Beberapa waktu lalu, ada teman saya bernama Mas Johana Lanjar Wibowo yang membagi ulasan kawannya (Mas Dany Setiawan) soal buku Sindrom Kursi Belakang. Ini merupakan ulasan singkat dalam pandangan pertamanya terhadap buku baru saya ini. Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas pendapatnya ini. Semoga bermanfaat dan silakan membaca.
*
“Resah dan bahagia itu dipergilirkan“
Itu adalah kalimat yang ada pada sampul bukunya pak Riza Almanfaluthi: “Sindrom Kursi Belakang”.
Hari Jumat sore kemarin, saya dipinjamkan sebuah buku oleh sahabat saya yang sekarang bertugas di Kanwil LTO (Large Tax Payer Office). Saya diminta untuk membacanya. Katanya tulisan-tulisan saya cocok dengan tipe penulisan di buku ini. Senang sekali saya.
Saya sebenarnya sudah mengetahui jika Pak Riza sedang menerbitkan karya terbarunya. Belum lama ini, Pak Ahmad Dahlan sempat membahas hal tersebut di salah satu postingan Facebooknya. Hanya saja, saya belum kepikiran untuk membeli buku ini.
Rencananya, buku ini akan saya baca untuk mengisi akhir pekan. Apalah daya, ternyata akhir pekan saya lebih sibuk daripada hari-hari biasanya. Barulah malam ini saya bisa bercengkerama dengan buku ini. Itu pun setelah menunggu anak-anak tidur semuanya.
Dengan ditemani secangkir teh hangat, saya siap membacanya, siap menikmatinya.
**
Baca: Review Buku Sindrom Kursi Belakang: Tak Setetes Pun Air Mata
Dimulai dari sampulnya.
Saya suka memperhatikan sampul dari sebuah buku. Saya merasa bahwa setiap detail yang ada pada halaman sampul sebuah buku pasti ada maksud dan tujuannya.
Pun demikian dengan buku ini, saya sangat penasaran dengan pemilihan kata “ dipergilirkan”. Kata yang sangat jarang atau malah belum pernah saya gunakan dalam percakapan sehari-hari.
Saya mencoba untuk tanya Mbah Google, apa makna dan seperti apa penggunaan kata “dipergilirkan”. Ternyata, semua hasil pencarian di halaman pertama Google, kata tersebut merujuk pada Al-Qur’an Surat Ali-‘Imran ayat 140. Jadi malu saya. Membaca Al-Qur’annya bagaimana sih, Dan? gitu aja nggak tau, ngaji lagi geh!
“Resah dan bahagia itu dipergilirkan” itu adalah kalimat yang dipilih untuk di tampilkan pada halaman sampul buku tersebut. Saya menebak jika pemilihan kalimat tersebut oleh penulis sepertinya merujuk ke Surat Ali-‘Imran ayat 140 itu. Namun, saya masih belum tahu apa alasan pemilihan kalimat tersebut.
Berbicara soal resah, bahagia, serta giliran, saya jadi teringat dengan penggiliran rumah tinggal yang sudah kami lalui dalam beberapa minggu ini. Setiap hari Minggu sore adalah waktu yang paling tidak disukai oleh anak-anak saya. Karena apa? Karena setiap hari Minggu sore adalah gilirannya kami untuk tinggal di rumah Bojong Kulur. Terkadang ada keresahan mereka di hari itu. Dan setiap hari Jumat sore adalah waktu yang paling dinanti-nanti oleh anak-anak karena hari itu adalah gilirannya kami pulang ke Pondok Kelapa, ke rumah eyang-eyangnya. Terasa sekali bahagianya mereka.
“Resah dan bahagia itu dipergilirkan”. Semoga yang saat ini sedang dipergilirkan ini adalah soal rumah tinggalnya saja. Walaupun terkadang ada keresahan, semoga kebahagiaannya juga tetap selalu ada di mana pun tinggalnya.
Oh iya, karena lamanya menikmati sampul, saya baru bisa menyelesaikan tiga judul di etape pertama buku “Sindrom Kursi Belakang” ini.
Tidak apa-apa, pelan itu terasa lebih nikmat.
*
Dany Setiawan
13 Agustus 2023.
***
Riza Almanfaluthi
Untuk pemesanan buku Sindrom Kursi Belakang silakan mengeklik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

11 thoughts on “Mengapa “Dipergilirkan”? Pasti Ada Maksud dan Tujuannya. Sebuah Ulasan Buku Sindrom Kursi Belakang”