RIHLAH RIZA #54: Tumbang di Bawah Pohon Geulumpang



“Tell me, and l will listen.

Show me, and l will understand.

Take me in, and l will learn.”

~~Charles Eastman dalam Bury My Heart at Wounded Knee

Setelah berkali-kali ke Banda Aceh, akhirnya bisa juga menyempatkan diri untuk salat di masjid yang menjadi ikon kota itu, Masjid Raya Baiturrahman. Salatnya pun salat tarawih di pertengahan Ramadhan 1435 lalu. Suasananya ramai penuh jamaah. Namun tidak mengurangi kekhusyukan ibadah.

Ruangan dalamnya berpendingin ruangan. Marmer putihnya terasa dingin sekali. Interiornya terlihat megah. Sound system-nya bagus. Suara imam ataupun penceramah memenuhi seantero ruangan utama masjid hingga ke halamannya. Apalagi kalau sedang azan, suaranya membahana menyusuri udara kota masuk ke liang telinga orang, mengajak mereka yang memiliki hidayah-Nya untuk sekadar bermunajat dalam beberapa saat. Tentu tidak semua orang akan mampu melangkahkan kakinya ke sana.

Dan saya termasuk yang beruntung, dalam keadaan musafir itu, saya masih bisa datang ke sana, melihat keagungan dan peninggalan bersejarah. Yang kata orang, belumlah disebut pergi ke Tanah Rencong ini kalau belum berkunjung ke masjid ini.

Dalam suasana Ramadhan, kala orang-orang mempunyai suasana hati yang dekat dengan Sang Pencipta, sehabis berpuasa seharian, dengan suara imam masjid yang tartil dan merdu dalam membaca ayat-ayat Alquran, maka macam mana pula kalau tidaklah tersentuh hati ini dengan semua itu?

Ceramah tarawih dilakukan setelah salat Isya, kemudian dilanjut dengan salat tarawih. Saya undur diri ke belakang dan keluar masjid ketika sudah selesai mengerjakan delapan rakaat salat tarawih. Masih banyak yang tak beranjak dan memilih melanjutkan salat.

Sambil menunggu teman, saya pergi ke salah satu sudut halaman. Tepatnya di sisi kanan masjid raya. Di bawah pohon tinggi. Benak saya langsung terusik. Seperti pernah tahu. Dan saya langsung menebak, “Apakah ini tempat Kohler itu tewas diterjang peluru?” Betul sekali. Ada tugu peringatannya di sana. Di dekatnya pun ada sebuah bangunan kecil tempat papan pengumuman yang menjelaskan peristiwa bersejarah itu berada.

Tugu peringatan yang dibuat pada tanggal 14 Agustus 1988 itu berupa prasasti marmer yang berisi tulisan dengan tiga bahasa: Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Berbunyi sebagai berikut: “Tanggal 14 April 1873 di tempat ini Mayor Jenderal J.H.R. Kohler tewas dalam memimpin penyerangan terhadap Mesjid Raya Baiturrahman.” Prasasti ini ditandatangani oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh pada saat itu, Ibrahim Hasan.

Dan sekarang saya berdiri di tempat jenderal penjajah Belanda yang bernama lengkap Johan Harmen Rudolf Kohler tumbang karena jantungnya tertembus peluru. Kohler saat itu memang sedang menginspeksi pasukannya setelah menguasai kembali Masjid Baiturrahman yang dikuasai oleh para pejuang Aceh. Namun ia tidak sadar kalau masih ada sniper pejuang Aceh yang sedang membidikkan senapannya ke dadanya.

Fragmen ini mengingatkan saya pada sebuah puisi yang ditulis oleh LK. Ara berjudul Wanita dari Lampadang. Ada bait yang menceritakan jenderal ini.

Orang Belanda

Kohler namanya

Jenderal pangkatnya

Tewas saat itu juga

Wanita dari Lampadang

Menyapu keringat di keningnya

Perlahan tersenyum ia

Melihat Belanda mundur

Surut bertempur

Kohler terbujur. Mayatnya lontang-lantung tak karuan. Setelah tertembak mayatnya dibawa ke Singapura lalu dimakamkan di Kerkhof Tanah Abang. Tapi di tahun 1976 pemakaman tersebut digusur. Dua tahun terkatung-katung di Kedubes Belanda dan baru di tahun 1978 dibolehkan untuk dimakamkan di Banda Aceh. Demikian Wikipedia tulis.

Pun, cocok memang di bawah pohon itu kaphe ini tewas. Pohon Geulumpang atau Kelumpang, atau juga disebut pohon Kepuh ini kalau di Jawa atau Bali, sering ditemukan di pemakaman. Pohon ini memang cepat sekali tumbuh tetapi memiliki bau yang tak enak terutama dari bunganya. Dan kalau pohon ini mati kayunya berguna buat peti mati. Itu yang saya baca dari berbagai referensi.

Sayangnya Kohler mati tidak dibungkus dengan peti mati dari kayu pohon yang sekerabat dengan pohon randu ini. Ya, karena pohon ini sampai sekarang masih hidup. Umurnya sudah ratusan tahun dan berdiri kokoh memberikan keteduhan dan pelajaran buat para jamaah masjid.

Dari sejarah kita banyak mengambil pelajaran. Begitu pula kita belajar dari pengalaman yang ada. Sebagaimana pepatah Lakota yang dikatakan seorang Indian Sioux bernama Charles Eastman saat berbicara di hadapan warga Kulit Putih yang telah mengenalkannya dengan pendidikan tinggi: “Katakan, maka aku akan mendengarkan. Tunjukkan, maka aku akan mengerti. Beri kesempatan, maka aku akan belajar.”

Kalau kesempatan sudah diberikan, tetapi tidak mau belajar cukuplah sudah untuk bisa dikatakan sebagai pemalas. Dari pohon Geulumpang saya belajar untuk tidak jadi seorang pemalas. Itu saja.

 


Dj-Ono and me.


What the?


Kami Berdua di Bawah Pohon Geulumpang. (Dengan Mas Maman Purwanto, KPP Pratama Subulussalam)

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 9 Desember 2014

Advertisements

2 thoughts on “RIHLAH RIZA #54: Tumbang di Bawah Pohon Geulumpang

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s