DKNY


DKNY

 

Wanita berkerudung di depan saya menyerahkan sebuah kantong plastik berisikan bungkusan besar yang tertutup koran. “Ini buat bapak?”

“Apa isinya, Bu?”

“Tas wanita buat Istri Bapak.”

“Tak perlu, Bu. Bawa saja lagi.” Saya bisa memperkirakan bahwa tas itu selevel dengan tas-tas yang dijual di gerai-gerai seluruh dunia dengan label “DKNY”. Maklum perusahaan tempat wanita itu bekerja adalah subkontraktor dari eksportir yang menyuplai tas buat butik terkenal itu.

“Benar loh Pak ini tidak ada kaitannya dengan tugas Bapak. Kami tulus memberikannya. Dan ini perintah atasan saya. Karena dia menilai Bapak banyak membantu kami.”

“Enggak Bu, saya tidak bisa menerimanya. Saya hargai semua ini. Tapi saya minta maaf, sekali lagi, saya tidak bisa menerimanya. Dan saya tetap beranggapan bahwa Ibu ngasih itu karena saya orang pajak. Coba kalau saya cuma orang yang ada di pinggir jalan itu apa Ibu mau memberi sesuatu kepada saya?”

“Enggak kok Pak, kita-kita yang karyawan juga dikasih oleh bos saya. Tidak hanya Bapak. Dan bos saya malahan enggak ngasih kepada orang yang sengaja minta-minta. Contohnya saat ada petugas pemda yang datang dan minta tas ini, bos saya bilang tidak bisa.”

Dengan sedikit ngotot dan berulang kali saya harus meminta maaf agar tidak menyinggung dia disertai penjelasan beberapa poin dari kode etik akhirnya wanita itu memahami komitmen saya ini. Lebih baik ditolak dari awal.

Ada cerita lain. Teman saya menitipkan dokumen kepada saya untuk diserahkan kepada Wajib Pajak yang akan datang hari ini—kebetulan dia pergi ke luar kantor karena ada keperluan yang mendesak. Dokumen itu berupa surat keputusan bebas pajak yang bernilai besar.

Karena ini amanah, maka ketika Wajib Pajak itu datang dan duduk di ruang tamu saya serahkan saja surat keputusan itu tanpa basa-basi. Sebagai penghormatan tentunya saya tidak berdiri sebelum tamu tersebut pamit pulang terlebih dahulu. Namun tiba-tiba ada jeda waktu tanpa pembicaraan di antara kami. Dan ini ditanggapi lain oleh Wajib Pajak.

“Tidak ada apa-apa lagi nih Pak?” kata Wajib Pajak.

“Maksudnya?” tanya saya karena saya benar-benar tidak mengerti.

“Berapa yang harus kami bayar?” tanyanya lagi dan ini mengagetkan saya.

“Ooo…enggak ada pak. Ini gratis.” Suasana kaku dan posisi saya yang tidak segera beranjak dari kursi tamu mungkin membuat Wajib Pajak merasa tidak enak dan ada sesuatu yang ditunggu oleh saya. Oleh karenanya setelah saya berkata itu saya jabat tangannya dan segera mengucapkan terima kasih atas kedatangannya.

***

Cerita ini saya ceritakan bukan karena saya adalah makhluk suci tanpa dosa dan cela. Kalau demikian namanya malaikat, sang makhluk ghaib. Bukan pula sebangsa makhluk halus, lelembut, dedemit, memegik, ataupun jin merakayangan. Saya cuma makhluk kasar bertubuh kasar terbuat dari tanah.

Tapi cerita ini membuat saya mengerti (mengerti bukan berarti memahami dan menerima resiko apa yang ada di dalamnya yah…) tentang perlunya sebuah mutasi dalam sebuah organisasi kami. Mutasi diperlukan salah satunya selain untuk mengatasi kejenuhan juga untuk menghindari adanya kedekatan-kedekatan antara petugas pajak dengan Wajib Pajak. Yang pada akhirnya mengakibatkan timbulnya ketidakprofesionalan. Baik dari petugas pajak itu sendiri atau Wajib Pajak.

Tapi bagi saya selain karena berusaha menegakkan sikap profesionalisme—walaupun dengan tertatih-tatih dan terengah-engah—ada sebuah nasehat dan pemahaman yang luar biasa dari orang rumah kepada saya: “Itu tidak seberapa. Allah akan kasih yang lebih besar, lebih banyak, dan lebih berkah sebagai penggantinya.” Ini yang memotivasi saya sehingga mampu untuk melakukan itu.

Dan saya yakin betul tidak hanya saya yang melakukan ini. Banyak kawan-kawan sejawat saya yang telah berbuat lebih dari ini dan mempunyai cerita-cerita sejenis di atas yang lebih dahsyat, lebih dramatis lagi. Yang karena saking tawadhunya mereka, cukup pengalaman itu buat mereka sendiri dan tidak mau menceritakannya kepada yang lain.

***

Cerita kedua membuat saya bertambah mengerti lagi, kalau nilai-nilai modernisasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak (DJP)—setelah sekian lama—juga belum semuanya dimengerti oleh Wajib Pajak. Buktinya masih ada juga Wajib Pajak yang menawar-nawarkan sesuatu kepada petugas pajak.

Saya memaklumi kalau Wajib Pajak bersikap demikian. Karena faktanya kalau kita pun berurusan dengan birokrasi di instansi pemerintahan dan urusan kita telah selesai, kita merasa enggak enak kalau enggak memberikan sesuatu. Padahal kita sudah tahu kalau semua urusan itu tidak dipungut biaya ataupun kalau ada biaya tentu dengan tarif resmi yang telah ditetapkan.

Masalahnya adalah mau atau tidak birokrasi tersebut untuk mengembangkan budaya menolak pemberian itu kepada seluruh penggawanya. Saya yakin mereka bisa asal ada niat baik dari para pucuk tertinggi birokrasi tersebut. Kalau DJP saja bisa, tentu yang lainnya bisa. Apalagi setelah rencana pemberian remunerasi akan direalisasikan kepada seluruh instansi pemerintahan—walaupun masih secara bertahap mengingat keuangan negara yang belum memungkinkan untuk melakukannya secara serentak.

Nah, ternyata kawan-kawan di DJP punya tugas mulia mengumpulkan penerimaan negara sebanyak-banyaknya sebagai sarana untuk menjadikan aparat birokrasi lebih mulia, terhormat, bermartabat dan Indonesia lebih baik lagi. Berharap banget…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.19 26 september 2010

dimuat di situs kitsda.

SECENTIL PROFIL DAN SESANGAR JANGKAR


SECENTIL PROFIL DAN SESANGAR JANGKAR

Saya baru saja mendudukkan diri pada bangku besi depan loket Stasiun Citayam saat HP made in China itu rada-rada bergetar. Tanda pesan pendek masuk. Perasaan saya HP itu bergetar, karena senyatanya saya tak tahu apakah HP itu bergetar atau tidak. Baik dalam profil biasa ataupun rapat, HP itu benar-benar tak bisa bunyi ataupun goyang seperti penyanyi dangdut.

Selain tombolnya juga sudah banyak yang koit dan beaksesoriskan gelang karet untuk menahan casing belakangnya tidak copot. Tak mengapalah yang penting masih bisa dipakai. Walaupun ini sering membuat jengkel para kolega saat mengontak saya karena jarang diangkat. Ya, bagaimana akan diangkat kalau saya tidak tahu ada tanda-tanda sinyal masuk.

Ngomong-ngomong ini bicara masalah HP atau bicara apa? Ya sudahlah kita tinggalkan dulu barang buatan China yang anak SD juga sudah pada tahu kualitasnya seberapa. Kembali pada pesan pendek itu. Ini dari teman. Ngapain juga petang-petang begini dia kirim sms terkecuali pesan penting tentunya.

“Barokallah…Anda pindah jadi Penelaah Keberatan di Direktorat Keberatan dan Banding.”

Kali ini saya tidak begitu emosional. Kali ini biasa-biasa saja. Kali ini memang sering banjir. Nah loh apa hubungannya kali (sungai) dengan banjir? … Enggak, sebenarnya ini dikarenakan saya sudah siap mental untuk ditempatkan di mana saja. Jadi Account Representative di kantor pajak lain—berkasta apapun, pratama, madya, khusus, LTO—ataupun jadi pelaksana lagi, sekarang saya siap-siap saja.

Mental ini sudah saya siapkan sejak saya mendawamkan doa-doa yang pernah saya tulis di tulisan saya terdahulu (baca do’a mutasi). Apalagi pada saat bulan ramadhan, doa itu saya panjatkan betul. Agar Yang Diatas Sana memberikan keberkahan di mana pun saya berada. Dan saya yakin betul apapun yang diberikan Allah adalah tempat yang terbaik buat saya.

Keyakinan itu mewujud. Dan saya harap ini adalah berkah ramadhan. Ya, mulai mewujud, saat siang ini saya tiba di kantor baru untuk melapor. Ternyata keluar dari lift, ujug-ujug, tak jauh dengan sepelemparan batu, masjid bagus itu tampak di depan mata. Dekat banget. Hal yang patut disyukuri seperti syukurnya kita saat bangun tidur ternyata kita masih bisa bernafas. Itu pertama.

Kedua, masalah transportasi. Syukurnya masih bisa dijangkau dengan kereta rel listrik yang Oktober ini tarifnya mulai naik—alasannya biasa karena TDL naik. Bisa dari stasiun Gondangdia ataupun dari Stasiun Sudirman. Kalau dari stasiun pertama maka kudu mencari tandeman agar bisa mengirit ongkos naik taksi ke Kantor Pusat. Yang kedua lebih irit, cuma dengan selembaran uang dua ribuan.

Ohya bicara masalah lift, naik lift itu ternyata enak juga yah…Maklum sudah dari tahun 2004 saya mencoba tidak naik lift untuk menuju ruangan saya. Saya selalu naik tangga. Alhamdulillah bisa komitmen. Saya niatkan untuk olahraga memang. Walaupun cuma empat lantai. Efeknya bisa sekaligus hapal berapa jumlah anak tangga kantor dari lantai 1 sampai lantai 4.

Sekarang di kantor baru, ruangan saya berada di lantai 18. Pfhffff…kalau naik tangga kayaknya gempor juga. Akan saya coba dulu sekali-kali naik tangga 18 lantai. Gimana rasanya yah? Ada berapa anak tangga? Silakan, sekarang ini Anda bisa memiringkan jari telunjuk Anda di jidat Anda melihat saya.

Setelah pesan pendek pertama, lalu disusul yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Selanjutnya ada yang menelepon saya. Terimakasih kepada semuanya yang telah memberikan selamat dan mengingatkan amanah baru yang akan saya emban.

Terus terang saja ini adalah pekerjaan baru yang dari dulu memang saya tidak inginkan. Penelaah Keberatan gitu loh…Selalu dikejar deadline dan tekanan. Tapi lagi-lagi saat ini saya begitu lega dan legowo menerima semuanya. Sudah saya bilang di awal kalau saya siap di mana pun. Tidak masalah. Saya songsong dengan senang hati. Ini tantangan baru bagi saya bekerja di tempat Gayus dulu pernah bekerja. Ini awal yang baru.

Pekerjaan yang belum familiar? Ya… tinggal belajar saja. Dan kalau masalah belajar, saya jadi teringat perkataan Maryamah binti Zamzami dalam Cinta di Dalam Gelas, “Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar.” Tak ada yang bisa melawan kekuatan belajar, hatta sebuah ketidakmungkinan.

Well, setelah hampir 13 tahun lamanya di Kalibata, saatnya saya meninggalkannya. Meninggalkan speaker kantor untuk do’a di setiap pagi. Meninggalkan bau apek karpet masjid yang sering dijadikan tempat tidur siang. Meninggalkan bebek-bebek sedap Broer setiap selasa dan jum’atnya. Meninggalkan teduh dan rimbunnya pepohonan. Meninggalkan profil yang centil dan jangkarnya yang sangar itu… secentil dan sesangar itukah? J

Tentu dengan banyak memori yang melekat di otak. Selasa pekan depan adalah yang terakhir berada di sana. Insya Allah…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22.00 23 September 2010

saat malam menjerat dingin dengan kesunyiannya

 

thanks to: yayat, mbak dewi wiwik, mbak listya, mbak titi sugiarti, bu mona junita nasution, masker, dedi murahman, mas ervan, mas suyanto, mbak eldes, mbak dewi damayanti, semua penghuni terakhir pk2 kpp pma empat, pk1-nya juga, pk3-nya juga, pk4-nya juga, pak setiyono, atik faizah…dan teman-teman yang telah berkirim kata via facebook, email, gtalk, partychapp yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namun tapa mengurangi rasa hormat saya. Semoga Allah memberikan yang terbaik kepada Anda semua.

ADA NASI KEBULI MALAM KE-27


ADA NASI KEBULI MALAM KE-27

Jelang berakhirnya ramadhan ini, saya ingin menceritakan tentang pelaksanaan i’tikaf di Masjid Al-Ikhwan, masjid komplek kami Puri Bojong Lestari, Pabuaran, Bojonggede. Dan terus terang saja bagi saya i’tikaf di Al-ikhwan tahun ini terasa sejuk, syahdu, membahagiakan, menyemangati, meringankan tidak memberatkan dan terasa indahnya.

Apalagi kami kedatangan tamu yaitu para peserta i’tikaf yang benar-benar full i’tikaf dan berdiam diri di masjid di siang hari dan malamnya. Tidak seperti kami para pekerja kantoran yang hanya beri’tikaf pada malam harinya, sedangkan pagi sampai sorenya masih pergi mencari segenggam berlian (baca: nafkah).

Dengan keberadaan mereka tentu kami sebagai pengurus masjid perlu memikirkan bagaimana melayani mereka terutama untuk makanan berbukanya. Karena untuk masalah sahur—selama bertahun-tahun pengalaman penyelenggaraan i’tikaf—tidak ada masalah. Masih banyak donator yang bersegera untuk menyuplai hidangan sahur.

Sedangkan untuk berbuka puasa memang belum ada daftar donaturnya, karena selama ini pula hanya makanan ta’jil yang diberikan para donator. Namun syukurnya ternyata banyak juga para munfiq yang bersedia untuk mengirimkan makanan berat untuk berbuka puasa.

Agenda Acara Malam

    Seperti yang telah diprogramkan, setelah acara tarawih ada tadarusan bersama dengan target dua juz permalam. Insya Allah target itu tercapai. Kemudian tidak ada agenda bersama lagi. Para mutakifin dipersilakan untuk mengisi malam dengan agenda masing-masingnya.

    Jam dua malam bangun dengan insiatif sendiri. Untuk melakukan shalat malam 4 raka’at atau aktifitas ibadah pribadi lainnya seperti membaca Al-Qur’an, berdoa dan berdzikir. Baru pada jam tiga paginya kami melaksanakan shalat malam berjama’ah 4 raka’at saja.

    Ohya, selain orang dewasa yang ikut i’tikaf ada juga anak-anak hingga remaja yang mengikuti acara tersebut. Dan kepada para anak-anak dan remaja itu diwajibkan untuk ikut shalat malamnya, terutama anak SD minimal dua raka’at saja. Ini sebagai pembelajaran kepada mereka bahwa i’tikaf di masjid itu bukan hanya sekadar memindahkan tempat tidur dan makan sahur dari rumah ke masjid saja. Alhamdulillah—ditambah dengan sedikit pelototan saya—mereka patuh dan mau untuk ikutan shalat malam, minimal 15 menit dalam dua rakaatnya tersebut.

    Enaknya shalat malam berjama’ah kami ringan (ini menurut saya loh…) karena dipimpin oleh Al-Hafidz dari rombongan tamu yang bacaannya enak didengar. Satu rakaat menyelesaikan dua halaman Al-Qur’an. Setengah jam kami telah menyelesaikannya rangkaian shalat malam itu.

Lalu pada jam setengah empat pagi kami sahur dengan hidangan sahur yang telah disediakan di atas 17 nampan. Kami makan secara berjama’ah. Satu nampan bisa tiga sampai empat orang. Waktu malam ke-25 bahkan satu nampan bisa sampai berlima karena pesertanya membludak sampai kurang lebih 85 orang.

Makan berjama’ah terasa sekali guyubnya. Saya tidak jijik untuk melaksanakan sunnah tersebut. Bahkan saya yang biasanya menghabiskan butiran-butiran nasi terakhir yang ada di atas nampan. Bagi yang belum terbiasa mungkin rasanya gimana gitu…

Nah…di antara jama’ah Al-Ikhwan yang tinggal di komplek itu terdapat para spesialis. Ya spesialis yang menginfakkan nasi dan lauknya di setiap malam. Mereka sangat istiqomah. Bahkan ada spesialis nasi kebuli untuk santap sahur di malam ke-27. Hmmmm…lezat.

Jam empat pagi biasanya acara sahur telah selesai. Kami bersiap-siap menyongsong shubuh. Agenda acaranya masing-masing. Dan baru ketika selesai shalat shubuh ada pembacaan hadits dan kuliah shubuh. Seringnya acara yang terakhir ini tidak saya ikuti karena harus pesiapan berangkat ke kantor.

Prediksi Keramaian

    Dari penyelenggaraan i’tikaf tahun ini maka didapat pengalaman berupa prediksi malam keberapa para peserta i’tikaf bisa hadir banyak. Ini diperlukan untuk memperkirakan berapa banyak nasi dan lauk yang harus dipersiapkan.

Untuk malam-malam genap kehadirannya normal terkecuali untuk malam Ahad atau malam yang keesokan harinya tanggal merah. Apalagi kalau malam ganjilnya bertepatan dengan besoknya libur. Bsia tambah ramai. Kalau malam ganjilnya bertepatan dengan hari minggu malam senin, jumlah peserta i’tikaf kurang lebih sama dengan malam-malam genap.

Malam Terakhir

Dan malam terakhir biasanya malam yang sepi. Tarawihnya sepi, shalat malamnya juga sepi. Dan ini menyedihkan saya. Ini adalah akhir dari semarak ramadhan di Masjid Al-Ikhwan yang selama satu bulan itu penuh dengan keramaian dan keberkahan. Masjid Al-Ikhwan akan kembali sepi sebagaimana banyak masjid-masjid dan mushola-mushola lainnya.

Tugas berat menghadang di depan bagi para kyai dan ustadz untuk berjibaku menyadarkan umat agar dapat kembali ke masjid sebagai pusat kegiatan kehidupan muslim, tidak hanya di bulan ramadhan saja. Pun agar saya tidak kesepian lagi.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 09 2010 10:44

kantor sudah mulai sepi