Di serambi penuh masjid dan ulama
di Jalan Menuju Kedamaian
dua lelaki muda yang dicari,
keluar dari pintu WC yang sama.
***
Riza Almanfaluthi
Citayam, 8 Oktober 2016
Pict by @_universaltime_
karib hujan bernama dingin
berladang di sekujur tubuhku
yang sedang mencari akal
cara terbaik mencampakkan pejam
ia menadbirkan sekutunya, gerimis
bertandak di luar rumah
berkongsi dengan angin, debur ombak,
minus kodok-kodok kawin
dan kucing-kucing jantan sedang berahi
agar kadar sadar ada yang menunggu selebar zaman
kudongak irisan pasrah merayapi langit
di atas sajak yang panjang
warnanya biru
**
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
tapaktuan, 25 agustus 2016

Kain kumal berdansa haha hihi
di langit biru hari ini
sempat jantungan ditumbuk ironi
yang membawa kabur konsentrat pedih
anak negeri keluar bumi pertiwi
Merdeka mbahmu!
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
17 Agustus 2016
aku menjelma bibir
dengan cecap pada segelas teh
yang panasnya pupus dua jam lalu
di pinggiran malam yang retak
gelas yang lupa
dentingnya yang berisik
menitahkan mata
agar tak nyalang di sembarang
sengkarut suratan
tapi aku melawan geming
di atas kursi rotan berkepinding
pada layar putih yang sedang bunting
buat memperanakkan sajak-sajak kering
tilam sudah terbentang, sayang…
sentosalah
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
tapaktuan , 16 Agustus 2016

sebuah purnama mengunggah pesona
mengguncangkan
enggan menjadi epilog
lantas nista menyelinap
asyik masyuk
sedang di atas sana
langit gemetar
Kau ampuni fadihatku, Gusti Allah?
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Tapaktuan, 21 Mei 2016

Sepi duduk di tepian gerhana
tangannya menggurat langit
dengan cahaya sebagai tinta
hujan turun setelahnya
di setiap tetes itu
ada kata-kata terselip
waktu yang mencumbu doa ribuan kali
**
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Tapaktuan, 13 Mei 2016
Kita berputar bersama
menghujani langit dengan ribuan kata
penuh mimpi
lalu mata menjadi samudra
tujuh kali setelah itu
kita saling bertanya
kapan kembali?
***
Tapaktuan, 27 April 2016

cobalah untuk mengerti
ketika segenggam cerita kau taburkan di pusara kesunyian
yang ada malam seperti di siang hari raya
atau serupa anak-anak kegirangan dengan kembang gula di mulutnya
ah kalau kau tak berketentuan
ini laksana aku bentangkan tangan di puncak kanchenjunga
sampai di spasi ini pun aku kehausan
dan kutenggak sebotol air putih
menenangkan kerongkongan
lalu aku teruskan membuat segumpalan puisi
yang masih tak percaya
hatimu menjelma dresden 71 tahun lalu
cobalah untuk mengerti
kelap-kelip lampu jalanan sepanjang lanteumen hingga mata ie
yang aku terabas dengan becak motor butut
dari seorang tua yang sudah tinggal di kota ini lima dasawarsa lalu
cuma mengisyaratkan kepadamu
kalau lelah sudah mengalah
kalau malam sudah menggelar tilam
kalau rinai sudah memperlihatkan taringnya
izinkan aku untuk mengajari kelopak mata
bagaimana cara terbaik menyelubungi
mata dan semua ingatan tentangmu
cobalah untuk mengerti
huruf-huruf yang kau pintal menjadi kata-kata
cuma sekadar cakap besar nyanyian para pengamen
yang masuk silih berganti ke warung mi razali
aku bergeming masih menikmati mi goreng cumi-cumi basah
sambil uluk kata maaf, maaf, dan maaf
lalu menjelang fajar kau terkaget-kaget
seribu candi maaf yang aku bangun dengan ribuan siluman derai air mata
nyaris berdiri tegak di hadapan manekin keangkuhanmu
kalau saja dayang-dayang kenangan tak segera kau bangunkan
cobalah untuk mengerti
waktu sudah sedari tadi duduk di sampingku
sambil memijat-mijat punggung
mengusir letih yang menjadi kutu di rambut
mencabik-cabik kantung mata yang hinggap di wajah
sambil berbisik, “tidurlah. sudah dini hari.”
dia masih tak percaya padaku, balasku.
makanya aku biarkan jari-jariku ini
bukan untuk membuat perkamen, tapi prasasti
titik koma
a sampai z
kiri ke kanan
membiarkannya kehujanan lalu membatu
agar zaman bergulung-gulung lewat menjadi tahu
kalau senyummu itu senja firdaus yang tercecer di bumi
oooo, kaukah arca terakhir itu?
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
banda aceh, 7 april 2016
foto dari skyhdwallpaper.com