Ibnu Hithlain ada surat jaminan keselamatan dirinya yang ditandatangani oleh Abdul Aziz, Abdullah bin Jaluwi, dan Fahad sendiri. Orang Ajman membunuh Fahad sebagai balasan, ditembak tepat di antara kedua matanya.
Al-Ikhwan marah besar, bahkan suku-suku Nejd lainnya karena mereka menganggap bahwa undangan Fahad itu tipu daya semata agar ia bisa membunuh Ibnu Hithlain, dan ini sebuah kepengecutan. Faisal al-Dawisy mengobarkan gerakan angkat senjata dan kini dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ini berbahaya bagi Abdul Aziz karena ia masih berada di Mekah, jauh dari Riyadh dan jika ia ingin kembali ke sana maka ia harus bertempur di sepanjang perjalanannya.
Kali ini pergaulannya dengan Inggris—kaum kafir—berbuah besar. Inggris yang menginginkan kestabilan di semenanjung Arab memaksa merubah politik devide et-impera-nya. Di musim panas di tahun 1929, dukungan terhadap Abdul Aziz dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Britania datang bertubi-tubi. Inggris melarang penguasa di Irak dan Kuwait untuk mengambil keuntungan dari kekisruhan di Nejd. Senjata mengalir dari India. Dengan dukungan tersebut Abdul Aziz menyeberangi Arabia dengan iring-iringan kendaraan bermotornya dan dikawal dengan enam senjata mesin.
Abdul Aziz bergerak ke timur laut. Kekuatan Inggris dikerahkan untuk mencegah Al-Ikhwan tidak lari ke arah yang sama. Agen-agen Inggris mengirimkan telegram ke Riyadh tentang pergerakan Al-Ikhwan. Abdul Aziz sendiri mengatur gerak pasukannya dengan jaringan radionya.
Azaiyiz anak Faisal ad-Dawisy memimpin 600 prajuritnya diikuti pula oleh kaum Ajman dan beberapa pejuang tua Mutair melancarkan serangan ke bagian utara Arabia. Di bulan Agustus 1929 pasukan itu merobek-robek Arabia utara, mengumpulkan kawan dan menghancurkan kawan. Serangan mereka sampai jauh di utara Hail dan berhasil merampas ratusan ekor unta dari kaum Syammar dan Amarat, merampas sebuah kafilah yang berisi uang 10.000 real hasil tarikan pajak Saudi yang akan diantarkan kepada Gubernur Hail.
Namun bawaan besar itu membuat perjalanan Azaiyiz semakin berat apalagi mereka sudah kekurangan air. Sumber-sumer air yang berusaha diduduki Faisal telah dikepung rapat oleh pasukan Gubernur Hail. Semangat mereka semakin mengendur. Di oase Umm Urdhumah mereka sekarang berhadapan. Di satu sisi Abdul Aziz bersama pasukannya yang segar-segar karena menguasai sumber air dengan di sisi lain pihak Al-Ikhwan yang kehausan karena kantung air yang sudah kosong. Apalagi onta-onta mereka yang sudah empat hari tidak minum.
”Allah bersama kita, Al-Ikhwan pilihan-Nya,” teriak Azaiyiz menyemangati. ”Kita harus terus maju dan memenangkan sumber air itu. Allah akan memberkati pengikut-Nya.”

Pertempuran terjadi di siang hari yang panas, tak karuan, dan kejam, tak berampun, satu lawan satu, di mana tak ada yang memberi dan meminta ampun. Kaum Al-Ikhwan sia-sia memekikkan teriakan kemenangan karena Abdul Aziz terus menambah bala bantuannya. Sore harinya walaupun Al-Ikhwan sudah membabat ratusan lawan, tapi tak sanggup menguasai oase. Azaiyiz tak bertenaga lagi karena lelah, lapar, dan haus diseret oleh lima orang budaknya dan bersembunyi di perbukitan pasir. Dua bulan kemudian mayat mereka ditemukan di tengah padang pasir, kering kerontang, agaknya sedang berjalan pulang.
Sebanyak 250 prajurit Al-Ikhwan tertawan dan dipenggal semuanya. Dan Ibnu Musa’id yang memimpin pertempuran tersebut saat mendengar bahwa di balik bukit masih terdapat 40 orang yang bersembunyi, memerintahkan pasukannya untuk menembaki orang-orang itu tanpa ampun. Kekalahan yang memilukan.

Mati di Penjara
Sisa-sisa Al-Ikhwan masih menjarah rayah sampai musim dingin tahun 1929. Tapi Faisal al-Dawisy yang sudah kehilangan anaknya telah kehilangan pula semangatnya. Ia mulai menasehati yang lain agar menyerahkan diri saja, mungkin Abdul Aziz mau mengampuni mereka. Sedangkan Faisal sudah memastikan bahwa dirinya tak akan mendapat ampun.
Pemberantasan terhadap sisa-sisa Al-Ikhwan dilakukan. Faisal—dalam rangka melindungi wanita, anak-anak, dan ternaknya—meminta perlindungan kepada Inggris melalui Kapten Dickson untuk bisa masuk Kuwait. Pemerintah Inggris menolak. Pasukan Abdul Aziz semakin menjepitnya. Di akhir Desember 1929 sekelompok orang Mutair berusaha meloloskan diri dari kepungan tapi ketahuan dan tak dibiarkan satupun hidup.
Beberapa puluh kilometer dari tempat itu Faisal Al-Dawisy ditemukan dengan kelompok kecilnya oleh pasukan Inggris. Padahal ia baru saja diserang oleh suku Badui lainnya yang masih setia pada Abdul Aziz. Kini ia cuma punya tiga pilihan: menyerah pada Abdul Aziz, pada Inggris di Irak, atau pada Inggris di Kuwait.
Ia memilih yang terakhir. Ia meminta Inggris berjanji bahwa ia tidak akan diserahkan kepada Abdul Aziz jika Abdul Aziz tidak berjanji untuk tidak membunuhnya.
Pada tanggal 28 Januari 1930, Angkatan Udara Inggris membawa Faisal Al-Dawisy dan dua orang bawahannya ke pangkalan Abdul Aziz dekat perbatasan Kuwait. Abdul Aziz telah menyiapkan suatu majelis berlebih-lebihan untuk menyambutnya. Abdul Aziz menangis tersedu-sedu saat memeluk Faisal Al-Dawisy dan mengajaknya berciuman di hidung sebagai kebiasaan orang Badui.
Abdul Aziz memegang janjinya kepada Inggris. Faisal tak dihukum mati. Ia memenjarakannya seumur hidup. Lalu 18 bulan kemudian Faisal Al-Dawisy meninggal di penjara karena daging tumbuh di tenggorokannya yang terus menerus mengucurkan darah. Al-Ikhwan musnah sudah.
Dua tahun kemudian, September 1932, Abdul Aziz menyatakan seluruh daerah Arabia, Nejd dan Hijaz adalah milik Al-Saud dan menyatakan daulah barunya sebagai Kerajaan Arab Saudi. Dengan lambang berupa dua pedang yang bersilang dan menyempurnakan lambangnya dengan gambar pohon kurma di atasnya sebagai lambang para penghuni daerah oase, para penghuni kota yang telah mapan. Tidak dengan lambang unta di atas dua pedang tersebut, suatu lambang bagi kaum Badui yang pasukan sucinya telah sangat membantu menegakkan kerajaan dan pula yang hampir saja membuat kerajaannya hancur.

***
Demikian sejarah singkat dari keberadaan Al-Ikhwan, yang pada awalnya bahu-membahu dan seide dalam pemahaman keberagamaan dengan pemimpinnya, Abdul Aziz, namun pada akhirnya dengan pemahamannya tersebut serta kesederhanaan alami mereka yang menyebabkan mereka melakukan pemberontakan terhadap pemimpinnya sendiri.
Maka pantas saja—seperti disebutkan di bagian pertama tulisan ini—sang Amir harus bersikeras dengan panitia masjid untuk mengubah nama masjid dalam proposal itu dengan nama yang lain asal tidak dengan nama Al-Ikhwan, karena Al-Ikhwan identik dengan Osama bin Laden. Dua-duanya—menurut mereka—adalah pemberontak.

Alhaqqu min rabbika.
Allohu’alamu bishshowab.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [3]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [3]
[tulisan ketiga]

Setelah dalam dua tulisan sebelumnya diuraikan latar belakang berdirinya Al-Ikhwan dan mesranya hubungan mereka dengan pemimpinnya Abdul Aziz maka pada tulisan yang ketiga ini akan diuraikan bagaimana benih-benih perpecahan yang sudah mulai tumbuh kian membesar. Sampai diperlukan bai’at kembali kepada Abdul Aziz.

”Mereka adalah anak-anakku”
Ketika kaum Ikhwan di tahun 1925 memasuki Jeddah, mereka langsung memutuskan kabel-kabel telepon, temasuk saluran yang menuju rumah Abdul Aziz. Menurut mereka telepon adalah penemuan baru—seperti mobil dan radio—yang tak bisa dimengerti cara kerjanya.
Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan Abdul Aziz mereka memberikan peringatan, ”Dengan direbutnya tanah Suci, Muslim yang baik haruslah menjaga diri jangan sampai terbujuh oleh pengaruh asing,” kata Faisal al-Dawisy. Semua harus waspada, jangan sampai ke luar dari jalur murni ajaran Islam. Mereka harus siap untuk menghukum siapapun yang melakukan hal itu.
Adik Abdul Aziz, Abdullah bin Abdul Rahman yang telah ditunjuk sebagai panglima pasukan Saudi di Hijaz merasakan bahwa sikap Al-Ikhwan ini begitu menantang. Tiap hari ia harus berhadapan dengan sikap menyakitkan hati dari kaum Ikhwan di bawahnya. Ia harus selalu menghibur mereka, membujuk mereka agar mau mengikuti perintah. Dan ia merasa bahwa sikap menantang ini kalau dibiarkan terus akan berbahaya. Mereka harus ditindak tegas sebelum tak bisa dikendalikan lagi.
Tetapi Abdul Aziz hanya menertawakan kekhawatiran adiknya itu. ”Kaum Ikhwan adalah anak-anakku,” katanya. Maka jika salah satu Ikhwan itu mengatakan bahwa kumisnya terlalu panjang, Abdul Aziz segera memanggil tukang cukur untuk memotongnya di depan umum dan menganggapnya sebagai suatu gurauan belaka.

Mahmal
Keangkuhan Al-Ikhwan menjadi-jadi di musim pertama haji di tahun 1926 setelah Jeddah jatuh. Masalahnya dimulai dari kain hitam berhias emas yang menutupi Ka’bah. Secara tradisional kain ini dijahit oleh ahli-ahli Mesir dan sebagai hadiah tahunan Mesir kepada Hijaz. Setiap tahun pemberangkatannya dari Emsir dilakukan dengan upacara besar-besaran, dinaikkan ke sebuah tandu kehormatan yang diberi Mahmal.
Setiap tahun mereka membuat barisan panjang, ribuan banyaknya, diatur dan dilindungi oleh sepasukan kecil pengawal yang bersenjata. Dan ini merupakan tantangan bagi Al-Ikhwan. Bagi mereka, tandu yang berhias indah, penghormatan yang begitu berlebihan kepada Mahmal, setara penyembahan tehadap berhala. Apalagi pasukan pengawal bersenjatanya yang sepertinya melukai rasa kebanggaan mereka. Ditambah suara terompet mereka yang mencemari kesucian Mekah. Ini tak berampun lagi. Al-Ikhwan melempari mereka dengan batu. Orang Mesir bertahan. Terjadilah pertempuran sengit. Abdul Aziz muncul dan menyerukan agar Al-Ikhwan mundur. Sektiar 40 orang jama’ah tewas dan sejak saat itu mahmal tidak lagi diarak megah di jalan-jalan Mekah.
Kaum Ikhwan menganggap ini sebagai kemenangan kecil. Sebab menurut ukuran mereka, penakhlukan Hijaz ternyata jauh di bawah harapan mereka. Hanya beberapa jam setelah membantai mereka yang sesat di Taif, setelah itu Abdul Aziz mengekang harapan mereka melakukan ’penyucian’ terhadap Hijaz, tak boleh merampas, bahkan tak ada kebanggaan jika menang. Abdul Aziz telah bersekongkol dengan penduduk Madinah untuk mencegah Al-Ikhwan merusak kuil-kuil mereka, ia bahkan melarang Al-Ikhwan menyerang Badui-badui Hijaz. Ini mengecewakan mereka.

Insiden Perbatasan
Al-Ikhwan gagal di segala bidang. Abdul Aziz telah berdamai dengan para pemuka Hijaz serta ingin memberikan gambaran yang baik tentang dirinya pada para perwakilan negara asing sehingga ia bertindak seolah-olah pasukannya sendirilah musuhnya. Karenanya setelah luntang lantung di Hijaz selama setahun, Al-Ikhwan pulang ke Nejd dengan membawa sedikit sekali rampasan, kemegahan kemenangan, cuma rasa kecewa yang besar dan kekhawatiran tak akan ada lagi tugas untuk mereka.
Jantung persoalannya adalah dengan Al-Ikhwan Abdul Aziz bisa menguasai Nejd dan Hijaz. Dan jika Abdul Aziz ingin mengembangkan lagi wilayahnya di luar dua daerah itu maka ia harus berhadapan dengan Inggris, sama sekali tak mungkin. Inggris tak mau kehilangan lagi sekutu Hasyimiyahnya jatuh.
Karena kecewa dan haus akan kemegahan menjadi pemenang serta kenikmatan merampas yang tak mereka peroleh di Hijaz, Al-Ikhwan mengarahkan pandangan ke arah Timur Laut, daerah yang secara tradisional menjadi sasaran kemarahan Wahabi, daerah perbatasan kaum Syiah yang mereka anggap menduakan Allah. Maka awal 1927, serangan ke daerah perbatasan Irak semakin menjadi dan hebat.
Korban mereka, kelompok pengembara biri-biri dan pekerja di Pos Polisi di Busaiya. Faisal al-Dawisy secara pribadi meimpin beberapa penyerangan untuk menunjukkan hak kaumnya untuk pergi ke mana pun mereka suka. Pesawat Inggris membalas dengan mengebom para penyerang dan kemudian mengejar mereka sampai masuk ke wilayah Nejd.
Inggris pun mengajukan protes. Mulanya Abdul Aziz membela rakyatnya karena pembangunan pos-pos polisi itu memang melanggar adat kebiasaan suku-suku Badui. Abdul Aziz menghadapi persoalan rumit untuk menjelaskan terhadap Al-Ikhwan tentang adab-adab dunia Internasional pada saat itu. Mereka tak mengerti dan tak peduli bagaimana pemimpin mereka harus menyesuaikan diri dengan batasan-batasan dunia yang lebih luas dari mereka. Mereka bahkan siap untuk menggulingkan sang pemimpin bila ia tidak mau memimpin mereka menghancurkan pos-pos kaum kafir itu.
Abdul Aziz berusaha menerangkan kepada delegasi Inggris di Perundingan Jeddah Mei 1928 bahwa perbuatan mereka di luar sepengetahuannya. Tapi Inggris tak mudah percaya karena ia sepertinya menarik keuntungan dari gerakan Al-Ikhwan itu. Dan tetap saja di tahun tersebut penyerangan dan pertumpahan darah terjadi.

Pembaharuan Ba’iat
Perundingan Jeddah gagal. Abdul Aziz harus kembali ke Nejd dan menerangkan kegagalannya kepada Al-Ikhwan tentang tak mampunya ia membongkar pos polisi di Busaiya. Mungkin mendengar ini mereka akan melakukan perang suci dengannya atau tanpanya.
Ia yang telah menanamkan dan mengembangkan kefanatikan di orang-orang berpikiran sederhana itu. Ia yang telah membuat mereka menganggap semua yang bukan Wahabi sebagai penjelmaan Iblis. Ia yang mendapatkan keuntungan dari kefanatikan mereka itu penakhlukan Rasyid, menjatuhkan Hijaz, mendamaikan dunia luas dan kini menghadapi kekeraskepalaan Al-Ikhwan. Pun kini ia harus menerangkan dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka tak mungkin melawan Inggris, karena sia-sia saja.
Dengan penuh persoalan pelik dihadapannya ditambah kepergian sang Ayah, Abdurrahman, di bulan Juni 1928, ia merasa putus asa. Kalau saja ayahnya tidak meninggal, mungkin kehadirannya bisa membantu untuk menghadapi pertentangan yang semakin tajam antara Al-Ikhwan dan dirinya. Maka ia mengambil suatu tindakan drastis yang mungkin akan dapat membantunya mengatasi semuanya.
Ia mengundang seluruh tokoh dan ulama Nejd di Riyadh di Nopember 1928 untuk merundingkan sistem perbentengan Irak serta keluhan lain dari Kaum Ikhwan. Sekitar 800 orang yang hadir kecuali tiga tokoh utama Al-Ikhwan: Faisal Al-Dawisy, Suktan bin Bijad, dan Dhadhan bin Hithlain.
Tapi ada satu hal lagi yang perlu diungkap kepada mereka. Abdul Aziz berdiri tegak di hadapan musyawarah tersebut dan menawarkan secara resmi untuk turun tahta, dan berkata, ”pilihlah salah seorang anggota keluargaku.”
Semua terpaku dan tercengang. Seketika semua berteriak ramai menolak usulnya. ”Kami hanya menginginmu sebagai pemimpin kami!” para delegasi itu berteriak. Seluruhnya berdiri di belakangnya. Memperbaharui ba’iatnya. Abdul Aziz tahu sepeninggal ayahnya tak ada satu tokoh di keluarganya yang bisa menampung kesetiaan dari seluruh golongan—kecuali dirinya. Dan ia menawarkan untuk mengundurkan diri karena yakin bahwa hal itu akan ditolak oleh semua orang. Tapi setidaknya dengan ini memberikan pandangan kepada dunia bahwa pada dirinya puncak keabsahan kekuasaan Saudi terletak.
Setelah menutup persidangan itu, ia minta kepada para ulama memberi pesan tentang telepon dan radio, dan mereka menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak ada keterangan bahwa kedua benda itu diharamkan. Para wakil Al-Ikhwan kecuali tiga orang di atas telah memperbaharui janji setianya pula dan akan memihak kepada Abdul Aziz bila terjadi pertentangan dengan tiga tokoh Al-Ikhwan itu asal dengan syarat Abdul Aziz dapat menghancurkan pos polisi tersebut dalam jangka waktu dua bulan. Abdul Aziz menyanggupi sesuatu yang rasanya takkan mungkin terjadi.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [2]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [2]
[tulisan kedua]

Gelar Khalifah dan Taif
Di tahun 1924 salah satu keturunan dari Bani Hasyim yakni Syarif Husain bin Ali masih sebagai Penguasa Hijaz. Anaknya Abdullah adalah penguasa Amman. Anaknya yang lain Faisal menjadi penguasa Irak. Rival dari keluarga mereka penerus keluarga Saud yakni Abdul Aziz, penguasa Nejd.
Di antara dua keluarga itu saling timbul kebencian apalagi bila Inggris memberikan Pounds yang lebih besar kepada salah satu dari mereka. Tentu uang-uang itu salah satunya dipergunakan membeli kesetiaan Suku Badui untuk mempertahankan kekuasaan mereka dan merebut kekeuasaan saingan mereka.
Dan bagi Syarif Husain uang itu tak cukup. Ia mencoba mengumpulkan uang dengan jalan memasang pajak untuk apa saja, termasuk pajak dari jama’ah haji. Ini menyebabkan ia tak populer, apalagi ditambah sikapnya yang kian hari tidak bersikap layaknya sikap seorang raja.
Terakhir adalah sikapnya pada tanggal 5 Maret 1924 yang memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah, Keturunan dan Pangganti Nabi, Wali Islam, Pemimpin Kaum Muslimin Dunia—gelar sanjungan yang diperkirakan akan membuat kagum warganya di Hijaz. Ia berani karena dua hari sebelumnya tanggal 3 Maret 1924, Kamal Ataturk resmi membuang gelar Khalifah, berarti menurutnya ini adalah sebuah kekosongan kepemimpinan umat Islam yang selama 400 tahun dipegang oleh Daulah Utsmani.
Ini tak mendapat sambutan. Seorang pemuda Suriah yang mengakhiri pidatonya dengan seruan ”Hidup Khalifah Husain” disambut dengan diam, tanpa suara sama sekali oleh hadirin. Di dunia Islam, berita itu mendapat sambutan dingin. Kaum muslimin di Jawa meramalkan bahwa Syarif Husain akan menerima kutukan Allah karena kelancangannya. Di India kaum Nasionalis Islam merasa bahwa Inggris ada di belakang dari keberaniannya ini walaupun dibantah oleh Inggris. Di Nejd yang muncul adalah kutukan dan kemarahan yang tak bisa dipadamkan.
Tanggal 5 Juni 1924 diadakan persidangan tokoh-tokoh Riyadh. Lima tahun sebelumnya Abdul Aziz mengadakan persidangan yang sama tapi yang dibahas adalah tentang sikap Al-Ikhwan yang menyebarkan paham mereka secara kekerasan dan ia ingin agar ulama mendisiplinkan persaudaraan tersebut. Kini yang dibahas adalah sikap terhadap Syarif Husain tersebut.
Dan ini ditanggapi oleh para pemimpin Al-Ikhwan yang membeberkan segala dosa Syarif tua tersebut, yakni pelarangannya terhadap warga Nejd—terutama kaum Ikhwan untuk melakukan ibadah haji. Abdul Aziz berpikir inilah saatnya untuk bisa menguasai Hijaz apalagi ia merasa dunia Islam saat itu gerah dengan tindakan Syarif yang sembrono.
Saatnya untuk melakukan tindakan yang tertunda lima tahun sebelumnya, karena pada saat itu ia membawa Al-Ikhwan, dan bila membawa pasukan tersebut ia seperti mengingat kenangan yang tak menyenangkan saat kaum Wahabi memasuki Mekah dan Medinah, seratus tahun lalu.
Salah satu dukungan kepadanya adalah datang dari Komite Khilafah India. Karena komite selalu menganggap bahwa tindakan Syarif adalah siasat Inggris yang cerdik, siasat Inggris yang selalu ingin campur terhadap kepentingan Arabia dan umat Islam.
Di bulan Agustus 1924 Abdul Aziz memerintahkan Khalid bin Lu’ay untuk memimpin 3000 pasukan Al-Ikhwan menuju Taif yang pada saat itu dijaga oleh Ali bin Syarif Husain. Tetapi melihat kekuatan Al-Ikhwan, pada tanggal 04 September 1924 dalam kegelapan Ali beserta pasukannya meninggalkan Taif dan penduduknya.
Apa yang terjadi kemudian adalah pembantaian yang terjadi sungguh tanpa ampun. Qady dan para syaikh kota mencoba berlindung di masjid. Tetapi mereka diseret ke luar dan dicincang. Rumah-rumah dihancurkan. Toko dan pasar diserbu. Mayat-mayat dilemparkan ke sumur-sumur terbuka. Dan dalam beberapa jam saja sekitar 300 orang tewas. Hijaz panik. Husain minta bantuan Inggris. Inggris diam saja melihat perkembangan yang terjadi. Mereka menganggap bahwa Syarif Husain lemah dan Abdul Aziz kuat serta memang pantas untuk memimpin seluruh Nejd dan Hijaz. Abdul Aziz tahu pada saat itu bahwa Inggris telah meninggalkan sekutunya.
Para penghuni Jeddah terutama para saudagarnya yang kaya raya mengirimkan salah seorang utusannya untuk meminta Ali agar ayahnya turun tahta saja. 3 Oktober 1924, di ruang utamanya yang gelap dan sunyi, Syarif Husain menandatangani persetujuan untuk turun tahta. Sungguh tanpa pertarungan sedikitpun. Pada tanggal 16 Oktober 1924 Syarif Husain berangkat menuju Aqaba dan langsung ke Siprus untuk mengasingkan diri.

Mekkah, Madinah, dan Jeddah
Di bulan Oktober 1924, Mekah jatuh. Dan Abdul Aziz melarang pasukan Al-Ikhwan untuk masuk ke kota. Tetapi ada beberapa yang lolos dan menghancurkan beberapa rumah minum, membakar semua rokok, dan pipa yang mereka temui. Beberapa kuburan berkubah juga dihancurkan atau dirusak. Tetapi tak ada korban satu pun seperti di Taif, Ibnu Lu’ay benar-benar menjaga keamanan di kota tersebut.
Tiga bulan kemudian, Abdul Aziz datang ke Mekah. Ia bergerak sangat hati-hati. Ia tak pernah melupakan bagaimana dahulu keluarganya runtuh setelah mencoba mengasai Mekah—kekuatan asing (Turki) langsung ikut campur tangan dan menjatuhkan Dar’iyyah. Dan pembantaian di Taif adalah awal yang buruk di pandangan dunia. Oleh karena itu ia tidak menampilkan citra seorang penakluk.
Dan ia benar-benar menjaga Mekah dengan sebaik-baiknya. Hingga ia berhasil mengatur perjalanan haji di musim panas 1925. Keberhasilannya disebarkan dari mulut ke mulut para jama’ah haji. Sehingga menegaskan bahwa generasi baru wahabi tidak seganas yang dikira oleh dunia Islam.
Robert Lacey menulis pada tanggal 05 Desember 1925 Madinah menyerah. Kota tersebut hanya bisa mempertahankan diri pada minggu-minggu terakhir dari kepuangan kaum Ikhwan karena Abdul Aziz sendiri menyelundupkan makanan untuk para penghuni kota tersebut. Yang mengepung kota itu adalah kaum Ikhwan di bawah pimpinan Faisal al Dawis. Abdul Aziz tidak mau Kota Suci kedua ini jatuh di tangan Al-Ikhwan.
Madinah adalah tempat makam nabi dan tempat-tempat peringatan bagi para pahlawan Islam lainnya. Al-Ikhwan sudah lama mencurigai kota ini. Madinah merupakan pangkalan khusus kaum muslimin Syiah yang mereka anggap suka memuja berhala. Harta benda mereka juga pastilah akan merupakan daya tarik bagi keliaran Al-Ikhwan. Maka secara rahasia Abdul Aziz mengatur agar bahan makanan diselundupkan ke dalam kota agar kota itu masih bisa bertahan.
Dan ia segera memerintahkan anaknya Muhammad untuk segera memimpin pasukannya ke kota tersebut. Pada tanggal 6 Desember 1925, ia memasuki kota Madinah dan kemudian berjalan ke masjid nabi yang berkubah hijau untuk sembahyang. Al-Saud kini telah menguasai semua kota suci.
Berita itu membuat Jeddah kacau. Kota itu masih dikuasai keturunan Hasyimiah, yaitu Syarif Ali bin Husain.Pasukannya tak mau bertempur karena selama gaji setahun belum dibayarkan. Ia turun tahta dan meninggalkan Jedadh pada hari Minggu tanggal 20 Desember 1925 naik kapal Inggris, HMS Cornflower. Sejak saat itu Abdul Aziz memperoleh gelar baru: Raja Hijaz.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]
[tulisan kesatu]

Pendahuluan

Dulu saya pernah bercerita, masjid kami yang belum jadi kedatangan satu keluarga dari Arab Saudi. Mereka berniat untuk menyalurkan dana yang mereka miliki untuk kelanjutan pembangunan masjid komplek yang sudah lama belum rampung.
Ketika disodorkan proposal yang sudah kami siapkan, salah seorang dari mereka menolak saat melihat sampul proposal tersebut. Lalu mengusulkan agar nama masjid yang tertera di proposal tersebut diganti saja. Dengan nama apa pun boleh asal jangan nama itu. Di sana tertulis dengan huruf besar nama masjid kami Masjid Al-Ikhwan.
Saat ditanya mengapa demikian? “Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, takutnya nanti orang tidak mau pada menyumbang.
Dulu saya berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Setelah pertemuan tersebut saya sempat menyimpulkan bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama?

Al-Ikhwan
Tetapi saya barulah mengerti banyak mengapa nama Al-Ikhwan menjadi momok di Arab Saudi. Dan kaitan terdekat dari semua itu adalah masalah politik bukan pemikiran agama. Buku yang menjadi rujukan saya adalah buku lawas [1981] yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul The Kingdom yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia.
Sebanyak 102 halaman di bagian kedua buku tersebut dengan judul Al-Ikhwan diungkap manis pahitnya hubungan antara Abdul Aziz bin Saud dengan Al-Ikhwan sebagai kesatuan tempur yang tekstualis dalam tafsir agama, penerus gerakan wahabi, militan, tangguh, dan ganas.
Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini.
Kelompok ini di tahun 1912 datang dan menempati daerah penggembalaan yang disebut Al-Artawiyah. Di sana terdapat beberapa sumur tempat kafilah-kafilah dari Nejd dan Qasim bertemu. Kalau sekarang Al-Artawiyah ini berada di jalur perjalanan antara Riyadh dengan Kuwait.
Gerakan Al-Ikhwan ini sesungguhnya adalah pembaharuan dari gerakan kemurnian beragama yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdulwahhab. Seperti diketahui bersama di tahun 1744 terbentuklah persekutuan antara Muhammad bin Abdulwahab dengan Muhammad bin Saud sebagai penerus dinasti Saud penguasa Dar’iyah.
Kelompok Al-Ikhwan selalu berpegang teguh akan arti harfiah yang tersurat di Qur’an, sementara Hadits mereka anggap sebagai buku petunjuk dan perintah yang harus mereka laksanakan setepat-tepatnya. Mereka tak mau memakai aghal—tali ikat kepala, hitam, karena menurut mereka nabi tak pernah memakainya. Mereka juga memotong jubah mereka setinggi lutut. Mencukur kumis dan memanjangkan jenggot.
Lacey menulis bahwa penampilan mereka selalu menunjukkan betapa mereka menjauhi keduniawian, menolak tembakau, dan pula menolak radio dan telepon, karena Nabi tak pernah memakainya. Tapi anehnya tidak menolak kehadiran senapan dan penggunaannya. Di Al-Artawiyah menyanyi, menari, dan bahkan permainan anak-anak dilarang. Mereka menganggap bahwa mereka prajurit Allah yang tugas utamanya adalah membersihkan dan memurnikan agama.
Ada satu perbedaan penting antara gerakan Al-Ikhwan di awal abad dua puluh dengan kaum Wahabi. Bahwa Muhammad bin Abdulwahhab adalah seorang yang tinggal di kota dan pesan yang disampaikan khusus diperuntukkan bagi penghuni kota sedangkan kelompok ini adalah dari kaum Badui dan tugas merekalah untuk menyebarkan pemahaman mereka di tengah masyarakat badui yang pada saat itu masih saja percaya dengan takhayul. Cuma itu saja. Dan pada saat itu mereka belum menjadi kekuatan tempur. Karena Abdul Aziz belum datang kepada mereka.

Kekuatan Tempur
Yang jelas gerakan ini tak akan mungkin berkembang tanpa campur tangan Abdul Aziz. Ia memberi mereka tanah, mengirimkan penyuluh ke padang pasir untuk mengumpulkan lebih banyak anggota baru untuk pemukiman mereka.
Di tahun 1912 ia menempatkan dirinya secara kukuh di pucuk pimpinan gerakan ini. Dengan memberikan sebuah bentuk keterikatan kepada kelompok ini dengan menghancurkan benda kesayangannya di depan umum berupa gramopon putar tangan yang dibawanya dari Kuwait dan sering dimainkannya di dalam tendanya. Kaum Ikhwan mengangguk setuju dengan perbuatannya.
Di tahun 1917 dengan biaya pribadinya memesan dari India sejumlah besar buku cetakan karangan Ibnu Abdulwahab, pendidikan dasar tentang iman, agar pemikirannya bisa tersebar luas di tengah padang pasir.
Bagi Abdul Aziz pengorbanan benda kesayangannya ini tak seberapa dengan hasil yang ia dapatkan dengan menggenggam kekuasaan kelompok ini. Dengan kekuatan tempur dari gerakan ini—perlu diketahui bahwa sebelumnya Abdul Aziz mempunyai kekuatan tempur lain dari suku-suku Badui liar yang hanya bisa dibeli dengan emas untuk bertempur dengan Kaum Rasyid, tetapi tidak untuk loyalitas kepadanya—sebanyak 60.000 sejak tahun 1912 ia dapat menjinakkan suku-suku Badui liar dan menunjukkan kekuatannya pada rival utamanya yaitu Penguasa Hijaz Syarif Husain bin Ali.
Di tahun 1916 mereka dapat menguasai Khurmah—suatu daerah yang disepakati oleh Abdul Aziz dengan Inggris sebagai daerah perbatasan daerahnya Nejd dengan daerah Syarif yaitu Hijaz. Bahkan mereka sanggup menguasai Turabah suatu daerah yang jaraknya ’hanya’ 150 km dari Mekah. Walaupun sempat dikuasai kembali oleh Syarif dengan pasukan dibawah kepemimpinan Abdullah bin Husain, namun tanggal 26 Mei 1919 Turabah direbut kembali.
Penuturan salah seorang yang lolos dari sergapan Al-Ikhwan ini adalah ”aku melihat darah mengalir di Turabah bagaikan anak sungai di antara batang-batang kurma. Aku melihat mayat-mayat ditumpuk di benteng sebelum aku melompat ke jendela.”
Taif geger mendengar berita tersebut. Dengan hancurnya pasukan Abdullah maka Hijaz sama sekali tak punya kekuatan lagi. Dengan mudahnya kaum Ikhwan bisa maju dan meruntuhkan Mekah. Tapi Abdul Aziz merasa belum saatnya untuk menakhlukkan Mekah karena ia ingin agar kota tersebut tidak direbut dengan kekerasan, cara itu takkan menjamin ia berkuasa lama di sana.
Terlalu dini bagi Saudi untuk bisa merebut Hijaz tanpa mendapat tentangan dari Inggris atau dunia Islam lainnya. Maka ia berusaha membujuk Al-Ikhwan untuk kembali ke pangkalan dengan alasan ia memerlukan mereka untuk menghadapi tantangan kaum Rasyid. Ini benih perpecahan Abdul Aziz dengan Al-Ikhwan. Mengapa hanya berhenti sampai di sini? Menurut kelompok ini, inilah saatnya membersihkan Mekah, Madinah, dan semua daerah di pantai Laut Merah dari segala macam khurafat.
Dan benar kekuatan mereka digunakan oleh Abdul Aziz untuk mengalahkan saingan utamanya di Nejd yaitu kaum Rasyid. Setelah menakhlukkan Jabal Syammar di musim panas 1920, di awal Nopember 1921, Hail, sebagai pusat kekuasaan kaum Rasyid ditakhlukkan. Para saudagar Hail agaknya sudah bosan dengan keluarga Bani Rasyid yang memerintah mereka dan tak mau mengundang kemarahan kaum ikhwan hingga para saudagar tersebut memutuskan untuk membukakan pintu gerbang Hail. Kini Abdul Aziz adalah penguasa Nejd sejati dengan mengganti gelar untuknya semula adalah Amir Riyadh menjadi Sultan Nejd.
Di tahun 1922, tanpa sepengetahuan Abdul Aziz sekitar 1500 prajurit Al-Ikhwan memasuki Transyordania (kini Yordania) yang saat itu dikuasai oleh Keluarga Hasyim dan sampai berada 15 km dari Amman. Setelah hampir banyak menguasai perkampungan di sekitar daerah tersebut mereka terhalang oleh patroli pesawat terbang Inggris, mereka mundur. Apalagi ditambah dengan dukungan pasukan kendaraan berlapis baja Inggris yang memang tak dapat dibandingkan dengan kuda-kuda mereka.
Abdul Aziz mendengar berita itu langsung menjebloskan pimpinan tentara Al-Ikhwan yang tersisa. Dan ia minta maaf kepada para penguasa Inggris. Tetapi sesungguhnya Abdul Aziz memaklumi keinginan dari Kaum Al-Ikhwan untuk pergi ke mana pun mereka inginkan, menjarah rayah daerah manapun yang mereka kehendaki. Ke daerah-daerah kosong yang ditinggalkan oleh Turki sejak Perang Dunia Pertama selesai.
Maka energi mereka disalurkan untuk merebut daerah Asir, sudut barat daya Arabia, daerah subur yang terjepit antara Hijaz dan Yaman. Daerah seluas 4000 mil itu pun dapat dikuasai oleh Abdul Aziz. Setelah itu mereka berniat untuk menguasai Kuwait, sekutu Abdul Aziz awalnya saat Kuwait diperintah oleh Mubarak dari keluarga Sabah. Namun saat Mubarak meninggal dan digantikan oleh anaknya, Salim, Abdul Aziz memutuskan untuk merebut daerah perbatasan yang sering menjadi sengketa yang tak kunjung padam. Menjadi sengketa karena bagi masyarakat Badui batas daerah pada saat itu cuma ada di hati manusia.
Tapi Inggris tak mau ini terjadi. Menurut Inggris, Asir bolehlah direbut, tapi Kuwait dan Irak lain ceritanya. Maka di tahun 1921 beberapa kapal perang dikirim untuk melindungi Kuwait. Pasukan Al-Ikhwan yang dipimpin oleh Faisal al-Dawisy pun harus berhadapan dengan polisi padang pasir plus dukungan Angkatan udara Inggris saat merambah Irak. Kali itu, Al-Ikhwan bertindak rasional memutuskan untuk mundur, dan ini lebih menguntungkan daripada keberanian semata. Sekarang, batas hati yang ada di manusia kadang harus mengalah pada penentuan dari Pemerintah Kerajaan Inggris.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Aduh, Rinduku


Aduh, rinduku
by: riza almanfaluthi

aduh… rinduku padamu
tak mudah usai sepanjang hari
perlahan dan pasti masih menghangat
bahkan menghampakan jiwa

aduh… rinduku padamu
membuat janjiku tak mudah terhapus segera
mengikat segalanya dalam setiap ucap
bahkan menyenandungkan nelangsa

aduh… rinduku padamu
membuat hati ini penuh warna
tak mudah untuk memutih dan menghitam
bahkan melanggengkan indahnya pelangi

duh…rinduku padamu
tak segan-segan menusuk desah nafasku
tak mudah terucapkan karena ini cukup sudah menjadi rahasia
bahkan abadi membisunya

aduh…rinduku padamu
biar masa saja yang bilang
selalu aku merinduimu

**

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
yang masih tetap merindu
09.21 22 Maret 2007
riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Dua Tips Menjadi Murabbi Sukses


Salah satu dari 114 tips menjadi murabbi sukses yang ditulis oleh Satria Hadi Lubis adalah “jangan lupa untuk mempersiapkan materi”. Berikut kutipan lengkap dari tips kedua tersebut:

“Da’i harus memiliki argumen yang kuat untuk mendukung makna yang diutarakan dan harus memperhatikan kesesuaian argumen dengan makna tersebut. Ia memiliki keluasan dalam memilih argumen, sebab ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits Rasul, sirah Nabawiyah yang harum, dan sejarah Islam adalah argumen yang kuat yang dapat digunakan untuk memperkuat pembicaraan” (Musthafa Masyhur).

Salah satu kebiasaan buruk murobbi yang sering dijumpai adalah tidak mempersiapkan materi. Mereka tampil spontan. Mungkin merasa mad’u sudah tsiqoh (percaya) dengan mereka, sehingga tidak bakalan hengkang. Padahal Shakespeare pernah mengingatkan, “Barangsiapa naik panggung tanpa persiapan, ia akan turun panggung dengan kehinaan”. Hasilnya, mad’u mungkin tidak hengkang. Tapi penyajian materi terasa hambar, monoton dan tidak aktual, karena tidak dipersiapkan sebelumnya. Akhirnya, mad’u lama kelamaan merasa bosan dan merasa tidak bertambah wawasannya. Mad’u jadi suka absen, atau paling tidak hadir tanpa antusias yang tinggi.
Karena itu, persiapkanlah materi yang akan Anda sampaikan di halaqah. Persiapkan walau hanya sebentar (10-15 menit). Idealnya, persiapan yang perlu Anda lakukan minimal 60 menit, agar Anda dapat mempersiapkan materi lebih komprehensif. Siapkan dalil naqli (dalil dari Al Qur’an dan Hadits) dan aqli (dalil secara rasional), data dan fakta terbaru, ilustrasi dan perumpamaan, contoh-contoh kasus, bahan humor, pertanyaan yang mungkin diajukan, bahasa non verbal yang perlu dilakukan, metode belajar yang cocok dan media belajar yang diperlukan.
Dengan persiapan prima, niscaya Anda akan tampil di halaqah bagaikan aktor kawakan yang mampu menyedot perhatian penonton (mad’u).

Tips di atas saya lakukan benar-benar. Caranya adalah dengan membuat materi tersebut dalam file berbentuk powerpoint. Maklum saya bukanlah seperti orang lain yang dengan mudahnya berbicara tanpa teks, tanpa slide, tanpa handsout. Jadi agar pembicaraan tetap terarah dari awal sampai akhir, pun agar yang diterangkan kepada pendengar adalah sesuai dengan maksud yang diharapkan dari tujuan materi tersebut maka saya melakukan upaya itu.
Pertama, saya akan membaca materi yang akan disampaikan tersebut—tentunya materi yang sesuai dengan kurikulum mentoring. Lalu sambil melakukan kegiatan itu saya pun sekaligus membuat file berekstensi ppt. Di situlah saya merasakan membaca sambil membuat, menjadikan saya—setidaknya—dapat memahami dengan mudah alur berpikir dari tema pokok materi.
Alhasil, setelah saya melakukan persiapan tersebut dengan matang, saya merasakan manfaat yang sangat besar—tentunya dengan pertolongan Allah pula—saya menjadi tidak grogi dan presentasi pun berjalan dengan lancar.
Sewaktu acara daurah pemuda se-Pabuaran, saya diberikan amanah oleh ketua panitia untuk menyampaikan materi bertema ghazwulfikr, dengan persiapan yang sungguh-sungguh maka Allah memudahkan saya memberikan materi tersebut. Begitu pula dengan Ahad kemarin untuk pertemuan pekanan yang ketiga ini saya memberikan materi tentang keseimbangan, dan lagi-lagi Allah memudahkan saya.
Saya sampai berkesimpulan, mungkin inilah jalan yang Allah tunjukkan kepada saya bahwa salah satu cara untuk menghindari kebingungan yang biasa saya derita dalam memberikan materi adalah dengan cara yang demikian. Buat softcopy dari materi tersebut.
Ya, salah satu kelemahan saya dalam mengisi mentoring adalah saya tak bisa tampil spontan dan kebingungan tentang materi apa yang harus saya berikan. Padahal referensi materi begitu seabrek dalam lemari buku. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali saya baca materi tersebut sebagai bentuk persiapan masih saja susah untuk dicerna oleh akal pendek saya.
Tetapi dengan tips di atas Insya Allah saya sudah bisa mengatasi kebingungan tersebut. Intinya adalah buat catatan atau presenter bilang buat poin-poinnya. Ini sesuai dengan tips selanjutnya dari Satria Hadi Lubis berikut ini:

3. Catat apa yang akan Anda bicarakan dengan mad’u

“Dan hendaklah ia rapi dalam segala urusannya” (Musthafa Masyhur).

Selain mempersiapkan materi, hal yang perlu Anda persiapkan sebelum mengisi halaqah adalah mencatat apa yang akan Anda bicarakan dengan mad’u. Misalnya, mencatat apa saja yang akan dievaluasi, apa saja informasi dan instruksi yang akan disampaikan, atau siapa yang akan Anda ajak bicara tentang sesuatu hal.
Dengan mencacat, Anda akan ingat apa yang akan Anda bicarakan dengan mad’u. Tapi jika mengandalkan ingatan, Anda akan lupa karena saking banyaknya hal yang perlu Anda sampaikan kepada mad’u. Kelupaan tersebut dapat berakibat fatal, jika yang akan Anda bicarakan adalah hal yang penting dan mendesak. Anda mungkin terpaksa membicarakannya di luar halaqah via telpon. Hasilnya, tentu tidak seefektif jika Anda sampaikan secara tatap muda di depan halaqah. Nah.. agar tidak lupa, catat apa yang akan Anda sampaikan kepada mad’u di buku atau di kertas Anda sebelum Anda mengisi halaqah.

Mungkin untuk orang lain, membuat poin-poin pembicaraan itu pun mudah semudah membalikkan tangan. Dengan cukup mengambil secarik kertas kosong lalu menuliskan poin-poin tersebut. Tetapi bagi saya itu belumlah cukup, saya kudu membuatnya dengan tampilan bagus terlebih dahulu dalam sebuah software khusus baru saya bisa lebih paham. Kegunaan lainnya adalah bisa langsung dicetak dan dibagikan kepada peserta mentoring.
Cuma satu kekhawatiran saya yakni upaya ini cuma semangat di awal saja lalu lama-kelamaan hilang ditelan bumi seiring dengan bangkitnya kemalasan saya. Tapi saya pikir, yang terjadi nanti biarlah terjadi nanti. Sekarang yang perlu saya lakukan adalah tetap memupuk semangat ini. Berusaha sekuat tenaga untuk tetap bekerja maksimal dalam jalan ini.

69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-Ankabuut, 29: 69]

Ayat di atas setidaknya menjadi pelipur kelelahan bagi saya. Semoga menjadi pelipur sampai akhir.

Kesimpulan Kiat:
1. Buat softcopy dari materi;
2. Catat apa yang akan disampaikan.

Maraji’:
– Alqur’anul Kariim
– Menjadi Murabbi Sukses, Satria Hadi Lubis

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
kalibata mendung
12:28 20 Maret 2007

Karena Kamu Cantik…


karena kamu cantik…

Kepekaan saya yang semakin menipis membuat saya gagap untuk menulis puisi. Tapi saya memang harus melawan kecenderungan yang biasanya membuat orang takut yaitu memulai untuk menulis. Jikalau semua kita memahami bahwa sesuatu yang indah tentunya diawali dari kesulitan-kesulitan maka tentunya tak akan ada keluhan karena akhirnya keindahan itu pasti datang pada akhirnya.
Maka saya tak akan pernah mengeluh bahwa keindahan itu tiada terasa pada puisi ini, karena hari ini saya kembali untuk memulai. Memulai untuk menulis. Menulis sebuah puisi.

***
Mengapa perempuan selalu dibahas dalam setiap diskusi? Karena kecantikannya? Atau karena apa?
Kata Dr. Najah Ahmad Azh Zhihar dan Ustad Cinta dalam “Ya Ma’syaru Ar-Rijaal, Rifqan bin An-nisaa, sesungguhnya:

1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan
mata kaum laki-laki;
2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu
menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria;
3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya;
4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan
suaranya yang hangat;
5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah
kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya;
6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya;
7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia;
8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.

Sedangkan saya cuma bisa jawab:

karena…
by: Riza Almanfaluthi

karena perempuan itu 1001 misteri
karena perempuan itu ingin dimengerti
karena perempuan itu sejatinya adalah kawan sejati
karena perempuan itu adanya lelaki
karena perempuan itu mampu membuat warna hati
karena perempuan itu keindahan sebuah puisi
karena perempuan itu membuatku tak mudah patah hati
dan selaksa lainnya hanya
untukmu perempuanku…

Kalibata Biru
11:21, 12 Maret 2007

cinta…
selayaknya datang di senja
saat kau memandang buih lautan

tanyamu
adalah asa yang tak kunjung tiba
di selokan penuh embun
absurd

ah…

Kalibata Biru,
10:00, 12 Maret 2007

THE KINGDOM


THE KINGDOM
by: Riza Almanfaluthi

Pada tanggal 20 Oktober 1973, dengan nama Allah dan berdasarkan agama yang diturunkan pada Muhammad 1400 tahun yang lalu di Mekah dan Madinah, raja Faisal dari Saudi Arabia mengemukakan jihad melawan Israel dan negara-negara yang membantunya. Sebagai bagian dari jihad tersebut ia menetapkan embargo penuh pada pengiriman minyak kerajaan ke Amerika Serikat. Sejak saat itulah keadaan di dunia begitu berubah.
Di tahun 60-an, dunia barat dan Jepang membayar kurang dari 2 dolar Amerika Serikat setiap barel untuk minyak yang mereka terima dari Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah. Harga 1,80 dolar untuk 42 galon Amerika, tak lebih dari sekitar 4 sen dolar setiap galonnya. Satu dasawarsa kemudian dunia barat harus membayar 32 dolar untuk 42 galon—suatu kenaikan rata-rata 264 persen pertahunnya! Tak heran bila Saudi Arabia menjadi begitu kaya. Dan dunia barat merasa begitu miskin.
Tampak jihad raja Faisal itu telah menjadi salah satu titik penting dalam sejarah abad kedua puluh ini. Embargo minyak yang dipelopori oleh Faisal, kemudian diikuti oleh ledakan harga energi sebagai akibatnya, mengawali pergeseran kekayaan dunia secara besar-besaran, mengalir kekayaan dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya.
***
Tiga paragraf di atas adalah sebuah kutipan pembuka dari sebuah buku lawas yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul KERAJAAN PETRODOLAR SAUDI ARABIA. Buku yang diterbitkan tahun 1986 oleh Dunia Pustaka Jaya dengan jumlah halaman sebanyak 663 ini tanpa sengaja saya temukan di pedagang buku Stasiun Kalibata saat menunggu kereta rel listrik.
Kondisinya masih sangat bagus, tidak terlihat seperti buku lama. Walaupun sudah berwarna kekuningan. Ini mungkin buku baru yang tidak laku atau belum sempat terjual. Yang menarik saya cuma membelinya dengan harga Rp12.000,00 saja setelah sang pedagang menawarkan dengan harga Rp15.000,00 sebelumnya.
Buku yang berjudul asli The Kingdom ini merupakan hasil riset yang dimulai pada Agustus 1977 yang dilakukan oleh penulis selama ia diizinkan tinggal di sana untuk beberapa tahun. Ia melakukan banyak wawancara dengan para petinggi seperti raja Saudi Arabia pada saat itu King Khalid ibn Abdul Aziz, dan para pangeran serta bangsawan-bangsawan dari dinasti Saud, plus dukungan dari Pusat Riset Raja Abdul Aziz.
Tak pelak buku ini menceritakan dari awal bagaimana dinasti ini didirikan. Dari semula hanya orang-orang badui yang hidup di padang pasir yang membakar dan menyiksa keluarga mereka dengan kekeringan, kemiskinan, kelaparan, pun anggapan sebagai suku yang terlalu mengikuti naluri, tak punya rasa keindahan, keingintahuan, selera halus, filsafat, kesenian tulis, seni rupa, bahkan tak punya dongeng-dongeng yang pelik sampai kepada perubahan drastis di mana mereka menjadi penguasa karunia Allah di muka bumi, penguasa jaringan sisa-sisa berlemak di bawah permukaan bumi, penguasa genangan hitam yang menggelegak: minyak bumi.
Mereka menjadi yang paling dihormati di seluruh dunia, penguasa yang bisa menentukan damai dan tenteramnya kehidupan perpolitikan dunia. ”Dan jikalau saja bukan karena adanya suatu keanehan yang terjadi pada lapisan bumi tempatnya berpijak, maka dunia barat pastilah tak akan peduli apa yang terjadi dengan raja Khalid. Kalau saja buminya itu tak mengadung apa-apa, maka penghuni kerajaan Saudi Arabia akan bebas menikmati padang pasir mereka, sajak-sajak mereka atau kenehan apa saja yang ada dalam kehidupan mereka. Paling-paling mereka akan menarik perhatian bila sekali-sekali majalah ilmiah seperti National Geographic memuat artikel bergambar tentang mereka,” ungkap Lacey.
Tetapi Syaikh Ahmad Zaki Yamani—Menteri Minyak Saudi Arabia saat itu—mengatakan:
”Negara barat melihat kami hanya sebagai sebuah negara yang ada hanya untuk mengisi tangki mobil. Tetapi pandangan itu terlalu moderen untuk Arabia. Dan itu bukanlah pandangan kami dan juga bukan pandangan jutaan orang di seluruh dunia yang sama-sama menganut agama kami.”
”Kalau Anda ingin mengerti tentang Saudi Arabia, Anda harus mengerti bahwa 1400 tahun yang lalu Allah telah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad di kota-kota suci Mekah dan Madinah. Kedua kota tersebut begitu jauh terpisah dari padang-padang minyak kami, tetapi masih tetap merupakan bagian dari Arabia kami. Dan bagi kami, keduanya jauh lebih penting dari apapun juga.”
”Itulah sebabnya orang-orang di negara Muslim yang miskin menyapa aku. Karena aku datang dari Mekah! Inilah yang paling berarti. Tentang Mekah dan Islam-lah orang-orang itu mengajakku berbicara. Jadi kalau aku ditanya, apa yang menjadi tulang punggung Kerajaan kami ini, maka akan kujawab, di atas segala-segalanya adalah Islam. Bukan minyak. Suatu hari kami akan kehabisan minyak. Tetapi kami takkan pernah kehilangan Mekah dan Madinah.”
Subhanallah, pernyataan yang keluar dari hasil wawancara yang dilakukan penulis di bulan November 1980 dan Mei 1981 itu, terasa gaungnya hingga saat ini, saat waktu telah berputar 26 tahunan. Adanya semangat persaudaraan yang memang dibutuhkan sekali untuk dunia Islam saat ini menghadapi kezaliman-kezaliman penguasa dunia yang menyetir dengan boneka-boneka untuk memuaskan nafsu kolonialismenya. Tapi sayangnya gaungnya yang terasa adalah gaung yang semakin melemah.
Dalam buku tersebut diceritakan pula tentang bagaimana Abdul Aziz merebut Riyadh sampai ia menakhlukkan Nejd daerah pedalaman Saudi Arabia dengan dukungan dari Kaum Muwahiddun (Salafy) dan tentunya mengusir keturunan Nabi Muhammad yaitu Ibnu Rasyid sebagai penguasa Mekah dan Madinah pada saat itu.
Pengusirannya terhadap Ibnu Rasyid mengakibatkan ia harus berhadap-hadapan dengan dengan Kekhilafahan Turki, menyebabkan ia harus menerima gencatan senjata karena sampai saat itu pertempuran yang terjadi tak menyebabkan salah satu dari mereka kalah atau menang.
Bulan Pebruari 1905 Turki mengakui kekuasaan Saudi di Nejd, sebaliknya Abdul Aziz menerima pengangkatan dirinya sebagai qaimaqam (komisaris distrik). Ini berarti Abdul Aziz menerima kenyataan akan adanya kekuasaan Turki di atasnya, sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan sikap antiTurki-nya sebelum itu.
Suatu sikap yang nantinya pun akan selalu ia terangkan kepada setiap tamunya, bahwa dahulu ia mau mengaku tunduk pada Sultan Turki hanya karena terpaksa oleh keadaan. Sebagai seorang Wahabi, kata Abdul Aziz, ia takkan pernah bisa menerima tuntutan Sultan yang mengaku bergelar khalifah, sebab cara orang Turki menjalankan ajaran Islam sungguh sangat menyimpang dari garis yang benar. Oleh karena itulah pendahulunya dulu—Muhammad Ibn Saud—pernah melarang para peziarah yang dilindungi oleh Khalifah untuk berziarah menuju Mekah dan Medinah, dan hal inilah yang membuat marah besar Khalifah yang menganggap dirinya sebagai pelindung dua tempat suci.
Masih banyak hal yang menarik diungkap di buku ini, misalnya tentang bagaimana penyikapan suku badui ini di kala mereka menjadi orang kaya baru, intrik sesama saudara, pembunuhan, perebutan kekuasaan, pemborosan, dan korupsi, November gelap di tahun 1979, penyikapan terhadap Syiah dan Al-Ikhwan, kegemasan Onassis terhadap pembentukan OPEC, permusuhan terhadap Biarawan Zion*)dan penerimaan kerajaan terhadap investasi Pepsi daripada Coca-Cola.
Saya merasa beruntung sekali mendapatkan buku bagus seperti ini.Walaupun belum seluruhnya terbaca, tapi saya merasa yakin sedari awal, buku ini akan membuat saya mengetahui secara detil masa lalu Saudi Arabia hingga masa awal 80-an. Setidaknya ini akan memberikan gambaran utuh dari Saudi Arabia masa kini. Muhammad Abduh mengatakan masa lalu adalah bagian dari masa kini sehingga tidak mungkin dilupakan begitu saja. Sehingga bisa memahami apa dan kenapanya pewaris kerajaan petrodolar saat ini bertindak, yang menguntungkan saudara-saudaranya seiman di seluruh dunia atau hanya memuaskan dahaga keduniawaian semata.
Sejarah yang sedikit dibahas waktu smu dulu kini terbentang dengan detilnya dalam satu buku yang merupakan ramuan—seperti diakui penulisnya—dari peristiwa sejarah, hasil pengamatan pribadi, desas-desus di pasar, ramalan masa depan, ditambah dengan kenangan orang-orang tua yang masih ingat tentang keadaan dunia mereka, dunia yang bagi kita bagaikan tertinggal berabad-abad yang lalu.
***
Kita bukannya sekadar pembuat slogan belaka. Apa yang kita katakan akan kita kerjakan. Jika mereka memandangmu dengan sebelah mata, katakan bahwa Allah memberkati rasul-Nya dan bangsa negara ini. Kalian adalah keturunan para pahlawan jaman bahari, kalian anak cucu mereka yang berjuang di samping nabi. Jadilah madu bagi mereka yang bersahabat dengan mu, jadilah racun bagi musuh-musuhmu. (Raja Faisal bin Abdul Aziz, 1973)
***

*) Suatu kebetulan semata bahwa persis sebelum membaca buku ini, saya membaca buku Rizki Ridyasmara yang membahas tentang Biarawan Zion ini secara detil di Knight Templar Knight of Christ (2006).

Maraji: Robert Lacey, Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia, Cet-I, 1986, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta;

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
Citayam Siang
15.00 01 Pebruari 2007

NYAR’I ITU BERKAH


Dua wanita yang saya kenal ini fotonya terselip di antara foto-foto yang terpampang pada satu halaman penuh iklan salah satu perusahaan asuransi syariah terkemuka di Indonesia. Dua wanita yang pernah saya ceritakan dulu setahun lalu pada tulisan saya yang berjudul: Memilih di Antara Dua Wanita (tepatnya di http://10.254.4.4/isi_partisipasi.asp?dsh=4875). Mereka masing-masing mendapatkan penghargaan Diamond dan Silver Club Member Agency. Hebat euy, fotonya jadi dikenal ke seluruh Indonesia.
Perempuan yang mendapatkan penghargaan Diamond—sebut saja Sumaryanti –saya mengenalnya walaupun belum pernah deal closing dengannya. Sedangkan sosok satunya lagi yang mendapatkan penghargaan silver, Lasmawati, saya sudah menitipkan dua asuransi pendidikan anak saya melaluinya.
Lalu apa kaitannya dengan saya? Tidak ada sih. Cuma saya merasa bangga saja terhadap mereka dan tentunya dengan perkembangan asuransi syariah ini. Bangga yang diiringi dengan komitmen. Komitmen saya untuk membuktikan bahwa sesuatu yang ”nyar’i” itu membuat berkah selalu teruji di saat banyak para agen asuransi mendatangi saya dan membujuk saya untuk bisa ikut programnya. Selalu pertanyaan ini yang keluar dari mulut saya: ”syariah atau konvensional?”.
Bila yang terakhir, maaf-maaf saja saya sudah menolaknya sedari awal agar ia tak membuang-buang waktunya untuk mempengaruhi saya beralih dari syariah, walaupun sudah jelas keuntungan yang didapat dari asuransi syariah lebih kecil dibandingkan yang konvensional. Namun demikian, setidaknya untuk saat ini—saya berharap pula sampai akhirnya—ada sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dan tak bisa terlampaui walaupun dengan seribu keunggulan asuransi konvensional: keberkahan. Itu saja.
Wujudnya apa? Yah, semisal lancarnya pembiayaan pendidikan anak saya, ketenangan dan kedamaian dalam mendidik mereka, hingga harapan akhir adalah hasil yang didapat: menjadi orang yang sukses dalam mengarungi samudera ilmu. Tidak muluk-muluk. So, nyar’i itu berkah.

Maraji: Republika, Kamis 22 Pebruari 2007.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
22 Pebruari 2007. 11:39
”tiba-tiba teringat, rumah saya masih
dicicil konvensional selama 9 tahun lagi. duh…”

‘SYAHWAT’KU MENGGELORA


Saya dulu pernah menceritakan keengganan saya untuk membeli buku dikarenakan tiada tempat lagi untuk menaruhnya di berbagai sudut rumah saya. Entah di lemari buku yang sudah over loaded dan reot itu hingga di atas ranjang atau di dapur. Kini setelah saya memesan sebuah lemari buku buatan seorang perajin lemari, syahwat saya membeli buku semakin memuncak.

Apalagi setelah saya membaca iklan yang ditampilkan oleh sebuah penerbit buku Islam kenamaan yang menampilkan buku-buku terbarunya, wuih membuat saya semakin ngiler untuk dapat memilikinya. Tapi sayangnya hasrat saya ini adalah hasrat yang terlalu berlebihan. Soalnya buku yang saya beli terkadang buku yang tidak bisa saya habiskan dalam sekali baca. Biasanya buku ini berkategori buku yang tidak memenuhi keinginan terdalam dari diri saya, yakni buku-buku yang berkadar referensi, bukan buku yang bergenre sejarah dan cerita. Alhasil buku itu cuma menjadi pajangan semata. “suatu saat pasti diperlukan,” pikir saya mencari pembenaran.

“Loh, kenapa dibeli?” pertanyaan yang sering diajukan oleh beberapa teman menanggapi keluhan syahwat saya ini. Ya, saya sering terjebak kreativitas cover designer dari para penerbit. Mungkin mereka sudah mengadakan riset dan sudah bisa menebak jalan pikiran calon pembaca dan tentunya pembeli, sehingga dapat menyentuh alam bawah sadarnya dan mendoktrin dengan sebuah ungkapan “sampulnya bagus tentu isinya bagus”. Ditambah dengan judul buku yang eye catching dan menggugah kepenasaran, plus endorsement di bagian belakang buku yang memuji setinggi langit isi buku tersebut membuat gedoran hasrat untuk membaca semakin nyaring diperdengarkan.

Tentunya jika syahwat ini tidak tertahankan anggaran keuangan bisa jebol juga. Oleh karena itu saya harus benar-benar menyeleksi dan merencanakan buku apa saja yang harus saya beli sesuai dengan selera alamiah saya. Tak perlu memaksakan buku yang di luar minat saya itu harus dibeli karena mentang-mentang bukunya ber-hard cover, dan judulnya bagus.

Kini saya punya catatan kecil di sebuah agenda besar buku-buku apa saja yang dalam waktu dekat ini harus saya beli demi memuaskan hasrat intelektualitas–mohon jangan disalahtafsirkan dengan ungkapan yang hiperbola seperti “saya adalah orang yang paling pintar”, karena saya belum menemukan diksi yang pas untuk menggambarkan kalimat ini: “keinginan membaca yang menggelora” dan pada dasarnya semua orang punya nilai intelektualitasnya masing-masing–terdalam saya. Ini buku-buku dalam rencana itu:

1. Akidah Salaf & Khalaf: Kajian Komprehensif seputar Asma’ wa sifat,
Wali & Karamah, Tawassul, dan Ziarah Kubur, DR. Yusuf Al-Qaradhawi;

2. Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah;

3. 60 Biografi Ulama Salaf;

4. Knight Templar;

5. VCD Bedah Buku: Siapa Teroris Siapa Khawarij (2 keping);

6. Thesaurus Bahasa Indonesia, Eko Endarmoko.

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh saya dan juga pembaca tentunya adalah kiranya perlu untuk seksama melihat isi buku, dan jangan berpatokan pada sampulnya, kata Tukul sih: DON’T JUDGE THE BOOK BY THE COVER. Karena sering saya lihat ada banyak buku yang terbitan lama di tahun-tahun lalu, di-remark, diganti dengan sampul yang lebih baru dan indah, juga terkadang dengan judul yang baru oleh penerbit lama atau bahkan diterbitkan oleh penerbit baru. Sehingga bila kita tidak peduli dengan satu hal kecil ini, bisa-bisa kita membeli buku yang sudah kita punyai.

Contohnya, saya perlu mengecek ulang dengan koleksi saya yang sudah ada untuk buku nomor satu dan nomor dua. Soalnya saya punya buku dengan tema yang mirip yang ditulis oleh penulis yang sama Dr. Yusuf AlQaradhawy, judulnya panjang jadi saya tidak tahu persis tapi isinya seputar “mimpi, ilham, dan kasf bisakah dijadikan hujjah”. Juga seingat saya, saya sudah punya buku tentang tokoh-tokoh besar Islam, tapi perlu dicocokkan apakah tokoh-tokoh yang diungkap itu sama atau tidak.

So, ini mungkin upaya kecil untuk menahan ‘syahwat’ saya. Beli buku yang dibutuhkan saja. Buku yang membuat saya terperangah dan bisa menikmati hidup. Hal ini mengingatkan saya tentang perjalanan dari Jakarta menuju Semarang beberapa bulan yang lalu dengan ditemani sebuah buku bagus, membuat perjalanan itu tiada terasa lamanya. Bahkan saking menariknya, saya sampai mengirim pesan singkat kepada teman-teman saya yang ada di Surabaya dan Jember untuk membaca buku itu.

Upaya yang mungkin tak berarti seandainya saya kembali mengunjungi pameran buku dan pedagang Kramat Raya yang menjajakan ribuan buku, karena godaannya sungguh luar biasa. Tapi saya pikir semuanya dimulai dari hal yang kecil. Menyusun paradigma kecil: Beli Buku yang Dibutuhkan Saja.

Demikian.

riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:29 15 Pebruari 2007