Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (3)


Gertakan Dua Pistol

Wilayah Kerja KP2KP Martapura memang luas. Dan Belitang hanya salah satu dari 20 kecamatan yang ada di OKU Timur. Wajib pajak yang datang ke kantor seringkali wajib pajak yang berada di wilayah terluar dan terjauh jangkauannya. Ini akan menjadi masalah jika dokumen yang dipersyaratkan dalam pembuatan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau pelaporan SPT masih kurang.

Ujung-ujungnya dilema. Menolak atau menerima. Mengingat karakter masyarakat OKU Timur yang keras dan tanpa basa-basi membuat personel KP2KP seringkali tidak mudah menjelaskan kekurangan dokumen pendukung dalam permohonan mereka. Untuk ini mereka punya ceritanya.

“Ada bapak tua datang kepada kami,” Reza Liano mulai mengisahkan. “Orang tua itu tidak berbicara sepatah kata pun. Ketika masuk dia mengangkat kemejanya dan memperlihatkan dua pucuk pistol yang berada di pinggangnya kepada kami. Tidak menodongkan senjata, tetapi hanya memperlihatkan saja. Setelah itu dia keluar tanpa bertutur sama sekali,” lanjut Reza Liano.

Tidak berapa lama, Reza Liano menuturkan, orang tua itu kembali masuk ke ruangan kantor dan mulai bicara seperti biasa. Ternyata dia hanya ingin membuat NPWP. Tindakan sebelumnya hanyalah semacam gertakan saja agar kami tidak mempersulitnya.

Menurut Miryan Mirza, para pegawai KP2KP Martapura tidak ada yang mempersulit wajib pajak karena mereka senantiasa melaksanakan tugas sesuai aturan dan prosedur. Terpenting pula mereka berusaha memberikan pelayanan yang mudah dan cepat sepanjang listrik, internet, dan intranet tidak mati. “Masalahnya di sini listrik bisa sampai enam kali mati dalam sehari,” jelas Miryan Mirza sambil mengajak saya untuk kembali ke Martapura.

Hari menjelang sore. Terbayang trip kami yang akan kembali menempuh lubang sewu itu. Tetapi apa mau di kata, perjalanan ke mana pun dari Belitang, entah akan ke Palembang atau Bandar Lampung, tetap harus melahap jalan itu.

 

Malam Terakhir

Di dalam mobil kesepian menguar. Kegelapan masih berusaha keras memangsa sore. Jejak-jejaknya kemerahan di ujung barat. Segores dua gores saja. Ketika kegelapan telah sempurna, kami sudah menjejak kembali di halaman depan KP2KP Martapura. Azan Magrib telah berkumandang setengah jam yang lalu.

Saya salat Magrib di kamar sederhana yang ditempati Miryan Mirza. Kamar ini berada di lantai dua. Di depan kamar Miryan Mirza masih ada ruang cukup untuk menghamparkan kasur. Satria Yudha biasa beradu di situ. Di bagian bawahnya, di dekat tangga, adalah ruangan tempat tilam Reza Liano dan Romansyah, bendahara KP2KP Martapura, digelar.

Bangunan berlantai dua itu berdempetan persis dengan bangunan utama KP2KP Martapura. Setiap pekan, kecuali Satria Yudha yang merupakan bujang Bandung, mereka pulang ke Bandar Lampung untuk kembali kepada keluarga.

Bertemu dengan keluarga bagi mereka adalah upaya membangkitkan lagi energi kehidupan yang hampir padam. “Apalagi coba yang dicari? Untuk saya tiga hal saja yaitu ketenangan, kesehatan, dan keselamatan. Itu sudah cukup,” tukas Miryan Mirza.

Dan bagi Satria Yudha akhir pekan dijadikan saat yang tepat untuk bertemu dengan teman-temannya yang bertugas di KPP Pratama Baturaja. Daripada dimamah kesepian ia melancong ke sana. Jaraknya 36 kilometer saja dari Martapura.

Ini adalah malam terakhir buat saya. Esok pagi saya akan meninggalkan Martapura. Cerita mayat dan pistol hanya akan menjadi sekadar cerita. Tapi bukan tanpa makna. Kerja keras, perjuangan, dan pengorbanan adalah esensi yang bisa disunting.

Kepulangan esok ini pun tidak dengan kereta api, melainkan dengan mobil travel menuju Lampung. Setidaknya saya ingin tahu bagaimana rasanya melakukan perjalanan berkendara mobil dari Martapura seperti Miryan Mirza dan kawan-kawan lakukan di setiap pekannya.

Tentunya saya tidak akan menemukan kegelapan di sepanjang perjalanannya. Saya akan menikmati pemandangan dan barangkali akan melakukan permenungan. Permenungan tentang dulu pernah ada, kerajaan maritim dan perdagangan besar bernama Sriwijaya yang berarti kemenangan mulia, berjaya pada masanya. Salah satunya karena besarnya pajak yang masuk ke kas kerajaan.

Kini, untuk negara sebesar NKRI, kru KP2KP Martapura sedikit demi sedikit mengumpulkan pajak demi memastikan fungsi pemerintah berjalan semestinya yakni mengusahakan kesejahteraan, kemakmuran, dan keamanan rakyatnya berjalan dengan semestinya. Tak ada lagi lubang sewu. Tak ada lagi begal kepala batu. Seyogianya.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21 Desember 2017

Dengan isi dan judul yang kena suntingan, artikel ini dimuat di Edisi Khusus Intax Majalah Elektronik Internal Direktorat Jenderal Pajak Edisi Desember 2017.

Baca sebelumnya:
Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (1)
Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (2)

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.