RIHLAH RIZA #40: BUKU, KUE , DAN TAS


RIHLAH RIZA #40: BUKU, KUE , DAN TAS

Akan dipergilirkan kepada mereka tertawa usai kesedihan. Dan akan dipergilirkan kepada mereka sedih usai tertawa.

Saya tidak tahu mau bicara atau menulis apa atas begitu banyak keberkahan yang dilimpahkan pada Ramadhan 1435 H ini. Walau dengan tertatih-tatih mengejar segala ketertinggalan amalan di bulan mulia itu. Semuanya dimudahkan oleh Allah. Sepanjang doa yang terlantun memang terselip salah satu doa: Allahumma yassir wala tu’assir. Ya Allah mudahkanlah dan jangan Engkau persulit.


(Sumber foto dari sini)

    Maka pengalaman puasa di Tapaktuan ini terasa berbeda ketika di Jakarta. Alhamdulillah saya tidak merasakan batuk yang seringkali mendera saat saya berpuasa. Makanan insya Allah senantiasa terjaga, terkendali, dan tidak berlebihan. Terutama tidak minum yang dingin-dingin di saat berbuka.

Shalat tarawih pun benar-benar dijalankan dengan penuh kekhusyukan. Apalagi rata-rata para imam salat di masjid atau meunasah bacaannya bagus-bagus seperti para masyaikh atau imam Masjidil Haram itu. Suatu saat air mata saya meleleh deras ketika mendengar bacaan imam salat magrib di masjid kompleks Gedung Keuangan Negara di Banda Aceh. Bacaannya seperti bacaan Ahmad Saud. Mungkin pada saat itu frekuensi hati lagi menyambung dengan langit.

Kemudian Allah memberikan kemenangan menjuarai lomba menulis yang diselenggarakan oleh Mahasiswa STAN bertemakan Semangat Antikorupsi. Tak berhenti di situ saya pun mendengar kalau Mas Haqi—anak saya yang pertama—juga menjadi juara pertama lomba menulis puisi Ramadhan di sekolahnya dan mendapatkan hadiah berupa uang sebesar Rp50 ribu. Subhanallah.

Allah mudahkan pula saat saya melakukan penjurian atas banyak naskah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Masjid Shalahuddin Kantor Pusat. Penjurian ini tidak mengganggu aktivitas ibadah di bulan Ramadhan ini. Kemudian hal yang sama dirasakan ketika saya pun dengan ringannya dapat menyelesaikan tugas menyusun profil teman satu kantor untuk dapat dimuat di majalah e-magazine DJP. Walau harus berkejaran dengan deadline tentunya. Ditambah pula dengan kemudahan saat menyampaikan Surat Paksa kepada para Wajib Pajak. Mereka menerima kami dengan ramah tanpa resistensi.

Kemudahan, kegembiraan, dan kebahagiaan lainnya adalah saat saya mendapatkan kejutan berupa hadiah yang diberikan teman-teman di Seksi Penagihan pada saat 38 tahun keberadaan saya di dunia ini. Mereka memberikan buku sebagai teman perjalanan mudik saya. Tidak hanya itu, mereka mengejutkan saya dengan memberikan kue tart sebagai hadiah ulang tahun saya. Subhanallah, seumur-umur baru kali ini saya dapat kue ulang tahun pada peringatan hari kelahiran. Betul, ini berkah Ramadhan di Tapaktuan.

Pun, mereka memberikan sesuatu barang yang sebenarnya sudah lama saya idam-idamkan. Mereka tahu betul kebutuhan saya: tas selempang (small sling bag). Mereka sepertinya melihat kalau dalam keseharian, saya selalu membawa tas ransel besar kalau ke kantor. Mereka pun kayaknya tahu kalau saya selama ini mencari-cari tas selempang itu secara online. Misalnya di situs Zalora. Atau sebenarnya juga mereka punya “feeling” dan tahu kalau mata saya tidak berhenti melihat orang yang membawa tas semacam itu.


Buku itu.


Kue itu.


Tas itu.

Ah, saya sungguh terharu. Terima kasih Fahrul Hady, Gurasa Omar Shareen Silalahi, Rachmad Fibrian, dan Jhonny Rinaldy Pasaribu. Kalian menegaskan kepada saya tentang pentingnya berbagi. Tahaddu tahaabbu. Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai.

Tak lupa doa-doa tiada henti dan bertubi-tubi dari teman-teman sekalian yang disampaikan kepada saya—di bulan Ramadhan pula—adalah hadiah terindah yang saya terima dan saya aminkan betul-betul dalam hati. Semoga doa-doa dari orang-orang yang berpuasa ini dikabulkan serta merta oleh Allah swt. Jazaakumullah khoiru jazaa.

Ah, sudahlah saya cukupkan sampai di sini. Tak bisa berpanjang lebar dengan berbagai kisah untuk ditampilkan di sini. Cukuplah sudah. Sebab saya harus mempersiapkan diri untuk memulai perjalanan panjang mudik dari Tapaktuan menuju Citayam keesokan paginya. Perlu istirahat yang cukup. Cukuplah doa: “Mudahkanlah perjalanan ini ya Robb.”

Cukuplah pula sebagai ingatan diri kalau Ramadhan—sebagai bulan penuh kemudahan—akan segera berakhir. Ah, sudahkah saya berdoa agar bisa dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang? Cukuplah pula diingatkan tentang berkurangnya jatah umur untuk hidup di dunia ini. Sudahkah siap bekal yang harus saya bawa kelak menuju tempat keabadian?

Pertanyaan ini membuat lidah kelu. Membuat tertawa cuma sekadar angin lalu. Dan benarlah perkataan: “Akan dipergilirkan kepada mereka tertawa usai kesedihan. Dan akan dipergilirkan kepada mereka sedih usai tertawa.”

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

    24 Juli 2014


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s