HAJJAH INUL DARATISTA


Pada tanggal 13 Desember 2007, Inul Daratista, penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyang ngebornya, pergi meninggalkan tanah air untuk menunaikan ibadah haji. Bersama sang suami tercinta, Adam Suseno, tentunya. Suatu saat saya membayangkan adanya dialog imajiner antara saya dan penyanyi tersebut pasca kepulangannya dari tanah suci. Saya berharap mendapatkan cerita perjalanan spiritual yang menggedor itu darinya.
Riza : Assalaamu’alaikum Mbak Inul, apa kabar?
Inul : Alhamdulillah baik Mas Riza.
Riza : Wah, saya bersyukur Mbak bisa naik haji nih. Kayaknya Mbak Inul punya panggilan baru sekarang. Boleh dong saya panggil dengan sebutan Hajjah Inul Daratista, atau ibu Hajjah gitu…?
Inul : Ndak perlu Mas. Panggil saya sebagaimana biasanya saja. Haji itu ibadah kok, bukan status. Dan enggak lucu kan kalau di atas panggung nantinya, dipanggil begini: “Selanjutnya, kita tampilkan Ibu Hajjah Inul Daraaaatistaaaaaa…!”
Riza : Raja danggut kita kan biasa disebut bang haji tuh Mbak.
Inul : Beliau-beliau, saya-saya.
Riza : Mbak masih sakit hati yah dengan peristiwa dulu?
(Bang haji Rhoma Irama ‘mengharamkan’ lagu-lagunya dinyanyikan oleh Inul, alasannya ia telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun. Pen.)
Inul : Ndak juga.
Riza : Okelah Mbak. Berkenaan dengan ibadah haji yang telah dilaksanakan oleh Mbak Inul, tentunya Mbak Inul punya nih pengalaman spiritual yang bisa dibagi kepada saya. Apa saja tuh Mbak?
Inul : Yah tentunya, ini merupakan pengalaman pertama bagi saya datang ke tanah suci, berkumpul dengan jutaan umat Islam, melakukan ibadah sekhusyuk mungkin, dan saya selalu menangis kalau melihat bangunan Ka’bah itu. Saya panjatkan doa kepada Allah. Agar Allah memberikan kepada saya kehidupan yang tenteram, dunia dan akhirat. Juga agar setelah berhaji ini saya dapat momongan. Ya iyalah sudah 10 tahun menikah dengan Mas Adam belum juga dikaruniai anak. Kalau Mas Adam doanya agar keutuhan rumah tangga kami senantiasa terjaga. Itu saja sih. Kalau pengalaman yang aneh-aneh, saya tidak mengalaminya. Alhamdulillah lancar-lancar saja.
Riza : Insya Allah jadi haji mabrur. Tapi begini Mbak Inul, Mbak di saat melaksanakan manasik haji ataupun pada saat di sana tentunya sering mendapatkan taushiyah dari para ustadz dan pembimbing haji agar senantiasa berharap ibadah hajinya tidak sia-sia dan tentunya menjadi haji mabrur, haji yang diterima Allah swt. Di sana tidak terlepas adanya pengharapan terhadap yang berhaji agar terjadi perubahan. Tidak hanya sekadar perubahan status—dengan penyebutan haji atau hajjah—dan fisik—dengan selalu memakai sorban atau peci putih, tetapi perubahan diri. Itu yang paling penting. Seperti perubahan perilaku, perangai, dan sikap yang lebih baik daripada sebelum berangkat haji. Juga perubahan pada sistem penilaian dan pandangan hidup seseorang terhadap dunia dan akhiratnya. Itu sebenarnya yang saya harapkan pada Mbak Inul ini. Berubah intinya.
Inul : Mas Riza, haji mabrur tentunya adalah harapan saya. Sebenarnya perubahan apa yang sampeyan maksudkan itu? Kalau perubahan ke arah lebih baik seperti memakai jilbab, menutup aurat, itu sebenarnya saya inginkan juga. Tapi enggak lucu juga kan mas kalau saya pakai jilbab tapi masih goyang-goyang kayak begitu. Yah, saat ini saya ingin tetap menjadi Inul seperti dulu, apa adanya. Dan bukankah dengan beribadah haji ini merupakan upaya paripurna kita dalam melaksanakan Rukun Islam itu. Saya sudah syahadat, sudah sholat, sudah puasa, sudah bayar zakat, sudah haji. Lengkap dong…
Riza : Betul sekali yang Mbak katakan itu, tetapi bukankah pula rukun Islam itu adalah dasar Islam, dan bukan totalitas Islam? Ibaratnya begini Mbak, rumah Mbak yang ada di Pondok Indah ini, tentunya punya pondasi yang kuat untuk menopang bangunan kokoh dan mewah di atasnya. Pondasi inilah dasar-dasarnya, dan sudah barang tentu Mbak Inul bikin rumah ndak mau pondasinya doang. Harus ada bangunan di atasnya. Begitulah Islam, yang merupakan bangunan yang tegak di atas lima dasar tersebut. Bagaimanapun pentingnya dasar-dasar ini, tetapi bukan berarti menghapuskan fungsi bangunan. Karena itu penegasan pentingnya dasar-dasar ini harus dibarengi dengan penegasan bahwa ia hanyalah sebagai dasar, dan dasar ini harus tegak bersama bangunannya.
Inul : Iya sih saya paham. Saya sudah lengkap menjalankan rukun Islam tapi belum tentu mencerminkan sebuah totalitas saya dalam berislam. Saya sudah bisa menangkap intinya, Mas Riza. Dan sepertinya saya sudah menduga pertanyaan lanjutan dari Mas Riza. Nanti ujung-ujungnya Mas Riza akan mempertanyakan di pihak mana saya akan berdiri setelah saya beribadah haji ini. Masih tetap di pihak yang menyetujui diundangkannya segera rancangan undang-undang antipornografi atau berdiri di seberangnya? Atau tegas-tegasnya nanti Mas Riza akan bertanya saya akan masih ngebor atau tidak bukan? Jawabannya adalah selama masyarakat masih menyenangi saya, ya saya akan tetap manggung dengan ciri khas saya yang dulu mas. Tidak neko-neko kok Mas Riza.
Riza : Mbak persis banget menduga apa yang saya pikirkan. Apa yang Mbak katakan itu berarti nantinya akan mengulangi lagi perdebatan dulu antara yang pro dan kontra dengan apa yang Mbak lakukan. Saya tidak akan rewind permasalahan itu. Semua sudah jelas, kiranya Mbak dan saya berdiri di mana. Tetapi ada yang bisa saya simpulkan sedikit dari pembicaraan kita sampai di sini Mbak. Bahwa kesakralan suatu kegiatan dan tempat tidak menjamin adanya sebuah revolusi kita dalam berislam. Janji Allah sudah pasti ditepati, tetapi semuanya itu kembali lagi kepada manusianya itu sendiri. Seperti berita para seleb kita yang sampai menikah di depan ka’bah tetapi pernikahannya tetap hancur berantakan. Atau berbondong-bondong ke tanah suci tetapi tanpa membawa sedikitpun sisa-sisa kebaikan yang bisa diberikan kepada sesama.
Inul : Wah Mas Riza sama saja dengan menuduh, menyamakan saya dengan para seleb itu. Sampeyan enggak berhak menilai loh Mas Riza.
Riza : Waduh maaf beribu maaf Mbak, maaf tiada terkira kalau Mbak merasa tersinggung. Saya tidak bermaksud demikian. Saya ini tetap Riza seperti yang Mbak Inul dan Mas Adam kenal dulu. Apalagi saya belum berhaji, Mbak sudah. Dan saya yakin saya bicara demikian bukan berarti saya lebih baik daripada Mbak Inul. Mbak Inul banyak infaknya daripada saya. Itu sudah jelas. Tapi saya tentu sebagai orang awam ingin sekali Mbak Inul menjadi haji yang mabrur. Haji mabrur itu bukan sekadar tempelan status dan keinginan belaka tapi di sana ada konsekuensi-konsekuensi yang kudu ditanggungnya berupa perubahan itu.
Akal pendek saya berpikir bahwa pada dasarnya haji itu adalah merupakan media utama yang menggedor sisi-sisi kesadaran kita sebagai makhlukNya. Selama berhari-hari selalu menangis ingat kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Tentunya ada sebuah tekad yang muncul bahwa saya harus menjadi lebih baik dan tidak akan melakukan kesalahan itu lagi.
Juga akal pendek saya mengatakan pula bahwa haji pun adalah madrasah utama untuk menghancurkan virus-virus yang disebar ke tengah-tengah umat. Virus kolonialisme, nasionalisme keblinger, pengkultusan, harta, jabatan, kekuasaan, setan timur dan setan barat. Haji juga salah satu pembebasan dari segala kenistaan syaithani, menuju kesertaan Arrahman, Zat Yang Mahakasih. Jadi wajar saja saya berharap banyak kepada Mbak Inul.
Inul : Eit, …nanti ujungnya ke patung saya itu ya mas?
Riza : Sedikit tepat sih Mbak.
Inul : Bukan saya yang buat dan saya tidak memintanya Mas Riza.
Riza : Kalau tidak ada restu pasti tidak mungkin dong Mbak. Dengar-dengar Mbak sendiri lah yang menyumbang. Dan kayaknya Mbak enjoy saja tuh. Malah sempat akan meresmikannya kalau tidak diprotes sama salah satu ormas di Jakarta ini. Bukankah patung itu adalah bibit awal dari sebuah pengkultusan diri?
Inul : Seharusnya Mas Riza jangan terlalu berharap banyak pada saya. Saya cuma Inul, loh. Seharusnya Mas Riza berharap pada aparat dan pejabat pemerintahan, serta anggota DPR dan DPRD yang berhaji ke sana agar mereka pun meninggalkan perilaku koruptifnya. Berharap banyak kepada mereka karena merekalah yang punya kekuatan dan kekuasaan untuk mengubah perilaku dan budaya buruk yang ada di masyarakat.
Riza : Wah sudah barang tentu saya berharap juga Mbak. Ada hak yang akan saya tuntut kepada mereka nantinya. Kepada Mbak Inul juga saya akan melakukan hal yang sama. Karena sesungguhnya Mbak Inul ini adalah sosok figur publik. Sosok yang didengar dan dilihat oleh semua lapisan masyarakat baik oleh bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak, adek-adek, kakek-kakek, nenek-nenek, om-om, tante-tente, dan semuanya. Karena Mbak ini seleb maka dibuatlah patungnya oleh penggemar Mbak. Kocok-kocoknya Mbak Inul dapat mereka terima daripada omongan berbusa-busa para ustadz kampung. Saya optimis perubahan yang Mbak Inul lakukan akan menjadi titik awal timbulnya sebuah kesadaran besar pada diri masyarakat.
Inul : Lalu bagaimana kelanjutan Inul Vizta, bisnis saya di Kelapa Gading dan cita-cita saya mendirikan supermarket di Pasuruan?
Riza : Ah, orang tua kita selalu bilang Mbak, rezeki itu tidak akan pergi kemana.
Inul : Sampeyan kok sampai segitunya sama saya?
Riza : Segitunya bagaimana Mbak?
Inul : Segitunya sampai bikin saya pengen menangis.
Riza : Waduh Mbak, tolong jangan adukan saya ke Gus Dur dan Gus Mus, mertua Ulil Absar Abdilla itu.
Inul : Ya enggaklah, masa urusan segini saja sampai bawa-bawa mantan presiden segala.
Riza : Begini Mbak, kalau pengen nangisnya karena terharu, ya saya bersyukur. Di hati Mbak setidaknya ada benih-benih kebaikan untuk berubah. Tapi kalau bukan itu, ya saya minta maaf lagi. Pada dasarnya saya enggak ingin Mbak Inul ini masuk dalam sindiran yang terkesan hanya guyon anak-anak belaka tentang predikat haji.
Misalnya jipat turi akronim dari kaji mlumpat kethune keri. Ungkapan asosiatif dalam bahasa Jawa seperti itu bisa berarti seorang yang sudah naik haji tiba-tiba meloncat ke jalur tingkah laku lain dengan menanggalkan kesucian hati dan pikiran yang disimbolkan kethu atau kopiah putih. Atau, dalam ungkapan yang mengandung sarkasme, pak kaji nyolong dhendheng yang berkonotasi ada perilaku seorang haji yang mencuri hal-hal berbau busuk seperti daging yang sudah dikeringkan menjadi dhendheng.
Semua tergantung pada Mbak Inul semua. Yang benar itu sudah jelas, yang salah itu juga sudah jelas. Mau revolusi atau evolusi dalam pemahaman, terserah pada Mbak? Tinggal masalah waktu saja kok. Itu saja sih Mbak. Terlalu banyak bicara membuat tampak jelas kebodohan saya.
Tetapi yang terpenting selamat buat Mbak Inul dan Mas Adam atas telah selesainya menunaikan ibadah haji. Semoga menjadi haji mabrur. Saya tetap menunggu perubahan itu Mbak.
Inul : Sama-sama, terimakasih mas Riza atas semuanya. Ya kita tunggu sajalah nanti. Semoga saja ada perubahan seperti Mas Riza inginkan.
Riza : Jangan karena saya Mbak, saya ini bukan siapa-siapa. Semuanya karena Allah saja hendaknya. Tapi tentu saya yang akan bersyukur sekali dengan perubahan itu dan harus yang menjadi pertama untuk mengucapkan selamat kepada Mbak Inul.

Semuanya ternyata hanya imajiner.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’:
1. Alqur’anul Kariim;
2. Said Hawwa, Al-Islam Jilid 1, Cetakan Ketiga, Al-I’tishom Cahaya Umat, Jakarta, Agustus 2004;
3. Kholid Anwar, Haji, Ritual Korupsi, http://www.suaramerdeka.com/harian/0612/01/opi04.htm ;
4. Beberapa pemberitaan tentang Inul.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:40 17 Desember 2007

Advertisements

One thought on “HAJJAH INUL DARATISTA

  1. hehehe… ternyata hanya imajiner, ya Pak Riza… alangkah indahnya jika itu nyata…

    btw, kapan Pak Riza pergi Haji??? nanti panggilannya pasti berubah… Pak Haji Riza… ^__^

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s