BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER


BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER

 

George Lucas tak akan pernah bisa membuat sekuel Star Wars dan trilogi Indiana Jones-nya serta tak akan pernah ada unit usaha pengembangan grafik komputer yang akan dibeli oleh Steve Jobs dan diubah namanya menjadi Pixar, jika ia tak punya mimpi. Maka Lucas pun berkata, “Kunci kebahagiaan adalah mempunyai impian.” Tapi ini belumlah selesai.

Semua orang pasti punya mimpi dalam kehidupannya. Mimpi bahagia, bukan mimpi buruk di tengah malam. Dan karena mimpi itu tak berbayar maka tak ada salahnya untuk selalu bermimpi dan menjaga mimpi-mimpi itu selalu ada. Bahkan pameo yang tercipta: “Jangan pernah takut untuk bermimpi karena mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Mimpi saja takut lalu bagaimana akan menghadapi realita dunia yang sebenarnya?

Maka mimpi tentang harta adalah suatu mimpi yang sangat manusiawi. Adalah muda senang-senang, tua kaya raya, mati masuk surga menjadi mimpi yang manusiawi juga. Dan itu mimpi siapa pun orangnya. Tak hanya saya. Tetapi takdir memang menjadi pembeda semua itu saat ini. Namun pula, bukankah ada takdir yang bisa diubah dengan kerja keras dan doa? Kali ini, untuk semua itu, izinkanlah pula saya prosakan mimpi-mimpi.

Tak ada yang menyita di benak saya selama ini kecuali bagaimana mempersiapkan masa depan itu sendiri. Masa depan dari saya sebagai seorang PNS, berumur hampir 37 tahun, beristri satu dengan tiga orang anak. Saat ini saya bekerja di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan dan tinggal di desa Pabuaran, kecamatan Bojonggede, kabupaten Bogor.

Di instansi saya ini adalah hal yang wajar jika ada mutasi atau promosi, pegawai ditempatkan di luar Jawa dan jauh dengan keluarga. Tentu bagi yang sudah berkeluarga ada dilema pada saat itu: membawa semua keluarga dengan konsekuensi tingginya biaya pindah rumah dan sekolah anak-anak atau keluarga ditinggal saja, cukup dengan berkorban pulang pergi dalam jangka waktu tertentu, sebulan atau dua minggu sekali. Satu hal adalah semuanya sama-sama menguras tabungan. Lalu bagaimana nanti kalau sudah pensiun? Adakah yang tersisa?

Mimpi-Mimpi Itu

Adalah sebuah ingatan yang tak pernah luput yakni pada saat saya ditakdirkan untuk dapat mengunjungi tanah suci untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2011. Dalam sebuah buku panduan doa-doa yang ada, saya menemukan doa yang baru pertama kali saya baca dan seumur hidup tak pernah terlintas di benak saya. Yaitu doa berupa: “Ya Allah, jauhkanlah kami dari penderitaan masa tua.”

Dari doa ini ada makna yang tak bisa diabaikan bahwa dunia—setelah akhirat, pun tak hendak diluputkan dari pikir dan kerja kita. Maka ketika saya memimpikan segala pernak-pernik dunia ini, jangan dilepaskan bahwa itu semua adalah dalam rangka mempersiapkan yang terbaik untuk kehidupan setelah kehidupan dunia.

Lalu apa derita masa tua itu? Semua mafhum sepertinya. Semisal jatuh miskin, tidak ada tunjangan pensiun, sakit-sakitan, tidak mandiri sehingga bergantung kepada anak dan cucu, dana kesehatan yang tak pernah bisa mencukupi dan menutupi biaya pengobatan serta perawatan dan masih banyak lagi yang lainnya. Ini mimpi buruk.

Semua itu tak akan pernah menjadi mimpi saya. Mimpi saya sekarang untuk saat itu adalah tua tetaplah berjaya, sehat selalu, pensiun mencukupi, tabungan berlimpah, terkaver perlindungan asuransi jiwa dan kesehatan, mempunyai penghasilan yang terus mengalir dari passive income, hidup tenang menunggu ajal di atas tanah dan rumah luas yang dibelakangnya ada empang, dan mempunyai warisan berharga buat anak agar mereka menjadi keturunan yang kuat baik secara materi dan ruhani. Salah mimpi ini? Tidak.

Yang tak pantas adalah ketika saya mempunyai mimpi tetapi tak berniat mewujudkannya dan yang ada hanya laku diam. Maka bagaimana takdir akan bisa berubah? Dan inilah yang harus diselesaikan oleh mereka yang punya mimpi. Lucas pun melanjutkan kalimatnya yang sudah saya sebut pada paragraf paling atas dengan kalimat: “Kunci kesuksesan itu sendiri adalah mewujudkan impian.” Ini antitesis dari tidak bergerak, diam, tak bekerja.

Cara Kuno

Untuk mewujudkan mimpi-mimpi itulah tak ayal ada suatu kredo yang tak bisa dibantah oleh saya dan semua orang meyakininya: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Cara konvensional—tak perlu rumit—yang biasa saya lakukan sedari dulu adalah dengan cara menabung. Cerita bagaimana saya dan istri bisa menunaikan haji adalah bukti validnya.

Kami menabung sejak Oktober 2006 untuk bisa menutupi ongkos haji awal agar kami dapat masuk antrian pemberangkatan. Akhirnya pada tahun 2009 kami bisa mendaftar dengan menyetor uang sebesar Rp40 juta untuk dua orang. Tiga tahun kami menabung dengan menyisihkan sebagian penghasilan kami. Dan tetap terus menabung sampai tahun 2011 ketika kami diharuskan melunasi sisa ongkos naik hajinya. Semuanya bisa dilakukan dengan cara kuno itu.

Menabung bagi saya adalah langkah terencana dalam mewujudkan mimpi, walau ini terasa menyakitkan, dengan menyingkirkan nafsu-nafsu besar saya untuk memiliki sesuatu—yang merupakan naluri purba, semata agar saya siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan.

Ini terus kami lakukan sampai sekarang. Yang paling anyar adalah kerja untuk mewujudkan mimpi menyekolahkan anak-anak di sekolah favorit. Dua tahun lagi, anak saya yang kedua dan ketiga masing-masing akan lulus SD dan TK. Ini membutuhkan dana yang besar. Dan mimpi saya sekarang adalah bagaimana nanti pada saatnya saya punya kemampuan dana mendaftarkan mereka dan tak kebingungan mencari dari mana serta tak membebani keuangan saat itu.

Akhirnya saya ikut program tabungan rencana mandiri di suatu bank. Saya harus menyetorkan sejumlah dana tertentu yang tidak boleh diambil sampai waktu yang telah ditentukan. Bagi saya inilah yang bisa saya lakukan untuk membentuk anak-anak saya menjadi generasi yang kuat. Semua yang kami keluarkan bukanlah biaya tetapi investasi jangka panjang. Suatu saat saya akan memetik hasilnya. Manis tentunya.

Oleh karenanya saya memperbanyak investasi itu. Selain dengan menabung, investasi untuk anak-anak adalah dengan mengikutkan mereka dalam program asuransi pendidikan dan kesehatan.

Sedangkan untuk saya sendiri, selain ikut dalam program asuransi kesehatan dari kantor, saya pun ikut program asuransi mandiri lainnya. Hal yang sama saat saya juga ikut program dana pensiun, walaupun sebagai PNS secara otomatis sudah terkaver program pensiunnya. Tetapi lagi-lagi hal ini semata-mata agar kami—istri saya juga seorang PNS—siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan di masa tua.

Yang Belum Terwujud

Tetapi masih ada mimpi yang belum bisa terwujud dengan kerja saya sekarang: mendapatkan passive income; memiliki satu kilogram emas batangan, dan mempunyai rumah minimal dua lagi untuk saya wariskan buat anak-anak. Walau ini terasa berlebihan. Tapi sekali lagi mengapa takut untuk bermimpi?

Tentang passive income itu semestinya saya harus memikirkan masak-masak karena harus terjun ke dunia yang tak berkaitan dengan kegiatan dan keahlian saya di bidang perpajakan. Jika itu berkaitan, tentu ada konflik kepentingan dan melanggar kode etik sebagai pegawai pajak.

Bila saya tetap bersikukuh masuk, maka sudah selayaknya saya mengundurkan diri sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Kalau langkah ini yang diambil tentunya sudah bukan lagi mendapatkan penghasilan dari passive income.

Membuka warung soto—karena kebetulan keluarga besar istri berkecimpung di dunia kuliner persotoan, membuka warung waralaba ayam goreng tepung, dan menyewakan mobil yang jarang terpakai masih menjadi mimpi yang paling detil untuk mendapatkan passive income tersebut. Saya berusaha merealisasikan semuanya itu segera. Yang pasti bukan saya yang akan mengerjakannya. Saya cukup dengan menginvestasikan aset yang ada.

Untuk dua yang terakhir bukankah ada seorang pakar keuangan yang pernah mengatakan cara terbaik mempertahankan kekayaan adalah dengan memiliki emas dan rumah? Emas yang tidak akan terpengaruh dengan inflasi dan rumah (di dalamnya ada aset bernama tanah) yang nilainya selalu naik. Sepertinya saya akan kembali ke cara kuno untuk mendapatkannya atau bisa dengan mencicilnya.

Doa dan Berbagi

Dan itulah mimpi-mimpi saya. Saya yakin menjadi nyata. Karena ada laku yang tak boleh tertinggal: berdoa. Saya bukan agnostik. Saya yakin akan adanya campur tangan Allah SWT atas semua hidup saya. Kepada siapa lagi meminta kekayaan kecuali kepada Dia Yang Mahakaya dan Yang Maha Pemberi.

Dia memberikan tahta dan harta kepada orang yang dikehendaki. Begitu pula Ia akan mengambilnya dari siapa yang dikehendakiNya. Bagi saya, doa adalah senjata utama agar mimpi-mimpi itu mewujud.

Doa adalah laku mendapatkan kekayaan. Dan untuk mempertahankannya adalah dengan berbagi. Sebuah bentuk lain dari rasa syukur. Sebuah kerja filantropi yang akan melipatgandakan serta mempertahankan kekayaan. Agar tak seperti Qarun yang tertelan bumi karena tamak dan kikirnya, atau kaya tapi gila harta seperti karakter Scrooge McDuck (Paman Gober) dalam kartun Disney.

Semoga.

**

Artikel ini telah diikutkan dalam lomba menulis yang disenggarakan oleh Cerdas Keuangan  dan terpilih  sebagai 10 artikel terbaik pilihan Cerdas Keuangan (Februari 2013).

 

Riza Almanfaluthi

11 Januari 2013

Just Married: One Way


image

Ceritanya pulang habis sidang. Ternyata di Danapala ada persiapan nikah dengan tema besar: Imlek. Nah di sana ada replika bajaj-bajajan. Saya diminta teman-teman unyu untuk difoto. Ya sudah demi memuaskan para pelanggan saya bersedia dan rela difoto. 🙂

BATIK YANG TERBAKAR


Baju batik itu terbungkus kertas kado yang cantik dan dimasukkan pada tas jinjing dari bahan karton yang tebal. Diserahkan oleh seorang teman kepada saya sebagai hadiah karena selama ini telah banyak membantunya. Ah, sebuah bantuan yang tak seberapa: membuat puisi-puisi untuk dibacakan di setiap acara kantornya. Sayang baju batik itu terbakar.

Suatu ketika dalam perjalanan dinas ke Pekalongan, kota yang terkenal dengan batiknya itu, saya sempatkan mampir ke sebuah butik batik yang ada di sana. Banyak pilihan bagus tidak membuat saya bingung, saya cukup dengan kriteria warna dan ukuran yang pas dengan saya. Dua baju batik lengan panjang dan pendek terbaik saya beli. Sayang semua itu juga ikut terbakar.

image

Saya bersama teman-teman kantor dalam suatu acara, berdiri paling kanan dengan salah satu baju batik yang terbakar.

 

Pertengahan tahun 2010, bagian atas belakang rumah saya kebakaran. Api membakar habis kamar tempat tumpukan pakaian sehabis dicuci, syukurnya tidak merembet ke bagian bawah dan rumah lain. Tidak ada korban jiwa dan kebakaran dapat ditangani segera karena sigapnya para tetangga dalam memadamkan api. Penyebabnya kami tidak tahu sampai sekarang, entah karena korsleting atau obat nyamuk bakar.

Setiap musibah baik besar ataupun kecil—sekadar kaki tersadung batu—selalu saya jadikan sarana kontemplasi. Apa yang sudah saya perbuat? Dari hasil perenungan itu saya mendapatkan banyak pelajaran. Salah satunya: jika ada sesuatu yang teramat dicintai maka bersiaplah untuk kehilangan. Kebetulan baju batik pemberian teman dan yang saya beli di Pekalongan itulah batik favorit yang biasa saya pakai ke kantor.

Kebakaran itu tidak melahap semua baju batik yang saya punya. Ini melegakan, karena ini berarti saya masih punya cadangan baju batik untuk pergi ke kantor. Memang, pada waktu itu kantor saya—yang juga merupakan instansi pemerintahan—mewajibkan berbatik pada hari Rabu dan Jumat. Kebijakan berbatik di hari Rabu ini bukan merupakan kebijakan kantor pusat kami. Kantor pusat hanya mewajibkan berbatik pada hari Jum’at saja.

Tambahan hari itu sebagai bukti komitmen dan kecintaan kantor kami kepada warisan budaya leluhur yang wajib dijaga. Itu tak masalah bagi saya. Apalagi saat ini—setelah era reformasi—pandangan masyarakat terhadap batik pun mengalami pergeseran.

Dulu saya merasakan sekali persepsi tentang batik yang ada pada masyarakat, antara lain bahwa batik itu hanya dipakai oleh aparat pemerintah, baju khusus untuk resepsi, sangat tidak modis, dan ortodok. Persepsi pertama bisa dikarenakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada saat itu, di hari-hari tertentu diwajibkan untuk memakai baju Korpri yang kebetulan bermotif batik warna biru.

Sekarang sudah berubah. Batik sudah menjadi milik bersama. PNS ataupun karyawan swasta memakai baju batik sebagai busana kantornya. Batik pun mengikuti tren. Warna yang tidak mainstream. Mode zaman dulu yang kaku sampai-sampai hampir tak bisa dibedakan mana baju batik pria dan wanita sudah tak ada lagi. Kini tak aneh pula melihat pemandangan wanita yang memakai rok batik, blus batik, blazer batik, kaos batik, gaun batik, busana muslim batik, ataupun pria yang memadupadankan batik dengan jeans.

Batik pun sudah menjadi ikon pencitraan. Ikon untuk mengirimkan pesan ke dalam pikiran bawah sadar—pikiran yang seringkali menjadi penentu pilihan—dari target komunikan. Pencitraan dari perusahaan layanan penerbangan, hotel, restoran, pasangan aspiran kepala daerah, sekolah, penggemar klub sepakbola dunia, dan masih banyak lagi lainnya.

Seiring perkembangan zaman, teknologi, gaya hidup masyarakat, serta hukum ekonomi permintaan dan penawaran yang berlaku maka batik pun menjadi komoditas yang terangkat harkatnya. Semula produk buatan tangan menjadi produk yang dihasilkan secara masif dari pabrik kain tanpa menurunkan kualitas kain dan corak motifnya. Semula hanya dijual di rumahan, toko batik berskala kecil, dan pasar tradisional, kini batik menjadi barang jualan yang laku dijual di rumah-rumah busana, ruang-ruang pamer, toko ritel modern, gerai-gerai, dan butik-butik batik ternama.

Metode penjualannya pun berkembang. Tak hanya secara offline, di era digital seperti saat ini situs-situs batik online pun bermunculan. Ini memberikan alternatif dan kemudahan cara berbelanja bagi para pembeli yang tak punya waktu luang di tengah-tengah kesibukannya. Apalagi ditengarai bahwa belanja secara online akan menjadi tren yang tak terelakkan. Karena ia memberikan sensasi belanja yang tak biasanya. Satu yang dibutuhkan untuk hal ini adalah kepercayaan.

Pembeli percaya bahwa situs batik online itu tidak pernah menipu dan selalu jujur antara deskripsi kualitas dari batik jualannya di dalam situs dengan kualitas batik dalam kenyataannya. Penjual pun percaya kalau pembeli juga tidak main-main dalam memesan dan cara pembayarannya. Kepercayaan mengikat semuanya, para pihak.

Dengan “mata uang” yang sama bernama kepercayaan itulah, pada September di tahun yang sama, saya pun dipindah ke kantor pusat. Tak lama kantor pusat juga menerapkan aturan berbatik buat seluruh pegawainya yang tersebar di seluruh Indonesia selama dua hari dalam sepekan yakni pada hari Selasa dan Jumat. Ini menyenangkan, karena bagi saya batik membuat tempat kerja semakin penuh warna. Tidak terlihat monokrom.

Sebagai hadiah perpisahan dari teman-teman di kantor lama, saya mendapatkan selembar kain batik warna biru. Saya jahit kain batik itu di penjahit langganan dan hanya saya pakai di momen-momen khusus.

image

Batik biru pada saat momen special, pertengahan Oktober 2012, bersama Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmani, Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak Dedi Rudaedi (Kanan), dan Direktur Transformasi Proses Bisnis Wahju Karya Tumakaka (Dokumentasi Direktorat P2Humas DJP).

 

Saya berharap batik hadiah ini tidak akan terbakar lagi. Bukan untuk apa-apa. Hanya sekadar sebagai pengingat kalau saya pernah punya teman-teman sebaik mereka; sebagai upaya kecil saya melestarikan warisan adiluhung bangsa; sebagai cara sederhana saya mencintai produk dalam negeri. Itu saja.

image

Teman-teman di kantor lama: Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat.

 

***

Riza Almanfaluthi

Januari 2013

image

HOW TO SIGN OUT TWITTER FOR GALAXY TAB


HOW TO SIGN OUT TWITTER FOR GALAXY TAB

 

Cara sign out dari Twitter antara HP Samsung Galaxy dan Galaxy Tab memang beda. Untuk yang terakhir rada ribet. Dari berbagai cara yang ada di Google, yang saya pake ini yang manjur. Tak perlu banyak basa-basi saya kasih tahu saja langsung. Semoga bermanfaat.

  1. Sentuh Tombol Roda (Settings)

     

  2. Tampil pilihan seperti di bawah ini lalu pilih Settings.

     

  3. Tampil layar Setting lalu pilih akun Twitter yang ada (Choise your account).

     

  4. Muncul tampilan akun yang dipilih lalu sentuh Remove Account

Jangan khawatir data yang ada di Twitter hilang. Itu cuma penanda kita mau sign out.

  1. Lalu muncul pilihan seperti ini. Tekan OK.

     

  2. Selesai sudah. Alhamdulillah. Sekali lagi semoga bermanfaat.

     

    ***

     

    Riza Almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara

    07:35 24 Januari 2012

     

tags: how to sign out twitter for galaxy tab, how to log out twitter for galaxy tab, sign out twitter, log out twitter, cara keluar dari twitter galaxy tab, cara log out dari twitter galaxy tab, cara sign out dari twitter galaxy tab, bagaimana sign out twitter galaxy tab, bagaimana log out twitter galaxy tab,

M A S T A R A


M A S T A R A

Namanya Pak Mastara. Ia adalah guru SD saya sewaktu menuntut ilmu di SD Negeri Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, puluhan tahun lampau. Pada masa muda, dalam pandangan saya, ia ganteng seperti Obbie Mesakh. Ia menikahi teman sejawatnya yang cantik, namanya Ibu Dahlia, guru saya juga.

Tubuhnya atletis. Maklum ia adalah guru olahraga. Orangnya baik. Jarang atau bahkan tak pernah marah. Tulisan latinnya bagus banget. Bisa dilihat pada raport SD saya yang sekarang masih terdokumentasikan dengan baik. Dia juga wali kelas kami di kelas VI.

Yang saya ingat betul darinya adalah ia yang mendampingi saya untuk setiap lomba. Terutama lomba baca puisi. Atau sewaktu ada acara 17 Agustusan. Dia yang buat puisinya lalu saya yang membacakannya di malam acara puncak HUT RI. Satu hal yang saya menyesal dan tak akan pernah lupa dari ingatan saya sampai sekarang dan nanti adalah saat saya lalai atas permintaannya.

“Jangan lupa bacakan siapa pencipta puisi itu,” ingatnya sambil menyerahkan teks puisinya.

“Iya Pak,“ jawab saya.

Tapi apa lacur, panggung memberikan aura gugupnya pada saya. Demam panggung pun melanda. Saya cuma membaca judulnya saja. Tak ada nama Mastara—sebagai pencipta puisi itu—saya sebut setelahnya. Barulah saya sadar waktu setelah turun panggung ketika diingatkan olehnya. Tapi ia tidak marah.

Setelah dewasa saya baru paham apa pentingnya penyebutan namanya itu. Ini sama pentingnya saat nama pencipta lagu tertulis di layar televisi saat sebuah lagu dinyanyikan oleh Sang Penyanyi. Momen itu sampai sekarang masih saya ingat. Panggungnya. Tempatnya. Suasana riuhnya. Malamnya.

Yang masih saya ingat betul juga adalah pada saat ia memimpin pemanasan waktu jam olahraga. Terus waktu dia mengajar di kelas. Terus waktu dia memberikan les pada kami. Dia menyalin dari buku teks kecilnya. Terus ingat kalau ia pernah pakai jaket yang di belakangnya tertulis Prajabatan. Dan masih banyak lainnya yang saya ingin ceritakan sih sebenarnya. Cuma saya takut ada bagian-bagian yang tidak pas karena lupa.

Nah, waktu tadi malam (Senin, 14/01) sewaktu saya menunggu maghrib dan menunggu perjalanan KRL lancar kembali setelah Stasiun Pondok Cina diblokir para pedagang kaki lima dan mahasiswa, saya sedang ingat Anis Matta. Ada kaver buku Anis Matta yang menurut saya posenya persis pose Obbie Mesakh di sampul album lawasnya. Maka saya cari di Google. Nah ketika gambar Obbie Mesakh muncul saya pun langsung teringat sama Pak Mastara.

Sekarang kan zamannya facebook, mungkin Pak Mastara ikut gabung di sana. Maka saya ketik namanya di Google. Ada. Ada satu tautan yang mengarahkan saya pada blog SD Negeri 2 Jatibarang. Ada namanya juga di sana. Saya klik. Jreng…

clip_image001

Pak Mastara paling kiri. Klik untuk memperbesar. (Sumber gambar dari sini)

Awalnya saya tak langsung mengenalnya. Tapi lama-kelamaan akhirnya saya ngeh juga. Ya Allah…Pak Mastara, kurang lebih 25 tahun lamanya tak bertemu. Waktu sudah merubah semuanya. J Saya sampai pangling. Mungkin beliau juga tak mengenal saya kali kalau ketemu.

Ini blog sudah tak mutakhir lagi. Postingan terakhir tanggal 17 Juni 2009. Saya tak tahu apakah ia masih aktif mengajar di sana atau tidak. Ia menjabat sebagai bendahara sekolah pada saat itu. Dari blog lain yang saya lacak beliau juga sebagai panitia Pembangunan Masjid Komplek Perumahan Jatibarang Baru Indah tahun 2010. Ngomong-ngomong saya ucapkan terima kasih kepada pemilik blog ini yang sudah memberikan jalan pertama terikatnya silaturahim saya dengan beliau.

Dengan menuliskan ini saya cuma mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau. Saya doakan semoga beliau sehat-sehat saja dan semoga Allah memberikan yang terbaik atas jasa-jasanya sebagai guru yang telah mendidik saya dan teman-teman yang lain. Inilah amal yang tak akan pernah putus pahalanya.

Buat teman yang tahu keberadaan beliau, sampaikan salam hormat saya kepadanya. Salim. Semoga Allah mempertemukan kami di darat di suatu saat nanti. Amin.

**

clip_image003

Bangunan kotak adalah SD Negeri Pendowo I sampai dengan Pendowo V. Bagian sebelah kiri adalah Sungai Cimanuk, tempat saya main dan berenang di waktu kecil. Ada buayanya di sana. Sekarang buayanya pindah ke Android jadi Swampy di Game Where’s My Water? ^_^

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15 Januari 2013

13:56

Tags: Mastara, SDN Jatibarang 2, SDN Pendowo I, SDN Pendowo V, Pendowo I, Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, Swampy, Where’s My Water, Cimanuk, Sungai Cimanuk, SD Negeri Pendowo V, Dahlia, Anis Matta, Obbie Mesakh, Stasiun Pondok Cina, SD Negeri Pendowo I

Pulang


image

Ini kami–Krisnayadi Nugraha, saya, dan Mbak Endi Farah Lena–di depan Gedung Dhanapala sedang siap-siap pulang dari Pengadilan Pajak selesai persidangan (Senin, 14 Januari 2013).

image

Mpok Farah

image

Kamu tahulah siapa kami. 🙂

Ketika Bintang-bintang Menjadi Kunang-kunang


 

 

Hai Ma…

Puisi Rendra.

Sudah tak ada yang bisa dikomentari lagi atas puisi ini kecuali menikmati keindahannya dalam rasa. Sudah tak ada yang bisa ditulis lagi atas puisi ini kecuali menikmati setiap aliran deras kata-kata. Sudah tak ada yang bisa…ah Sudahlah.

 

 

HOW TO CHANGE DEFAULT BROWSER IN ANDROID


HOW TO CHANGE DEFAULT BROWSER IN ANDROID

 

Di hp saya ada dua peramban (browser). Yang satu namanya Internet bawaan dari Android (Froyo). Peramban lainnya adalah Opera Mini yang saya unduh dan instalasi sendiri dari Google Play Store.

Saya suka Opera Mini karena tampilan banyak tab-nya. Di layar utamanya sudah ada ikon untuk kita bisa ganti tab. Fungsi tab ini adalah kalau kita buka halaman baru sebuah situs, kita tak perlu menutup halaman situs terdahulu. Halaman lamanya masih ada, tidak hilang, dan gampang dicari.

Nah, di Twitter kan banyak banget tuh tautan (link) yang kudu dibuka. Entah tautan berita, tautan tweet panjang, ataupun tautan gambar. Biasanya kalau saya mengeklik tautan itu akan muncul pilihan seperti ini:

Saya biasanya milih Opera Mini. Dan mengeklik centang Use by default for this action. Dengan mencentang, maka kita menjadikan Opera Mini sebagai peramban utama (default browser).

Beberapa minggu ini saya tuh jengkel yah, kok kalau mengeklik tautan di twitter langsung yang kebuka peramban Internet gitu. Saya maunya tetap di Opera mini. Saya cari-cari di pengaturan Twitter, mungkin bisa diubah di sana. Gak nemu. Di Google juga kayaknya tidak ada. Baru sore kemarin (11/1), di atas KRL Angke-Depok, saya otak-atik, cari, blusukan ke jeroan Android akhirnya ketemu juga cara mengubahnya. Bagaimana caranya?

  1. Tekan tombol menu utama

     

  2. Klik Settings (Pengaturan)

     

  3. Muncul layar Settings lalu klik Application

     

  4. Muncul tampilan Application Settings lalu klik Manage Applications

     

  5. Muncul tampilan Manage Applications lalu pilih All

    .

     

  6. Pilih Internet

  7. Muncul tampilan Application Info

     

  8. Turunin layarnya sampai ketemu Launch by Default

     

  9. Tekan tombol Clear defaults di atas.
  10. Selesai.

Begitulah yang saya lakukan. Nanti kalau di Twitter kita mau mengeklik tautan berita misalnya, maka akan tampil kembali pilihan seperti ini lagi:

Centang kotak lalu pilih Opera Mini untuk menjadikan Opera Mini sebagai default browser internet di Twitter atau aplikasi lainnya yang ada di hp android kita.

Dan kalau kita mau mengubah peramban dari Opera Mini menjadi Internet atau peramban lainnya, lakukan undefault Opera Mini terlebih dahulu, dengan cara melakukan langkah-langkah di atas lalu pada Manage Applications cari Opera Mini dan sentuh Clear defaults. Sama saja kok. Mudah yaa.

Semoga bermanfaat.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.04 12 Januari 2013

 

tags: how to change default browser in android, how to change opera mini to others, mengubah default browser internet menjadi opera mini di twitter, mengubah default browser android, mengubah default browser di twitter, mengubah default browser di facebook, agar yang kebuka opera mini di twitter, opera mini buat di twitter, opera mini buat di facebook, opera mini twitter, opera mini facebook, browser menjadi opera mini, browser opera mini buat twitter.

 

Hadiah Besar Pagi Ini


image

Senin pagi ini (7/1) baru saja mau duduk di kursi kerja tampak satu tas berisi banyak barang di atas meja. Alhamdulillah, isinya ada mug, jam beker, tempat post it, sertifikat, dan yang utama adalah sebuah buku yang berjudul: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak.

Terima kasih saya ucapkan kepada Direktorat Kitsda yang telah memberi semuanya ini pada saya. Apa gerangan hubungan mereka, hadiah ini, dan saya? Saya cuma diminta untuk bantu menyunting naskah-naskah terpilih tentang kisah-kisah para jurusita ataupun pegawai yang terkait dengan penagihan pajak. Cerita dari para pegawai pajak di barat sampai timur Indonesia. Sekali lagi terima kasih banyak.

Senin yang saya rasa sudah suka di awal jadi tambah suka lagi. 🙂

***

Riza Almanfaluthi

07 Januari 2013

*Langsung di tulis di hp.

Di Suatu Malam-malam


image

Kika: Yahya Ayyasy, RDA, Maulvi