paradok
*
ia tiba,
seperti hujan salju di gurun gobi,
aku kedinginan
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
masih di lantai 19 dengan laporan sidang
09.04 23 Februari 2011
paradok
*
ia tiba,
seperti hujan salju di gurun gobi,
aku kedinginan
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
masih di lantai 19 dengan laporan sidang
09.04 23 Februari 2011
matematikanya
Jika kau rapuh, aku akan menggenapkan diriku menjadi 1
Jika kau kuat, aku akan menjelma menjadi 0
Jika kau di antaranya, aku akan menjadi setengahnya saja
agar semua itu sederhana:
tetap 1
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Gatot Subroto Lantai 19
07.42 22 Februari 2011
dia di sana
aku segera membuka layar putih
menghela tali pelana kuda kata-kata
untuk pergi ke savana puisi.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Gatot Subroto Lantai 19
07.42 22 Februari 2011
dzikir
dengan tasbih dedaunan yang jatuh ke tanah satu-satu,
dengan tahmid awan yang masih menggantung berjalan lamat-lamat,
dengan tahlil hujan yang rintiknya menjadi mahkota pelan-pelan
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Gatot Subroto Lantai 19
07.42 22 Februari 2011
padaku
***
padaku tak henti-hentinya kau bilang
aku adalah darah yang sama
padaku tak sungkan-sungkannya kau berkata
mengintip dari atap kamarku
memperhatikan setiap huruf yang dilukisku
membaca setiap kata yang tercipta dari tanganku
aku apanya engkau
aku siapanya engkau
aku adalah tiga kata yang tersembunyi
untuk punya makna
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
lewat tengah malam
00.17 22 Februari 2011
marah
***
siang tadi
ada cahaya mencemburui
mata dan senyummu
kok lalu
angin marah menjadi taufan
laut marah menjadi tsunami
tanah marah menjadi lindu
:
mereka mencemburuimu juga
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23.55 21 Februari 2011
jangan
seringkali kau berbisik
pada tuts-tuts keyboardmu
sampaikan pesan padanya
jangan pergi tinggalkan aku
saat malam diremukkan ekor shubuh
dia terkapar tak bisa pergi
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
citayam
23.40 21 Februari 2011
[MONOLOG]: RINDU
Monolog kali ini adalah tentang #rindu. Coba apa yang dirindu dari SESEORANG kepada yang dicintainya? Balasan sms yang teramat dinanti, sapaannya mengawali sebuah obrolan, pertemuan yang diharapkannya.
Lalu apa yang dirasa? Jantung yang berdebar keras di luar normal, resah di kala kesendirian, persatuan yang dicita, geram pada waktu yang berjalan lambat di sebuah perpisahan dan pada waktu yang teramat cepat berlari di sebuah perjumpaan.
Tidak ada interval kecuali untuk tiga hal: memikirkannya, memikirkannya, dan memikirkannya. Ada cemas yang mendera dan ada cemburu yang menyala.
Orang dulu yang pertama sempat bilang: “Aku mencintai tiga hal yang dibenci orang, yakni aku mencintai kemiskinan, penyakit, dan kematian. Kematian menjadi pintu masuk berjumpa dengan YANG DIRINDU: ALLAH.
Orang dulu yang kedua sempat bilang juga: ” Sambutlah kedatangan kematian—kekasih yang datang pada saat dirindu dan dibutuhkan.
Benarlah ulama yang membuat bait-bait seperti ini:
jika cinta yang berkelana pada Sulma dan Laila bisa mencabut pemikiran dan kemampuan berpikir, lantas apa kira-kira kondisinya bagi dia yang hatinya berdenyut untuk kehidupan yang lebih mulia?
Orang dulu yang kedua adalah Mu’adz r.a. dan orang dulu yang pertama adalah Abu Darda. Dan SESEORANG di atas itu adalah aku sekarang.
Duh…bedanya. T_T
***
Riza Almanfaluthi
monolog KRL Pakuan Bogor Tanah Abang
dedaunan di ranting cemara
06.05 21 Februari 2011
[MONOLOG] : SENYUM
Monolog ahad pagi ini bercerita tentang #senyum, bukan karena aku memiliki senyum yang indah seperti yang kau katakan. Bukan, bukan karena itu. Tetapi senyum memang memiliki hal yang penting. Hingga menjadikannya sebagai hal utama di dalam agama kita. Senilai dengan sedekah yang kita beri setiap hari.

Karena sesungguhnya kita dapat menarik seseorang dengan senyuman. Senyum menjadi saham perdana dalam pergaulan, dalam memikat hati objek dakwah. Untuk itu perlu sapa. Untuk menyapa perlu senyum. Bukan uang bukan tampang. Sekalipun tampang maka tampang penuh persahabatan. Bukan dengan parameter cantik dan gagah, jelek, dan buruk rupa.
Maka tersungginglah senyum di wajahku setiap bertemu siapapun adanya dia. Anak-anak, bapak-bapak dan untuk ibu-ibu—untuk yang terakhir ini tentu dengan senyum sewajarnya yang aku bisa. Sampai suatu ketika mereka bilang: “Anda beda daripada yang lainnya.” Segala puji hanya untuk Allah. Hanya satu hal yakni dari senyum itu mereka bisa menerima kita menjadi pelayan mereka, “khadimatul ‘ummat”
Maka segera tersenyumlah pada dunia. Jangan pelit dan jangan ragu untuk tersenyum. Hamburkanlah senyum yang kau miliki, selama tersenyum itu gratis. Dermawanlah kau dengan senyuman. Nilai sedekah sudah di tangan, apalagi ketika dengan senyuman itu kau mampu membahagiakan seseorang. Tersenyumlah padaku. Karena seseorang itu adalah aku.
***
Riza Almanfaluthi
monolog ahad pagi
memperingati tulisan ke-500
dedaunan di ranting cemara
09.35 20 Februari 2011
[monolog]: jujur
Monolog adalah cara saya mengungkapkan sesuatu—pandangan dan perasaan—yang saya catat dengan telepon genggam. Di setiap pagi ketika kereta berangkat pergi dari Stasiun Citayam atau ketika pulang dari Stasiun Sudirman. Biasanya memakan habis waktu sepanjang perjalanan kereta untuk menuliskannya.
Monolog adalah hadiah khusus yang benar-benar khusus. Tidak lain dan tidak bukan.
Sudah banyak yang saya tulis, namun lenyap begitu saja. Mulai hari ini saya akan mendokumentasikannya, itu pun jika perlu. Untuk yang pertama menerima dan membacanya kali ini, saya harap dengan teramat sangat semoga ini berguna.
Sore ini saya ingin bermonolog tentang jujur.
jujur itu mahal
semahal harga diri
ia akan murah adanya
ketika bernama
jujur kacang ijo dan
jujur ayam
apalagi ketika keberuntungan sedang memihak
maka teman terdekat kita akan bilang:
engkau sedang jujur
penjahit beda bilangnya:
baju mana yang ingin aku jujurkan
tukang obat akan bilang:
obat ini selalu jujur, nomor satu
anak kelas satu sd akan bertanya:
ibu guru, mana sih yang jujur sangkar dan mana yang jujur telur
dokter berdiagnosa:
tak punya harapan, ia akan terjujur kaku
ini gara-gara iseng main-main dengan kabel yang terjujur
sorenya ia dijujur di tempat pemakaman umum
tak diketahui di jujur selatan atau di jujur utara bumi ini
semua di atas ketika jujur tidak ditempatkan pada tempatnya
jika ya
jujur adalah mata uang yang berlaku di manapun adanya.
dan aku adalah
kejujuran itu sendiri
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
04.25 19 Februari 2011