Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (1)


Barangkali Anda akan salah mengira jika saya sebutkan nama Martapura. Tidak, bukan kota yang di Pulau Kalimantan yang saya lawat kali ini. Martapura yang ini berada di Pulau Sumatera. Sama-sama menjadi ibu kota kabupaten.

Kereta api Limited Express Sriwijaya yang saya naiki akhirnya berhenti di Stasiun Martapura, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan. Kereta api itu mulai berangkat dari Stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung pada pukul 21.00. Singgah sebentar saja di stasiun kecil ini.

Dari berbagai alternatif moda transportasi dan tempat transit yang ada, saya memang memilih kereta api. Saya masih memiliki cukup waktu untuk mengejar jadwal keberangkatannya sejak pertama kali menginjak Bandar Udara Internasional Raden Inten II, petang hari itu.

Waktu tempuh kereta api dari Bandar Lampung menuju Martapura juga tidaklah terlalu lama dibandingkan kendaraan lainnya.  Dan Martapura bukanlah stasiun terakhir buat kereta api itu. Perjalanannya belumlah usai. Masih sangat jauh. Ia akan mengakhiri safari malamnya esok pagi di Stasiun Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan. Tetapi saya berbeda. Dini hari itu, hanya saya seorang yang turun dari rahim gerbong kereta api ini. Angka digital di Garmin saya sudah menyuratkan angka 01.40.

Saya menuju pintu keluar stasiun yang benar-benar sepi ini. Yang dimaksud pintu keluar itu sejatinya bukan pintu keluar melainkan halaman samping stasiun yang luas dan diberi penanda “Keluar”.  Sekadar mengisyaratkan agar penumpang yang turun tidaklah boleh memintasi jalan yang sama buat penumpang yang memasuki stasiun.

Sambil menolak dengan kirana tawaran satu orang abang ojek yang ada di situ, saya menuju halaman depan stasiun. Di sana Satria Yudha dan Reza Liano sudah menunggu dengan mobil kabin kembarnya. Mereka adalah dua personel Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Martapura yang menjemput dan akan mengantarkan saya menuju penginapan.

Sebenarnya saya tidak ingin merepotkan mereka di waktu terbaik untuk menernak mimpi itu. Melalui aplikasi percakapan telepon genggam sebelumnya, saya sudah mewanti-wanti kepada Satria Yudha agar saya tidaklah perlu untuk dijemput. Tetapi tawaran penjemputan dari Miryan Mirza, Kepala KP2KP yang langsung menghubungi saya menjadikan tawaran itu perihal yang tak bisa ditampik.

Pula, saran dari teman yang lain agar saya setidaknya berhati-hati di Martapura tidak bisa diabaikan begitu saja. Waktu itu saya mengatakan begini, “Apakah perjalanan pulang pergi saya dari Medan, Sumatera Utara menuju Tapaktuan, Aceh Selatan selama tiga tahun lebih itu tidaklah cukup menjadi modal untuk bisa berani sendirian dari Stasiun Martapura menuju tempat penginapan?” Yang ia jawab, “Sangatlah berbeda.”

Stasiun Tanjung Karang

Pembuangan Mayat

Kendaraan kami membelah gelap dan kesunyian dini hari yang melingkungi Martapura, kota kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten OKU Timur sejak Januari 2004. Letaknya berada di tengah-tengah antara Palembang dan Bandar Lampung.

Kota Martapura dibelah dengan banyak sungai. Salah satunya Sungai Ogan. “Jadi tempat yang cocok sebagai pembuangan mayat,” kata Satria Yudha yang baru enam bulan ditempatkan di KP2KP Martapura. “Terakhir, beberapa bagian tubuh anggota DPRD Bandar Lampung ditemukan di Jembatan II.” Satria Yudha kemudian menceritakan peristiwa pembunuhan yang menjadi pemberitaan masyarakat lokal.

Peristiwa kriminal itu membuat ingatan saya terjerembap kepada buku berjudul Suatu Kala di KP2KP yang terbit pertengahan 2017 ini. Buku yang berkisah tentang KP2KP dan perjuangan para penggawanya ini memuat Martapura sebagai salah satu objek cerita.

Rasito, Kepala KP2KP sebelum Miryan Mirza menceritakan payahnya saat melakukan penyitaan dan penarikan mobil milik pengusaha karet yang menunggak pajak. Proses penegakan hukum itu mesti diiringi dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian apalagi ketika proses penarikan mobil menuju KP2KP yang sempat dibuntuti dan diselisik oleh orang tak dikenal. Kata-kata yang melekat pada cerita itu dan disematkan kepada Martapura adalah rawan begal.

Ini disempurnakan dengan keterangan Reza Liano, lajang kelahiran Baturaja yang besar di Bandar Lampung dan ditempatkan di KP2KP Martapura lebih awal daripada Satria Yudha. “Jalanan di Martapura sudah mulai sepi sejak sore hari sampai besok paginya,” kata Reza Liano,” pemilik kendaraan terutama pengendara motor sudah tidak berani melintasi jalanan.”

Kalau sudah begini jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya kepada mereka menjadi relevan. “Ada warung kopi di Martapura?” tanya saya sembari membandingkannya dengan malam-malam di Tapaktuan dan Banda Aceh yang lebih semarak. Sekaligus berharap setidaknya akan ada cairan gelap yang mampu memupuskan renjana yang singgah di mulut sejak seharian itu.

Warung kopi bisa dihitung dengan jari, sekaligus menegaskan budaya “ngewarung kopi” tak ada di daerah ini. Apalagi buka di malam hari. Bukannya untung malah buntung disatroni penyamun yang tak mengenal siang malam dalam beroperasi.

Sesampainya kami di hotel yang selayaknya disebut sebagai penginapan ini, mereka langsung berpamitan. Subuh tinggal tiga setengah jam lagi. Seharian nanti mereka akan sibuk. Ada tugas penting yang hendak mereka jalani.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21 Desember 2017

Dengan isi dan judul yang kena suntingan, artikel ini dimuat di Edisi Khusus Intax Majalah Elektronik Internal Direktorat Jenderal Pajak Edisi Desember 2017.

Selanjutnya:
Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (2)
Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (3)

 

Advertisements

5 thoughts on “Martapura: KP2KP, Mayat, dan Pistol (1)

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s