malam di 1/3 terakhir


Malam di 1/3 Terakhir

**


aku mencintaimu seperti daun-daun jatuh di hutan, sepi tanpa suara

aku merinduimu seperti air jeram di sungai, ramai penuh gelora

aku kehilanganmu seperti nisan tua dan lapuk di tanah pekuburan.

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02.20 am 24 Maret 2011

pulang sekolah


pulang sekolah

**

dengan tubuh legam berkarat

lonceng itu merintih berharap-harap

menyerah pada pukulan demi pukulan

untuk sebuah lengking nyaring

menggelumat atmosfer

sepi sujud pada ramai jam 2 siang

kursi yang kau duduki dan

pulpen yang kau pegang

berteriak serentak, “pulanglah segera,

sebiji matamu menunggu,

karena malam ini ia akan pergi,”

bukankah kasih bunda adalah bahasa keabadian?

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai dasar gedung sutikno slamet

13.35 22 Maret 2011

Gambar diambil dari sini

dahaga


dahaga

**

 

di ruang-ruang senja yang terkotak-kotak

kau pergilirkan semaian rindu

pada ladang-ladang yang kerontang

pada ilalang-ilalang yang dendam

dengan pertemuan tak kunjung beranjak

jika wajahmu adalah hujan

untuk ladang dan ilalang itu

biarkan aku berdiri di atas puncak bukit

rentangkan tangan lebar-lebar

menampar angin

tengadahkan seraut rupa

tanpa mata yang membuka

untuk menerima

gerimismu

lebatmu

hingga kuyup

semuanya karena ada dahaga

yang tak kunjung tamat

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas krl pakuan ekspress 17.40

17.50 21 Maret 2011

supermoon


supermoon

**

 

aku ambil pisau

memotongnya sebagian

dan kuletakkan di atas nampan

kuserahkan padamu

sisanya biarlah untuk kita nikmati bersama

dengan tatapan-tatapan kita:

bulan sepotong

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

mabit di masjid almuhajirin bojonggede

12.57 20 Maret 2011

foto asli diambil pada pukul 04.31 (sepertinya)

malam likat


malam likat

**

 

ada huruf yang kutulis

merana di awal cerita:

d

lalu

ada satu yang tertinggal

di ujung cerita:

u

menjelma menjadi riak-riak kata

yang terngiang-ngiang

lalu menjadi bisik-bisik

menemanimu sepanjang perjalanan

malam itu yang likat,

sebagiannya bersembunyi malu

di balik bintang-bintang

kini setelah satu purnama lewat

tanpa permisi

dan bintang-bintang itu pudar

kelelahan

ada yang indah terlihat

ada yang merdu terdengar

aku sampaikan padamu

di siang ini yang pemberang:

di cintamu kutemui arti hidupku*

***

 

 

*mengutip satu larik lagu yang diciptakan

Oddie Agam dan dipopulerkan oleh

Mus Mujiono: Arti Kehidupan

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 9 gedung sutikno slamet pengadilan pajak

12.57 18 maret 2011

 

banal


banal

*

 
 

teriakku pada macan

yang ada di kebun binatang:

aku ambil lorengmu!!!

pada zebra:

aku ambil belang-belangmu!!!

pada singa:

aku ambil surai di lehermu!!!

pada buaya:

aku tak akan ambil kulitmu!!!

Bosan,

aku akan ambil matamu saja,

pada ular:

aku akan ambil lidahmu!!!

Satu-satu,

aku permisi pada semua penghuni,

setelahnya aku menjadi binatang…

banal  

 
 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

Februari Maret 2011

 
 

  

tak pernah sampai


tak pernah sampai

**

 

coba lihat pada ilalang yang tumbuh

di depan rumah kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang paling tinggi

tapi tak acuh pada air gunung

yang bersemedi dengan butirannya

membasuh daun-daun

coba lihat pada bisunya langit

yang indah di atas kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang tercepat

tapi tak acuh pada mendung hitam

yang segera akan menelannya

dan tak perlu mencoba

melihat aku

karena aku terlepa

di atas tanah yang rindu hujan

tak bisa tak acuh

untuk setiap anak panah pesan

yang berlari dari busurnya

tak pernah sampai

di setiap detiknya

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

menunggu

10.13 12 Maret 2011

 

senampan biru


senampan biru

**

 

aku taruh senampan biru

yang kupersembahkan

melalui rinai hujan yang jatuh di atasmu

atau geliat ikan yang lincah

tak hendak menangkap umpan

yang kau taburkan siang tadi

atau kelabu yang membebat diri

 

aku taruh senampan biru

untuk kau pilih

kau simpan

kau bawa

ke atas gunung

dengan tas carrier

bersama selembar matras

bersama sepotong jaket

bersama seperangkat tenda

bersama sleeping bag warna jingga

 

malamnya

kau memandang langit

mengambil segelas coklat panas

dan sepucuk biru

lalu menyentak

aku datang padamu

bersama petrichor

sampai pagi

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam, ruang biru

11.04 06 Maret 2011

 

 

 

 

BROWNIES


Brownies

**

 

sekotak brownies

terpotong-potong sadis

harum coklatnya menghingar bingar pagi

ada senyum menabuh sunyi

saat lidah bersua lezatnya

jika tinggal satu

bolehlah aku sampaikan sepotongnya

untukmu

 

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

08.01 7 Maret 2011

 

 

berapa mawar


berapa mawar

kau letakkan di jalananku

agar aku pungut

setiap pucuk yang tergeletak itu

yang mencerabih tanpa henti

memberitakan kepadaku

ada hari di ujung jalan

membawa sekeranjang penuh

merah mewangi

aku terkapar

padahal cuma sehasta lagi

beri aku satu yang terakhir

lirihku

kembali…

dia menaburkan

aku tergagap:

berapa

mawar

lagi

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada mawar yang tergeletak di ujung jalan kesepian

01.55 5 Maret 2011