Mahakarya


Menjelang akhir tahun, pikiran kita terkenang-kenang.

Setiap warsa Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan sanjungan kepada Kantor Wilayah DJP yang aktif dalam memublikasikan konten di situs web pajak.go.id. Dari sanjungan ini dapat diketahui bahwa dasar penilaian utama adalah kuantitas konten.

Konten-konten itu dibuat oleh para kontributor dari unit vertikal kantor wilayah masing-masing dan diunggah melalui publishing organization di situs web P2Humas. Konten yang masuk akan disunting terlebih dahulu oleh editor di kantor wilayah sesuai standar yang telah ditetapkan sebelum meneruskannya kepada editor di Kantor Pusat DJP.

Beberapa tahun terakhir, hanya tujuh kantor wilayah DJP yang mendominasi pembuatan konten terbanyak di situs web pajak. Agar Kantor Wilayah DJP lain bisa berkesempatan untuk mendapatkan apresiasi publikasi ini, maka pada 2021 penilaiannya akan dilihat pada kualitas konten publikasi selama tahun 2020, tidak lagi pada kuantitas konten.

Namun, berdasarkan pengalaman para editor situs web pajak.go.id selama tahun berjalan ini, Kantor Wilayah DJP yang memiliki kualitas konten yang bagus tidak lepas dari jumlah kontennya yang banyak juga.

Jadi teringat dengan buku karya Adam Grant yang berjudul Originals: Tabrak Aturan, Jadilah Pemenang. Grant menulis, pandangan umum menganggap ada korelasi terbalik antara kuantitas dan kualitas—jika ingin menghasilkan karya bagus, Anda harus membuat lebih sedikit karya. Namun pandangan ini salah.

Grant menulis lagi. Sebenarnya dalam pembuatan ide, kuantitas adalah jalur terbaik menuju kualitas. Profesor dari Stanford, Robert Sutton, berpendapat, “Para pemikir orisinal akan menghasilkan banyak ide yang berupa mutasi aneh, jalan buntu, dan kegagalan total. Namun, ini sepadan karena mereka juga menghasilkan kumpulan ide yang lebih besar—terutama ide-ide baru.”

Benak para editor situs web pajak di Kantor Pusat DJP tentunya akan lebih mudah mengingat kantor wilayah DJP yang banyak mengirim konten berkualitas daripada yang sedikit mengirim konten. Dari sana kemudian dapat diketahui kantor wilayah mana yang layak mendapatkan penghargaan sebagai editor terbaik dan kantor wilayah terbaik dalam publikasi konten di situs web pajak.

Dari pemikiran Grant tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa kualitas itu berbanding lurus dengan kuantitasnya. Kualitas akan meningkat seiring dengan meningkatnya kuantitas.

Ada perusahaan bernama Upworthy yang memiliki spesialisasi membuat konten bagus menjadi viral. Nah, dua staf di sana menguji coba dengan mengambil dua judul—jelek dan bagus—atas konten yang sama. Konten itu berupa reaksi seekor kera ketika mendapatkan imbalan ketimun atau anggur. Konten dengan judul jelek hanya ditonton oleh delapan ribu orang. Sedangkan konten dengan judul bagus ditonton oleh hampir setengah juta penonton.

Judul yang bagus itu ternyata berasal dari pemetaan pikiran (mind mapping) atau curah pikiran (brainstorming) pembuatan judul. Dari sana muncul aturan yang mengemuka: Anda harus menghasilkan paling tidak 25 ide judul untuk mendapatkan satu yang bagus.

“Begitu mulai putus asa, Anda akan mulai berpikir di luar hal-hal yang biasa,” tulis tim Upworthy. “Ide nomor 24 akan jelek. Maka ide nomor 25 akan menjadi berkah dari dewa judul dan menjadikannya Anda sebagai legenda.”

Selain itu bisa dengan mendapatkan umpan balik melalui media sosial. Seringkali kita mafhum, para penulis buku pada saat ini mengunggah beberapa calon sampul bukunya dan meminta para pengikut akun media sosial mereka untuk memilih kover mana yang paling bagus menurut mereka. Dari sana diambil keputusan, calon sampul buku yang mendapat pilihan terbanyak itu yang akan menjadi sampul buku.

Sealiran dengan pemikiran Grant, seorang penulis lelucon bernama Lizz Winstead mengunggah leluconnya di Twitter. Kalau agak panjang maka leluconnya ia poskan di Facebook. Jika dalam waktu kurang dari satu menit ada paling tidak 25 retweet atau banyak dibagikan orang di Facebook, ia menyimpan ide lelucon itu untuk dimasukkan ke dalam acara komedinya. Berhasil. Winstead berkata, “Twitter dan Facebook sangat membantu saya memutuskan apa yang dipedulikan orang.”

Maka tidak heran pula ada banyak penulis yang menjadikan media sosial sebagai tempat berkreasi kemudian karya-karya yang banyak mendapatkan tanggapan di media sosial itu dikumpulkan dan disatukan menjadi sebuah buku.

Kembali kepada persoalan kuantitas dan kualitas dalam berkarya, maka memperbanyak kreasi untuk mendapatkan kualitas terbaik menjadi adimarga terpilih agar kita bisa lebih maju lagi. Dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat itu kita bisa belajar kemudian menjadi jalan perbaikan.

Walaupun bisa jadi tebersit pikiran bahwa kita jangan-jangan sedang memfabrikasi karya. Produk dihasilkan terus menerus tanpa pertimbangan rasa. Tetapi, bukankah dalam setiap manufaktur ada bagian yang menjamin kualitas itu?  Apa yang kita sebut sebagai Quality Assurance. Saya bisa menepis bisikan itu dengan menyebut fabrikasi adalah dojo berlatih terus menerus untuk menghasilkan karya terbaik.

Dari Grant, kita menjadi tahu lebih banyak. Lebih dari 240 publikasi Einstein, sebagian besarnya hanya memiliki dampak kecil. Teori Relativitas Umum dan Khususnya menjadi pemuncak.

Tahu Mozart? Komponis yang membuat lebih dari 600 komposisi sebelum kematiannya di usia 35 tahun dan hanya sedikit karya Mozart yang dikenal. Namun, yang sedikit ini saja sudah membuatnya masyhur ke seluruh dunia sampai berbilang zaman.

Atau dari sebuah penelitian terhadap lebih dari 15 ribu komponis, semakin banyak karya yang dihasilkan seorang komponis dalam waktu lima tahun, semakin besar kemungkinan ia berhasil.

Mengutip kembali buku itu. “Sesuatu yang mungkin paling penting yang bisa dilakukan adalah banyak bekerja. Hasilkan banyak sekali karya,” kata Ira Glass, produser The American Life dan siniar Serial. Betul, seperti seorang pawang anjing di belahan dunia lain bernama Cesar Millan yang pernah mengatakan, “Repetition creates the master.”

Kalau kita kembalikan kepada diri sendiri, maka seperti matahari yang muncul dari gelapnya langit, akan ada sebuah pertanyaan: “Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk akhirat kita dengan memperbanyak amal? Karena kita tidak tahu dari mahakarya amal yang mana yang membuat Allah rida kepada kita. Wajar pertanyaan itu muncul karena jangan-jangan, amal yang banyak itu—yang seharusnya bernilai—ternyata menjadi debu dan sia-sia saja disebabkan ketidakikhlasan kita dalam beramal, karena hanya mengharapkan sanjungan dari manusia.

Percayalah, sanjungan manusia kepada kita tak akan mampu membuat penduduk langit terkenang-kenang.

***
Riza Almanfaluthi

Artikel ini ditulis untuk dan telah dimuat di Majalah Elektronik Internal Direktorat Jenderal Pajak INTAX Edisi VI Tahun 2020. Majalah bisa diperoleh di situs web internal Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat http://P2humas.

Gambar dari wallpaperflare.com

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.