*pemandian kata-kata
ajaklah aku untuk menusuk subuh ini dengan kata-kata
biar tiada terasa pelukan dinginnya
bagiku saat itu citra ayumu
adalah suatu
mimpi
riza almanfaluthi
09.00 29 Februari 2008
Lantai 3 Kalibata
*pemandian kata-kata
ajaklah aku untuk menusuk subuh ini dengan kata-kata
biar tiada terasa pelukan dinginnya
bagiku saat itu citra ayumu
adalah suatu
mimpi
riza almanfaluthi
09.00 29 Februari 2008
Lantai 3 Kalibata
TIWIKRAMA
Langit Jakarta meniwikrama sehitam legam
belum selegam kenangan laluku
Riza Almanfaluthi
langit kalibata hitam
16.50 07 september 2007
senja memeluk hangat
gunung-gunung di atas rawapening
citrakan seraut wajah
utuh penuh kesenduan
tanpa lengkung pelangi senyummu
yang dingin menelisik
reruntuhan renjanamu
Ambarawa, 12 Juli 2007
Riza
Saya buat saat melihat di senayan sedang ribut-ribut mengenai dana DKP. Antara BK, Fahri, dan KPK. Tinggal melihat keadilan Allah saja nanti di Padang Mahsyar.
II.
Jelmaan Kubur
kubur menjelma di otakmu
yang berdenyut penuh kolesterol
batu nisan berkelindan kuat di perutmu
penuh duit proyek, sikat menyikat teman sejawat
kembang tujuh rupa menjadi penghias
kepala botakmu yang berminyak
air mawar adalah tenggakan terakhir
untuk mulut-mulutmu yang tak letih
tebarkan janji dan keadilan
tanah merah berkilo-kilo beratnya
menjadi pakaianmu
yang licin dan necis tanpa kusut
wahai manusia penghuni Senayan
aku Izrail siapkan diri
menagih tebaranmu
tiba-tiba matamu melotot
mendelik ke sana ke mari
keluar dari kelopak
saat aku cabut kehidupan
dari jempolmu yang bau,
ternyata kau dusta…!!!
Tlogosari, 11 Juli 2007
Fahri, bersabarlah.
Saya buat di Semarang. Dalam secarik kertas bergambar F4 milik keponakan saya. Lengkap dengan foto-foto 4 pemuda pemeran utama di Meteor Garden. Ada tulisan besar di sana: I Love F4. Di sini tidak untuk membahas mereka, sekadar pembuka saja untuk puisi-puisi ini.
I.
Mencabik Luka
inilah sebongkah luka menganga di jemari lentikmu tak peduli pada debur asa yang menjilat-jilat relung peraduan batin tak peduli pada garam yang bertaburan di atasnya mencabik luka memerahkan nadi mengiris vena itupun tak berarti karena aku adalah keberartianmu?
Tlogosari, 11 Juli 2007
Tuesday, April 3, 2007 – SEKUNTUM MAWAR
Melihat signaturenya salah seorang moderator di DSHnet, saya langsung terinspirasi untuk membuat beberapa kata ini:
sekuntum mawar
sekuntum mawar menulis pada hari-hari yang lampau
tegas!
menanyakan kepingan hati yang terpaut
kini entah berada di mana
cuma hasrat sukma menyucikan diri
dalam rintih sepi
membakar amukku pada renjana
renjana cinta bertubi-tubi
ah, sentuhan rindu tak mampu menidurkanku
lelap!
cuma ayat-ayat cinta bertabur pesona
di dalamnya kutemukan sekuntum mawar
menulis hari-harinya penuh kata
:have a nice day
Sekilas Saja
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
15:05 03 04 2007.
Aduh, rinduku
by: riza almanfaluthi
aduh… rinduku padamu
tak mudah usai sepanjang hari
perlahan dan pasti masih menghangat
bahkan menghampakan jiwa
aduh… rinduku padamu
membuat janjiku tak mudah terhapus segera
mengikat segalanya dalam setiap ucap
bahkan menyenandungkan nelangsa
aduh… rinduku padamu
membuat hati ini penuh warna
tak mudah untuk memutih dan menghitam
bahkan melanggengkan indahnya pelangi
duh…rinduku padamu
tak segan-segan menusuk desah nafasku
tak mudah terucapkan karena ini cukup sudah menjadi rahasia
bahkan abadi membisunya
aduh…rinduku padamu
biar masa saja yang bilang
selalu aku merinduimu
**
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
yang masih tetap merindu
09.21 22 Maret 2007
riza.almanfaluthi at pajak.go.id
karena kamu cantik…
Kepekaan saya yang semakin menipis membuat saya gagap untuk menulis puisi. Tapi saya memang harus melawan kecenderungan yang biasanya membuat orang takut yaitu memulai untuk menulis. Jikalau semua kita memahami bahwa sesuatu yang indah tentunya diawali dari kesulitan-kesulitan maka tentunya tak akan ada keluhan karena akhirnya keindahan itu pasti datang pada akhirnya.
Maka saya tak akan pernah mengeluh bahwa keindahan itu tiada terasa pada puisi ini, karena hari ini saya kembali untuk memulai. Memulai untuk menulis. Menulis sebuah puisi.
***
Mengapa perempuan selalu dibahas dalam setiap diskusi? Karena kecantikannya? Atau karena apa?
Kata Dr. Najah Ahmad Azh Zhihar dan Ustad Cinta dalam “Ya Ma’syaru Ar-Rijaal, Rifqan bin An-nisaa, sesungguhnya:
1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan
mata kaum laki-laki;
2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu
menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria;
3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya;
4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan
suaranya yang hangat;
5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah
kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya;
6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya;
7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia;
8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.
Sedangkan saya cuma bisa jawab:
karena…
by: Riza Almanfaluthi
karena perempuan itu 1001 misteri
karena perempuan itu ingin dimengerti
karena perempuan itu sejatinya adalah kawan sejati
karena perempuan itu adanya lelaki
karena perempuan itu mampu membuat warna hati
karena perempuan itu keindahan sebuah puisi
karena perempuan itu membuatku tak mudah patah hati
dan selaksa lainnya hanya
untukmu perempuanku…
Kalibata Biru
11:21, 12 Maret 2007
cinta…
selayaknya datang di senja
saat kau memandang buih lautan
tanyamu
adalah asa yang tak kunjung tiba
di selokan penuh embun
absurd
ah…
Kalibata Biru,
10:00, 12 Maret 2007
di sebuah milis ada sebuah puisi yang luput dari perhatian, lalu tak sengaja terbaca. Membaca puisi (dilampirkan di bagian bawah) itu sepertinya lupa dengan fakta nyata pembaintaian itu, maka saya buatkan puisi ini.
UNTUK TIBO DI AKHIRAT
by: Riza Almanfaluthi
Untuk sebuah ketidakadilan
dimanakah kehidupan akan ditanam
bahkan dalam mimpi pun tidak akan pernah usai bercerita
tentang kepedihan anak-anak Walisongo
dengan tubuh bersimbah darah
daging yang terserpih di tanah kering
dan melaut dari aliran sungai
ada jejak-jejak kebengisan tawamu
keangkuhanmu, kebencianmu
menyelip di antara kilau parang-parang
yang kini berwarna merah segar
tapi sungguh kemunafikan
mengendemi pada segelintir watak
menuntut keadilan pada dunia
tapi mudah lupa pada dosa diri
ah, betapa banyak orang tertipu
dengan fiturmu di televisi dulu
seakan engkau seorang hamba Tuhan terbaik di dunia
padahal engkau adalah seperti yang terusir dari surga
ah, betapa banyak yang menyoraki kemunafikan itu
bahkan dengan air mata buaya
merintih-rintih pada waktu yang menjepit
bebaskan…bebaskan…
ah, kini serapah itu tinggal kenangan
bahkan serapah itu cuma ada di hati para pembuat syair
ah, dunia kini aman tanpamu…
mungkin saat ini
di sana
di akhirat
engkau sedang dituntut anak-anak Walisongo itu
pembelaan apa lagi yang akan engkau berikan…?
dari siapa lagi engkau harapkan…?
dari penyair dunia?
lupakan saja
22 September 2006
—– Original Message —–
From: “LEONOWENS SP”
To:
Sent: Thursday, September 21, 2006 6:28 PM
Subject: [FLP] [POETRY] UNTUK TIBO DKK.
UNTUK TIBO DKK.
Untuk sebuah keadilan.
dimanakah kematian akan dituai?
tidak! tidaklah demikian keadilan itu
ketika kematian hanyalah sepenggal hasrat
demi mencari serpihan jerit keadilan
Untuk sebuah kebenaran.
dimanakah kemunafikan ditabur?
oh, kebenaran yang tergenggam kemunafikan
sangatlah erat! hingga kemunafikan adalah bahasa
demi mengubur sejatinya kisah kematian
Untuk sebuah kebajikan.
dimanakah kisah dusta terlahir?
ya, kebajikan yang dirahimi oleh dusta
dipersembahkan demi keangkuhan sang malapetaka
hingga kebajikan itu lumat, tiada berjejak.
Oh. ketika jeritmu kepada keadilan!
merintih pilu di malam yang sarat kepedihan
untuk sebuah kematian yang bukanlah kau penentunya
demikian dengan takdirmu, tergores dalam, sangatlah dalam.
oleh kuku-kuku sang penguasa, menancap kokoh di bumi yang celaka
dan segala luka rasamu, diperihkan oleh tawa penjunjung dusta
kini, kau di sebuah malam penantian. akan kulukis jeritan
‘tuk penuhi segala serapahku di bumi yang meronta.
September 2006, Leonowens SP
Friday, July 21, 2006 – BILA
Melowku kambuh lagi nih. Padahal aku tidak sedang jatuh cinta. Tapi hasrat besar berbuah kata-kata manis menggelora di sudut jiwa. Tak tertahankan (kata-kata basi). Bergemuruh di antara ombak Pangandaran. Halahhhh…terlalu banyak pembukaan basi lagi jadinya.
:::::BILA::::::
kepak sayap kecilmu
membuatmu terbang jauh
membawa sejumput hati yang retak
tapi penuh kerinduan
pada yang kau dambakan untuk bersatu
:berselimutkan awan gelap
berdindingkan tetes hujan dari tepian genting
bergumul dengan desau angin dingin
menghitung setitik dua titik serpihan waktu
di balik jendela masih saja kau merenung
adakah kata-kata yang menjadi sederhana
tak berjarak dan menyekat,
adakah harap yang tidak berhenti menjadi mimpi
tetapi melaju pada kemestian dari sebuah kenyataan
adakah resah tak berkesudahan dan cuma koma ini
menemui sebuah titik
ah…sampai kapan?
sampai kepak sayap kecilmu kelelahan?
sampai sahara yang kau lewati mulai subur?
sampai mata air kesedihan ini habis terperas zaman?
Bila…?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:54 21 Juli 2006