Review Buku Pasir: Puisimu Janganlah Fana, Diandra


Siapa saja boleh berpuisi. Tidak ada pengastaan dalam puisi. Jika saja terjadi hal itu, maka puisi terjebak hanya menjadi milik para begawan dan bangsawan. Senyatanya puisi di dunia nyata menjadi eigendom siapa saja bahkan menjadi alat perlawanan dan biang revolusi.

Gabriela Diandra Larasati berani mendaku pada apa yang dicintainya: puisi itu. Untuk penghargaannya kepada Sapardi Djoko Damono, pensyair yang membuat mereka—yang tak mengerti bahasa prosa dan puisi—itu menjadi paham arti romantisme di balik kekuatan kata-kata yang sederhana.

Baca Lebih Lanjut