Rihlah Riza #58: Ini Dia Cara Bikin Minyak Kelapa Asli dan Blendo



Minyak Kelapa Asli Bikinan Sendiri

Hari ini hari Ahad. Di mes hanya saya sendiri. Yang lain pada pulang ke homebase-nya masing-masing. Kalau sudah begini saya harus berpikir keras agar banyak kegiatan yang akan menyita waktu saya. Daripada melamun tak karuan lebih baik mengerjakan sesuatu yang bermanfaat.

Jam setengah tujuh pagi saya sudah bersiap lari. Pemanasan terlebih dahulu tentunya. Sisa “Venus” hari Kamis sebelumnya masih terasa di paha. Deep Squats sebanyak 200 repetisi penyebabnya. Tidak masalah. Lari tetap jalan terus. Hanya bisa 5 kilometer jarak yang tertempuh. Dengan kecepatan yang saya usahakan lebih tinggi dari minggu sebelumnya. Alhamdulillah berhasil.

Setelah finis dan minum air putih banyak, saya langsung bikin jagung dan singkong rebus sama telur rebus buat sarapan pagi. Setelah itu rebahan. Bangun-bangun sudah jam 11-an saja. Lalu silaturahmi ke “Kantor Pelayanan Pajak” Lhok Bengkuang. Tempat teman-teman satu kantor ngontrak. Baru kali ini saya merasakan kesepian yang menggigit jadinya main dah ke sono.

Ngapain di sana? Ngobrol-ngobrol sama Mas Hasbul lalu karena dia sudah tak kuat menahan kantuk yang teramat sangat, jadinya ia meninggalkan saya sendirian nonton National Geographic. Temanya waktu itu tentang mega structure Hitler pada masa Perang Dunia Kedua: Siegfried Line.

Struktur benteng yang dibuat sepanjang lebih dari 630 kilometer. Gunanya untuk menahan laju serangan dari barat perbatasan Jerman saat Jerman menginvasi Cekoslowakia dan Polandia. Saat Jerman menyerang dua Negara itu, negara-negara di sebelah barat Jerman terintimidasi benteng itu sehingga membuat mereka tak bisa membantu. Mereka memilih tidak ikut campur.

Tapi saat Jerman mengalihkan bentengnya ke Samudra Atlantik tepatnya di Normandia, di situlah mulai kegagalan dari fungsi Siegfried Line. Sistem pertahanan dibongkar untuk menghadapi sekutu di Normandia. Dan sejak itu Siegfried Line menuju titik kehancurannya, tak mampu menahan laju serangan pasukan sekutu saat Jerman harus berjuang mempertahankan kotanya.

Jam dua siang pulang. Tapi mampir dulu ke warung buat beli dua butir kelapa. Buat apa? Buat bikin minyak kelapa. Minyak kelapa itu banyak manfaatnya loh. Bisa dibaca di sini.

Dua minggu sebelumnya bikin minyak kelapa rada-rada gagal begitu. Mungkin karena saya bikinnya di waktu hari kerja. Waktunya mepet. Apinya sengaja dibesarkan supaya cepat tapi malah ampasnya berupa blendo menjadi hitam dan minyak kelapanya pun tidak jernih, jadi berwarna coklat tua. Nah, sekarang saya mencoba menebus kegagalan itu di hari libur. Supaya tenang bikinnya. Berikut cara membuatnya.

  1. Sediakan dua butir kelapa;
  2. Parut dua butir kelapa itu. Kebetulan di warung itu sudah ada mesin parutan kelapa. Jadi saya tak perlu susah payah marut sendiri;
  3. Campur air satu gelas ke dalam parutan kelapa. Peras;
  4. Lalu ampas sisa perasan pertama diberi air satu gelas kembali. Peras lagi;
  5. Tuangkan santan ke dalam wajan;
  6. Baca bismillah. Nyalakan api kecil saja;
  7. Lalu aduk perlahan santan itu saat dipanaskan. Sampai benar-benar keluar minyak dan terbentuk ampas yang bernama “blendo” berwarna kecoklatan. Ini berarti butuh waktu lama. Saya bikinnya saja sampai rada-rada gempor. Sambil berdiri. Sambil menerima telepon. Sambil geser kursi ke samping kompor. Duduk berdiri. Duduk berdiri. Pemanasan ini membuat air yang ada dalam santan menguap, sedangkan yang tersisa adalah ampas dan minyak. Butuh waktu sekitar satu sampai dua jam. Tergantung volume santan;
  8. Setelah terlihat minyaknya dan ampas berwarna kecoklatan barulah matikan kompor;
  9. Pisahkan minyak dan blendo. Selesai. Alhamdulillah;

Minyak kelapanya bermanfaat sedangkan blendonya pun bisa jadi cemilan. Blendo itu enak dan harum. Jangan khawatir, dari referensi yang saya baca, blendo ini protein. Wah, kalau protein tentu sudah menjadi kebutuhan saya. Tapi memang jangan terlalu banyak dimakan pada saat itu. Karena bikin “enek”. Mungkin eneknya karena masih tercampur dengan minyak kelapanya. Maka dari itu, kalau mau enak, yakinkan kalau blendo ini sudah kering dari minyak kelapa.

Sudah lama tak makan blendo. Jadi ingat waktu di kampung. Ngomong-ngomong, terlihat bedanya sudah minyak kelapa yang dibuat dengan penuh kesabaran dengan minyak kelapa yang dibuat terburu-buru. Jernih dan warnanya bening. Tidak seperti sebelumnya.

Sudah lama tak membuat sequel tulisan Rihlah Riza. Perjalanan saya di Tapaktuan ini. Dan inilah Rihlah Riza lanjutannya walau sekadar cara membuat minyak kelapa. Semoga bermanfaat. Ingat satu hal: sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia.


Protein yang bernama blendo.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22 Maret 2015


Advertisements

One thought on “Rihlah Riza #58: Ini Dia Cara Bikin Minyak Kelapa Asli dan Blendo

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s