Buka Puasa Bersama Dirjen


Suatu kehormatan mendapat undangan untuk berbuka puasa bersama di kediaman Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara (DJPbN) Bapak Mulya Nasution pada sabtu kemarin di kawasan perumahan elit Tanjung Mas Prima, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Acara berbuka puasa itu dihadiri pejabat eselon dua dan tiga kantor pusat DJPbN.
Bukan, bukan saya yang mendapatkan undangan itu. Tepatnya Qoulan Syadiida yang diundang untuk datang sedangkan saya hanya mengantarkannya. Ia mendapat undangan secara pribadi dari Ibu Mulya sebagai penggerak majelis ta’lim di lingkungan Badan Akuntansi Negara–sebelum dilebur ke dalam DJPbN.
Dengan segera mengusir rasa minder yang muncul tiba-tiba, saya memarkirkan motor di antara deretan mobil-mobil tahun muda yang diparkir di sepanjang jalan depan rumah mewah itu.
Baru pertama kali saya memasuki rumah seluas dan semewah ini, dengan ukuran yang luar biasa besarnya bagi saya. Kalau dibandingkan rumahnya, rumah saya yang bertipe rumah sederhana ukurannya hanya setengah dari halaman depannya saja. Keasriannya sungguh terasa saat memasuki halaman depan itu, dengan saung yang berdiri di sudut, tanaman yang tertata rapih dan indah ditingkahi gemericik air pancuran.
Tiba-tiba saat kami memasuki bagian dalam rumah, hujan turun dengan derasnya seakan tidak kerasan bergantung pada tebalnya mendung sedari tadi. Seakan merindukan perjumpaan dengan percikan-percikan air kolam renang di bagian belakang rumah. Tapi tak menyurutkan kekhidmatan acara berbuka puasa yang dimulai pada pukul setengah enam sore.
Qoulan Syadiida pun didaulat untuk menjadi saritilawah membacakan terjemahan ayat 183-186 surat Al-Baqoroh. Setelahnya ada sambutan dari shohibul bait dan dilanjutkan dengan acara berbuka puasa dengan makanan dan minuman ta’jil sekadar untuk membatalkan puasa.
Surat Al-Mulk dibacakan dengan syahdunya oleh Ustadz Sofyan Tsauri yang memimpin sholat maghrib berjama’ah. Setelah itu para tamu pun diajak naik kelantai dua untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. Mulai dari martabak kubang yang sungguh nikmat dimakan dengan kuah kari kambingnya, daging ayam, sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai makanan penutup—semuanya menu ala perusahaan catering.
Saya yang tidak kenal dengan seluruh bapak-bapak pejabat itu berusaha untuk mencari teman bicara, syukurlah saya mendapatkannya. Ia seumuran dengan saya dan anak dari salah satu tamu yang diundang, serta masih sama-sama canggung untuk mengajak berbicara dengan para tamu. Kami pun asyik dalam percakapan sendiri.
Saat adzan Isya berkumandang, semua tamu kembali turun ke lantai bawah untuk sama-sama melakukan sholat Isya berjama’ah yang dilanjutkan dengan siraman rohani dari Ustadz Sofyan. Acara pun selesai setelah ditutup dengan sholat tarawih bersama.

****
Dalam perjalanan pulang, ada sesuatu yang berkesan di benak kami. Tentu sebagai manusia biasa kesan itu tak lepas dari masalah kebendaan, tentang besar dan luasnya rumah, tamannya yang indah tertata rapih, hidangan yang nikmat, kolam renangnya yang mengundang hasrat untuk menceburkan diri ke dalamnya, keramahan tuan rumah, berkumpul dengan para pejabat tinggi, wangi parfum bermacam-macam merek terkenal, dan lainnya.
Subhanallah, Maha suci Allah yang telah memberikan kenikmatan keluasan harta pada salah satu hambanya. Itu yang terucap selalu di bibir kami. Bukan pada jawaban untuk pertanyaan darimana harta itu di dapat. Karena itu urusan hambanya dengan Allah. Dan Qoulan Syadiida pun menegaskan, tuan rumah sebagai doctor lulusan luar negeri adalah pejabat eselon satu yang lurus-lurus saja. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.
Saya pun katakan kepada Qoulan Syadiida bahwa kenikmatan yang baru dirasakan adalah hanya sebatas kenikmatan dunia. Dan itu telah membuat kita merasa bangga, tersanjung, dan dihargai oleh tuan rumah sebagai manusia biasa.
Bagaimana perasaan kita kalau kita dipanggil oleh Tuhan yang telah menciptakan tuan rumah, yang tentu lebih kaya bahkan maha kaya. Bagaimana perasan kita dipanggil oleh Sang Pemilik Surga dengan panggilan:
Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (AlFajr: 27-30)
Tiba-tiba satu bulir bening jatuh membayangkan kenikmatan surga. Masya Allah, dengan kenikmatan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dengan pepohonan yang teduh, dan buah-buahan yang disukai. Dengan penghormatan yang Allah berikan:
(Katakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan daripada apa yang telah kamu kerjakan” (Al-Mursalat: 43).
Luasnya surga lebih luas dari langit dan bumi. Taman-tamannya indah tak pernah terbayangkan oleh manusia. Hidangannya lebih nikmat dari sekadar yang diturunkan kepada kaum Nabi Musa sekalipun, dengan minuman yang bercampur jahe yang didatangkan dari sebuah mata air surga bernama salsabil.
Dengan dikelilingi oleh para gadis dan pemuda yang tetap muda bak mutiara bertaburan dengan segala keramahannya. Dengan wangi parfum misk yang keharumannya sungguh luar biasa pada pakaian sutera halus dan tebal mereka. Berkumpul dengan para rasul dan para nabi, para shiddiqin, para mujahid, para orang-orang sholih. Maha Agung Allah dengan segala kekuasaannya.
Wahai Qoulan Syadiidaku, wahai istriku, bagaimana perasaan engkau membayangkan keindahan surga itu? maukah engkau mendapatkan kenikmatan surga yang kelak engkau kekal di dalamnya? Pertanyaan itu keluar memburu dari mulut saya.
Yang kemudian mengingatkanku pada sebuah ayat Allah:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Attahrim:6).
Ya Allah, Ya Rabb, kami takut nerakamu…kami rindu surgamu.
****
Malam itu adalah malam indah bagi kami. Malam yang membuat kami mendapatkan perenungan tentang sebuah keabadian. Keabadian segalanya. Satu pertanyaan adalah jikakah kami mendapat panggilan dari Arrahiim: “kembalilah kepada-Ku”?. Dengan takut dan harap kami yang ala kadarnya saja?

Allohua’lam.

dedaunan di ranting cemara
indah
11:41 23 Oktober 2005

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s