5 Best Ice Breaker Games yang Bikin Kelar Hidup Elo


Setelah permainan (games) tembak-tembakan (paint ball) yang mengakibatkan tangan dan kaki saya bilur-bilur ungu sebanyak lima titik ini, akhirnya kami beralih ke permainan konsentrasi. Ini menarik makanya saya catat supaya saya ingat dan tidak hilang ingatan. Abaikan yang terakhir.

Instruktur dari Trizara, tempat kami mengadakan Workshop Pengelolaan Majalah Internal DJP 2017 ini, memberikan games seperti ini:


1. Gedor Bumi

Ini saya namakan begini karena tidak tahu nama sebenarnya dari permainan ini. Para peserta dikumpulkan di tengah tempat yang luas dengan membentuk lingkaran. Ketika instruktur menyebut angka 1 maka kaki kanan kita menyentak tanah dengan keras dua kali lalu tepuk tangan dua kali.

Kalau instruktur menyebut angka 2 maka kaki kiri kita menyentak tanah dengan keras satu kaki lalu tepuk tangan satu kali. Instruktur mengulang perintah itu sambil menyebut angkanya tanpa berurutan, misalnya seperti ini: 1-1-2, atau 2-1-2, atau 2-2-1.

Ini benar-benar menuntut konsentrasi dari peserta loh. Peserta yang tidak benar melakukan instruksi bisa dikeluarkan dari lingkaran hingga hanya tinggal beberapa peserta yang benar-benar tidak salah sedikitpun. Seru!


2. Pisang, Nanas, dan Pepaya

Para peserta membentuk lingkaran kecil dengan bahu yang saling menempel. Lalu angkat telunjuk tangan kiri dan menaruhnya di depan dada. Beri perintah agar selama permainan ini berlangsung tangan kiri tidak boleh berpindah dan tetap harus di depan dada.

Lalu ketika instruktur meneriakkan kata Pepaya, maka tangan kanan kita memegang telunjuk kita sendiri. Jika instruktur meneriakkan kata Nanas, maka tangan kanan kita memegang telunjuk teman kita yang berada di sebelah kiri. Jika instruktur teriak Pepaya, maka tangan kanan kita memegang telunjuk teman kita yang berada di sebelah kanan.

Permainan ini dilakukan dengan meneriakkan instruksi kata-kata itu secara acak, misalnya seperti ini: Pisang-Nanas-Pepaya, atau Nanas-Nanas-Pisang, atau Pepaya-Nanas-Pisang, dan sebagainya.

Bisa juga diberi instruksi tambahan agar tangan kanan kita yang digunakan untuk memegang jari telunjuk tidak boleh bergerak kalau ada kata yang diinstruksikan sama, misal Nanas-Nanas-Pisang. Maka pada saat Nanas disebut lebih dari sekali itu, tangan kanan kita diam. Tak boleh bergerak sama sekali.

Ini jelas butuh konsentrasi dan pastinya lucu!!


3. Do and Don’t

Peserta tetap dalam lingkaran. Aturan permainan ini adalah peserta harus mengikuti perintah instruktur jika kalimat perintahnya dimulai dengan satu kata yang telah disepakati. Dan peserta tidak boleh melakukan instruksi dari instruktur yang tidak dimulai dengan satu kata itu. Misal kita pilih kata itu adalah: Ditjen.

Contohnya instruktur mengucapkan perintah , “Ditjen, mundur satu langkah ke belakang. Ditjen, angkat kedua tangannya ke atas. Goyangkan jarinya.” Maka peserta harus mundur satu langkah ke belakang, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan harus diam. Kalau ada peserta yang menggoyangkan jarinya, maka peserta itu harus keluar dari lingkaran.

Banyak peserta yang bisa konsentrasi di sini dan berhasil melewati instruksi yang dimulai dengan kata Ditjen. Kalau sudah begitu, langsung saja instruktur bilang, “Ok, semua sudah bisa konsentrasi. Bagus. Mari tepuk tangan untuk kita semua.” Seringkali ada peserta yang terjebak di sini. Ada yang masih juga tepuk tangan, padahal instruksi itu tidak diawali dengan kata Ditjen.

Ada banyak kelucuan di sini. Yakin!!!


4. Kelipatan Tiga

Peserta membentuk lingkaran. Lalu peserta mulai menghitung. Jika ada angka 3 dan kelipatannya maka tidak boleh diucapkan angkanya melainkan harus tepuk tangan satu kali dan berteriak “Boom”. Peserta selain angka 3 dan kelipatannya tidak boleh salah menyebut angka sesuai urutannya masing-masing . Contohnya seperti ini: 1, 2, Boom (sambil tepuk tangan), 4, 5, Boom (sambil tepuk tangan), 7, 8, Boom (sambil tepuk tangan), 10, dan seterusnya.

Instruktur menunjuk peserta secara acak untuk menyebut angka 1. Jika peserta salah, maka instruktur mencoret satu coretan di wajah peserta dengan lipstik warna merah. Tentunya permainan ini bikin heboh. Ada loh orang yang sama melakukan kesalahan terus berulang kali.

Bisa juga instruktur memberikan tantangan lebih kepada para peserta. Jika para peserta menghitung dengan benar dalam satu putaran tanpa sedikit pun kesalahan maka masing-masing peserta dapat mencoret satu coretan di wajah instruktur. Jika ternyata itungan peserta tetap salah, maka instruktur mencoret semua peserta dengan satu coretan di wajah. Benar-benar heboh!!!!


Banyak banget coretannya Nirmala?


5. Son of Maris

Ini permainan terakhir kami. Tentu dengan wajah yang masih coreng-moreng dengan lipstik dari sisa permainan Kelipatan 3. Peserta masih membentuk lingkaran. Tangan kanan diangkat di depan dada sehingga telapak tangan kanan menghadap ke depan. Lalu instruktur menunjuk kepada satu orang peserta tanda permainan ini dimulai.

Permainannya seperti ini. Misal saya yang ditunjuk pertama kali oleh instruktur lalu saya akan melempar giliran berikutnya ke teman saya yang bernama Arif, maka saya harus berkata demikian, “Saya Riza Maris tanpa garis memanggil Arif Maris tanpa garis.”

Kemudian Arif segera menunjuk teman lainnya, misalnya Ola, dengan mengucapkan kalimat seperti ini, “Saya Arif Maris tanpa garis memanggil Ola Maris tanpa garis.” Biasanya peserta yang kurang konsentrasi bisa salah dalam mengucapkannya.

Nah, kalau misalnya Ola salah, maka tangan Ola dicoret satu garis coretan dengan lipstik. Sejak saat itu Ola harus dipanggil Ola Maris satu garis. Tidak boleh lagi dipanggil Ola Maris tanpa garis.

Peserta yang melakukan kesalahan sampai dua kali maka harus keluar dari lingkaran. Lakukan terus menerus permainan ini sampai peserta hanya satu dua orang. Ini seseru-serunya duel. Hingga satu orang menjadi pemenangnya. Dialah yang layak menjadi: “Bintang”!!!!!

Betul begitu Mbak Tuti?

Ini dia pemenangnya. Mbak Sri Lestari Pujiastuti.

Lima permainan ini bikin kami enggak kenal waktu . Tiba-tiba sudah sore dengan senja yang tiba-tiba datang dengan berjingkat-jingkat mendekati kami, mengendap-endap, tak tahu kenapa ia begitu. Memuzammilkan Lembang dan segala yang ada di bawahnya. Sudah cukup untuk hari ini.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tjitajam, 28 Januari 2017

Foto-foto dari Paruhum AS Hutauruk dan Dandy Amrin.


 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s