YULIA HASANAH


YULIA HASANAH
MENULIS ADALAH HIDUPNYA

Perawakan gadis ini biasa saja. Tingginya pun seukuran tinggi kebanyakan perempuan Indonesia. Kulitnya hitam manis. Dengan wajah dan matanya yang membulat. Menghasilkan sebuah karya yang fenomenal melebihi J.K. Rowling adalah obsesi terpendam gadis berjilbab bernama Yulia Hasanah ini. Oleh karena itu penyuka komik ini berusaha mewujudkannya dengan mengikuti Batre (Basic Writing Training for Beginner) Angkatan V yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Depok.
Tidak berhenti di sana, ia senantiasa berusaha menulis di setiap harinya agar kemampuan menulisnya semakin terasah. Dan terbukti seluruh tugas yang diberikan oleh tutor dalam pelatihan itu selalu dikerjakannya. Misalnya tugas merekonstruksi sebuah dongeng dunia yang bila dibaca ternyata terasa amat memukau.
Bagi anak terakhir dari lima bersaudara ini menulis adalah hobinya, menulis adalah hidupnya. Agar ia dapat hidup maka ia perlu membaca. Maka tak heran tas punggungnya yang selalu ia bawa kemana-mana itu berisi banyak buku untuk menyalurkan hobinya membaca.
Walaupun dirasa pendiam dan pemalu oleh temannya dalam pelatihan itu, juga pemalasnya yang ampun-ampunan dan suka menggampangkan persoalan seperti yang diakuinya sendiri, Yulia punya cita-cita luhur yaitu menjadi orang yang berguna di dunia dan akhirat. Ya, sebuah cita-cita yang amat mulia bagi perempuan yang teramat sangat untuk kuliah ini. Tapi sayang sampai saat ini keinginannya belum terpenuhi karena alasan klasik yang dialami sebagian besar pelajar Indonesia, yaitu masalah biaya. Jika saja masalah ini teratasi ia berkeinginan untuk masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Namun pada dasarnya inilah bentuk pengorbanannya kepada orang tuanya sebagai sebuah realisasi nyata dari cita-cita luhurnya itu, yaitu menjadi orang berguna. Bukan menjadi orang yang tidak berguna karena memaksakan diri dan orang tuanya untuk menguliahkan dirinya. Sungguh sebuah akhlak terpuji yang perlu ditiru bagi remaja Indonesia lainnya yang saat ini diserbu oleh hedonisme dan konsumerisme.
Semoga tetap istiqomah.

BUKAN TENTANG KUCING GARONG


Salah satu tips agar tulisan yang kita buat dapat menarik pembaca untuk membacanya sampai akhir adalah pemilihan judul yang bagus. Helvy Tiana Rosa, Ahad 15 Juli kemarin, memberikan tips-tipsnya kepada para peserta diskusi cerita pendek (cerpen) Forum Lingkar Pena se-Jabodetabek.
Diskusi dua mingguan yang diselenggarakan FLP Depok ini memang dikhususkan untuk membedah cerpen-cerpen yang layak untuk dibedah. Setelah mengundang Ratno Fadillah pada pertemuan pertama dengan format baru, maka pekan kemarin mengundang Helvy Tiana Rosa untuk membedah tuntas 19 cerpen yang masuk.
Format baru pembedahan cerpen ini adalah dengan membuat kumpulan cerpen itu dalam sebuah buku. Waktu bedah pertama judul yang diambil sebagai judul kaver adalah Bulan Redup (Bojo Loro)—ada gambar ilustrasinya lagi, di bagian belakangnya ada puisi yang berjudul Rajah Cinta (Ananda di Palembang pasti ingat sekali puisi ini ). Untuk kali yang kedua judul yang diambil sebagai kaver adalah judul cerpennya Ratno Fadillah “Menanti Paman Izrail”. Menurut saya ciamik sekali cerpen ini memainkan emosi pembaca.
Pantas kalau Helvy memasukkan cerpen ini sebagai cerpen yang mempunyai judul yang menarik. Lebih menarik daripada judul cerpen yang dinobatkan menjadi jawara pada pekan itu yang berjudul: Terbasuh Megatruh karya dari Indarpati. (Untuk mengetahui lebih dalam tentang dirinya coba search di Paman Google, maaf soalnya saya lupa nama blognya). Tidak hanya itu cerpen Ratno juga termasuk dua cerpen terpilih oleh Helvy yang mempunyai pembukaan menarik selain cerpennya Denni Prabowo yang dimuat di Jawa Pos berjudul: Mayra.
Kembali kepada masalah judul cerpen—ini menurut Helvy, tapi bagi saya tidak hanya untuk cerpen, semua karya tulis pun senantiasa harus memiliki judul yang bagus—maka untuk bisa membuat judul yang menarik ia harus punya kriteria-kriteria seperti di bawah ini. (Kriteria dari Helvy, Penjelasan singkat dari saya).
1. Judul menggambarkan cerita
Terkadang penulis terjebak untuk menggadaikan isi cerita demi judul. Contohnya sebuah tulisan yang berjudul Kucing Garong misalnya. Judulnya memang menarik. Tapi ternyata isi tulisan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kucing Garong baik secara tersurat ataupun tersirat. Ini hanya gara-gara lagu dangdut cerbonan itu lagi ngetrend diputar di sembarang tempat. Di bis AKAP, warung remang-remang sepanjang pantura, televisi, radio, kafe dangdut, pasar malam, dan lain sebagainya. Yeah…!
Menanti Paman Izrail, adalah judul cerpen yang menggambarkan isi cerita. Diinspirasi peristiwa bunuh diri ibu dengan tiga orang anaknya, cerpen ini dimulai dengan bujukan seorang ibu kepada anak-anaknya untuk menanti pamannya yang akan datang esok hari. Dan untuk menemui paman yang baik hati itu tentunya sang Ibu harus membunuh tiga anaknya itu. Karena Paman Izrail itu sebenarnya adalah malaikat maut.

2. Enak diucapkan
Salah satu kritik yang dilontarkan Helvy pada cerpennya Indarpati yaitu pada judulnya, yang walaupun ber-rima karena berakhiran uh di setiap katanya, tapi bagi Helvy judul ini tidak menarik. “Kenapa tidak Megatruh saja?” tanya Helvy. “Apa karena takut meniru judul cerpennya Danarto yang berjudul sama?” cecar Helvy. Boleh-boleh saja kok kita punya cerpen dengan judul sama,“ kata Helvy tegas. Indarpati cuma berkomentar ”Mbak Helvy tidak merasakan ruh Jawa dari cerpen saya ini”. Maklum cerpen Indarpati ini budaya lokalnya kental banget. Njawani, beda dengan kultur dari Mbak Helvy yang orang Medan- Aceh.
Lalu judul yang enak diucapkan itu seperti apa? Ini masalah subyektifitas. Dan setiap orang punya nilai subyektifitas yang berbeda. Enak diucapkan bagi saya yah seperti ini: Kucing Garong, Bojo Loro, Mayra, dan lain-lain. Minimal tidak membuat lidah kepleset karena sulit untuk diucapkan, contohnya Entrepreneur yang Keblinger, Jamahiriah Trap. (Untuk Pak Ekonov, maafkan saya karena telah berani-beraninya mengkritik judul topik Anda di forum diskusi kita)

3. Boleh puitis tapi tak berlebihan
Bulan Redup, Malam Selalu Gelap bisa jadi adalah cerpen-cerpen yang judulnya puitis tapi berlebihan. Sudah tahu malam itu gelap dan bulan itu selalu redup tak seterang mentari di siang bolong, lalu mengapa tetap dipaksakan untuk ditulis? Semua orang tahu kok. Tapi untuk judul sebuah puisi, sah-sah saja. Tapi ini prosa bo…bukan puisi.
Juga yang termasuk berlebihan adalah seperti ini “Meraup Rembulan Menakar Malam Mencumbu Derita”. Terlalu panjang dan seperti nama jurus di cerita silat Kho Ping Hoo. Sekalian saja ditambahkan “Menggedor Bumi, mencengkram Naga.” Persis bukan?
Yang puitis tapi tidak berlebihan seperti apa? Banyak sekali. Contohnya judul tulisan yang dibuat oleh Rifki (Key-key), Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Atau dari Bayu Gawtama, Cinta yang takkan Mampu Terbayar.

4. Pakai Kalimat Negasi
Maksudnya adalah judul hendaknya memakai kata atau kalimat penyangkalan, pembatalan, peniadaan, berlawanan dengan kodrat alam. Misalnya Bukan di Negeri Dongeng, Perempuan yang Membelai Luka, Perempuan yang Mencabik Luka, Menari di atas Luka, Tak Harus Menjadi Miss Universe.
Tapi sayangnya banyak juga penulis terjebak di sini. Alih-alih ingin membuat judul yang bernegasi tapi ia membuat judul yang membuat kontroversi dan melanggar aturan masyarakat atau agama yang suci. Karena bagi yang berkecimpung di dunia kepenulisan, syahwat seperti ini begitu rawan untuk meledak. Seperti judul yang memanusiakan Tuhan, yang menuhankan Rasulullah (saya sampai tak enak untuk menuliskannya, Nau’dzubillah), atau alat kelamin wanita.
Menurut saya alangkah lebih baik saat penulis menggunakan kalimat yang bernegasi ia menghindari segala sesuatu kontroversial atau tabu di masyarakat. Soalnya kita tidak bisa berlindung dibalik kebebasan berkreasi seperti yang didengung-dengungkan penulis barat. Tetap syariat yang menjadi utama agar tulisan itu tidak kehilangan sesuatu yang mencerahkan buat yang lain.
Nah itulah tips-tips membuat judul yang bagus yang diberikan oleh Helvy. Judul yang bagus harus berkaitan erat dengan isi. Isi yang menarik dengan judul yang bagus seperti sayur dengan garam. Tidak bisa terpisahkan. Tapi tips-tips ini mungkin tidak berlaku untuk dan pada semua orang, karena seorang penulis sekaliber Putu Wijaya terbiasa untuk menggunakan judul yang di luar pakem seperti di atas, judul yang aneh, dan tidak menarik sama sekali. Tapi masalahnya apakah kita sekaliber Putu Wijaya?
Itu saja. Semoga bermanfaat.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:48 16 Juli 2007

Menulis Sebagai Terapi


Sampai saat ini tugas yang diberikan kepadaku untuk menulis sebuah cerita pendek belum juga selesai. Entah kenapa, istilah cerpen menjadi momok menakutkan bagi saya. Ketakutan-ketakutan yang tidak pernah saya jumpai saat menulis nonfiksi terasa sekali menghantui. Entah ketidakdalaman cerita, entah ketidakkuatan karakter, entah kesalahan setting, entah takut dianggap jelek, entah dianggap tidak piawai dan entah-entah lainnya yang membuatku tidak bisa menulis cerpen.
Tapi ternyata saya kudu diterapi juga, bahwa saya sudah tidak menulis entah fiksi dan nonfiksi sudah hampir setengah bulan lamanya. Waktu yang membuatku khawatir saya tidak bisa menulis lagi. Benar-benar tidak ada gejolak dari dalam untuk bisa menggerakkan jari saya menuliskan sesuatu. Maka untuk menepis kekhawatiran itu saya menuliskan apa saja di blog ini.
Tentang saya yang penuh dengan kecemasan tidak bisa menulis lagi. Tentang saya yang takut saya kembali mutung di tengah jalan dan berhenti dari belajar menulis di FLP karena banyak tugas-tugas yang belum saya kerjakan. Tentang saya yang lagi sakit. Sakit hati. Maksudnya adalah hati saya yang lagi penuh dengan penyakit hati saat ini. Tentang saya yang lagi merindukan suasana. Tentang saya yang mengenang jalan-jalan kota Bogor yang sempat saya susuri kemarin dari Gadog Puncak. Hingga tentang saya yang mencoba mencari jati diri agar tidak kehilangan orientasi. Hidup ini mau dibawa kemana?
Sabtu dan Minggu kemarin memang benar-benar penuh dengan pertarungan antara kehidupan dunia dan akhirat. Antara orientasi mengejar dunia atau mengejar akhirat. Dan pada akhirnya saya memang kalah. Orientasi dunia begitu mendominasi. Hingga lupa ada kehidupan akhirat. Kelelahan mengatur waktu atau kemalasan yang timbul dari banyaknya waktu luang membuat saya berpikir, “oh enaknya kalau hidup tidak memikirkan umat”.
Enak bisa mancing, bisa jalan-jalan, bisa piknik, bisa santai, bisa main game seharian, bisa tidur siang, bisa berkumpul dengan keluarga, dan bisa menikmati kesenangan duniawi lainnya. Pada akhirnya dari kenikmatan berangan-angan “seandainya aku” itu malah membuatku lupa akan banyak amanah. Walhasil saya benar-benar terlena. Saya banyak melanggar amanah yang saya pegang. So, saya beri nilai sabtu dan ahadku kemarin dengan nilai D, tidak lulus.
Biasanya kesadaran tentang penilaian jelek dari hari-hariku adalah bila pagi telah jelang. Saya merasa ada energi kebaruan yang membuatku bertekad untuk memperbaiki hari ini menjadi lebih baik dari kemarin. Saat shubuh tiba, bergegas ke masjid, sholat berjama’ah, berzikir, dan berdoa, membuat saya merasakan ada semangat baru. Semangat yang menghilangkan keburukan hari-hari kemarin. Semangat agar hari ini lebih baik. Semangat untuk membantu sesama. Semangat untuk menghapus keburukan-keburukan dengan kebaikan-kebaikan. Semangat agar saya tetap hidup. Hidup dengan membawa makna: “bermanfaat buat yang lain”. Walaupun terkadang itu cuma bertahan sampai dhuhur menjelang. Tapi tak mengapa yang penting ada suatu upaya menuju perbaikan tersebut.
Alhamdulillah, sampai saya menulis paragraf ini, saya merasakan sebuah kepuasan tersendiri. ada energi positif mengalir dalam jiwa saya. Ini berarti terapi menulisku lumayan berhasil melawan kehampaan jiwa. Saya berharap energi itu tidak menjadi kecil lalu meredup tapi semakin membesar untuk menjadi bola salju yang membawa manfaat buat orang lain. Saya bisa menjadikan menulis adalah terapi terbaik bagi saya.
Dan saya yakin terapi ini pun baik bagi Anda. Tulislah apa yang Anda ingin tulis. Jangan takut untuk memulai. Walalupun ketakutan saya dalam menulis cerpen belumlah terobati tetapi dengan menulis apa saja bisa mengusir ketakutan-ketakutan yang lain. Jadikan menulis sebagai obat buat diri Anda. ceritakan semuanya. ceritakan semuanya. Jangan malu. Jangan takut. Sekarang juga. Tulis apa adanya. Biarkan jiwamu menilai tulisanmu sendiri. Bukan orang lain. Maka akan kau rasakan terapi menulis ini berguna untuk dirimu.

Petaka Asmara
Jika jiwa tersesat pada labirin kenangan
maka terkadang asmara-asmara masa lalu
timbul tenggelam dengan tangan yang menggapai-gapai
tolong aku tolong aku
jangan biarkan aku terjebak dalam waktu
mengenangmu selalu
bahkan mendengar namaku saja engkau tak sudi
karena itu adalah masa lalumu
tolong aku tolong aku
sampai kapan aku akan berteriak demikian
jika sekadar berita tentang aku
pun membuatmu mual
mual pada segalanya
mabuk pada kerontang jiwa
ah andai waktu tak pernah menemukan diriku
aku tak akan mungkin berteriak:
tolong aku tolong aku
sampai kapan????!!!!

Riza Almanfaluthi
13.00 18 Juni 2007.

KAMAR


KAMAR

Aku masih saja terdiam di sudut. Di atas ranjang memandang sekeliling kamar yang sudah sekian tahun tidak berubah. Aksesorisnya belaka yang berubah seiring dengan mandala waktu.
Kalau engkau bayangkan sebuah kamar yang luas, dengan keharmonisan warna cat menyiratkan sebuah keseimbangan alam, ranjang yang besar, lemari-lemari tinggi, meja rias dengan kekokohan pohon jati, cermin yang bening, keramik Italia kualitas terbaik yang mempercantik lantai, tirai lebar berbordir penghalang sinaran mentari pagi dan hembusan angin yang masuk dari jendela, kamar mandi yang tak kalah indah, dan luasnya setengah darinya, maka bayangan itu cuma ada di sinetron-sinetron Indonesia. Jangan engkau bayangkan itu.
Kamar si pemilik rumah ini hanya cukup untuk memuat dua meja pingpong. Bercat hijau muda. Dengan satu jendela berkaca nako—tanpa tirai—yang mengemis-ngemis cahaya. Maklum saja kamar ini berada di bagian belakang, bersebelahan dengan dapur. Suara berisik pun dominan sekali di setiap pagi.
Karena tiada kecukupan dengan cahaya, maka lampu hemat energi 25 watt menjadi sumber penerangan yang ampuh untuk mengusir kegelapan selamanya, terkecuali kalau ia sudah kehilangan daya. Tapi cukup lama biasanya, berkisar dua warsa.
Lantainya hanya ditutup dengan keramik kelas dua. Hijau muda juga. Baru terlihat mengilat dan harumnya memenuhi ruangan jika dipel dengan cairan khusus pembersih lantai.
Pintu kamarnya cukup kokoh. Terbuat dari kayu yang dipelitur seadanya. Maunya sih nyeni, tapi apa lacur tukang bangunan yang memasangnya bukan tukang kayu ahli, jadinya masih terlihat kasar. Dan pintu ini pun harus didorong dengan kuat agar bisa menutup rapat.
Lemarinya cukup tinggi juga. Nah, ini baru bikinan tukang kayu asli. Kayunya dibuat halus dan dipelitur mengilat sekali. Sayang ada yang merusak keindahannya. Ada selot terpasang di bagian luar. Tentunya untuk menutup pintu lemari yang tidak bisa terkunci dari dalam.
Isinya? Ah, engkau pasti tahu apa yang ada di dalamnya. Sekadar tumpukan penutup aurat sebagai pembeda keberadaban manusia zaman batu dengan masa kini. Dan sekadar lembaran-lembaran kertas penanda keberadaan seseorang di dunia ini.
Ho…ho…ho…ada pula lembaran-lembaran lain yang lebih kecil ukurannya, bergambar, dan bernomor seri tertumpuk rapi. Biasanya setiap pagi si pemilik rumah ini membagi-bagikan itu kepada para penghuni rumah yang lain. Yang biasa kudengar mengiringi pembagian itu adalah celotehan dari si kecil: ”Mi, kok cuma seribu?”
Di sebelah lemari itu ada meja kecil setinggi lutut orang dewasa. Cukup untuk menaruh sebuah tape recorder. Lebih tepatnya lagi meja ini berguna untuk menaruh apa saja. Kaset-kaset yang bertumpuk tidak teratur, kunci sepeda motor, sobekan-sobekan kertas, brosur-brosur penawaran kredit bank, buku diary, majalah, makalah, pulpen, dan banyak lagi lainnya. Sepertinya meja ini tak layak muat untuk menerima segalanya. Yang pasti: berantakan sekali.
Tidak hanya itu. Di sisi lain dari lemari ada juga rak kecil berwarna biru laut terbuat dari plastik. Niatnya mungkin untuk menaruh peralatan sembahyang, tapi itu cuma di bagian atasnya.Lagi-lagi yang tampak adalah tumpukan kertas, buku dan majalah. Namun terlihat pula tiga buah tas kerja di sana.
Di sudut kamar yang lain teronggok meja rias dengan begitu banyak kosmetik di atasnya. Ada cermin besar di sana. Cukup untuk melihat setengah tubuh manusia. Tentu hanya fisik yang terlihat. Tidak ada isi hati yang tampak. Tapi memang jujur sekali sang cermin ini memantulkan bayangan.
Kulit yang menghitam, rambut yang memutih, kulit yang mengeriput, mata yang menyayu tanpa cahaya, tubuh yang membongkok karena tulang yang merapuh, senyum yang enggan bangkit dari sudut bibir, gigi yang tinggal satu dua ditampilkan apa adanya pula. Tidak dilebihkan atau dikurangkan sedikitpun. Jujur, jujur sekali. Terkecuali sumber bayangan itu memakai topeng. Pun saat ia benar-benar memakai topeng pada galibnya itu adalah sebuah bentuk kejujuran pula. Sebuah pantulan, sebuah penegasan: Ia memakai topeng!
Lalu persis di antara rak plastik dan meja rias itu ada sebuah pintu lagi. Pintu kamar mandi. Yup, kamar ini mempunyai kamar mandi di dalamnya. Kecil dan tidak luas. Sekilas aku melihat di sana ada kran, ember, gayung dan tentunya…ah, aku geli menceritakannya kepada engkau. Lain kali aku membisikkan segalanya padamu, tidak saat ini, dan hanya untuk kamu saja, tidak untuk yang lain.
Kini, saatnya membicarakan tempat di mana aku sedang memandang sekeliling kamar ini. Ranjang ini. Aku berdiri di tempat di mana biasanya sepasang pemilik rumah ini membaringkan kepalanya di ranjang ini. Terlihat sekali bayanganku ada di cermin meja rias di seberang sana.
Ranjang ini empuk sekali. Saking empuknya ketika seseorang menggeser tubuhnya terasa sekali goyangannya. Ini berarti, ranjang itu cuma spring bed murahan. Kalau yang benar-benar mewah, asli, dan mahal maka jalinan kawat spiral yang menyusunnya tidak konvensional tetapi dirancang khusus dengan per sejajar yang terpisah, tidak saling terkait, terbungkus kantong kain satu per satu dan tidak dikaitkan dengan kawat helical yang dapat mengurangi gunjangan. Ini jelas akan menambah kenyamanan bertidur. Saat orang bisa nyaman tidur maka sehatlah ia.
Engkau pasti bertanya, kenapa aku bisa tahu sejauh itu? Ah, aku ini bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Aku ini bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Aku ini bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya. Bahkan aku bisa kejam membunuh. Faktanya di setiap lenganku ada bercak-bercak—tidak cukup setetes atau sepercik—darah dari musuh-musuh mereka yang bergerilya di setiap malam.
Ohya, ada selimut di atas ranjang itu. Selimut yang biasa tak terpakai oleh mereka berdua—karena kamar tak berpendingin ini sudah cukup membuat mereka kepanasan– Hanya pada saat-saat tertentu saja selimut itu berfungsi. Tak perlu kuceritakan pula kepada engkau tentang semua yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan. Karena ini bukan cerita stensilan.
“Brak….!” suara pintu terbuka memecahkan perenunganku pada deskripsi kamar ini. Aku melirik. Sosok perempuan terlihat memasuki kamar. Memandang sebentar ke sekeliling kamar. Melangkah ke ranjang. Membereskan bantal dan selimut. Lalu memungutku.
Aku sadar kini waktunya untuk bertugas. Aku kencangkan otot-ototku. Energi kusalurkan pada setiap lenganku yang panjang, ramping, dan lurus. Persis saat ia menjerembabkan aku di permukaan kasur. Membersihkan segala macam debu dan tungau yang tidak bisa terlihat oleh mata biasa. Berkali-kali aku dipukulkan ke kasur dan menyapu bersih segala macam benda-benda kecil di atasnya. Aku sudah terbiasa. Paling cuma belasan kali.
Tidak berhenti sampai di situ. Ada tugas lain. Kini aku melayang-layang di seantero kamar. Mencari makhluk-makhluk kecil bersayap dan penghisap darah. Kamar yang lembab ini memangnya menjadi habitat terbaik untuk tumbuh kembang mereka. Perempuan itu melihat seekor terbang menghindari terjanganku yang digerakkan oleh tangan perempuan ini. ”Wusss…!” Masih menerpa angin. Dan aku masih waspada dengan tetap menyalurkan tenaga ke sekujur lenganku.
”Tap…” Aku merasakan momentum luar biasa. Saat lenganku menangkap dan menggencetnya. Ada cairan merah keluar dari tubuh nyamuk itu. Mungkin ia sempat menggigit penghuni rumah ini. Tidak lama aku dibiarkan menggeletak di atas meja rias. Kudengar perempuan itu berkata kepada lelaki yang baru saja memasuki kamar, ”Nanti belikan satu lagi sapu lidi untuk di kamar depan. Yang ini biar di sini saja.” Tiba-tiba kamar itu gelap.
Tapi jangan dikira aku ini buta karena aku bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Jangan dikira aku ini tuli karena aku bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Jangan dikira aku ini bisu karena aku bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Jangan dikira pula aku ini tidak perasa karena aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya.
Kegelapan ini tidak akan lama.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:14 05 Juni 2006

KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI [CURHAT MURAHAN]


Tuesday, April 3, 2007 – KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI [CURHAT MURAHAN]

Setelah menimbang-nimbang apa yang terjadi pada diri saya sampai menemukan suatu kebuntuan untuk berpikir dan juga menuangkannya dalam sebuah tulisan adalah karena saya salah pergaulan. Salahnya di mana? Dulu saya sampai sanggup untuk menulis dengan mudahnya apa yang saya rasakan saat ini. Cerita apa saja. Cerita tentang kesedihan dan kegembiraan. Dan cuek bebeknya saya tentang hasil apa yang didapat dari tulisan tersebut. Bagus buruk tidak dipedulikan lagi. Yang penting menulis. Kini ada suatu keengganan kalau saya belum menemukan mood di hati dan tema yang pantas untuk diungkap maka saya berhenti menulis. Maka apa yang terjadi. Saya gagap untuk menulis.
Bahkan untuk menulis inipun hampir-hampir tidak jadi karena saya pikir ini sebuah curhatan murahan yang gak pantas untuk ditaruh di blog saya. Tapi saya tepis semua itu. Saya berusaha mengingat motivasi awal dulu untuk menulis di blog ini. Belajar menulis. Yup, betul. Senantiasa untuk belajar menulis. Dengan itu kepekaan kita akan terasah. Dengan itu akan mudah kembali mencari mood yang sempat hilang. Dengan itu saya akan mudah menyusun paragraf demi paragraf pada kehidupan kita yang paling remeh temeh sekalipun.
Kembali kepada salah pergaulan itu adalah saya sering dan gemar memelototi setiap perdebatan dalam suatu diskusi. Alhasil sebagian waktu digunakan untuk mencari mencari argumen-argumen yang tepat untuk membalas argumen-argumen ayng diajukan oleh lawan diskusi. Otomatis tiada upgrade diri. Sampai-sampai saya merasa kelelahan sendiri. Puncaknya adalah sebuah kesimpulan: Saya salah bergaul.
Dulu sewaktu saya masih memantau dengan teliti tulisan-tulisan Azimah Rahayu, Bayu Gawtama, tulisan-tulisan di Eramuslim, tulisan-tulisan penuh perenungan maka saya bisa merasakan getaran hati yang tidak kasat. Saya mudah menulis sebuah kontemplasi diri. Menulis sebuah cerita sederhana dari seorang kawan, penuh hikmah dan penuh teladan. Menulis sebuah pencerahan. Menulis dengan hati.
Dan saya terkejut, apa yang saya tulis dengan benar-benar dari hati–yah menurut saya sih demikian–adalah JANGAN SEPERTI NIRINA. Di awal Januari 2007 yang lalu. Bahkan yang sebelumnya adalah di tulisan AKU BUKAN JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB sekitar Bulan Mei 2006 lalu. masya Allah sungguh lama sekali. Hampir satu tahun yang lalu.
Cuma satu penyebabnya. Muroqobatullah yang semakin terkikis dari diri saya. Astaghfirullahal’adzim. Ya, bagaimana bisa saya akan bisa memberikan sebuah pencerahan sedangkan diri saya sendiri bukan lagi sebagai sumber dari sebuah cahaya pencerahan. Gelap. Hitam.
Sungguh, betapa banyak saya mengemis pada-Nya agar sudi aku menggigit selandang kebesaran dan rahmat-Nya. Tapi senantiasa itu pula saya tak mampu menahannya lebih lama. Tergelincir lagi ke lubang yang sama. Duh, dosaku…Atau karena rintihan saya yang jarang terdengar di tengah malam. Untuk menghiba-hiba ampunannya. Karena Ia mengerti rintihan saya cuma rintihan palsu, tiada bermakna maka Ia biarkan saya menemukan jalan-Nya. Agar saya tersadar segera. Ah, kini saya berusaha mencari kembali jalan itu.
Maka upaya kecil untuk memulainya adalah dengan tidak salah bergaul mungkin adalah langkah tepat. Tidak mudah terpancing untuk berdebat karena itu akan mengeraskan hati. Tidak mudah mengeluarkan argumentasi-argumentasi yang cuma kesannya saja ilmiah tapi jauh dari sentuhan hati. Karena niat yang sudah salah bukan karena-Nya.
Lagi, kembali saya akan membaca banyak tulisan penuh perenungan diri, tulisan-tulisan yang jauh dari kontroversi dan perdebatan tiada henti. Kemudian sedikit demi sedikit merubah gaya blogku sebagai suatu catatan harian bukan semata tulisan yang ingin dianggap ilmiah atau sebagai cetak biru dari sebuah buku. Karena dua hal inilah yang senantiasa menghalangi saya menulis apa saja di blog ini. Apa saja tentang kehidupan yang saya temui setiap saatnya. Bahkan pada detik ini saat menulis huruf ini.
Ditambah meluangkan waktu untuk memberikan komentar pada postingan blogger di Cicadas ini mungkin bisa merampas waktuku agar tetap punya empati, peduli pada sesama. karena kalau diingat-ingat sebelum saya menemukan kembali DSH saya yang sempat hilang. Produktivitas menulis saya sangat tinggi. Tapi kalau dingat-ingat pula penurunan produktivitas itu dimulai sejak saya menjadi moderator di DSH. Memantau begitu banyak postingan agar sesuai dengan visi dan misi DSH. Ah, bagaimanapun jangan mencari kambing hitam untuk semua kelemahan saya ini.
So, saat ini saya punya komitmen untuk mengupayakan langkah-langkah kecil seperti di atas tadi agar terwujud, agar saya menemukan tulisan saya keluar dari hati, agar saya menemukan kembali jalan-Nya. Insya Allah. Terimakasih ya Allah.

ps: Alhamdulillah, saya bisa menulis ini. Setelah sempat ragu-ragu apakah saya bisa menulis dan berniat menghapusnya saat satu paragraf pertama tertulis.

dedaunan di ranting cemara
Riza Almanfaluthi
11:42 03 April 2007

RIWAYAT TANPA CELA


Jangan pernah menemukan aib dan kesalahan diri saya pada tulisan kali ini. Yang engkau akan temukan adalah keistimewaan, prestasi dan penghargaan saya. Yah, wajar saja namanya juga riwayat hidup dari sebuah karya tulis. Padahal begitu banyak aib dan kesalahan pada diri yang rentan ini, tapi memang Allah sengaja telah menutupi semuanya itu dari pandangan orang lain.
Tinggal bagaimana saya bisa mempertahankan status di bawah perlindungan itu sampai di hari hisab nanti. Karena Allah akan mempertontonkan aib hamba-Nya yang tidak bisa menahan diri dari mempertunjukkan aib orang lain kepada khalayak yang lebih ramai.
So, terima sajalah orang ganteng ini mempertunjukkan riwayatnya. Tetapi sebelumnya saya kudu mempertunjukkan dalilnya kepada Anda semua. Kenapa riwayat hidup ini isinya cuma pujian belaka.
Riduwan (2004) pernah menulis:
Riwayat hidup dibuat secara padat dan hanya menyampaikan hal-hal yang relevan dengan kegiatan ilmiah, tidak semua informasi tentang yang bersangkutan dimuat. Isinya berupa: nama lengkap, tempat tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, dan jabatan (bila telah bekerja); prestasi-prestasi yang pernah dicapai dan karya ilmiah (publikasi) yang telah dihasilkan atau diterbitkan. Riwayat hidup dapat dibuat dengan gaya butir perbutir atau gaya esai yang padat.
Nah loh, betulkan? Riwayat hidup ini terpampang tanpa dosa yang ada hanya prestasi ilmiah, prestasi dunia. Prestasi akhirat? Cukup Dia saja yang tahu. Kalau semua orang tahu, ujian keihlasan akan datang membadai dan jika tiada tertahankan akan mencerabut semua imbalan kebaikan itu dan menjadi sia-sia, nihil. Orang pajak kiranya sudah memahami rasanya melihat kenihilan SPT. Empet…orang kaya kok gak mau bayar pajak.
Sekali lagi, terima sajalah orang ganteng ini memaparkan hidupnya kepada Anda semua. Anda muak dan mau muntah? Muntah saja sana, soalnya saya sudah muntah duluan sedari tadi. (He…he…he…).

RIWAYAT HIDUP

Riza Almanfaluthi, S.Sos., lahir di Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, tanggal 24 Juli 1976. Pendidikan mulai Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (1988), Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (1991), Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (1994), kemudian menempuh pendidikan di perguruan tinggi kedinasan Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan, Departemen Keuangan selama tiga tahun. Dan setelah lulus di tahun 1997 langsung ditempatkan di Jakarta, tepatnya di Kantor Pelayanan Perpajakan Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga.
Tahun 1999 di kantor tersebut terpilih sebagai salah satu karyawan teladan. Dengan hobi membaca dan menulisnya, pernah memenangkan perlombaan menulis untuk menyambut bulan ramadhan yang diselenggarakan oleh Masjid Perkantoran di komplek pajak Kalibata. Sempat tulisannya dimuat di Berita Pajak, media komunikasi untuk para pegawai dan praktisi perpajakan.
Agar kemampuan menulisnya tetap terasah, selain mengajar di berbagai tempat kursus pajak, secara kontinyu mengasuh sebuah blog pribadi di intranet yang terpublikasikan ke seluruh kantor perpajakan di Indonesia. Sampai saat ini tulisannya sudah mencapai 240 artikel yang merupakan karya pribadi di dalam blog tersebut.
Pada tahun 2000 melanjutkan kuliah di sekolah kedinasan khusus untuk Pegawai Negeri Sipil, pegawai Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Adminsitrasi Negara Republik Indonesia (STIA LAN RI) dengan mengambil program studi Manajemen Ekonomi Publik.
Lulus tahun 2002 setelah menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi dengan judul: Kajian Terhadap Penatausahaan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Final Pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga, dan memperoleh predikat cumlaude setelah dapat mempertahankan karya ilmiah tersebut di hadapan sidang yudisium.
Mendapat kenaikan pangkat yang dipercepat setelah lulus Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat V yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia di tahun 2003.
Dan setelah melewati seleksi pegawai untuk ditempatkan di lingkungan kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan sistem administrasi moderen, pada tahun 2004 diangkat sebagai Account Representative Wajib Pajak Pertambangan Emas di KPP PMA Tiga, sebuah jabatan baru di struktur organisasi DJP dalam rangka kerja nyata pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dengan menduduki jabatan baru tersebut mengakhiri jabatan yang selama ini dipegang yakni sebagai Juru Sita Pajak Negara, sebuah profesi yang didapat dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) teknis substantif selama 95 jam pelajaran dan lulus dengan menduduki rangking pertama pada angkatan diklat tersebut.
Setelah 8 tahun 7 bulan dan 7 hari berada di KPP PMA Tiga, pada Juli 2006 pindah tugas ke KPP PMA Empat tetap sebagai Account Representative dan membina Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Industri Alas Kaki.
Aktivitas lainnya yang ditekuni saat ini adalah sebagai moderator sebuah forum diskusi sebuah situs Islam di Intranet dan dalam proses penyusunan ebook artikel pribadi yang akan dipublikasikan secara gratis di dunia maya kepada siapa saja yang berminat.
*****

Supaya saya tidak dianggap asal ”njeplak” ini dia maraji’nya:
Riduwan. (2004). Metode & Teknik Menyusun Tesis, Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta, cv.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:37 21 Januari 2007

TIPS BUAT YANG LAGI BIKIN SKRIPSI DAN TESIS


TIPS BUAT YANG LAGI BIKIN SKRIPSI DAN TESIS

Skripsi atau tesis menjadi momok yang menakutkan. Menjadi mimpi buruk. Selalu hinggap di ingatan saat makan,
jalan-jalan, atau beraktivitas sehari-hari lainnya. Oleh karena itu begitu banyak para mahasiswa yang kedodoran dalam
penyelesaiannya, hingga berbulan-bulan, tak terasa biaya kuliah membengkak karena tetap harus bayar uang kuliah
ataupun ancaman drop out dari penyelenggara perkuliahan. Perlu diketahui
sampai saat ini masih ada teman saya yang belum juga menyelesaikan skripsinya sejak sama-sama masuk kampus di tahun
2000.

Apa daya, dengan sangat terpaksa, banyak dari mahasiswa tersebut menyewa jasa konsultan penulisan tugas akhir untuk
membantu mereka. Alhasil selain dana lebih yang harus dianggarkan untuk membayar fee, bantuan ini juga rawan dari masalah plagiat, serta tak lupa minimalis dalam
pertanggungjawaban di sidang komprehensif.

Ini semua hanya bertumpu pada kemalasan, tiadanya semangat di dada, dan tiadanya faktor pemicu untuk bergerak. Dan
tentunya seribu macam alasan lainnya.

So, pada kali ini ada yang harus saya tularkan kepada Anda semua tentang keberhasilan saya dalam menanggulangi
kemalasan yang mendarah daging. Terutama saat membuat tugas akhir kuliah kita berupa skripsi atau tesis. Karena
biasanya-dan sudah menjadi penyakit bagi masyarakat kita yang sedari kecil tidak pernah diajarkan untuk menuangkan
gagasan yang berada di otak kita dalam bentuk tulisan-mengarang menjadi pelajaran yang dibenci banyak siswa. Ia
adalah sesuatu yang menyulitkan tiada terperi, dulu hingga kini.

Mau bukti? saya tantang Anda untuk membuat satu paragraf yang terdiri dari empat kalimat tentang keadaan di sekitar
Anda dalam waktu lima menit. Dahi Anda akan mengerenyit, pikiran Anda akan berputar-putar mencari-cari kata demi kata
atau kalimat demi kalimat agar terbentuk satu paragraf, tersusun dengan pas dan sesuai dengan rasa bahasa. Bagi yang
sudah terbiasa, hal ini bukan sebuah kesulitan. Tapi bagi yang tidak biasa, ini akan memakan waktu lebih dari lima
menit. Saya pun sama dengan Anda.

Jadi bagaimana mungkin membuat skripsi atau tesis sedangkan untuk membuat satu paragraf saja susah. Sebenarnya satu
saja kuncinya: banyak latihan. Okelah saya sudah melenceng jauh dari keinginan saya untuk memberikan tips yang sesuai
judul di atas. Tapi setidaknya di saat kita sudah terbiasa menulis dan menuangkan gagasan di atas kertas (sekarang
bukan zamannya lagi) atau di layar komputer, ini akan sangat membantu sekali mempercepat masa penyelesaian penulisan
tersebut.

Jadi tips pertama adalah perbanyak latihan menulis.

Selanjutnya, agar kita segera bisa terpacu, coba berusaha untuk mengumpulkan teman-teman yang mempunyai problem sama.
Adakan pertemuan khusus membahas ini. Biasanya akan muncul gagasan baru, semangat baru, dan perencanaan baru secara
bersama-sama. Hal ini sukses dilakukan oleh salah seorang teman saya yang dapat mengumpulkan hingga kurang lebih
empat orang untuk bersama-sama membuat tesis.

Seringnya berkumpul, mencari data bersama-sama, hingga menulis pun bersama-sama mampu membuat mereka lulus pada tahun
yang sama. Saya pastikan bahwa tips yang kedua ini adalah: ajak teman
untuk bekerja sama.

Jika tips kedua ini tak bisa dilaksanakan karena ternyata tidak ada teman yang mau diajak bekerja sama atau
pergerakan teman kita terlalu lambat sedangkan kita sudah mempunyai semangat yang membara di dada, maka saya anjurkan
kepada Anda untuk langsung jalan sendiri saja. Tips ketiga ini adalah: jika engkau tidak menemukan teman, segera restart diri Anda.

Setelah itu, tips yang keempat adalah: jangan pernah terlewat satu hari
pun untuk tidak memikirkan skripsi/tesis
. Implementasi dari tips ini adalah dengan minimal sehari ada satu
jurnal atau referensi yang harus dibaca, mencari data ke perpustakaan dan sumber-sumber referensi lainnya. Jangan
berputus asa bahwa sehari itu Anda belum mampu membuat satu paragraf tertera dalam karya tulis Anda. Karena bagi
saya, dengan sedikit saja Anda sudah membaca atau setidaknya memikirkan skripsi/tesis, itu berarti Anda sudah punya
proggres yang baik. Sekali lagi: ciptakan progess sekecil apapun.

Tips kelima adalah mencari satu contoh skripsi/tesis sebagai rujukan
utama.
Hal ini sudah saya buktikan dengan sukses oleh saya. Saya mencari di internet dengan menggunakan
search engine terkemuka Goggle. Eureka…! Eureka…! Eureka…! Ketemu dan langsung saya cetak.
Karena bagi saya lebih enak membaca hardcopy dibandingkan dengan
memelototi layar komputer. Temuan itu dijadikan rujukan untuk bisa diketahui alur berpikirnya, cara penyajiannya,
metode-metode penulisannya dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tips keenam: jalin hubungan baik dengan dosen pembimbing. Ini
sudah lazim dan kudu dilakukan oleh kita sebagai mahasiswa yang memang
lagi butuh kebijakan, saran, dan tentunya kemurahan sang dosen, lebih-lebih kalau dosennya langsung menyetujui
proposal penelitian ataupun karya lengkap kita. Ini yang patut disyukuri.

Tips ketujuh: struggle,
man!
Sekuat tenaga dah kita lakuin, kalo perlu jabanin ampe gak bisa tidur ngerjain skripsi/tesis. Semua ini memang butuh pengorbanan.
Main games, chating,
fordis harus dilupakan dulu agar fokus kita tidak pecah. Dan tentunya
agar kita punya waktu untuk memikirkan semua ini.

Yup, mungkin ini saja yang baru bisa saya sampaikan kepada Anda. Tujuh tips ini tidak akan berguna kalau Anda sendiri
tidak menyerahkan segala daya dan upaya kepada Allah Yang Mahakuat, karena sesungguhnya IA-lah yang membuat saya dan
Anda mampu melewati masa-masa sulit. Semoga kita tercerahkan.

***

Sepuluh bulan kuliah, setahun nganggur, dua bulan ngebut, selesai juga akhirnya. Saya bisa Anda pasti bisa.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22.30 22 Januari 2007

Antara Atik, Aisah, dan Jojok


Situs DSHNet di alamat http://10.254.60.60 selain banyak debatnya sehingga banyak menjulukinya sebagai situs Debat Sepanjang Hayat, pun begitu banyak kebaikan-kebaikan yang didapat di sana, seperti informasi dan berita tentang dunia Islam. Di sana tersedia pula ruang untuk berpartisipasi bagi pengunjungnya, seperti komentar pada setiap berita atau mengirim ucapan kepada sesama pengunjung lain.
Tak kalah menariknya di sana juga tersedia tempat bagi pengunjung untuk menuangkan buah pikirannya yakni di kolom Partispasi. Kolom ini selain berfungi sebagai tempat copy paste artikel dari luar juga bisa sebagai tempat untuk menumbuhkan kreativitas pengunjung untuk menulis.
Asalkan sesuai dengan misi yang dibawa oleh DSH, maka artikel dengan kualitas apapun bisa di muat di sana. Bisa jadi tempat ini adalah tempat terbaik untuk berlatih dalam menulis. Apalagi tidak ada kolom komentar sehingga dengan demikian ini tidak membuat kecut nyali pengunjung untuk menulis. Karena terkadang banyak dari kita yang pemula sebagai penulis langsung down di saat melihat komentar yang tak berkenan.
Kalau dilihat secara seksama maka sudah 72 halaman sejak tanggal 10 Januari 2003 ruang Partispasi ini dipenuhi dengan banyak artikel. Kalau di setiap halamannya berisi 20 artikel maka kalau ditotal sampai detik ini sudah ada artikel kurang lebih 1440 buah. Jumlah yang banyak sekali bukan…?
Tentunya kalau kita hitung karya yang ditulis dengan tangan sendiri jumlahnya tidak sebegitu banyaknya. Tapi saya terus terang sangat menghargai sekali artikel yang tidak sekadar copy paste. Walaupun cuma sekadar menumpahkan uneg-uneg belaka.
Dari sejumlah artikel itu saya melihat sangat banyak sekali artikel berbobot yang ditulis sendiri oleh para pengunjung entah dari segi temanya, pencerahannya, tata bahasanya, penuturannya, dan lainnya.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya meluangkan waktu untuk menilai artikel-artikel bagus tersebut. Saya kira ini adalah bentuk apresiasi saya terhadap mereka.
Penilaian ini bukan kritik terhadap tulisan. Hanya sebagai suatu ekspresi bahwa tulisan itu sangat bernas bagi saya, entah pada pilihan katanya atau makna yang cukup mendalam yang dibawa dalam tulisan tersebut (kiranya kalau kritik cukup private messenger atau email saja).
Satu pengecualian dan ini dikarenakan adalah ekspresi saya–maka saya tidak akan memberikan penilaian pada tulisan saya sendiri, karena sungguh akan sangat subyektif sekali.
Dan ini bukan berarti bahwa disaat saya memberikan penilaian kebagusan pada satu artikel saja, maka bukan berarti yang lainnya kurang bagus. Saya berpikir tidak ada yang tidak bagus dalam proses kreatif kepenulisan. Karena ini membutuhkan kerja keras dari penulis.
Sungguh saya salut kepada para pengunjung DSH semua yang telah mengekpresikan isi di kepalanya dalam bentuk tulisan tersebut. Sungguh setiap orang mempunyai penilaian sendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Penilaian saya belumlah tentu sama dengan penilaian para pembaca. Dan yang terpenting “sesungguhnya penilaian paling utama adalah hanya penilaian Allah semata.”
Untuk lebih lengkapnya tentang penilaian saya dan teman-teman (saya libatkan mereka agar ada feedback bagus tidak hanya dari saya) terhadap banyak artikel di Partisipasi maka Anda dapat mengujungi alamat ini: http://10.254.60.60/dshforum/forum_posts.asp?TID=5837&PN=1
Dan untuk hari ini (Selasa, 09 Mei 2006), ada banyak tulisan bagus di sana. Saya menyeleksinya dan mendapatkan tiga artikel ini:
1. Ikhwan Makhluk Pencemburu (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5128) oleh ATIK;
2. Nuwun Sewu Mbah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5127) oleh Aisha;
3. Dunia Masih Terlalu Indah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5121) oleh jo2k.

Penulis pertama dengan gaya hebohnya dan apalagi yang akan dialaminya membuat tulisan ini menjadi menarik dan up to date, apalagi ini menjadi sesuatu penegasan dari seseuatu yang tersirat, tersembunyi, dan tak tersentuh, ini dia:
“Pasalnya..dari lima diantara kami..dua diantaranya dah jadi ummahat berputra satu. Dan tiga sisanya..secara kebetulan akan menggenapkan setengah diennya bulan ini. Akhirnya..Murobbiyahku pun jadi ikutan heboh sharing masalah ini. Tentu full kekonyolan, ketidak mengertian dan pembelajaran awal-awal pernikahan.”
Anda-anda semua yang masih meragukannya, maka sudah saatnya meyakini kebenaran berita ini. Bersiap-siaplah banyak hati yang akan cemburu dan terluka (wah…wah…)
Artikel yang kedua, cerita nyata ini dituturkan dengan sangat apik sekali. Lancar, mengalir, tiada tersendat. Saya terus terang mengagumi—sekali lagi–cara bertuturnya.
Artikel yang ketiga, INI GUE BANJET, banyak kata-kata indah di sana.
So, saya harus memilih di antara ketiga ini. Dan Insya Allah saya putuskan Artikel Bagus hari ini adalah:

Nuwun Sewu Mbah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5127)
oleh Aisha;

Tetap menulis tetap semangat

Allohua’lam bishshowab.

Bukan Diariku


27.01.2006 – Mengapa Blogku Bukan Diariku?

Fungsi awal sebuah blog dari apa yang saya baca adalah tempat untuk mengemukakan semua perasaan–entah sedih, gembira, bahagia, duka lara, jatuh cinta, broken heart, bete, marah, kecewa, atau banyak lagi lainnya–yang kita alami dalam sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh dan dibagi kepada yang lain . Sehingga terkadang blog ini disebut juga sebagai diary online.
Nah, dari itu saya kemudian meninjau kembali, sebenarnya blog saya ini telah memenuhi kriteria itu belum yah? Wah, terlihat sekali ternyata saya belum bisa menjadikan blog ini untuk mengungkapkan segala perasaan saya kepada yang lain. Pengungkapan ini adalah pengungkapan yang eksplisit loh bukannya yang tersembunyi dibalik sebuah tulisan yang biasa saya buat.
Sehingga terkdang saya mengagumi juga, kepada teman-teman blogger yang lainnya yang bisa mengungkapkan perasaannya itu kepada yang lain. Dan menunjukkan kepada dunia, nih saya lagi bete, nih saya lagi kecewa, nih saya lagi jatuh cinta, nih saya yang lagi sakit, nih saya yang lagi empet sama tuh orang, etc. Semua curahan hati itu begitu mulusnya teman-teman upload tanpa mengindahkan kaidah-kaidah bahasa yang baku, dan kaidah lainnya, keluar begitu saja. Mengapa bisa, yah?
Setelah saya pikir-pikir, ternyata memang ada hambatan psikologis yang ada pada saya. Bahwasanya saya masih belum bisa terbuka seperti yang lain, mungkin ini dikarenakan identitas saya yang begitu nyata dihadapan teman-teman sekalian. Karena masih satu instansi misalnya. Atau karena tidak seperti di dunia maya yang sebenarnya, sehingga identitas asli seseorang tidak begitu ditutup rapat. Atau bahwa saya harus jaim, Teman-teman pasti tahu bukan makhluk yang satu ini apa?
Dan yang kedua adalah saya mempunyai keinginan bahwa apa yang saya tulis harus mematuhi kaidah bahasa yang baku. Sehingga dengan begitu, saya tidak bisa bebas untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada teman-teman sekalian. Kalaupun saya paksakan, jari saya ini berkali-kali menekan tombol Backspace dan Delete. Tanpa ada hasil apa-apa.
Dua sebab itu mungkin yang menyebabkan saya tidak bisa bebas seperti teman-teman sekalian. Yang menyebabkan blogku tidak menjadi diariku. Yang menjadikan blogku hanya sebagai kumpulan perasaan yang diungkapkan secara implisit, yang menjadikan blogku ini pantasnya adalah kumpulan pemikiranku. *Berat banget sih kaya filsuf saja)
Tapi saya pikir, tak mengapalah, karena memang kita diciptakan berbeda dari sananya. Dengan kemampuan dan keahlian yang berbeda. Dan dengan rasa yang berbeda bukan? Tapi kesamaan kita adalah: kita mempunyai rasa cinta. Cinta yang sederhana betul begitu, Mam? (Kagak nyambung).
Tapi pikir saya, tak mengapalah asal apa yang kita ungkap itu adalah sesuatu yang bernilai bagi teman-teman sekalian. Memberikan sesuatu yang berguna, yang baru, yang membuat gembira, yang membuat airmata ini menetes tanpa terasa karena kerinduan pada-Nya, dan membangkitkan semangat kita semua untuk bersama-sama berada di jalan-Nya sampai akhir nanti.
Jadi, ternyata kita memang berbeda. Jadi, ternyata blogku bukan diariku. Tak mengapa bukan?

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:11 27 Januari 2006

Jangan Takut Menulis


Semuanya berkumpul di kepala ini keinginan untuk menuliskan sesuatu. Tapi apa hendak dikata, saat pena telah terpegang di tangan, lembaran kertas kosong terhampar di atas meja, atau saat program pengolah kata terbuka di depan mata, tidak ada satu huruf pun yang muncul di layar atau tertoreh hitam di atas putih. Tetap kosong. Kalaupun ada huruf yang muncul selalu tombol backspace atau delete menjadi penyapu hingga tetap bersih, atau dengan coretan tegas panjang menimpa satu atau dua kata yang sempat tertulis.
”Saya tak bisa menulis,” selalu kesah itu yang muncul. Ada apa ini?
Kalau diibaratkan kepala kita adalah teko yang telah terisi penuh dengan air maka sudah sunnatullah, air itu akan tumpah keluar. Kecuali di ujung mulut teko ada penutup rapat yang menyebabkan air tak bisa keluar. Lalu penutup apa yang menghalangi dan menyumbat isi kepala kita sehingga tak bisa mengeluarkan seluruh ide yang ada padanya dalam bentuk tulisan?
Hanya satu, perasaan TAKUT. Takut salah, takut di nilai orang lain, takut di hina, takut di banding-bandingkan, takut tidak trend, takut tidak runut, takut terlihat bodoh, takut tidak nyastra, takut tidak nyambung, dan seribu satu alasan ketakutan lainnya itu.
Ketakutan itu muncul karena satu sebab saja. Kita tidak mau dilihat jelek oleh orang lain. Maka hasilnya sungguh menakjubkan, ketakutan itu menjadi penghalang besar bagi sebagian orang untuk menulis. Bila kita selalu dihantui ketakutan itu maka yakinilah seumur hidup kita tidak akan pernah menulis satu huruf pun. Bahkan satu karakter pun tidak, entah titik atau koma. Seperti Sundel Bolongkah rasa takut itu hingga kita menjadi paranoid dengan ketakutan itu sendiri? Lalu bagaimana, dong?
Hanya satu obatnya, cuek beybeh, jangan pernah pedulikan apa kata orang, jangan pernah sekalipun berpikir tentang penilaian orang lain, jangan pernah berpikir tentang teori njlimet kepenulisan. Biarkan ia mengalir apa adanya. Jangan pernah dihentikan sampai Anda memutuskan di mana titik terakhir itu Anda tempatkan. Lalu berhentilah sejenak saat Anda telah menemukan titiknya. Istirahatlah.
Setelahnya, Anda akan temukan huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Dan kata-kata itu menjadi sebuah kalimat. Dan kalimat-kalimat itu menjadi sebuah paragraf. Dan paragraf-paragraf itu begitu mudahnya, begitu gampangnya memenuhi lembaran kertas dan layar Anda.
Barulah Anda tidak bisa cuek beybeh disini. Anda harus care it. Anda harus menjadi editor bagi diri Anda sendiri. Minimal Anda harus memperbaiki kesalahan tulis yang ada pada karya Anda itu. Setelahnya pilihan kata yang tepat. Itu saja. Tidak lebih.
Tunggu dulu, ada satu lagi, ulangi terus langkah ini sampai Anda temukan betapa mahirnya Anda menyusun rangkaian kata itu. Sampai Anda temukan ternyata masih ada yang harus diperbaiki dalam tulisan Anda. Sampai Anda temukan betapa ketakutan itu hanya ada di awal langkah Anda. Betapa ketakutan itu hanya pada saat Anda akan memulai suatu langkah besar. Setelah itu ia menghilang bagaikan halimun ditelan pagi yang cerah dengan sinar mentari hangat tersenyum pada dunia.
Anda tidak percaya? Sekarang juga! Ambil pena, ambil kertas, and just do it!
Masih tidak percaya? Sesungguhnya tulisan ini diawali pula dari rasa takut.

***

dedaunan di ranting cemara
disampaikan pada sesi ngeblog (nulis) itu mudah.
22:24 18 Desember 2005

http://10.9.4.215/blog/dedaunan