Laut yang Bisa


Laut bisa menyembunyikan kebesarannya
pada sebuah batu yang ditenggelamkan saat pasang tiba.
Dan aku tak mampu untuk menenggelamkan segala kenang
tentangmu waktu surut datang.
Angin mampu mendengkur, itu kauingin lihat sepanjang
dini hari yang malas beranjak.
Ketika tiba saatnya engkau akan tertidur,
angin terbangun,
dan menyentuh seluruh wajahmu yang purnama.
Di situlah aku tak mampu lagi membedakan
mana kata kerja dan sifat.
Sebentar lagi tahun akan berganti.
Engkau janganlah pergi.

***


Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Stasiun Cawang, 6 Januari 2018

Advertisements

Ketika Tidur Pun


Bahkan ketika tidur pun, aku selalu memikirkanmu.
Bahkan ketika memikirkanmu pun, aku selalu tertidur.

Tidur adalah cara melarikan diri dari memikirkanmu.
Memikirkanmu adalah cara terbaik agar aku bisa tidur.

Bahkan ketika tidur pun, aku selalu memikirkanmu.
Bahkan ketika memikirkanmu pun, aku selalu tertidur.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Belitong, 2 Januari 2017
Photograph by @cristinamittermeier
from @natgeo.

Kera Alengka


Maka senja yang separuh baya sungguh tak sabar menjadi malam yang renta. Benar-benar, ia tak kuasa membunuh maut yang lebih suka memburu herring-herring di fjord utara. Dan aku malah telah menghabiskan likat kulitmu, menggelombangkan getar sekujurmu, menidaksempurnakan aku, dan memikrajkan waktu menjadi pagi yang buta. Dan ketika ditanya kaummu, kauhanya mampu menjawab, “Aku menjadi perempuan swahili yang mengantuk.” Di situlah kita sadar, kita menjadi mahir untuk menjadi pemuncak di Aconcagua kerinduan. Untuk malam yang kemarin, malam ini, dan malam-malam selanjutnya yang kaunamai: malam-malam Sinta sebelum disentuh Rahwana. Dan aku cuma kera Alengka yang bisa melolong di sela-sela hela nafasmu. Usai sudah. 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
30 Desember 2017
Photograph by @paulnicklen
from @natgeo.

 

Setabah-tabahnya Mataku


Banyak cerita di balik pembuatan puisi yang dibacakan pagi ini di hadapannya. Tapi cukuplah di suatu waktu kuceritakan kelak kepadamu.

Setabah-tabahnya Mataku
~~~Kepada Ani Natalia (@aniwinner)

Setabah-tabahnya mataku
berkarib dengan malam
ternyata sekali tak pernah tabah
mataku untuk berlelah
membuatkan puisi
untukmu

Sejinak-jinaknya kata-kataku
bersahabat dengan sajak
ternyata sekali tak pernah jinak
kataku untuk beternak
puisi yang ingin kugembalakan
untukmu

Sesayang-sayangnya
penghujan pada dedaunan
ternyata sekali
ia tak pernah sayang,
semalam ia lupa cara
menjatuhkan dirinya
karena melihatku
tak mampu menuliskan puisi
untukmu

perihalmu: segala kerap
yang tak bisa kuperangkap
dengan kata-kata
dan kupenjara
dalam puisi
sebab
engkau puisi itu sendiri
yang penyayang
dan rendah hati.

Sentosalah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Commuter Line, 27 Desember 2017
Foto: Rora

 

 

Melakukan Padamu


aku ingin melakukan padamu
apa yang dilakukan Pirazolli di Tanjung Laundi

aku ingin melakukan padamu
apa yang dilakukan abu Tambora pada ibu bumi

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
25 Desember 2017

Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Pelukan dan Kehangatan


30 Kilometer yang Sebegitunya.

Pengalaman hidup adalah mufti yang memang memfatwakan
banyak hal kepada saya sebagai mustafti.

Setelah menerima medali dan kaos sebagai penamat, saya segera membereskan peralatan saya. Tiba-tiba kembali rasa mual itu muncul. Saya segera cari tempat sepi. Di bawah pohon palem yang baru tumbuh, saya memuntahkan semua isi perut. Semuanya cairan yang tadi saya minum di sepanjang pelarian itu. Lega.

Setelah itu saya menuju tenda besar panitia. Di sana ada wadah plastik besar berisi air es untuk merendamkan kaki. Saya memasukkan kaki. Dan tidak butuh waktu lama, itu saja membuat tubuh saya menggigil tidak karuan. Tidak hanya di kaki, tetapi ke seluruh tubuh. Ini seperti dingin yang menyerang saat kita demam atau meriang. Saya segera angkat kaki. Saya sudah merasa sangat kelelahan.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Banyak Drama


Capek Bro. 🙂

Tetapi pada saat malam hari, kebanyakan minum malah bikin kembung.

 

Saya tiba di PDAM Cibinong. Ini penghentian pertama. Sudah 1 jam 31 menit saya berlari. Itu kira-kira 12,5 kilometer. Belum ada cairan yang masuk sama sekali. Baru dua butiran kecil gula jawa yang saya habiskan.

Di sana, setelah dilakukan pengecekan oleh panitia, saya langsung mengambil minuman botol warna biru itu dan menenggaknya sampai habis. Hal yang nantinya membawa saya kepada sesuatu.
Baca Lebih Lanjut.