Siapa yang Pinjam Buku Sering Lupa Mengembalikan?


Semalam saya keluar dari sebuah tempat parkir dan membayar bea parkirnya dengan duit digital. Bayarnya hanya Rp6 ribu. Uangnya langsung masuk ke “kas” perusahaan. Sudah canggih. Sudah pakai aplikasi.

Lalu saya teringat dengan buku ini. Buku ini buku langka. Cetaknya terbatas. Susah mencarinya. Ini buku jadi dokumen resmi oleh DJP. Awal terbit biasa saja. Lewat tahun, buku ini sering jadi rujukan publikasi konten.

Saya mengecek buku itu di Perpustakaan Nasional melalui aplikasi iPusnas nihil. Karena dicetak terbatas dan sangat diperlukan, saya jaga betul kalau ada yang meminjam. Soalnya kalau sudah dipinjam, susah baliknya. Entah lupa atau karena apa.

Di zaman sekarang memang adanya aplikasi mengurangi lupa dan sebagainya itu. Aplikasi perpustakaan memiliki buku digital terbatas. Aplikasi pun membatasi masa pinjam buku digital supaya buku bisa dipinjam oleh anggota perpustakaan yang lain. Kalau peminjam lupa mengembalikan, aplikasi otomatis mengambil buku yang kita pinjam dengan menutup hak akses baca.

Pertanyaannya, mengapa perpustakaan membatasi buku digital yang dipinjam? Bukannya buku digital gampang disalin? Misalnya buku saya yang berjudul Amalan Sederhana Pembuka Pintu Kemudahan hanya 9 eksemplar saja yang ada di iPusnas.

Buku digital memang gampang disalin, tetapi tetap membutuhkan ruang penyimpanan yang cukup apalagi dengan jumlah buku yang luar biasa banyak. Itu butuh biaya.

Pun, tujuan pembatasan peminjaman buku memang untuk mencegah kematian industri perbukuan yang sudah dijamin oleh UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Di sana ada penulis, penerjemah, penyadur, editor, desainer, ilustrator, pencetak, pengembang buku, dan lain sebagainya.

Di perpustakaan konvensional pun jumlah buku setiap judulnya kan dibatasi juga. Masalahnya bukan itu juga. Kalaupun jumlah buku digital yang hendak dipinjam diperbanyak akankah masyarakat Indonesia mau membaca buku? Jawaban ini perlu ditelaah lagi karena survei literasi tahun 2015 menempatkan Indonesia di urutan nomor dua dari bawah dari 62 negara, hanya di atas Botswana.

Siapa yang pinjam buku sering lupa mengembalikan?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20 Juni 2022

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.