dzikir


dzikir

dengan tasbih dedaunan yang jatuh ke tanah satu-satu,

dengan tahmid awan yang masih menggantung berjalan lamat-lamat,

dengan tahlil hujan yang rintiknya menjadi mahkota pelan-pelan

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Gatot Subroto Lantai 19

07.42 22 Februari 2011

PADAKU


padaku

***

 

padaku tak henti-hentinya kau bilang

aku adalah darah yang sama

padaku tak sungkan-sungkannya kau berkata

mengintip dari atap kamarku

memperhatikan setiap huruf yang dilukisku

membaca setiap kata yang tercipta dari tanganku

aku apanya engkau

aku siapanya engkau

aku adalah tiga kata yang tersembunyi

untuk punya makna

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lewat tengah malam

00.17 22 Februari 2011

MARAH


marah

***

siang tadi

ada cahaya mencemburui

mata dan senyummu

kok lalu

angin marah menjadi taufan

laut marah menjadi tsunami

tanah marah menjadi lindu

:

mereka mencemburuimu juga

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.55 21 Februari 2011

JANGAN


 

jangan

 

seringkali kau berbisik

pada tuts-tuts keyboardmu

sampaikan pesan padanya

jangan pergi tinggalkan aku

saat malam diremukkan ekor shubuh

dia terkapar tak bisa pergi

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam

23.40 21 Februari 2011

JALAN SUNYI PARA PENYAIR


Jalan Sunyi Para Penyair

Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.

Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.

Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…

Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.

Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.

Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.

Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.

Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”

Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”

Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.

Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.

Untuknya…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.59 18 Februari 2011

Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair

diunggah pertama kali di:

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/

bangun ruang hati


bangun ruang hati

 

 

pagi ini aku kotak,

menyiapkan diri

semedi di sudutnya,

siangnya aku lingkaran,

tanpa sudut,

berputar,

hilang ingatan pada prasasti hati,

sorenya,

kembali aku menjadi kotak,

menghirup sunyi di keramaian,

semedi disudutnya,

malamnya,

aku menjadi segitiga

yang bertumpuk,

yang mengumpulkan kata-kata,

untuk sekadar satu jawaban,

lalu kapan aku menjadi jantungmu?

 

 

***

riza almanfaluthi

di atas kereta yang mencaci maki rel

dedaunan di ranting cemara

06.15 17 Februari 2011

 

titik tanpa jeda


…..titik tanpa jeda

 

adanya adalah desahan nafas

tiadanya adalah perhentian

jika ada koma di antaranya

maka ia adalah rehat sejenak

tuk kelana perjalanan

ke tujuan

 

di sini, aku hapus satu persatu

titik titik

itu

agar tak ada kata sakit

di benak kita

sebelumnya

sesudahnya

 

maka saat kita memintal waktu

bersama di jembatan Adelaide

dalam malam-malam penuh jeritan

binatang gelap

aku terlelap

tersentak…

aku berdiri tertegun

engkau adalah ketiadaan

ketiadaan tanpa titik

besok

biarkan aku menjadi titik-titik itu

buatmu

tanpa jeda

 

***

 

riza almanfaluthi

indah dengan a comme amour

dedaunan di ranting cemara

Citayam , 17.13 05 Februari 2011

jingga


jingga

 

sore ini tak ada jingga

yang ingin kau peluk

sampai bintang bertemu hujan

lalu kau menulis langit

dengan pena lidahmu:

    jingga itu adalah aku

bintang itu adalah kau

hujan itu adalah kita

usailah sudah deretan pesan yang dibawa burung

dan kau bawa pulang nanti

sembari mengharap detik arloji berhenti

sampai kau puas menikmati sunyi

    kita bersama melihat langit

    di atas bukit

    masing-masing memeluk lutut

    lalu kita temukan kembali dia

aku berbisik padamu: peluk erat jingga itu.

setelahnya kubungkus jingga

dan kutaruh di langit-langit rumah

tak perlu kau ke atas bukit lagi

aku cukup melihatmu bahagia

dari jauh…

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam sore tanpa jingga, 18.08

30 Januari 2011

 

    

HARGA SEBUAH KEPERAWANAN


Harga Sebuah Keperawanan

    “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Senilai jumlah uang tertentu? Atau sebatas janji dari rayuan maut para begundal syahwat? Ooooo…ya betul. Terkadang kombinasi dua diantaranya. Maka keperawanan jadi barang yang tak berharga. Hingga diri tak berarti. Tak ada yang bisa dibanggakan. Apatah lagi cuma gadis kampung yang cuma tamatan smp. Yang terkejut-kejut dengan budaya kota. Yang bermodalkan telepon genggam berkamera satu mega pixel-an. Tetapi punya akses ke seantero belahan dunia dengan gprs, 3g, ataupun wifi. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Hingga nanar mata membaca berita 51% gadis remaja sudah tak perawan lagi. Ooooo…ya betul. “Aku dipaksa. Aku dipaksa,” kata salah satunya. Kenapa tak meronta? Kenapa tak lari? Tanyaku lagi bertubi-tubi laksana ribuan panah menghunjam atap istana terlarang di Peking sana. Padahal jawaban itu hanyalah kamuflase untuk kenikmatan yang dirasa tak terkira. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Hingga membuyarkan mimpi para cecunguk yang lidahnya terjulur dengan air liur membasahi bibir memandangi tubuhmu menunggu kesempatan untuk lagi, lagi, dan lagi. Modalnya cuma kata-kata tak bermutu dan obral janji. Aih…bulan pun bisa ngomong kalau mereka itu cuma dusta belaka. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Sampai batok kepala ini tak kuasa menggeleng-geleng karena leher sudah tak mampu tuk berbuat apa-apa lagi. Bosan melihat tingkahmu. Jikalau orang tuamu tahu, apa yang akan mereka derita kecuali makan hati yang tiada berwujud rupa karena itu cuma rasa. “Duh…nduk anakku yang cantik. Mau-maunya kamu begitu. Tak kasihankah engkau dengan diri kami?” Cuma petani pemanjat pohon kelapa untuk mendapatkan secuil air aren yang harus digodok berjam-jam di atas tungku panas berbahan kayu bakar. Kun fayakun jadilah gula jawa. “Duh…nduk anakku yang cantik.” Air mata mereka mungkin sudah habis saat engkau datang menjumpa mereka. Karena bisik-bisik tetangga sudah mengacaukan hidup mereka. “Woro…!!!woro…!!! fotonya sudah sampai Los Angeles.” Kau mengira apa yang kau sudah rekam dalam megapixel-megapixel video dan gambar itu sudah hilang saat engkau tekan tombol delete. “Tidaklahyau…” Ingat kata-kataku ini. “Tidaklahyau…” Zaman sekarang teknologi sudah canggih, membangkitkan arwah gambar yang sudah “mati”, semudah membalikkan tangan dan mengedipkan mata. Makanya CIA dan FBI kudu memformat sampai lima kali harddisk-harddisk rongsokan mereka untuk memastikan tak ada data yang tertinggal. Dan kamu? Bukanlah siapa-siapa hingga hp yang kau jual itu masuk ke toko reparasi hp, dan si reparator menemukan semuanya itu lalu mengunggahnya ke dunia tanpa batas. “Woro…!!!woro…!!! fotonya sudah sampai Los Angeles.” Orang tuamu cuma bisa terpekur kayak burung tekukur mendengkur di atas kasur. Duh Gusti…air mata mereka sudah kering. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Tapi sambil berbisik kini. Karena aku takut mengganggu awal generasi baru dalam perutmu itu. Katamu sambil mengusap perutmu: “aku mencintainya dan isi perut ini.” Kalimat terakhir sebelum engkau menjatuhkan diri dari lantai 27 gedung ini.

“Berapa ???!!!!!” teriakku sepi.

***

 

“buat remaja putri semoga engkau tetap menjadi yang 49% itu”

 

Riza Almanfaluthi

sajak tengah malam

dedaunan di ranting cemara

00.19 30 November 2010

 

SITU CINTA


Situ Cinta

Cinta,
malam ini akan aku peluk engkau
dengan rindu yang telah menguning di hati
tanpa ada dengkul yang mencoba menghujat langit
kerana tak ada pelangi di gulitanya

Cinta,
cukup sekian kata yang berpeluh
dari aku yang mengukir lima hurufmu
di atas air situ
tanpa ada titik,koma, dan tanda seru

*

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
25 Juni 2009