Bersegeralah Menikah


Berita ini selayaknya untuk ditanggapi dengan gembira. Betapa tidak seorang Azimah Rahayu—penulis muda alumnus STAN—akan mengakhiri kesendiriannya yang telah lama di usia tiga dasawarsanya itu.
Sebuah surat elektronik pagi ini telah memenuhi bilik surat saya. Ya, surat itu dari Azimah, dengan di awali puisi cantiknya, ia memberitakan kabar baik itu. Inilah puisinya:
Telah jauh kutempuh, jalan panjang membentang
Telah lama kulalui, nyaris semua jalan kehidupan
Telah pernah kujalani, bakti di berbagai lahan
Faidza faraghta fanshab, Sang Pencipta berfirman
Maka tiada lagi rasa enggan,
Ketika masanya telah datang
Maka tak lagi ada keraguan
ketika waktu telah menjelang
Kini kuterima sebuah amanah di hadapan
dengan sebuah niatan sederhana
dan kesiapan sederhana
Untuk penuhi sunnah rasulNya
dengan sebuah upaya bersahaja
Untuk tetapi SabdaNya
Mengambil mitsaqan ghalidza
insya Allah empat desember dua ribu lima
Padamu kupinta doa restu
karena kutahu jalan ini akan berliku
salam
azi (21/11/05, 10.25)

Subhanallah, jelek-jelek begini, saya setidaknya dapat membedakan sebuah puisi yang menyentuh qalb dengan yang tidak. Yang menyentuh sekat-sekat nurani keindahan dengan yang tidak. Maka puisi Azimah ini benar-benar menembus sekat-sekat itu. Benar-benar lolos dari berlikunya labirin kata menuju keindahan itu.
Selamat Azimah, mitsaqan ghalidza itu memang berat, tetapi yakinilah Allah senantiasa menolong hamba-hambanya yang berbuat kebaikan, yang senantiasa ingin memenuhi sunnah-sunnah Rasulullah tercinta, yang ingin menggenapkan setengah din-nya.
Empat Desember dua ribu lima pun tinggal beberapa hari lagi. Saya tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya ’arsy berguncang karena ada ucapan yang berat itu. Karena ada akad dan janji terucap untuk sepasang manusia. Forever…
Bagi saya saat akad adalah saat paling mengharukan dan mengesankan, apalagi diucapkan oleh sahabat-sahabat terdekat dan saudara-saudara saya. Hingga terkadang mata ini berkaca dan bulir kebahagiaan jatuh tak terasa. Bagi saya, saat itu adalah saat yang tak boleh terlewatkan, tapi sayangnya banyak juga yang melewatkannya begitu saja. Hingga anaknya mengucapkan akad, seorang ibu masih saja di dalam kamar, sibuk berdandan ria untuk acara resepsinya. Ah…
Selamat Azimah, engkau tinggal menghitung hari. Restuku tak selayaknya engkau pinta dariku. Karena restu dari banyak orang yang telah engkau berikan sejuta kebaikan, itu sudah lebih dari cukup menjadi bekal untuk tempuhi jalan yang berliku. Jalan yang engkau tinggal cari setengahnya lagi.
Oh ya satu lagi, engkau punya niatan sederhana, kesiapan sederhana, pun jangan lupa dengan cinta yang sederhana. Ingatkan dengan ayat ini:
”…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (2:216).
Selamat azimah, Barakallahulaka, wabaraka’alaika, wajama’a bainakuma fil khoir.

dedaunan di ranting cemara

”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh sungguh (urusan) yang lain[1586],” (94:7)
13:10 24 November 2005

Saatnya Mencicipi Panganan Khas


Hari ini, Saatnya Mencicipi Panganan Khas

Jakarta kembali pada aktivitas semula seperti hari-hari biasanya. Macet dan padatnya jalanan menjadi menu utama disetiap waktunya. Pertama karena hari ini adalah hari dimana para pekerja kembali memulai aktivitasnya setelah cuti lebaran dan yang kedua hari ini juga adalah hari kembalinya para siswa sekolah untuk memulai aktivitas belajarnya setelah liburan panjang lebaran.
Maka, pada hari ini pula seperti di kantor saya ini terlihat ramai dan semarak, berlawanan dengan hari kerja sebelumnya yang pada Jum’at lalu masih terlihat sepi. Banyak yang mengakhiri cutinya dan memulai aktivitasnya pada Senin ini dengan tidak lupa membawa oleh-oleh dari kampung halamannya masing-masing.
Ini yang membuat istimewa, kita bisa mencicipi berbagai macam panganan khas dalam waktu yang bersamaan. Ada yang khas dari Lampung berupa krupuk kemplang, kripik pisang, dan dodol durian atau panganan khas parahyangan dodol Garut, pisang bolen Kartika Sari. Wingko Babat, Bandeng Presto, Lumpia dari Semarang. Brem dari Madiun dan masih banyak yang lainnya dari berbagai macam daerah. Dan lidah ini dimanjakan oleh nikmatnya berbagai macam daya tarik khusus makanan tersebut.
Ada yang menarik di sini. Ini merupakan kesempatan bagi daerah untuk mengenalkan kembali hasil budayanya berupa makanan khasnya masing-masing yang justru melestarikan kekhasannya, setelah selama dua dekade ini bertahan dari gempuran makanan-makanan instan dan fastfood ala barat.
Karena momen lebaran menjadi momen para putra daerah yang bekerja di kota untuk kembali ke daerah asal untuk bersilaturahim, maka pada saatnya mereka kembali ke kota mereka akan menjadi agen-agen budaya daerahnya masing-masing. Peluang inilah yang harus dimanfaatkan oleh pengusaha dan pemerintah daerah setempat menjadi upaya pemaksimalan potensi ekonomi yang ada.
Seberapa besar nilai budaya yang bisa diselamatkan, seberapa tinggi potensi ekonomi yang timbul, dan seberapa banyak jumlah orang dientaskan dari pengangguran sudah tentu menjadi efek positif dari pelestarian nilai-nilai budaya panganan khas itu. Itu akan menjadi bahan pemikiran kita sebagai putra daerah—jika Anda adalah benar-benar berasal dari daerah.
Maka, hari inilah kesempatan Anda untuk turut melestarikan nilai-nilai budaya bangsa itu dengan mencicipi semua panganan khas tersebut, tentu jika Anda tidak malu untuk pergi bersilaturahim dari satu seksi ke seksi lainnya. Singkirkan rasa malu itu karena janganlah ada rasa malu untuk berbuat kebaikan dengan silaturahim, sedangkan urusan Anda ternyata bisa mencicipi pangan khas, itu adalah benar-benar berkah dan hasil dari silaturahim Anda selain akan mendapatkan pula umur yang panjang. Hari ini para pegawai seksi lain pun akan mafhum dengan kedatangan Anda entah kalau Anda datang selain pada hari ini.
Berkeliling dan cicipilah semua itu.

dedaunan di ranting cemara
tidak berhenti di titik 100
09:27 14 Nopember 2004

Para ustadz Pelayan TPT


Ada sesuatu yang berbeda di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) KPP PMA Tiga hari ini. Tampak para ustadz begitu sibuknya melayani Wajib Pajak di hari terakhir pelaporan SPT. Tapi mereka bukan sembarang ustadz. Ya, mereka adalah para pegawai di seksi Pelayanan KPP PMA Tiga sendiri yang memakai baju koko dan peci hitam (milik sendiri dan bukan pemberian kantor) untuk melayani Wajib Pajak di bulan ramadhan yang suci ini.
Terasa teduh sekali. Terasa indah dipandang mata. Menyejukkan. Dan menjungkirbalikkan stigma yang melekat selama ini kepada petugas pajak. Ada proses perubahan di sini. Ataupun dalam bahasa manajemen strategis ada proses unfreezing dari suatu kestatisan gerak. Bagaimana tidak, biasanya yang kita jumpai adalah para petugas yang berkemeja rapih dengan dasi yang menempel gagahnya di leher. Kali ini di ramadhan ini, mereka tidak seperti biasanya. Inilah berkah dari ramadhan mubarak.
Suatu keniscayaan bahwa keteduhan yang muncul ini adalah upaya berkelanjutan dari suatu perubahan radikal yang harus—mau tidak mau—dilakukan oleh KPP PMA Tiga, sebagai KPP yang telah memegang kode etik dalam setiap pelayanan dan tugasnya. Yang dalam bahasa gaulnya, telah menjadi syari’ah. Maka upaya ini patut dihargai sebagai upaya cemerlang dan pengukuhan stigma kebaikan yang akan melekat pada KPP PMA Tiga, bukan sebagai pemanis mata saja.
Tentu bahwa keindahan, keteduhan, dan kesejukan tersebut tidak berhenti pada hanya terekspresikannya dengan tampilan fisik dan pada bulan suci nan mulia ini, namun juga diharapkan bahwa keindahan, keteduhan, dan kesejukan juga melekat pada batin dan jiwa seluruh pegawai KPP PMA Tiga dan di bulan-bulan setelah ramadhan.
Karena sesungguhnya kebahagiaan itu tidak hanya berhenti pada kebahagiaan dzahir atau fisik semata namun juga beriring dengan adanya kebahagiaan jiwa berupa ketenangan saat bekerja, ketenangan dalam bersosialisasi, dan masih banyak lainnya.
Sekali lagi ide bersama para petugas pelayanan yang muncul ini patut dihargai. Patut menjadi contoh dan teladan bagi KPP yang lain. Tentu didasari bahwa semua itu karena Allah serta adanya tekad yang kuat untuk berubah. Percuma saja petugas TPT di berikan tampilan indah itu sedangkan pada tataran nyatanya tingkah laku para pegawai KPP tersebut masih seperti yang lama dan tidak berubah.
Salut. Semoga Allah merahmati kalian dan kita semua.

dedaunan di ranting cemara
ramai
13:49 20 September 2005

Buka Puasa Bersama Dirjen


Suatu kehormatan mendapat undangan untuk berbuka puasa bersama di kediaman Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPbN) Bapak Mulya Nasution pada sabtu kemarin di kawasan perumahan elit Tanjung Mas Prima, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Acara berbuka puasa itu dihadiri pejabat eselon dua dan tiga kantor pusat DJPbN.
Bukan, bukan saya yang mendapatkan undangan itu. Tepatnya Qoulan Syadiida yang diundang untuk datang sedangkan saya hanya mengantarkannya. Ia mendapat undangan secara pribadi dari Ibu Mulya sebagai penggerak majelis ta’lim di lingkungan Badan Akuntansi Negara–sebelum dilebur ke dalam DJPbN.
Dengan segera mengusir rasa minder yang muncul tiba-tiba, saya memarkirkan motor di antara deretan mobil-mobil tahun muda yang diparkir di sepanjang jalan depan rumah mewah itu.
Baru pertama kali saya memasuki rumah seluas dan semewah ini, dengan ukuran yang luar biasa besarnya bagi saya. Kalau dibandingkan rumahnya, rumah saya yang bertipe rumah sederhana ukurannya hanya setengah dari halaman depannya saja. Keasriannya sungguh terasa saat memasuki halaman depan itu, dengan saung yang berdiri di sudut, tanaman yang tertata rapih dan indah ditingkahi gemericik air pancuran.
Tiba-tiba saat kami memasuki bagian dalam rumah, hujan turun dengan derasnya seakan tidak kerasan bergantung pada tebalnya mendung sedari tadi. Seakan merindukan perjumpaan dengan percikan-percikan air kolam renang di bagian belakang rumah. Tapi tak menyurutkan kekhidmatan acara berbuka puasa yang dimulai pada pukul setengah enam sore.
Qoulan Syadiida pun didaulat untuk menjadi saritilawah membacakan terjemahan ayat 183-186 surat Al-Baqoroh. Setelahnya ada sambutan dari shohibul bait dan dilanjutkan dengan acara berbuka puasa dengan makanan dan minuman ta’jil sekadar untuk membatalkan puasa.
Surat Al-Mulk dibacakan dengan syahdunya oleh Ustadz Sofyan Tsauri yang memimpin sholat maghrib berjama’ah. Setelah itu para tamu pun diajak naik kelantai dua untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. Mulai dari martabak kubang yang sungguh nikmat dimakan dengan kuah kari kambingnya, daging ayam, sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai makanan penutup—semuanya menu ala perusahaan catering.
Saya yang tidak kenal dengan seluruh bapak-bapak pejabat itu berusaha untuk mencari teman bicara, syukurlah saya mendapatkannya. Ia seumuran dengan saya dan anak dari salah satu tamu yang diundang, serta masih sama-sama canggung untuk mengajak berbicara dengan para tamu. Kami pun asyik dalam percakapan sendiri.
Saat adzan Isya berkumandang, semua tamu kembali turun ke lantai bawah untuk sama-sama melakukan sholat Isya berjama’ah yang dilanjutkan dengan siraman rohani dari Ustadz Sofyan. Acara pun selesai setelah ditutup dengan sholat tarawih bersama.

****
Dalam perjalanan pulang, ada sesuatu yang berkesan di benak kami. Tentu sebagai manusia biasa kesan itu tak lepas dari masalah kebendaan, tentang besar dan luasnya rumah, tamannya yang indah tertata rapih, hidangan yang nikmat, kolam renangnya yang mengundang hasrat untuk menceburkan diri ke dalamnya, keramahan tuan rumah, berkumpul dengan para pejabat tinggi, wangi parfum bermacam-macam merek terkenal, dan lainnya.
Subhanallah, Maha suci Allah yang telah memberikan kenikmatan keluasan harta pada salah satu hambanya. Itu yang terucap selalu di bibir kami. Bukan pada jawaban untuk pertanyaan darimana harta itu di dapat. Karena itu urusan hambanya dengan Allah. Dan Qoulan Syadiida pun menegaskan, tuan rumah sebagai doctor lulusan luar negeri adalah pejabat eselon satu yang lurus-lurus saja. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.
Saya pun katakan kepada Qoulan Syadiida bahwa kenikmatan yang baru dirasakan adalah hanya sebatas kenikmatan dunia. Dan itu telah membuat kita merasa bangga, tersanjung, dan dihargai oleh tuan rumah sebagai manusia biasa.
Bagaimana perasaan kita kalau kita dipanggil oleh Tuhan yang telah menciptakan tuan rumah, yang tentu lebih kaya bahkan maha kaya. Bagaimana perasan kita dipanggil oleh Sang Pemilik Surga dengan panggilan:
Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (AlFajr: 27-30)
Tiba-tiba satu bulir bening jatuh membayangkan kenikmatan surga. Masya Allah, dengan kenikmatan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dengan pepohonan yang teduh, dan buah-buahan yang disukai. Dengan penghormatan yang Allah berikan:
(Katakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan daripada apa yang telah kamu kerjakan” (Al-Mursalat: 43).
Luasnya surga lebih luas dari langit dan bumi. Taman-tamannya indah tak pernah terbayangkan oleh manusia. Hidangannya lebih nikmat dari sekadar yang diturunkan kepada kaum Nabi Musa sekalipun, dengan minuman yang bercampur jahe yang didatangkan dari sebuah mata air surga bernama salsabil.
Dengan dikelilingi oleh para gadis dan pemuda yang tetap muda bak mutiara bertaburan dengan segala keramahannya. Dengan wangi parfum misk yang keharumannya sungguh luar biasa pada pakaian sutera halus dan tebal mereka. Berkumpul dengan para rasul dan para nabi, para shiddiqin, para mujahid, para orang-orang sholih. Maha Agung Allah dengan segala kekuasaannya.
Wahai Qoulan Syadiidaku, wahai istriku, bagaimana perasaan engkau membayangkan keindahan surga itu? maukah engkau mendapatkan kenikmatan surga yang kelak engkau kekal di dalamnya? Pertanyaan itu keluar memburu dari mulut saya.
Yang kemudian mengingatkanku pada sebuah ayat Allah:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Attahrim:6).
Ya Allah, Ya Rabb, kami takut nerakamu…kami rindu surgamu.
****
Malam itu adalah malam indah bagi kami. Malam yang membuat kami mendapatkan perenungan tentang sebuah keabadian. Keabadian segalanya. Satu pertanyaan adalah jikakah kami mendapat panggilan dari Arrahiim: “kembalilah kepada-Ku”?. Dengan takut dan harap kami yang ala kadarnya saja?

Allohua’lam.

dedaunan di ranting cemara
indah
11:41 23 Oktober 2005

Mencoba Hidup Tanpa HP


20.10.2005 – Mencoba Hidup Tanpa HP

Kehilangan sebuah HP pada tanggal 19 September 2005 adalah moment pertama saya dalam menikmati cuti kemarin. Entah hilang karena dicopet atau jatuh dari saku celana saat berjalan-jalan susuri sudut-sudut Semarang.
Saya memblokir dan menutup Nomor Kartu Halo saya, itu pun lima hari kemudian setelah hari kehilangan. Dari informasi yang diperoleh customer service Telkomsel saya masih diberikan kesempatan untuk membuka dan memakai kembali nomor HP semula dalam jangka waktu enam bulan kemudian setelah hari penutupan berlangganan Kartu Halo.
Saya pikir ini kesempatan saya untuk menyepi terlebih dahulu, selain menyepi dari hiruk pikuk kejaran Newmont Minahasa Raya, juga dari hal-hal yang kadang membawa saya pada sikap boros dalam penggunaannya.
Hilangnya HP Nokia 3660 yang saya beli baru dengan harga cuma Rp500.000,00–karena teman saya yang membayar sisanya–setahun lalu, Alhamdulillah tidak membuat hati ini gundah. Saya tidak biasanya seperti ini dalam menyikapi kehilangan sesuatu. Saya pikir itu bukan rezeki saya. Ada pemikiran positif bahwa ada hikmah yang tersembunyi di balik semua ini.
Saya berusaha mencari-cari hikmah itu. Ada satu yang baru saya temukan kemarin, yakni saya tidak perlu berusaha memeriksa saku celana dan mematikan HP saat akan mulai sholat berjamaah di setiap masjid yang saya kunjungi. Luar biasa, saya dapat menikmati saat-saat tenang memulai sholat sedangkan yang lain masih saja berusaha berkutat untuk mematikan HP saat imam sudah mengumandangkan takbir.
Selain hikmah itu, tentu saja ada efek dari hilangnya HP saya, apalagi kehilangan itu menjelang ramadhan. Saya tidak dapat mengetahui siapa saja yang telah menghubungi dan mengirimkan SMS kepada saya dalam rangka bersama-sama bergembira menyambut ramadhan. Untuk itu dalam kesempatan kali ini saya minta maaf kepada semua teman atas tidak terbalasnya pesan-pesan itu. Semoga kalian maklum adanya.
Wajib Pajak ternyata sering menghubungi saya dan saya berusaha memberikan penjelasan kepada mereka bahwa untuk saat ini sampai dengan waktu yang tidak dapat ditentukan, kiranya hubungan konsultasi hanya dapat melalui telepon kantor.
Efek lainnya adalah saya telah banyak kehilangan nomor penting. Tak mengapalah. Saya juga tidak bisa menghubungi Haqi, Ayyasy, Qoulan Syadiida dan sebaliknya, apabila terjadi keadaan darurat. Tak apalah masih ada wartel ini.
Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya dalam menghadapi bombardir iklan murah HP. Saya mencoba tahu sampai kapan saya bisa bertahan dalam sikap paradoksial manusia urban dan postmodern. Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya dalam ber-izzah untuk tidak meminjam HP para kawan. Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya menikmati ketenangan tanpa dering poliphonic calling dan sms. Saya mencoba tahu sebatas mana kemampuan saya menahan kerinduan akan suara-suara riang dari bocah-bocah cilik di rumah. Saya mencoba tahu bisakah saya hidup tanpanya?
Waktu yang akan berbicara.
Atau akankah rumput terus bergoyang menikmati dendang kesunyian.
Uh…Jaka sembung.
dedaunan di ranting cemara
hening bening
8:51 20 Oktober 2005

Ramadhankan Hatiku…


Alangkah sayangnya Ramadhan tersia-sia. Alangkah sayangnya Ramadhan merana ditinggalkan. Bila dunia masih saja memecut punggung engkau untuk segera meraih kenikmatannya. Hingga malamnya masih saja tak terisi dengan berdiri tarawih. Masih saja tak terisi dengan ayat-ayatnya barang satu atau dua juz. Masih saja syahwat merajalela di hati. Masih saja mulut menyemprotkan bisanya kemana-mana. Buruk sangka, hasad, dengki, riya’ dan segala macam penggelap hati masih saja dijadikan penghias diri. Duhai diri insyaflah…
Satu hiasan indah di malam-malam Ramadhan adalah tarawih. Berusahalah untuk tak ditinggalkan. Jikalau tak sempat pergi berbondong-bondong ke masjid terdekat karena sibuk di kantor, macet dalam perjalanan pulang, atau urusan lainnya, tetaplah jangan engkau tinggalkan ia karena waktu masih lapang hingga imsak.
Jikalau engkau mampu menegakkannya bersama-sama di masjid penuh barakah, maka bersiaplah engkau akan menerima banyak nilai kebaikan. Setiap langkah yang kau gerakkan menuju masjid itu akan dihitung dengan berlipat ganjaran. Setiap senyum yang engkau sunggingkan kepada saudaramu adalah sedekah yang berlipat ganjarannya. Setiap satu jabat tangan kepada saudaramu akan merontokkan dosa-dosa engkau dan saudara-saudaramu sampai engkau lepaskan kembali jabat tanganmu.
Setiap rakaat penghormatan kepada masjidmu dengan tahiyatul masjid akan dihitung dengan berlipat ganjaran. Setiap rakaat rawatibmu—yang seringnya engkau tinggalkan, akan dihitung dengan berlipat ganjaran. Setiap rakaat shalat wajibmu dengan berjama’ah akan dihitung berlipat ganda ganjarannya.Bahkan setiap rakaat tarawih dan witirmu akan dihitung berlipat ganjarannya. Pula engkau akan dapatkan siraman yang menyegarkan qolbu dari para ustadz. Hingga seperak dua perak yang engkau masukkan ke kotak amal akan dihitung berlipat ganjarannya. Bahkan bila bertekad kuat maka engkau akan dapatkan malam dinanti, malam seribu bulan. Subhanallah…
Maka kebaikan mana lagi yang akan dapat menandinginya sebagai hiasan indahmu duhai diri, duhai kawan? Itu baru satu penghias saja yakni tarawih. Masih banyak yang dapat kau jadikan penghias indahmu di sepanjang ramadhan kali ini.
Wahai diri, wahai kawan, jangan engkau sia-siakan malam-malam ramadhanmu sampai engkau merasa hatimu, dirimu telah diramadhankan oleh-Nya.

dedaunan di ranting cemara
putih
08:47 12 Oktober 2005

Ramadhanku Adalah…


Ramadhanku adalah saat di mana aku kembali mengenang masa-masa indahku di ramadhan-ramadhan yang lalu.

Saat aku kecil, di sebuah kota kecamatan di Indramayu, ramadhanku adalah saat di mana aku bisa makan sepuasnya kue yang diperebutkan bersama teman-temanku setelah sholat tarawih yang dibagikan oleh pengurus musholla. Setelah itu Ramadhanku adalah saat aku asyik menikmati “krupuk sambel” atau bakso yang sengaja dibeli oleh ibuku. Makan rajungan, nasi jamblang dan masih banyak lagi yang lainnya.
Ramadhanku di saat pagi adalah saat aku jalan-jalan setelah sholat dan kuliah shubuhnya yang aku lalui dengan enak tertidur di masjid. Jalan-jalan bersama sambil bermain detektif-detektifan layaknya lima sekawan yang sedang terkenal di masa itu. Dan sambil hiking, susuri pinggiran sungai cimanuk sampai menyeberangi “jembatan abang” bekas peninggalan belanda yang rusak parah dengan ketinggian kurang lebih 25 meter di atas permukaan kali Cimanuk. Hampir saja terjatuh tapi Alhamdulillah selamat juga.

Ramadhanku di saat siang adalah saat aku banyak membaca komik di tempat persewaan. Dan sore hari menjelang maghrib adalah saat yang paling mendebarkan hati sambil memutar “tuning” gelombang radio mencari stasiun mana yang lebih cepat mengumandangkan adzan.

Ramadhanku di saat SMP adalah ramadhan yang hampir penuh dengan aktivitas mendengarkan radio di saat siang hari sambil menunggu kalau-kalau ada dari teman-temanku menitipkan salam buatku dari kartupos yang dibaca oleh penyiar Radio Cinderella, dan diselingi dengan banyak lagu yang dilantunkan oleh penyanyi-penyanyi negeri jiran yang saat itu dipastikan menguasai blantika musik pop Indonesia, mulai dari Ami Search, Swing, dan lain sebagainya (ingat suci dalam debu? tayamum dong).

Ramadhanku di saat aku SMA, di sudut desa di barat Cirebon, adalah ramadhanku yang agak berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Karena sekolahku terletak jauh dari rumahku—kurang lebih tiga puluh kilometer—aku tinggal bersama pamanku yang keras dalam menjagaku. Aku diharuskan ikut tahsin dan tahfidz setiap harinya dengan berguru pada anaknya yang hafal Alqur’an 30 juz. Jadi ramadhanku saat itu adalah ramadhanku yang sorenya aku harus mengikuti tasmi’ satu juz oleh saudara sepupuku itu sampai menjelang buka.

Dan malamnya adalah saatnya tarawih di musholla yang hanya diterangi lampu bohlam 10 watt saja, lagi dengan Imam yang membaca satu juz selesai dengan terburu-buru. Sesekali aku bercanda di tengah sholat sambil injak-injakan kaki dan dorong-dorongan dengan teman-temanku, Masya Alloh. Ohya, saat itu Merry Andani dan Jeffry Bule amat terkenal. Ada Dinding Pemisah, Amayadori, Mas Joko dan lain-lain.

Ramadhanku di Jurangmangu, Tangerang, adalah ramadhan di kampus yang amat dan sangat berbeza (dengan huruf z: bahasa malaysia). Kutemukan sesuatu yang lain. Saat ramadhan dengan paradigma tentang Islam yang sangat baru bagiku. Saat itulah aku sangat menikmati ayat-ayat yang dibacakan oleh sang imam. Saat itulah aku tahu tentang ukhuwah, Qiyamullail bermakna, banyaknya hafalan, godhul bashor, Jihad Palestina, ifthor dengan nasi kotakan gratis dari masjid kampus, Al-Matrud, Nada Murni, The Zikr, Najmuddin, zuhud, itsar, ikhlas, dan yang tak tersentuh, tak terlihat, tak terbayangkan: The Akhwat.

Ramadhanku di Jurangmangu adalah saat aku pertama melihat sosok lekat dan erat di hati:
– Ustadz Musyaffa Lc: tilawah dalam kesendirian di sebuah musholla;
– Ustadz Sudarman, Lc: sosok pendekar: pendek tapi kekar, saat itu rumahnya masih rumah petak kontrakan;
– Ustadz Imam Agus Lc: Almarhum, sakit dan meninggal dalam sebuah bus malam dalam perjalanan pulang kampung;
– Ustadz Jazuli Zuwaini, Lc: yang pernah sakit typhus karena terlalu sering naik vespa tanpa pelindung dada;
– Ustadz Ainur Rafiq, Lc: Almarhum, semoga Alloh meridhoinya, sosok tinggi dengan wajah teduh, ahli tifan;
– Ustadz Daud Rosyid: jenggotnya yang lebat dan berwibawa;
– Ustadz Salim Segaf Al-Jufri;
– Ustadz Muzammil Yusuf, dan lain sebagainya.
Kini sebagian dari mereka menjadi sosok-sosok yang membuatku haru ketika melihat mereka mengambil suara dalam pertarungan perebutan kursi Ketua DPR di senayan dulu.

Ramadhanku di Kalibata adalah saat-saat sendiri dan sepi, karena teman kosku sering sakit dan selalu pulang ke rumahnya, (kumaha atuh kang Ujang?) Ramadhan yang berbukanya hanya dengan krupuk dan lauk seadanya, kadang makan enak di kantor. Pula ramadhanku adalah saat-saat mencari sembako dengan harga murah sampai menjelang sahur untuk kegiatan baksos di keesokan harinya, sambil menancapkan panji-panji “Keadilan”. Ramadhanku saat itu adalah saat-saat terindah di Cilember (Forum Cilember masih adakah?). Masih dengan semangat membara ala fresh graduate adik-adik kelas. Dan tidak lupa, ramadhanku adalah saat membuka biodatanya.

Ramadhanku di awal 2000 adalah ramadhanku menanti sang penerus cita-cita, dan asyik masyuk dalam 10 hari terakhir di Al-Hikmah, Bangka.

Dan kini ramadhanku adalah ramadhan yang penuh hadiah: kemenangan yang Alloh berikan kepada saudara-saudaraku. Tentang tiga buah kemenangan yakni: 1. kemenangan da’wah dalam pemilu legislatif kemarin; 2. kemenangan da’wah dalam pemilu presiden tahap dua; 3. kemenangan da’wah dalam meraih kursi Ketua MPR (nasru minnallohu only, kata Ustadz Muzammil).

Ya, itulah ramadhanku. Tak sekadar mengenang masa lalu saja, pada akhirnya ada a big question mark, dua puluh delapan ramadhan berlalu, apakah predikat “itu” telah ada pada diriku? Allohua’lam. Aku harap sih iya. Aku tidak mau menjadi orang merugi, tentu pula kau.

*)hanya sekadar episode kecil ramadhan
Dedaunan di ranting cemara
Ba’da tarawih dan shubuh.
dulu sekali 2004
edited 2005

Hah…Haqi Rangking 2?


Sebenarnya saya ingin menulis tentang tema ini sejak di akhir Juni 2005 yang lalu. Namun entahlah “ngeh”nya baru saat ini, setelah hampir tiga bulan lamanya terpendam dalam pikiran dan hanya dijadikan daftar tema yang harus ditulis dalam file computer saya. Ada apa sih di akhir Juni 2005?
Oh ya, perkenalkan terlebih dahulu anak saya yang pertama ini. Namanya Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Panggil saja ia Haqi. Tahun ini umurnya genap lima tahun. Sekarang ia naik ke kelas B di TKIT Adilla. Kelas A baru saja selesai di pertengahan Juni 2005 yang lalu. Dan seperti biasa di setiap akhir tahun ajaran diadakan acara perpisahan kelas B yang akan masuk SD dan acara pentas seni serta pemberian hadiah.
Haqi begitu bersemangat sekali mempersiapkan diri untuk ikut serta menyumbangkan diri bersama teman-temannya dalam acara itu. Mulai dari nyanyi-nyanyian, tari-tarian, dan pembacaan hafalan doa, surat, ataupun hadits.
Nah, pada saat acara itulah—yang tidak dapat saya hadiri, saya mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Apa coba? Haqi ranking dua. Hah…!
“Yang benar?” tanyaku memastikan.
“Swear…”kata Qoulan Syadiida di ujung sana.
“Wah hebat dong, Bagaimana ceritanya kok dia bisa?”
“Entar di rumah saja ceritanya.”
“Oke, deh.” Sambil sedikit kecewa karena hari itu aku harus kuliah dan ini berarti sampai rumah nanti berkisar pukul setengah sepuluh malam. Sebelum telepon di tutup, ia memberitahu pula bahwa di acara itu Haqi mendapatkan banyak hadiah. Syukurlah…Tapi mengapa saya terkejut dengan berita itu?
Saya mungkin adalah termasuk ke dalam golongan suami yang menyerahkan segala urusan rumah tangga dan pendidikan anak pada istri. Dan suami “pure” mencari nafkah semata. Apalagi bekerja di belantara kota Jakarta, di mana setiap pagi sebelum matahari terbit sudah harus berangkat, dan pulang setelah matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Sedangkan setiba di rumah, kelelahan becampur baur dengan peluh yang membasahi tubuh. Sehingga sisa waktu dipergunakan untuk langsung beristirahat. Jadi, sepertinya tidak ada waktu untuk sekadar menanyakan kegiatan sekolah anak.
Sedangkan hari Sabtu dan Minggu, adalah waktunya saya memulihkan diri dengan istirahat penuh, sehingga perasaan malaslah yang mendominasi kalau diajak bepergian ke Depok ataupun Jakarta untuk sekadar piknik atau mencari jajanan bersama keluarga.
Sehingga saya benar-benar tidak memerhatikan apa yang dilakukan Haqi di sekolahnya. Sesekali memang bersama-sama mengerjakan PR, tapi kebanyakan bersama umminya. Mewarnai? Jarang juga. Mengisi buku penghubung, apalagi. Oh ya, saya cuma membawakan majalah anak-anak dua mingguan untuknya. Itu saja. Kata umminya, Haqi susah sekali untuk diajak belajar dan ia sering sekali bermain bersama teman-temannya. Ah biarlah, saya pikir masa TK-nya Haqi adalah masa bermain-mainnya, baru kalau sudah di SD, saya turun tangan untuk berlaku ketat dalam memantaunya.
Tapi berita itu memang mengejutkan saya. Haqi yang jarang belajar. Haqi yang hobinya malah bermain, dan saya yang sama sekali kurang memerdulikan dan memerhatikan belajarnya, saya yang asyik dengan dunianya sendiri. Kok bisa, Haqi rangking dua.
Ya, betul Haqi rangking dua. Dan parameter yang saya tentukan dalam penentuan rangking yakni dengan prosentase yang besar hanya dalam belajar adalah salah. Ternyata setelah mendapatkan informasi dari guru pembimbingnya diketahui bahwa Haqi mempunyai prestasi non belajarnya yang menonjol daripada yang anak lain yakni keberanian, mempunyai emotional quotion yang baik, dan inisiatif. Walaupun prestasi belajarnya seperti hafalan dan membaca yang bagus. Wow…Haqi yang underestimate di mata saya dan saya anggap biasa-biasa saja, ternyata mempunyai kemampuan—yang menurut saya—luar biasa pada umurnya. Haqi, Abi minta maaf yah…
Ternyata kini saya paham. Saya memahami bagaimana perasaan seorang ayah terhadap keberhasilan anaknya. Saya membayangkan dulu ayah saya pun akan merasa seperti ini saat saya memenangkan perlombaan MTQ, membaca puisi, juara di kelas, ataupun saat saya dapat masuk ke STAN Prodip dan lulus di tahun 1997. Inilah perasaan seorang ayah. Inilah perasaan orang tua pada anaknya.
Saya hanya berharap, tidak hanya dengan kebanggaan itu Haqi akan tumbuh. Saya berharap Haqi tumbuh dengan kecerdasannya, keberaniannya, emosionalnya dengan apa adanya. Tidak dipaksakan dan tentu dengan sedikit arahan dari saya. Hingga ia menempuhi jalan yang benar.
Saya berharap Haqi tumbuh pula dengan kemampuan yang disunnahkan oleh Rosulullah kepada para orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan tiga hal keahlian yakni berenang, berkuda, dan memanah. Saya berharap Haqi akan tumbuh dengan itu sehingga menjadi pejuang-pejuang Islam yang handal dan kuat. Dengan kejujuran seperti Abu Bakar Asshidiq, ketegasan seperti Umar bin Khaththab, kelembutan seperti Utsman bin ‘Affan, kecerdasan seperti Ali bin Abi Tholib, keberanian seperti Khalid bin Walid, kewaraan seperti Umar bin Abdul Aziz, hingga dengan ketasawufan seperti Hasan Albanna. Itu saja.
Kini, saya katakan pada Haqi, Abi bangga padamu nak, dan maafkan Abi dengan banyaknya harap ini. Abi pun tetap mencintaimu apa adanya.

dedaunan di ranting cemara
di jelang keberangkatan ke Stasiun Jatinegara
13:07 17 September 2005

Belanja Buku dan Perang Eropa


Dengan berbekal dua buku untuk dibaca ternyata tidak cukup untuk menghabiskan cuti. Buku pertama yang berjudul Perang Pasifik habis dibaca saat perjalanan dengan Kereta Api Bisnis Senja Utama jurusan Jakarta Semarang. Buku kedua berupa kumpulan cerpen terjemahan yang berjudul Peluru Ini Untuk Siapa habis dibaca pada hari ketiga tiba di Semarang.
Esok malamnya bersama Qoulan Syadiida, Haqi dan Ayyasy, saya pergi belanja buku di Mal Ciputra, Simpang Lima. Awalnya saya bersikeras bahwa di Mal Ciputra itu ada toko buku Gramedia, karena di akhir Maret lalu saya pernah membeli buku di sana. Qoulan Syadiida mengatakan bahwa Gramedia itu bukan ada di sana, tapi ada di Jalan Pandanaran. Tapi saya tetap ngotot untuk ke sana. Akhirnya saya akui, saya salah besar. Di sana tidak ada toko buku Gramedia yang ada toko buku Gunung Agung. Karena beranggapan pula bahwa Gramedia letaknya jauh dari Simpang Lima maka niat belanja buku tetap diteruskan di Gunung Agung.
Buku yang saya cari yakni Perang Eropa Jilid I tidak diketemukan. Saya tidak jadi membeli buku. Koleksi buku di Gunung Agung tidak selengkap di Gramedia. Hanya Haqi dan Ayyasy sajalah yang menikmati belanja buku di sana. Masing-masing mendapatkan sebuah puzzle, dua buku mewarnai, dan dua buku bacaan serta satu vcd produksi NCR.
Esok siangnya setelah sholat Jum’at, kami kembali mencari buku. Tidak lagi dengan Qoulan Syadiida, tapi tetap berempat, saya, Haqi, Ayyasy, dan Hendri, adik Qoulan Syadiida. Sekarang kami langsung menuju ke Gramedia yang berada di Jalan Pandanaran. Dan saya baru tahu ternyata Gramedia dekat juga dengan Simpang Lima dan bersebelahan dengan Masjid Baiturrahman. Kalau tahu begitu, kenapa tadi malam tidak langsung saja ke sana.
Di Gramedia banyak sekali buku-buku bagus, yang sayangnya saya harus dapat menahan diri karena budget untuk belanja buku bulan ini telah terlampaui. Buku-buku tentang fotografi hanya saya lirik sebentar tapi bertekad dalam hati suatu saat saya dapat membelinya. Buku kedua dari trilogy Kisah Klan Otori belum juga muncul. Sedangkan buku-buku bagus tentang perang dunia kedua banyak juga. Selain yang ditulis oleh P.K. Ojong—Perang Pasifik, Perang Eropa Jilid 1 dan 2—ada juga buku terjemahan yang lebih tebal dan lebih murah daripadanya. Namun saya berkeputusan untuk melanjutkan serial perang yang ditulis oleh P.K. Ojong terlebih dahulu setelah itu baru yang lain. Kali ini Perang Eropa Jilid 1 telah ada di tangan, mungkin yang jilid 2-nya saya beli di bulan depan.
Haqi dan Ayyasy hanya dapat bermain dan berlari-larian di lorong-lorong buku saja. Saya sudah mewanti-wanti pada mereka untuk tidak minta buku kali ini, karena semalamnya mereka sudah membeli banyak buku. Mereka menurut, walaupun pada akhirnya Haqi tetap saja merajuk dan sedikit memaksa untuk membeli satu buku bacaan lagi. Tapi saya bergeming.
***
Berbicara tentang ketiga buku pengisi perjalanan cuti kali ini, saya merasa enjoy banget saat membaca buku Perang Pasifik walaupun terkadang dengan hati gemas dan berhenti sejenak untuk membaca kemenangan-kemenangan sekutu dan kekalahan-kekalahan Jepang di pertengahan 1945. Kali ini, saat ini saya memang membenci sekutu yang dengan perang melawan terorisnya telah memakan puluhan ribu nyawa di Afghanistan, Irak, dan belahan dunia lainnya. Mungkin perasaan saya akan berlainan saat saya benar-benar hidup di zaman itu, karena dengan kemenangan sekutu tersebut akhirnya membawa akibat tidak langsung pada kemerdekaan bangsa Indonesia.
Membaca buku Peluru Ini untuk Siapa yang ditulis oleh Jihad Rajbi, membuat dahi saya berkerut. Ini bukan bacaan ringan seperti cerpen-cerpen Annida dan Forum Lingkar Pena. Banyak sekali metafora yang tidak bisa dimengerti dengan sekali membaca. Bahkan saat buku ini habis dibaca, saya merasa aneh dan tidak membawa saya pada kesan yang mendalam. Apakah karena cerpen ini adalah cerpen terjemahan—penerjemahnya Ustadz Anis Matta, Lc., atau memang karena keterbatasan saya? Saya salah bawa buku.
Pada saat saya menulis ini, buku Perang Eropa Jilid 1 sudah habis terbaca setengahnya. Mungkin pada saat perjalanan pulang kembali ke Jakarta nanti malam saya dapat menyelesaikan setengahnya lagi. Buku ini memang bagus dan enak dibaca seperti buku Perang Pasifik yang terdahulu. Wajar saja mengingat buku ini adalah merupakan kumpulan tulisan P.K. Ojong—seorang keturunan asal Bukit Tinggi dan meninggal pada Mei 1980—di majalah mingguan Star Weekly yang sangat popular saat itu.
Tidak seperti di Perang Pasifik, hampir di sebagian halamannya dijelaskan secara rinci tentang awal dimulainya Perang Dunia II di belahan barat yakni di Eropa. Tentang penyerbuan Blitzkrieg Jerman ke Polandia pada 1 September 1939 hingga kemenangan-kemenangan Jerman yang fantastic baik di medan Eropa maupun Afrika. Itu diungkapkan lebih detil dibandingkan penyerangan-penyerangan pada Perang Dunia II di belahan Timur yakni di Pasifik yang dilakukan oleh Jepang ke Pearl Harbor. Entah karena referensi buku-buku yang ditulis tentang perang pasifik ini lebih sedikit atau karena masalah ideologi.
Tapi pada intinya buku ini bagus walaupun lagi-lagi saya gemas saat sekutu sudah meraih kemenangan dimana-mana. Dan lagi-lagi saya membaca dengan ideologi saya. Sekali lagi buku ini bagus pula untuk dibaca sebagai pengantar tidur di perjalanan.

dedaunan di ranting cemara
l’histoire se repete
9:44 25 September 2005

Kantor Pos Lama


Kota Lama

Kantor Pos Besar Semarang di Saat Senja


Biasanya bangunan-bangunan tua berada di daerah Pecinan seperti banyak terlihat di daerah Jamblang, Cirebon dan kota Indramayu, seperti yang pernah saya lihat sekitar lima belas tahun yang lampau. Tapi entah, masihkah keasilan dan keasriannya terjaga hingga saat ini. Sedangkan kota lama yang di Jakarta seperti di daerah Beos terlihat masih terawat.
Agar masyarakat bisa memahami sejarah itu penting maka hendaknya bangunan-bangunan dan jalan-jalan itu perlu dilestarikan. Darinya bisa saja ada nilai historis yang tak ternilai. Tapi sayangnya selain diperlukan kepedulian dari masyarakat juga perlu adanya goodwill dari pemerintah kota (pemkot) sendiri. Bagaimana pemkot juga dapat mengalokasikan anggarannya untuk memelihara semua itu, tanpa tergoda oleh kepentingan bisnis yang tampaknya lebih menggiurkan.
Agar pemkot juga tidak percuma untuk mengeluarkan dana maka perlu adanya program terencana dan terukur agar masyakarat dapat mengambil manfaat besar darinya, seperti adanya agenda pariwisata di daerah tersebut. Seperti apa yang diperlihatkan oleh Pemkot Jakarta dengan adanya museum Fatahillah, atau Pemkot Semarang yang mengadakan Festival Dugderan, festival yang diadakan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Festival itu diadakan di bundaran air di depan stasiun Semarang Tawang. Selain adanya pasar malam juga terdapat pedagang kaki lima yang menjual barang-barang gerabah seperti celengan, tempat makan, dan lainnya mulai dari yang kecil sampai yang besar. Festival ini akan berakhir bila esoknya adalah hari pertama berpuasa.
Selain itu, program peduli bangunan kuno perlu juga dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemkot dengan menyelenggarakan tur tahunan bagi anak-anak sekolah di daerah kota lama. Atau menyelenggarakan lomba penulisan dengan garis besar tema adalah penyelamatan dan pemeliharaan bangunan kuno, atau tema historisnya. Yang diharapkan dari semua itu timbul kecintaan terhadap kota lama yang dimulai dari diri kita sendiri hingga ke anak cucu.

dedaunan di ranting cemara
di antara—sekali lagi—ala kadarnya
10:41 19 September 2005