PENGUMUMAN KLOTER


PENGUMUMAN KLOTER

 

Jauh-jauh hari kalau daerah lain, pengumuman kloter dan pemberangkatan ini sudah diketahui. Tapi untuk Kabupaten Bogor baru tanggal 1 Oktober ini diumumkan. Itupun setelah beberapa kali dimundurkan dari jadwal semula 17 September dan 24 September 2011.

Tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini. Yang selalu dikatakan oleh petugas haji Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor kepada kita-kita adalah: “Sabar, sabar, sabar.” Ya, ya, ya, kami sabar Pak. Masalahnya keputusan segera diketahuinya kapan pemberangkatan ini berpengaruh pada kapan calon jamaah haji (calhaj) akan mengambil cuti dan persiapan perbekalan, padahal tanggal 6 Oktober ada yang sudah berangkat.

Walau sudah diumumkan ada juga calhaj yang tercecer belum dimasukkan dalam daftar itu. Kebetulan calhaj itu adalah teman saya. Kok bisa? Saya juga tidak tahu kenapanya. Sampai-sampai ada calhaj yang tidak bisa menepis rasa curiga jangan-jangan ada rempeyek di balik gado-gado. Eits…tak perlu diperpanjang.

Lama kami—calhaj mandiri—mencari bocoran pengumuman itu, kali saja ada informasi yang bisa dibagi tetapi ternyata petugas haji keukeuh untuk tak mau memberitahu sebelum tanggal 1 Oktober 2011. Masalahnya kepada kami-kami yang mandiri bersikap itu tetapi lain hal kalau yang dari KBIH. Informasi pemberangkatan sudah sampai kepada calhaj binaan mereka. Seperti yang mau berangkat tanggal 7 Oktober nanti, mereka sudah dapat informasinya jauh sebelum tanggal 1 Oktober 2011. Apakah ini bukan diskriminasi namanya?

Walau demikian saya akhirnya lega juga pada hari Sabtu (1/10/2011) ini sudah ada kepastiannya setelah akun facebook saya ditempel gambar pengumuman hasil jepretan ketua regu Pak Rakhmat Tomi Wibowo ( http://www.facebook.com/tomi.wibowo ). Terima kasih banyak Pak Tomi.

Dari situ diketahui kalau Saya dan istri masuk

Kelompok Terbang (Kloter)     : 65

Rombongan            : 9

Regu                : 35

Tanggal pemberangkatan    : Selasa, 25 Oktober 2011

Embarkasi            : Jakarta

Untuk yang tanggal itu kumpul di Cibinong jam 4 pagi. Lalu berangkat ke asrama haji jam 5 pagi. Kemudian pergi ke bandara jam 11.25.

Setelah pengumuman ini apa lagi yang harus dikerjakan? Enggak tahu. Saya benar-benar enggak tahu. Tapi pada intinya kita yang mandiri ini memang harus banyak tanya dan cari informasi. Pada siapa saja. Petugas Haji, Pembimbing Manasik Haji, teman yang sudah pernah haji, teman satu regu, teman satu rombongan dan kepada siapa saja yang ditengarai memiliki informasi penting tentang haji.

Semoga informasi ini bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 Oktober 2011

 

Tags: haji, pengumuman kloter 2011, pengumuman kloter kabupaten bogor, kementerian agama kabupaten bogor, depag kabupaten bogor, departemen agama kabupaten bogor, haji, haji kabupaten bogor, pengumuman haji kabupaten bogor,

PELUNASAN BIAYA HAJI


PELUNASAN BIAYA HAJI

 

    Kini saatnya untuk menerangkan tahap pelunasan biaya haji di tahun 2011 atau 1432 H ini. Seperti telah diketahui bersama Pemerintah dan Komisi VIII DPR telah menyepakati besarnya Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2011 M sebesar Rp30.771.900,00 yang akan berlaku berbeda tergantung embarkasinya. Kalau dalam mata uang dollar untuk embarkasi Jakarta senilai US$3,589.00 ( 1 US$ = Rp8.700,00).

    Waktu pembayaran telah diplot selama dua minggu mulai 15 Agustus sampai dengan 26 Agustus 2011. Jika pada masa ini ada calon jamaah haji yang belum mampu melunasi diberikan tenggang waktu mulai tanggal 6 sampai dengan 9 September. Jika tidak maka akan digantikan dengan jamaah daftar tunggu 2012.

    Nah, bagaimana cara melunasinya? Tentu datang ke bank tempat kita buka rekening haji dan membayar setoran awal. Apa dokumen yang harus dibawa? Masing-masing bank punya aturan yang berbeda. Oleh karenanya untuk mengetahui pastinya lebih baik telepon Customer Service (CS) bank itu. Informasi dari petugas haji di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor kurang valid.

    Kalau di Bank Mumalat Indonesia Cabang Bogor—tempat kami berdua membayar setoran awal haji—yang di Jalan Pajajaran dekat Warung Jambu itu, menyaratkan kami untuk membawa ini:

  1. Pas Foto ukuran 3 x 4 sebanyak 5 lembar;
  2. Fotokopi Setoran awal BPIH sebanyak 1 lembar;
  3. Mengisi formulir yang disediakan petugas bank di sana.

Bagaimana dengan meterai? Bawa silakan tak bawa juga tak apa-apa. Karena bank telah menyediakannya dengan harga yang normal sebesar Rp6000,00 untuk 1 lembarnya.

Kami sampai di sana sekitar pukul 11.30 sesuai informasi yang didapat dari CS via telepon sebelum kami berangkat karena baru pukul 11.00 SISKOHAT bisa online. Dan menurut informasi SISKOHAT hanya online sampai pukul 14.00. “Jadi mengapa harus datang pagi-pagi?” begitu pikir kami. Di halaman depan bank sudah ada tenda berukuran 12 m2 dengan kursi-kursi yang masih kosong.

Pelayanan yang kurang memuaskan di tahun 2009 saat kami melakukan penyetoran awal dan informasi dari teman tentang kualitas pelayanan yang tak memadai di tahun-tahun sebelumnya pupus sudah saat kami datang ke sana. Kami sudah disambut ramah oleh petugas keamanan di pintu masuk yang juga memberi kami banyak informasi tentang cara pelunasan itu.

    Ternyata kami datang di waktu yang tepat, karena kalau saja kami datang di hari pertama atau di pekan pertama waktu pelunasan maka antriannya panjang dan memakan waktu lama. Pada hari Selasa (23/8) ini sampai siang itu cuma tiga orang termasuk kami yang melakukan pembayaran. Jadi tidak butuh lama untuk antri.

 

Kami diminta untuk mengisi formulir aplikasi transfer/pengiriman uang ke Menteri Agama dengan nomor rekening: 301 00394 15. Di tahun 2009 kami hanya diminta membayar Rp20 juta untuk mendapatkan porsi. Sehingga pada saat pelunasan BPIH di tahun 2011 ini kami hanya membayar sisanya. Perhitungannya sebagai berikut:

Jumlah BPIH     US$3,589.00 x 8.595,00 (kurs US$ pada hari itu) = Rp30.847.000,00

Dikurangi setoran awal = Rp20.000.000,00

Jumlah kekurangan = Rp10.847.000,00

Dari Teller lalu kami menuju CS untuk dibuatkan dokumen Setoran BPIH yang akan diserahkan kepada petugas di Kantor Kementerian Agama. Setelah dilayani oleh teller untuk pembayaran dan Customer Service untuk pembuatan dan penandatanganan seluruh dokumen, maka selesai sudah proses pelunasan BPIH ini.

    Sebelum pergi kami diberikan cinderamata. Satu tas untuk saya yang isinya satu set kain ihram, baju koko, dan kantung batu. Dan satu tas lain yang lebih kecil untuk istri saya berisi satu gamis, jilbab, mukena, dan kantung batu.

Setelah itu kami langsung menuju Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor yang berada di Cibinong untuk menyerahkan dokumen-dokumen sebagai berikut:

  1. Fotokopi KTP 3 lembar;
  2. Fotokopi Kartu Keluarga 1 lembar;
  3. Formulir Setoran BPIH.

Sudah selesai. Kami diminta untuk menghubungi petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor lagi nantinya di nomor telepon 021-87909015 untuk mengetahui kapan jadwal manasik terakhir. Semuanya dimudahkan Allah dalam tahap pelunasan ini. Insya Allah ini adalah berkah ramadhan 1432 H.

Demikian pembaca, semoga informasi ini bermanfaat buat Anda.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.46 – 26 September 2011

Tags: haji bogor, pelunasan biaya ibadah haji, bpih, biaya haji 2011, biaya haji, bank muamalat indonesia, bmi, tanggal pelunasan, kapan pelunasan ibadah haji, kantor kementerian agama kabupaten bogor, pelunasan haji, pelunasan biaya haji

bakar pakuan


bakar pakuan

**

duduk di atas batu hitam curug cilember, aku menaruh harap pada prabu surawisesa, “bakar pakuan, agar tak ada derita.” deru debam air yang jatuh hanya jadi setetes kerikil bunga tidur.

duduk di atas batu hitam curug cilember, aku patahkan lidah, sebatang dingin menuliskan di atas lontar: aku diraja. berbilang ratusan tarikh prasasti menjadi kuncup.

bisiknya, mekarnya tak ada padamu
***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

21.32 – 20 September 2011

K a n v a s 2


Kanvas 2

Coba tanya padaku, sosok busuk berkedok sobekan dari kitab suci, yang berjalan di setapak perkebunan teh Cianten ketika halimun berat untuk digendong di punggung.

Tak ada tanya, sekalipun. Lalu sebiji diam menjelma pohon kesunyian menyekat jabat tangan.

Tetap tangan yang hangat di dalam saku celana merasakan harum bau tanah yang kau peluk di malam sebelumnya. Aku berbisik pada pucuk-pucuk dedaunan yang basah saat kau bilang sudahlah: “hanya Affandi yang mampu melukis kanvas di senyummu.”

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

akan banyak kanvas lagi

11.53—19 September 2011

 

 

 

Teh…


Teh…

*

dengarkan:

Ada yang bertawaf dalam hatiku, tujuh putaran tamam,   ada yang berlari-lari kecil di dalam lorong-lorong benak, tujuh lintasan sempurna, ada yang menebas utuh surai sejarah, tanpa sisa.Semuanya itu tentang kau. Di waktu yang lelah berputar, di pungkasnya, aku adalah bangunan hitam yang ditinggal olehmu—masih akan ada cerita untukku, Teh?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22.17 — 18 September 2011

Diunggah pertama untuk FLP Depok

Gambar dari sini.

ratkirani


ratkirani

*

aku tuli dengan teja di barat

kau hanya bilang jangan terbang ke sana

aku buta dengan semerbak seruni

kau hanya bilang jangan sentuh ia

di bawah beringin bogor

ada banyak juntaian renjana

yang kau gantung untukku di malam itu

kau hanya bilang ada yang telah menjadi yudistira pada drupadi

–ratkirani untukmu kelopaknya jatuh satu-satu

guernica menjelma di dada

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.32 – 18 September 2011

JANGAN DIBUNGAIN YA PAK


JANGAN DIBUNGAIN YA PAK

Dewi namanya. Malam-malam kirim SMS pada saya. Bahkan datang ke rumah jam setengah sebelas malam. Saya tidak kenal dia. Dia juga tidak kenal saya. Saya dikenalkan dengan dia oleh Ustadz Fatkhurrokhman—KPP Pasar Rebo, halo Ustadz semoga antum sehat selalu—maghrib sebelumnya. Sebenarnya Dewi hendak menuju ke rumah Ustadz Fatkhurrokhman, tetapi, maka ia menyarankan Dewi untuk menemui saya.

Dewi mengetahui Ustadz Fatkhurrokhman dari mahasiswa UI yang ditemuinya di Metromini sepulang dari Dompet Dhu’afa. Permohonan mendadak atas suatu keperluannya tidak bisa dipenuhi oleh lembaga itu. Ia mengeluh kepada mahasiswa UI dan dari mahasiswa itu Dewi diminta untuk datang ke rumah Ustadz Fatkhurrokhman. Tetapi karena sedang bedrest dan jaraknya jauh dari Bojonggede ke Cinere, Ustadz Fatkhurrokhman menyarankan Dewi untuk menemui saya saja.

Dewi anak pertama dari sembilan bersaudara. Umurnya 27 tahun. Bapaknya sudah dua tahun tidak ada. Lima orang adiknya masih sekolah. Sedangkan ia belum lama keluar dari Rumah Sakit Cibinong dan Rumah Sakit Bunda Margonda Depok karena vertigo. Karena sering sakit-sakitan, ibu dari dua orang anak ini ditinggal suaminya tanpa kejelasan status. “Enggak kuat biayain sakit kamu,” kata suaminya. Kini Dewi tinggal bersama ibunya sebagai tulang punggung keluarga untuk membiayai adik-adiknya dan tentu dua anaknya juga. Peran sebagai buruh cuci pun dilakonin.

Dewi meng-SMS: “Pak, adek saya yang baru masuk SMK sampai saat ini belum bisa bayar SPP selama tiga bulan. Saya sudah ke sana ke mari namun masih belum ada jalan. Saya berusaha minta tolong sama tetangga tetapi mereka mintanya dibungain.”

Butuhnya berapa Mbak? Saya
kirim sms balasan.

Besarnya 240 ribu rupiah Pak. Jumlah yang sangat besar Pak. Tadi saya sudah coba usaha ke Jakarta. Yang ada malah uang yang seharusnya buat beli beras terbuang buat ongkos sama beli pulsa. Soalnya saya pinjam hp teman adek saya Pak.

Saya jadi ingat ada amanah yang belum tertunaikan. Maka saya minta ia datang malam itu juga ke rumah saya. Soalnya kalau bertemu besok pagi sudah jelas saya tidak ada. Saya sudah pergi ke kantor. Jarak 6 kilometer ditempuhnya.

Di ruang tamu itu wajahnya terlihat kelelahan. Ia mengutarakan semua keluhannya. Sang adik sebenarnya menunggak SPP tiga bulan, tapi cukup diminta untuk membayar 2 bulan dulu. SPP sebulannya Rp120 ribu. Saya periksa semua fotokopi dokumen yang saya minta sebelumnya. Yang pasti harus diketahui adalah alamat rumahnya untuk suatu saat saya dapat silaturahim dengan ibunya.

“Jadi emangnya Mbak Dewi mau pinjam uang?” tanya saya.

“Iya Pak. Tapi tolong jangan dibungain ya Pak,” pintanya.

“Emangnya tetangga sana minta bunga yah?”

“Iya Pak, saya mau pinjam 100 ribu. Saya cuma dapatnya 80 ribu. Lalu bayarnya bulan depan 130 ribu,” jelasnya. Waduh…gede amat.

“Ya sudah, tapi sebelumnya saya minta nanti Mbak Dewi sama keluarga yang lain doakan nama ini yah. Beliau yang sebenarnya bantu Mbak,” kata saya sambil menyodorkan secarik kertas berisi sebuah nama. “Anaknya sakit, tolong doakan supaya anaknya cepat sembuh.”

“Insya Allah Pak.”

“Ini uangnya.” Dua kertas warna merah dan dua kertas warna hijau berpindah tangan. “Tak perlu bayar bunga. Dan tak perlu ngutang. Ini dikasih saja.”

“Tapi pak…saya niatnya minjem?” Ia terperangah. Tak percaya. Matanya berkaca-kaca.

“Tak usah. Tidak apa-apa. Manfaatkan dengan baik saja,” potong saya. Ia tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Dua tangan menangkup wajahnya. Saya sampai harus menarik tangan saya ketika ia tiba-tiba turun dari kursi tamu, duduk bersimpuh di hadapan saya, dan hendak mencium tangan saya.

Kata-kata terima kasih berulang-ulang terluncur dari mulutnya. Rona bahagia terlihat dari wajahnya. Besok ia akan datang lagi untuk menyerahkan bukti pembayaran SPP itu.

Uang 240 ribu rupiah bagi kita bisa jadi itu senilai jumlah pulsa hp bulanan kita. Atau senilai satu potong kemeja. Atau senilai traktiran 7 porsi tongseng STEKPI Kalibata dan 20 tusuk satenya. Atau senilai internet unlimited dua bulanan. Tapi bagi Dewi, uang senilai itu berharga sekali. Amat. Memperpanjang masa depan dan hidup keluarganya.

Nama yang saya sodorkan kepada Dewi adalah nama salah satu dari anggota milis ini. Kepadanya saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikannya dengan kebaikan yang berlipat ganda. Masyarakat Bojonggede sangat terbantu sekali.

Infak dan segala pemberian kita adalah harta yang sesungguhnya. Menjadi benteng dari segala musibah dan petaka, wasilah untuk mendapatkan anak, menyembuhkan derita sakit, menjadi awal dari bertambahnya kebaikan kita, serta melatih kepekaan dan mendidik kita untuk menjadi orang yang soleh secara sosial. Karena sejatinya orang soleh secara individu itu banyak tetapi paripurna berkelindan dengan soleh sosial itu yang jarang. Saya banyak belajar dari teman-teman sekalian yang ada di sini.

Terima kasih atas pelajarannya, Kisanak…

***

Thanks to Bapak, Ibu, Mas Bro dan Mbak Sist :

Herlin Sulismiyarti; Hartyastuti; Harsoyo; R Ganung Harnawa; Noviyanti; Euis Purnama Sari; Erwinsyah Marpaung; Erwan; Ervan Budianto; Erni Nurdiana; Erin Fadilah Sari; Erfan; Eni Susilowati; Emma Kataningrum; Eldes Gina Kencanawati Marbun; Dina Lestari; Dian Sofa Imama; Dian Rahmawati; Dewi Andriani; Desiana Witianingtyas; Desi Purbi Mulyani; Cucu Sri Rahayu Botutihe; Binanto Suryono; Ayu Diah Rahmayati; Awik Setyaningsih; Ardiana Wiryawan; Anton Rukmana; Anik Noerdianingsih; Anang Anggarjito; Amran; Aliyah; Al Mukmin; Agus Budihardjo; Agung Priyo Susanto; Ade Hasan Pahru Roji; Abdul Manan; Moh. Suroto; Budi Utomo; Zakki Asyhari; Ujang Sobari; Uha Indiba; Tujanawati; Tri Satya Hadi; Tosirin; Tjandra Risnandar; Titik Minarti; Tintan Dewiyana; Sulistiyowati; Siti Nur`Aini; Setyo Harini; Ruli Kushendrayu; Roos Indrapurwati Yulinapatrianingsih; Riza Almanfaluthi; Rina Febriana Sitepu; Rimon Domiyandra; Ratna Marlina; Nugroho Putu Warsito; Nana Diana; Nady Safutra; Listya Rindrawardhani; Lia Yuliani; Layli Sulistiorini; Larisman Gaja; Khuriah Nur Azizah; Khadijah; Ita Dyah Nursanti; Irma Handayani; Indria Sari; Imamuddin Hakim; Ikaring Tyas Aseaningrum; Leli Listianawati; Mona Junita Nasution; Herri Rakhmat; Herpranoto; Rosvita Wardhani; Indah Pujiati

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10.25 – 17 September 2011

Philanthropycanus Erectus Citayamiensis

DIGAYUSIN LAGI


DIGAYUSIN LAGI

    Ry, izinkan aku menulis lagi malam ini. Tentang apa saja. Mungkin tentang yang aku alami hari ini. Seperti biasa aku harap engkau cukup diam dan menyimak apa yang aku tulis. Kau tahu kepalaku sakit kalau tidak menulis.

    Malam ini Ry, hujan. Jakarta hujan. Depok hujan. Citayam hujan. Apalagi Bogor, hujan pastinya. Alhamdulillah. Berkah banget. Sepertinya kemarau akan segera berakhir. Syukurlah. Dan aku seperti hari terakhir di musim kemarau. Kau tahulah artinya apa. Tapi tadi di Stasiun Sudirman ketika tetes-tetes hujan itu berubah menjadi gemerisik yang deras, sungguh bau tanah yang tersiram hujan itu menyengat banget.

Tahu kamu Ry, apa yang aku lakukan? Di pinggir rel, di peron 2 itu, aku hirup dalam-dalam petrichornya. Aku tiba-tiba teringat kamu Ry. Kalau saja aku sendiri di sana, akan aku rentangkan tanganku dan membiarkan nafasku yang berbicara lalu membiarkan wajahku tersiram gerimis pertama itu. Untuk menghapus ingatan pagi tadi agar hilang dan lenyap bersama petang yang membawa malam.

Kamu tahu Ry, aku di-Gayus-in lagi. Kapan? Iya, tadi pagi. Aku jadi teringat, Juli kemarin aku menulis sebuah artikel. Ceritanya tentang empatiku pada teman-teman DJP di bulan Maret 2010 lalu. Ketika itu kalau ada metromini yang berhenti di depan kantor keneknya itu selalu bilang: “Gayus! Gayus! Gayus!!!” Nah, aku tuh—dalam tulisan tadi—membayangkan bagaimana perasaan teman-teman ketika turun dari Metromini tadi.

Eh, sungguh Ry. Kejadian itu nyata padaku. Menimpa padaku hari ini. Dan aku tidak sekadar empati. Tapi menjadi saksi hidup dari perasaan yang timbul itu. Dulu sekadar membayangkan, kini benar-benar nyata. Pagi tadi dari Stasiun Sudirman aku naik Metromini 640 jurusan Tanah Abang Pasar Minggu. Perjalanan lancar mulai dari Setiabudi, Kolong, Benhil, Atmajaya, Komdak, dan Gedung Mulia. Nah sebentar lagi turun di jembatan penyeberangan sebelah gedung Jamsostek, persis depan kantor BKPM. Biasanya sih si kenek bilangnya: “Pajak..! Pajak..!” Tapi, kali itu si kenek ini bilangnya ya itu tadi: “Gayus! Gayus! Gayus!!!”

Spontan Ry, aku merasa gimana gitu. Banget nget…nget… “Alhamdulillah ya, sesuatu ya…,” kata Mbak Titi Sugiarti—yang ini teman saya—ala Syahrini di Gtalk. Sepertinya seluruh penumpang melihat saya dengan pandangan aneh dan penuh selidik. Atau ini hanya perasaan saya saja yah? Tapi pokoknya gimana gitu. Menggambarkan perasaan seperti itu rada-rada susah.

Beruntungnya Ry, tidak hanya saya yang turun, tapi sekitar lima orang teman saya juga ikut di Metromini itu. Mereka cuma tersenyum kecut dan saling pandang. Heheheheh kita senasib Mas Bro dan Mbak Sist. Tapi kebetulan Pak Jon Suryayuda S—atasan saya—tidak satu bus. Ceritanya akan tambah seru kalau beliau ikut merasakan juga. Akan jadi obrolan menarik. Hehehhhe…

Ternyata saya baru tahu dan kalau benar, kejadian itu adalah efek dari berita baru tentang Gayus yang punya duit 4 milyar. Ada-ada saja. Tapi yang pasti, kayaknya saya kudu lihat-lihat dulu keneknya siapa kalau mau naik Metromini. Kalau dia lagi—wajahnya ingat betul—ogah ah. Ngapain gitu? Metromini kan banyak…

Itu saja Ry, malam ini aku cerita sama kamu. Terima kasih tetap sama kayak yang dulu. Diam, masih mau mendengarkan aku. Aku yakin diammu adalah cinta yang tak terkatakan untukku. Ohya Ry, di luar hujan sudah menjadi prasasti malam. Jejaknya hanyut diterkam dingin. Kau merasakannya?

Salam.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21.45 – 15 September 2011

Pertama kali diunggah di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/15/digayusin-lagi/

Tags: gayus, djp, metromini 640, tanah abang, setiabudi, kolong, benhil, atmajaya, komdak, gedung mulia, titi sugiarti, jon suryayuda s, bkpm, pasar minggu

PENGURUSAN VISA HAJI


PENGURUSAN VISA HAJI

 

    Sebenarnya tahap ini adalah tahap setelah pemeriksaan kesehatan pertama, cuma saya lagi malas menuliskan yang tahap itu maka saya langsung shortcut ke tahap pengurusan visa haji ini. Saya tidak tahu kenapa kok kita diikut-ikutkan dalam pengurusan visa ini. Bukankah semuanya diurus oleh Kantor Kementerian Agama?

    Yang pasti dalam setiap manasik dari awal sampai akhir hal ini tidak pernah disebut oleh pihak Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor padahal biasanya kalau ada tahapan penting yang harus dilalui oleh calon jamaah haji pasti diberitahukan dengan jelas dan berulang-ulang. Contohnya masalah pembuatan passport dan pemeriksaan kesehatan.

    Tahap pengurusan visa ini pun saya tahunya dari teman saya—lagi-lagi Teteh Bairanti Asriandhini, terima kasih Teh atas informasinya—via gtalk. Itupun karena saya tak sengaja menyapanya dan tahu-tahu diberitahu tentang info itu. Waktu itu pas bulan puasa tepatnya dua minggu menjelang lebaran.

    Pada dasarnya tahap pengurusan visa ini hanyalah sekadar mengumpulkan dokumen-dokumen yang diperlukan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor dan membayar macam-macam iuran atau infak.

    Dokumen apa yang harus dipersiapkan?

  1. Foto 4×6 sebanyak 4 lembar;
  2. Foto 3×4 sebanyak 16 lembar;
  3. Fotokopi Setoran BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) sebanyak 1 lembar;
  4. Fotokopi SPPH (Surat Pendaftaran Pergi haji) sebanyak 1 lembar.

     

Serahkan semua dokumen itu ke petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor. Petugas di sana akan mencari passport kita dan diberi label merah—ini info dari Teh Bairanti. Ternyata pada saat saya ke sana passport saya katanya sedang diurus visanya. Nah loh…bingung bukan? Tidak ada pemberian label-label merahan segala.

Lalu kita diminta oleh petugas di sana untuk pergi ke koperasi untuk membayar sejumlah uang. Tepatnya sebesar Rp275.000,00. Uang itu untuk apa? Ternyata untuk beberapa hal ini:

  1. Bahan pakaian seragam nasional dan logo;
  2. Iuran F-K3CH (saya tak tahu kepanjangannya apa);
  3. Iuran IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kabupatan Bogor;
  4. Iuran PMI (Palang Merah Indonesia);
  5. Infak Bazis (Badan Amil Zakat Infak Shadaqah) Kabupaten Bogor;
  6. Infak MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Bogor.

Besaran masing-masingnya saya tidak tahu. Gelondongan semua dalam satu kuitansi seperti foto di bawah ini dan ada cetakan tanda tangan dari Bendahara IPHI, MUI, BAZ, dan FKBIH Kabupaten Bogor.

    Setelah mendapatkan kuitansi itu maka jangan lupa untuk difotokopi terlebih dahulu kuitansinya. Fotokopi itu lalu diserahkan kepada petugas untuk ditukarkan dengan buku paket bimbingan manasik haji yang terdiri dari dua buku: buku Tuntunan Praktis Manasik Haji dan Umrah serta buku Do’a, Dzikir, dan Tanya Jawab Manasik Haji dan Umrah. Lalu kita dimintai tanda tangan sebagai bukti penerimaan paket buku itu. Selesai.

    Ohya jangan lupa kuitansi aslinya disimpan dengan baik dan jangan sampai hilang karena kata petugasnya, asli kuitansi itu sebagai syarat pengambilan kopor haji. Sebenarnya sudah menjadi hak kita untuk mendapatkan kopor haji itu dengan atau tanpa kuitansi infak.

    Sedikit tentang batik nasional itu. Ada cerita dari calon jamaah haji lain kalau harga batik di koperasi itu lebih mahal dibandingkan di luaran. Makanya ada yang beli satu saja di koperasi sedangkan yang lainnya beli di tempat lain. Kalau saya karena tidak ada waktu untuk membeli di tempat lain biarlah saya beli di koperasi. Itung-itung juga menyejahterakan pegawai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor yang telah membantu banyak calon jamaah haji Kabupaten Bogor. Asalkan jelas kepentingan dan peruntukkannya untuk apa saja saya bersedia.

    Semoga informasi ini bermanfaat buat calon jamaah haji Kabupaten Bogor dan daerah lain. Sekadar untuk mempersiapkan diri agar tidak buta sama sekali. Tentu info akuratnya dapat diperoleh dari petugas yang ada di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor.

    Tulisan selanjutnya adalah tentang pelunasan biaya haji. Insya allah dalam waktu dekat jika Allah masih memberikan nafas pada saya. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalam.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20.49 – 06 September 2011

 

Tags: pengurusan visa haji, bairanti asriandhini, bpih, spph, bazis, pmi, f-k3ch, iphi, mui, baz, fkbih kabupaten bogor, kantor kementerian agama kabupaten bogor.

Krupuk Mlarat


Krupuk Mlarat

    

Kalau pulang kampung maka yang saya cari adalah krupuk mlarat. Lebaran kali ini, pas silaturahim ke rumah bibi, selain masakan khas lebarannya ternyata ia telah menyediakan krupuk kesukaan saya itu. Krupuk yang digoreng di atas pasir panas dan harganya murah itu menjadi pelengkap hidangan yang pas.

 

 

Riza Almanfaluthi

09.28 06 September 2011

Diikutkan di Share Stories Indosat

http://ads2.kompas.com/indosatsenyum/share_detail.php?idartikel=190

Di like aja… J

Gambar diambil dari sini.