TANGIS ‘ID


TANGIS ‘ID

Ba’da magrib malam ‘id. Saya terpekur di hadapan jama’ah masjid Al-Ikhwan, setelah shalat maghrib yang baru saja saya pimpin. Saya kumandangkan takbir dengan lambat-lambat. Allah Akbar. Allah Akbar. Allah Akbar. Walillaahil hamd. Suara saya bergetar menahan tangis yang sebisa mungkin saya tahan. Dan ternyata memang tak bisa. Air mata pun menetes. Syahdu sekali suasana saat itu.

    Allah Rabbi, semoga ramadhan itu menjadi ramadhan terindah. Ramadhan yang membuat saya meraih kemuliaan malam lailatul qadr. Ramadhan yang membuat saya sadar bahwa saya adalah manusia biasa, seorang riza (dengan huruf r kecil) yang tak berdaya sama sekali di hadapan-Nya. Ramadhan yang membuat saya menihilkan nafsu syahwat saya.

Alhamdulillah di ramadhan ini ada banyak kesan yang saya dapatkan. Yang mungkin saja berbeda dengan ramadhan tahun lalu. Di ramadhan ini, Insya Allah saya jalani puasa dengan penuh ketenangan, tarawihnya pula. Suasana Masjid Al-Ikhwan yang penuh kegiatan bisa jadi yang membuatnya demikian. Ceramah setiap hari yang saya dengarkan di sana, tadarusannya, ukhuwahnya apatah lagi i’tikafnya sungguh teramat menenangkan sekali.

Dan saya mencetak rekor di bulan ramadhan kali ini yaitu puasa dengan menjalani sahur di setiap harinya. Tidak ada puasa yang dilewati tanpa sahur. Anak-anakpun demikian. Mereka ikut sahur dan berpuasa. Walaupun saya sempat memergoki Haqi sedang membuka kulkas dan memegang botol berisi air dingin yang memang menggiurkan baginya di pagi itu setelah ia berlari-larian dan bermain dengan teman-temannya.

    Masjid Al-Ikhwan Insya Allah menjadi masjid satu-satunya di Pabuaran yang mengadakan progam i’tikaf. Dan memang para pengurusnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang mulai terlupakan oleh masyarakat itu. Dua tahun lalu hanya diikuti oleh remaja saja, tapi Subhanallah pada tahun ini diikuti oleh jama’ah dari luar komplek atau desa kami. Bahkan yang amat mengharukan adalah keikutsertaan dari bapak-bapak sekitar masjid yang di ramadhan tahun –tahun sebelumnya tak pernah ikut i’tikaf. Dan praktis sahur yang kami adakan dan kami sediakan seringnya dikuti minimal 25 orang atau lebih dari empat puluh jika jatuh pada malam ganjil.

    Proses pengumpulan dan pembagian zakat yang kami adalan di sana pun Insya Allah berjalan lancar walaupun masih banyak kekurangannya. Dan agar kekurangan itu tidak terjadi lagi di tahun depan, saya sudah membuat evaluasinya. Semoga lembaran evaluasinya itu bisa dipahami dengan seksama untuk panitia zakat nanti.

    Yang paling membuat nelangsa adalah dua hari menjelang lebaran. Saya yang tidak mudik merasakan kesepian sekali. Jama’ah masjid pun sudah mulai sedikit. Tapi program tarawih di malam terakhir tetap kami lakukan walaupun diiringi dengan hujan yang teramat lebat. Pun program I’tikafnya tetap kami jalankan walaupun dengan sedikit peserta—ada belasan orang sih. Qiyamullail-nya hanya diikuti enam orang. Tapi tak mengapa, show must go on.

    Ta’jil yang kami adakan pun diikuti dengan sedikit orang pula, kebanyakan anak-anak. Tapi tidak mengapa juga, malah membuat doa yang saya panjatkan saat berbuka puasa dapat lebih khusyu lagi insya Allah. Itu adalah buka puasa terakhir di ramadhan ini. Jadi karena khawatir saya tidak berjumpa ramadhan tahun depan saya berusaha memohon pada Allah di saat mustajab itu. Memohon segalanya.

    Malam takbiran, kami pun bertakbiran di masjid. Saya menuliskan di atas kertas teks takbiran yang panjang dengan huruf latin tidak dengan huruf arab. Alasannya belum sempat karena ada jama’ah masjid yang meminta segera. Insya Allah nanti akan kutuliskan dalam huruf arab, dan akan saya laminating agar bisa awet. Dengan kertas itu akhirnya para jama’ah yang dulu tidak tahu teks takbir panjang akhirnya menjadi tahu dan mempraktikannya langsung. Memang ilmu itu harus dibagi bukan untuk diri sendiri. Selain saya memang ada yang bisa melantunkan takbir dengan teks panjang itu. Tapi bapak-bapak mungkin nyamannya dengan saya sehingga meminta saya untuk menuliskannya di atas kertas. Tak mengapa.

    Pagi ‘Id. Tanpa baju baru, hanya baju koko tahun-tahun sebelumnya yang dilapis dengan jas hitam bekas akad nikah 9 tahun lalu saya bersimpuh di Masjid Al-Ikhwan untuk mengikuti pelaksanaan Sholat ‘id. Kembali, takbiran itu membuat saya meneteskan air mata. Teringat dosa-dosa, teringat almarhumah ibu, teringat bapak yang untuk tahun ini berlebaran di Padang dengan adik saya, teringat ramadhan yang sudah meninggalkan saya, dan teringat segalanya.

    Yah…akhirnya saya banyak berharap sekali pada ramadhan ini. Semoga mengembalikan saya pada titik nol lagi. Lalu menanjak ke arah yang positif tidak anjlok lagi turun ke negatif. Ya Allah, ya Rabb pertemukan aku kembali dengan ramadhan yang akan datang.

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:59, 06 Oktober 2008

 

 

    

    

puisi fitri


PUISI FITRI

 

adalah hati yang sering berkarat kerana dendam,

terasa gulita adanya

adalah hati yang sering membiru karena merindu,

terasa indah adanya

walau terkadang ada bias luka yang merenda di dalamnya

di sini ada ribuan kata terucap, tertulis setiap hurufnya

di sini ada senyum melekat, tampak begitu rupanya

di sini ada kesedihan menyembilu, membuat kita berurai air matanya

di sini ada sebuah jalinan persahabatan

antara kau dan aku

walau terkadang sekali dua kita mengundang sepi untuk tak saling menyapa

hari ini, jelang sepenggalah ramadhan tenggelam

aku katakan padamu:

aku mencintaimu karena Allah

hari ini, pada sya wal yang tersenyum teramat cantik

aku pinta kepadamu:

maafkan aku atas segala salah

maafkanlah semuanya…

semoga abadi kita di surga-Nya.

 

 

***

dari aku:

untuk kamu:

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

MENJADI DASAR TELAGAMU


MENJADI DASAR TELAGAMU

 

Qobla shubuh. Aku melihatnya menangis saat ia mencuci piring. Ada air mata menetes di pipinya. Mungkin ini adalah imbas dari dialog—tepatnya sih monolog—antara aku dan istriku ini. Ketika dia mengeluh waktu sahur tadi tentang keberadaanku yang malah tidak menenteramkan dirinya. Dan aku, seperti biasa, saat ia mengeluh sedemikian rupa maka saatnya aku berada di posisi menjadi pendengar yang baik. Aku tak berbicara sepatah kata pun. Dan karena waktu shubuh kian dekat aku bergegas mempersiapkan diri ke masjid walaupun pada saat itu ia belum sempat menuntaskan segala kesahnya. Inilah kesalahan fatal itu.

Pekan-pekan ini memang terasa sekali ketidakseimbanganku antara waktu yang diberikan untuk rumah, dua masjid, dan wajihah amal lainnya. Sering tidak berada di rumah dan sering tidak di dekatnya saat ia mebutuhkan saya. Entah mungkin sekadar peran dariku menjadi pendengar yang baik bagi setiap ceritanya atau peneman anak-anak saat mereka belajar atau membantu membereskan pekerjaaan rumah tangga.

Maunya ingin saya ceritakan di sini semuanya, namun waktu kiranya tidak memungkinkan aku untuk menuliskannya. Tapi cukuplah kiranya aku menggores puisi pada bebatuan untuknya, di tengah kerinduan di siang hari ini yang begitu membuncah di dalam dada.

 

di suatu pagi

di musim yang lalu

aku melihat tetesan airmata jatuh

membentuk sekeping telaga

teduh, sepi,

kureguk setangkup airnya

dan kutemukan bingkai kegalauan

kiranya Widuri yang terlantun

tak mampu menjadi dirimu

menjadi lukisan terindah sepanjang hatiku

hapus airmatamu dengan jemariku

biarkan ia mengering dengan sendirinya di sana

tak perlu kau tepis

tak perlu kau tampik

karena hatiku adalah milikmu

menjadi dasar telaga itu

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:21 04 September 2009

 

 

 

KATA-KATA ATAU UCAPAN DALAM KARTU AQIQAH


KATA-KATA ATAU UCAPAN DALAM KARTU AQIQAH

Ini adalah selebaran yang saya buat untuk saya letakkan dalam kotak nasi (kalau di kampung mah disebutnya berkat atau besek) yang dibagikan kepada tetangga satu RT dalam rangka tasyakuran aqiqah anak saya yang ketiga. Saya melaksanakan aqiqah bisanya pada hari ke-21. Insya Allah diselenggarakan pada hari Jum’at tanggal 29 Agustus 2008. (Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI).

Sebenarnya tidak ada ketentuan harus melaksanakan dengan mengumpulkan banyak orang di suatu rumah, tetapi setidaknya ini dilakukan adalah dalam rangka membuka pintu silaturahim dengan para tetangga sambil mendengarkan siraman ruhani dari seorang ustadzah—maklum yang kami kumpulkan adalah para ibu sahaja.

Alhamdulillah, Insya Allah telah banyak sunnah yang kami lakukan dalam kelahiran putri kami ini. Pertama, mengadzankannya dengan tidak mengiqomatkannya. Kedua, menyunatinya. Sekaligus mengimunisasinya sebagai hak buatnya untuk hidup lebih baik. Lalu saya beli anting-anting emas untuk anting di telinganya setelah ditindik sebagai tanda ia adalah seorang perempuan. Ketiga, mencukur rambutnya. Keempat, memberi nama padanya. Dan kelima insya Allah besok Jum’at yakni aqiqah.

Yang belum saya laksanakan adalah menimbang rambutnya dan diinfakkan harta senilai timbangan rambutnya itu dengan kadar perhiasan perak. Juga yang belum saya laksanakan adalah mentahniknya. Semoga saya diberikan kemampuan oleh Allah untuk dapat melaksanakan sunnah Rasulullah yang mulia. Ya, habib, ya rasul, saya rindu dan mencintaimu.

Ohya, berikut contoh dari kata-kata dalam kartu ucapan aqiqah. Semoga ini bermanfaat buat Anda semua, setidaknya menjadi referensi. Silahkan contek atau jiplak sepenuh hati. Tidak mengapa. Format demikian saya temui juga via Google. Dan berhasil saya temui di situs ini.

Kata-katanya saya karang sendiri. Mungkin pembaca punya kata yang lebih bagus daripada buatan saya ini, dipersilahkan untuk menggantinya. Saya buat format ini melalui MS Publisher dengan gambar kaki bayi yang telah disediakan di sana.

Sekali lagi semoga bermanfaat.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:59 28 Agustus 2008

atau seperti ini:

Bila asa menjadi nyata, maka ucap syukur adalah semestinya
tiada yang dapat kami kehendaki, kecuali bapak dan ibu
berkenan mengirimkan sepucuk do’a untuk kelahiran buah hati kami:

Muhammad Yahya Asyyasy Almanfaluthi
Kamis, 19 September 2002

Jazakumullah Khairal Jazaa
Riza Almanfaluthi – Ria Dewi Ambarwati

 

***

Telah terbit buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

WhatsApp Image 2020-05-03 at 10.47.59.jpeg

***

Baca juga:

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

KATA-KATA ATAU UCAPAN TASYAKURAN KHITANAN (SUNATAN)

SOLUSI TIDAK BISA AKSES EMAIL GMAIL


SOLUSI TIDAK BISA AKSES EMAIL GMAIL

Sudah satu bulan lebih atau hampir dua bulan lamanya saya tidak bisa mengakses email gmail saya. Entah kenapa. Saya sudah utak-atik settingan Internet Explorer 7 tidak bisa juga. Sudah saya coba dengan menggunakan browser lain yaitu pakai Mozilla Firefox tetapi hasilnya juga sama, tidak ada koneksi.

Saya coba mencari jawaban dengan bertanya kepada ajengan Google dan sudah menemukan banyak solusi jawaban yang sudah pernah dipakai untuk mengatasi masalah ini tetapi tetap komputer saya tidak bisa mengakses Gmail. Teman-teman satu kantor saya yang menggunakan Gmail masih bisa dengan asyiknya menikmati layanan emailnya sedangkan saya masih gigit jari. Ada apa yah…?

Sebagai gambaran, komputer saya merupakan bagian dari jaringan komputer dalam kantor yang terhubung dengan intranet (bukan internet) ke seluruh kantor pajak di Indonesia. Untuk mengakses internet (bukan intranet) dengan gampang maka saya memakai proxy agar tidak susah-susah menggonta-ganti IP address internet dan intranet.

Walhasil karena saya tidak bisa mengakses Gmail maka saya tidak dapat melihat ada berapa banyak email penting dari Wajib Pajak yang mampir ke Inbox saya di sana itu.

Dan hari ini, solusi yang ditunggu-tunggu itu muncul. Seorang teman dari seksi lain yang berkunjung ke seksi saya—namanya Mas Joko (tanpa kumis loh yah)—iseng-iseng saya tanyai. Sebenarnya pesimis juga sih menanyakannya. Karena pengalaman sudah banyak orang yang saya tanyai hasilnya nihil abissss. Tapi tetap saya tanyakan dengan kemungkinan ia bisa menjawabnya.

Eh, betul. Mas Joko ini datang melihat komputer saya. Terlebih dulu ia mengklik kanan ikon komputer yang berada di sudut kanan bawah dari Windows untuk mengecek apakah ada firewall yang menghalangi akses Gmail. Ia mengklik Change Windows Firewall Settings. Lalu muncul display Windows Firewall dan mengklik tab Exceptions. Ia mengecek apa yang ada di dalamnya dan ia bilang, “masalahnya bukan di sini.”

Lalu ia menemukan masalahnya. Inilah solusinya bagi Anda semua jika mengalami hal yang sama dengan saya:

  1. Ia lalu membuka browser IE7.
  2. Ia memilih Tools;
  3. Ia lalu memilih Internet Options;
  4. Ia lalu memilih tab Connections;
  5. Ia lalu mengklik tombol Lan Settings;
  6. Ia lalu mengecek kebenaran pencentangan Proxy Server, dan kemudian mengklik tombol Advanced dan muncul display Proxy Settings;
  7. Barulah ditemukan kesalahan yang saya buat, pada bagian Exceptions yang bertuliskan Do not use proxy server for addresses beginning with:

    saya menuliskan mail.google.com dan feedburners.com. Seharusnya saya tidak boleh menuliskan nama alamat internet di sana. Pantas saja saya tidak bisa mengakses dua situs tersebut. Yang seharusnya ditulis di sana adalah situs-situs intranet saja karena saya memakai internet via proxy.

    Dihapuslah oleh Mas Joko nama dua situs tersebut dari daftar itu.

  8. Lalu tekan tombol OK, OK, dan OK;
  9. Saya kemudian mencobanya, dan Alhamdulillah bisa.

Terimakasih Mas Joko atas solusinya. Islam sebenarnya sudah menganjurkan kepada siapapun yang tidak mengetahui akan sesuatu untuk bertanya kepada orang yang lebih mengetahui. Dan hasilnya adalah sebuah solusi. Betul juga tuh.

Pertanyaannya adalah mengapa saya menuliskan dua situs itu di sana? Kemungkinan besar adalah saat saya tidak bisa mengakses dua situs tersebut saya langsung terburu-buru menuliskannya di kotak yang tersedia. Padahal bisa jadi tidak bisa diaksesnya itu karena koneksi internet di kantor kami lagi padat-padatnya sehingga membuat akses menjadi lambat.

Sekarang kini saya sudah bisa menikmati layanan Gmail lagi. Kiranya saya berbagi kepada Anda semua adalah sebagai salah satu alternatif solusi dari berbagai solusi yang sudah pernah ada dan berhasil dijalankan di dunia maya.

Kepada Mas Joko sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Kepada Anda semua saya ucapkan semoga bermanfaat.

***

Telah terbit buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Riza Almanfaluthi

11:21 21 Agustus 2008

duhai, tadi malam saya menggendongnya, bahagia banget


KINAN FATHIYA


KINAN FATHIYA

Image069

00.55

Bayi itu akhirnya lahir juga. Aku menitikkan air mata. Ada perasaan bahagia menggumpal dalam dada. Tapi itu bukan anakku, dan bukan pula anak istriku. Bayi itu anak dari pasien lain yang sama –sama bersalin di rumah inap Bidan Rokhaniyah. Aku merasa lega mendengar tangisan bayi itu. Beberapa saat sebelumnya hanya terdengar teriakan ejan dari ibunya yang berusaha dengan keras mengeluarkan sang penerus kehidupan dari rahimnya.

Tapi di ranjang ini, istriku masih saja dengan rintihannya menahan rasa sakit dan mulas yang teramat luar biasa. Sudah empat jam lamanya proses induksi ini berjalan. Dan belum ada tanda-tanda kepala calon bayi sudah turun menuju mulut rahim. Pula belum ada tanda-tanda ejan sebagai awal dari sebuah persalinan. Masih bukaan tiga kata Ibu Bidan.

“Allohukariim, sakit banget, Bi…” kata istriku. Tetesan air mata itu jatuh.

“Sabar, ayuk shalawat. Abi sudah berdoa kepada Allah. Abi yakin IA tidak memberikan beban yang tidak sanggup Abi untuk memikulnya. Itu berarti semua itu bisa Umi lalui. Abi yakin Umi bisa. Sebentar lagi tidak akan lama,” ujarku panjang memberikan kata-kata positif. Walaupun dalam hati yang paling terdalam ada resah mengganjal dan kesedihan karena tak tega melihat penderitaannya.

Aku yakin Allah akan memudahkan semuanya ini. Karena selama ini aku telah meminta pada-Nya. Apatah lagi 50 menit sebelumnya aku telah mengirimkan sms kepada banyak orang sholeh untuk ikut serta mendoakan istriku. Beberapa diantaranya membalas dengan segera. Bahkan ada salah satunya memberikan saran kepadaku untuk membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali ditambah dengan surat Al-Fatihah. Lalu meniupkannya ke dalam segelas air, meminumnya dan mengusapkannya ke muka dan perut istriku. Semua SMS dan balasannya sudah cukup membuatku tenang. Tinggal Allah memilih dari jalan mana doa itu dikabulkan.

“Sabar ya Mi, istighfar, shalawat…” aku masih menenangkannya sambil mengusap-usap punggungnya. Kantuk beratku yang semula ada kini sudah lenyap.

02.00

Ibu Bidan sudah selesai membersihkan dan merapihkan ruang persalinan yang baru saja dipakai oleh pasien yang tadi. Kini tinggal memindahkan istriku dari ruang rawat inap ke ruang itu. Aku memapahnya sambil menggeser tiang infus ke dalam ruangan. Erangan bercampur dzikir semakin kencang keluar dari mulut istriku.

“Sudah bukaan delapan. Cepat sekali. Tapi jangan ngeden dulu yah,” pinta Ibu Bidan saat kembali memeriksa istriku.

“Aduh, Bi…sakit banget. Lama sekali sih. Enggak tahan sakitnya ya Allah,” erang istriku.

“Iya Mi tenang, sebentar lagi. Ayo nyebut. Umi bisa.”

02.18

“Jangan ngeden dulu Bu, masih belum lengkap,” kata Bu Bidan sambil melepas sarung tangannya. “Coba miring ke kiri, supaya mempercepat turunnya kepala ke bawah.”

Istriku kembali memiringkan badannya ke kiri dibantu olehku. Tapi beberapa saat kemudian ia langsung merintih. “Enggak Bu…udah enggak kuat nih sakitnya,” katanya sambil berusaha untuk merubah posisinya menjadi terlentang. “Mau ngeden nih Bu, mau ngeden…!”

“Jangan, masih lama…”

“Enggak Bu. Sakit…!”

Bu Bidan segera melihatnya dan ternyata betul tanda-tanda kelahiran sudah terlihat sekali. Bu Bidan yang masih belum siap dibantu asistennya segera menyarungkan sarung tangan karet itu kembali. Sedang aku masih dalam posisi memegang tangan istriku.

“Eh iya betul nih, ayo coba ngeden. Ya…ya..ya….sebentar lagi. Tarik nafas,” teriak Bu Bidan menyuruh istriku. “Sekali lagi!”

Istriku berteriak. Kencang sekali. “Aaaaaaaaaaaaaa…..!!!”

02.20

Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat sosok makhluk kecil berambut hitam lebat keluar dari rahim istriku. Merah. Berlendir. Menangis.

“Aaaaaaaaaa….!!!” teriak Istriku walaupun bayinya sudah keluar. Ia merasa harus berteriak sekencang-kencangnya. Barulah ia terdiam ketika aku memberitahu padanya bahwa bayinya telah lahir.

“Perempuan,” kata Bu Bidan.

“Alhamdulillah. Bu Bidan maaf ya saya sampai berisik begini,” ujar istriku yang masih terengah-engah.

02.25

Allohuakbar…! Allohuakbar…!

Dengan tersedu-sedu kukumandangkan adzan pada telinga kanan anakku yang sedang berbaring di dada istriku. Allohukariim. Aku bahagia sekali atas nikmat yang Ia berikan kepada kami.

Syukurnya pula aku tidak pingsan pada saat itu. Padahal rekam jejak yang aku punya kalau melihat proses yang berdarah-darah seperti itu maunya pingsan melulu. Seminggu sebelumnya saat aku melihat proses menjahit luka di jari jempolku akibat cutter, tubuh sudah berkeringat dingin, perut mual, kepala pusing, mata berkunang-kunang, walaupun tidak sempat pingsan karena tindakan yang diambil dokter cepat sekali.

Ya, aku berusaha menguatkan diriku. Karena tidak ada siapa-siapa disamping istriku pada malam itu. Tumben juga Bu Bidan tidak menyuruh aku keluar sebagaimana ia pernah menyuruh aku pada saat persalinan anak keduaku enam tahun lalu.

***

Lalu kusebut ia bidadari kecilku itu:

Kinan Fathiya Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Riza Almanfaluthi

di antara 49 cm dan 3,5 kg.

09 08 2008

AKU DIKEHENDAKI ALLAH?


AKU DIKEHENDAKI ALLAH?

Telepon genggamku menjerit nyaring mengisi sisi kosong di lantai ruangan kantorku. Segera kuambil dan kusempatkan membaca nama yang tertera di sana. Aku mengenalnya sebagai sahabat lama yang terlupakan untuk aku sempatkan bersilaturahim dengannya. Tiba-tiba terdengar suara dari seberang.

“Halo Dek…” sapanya. Tumben nih ia memanggilku dengan sebutan akrab seperti itu. Kayak kakak beradek.

“Iya ada apa Mbak?” tanyaku.

“Ada dimana?”

“Di kantor.”

“Tolong antarkan ke Tiki Dong…”pintanya.

Aku terdiam lama, ia memanggilku dengan sebutan Dek, lalu ia menyuruhku untuk mengantar sesuatu ke Tiki. Padahal aku belum sempat berurusan apapun dengannya. Dan betul ada jeda di sana dengan jawaban aku selanjutnya.

“Wah…kayaknya Mbak salah sambung nih…” kataku.

Dan pada akhirnya kesadaran itu muncul. Mbak yang sudah naik haji ini salah pencet, niatnya mau menghubungi seseorang bernama “Dede” tetapi yang tertekan nomor dari sebuah nama “dedaunan riza”.

Walaupun demikian, salah sambung ini membawa berkah. Setidaknya ia ikhlas menginfakkan sebagian hartanya untuk pelaksanaan baksos yang kedua nanti di tanggal 9 Agustus 2008. Maklum pada pelaksanaan baksos tanggal 06 Juli 2008 lalu ia ketinggalan berpartisipasi. Katanya, dalam sebuah sms lanjutan, “iya, ini aq lg diingetin sama Allah, biar gak ktinggalan baksos kek kemarin..:-D”

Sejatinya, ladang amal terbuka buat siapapun yang dikehendaki oleh Allah. Jika tidak, maka betapapun ladang amal itu terbentang dihadapannya yang pada akhirnya akan menuai balasan berlipat ganda dari Allah, maka tetaplah ia tidak tergerak hatinya untuk menggarap ladang amal kebaikan itu. Sekali lagi karena Allah tidak menghendakinya.

Aku sering merenung dan memuhasabahi diri sendiri, jangan-jangan saya termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak dikehendaki Allah untuk berbuat kebaikan (Ya Allah aku berlindung dari semua itu). Ya, karena aku merasa sering terlambat untuk menekan tombol otomatis kebaikan. Gerakku tidak refleks ketika terbentang ladang amal di hadapan.

Tidak seperti para sahabat Rasulullah yang tanpa disuruh mau menginfakkan seluruh hartanya tanpa meninggalkan sesuatu buat dirinya sendiri dan keluarganya. Mau berpeluh-peluh dan berdarah-darah membela Rasulullah. Mau dan sigap bersegera menggarap ladang amal di hadapan mereka. Ya, karena mereka adalah golongan yang dikehendaki Allah. Mereka ridha terhadap Allah dan Allah pun ridha kepada mereka.

Sedang aku? Jauh…

Allah Rabbi, ampuni aku.

***

Terimakasih kepada Mbak Lis Rin (Liestya Rien) yang telah mengingatkan saya, di tengah kekhawatiran saya pada banyaknya kata-kata daripada aksi yang dilakukan.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15.10 5 Agustus 2008

TETET TOET…!


TETET TOET…!

Saat saya melewati sebuah toko pakaian dan di sana terlihat juga berbagai mainan anak-anak berupa binatang-binatang yang terbuat dari karet saya bertekad untuk membelinya nanti setelah selesai acara makan siang ini. Dan betul, setelah acara itu selesai saya melewati toko tersebut dan mencoba melihat-lihat mainan anak-anak itu.

    Ada ular-ularan, buaya, laba-laba, ikan paus, elang dan masih banyak lagi yang lainnya. Mainan itu kalau dipencet akan berbunyi: “tetet toet…tetet toet. ” Lucu juga nih mainan ini. Akhirnya saya beli dua biji. Satu ular-ularan dan satu lagi buaya yang bisa berbunyi itu. Kalau ditotal cuma Rp9.800,00. Ular-ularan ini buat nakut-nakutin akhwat saya yang ada dirumah. Nanti kalau saya pulang saya akan lempar ular ini ke dia. “Takut enggak yah…”pikir jahat saya. Tapi kiranya saya tak tega untuk melakukannya. Khawatir ada apa-apa. Apalagi hari-hari ini saya sedang menunggu kedatangan anak kami yang ketiga muncul ke dunia ini.

    Kalau yang mainan buaya bisa saya kasih kepada Ayyasy atau Haqi, buat mainan mereka berdua. Atau enggak usah dibawa pulang. Ditaruh saja di meja kantor. Buat refresing di tengah suasana sepi para AR dan fungsional pemeriksa dalam satu ruangan yang tenggelam dalam kesibukannya masing-masing, bunyi tetet toet-nya itu kiranya bisa menyegarkan mereka. Tetet toet…!    

Kata teman saya alam bawah sadar saya yang menuntun saya untuk membeli mainan tersebut. Yah, pada saat itu saya langsung tertarik melihat barang itu saat pelayan di toko sedang menatanya. Dan betul juga, dulu waktu saya masih kecil dan sama sekali tidak mampu untuk membeli mainan, saya melihat mainan seperti itu dimiliki tetangga saya. Saya sangat menginginkannya namun saya cuma bisa meminjamnya belaka karena saya ataupun orang tua saya tak mampu untuk membelinya.

Keinginan itu menjadi keinginan besar yang terpendam dalam diri saya. Terbangkitkan kembali memori itu pada hari ini. Dan kini saya mampu membelinya, saya bisa memilikinya setelah puluhan tahun lamanya.

Berbincang-bincang tentang alam bawah sadar, saya jadi teringat sebuah tulisan (yang juga sempat saya bawakan sebagai tema kultum saya di Masjid Al-Ikhwan Ramadhan 1428 H lalu) tentang mengapa banyak orang Indonesia yang pada musim lebaran melakukan ritual mudik.

Ini sejatinya karena semua itu adalah fitrah manusia untuk kembali ke tempat asalnya, fitrah manusia merindu pada kampung halaman, merindu pada orang tua yang selama ini mengayomnya, seperti kerinduan seorang bayi yang senang digendong pada sisi kiri seorang ibu, karena ia dapat lebih menangkap detak jantung ibunya yang sama persis ia dengar saat masih dalam rahim sang ibu.

Dan sejatinya pula bahwa tempat kembali kita adalah Allah. Karena bukankah kita telah diambil persaksiannya oleh Allah dalam sebuah pesaksian yang mahadahsyat.

Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?!’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Allah).'” (QS. Al-A’rāf [7]: 172)

Peristiwa mahadahsyat berupa sebuah persaksian itu diambil langsung oleh Rabb yang mahakuat, mahaagung, mahaperkasa, mahagagah, mahaindah. Dan itu terekam kuat dalam alam bawah sadar kita. Tidak hanya itu, ia lalu menjadi sebuah fitrah. Fitrah merindui dan berjumpa dengan Allah PEMILIK SEMUANYA ITU. Merindu akan keindahan-Nya, kekuatan-Nya, kegagahan-Nya. Oleh karenanya itu wajar dan sebuah keniscayaan bahwa kita senantiasa akan mati, berjumpa dengan-Nya. Yang jadi masalahnya adalah mengapa kita tidak ingat mati? Ya, karena fitrah sejati kita itu terkadang tertutupi oleh keindahan semu duniawi dan kecantikan yang terindui pada makhluknya.

rindu pada bayangan kecantikannya membuatku lupa…

fantasi liar membuatku lupa pula untuk menjejak pada bumi…

energi kesadaranku pupus dan lunglai tak kuasa menghadapinya…

bahkan yang ada cuma derita imajinasi yang mencandu diriku untuk merengkuhnya…

    bahkan aku gila hingga berbisik pada angin, “sampaikan kerinduan padanya.”

    ***

 

    Aih, ingatan masa kecil yang terekam dalam alam bawah sadar saya pada siang hari ini membuat saya membeli mainan anak-anak dan mengingat sebuah kata bersebut kematian. Tiba-tiba saya teringat, waktu saya kecil, saya juga pernah bermimpi menjadi HULK…

    Tetet toet…!

***

Maraji:

  1. Alqur’anul kariim;
  2.  

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:16 29 juli 2009

 


 

FRAGMEN JUM’AT


FRAGMEN JUM’AT

Pagi ini saya usahakan untuk tidak membuka apapun terkecuali program pengolah kata saat pertama kali menyalakan komputer. Sudah lama saya tidak menulis di pagi hari. Dan kemudian saya berpikir lagi ternyata di lain waktu pun saya tidak menulis juga. Artinya memang sudah beberapa hari atau hitungan pekan ini saya belum menemukan satu, dua atau banyak kepingan gagasan yang enak untuk dijadikan mozaik tulisan.

    Tiba-tiba setelah membuka program pengolah kata itu saya teringat sebuah episode kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkan oleh seorang ulama. Tidak dibuat-buat, tulus, dan apa adanya. Dan ini membuat saya teramat terkesan padanya.

    Suatu ketika, di hari Jum’at, Ia datang memenuhi undangan untuk menjadi khotib di masjid kantor pajak Kalibata. Ia sudah sering kami undang ke masjid kami itu seperti mengisi ceramah bulanan dan ramadhan. Sudah beberapa kali saya mendengar ceramahnya. Insya Allah sudah menjadi jaminan ceramahnya itu tidak membuat pendengarnya terkantuk-kantuk.

Pada Ramadhan 1428 H yang lalu tema ceramahnya tentang dua orang yang berbeda nasib saat di alam kubur, saya sampaikan kembali di hadapan jamaah tarawih masjid komplek rumah saya, Al-Ikhwan. Penuturannya yang lembut amat menggedor batin saya hingga membuat mata saya berkaca-kaca.

Sebenarnya tidak kali itu saja ia membuat mata saya berbening kaca, dulu pada tanggal 3 Sya’ban 1427 H atau bertepatan dengan tanggal 27 Agustus 2006 beliau menjadi salah satu penceramah tabligh akbar majelis Akhlakul Karimah di Masjid At-Tiin yang dihadiri puluhan ribu orang. Pun demikian, ajakannya kepada seluruh peserta tabligh akbar untuk meminta ampunan kepada Allah diiringi isak tangis banyak orang. Allah yang mahamulia. Sungguh mengharukan. Itulah pertama kali saya mendengar ceramahnya.

Dan pada jum’at itu ceramahnya saya dengarkan baik-baik. Pula setiap ayat-ayat yang dilantunkannya saat mengimami jamaah sholat jum’at. Setelah selesai sholat, saya dan takmir masjid yang lain mengajaknya masuk ke ruang khusus takmir. Lalu mempersilakannya menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Ya, sudah menjadi tradisi kami setiap ba’da sholat Jumat kami makan ringan bersama-sama dengan khotib dan pengurus masjid yang lain. Tujuannya selain silaturahim juga adalah dalam rangka mengenal lebih dekat para khotib yang datang memenuhi undangan kami.

Nah, fragmen kerendahhatiannya ditunjukkannya pada saat ia sudah duduk di meja makan tersebut. Saat dipersilakan ia bukannya menunggu piring datang ke hadapannya atau menunggu diambilkan oleh orang lain, tetapi ia langsung mengambil piring dan membagikannya kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. “Silakan-silakan…,”katanya. Ia juga mengambilkan lontong yang terhidang di sana satu persatu kepada kami semua. Lalu sambalnya beliau yang menuangkannya ke piring-piring kami. Kami jadinya merasa tidak enak. Saat kami mencegahnya, ia bersikeras biar ia yang melakukannya saja.

Aih, padahal ia adalah seorang tamu yang harusnya kami layani. Ia doktor ilmu syariah lulusan timur tengah. Pengasuh rubrik konsultasi Pusat Konsultasi Syariah atau syariah online. Pengurus Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), dan wajahnya sering terlihat di layar kaca mengisi siraman rohani pagi.

Dalam hati saya berkata, “Subhanallah, inilah sejatinya ulama yang ilmunya senantiasa dihiasi dengan keindahan akhlaknya.” Ya, seringkali kita melihat betapa banyak mereka yang disebut ulama tetapi akhlaknya berbanding terbalik dengan ilmu yang dimilikinya. Bahkan bukannya malah menjadi penerus mulia kanjeng Nabi Muhammad saw dengan akhlaknya yang paripurna tetapi malah menjadi ulama pemecah umat. Semoga kita terlindung dari semua itu. Saya berdoa semoga ia tetap istiqomah dengan ilmu dan amalnya itu.

Fragmen yang beliau tunjukkan kepada kami meneguhkan tentang dua hal yang tak boleh ditinggalkan oleh orang-orang yang telah menjual hidupnya kepada Allah. Yaitu kelembutan dan kerendahhatian. Dua-duanya mutlak diperlukan untuk memperlancar jalan dakwah. Kebetulan pula saya membaca sebuah transkrip taujih pekanan yang berjudul Bersikap Lembut dan Rendah Hati.

Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan dan badan. BUkanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (nyelekit). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan. Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (qaulan syadidan), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabyyun, buruk sangka, ghibah, pendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.

Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya mendekatkan/mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar, dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur/menyapa terlebih dahulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, cuek dan antipati merupakan lawan dari rendah hati.

Allah berfirman dalam surah Asy-Syu’araa ayat 215, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu.” Bila Rasulullah saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap murabbi, rendah hati terhadap mutarobbi, dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang yang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan kebenaran Al-Qur’an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Qur’an dan Hadits.

Membaca tiga paragraf taujih itu membuat saya termenung. Apa yang dilakukan oleh ulama itu adalah implementasi ayat di atas, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu”.
Menjadi
ulama bukanlah sebuah penisbatan diri bahwa yang lain yaitu pengikut atau umatnya harus melayani dirinya. Bahkan sebaliknya ialah yang kudu melayani dan merendahkan dirinya pada orang-orang yang beriman yang mengikutinya. Satu hal lagi ternyata kelembutan dan kerendahhatian lebih melanggengkan/mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.

Semoga saya bisa meniru akhlak ulama tersebut. Dan sekali lagi semoga beliau senantiasa istiqomah. Insya Allah kami akan mengundang beliau pada tanggal 10 Agustus 2008 di Masjid Al-Ikhwan, Puri Bojong Lestari tahap II, Pabuaran, Bojonggede, pada acara Tarhib Ramadhan.

Kalau antum semua ingin tahu siapa beliau? Ini dia fotonya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

 

 

 

Dr. Muslih Abdul Karim

(Ia pernah dicaci maki sebagai “gembong Ikhwani” oleh mereka yang membencinya, tapi tak menyurutkan beliau untuk tetap berdakwah mengajak dan mengajarkan kebaikan kepada masyarakat).

***

Riza Almanfaluthi

masih ada di rantingnya

09:34 18 Juli 2008.

dedaunan di ranting cemara

FOTO-FOTO BAKSOS


 

Assalaamu’alaikum.

Saudara-saudaraku semua , berikut saya tampilkan suasana baksos yang diselenggarakan pada hari Ahad tanggal 06 Juli 2008 yang lalu. Maunya saya sih menampilkan semua gambar yang telah terekam dalam kamera kami, namun apa dikata kapasitas gambar yang terlalu besar membuat gambar-gambar tersebut tidak dapat ditampilkan seluruhnya. Namun tak apalah. Semoga ini sebagai bentuk nyata pertanggungjawaban dari amanah yang telah diberikan Anda kepada kami.

Semoga Allah melimpahi kita dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin.

 

 

Tempat Baksos

 

Salah satu penyokong kegiatan Baksos

 

Spanduk Yayasan Kharisma Insani

Kang Tubagus Syunmandjaya Rukmandis memberikan wejangan saat mampir di tempat Baksos

 

Kepala Desa Masduki saat memberikan sambutannya, ia minta warga Desa Pabuaran supaya sejahtera dunia dan akhiratnya. 

 

Peserta dan Panitia Baksos saat menyimak dengan tekun wejangan para tetua. 

 

Beberapa peserta baksos asyik mengikuti acara baksos. Salah satunya asyik mencabuti jenggot yang sudah mulai memutih

 

Setelah selesai acara sambutan dan lain-lain, barulah para warga asyik mengantri satu-persatu untuk mendapatkan sembako murah dan gratisnya. 

 

“Mana Bu…tiketnya?” tanya salah satu panitia.

 

“Anak-anak minggir yah…tuh Ibunya lagi ngantri,” arah salah satu panitia. 

 

“Kayaknya bagus nih baju,” pikir anak muda. 

 

Lumayan baju Korprinya, khusus kalau berkebun di kebun jambu… 

 

Iya Bu, itu masih bagus loh… 

 

Masih mengincar mana nih baju yang bagusnya… 

 

Mainan dan tas yang masih tersisa, menunggu peminatnya. 

 

Eit, jangan berebut semua kebagian baju gratis ini. 

 

G atau H yah…mata nih sudah mulai kabur rupanya.

 

Pemeriksaan mata gratis, dipandu dengan sabar.

 

Suasana di ruang bekam.