8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI


Friday, July 14, 2006 – 8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI

8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI

(Cuma Diary Belaka)

Hampir setahun yang lalu—tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2005—saya menulis di Ciblog ini tentang kegembiraan saya bisa pindah dari Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga ke KPP PMA Empat—yang pada akhirnya tidak jadi itu. Karena walaupun surat keputusan tentang kepindahan sudah dikeluarkan tapi secara definitif pelaksanaannya baru bisa direalisasikan pada pekan ini. Entah kenapa…?

Ya, setelah ada pergantian pejabat eselon dua dan tiga di Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jakarta Khusus rencana perpindahan itu kembali menguat apalagi telah dilakukan pelantikan pada hari Senin kemarin (10/7) kepada seluruh Account Representative (AR). Walaupun pada saat pelantikan tersebut terdapat insiden yang tidak diinginkan. Pada saat pelantikan Kepala Kanwil Jakarta Khusus menegur peserta pelantikan yang tidak mengindahkan kekhidmatan upacara tersebut. Maklum saja ada kurang lebih 350 orang berada di aula kecil KPP PMA Dua & Tiga.

Berdasarkan kesepakatan informal antara seluruh Kepala KPP di lingkungan Kanwil Jakarta Khusus, AR baru diharapkan sudah running per tanggal 17 Juli 2006 besok. So, saya benar-benar harus mempersiapkan dan membereskan segalanya, terutama seluruh pekerjaan yang memang ada jatuh temponya itu. Diharapkan AR pengganti saya tidak merasa ditimpakan dengan beban berat.

Lalu saya memberikan catatan-catatan kecil dengan kertas post it berwarna merah menyolok pada berkas-berkas yang ada di meja saya. Supaya AR-nya pun tidak bingung nantinya. Dan tak lupa dua berkas putusan pengadilan pajak yang baru saja datang segera saya selesaikan dengan membuatkan uraian penjabaran putusan pengadilan pajak serta Draft Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak melalui Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP). Tepat pada pukul tiga siang kemarin, saya sudah menyelesaikan semuanya. Terutama pula Memori Alih Tugas yang deadline-nya hari Jum’at ini.

Sekarang, hari ini, beres-beres semua barang pribadi saya. Persiapan kepindahan, coy…Perlu diketahui bahwa baru kali ini saya pindah kantor setelah 8 tahun 7 bulan 7 hari lamanya saya berada di KPP PMA Tiga. Lama juga yah…

Ya, sejak dari kampus saya memang langsung ditempatkan di kantor itu. Dalam kurun 7 tahun pula saya di sana cuma mengalami dua kali perpindahan antarseksi. Pertama, sebagai pelaksana di Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan sejak tanggal 07 Desember 1997. Lalu pada September 2001 pindah ke seksi Penagihan. Setahun setengah sebagai pelaksana di Subseksi TUPP cukup menjadi bekal untuk menjadi jurusita pajak apalagi setelah mendapat pendidikan dan pelatihan Jurusita Pajak.

Barulah pada Oktober 2004, saya dilantik menjadi AR setelah menjalani berbagai ujian. Maksud saya ini benar-benar ujian dalam arti sesungguhnya. Mulai dari mengikuti sidang skripsi agar bisa mendapat gelar kesarjanaan untuk bekal mengikuti Diklat UPKP V.

Lalu agar bisa naik pangkat di golongan III/a, saya harus mengikuti ujian UPKP V. Alhamdulillah saya lulus hanya dengan satu kali ujian. Setelah per Oktober 2003 naik pangkat dan golongan, saya diberikan kemudahan oleh Allah untuk dapat mengikuti ujian untuk menjadi AR. Lagi-lagi Allah memberikan nikmat yang tiada terkira. Saya termasuk dalam daftar AR yang ditempatkan di kantor pajak moderen. Di KPP PMA Tiga lagi. So, saya masih berkutat di kantor ini lagi. Masih menjadi makhluk penunggunya.

Satu tahun sembilan bulan saya menjadi AR di KPP PMA Tiga. Banyak suka dan duka tentunya. Sukanya, saya ditempatkan di seksi yang lumayan tidak sibuk. Tapi ini berkaitan dengan dukanya, yaitu berkutat dengan wajib pajak pertambangan emas yang selalu punya sengketa perpajakan dengan Direktorat Jenderal Pajak. Jadinya saya memang akrab sekali dengan sesuatu yang bernama putusan pengadilan pajak. Kita kalah mulu…

Lama-kelamaan berkutat di sana, saya semakin mudah memahami alur dan cara kerja SIDJP. Mungkin bisa dikatakan kalau saya familiar—untuk tidak mengatakan ahli—sekali dengan proses pencairan kelebihan pembayaran pajak via keberatan atau banding Wajib Pajak. Saya harapkan semua ini menjadi bekal berharga di kantor yang baru nanti.

Ya betul, kiranya tidak hanya bekal itu. Bekal selama 8 tahun, 7 bulan, 7 hari yang telah berlalu itulah menjadi bekal paling berharga. Bekal tentang bekerja yang baik, kedisiplinan, manajemen waktu dan pekerjaan, menghadapi orang, berbicara di depan umum, mengeluarkan pendapat, mengutamakan kejujuran, keterusterangan, dan mencari solusi.

Saya harapkan bekal itu cukup di kantor yang baru, tapi tidak berhenti di situ, saya berharap pula untuk mendapatkan bekal yang lebih baik lagi. Dari siapa saja tentunya. Dari kepala kantor yang baru, kepala seksi yang baru, teman-teman AR, pelaksana, honorer, office boy, bahkan teman-teman Satpam sekalipun. Karena satu yang saya sadari: jangan pernah melihat orangnya, tapi dengarkan apa perkataannya.

Di sana barangkali ada sejuta hikmah, kebaikan, dan keindahan akhlak yang bisa memacu saya—dan Anda Pembaca tentunya—untuk menjadi yang terbaik di mata Allah. Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan diranting cemara

Jum’at, 14 Juli 2006
sebagai pelipur sepekan tidak menulis

HATI-HATI, BALITA TERSEDAK !!!


Tadi pagi, Si Bungsu Ayyasy sambil tidur-tiduran ngemut mainan kecilnya. Mainan berupa angsa-angsaan hadiah dari susu formula yang ada rodanya itu. Tapi tiba-tiba dia menangis tanpa suara sambil menunjuk-nunjuk mainannya itu. Ummu Haqi kaget dan bertanya kenapa…? Setelah diperhatikan ternyata rodanya sudah tidak ada lagi. Ia berkesimpulan bahwa rodanya sudah tertelan masuk ke kerongkongannya.
Dalam kepanikan melihat Ayyasy yang menangis kesakitan itu, di tambah melihat Haqi–sang kakak– yang ikut menangis pula karena kasihan dengan keadaan adiknya, Ummu Haqi langsung menyuruh anak yang baru berumur 3 tahun 9 bulan itu untuk membungkuk. Lalu dengan keras menepuk punggungnya .
Tiga kali dilakukannya, namun upaya untuk mengeluarkan roda kecil dari kerongkongan si anak tidak kunjung berhasil. Lalu ia memakai cara lain dengan memasukkan jarinya ke dalam mulut Ayyasy. Tiga kali pula ia rogoh dalam-dalam. Akhirnya ada reaksi. Semua makanan yang ada di dalamnya keluar semua. Termasuk roda kecil seujung kuku berwarna biru.
Alhamdulillah, cara ini efektif. Saya tidak dapat membayangkan kalau saat itu Ummu Haqi sudah berangkat ke kantor dan bertanya-tanya apakah khadimat akan berbuat yang sama ketika melihat kejadian tersebut.
Saya tidak dapat membayangkan pula bagaimana kalau benda kecil itu tidak bisa dikeluarkan. Syukurnya cuma di kerongkongan, tidak di tenggorokan sebagai saluran pernafasan. (Banyak cerita tentang bagaimana anak yang tidak bisa diselamatkan karena kejadian ini)
Saya tidak dapat membayangkan pula kehilangan anak yang sedang lucu-lucunya. Bisakah saya setegar Iman yang telah kehilangan tiga anaknya dengan kejadian menggemparkan di Bandung beberapa hari yang lalu? Bisakah saya tidak menangis dan meratapi anak yang sangat saya cintai itu? Dan merelakan kepergiannya sebagai tabungan indah di akhirat kelak? Allohua’lam.
Tapi ada pelajaran yang bisa diambil di sini. Pertama jangan pernah panik terlebih dahulu melihat situasi gawat ini. Dalam hal ini saya salut kepada Ummu Haqi yang dapat mengatasi rasa paniknya.
Kedua, jangan pernah memberikan mainan-mainan yang memang tidak diperbolehkan untuk balita. Biasanya produsen mainan anak-anak selalu mencantumkan peringatan bahwa mainannya tidak cocok untuk diberikan kepada anak-anak di bawah umur.
Ketiga inilah kesempatan terbaik saya untuk membuang semua mainan -mainan kecilnya seperti mobil-mobilan, dan kelereng. Sebelum kejadian ini Haqi dan Ayyasy tidak mau tahu dengan peringatan yang diberikan orang tuanya kepada mereka. Mereka menangis dan berteriak kalau saya mengancam untuk membuang benda-benda membahayakan itu. So, mendengar rengekan dan tangisan itu saya biasanya luluh.
Keempat, selalu mengantisipasi keadaan darurat itu dengan memberikan pemahaman yang baik terhadap khadimat. Pemahaman bagaimana menangani perisitiwa semacam ini, atau hal lainnya seperti pencurian, kebakaran, sakit mendadak, dan luka-luka. Biasanya karena kita sudah cukup percaya dengan khadimat kita meremehkan dan tidak menyosialisasikan hal-hal ini.
Kelima, sediakan nomor-nomor penting untuk dihubungi. Tulis di atas kertas dan tempelkan di dekat pesawat telepon. Jangan pernah mengunci telepon. Memang ada resikonya bahwa khadimat tidak amanah dengan pemakaian telepon ini. Tapi berusahalah untuk memberikan pengertian bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya hendaknya dipegang sebaik-baiknya.
Keenam, jangan pernah melupakan tetangga. Inilah gunanya bertetangga dan menjaga adabnya yang senantiasa diwanti-wanti dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Hubungi tetangga terdekat, karena diharapkan tetangga yang berada di luar panic area bisa memberikan pemikiran jernihnya dan solusi terbaik buat kita.
Sepertinya cuma itu pelajaran hari ini yang bisa dipetik. Tapi sedikit banyak akan membawa saya dan Anda untuk selalu siap dalam menghadapi keadaan gawat darurat saat rumah dan keluarga kita tinggalkan karena seharian mencari nafkah.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
cuma mendengar kabar ini dari Ummu Haqi
setelah beberapa jam peristiwa ini terjadi
15:00 20 Juni 2006

IBU KEPALA SEKSI BISA, NENEK-NENEK PUN BISA, MENGAPA SAYA TAK BISA?


IBU KEPALA SEKSI BISA, NENEK-NENEK PUN BISA,
MENGAPA SAYA TAK BISA?

Sakit kepala yang tak tertahankan ini membuatku tidur lebih awal. Lalu terbangun di sepertiga malam terakhir tepatnya pukul setengah empat pagi, dan menyempatkan untuk sholat. Setengah jam kemudian sudah ada di belakang kemudi, memanaskan mobil dan siap-siap berangkat ke kantor.
What the…? Berangkat ke kantor jam empat pagi? Ada apa gerangan dikau? Ya, karena saya masih canggung untuk mengemudi dan dikhawatirkan ada apa-apa dengan mobil tua ini maka saya sempatkan untuk masuk kantor lebih awal.
Sekalian ini merupakan test case untuk menambah jam terbang mengemudi saya yang sudah terbiasa di jalanan komplek namun di jalan raya yang penuh dengan berbagai situasi ini merupakan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya dihantui dengan berbagai kekhawatiran. Tebak apa coba? Betul, kekhawatiran takut menabrak mobil lain, orang, dan anak-anak. Apalagi kalau mogok di tengah jalan, di tengah kemacetan, dan di klakson dari belakang. Tidak bisa memutar. Tidak bisa parkir. Mengerem mendadak. Mengisi bensin di SPBU. Dan masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat keberanian saya mengendur. Alhasil enam bulan mobil itu dibiarkan teronggok begitu saja. Ataupun kalau terpakai tentu bukan saya yang mengemudi, tapi orang lain.
Nah, kemarin-kemarin tetangga saya memakai mobil ini. Setelah dipakai ia lalu bilang:”mobilnya enggak mogok kok, bahkan enak malah.” Nah loh, saya yang punya, orang lain yang menikmati dan merasakan enaknya. Dari situlah saya mulai bertekad untuk bisa mengendarai sendiri dan merasakan seberapa enaknya sih mengendarai mobil ini.
Apalagi Ibu Kepala seksi saya sanggup pulang pergi ke kantor atau kemana-mana naik mobil. Bahkan nenek-nenek pun bisa—saat mengendarai motor dan melihat hal ini saya sampai terpesona dan terlongong-longong. Adalagi malah, anak di bawah usia 17 tahun sudah sanggup bawa angkot mengambil trayek Bojonggede-Depok malam hari.
Jadi, mereka saja sanggup berjuang di rimba belantara lalu lintas Jakarta, masak saya tidak bisa. Akhirnya saya memberanikan sendirian berkendara, dan untuk memulainya saya harus berangkat jam empat pagi. Agar saya tidak shock dan punya cukup waktu dan kesempatan untuk absen pagi.
Pukul empat pagi lebih sedikit akhirnya saya sudah berada di jalanan lengang. Saya berniat ke SPBU untuk mengisi bensin dulu berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Lima kilometer dilalui SPBU sudah ada di depan saya. Saya belok, parkir di dekat mesin penyalur bensin, Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Saya matikan mobil, dan mengangkat panel rem tangan. Tapi….
Saudara-saudara, ternyata rem tangan saya masih pada tempatnya. Saya lupa menurunkannya saat parkir di depan rumah tadi. Walah…pantesan, mobil ini berat sekali, suaranya pun terdengar “ngeden”. Tidak apa-apa ini pengalaman bagi saya.
Saya grogi dan sedikit panik saat membuka tutup bensin. Mana nih kuncinya…? Maklum baru kali ini saya membeli bensin sendiri. Jadi, tidak familiar mana kunci pasnya. Sang penjaga dengan sabarnya menunggu saya mengutak-atik kunci. Akhirnya ketemu juga.
Beberapa menit kemudian sudah kembali di jalanan, dan sempat di-goblok-in (maaf) supir angkot karena posisi kendaraan saya di tengah-tengah. Padahal saya merasa sudah di pinggir kok. Tidak apa-apa, cool man…, santai. Anggap saja angin lalu.
Kota Depok saya lalui dengan aman. Saya tidak memaksakan diri masuk gigi lima. Bukan Karena tidak berani. Tapi karena sudah saya coba-coba kok tidak masuk-masuk. Ih….takut. Cukup gigi empat saja dah. Di klakson dari belakang oleh truk dengan lampu yang menyorot terang saya minggir ke kiri. Takut juga…
Suara Adzan sudah terdengar jauh sayupnya di belakang. Saya berencana sholat shubuh di Masjid Al-Shofwa Lenteng Agung (ikhwan Salafy pasti tahu keberadaan masjid ini). Dan saudara-saudara, ternyata saya sanggup satu kali belokan saja untuk parkir di sana. Mantap…Saya bersyukur rencana ini dimudahkan oleh Allah dan diberikan kesempatan untuk sholat berjamaah tanpa ketinggalan di masjid itu.
Pukul lima lebih empat menit waktu hape saya, saya kembali mengarungi jalanan sepi Jakarta. Stasiun Tanjung Barat aman saya lalui. Lalu masuk daerah Pasar Minggu. Jelas sudah kemacetan sudah ada di sana karena banyak pedagang yang berjualan di pinggir jalan dan metromini yang ngetem. Sempat mogok dan tidak bisa dinyalakan mesinnya, saya panik. “Wah kejadian lagi penyakitnya nih,”pikir saya. Tenang-tenang. Santai. Jangan panic. Saya matikan semua lampu. Saya buka kunci dan tekan gas. Grungggg…akhirnya bisa lagi.
Dua puluh menit di sana tidak membuat saya gelisah. Waktu absen masih jauh coy… Jalan Raya Pasar Minggu masih sepi. Lalu saya tidak membelok melalui Volvo tapi terus menuju ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dan di pertigaan Duren Tiga, lampu merah sudah berwarna kuning, saya teruskan saja walaupun di ujung sana kendaraan sudah mulai bersiap-siap. Masih sempat juga ternyata.
Dekat komplek kantor, saya terlalu minggir ke kiri, sehingga terdengar bunyi gesekan antara karet ban dengan trotoar. Cuma lecet-lecet dikit.
Pintu gerbang kantor masih tertutup. Saya turun untuk membuka pagar dan palang besinya. Belum ada satu mobil pun ada di halaman parkir yang luas itu. Saya memarkirkan mobil di bagian belakang kantor dekat jalan keluar. Tidak di tengah, karena masih ada ketakutan menabrak mobil lain saat keluar dari tempat parkir.
Saya ambil sepatu dan tas saya. Tidak lupa untuk mengelap mobil dengan kanebo yang telah saya siapkan sebelumnya. Maklum mobil ini mau dilihat oleh teman yang ingin membelinya. Loh…baru dicoba kok sudah mau dijual aja…? Tidak apa-apa toh? Di beli ya syukur, uangnya bisa terpakai untuk yang lain. Tidak terjual ya syukur juga, bisa saya perbaiki lagi kerusakan-kerusakannya.
Sekarang tinggal memikirkan cara pulangnya, nih. Maklum Jakarta sore sangatlah macet. Apalagi kalau hari Jumat. Di tambah ada jalan tanjakan di perlintasan kereta Citayam yang masih menjadi kekhawatiran dan pertanyaan bagi saya, “bisa tidak saya menaklukannya?”. Di tengah ratusan motor dan puluhan angkot yang ngetem sembarangan di sana. Ketakutannya adalah ketidakmampuan saya untuk menyelaraskan kopling dan bukaan gas. Kalau benar-benar terjadi, mobil saya pasti mundur ke belakang dan…. Takut untuk membayangkannya.
Tapi biarlah. Yang akan terjadi nanti, terjadilah. Paling untuk antisipasi saya pulang jam sepuluh malam. Saat jalanan Jakarta sudah mulai lengang.  Namun pelajaran hari ini yang bisa dipetik adalah kekhawatiran dan ketakutan itu adalah cuma besar di angan-angan, pada saatnya ia nihil tiada berbekas. Jadi jangan pernah takut dengan semua itu. Perbanyak doa dan sholawat. Itu saja.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:19 02 Juni 2006

SALIMAH


Empat hari libur kemarin cukup memuaskan bagi saya. Ada banyak kegiatan yang saya lakukan. Mulai dari merasakan kelezatan pagi yang sejuk hingga membantu kepanitiaan dalam acara peringatan maulid yang diselenggarakan oleh sebuah LSM bernama Salimah (Persaudaraan Salimah) dan mendatangkan pembicara kondang Ustadz Wahfiuddin.
Hari Kamis, nanti dulu saya coba ingat-ingat apa yang telah saya kerjakan pada hari itu. Paginya, cuma santai-santai saja, tidur-tiduran, bercanda dengan anak-anak, baca buku, dan mempersiapkan materi untuk acara nanti malam bersama anak-anak remaja RT.
Sore hari, saya memasang gorden untuk membatasi pandangan dari ruang tamu ke ruang keluarga dan dapur yang ada di bagian belakang. Bor yang saya pinjam dari tetangga sebelah tidak berguna karena ternyata kayu tempat kaitan gordennya ringan dan bisa dilubangi dengan mur biasa. Dengan dibantu saudara kegiatan ini cepat juga selasainya. Sekarang rumah ini ada nuansa barunya dengan tirai lengkung di tengah-tengahnya.
Baru pada malam harinya saya mengisi acara pekanan untuk satu anak kelas enam SD, empat remaja SMP dan SMU, dan dua pemuda lainnya. Seperti biasa saya memulai acara itu dengan membenarkan bacaan AlQur’an mereka, mengecek sholat mereka, memberikan materi hamdalah, dan tanya jawab. Setelah itu tepat pukul 21.00 WIB acara itu selesai.
Hari Jum’at. Sudah dua hari tidak punya semangat menulis. Jadi tidak ada jari-jari lentik (What the…) ini menyentuh tuts-tuts keyboard merangkai kata-kata. Tapi hanya untuk memencet tombol-tombol tertentu dalam permainan game Warcraft III: Frozen Throne. Tidak lama setelah itu, kayaknya saya baca buku deh…Terus apa lagi ya…?
Oh ya, persiapan sholat jum’at, mandi, pakai baju terbaik dan minyak wangi kesturi putih. Setelah itu saya bersama tiga anak kecil pergi ke masjid berkhutbah berbahasa Indonesia di komplek sebelah untuk mendapatkan wejangan yang berharga dan lebih bermutu. Karena biasanya kalau di masjid kampung khothibnya memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Pendek amat bo… cuma lima menit dan saya tidak mengerti lagi.
Siangnya setelah pulang jum’atan, saya pergi ke toko bangunan membeli pernak-pernik untuk kusen baru yang akan dipasang minggu depan untuk menggantikan kusen standar kelas BTN yang mulai rapuh. Tidak lupa saya beli pelitur kelas dua untuk jendela baru.. Kali ini—sori yah—saya mengerjakan sendiri memelitur jendela ini. Masak kerjaan kayak beginian dilimpahkan ke tukang.
Sekitar jam sembilan malam saya pergi ke rumah teman untuk membincangkan kegiatan yang akan diadakan pada hari ahadnya yakni acara Salimah itu. Di sana sudah menunggu banyak teman. Dibicarakan pula tentang agenda kegiatan musim liburan nanti untuk pemuda dan remaja. Acara selesai jam sebelas malam.
Sabtu pagi. Saya punya agenda untuk mengajar kerohanian Islam di SMP Islam Al-Iman. Lalu setelahnya dalam perjalanan perjalanan pulang saya sempatkan mampir dulu ke rumah al-akh untuk bersilaturahim dan menanyakan kabar keluarganya. Tidak lama di sana karena saya harus segera kembali ke rumah. Tetangga saya akan berangkat ke Pekanbaru.
Ya, penempatan barunya menjadi kepala seksi di kantor pajak dengan sistem moderen telah membuatnya berpisah jauh dengan seorang istri dan dua anak-anaknya. Hanya bertahan kurang lebih empat bulan dalam kesendirian, ia memutuskan untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke Pekanbaru. Saya dititipi kunci rumahnya yang akan ditempati, dijaga, dan dirawat oleh seorang al-akh yang lain.
Sabtu siang tidak ada kegiatan besar. Terkecuali menonton berita musibah gempa di Jogja dan malamnya saya harus mengangkat karpet-karpet dan tanaman hias untuk acara Salimah ke tempat yang telah ditentukan, yaitu di aula masjid Baiturrohman Komplek Perumahan Departemen Agama, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.
Ahad pagi, ba’da shubuh saya mengeluarkan dan memanaskan mobil butut tahun tua milik saya yang baru terbeli setengah tahun yang lalu. Seperempat jam kemudian saya pergi lagi menjemput barang-barang di banyak rumah yang belum sempat terambil pada malam sebelumnya. Ada kipas angin, banyak karpet lagi, dan tambahan tanaman-tanaman hias lainnya.
Karena saya tidak mendapatkan izin dari boss untuk standby di acara Salimah itu,
maka pada pukul setengah delapan pagi saya pergi menghadiri acara wajib saya yakni pertemuan pekanan. Permintaan izin ini karena di dalam SMS saya ada kalimat pertanyaan: bolehkah saya tidak hadir? Kalau tidak ada kalimat ini maka ini bukan minta izin tapi cuma pemberitahuan saja. Ini adab yang benar untuk meminta izin. Tapi kebanyakan tidak dipakai karena biasanya izin itu seringkali ditolak kecuali untuk yang syar’i sekali seperti orang tua sakit.
Pertemuan pekanan berakhir pada jam setengah sebelas siang. Banyak yang didapat di sini. Seperti mendengarkan taujih dari Ustadz Ihsan Tanjung melalui vcd tentang Bahaya Zionisme Internasional, taklimat-taklimat, oleh-oleh Musda DPD Bogor kemarin, pengumpulan infaq untuk Bantul dan Palestina.
Saya langsung pergi menuju lokasi acara Salimah. Menyempatkan diri untuk melihat slide yang ditampilkan oleh ustadz Wahfiuddin. Ada informasi baru yang saya peroleh darinya. Dan dirasakan juga tentunya oleh ibu-ibu peserta pertemuan ini. Yakni salah satunya adalah masalah peniupan roh pada janin.
Selama ini berdasarkan pandangan ulama-ulama pesantren dari kitab kuning abad ke-13 masehi bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 120 hari. Ternyata berdasarkan kajian Alqur’an dan hadits serta penelitian moderen diketahui bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 40 hari. Nah loh, kok beda.
Menurut beliau tidak ada yang salah dala Alquran dan alhadits. Yang salah adalah penafsirannya. Karena ulama zaman dahulu tidak didukung dengan metode, alat, dan teknologi yang canggih seeprti sekarang ini.
Beliau menegaskan masalah ini penting karena berkaitan dengan masalah aborsi. Bila memakai patokan yang salah kaprah itu maka berarti ini telah membuang janin yang telah mempunyai ruh. Ini sama saja dengan pembunuhan. Dan pada dasarnya aborsi ini adalah haram hukumnya terkecuali dengan keadaan-keadaan khusus atau uzur syar’i. Seperti adanya penyakit dan kondisi yang akan membahayakan jiwa sang ibu.
Azan dhuhur berkumandang. Acara pun selesai. Saatnya saya bekerja lagi. Mengangkut-angkut barang perlengkapan kembali ke tempat semula. Mondar-mandir dengan mobil carry ini membuat jam terbang mengendarai mobil saya bertambah. Maklum saja, saya sama sekali belumlah lancar untuk mengendarai kendaraan roda empat. Alhamdulillah, tidak ada insiden yang selalu menjadi bayang-bayang ketakutan saya untuk belajar nyetir. Bahkan saya bisa menuruni turunan curam di mana saya pernah terperosok dalam got di Bulan Desember kemarin.
Setelah itu saya istirahat. Tidur-tidur siang. Sampai malam menjelang tidak ada agenda besar. Sejak itu pun tidak ada upaya untuk menulis tentang apa saja. Saya benar-benar istirahat menulis rupanya di liburan panjang ini. Walaupun di senin sebelum fajar ini saya terbangun dengan badan pegal-pegal tapi hati rasanya puas sekali. Liburan panjang ini terasa enak saja dilewati. Entah kenapa. Rezeki dan keberkahan Allah memang tidak hanya dalam bentuk lembaran rupiah saja ternyata. Tapi kepuasan hati, jasmani sehat itu pun menjadi rejeki yang tak ternilai harganya oleh manusia.
Kalau demikian, sudah sepantasnya saya yang telah diberikan nikmat tak terhitung banyaknya oleh Allah untuk senantiasa bersyukur. Bukan begitu…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:15 29 Mei 2006

Tips Hentikan Cegukan


Tips Hentikan Cegukan

Kemarin pagi saya mendapatkan sesuatu yang jarang sekali saya rasakan. Sesuatu itu adalah bernama cegukan. Ya, sehabis mandi pagi, tiba-tiba keluar dari mulut ini suara keras dan beritme: ceguk…ceguk….ceguk…
Walhasil sepanjang perjalanan berangkat ke kantor itu, badan saya naik turun mengikuti iramanya. Kebiasaan baru saya berupa murojaah hafalan pun terganggu. Bagaimana mau mengulang hafalan kalau suara kita selalu ditingkahi dengan bunyi: ceguk…ceguk…ceguk…
Sesampainya di kantor saya minum banyak-banyak, Alhamdulillah beberapa saat kemudian cegukan saya ini sudah hilang.
Tapi kemudian ketika hari sudah beranjak siang, setelah saya memakan sepotong roti dan bubur kacang ijo yang sudah tersedia di meja, tiba-tiba cegukan itu hinggap lagi. Minum air banyak-banyak dengan menutup hidung pun tidak sanggup memulihkan kerongkongan saya ini.
Karena cara itu tidak mempan lagi saya membiarkannya hingga kemudian terdengar suara adzan. Bergegas saya pergi ke masjid. Saya tidak lagi menghiraukan cegukan ini karena asyiknya mengobrol dengan teman-teman di sepanjang perjalanan menuju tempat sholat.
Nah, yang sangat mengganggu adalah pada saat sholat berjamaah, ternyata cegukan itu semakin menjadi dan terdengar lebih keras lagi. Maklum bukan, yang lain sedang khusu’ dan ruangan masjid sedang hening, tiba-tiba ada suara ceguk…ceguk…ceguk…Saya benar-benar malu sekali. Apalagi tangan saya yang sedang bersedekap, berulang kali terlihat terangkat seiring naiknya dada saya karena cegukan itu. Saya berusaha menahan nafas dan mengatur nafas sebaik-baiknya. Tapi ya tetap saja. tidak berhasil. So, di sepanjang sholat itu, cegukan ini sudah tidak terhitung berapa kali terdengar.
Di saat saya mengangkat tangan untuk berdoa, cegukan lebih keras terdengar lagi. Sampai-sampai ada jamaah masjid yang menolehkan kepalanya ke belakang untuk mencari tahu siapa yang mengeluarkan suara seperti itu. Malu saya…..
Segera saya mengakhiri doa yang di dalamnya ada doa pendek yang saya hafal betul:
Allohumma ‘afini fi badani, Allohumma ‘afini fi sam’i, Allohumma ‘afini fi bashori, Laa ilaaha Illa Anta.
Setelah sholat saya tidak langsung kembali ke kantor. Saya mengunjungi beberapa teman lama di kantor-kantor lain. Membicarakan banyak hal dan sekalian bersilaturahim. Tahu-tahu satu jam tidak terasa keberadaan saya bersama mereka. Dan paling mengejutkan adalah cegukan yang sangat menggangu saya ini tiba-tiba hilang begitu saja. Entah saya tidak tahu kapan hilangnya. Apakah di saat saya berbicara dengan si A atau si B, atau si C. Tapi saya tetap bersyukur Allah telah mengabulkan doa saya.
Nah, pagi ini di saat saya baru tiba di kantor dan membuka inbox email. Saya mendapatkan surat elektronik dari salah satu sahabat baik saya: Kang Awe. Email itu kiranya sangat bermanfaat sekali, karena di sana ada tips untuk menghentikan cegukan. “Wah, Kang Awe peduli juga,”pikir saya.
Oleh karena cegukan itu tidak hanya menimpa pada anak-anak yang sedang tumbuh maka saya menganggap tips ini layak untuk disebarkan kepada Anda sekalian. Selamat menikmati dan semoga Anda tidak mengalami kejadian seperti yang dialami saya di atas. 

Tips Hentikan Cegukan
Yulia Dian – detikHot

Jakarta, Dalam acara makan malam penting Anda mengalami cegukan? Segera ambil tindakan pertama dengan tips sederhana ini! Cegukan hilang, acara makan pun kembali nyaman.

Dari mana sebenarnya cegukan itu bisa muncul. Biasanya cegukan terjadi ketika seseorang baru selesai makan. Ini akibat diafragma di kerongkongan yang berkedut tanpa dikehendaki.

Acara makan Anda pastinya akan terganggu dengan cegukan bukan! Di tengah perjamuan besar, bersama calon mertua atau untuk urusan bisnis. Wah bisa kacau nih!

1. Tahan nafas Anda selama 15 detik. Setelah itu lepaskan secara perlahan. Ini bisa mujarab untuk mengobati cegukan.

2. Jika cegukan belum juga mereda, minum 10 teguk air putih pelan-pelan. Lakukan sambil menahan nafas. Ini ditujukan untuk menetralisasi diafragma di kerongkongan Anda.

3. Cara ketiga Anda bisa menggunakan kantung kertas dan bernafas dengan itu. Jika tak juga berhasil sebaiknya Anda bersabar. Cegukan jangan dirasa-rasa. Tanpa Anda sadari cegukan akan hilang begitu saja. Intinya jangan panik dulu ya 🙂 (yla)

RIZA ALMAN

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:59 24 Mei 2006

AKU BUKANLAH JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB


AKU BUKANLAH JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB

Buku kecil itu terjejer rapih di alas yang digelar oleh pedagang di trotoar seberang jalan Kedutaan Besar (kedubes) Amerika Serikat (AS). Beberapa saat kemudian buku seharga lima ribu perak kini telah berpindah tangan. Dan siap untuk saya baca. Sempat kulirik beberapa aparat kepolisian mengambil buku itu. Entah mereka cuma melihat-lihat saja atau membelinya karena segera kutinggalkan tempat itu untuk mencari posisi yang strategis menanti kedatangan rombongan besar pendemo yang sedang bergerak dari Bunderan Hotel Indonesia menuju kedubes.
Hari itu massa dari Partai Keadilan Sejahtera mengadakan demo besar-besaran sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan bangsa Palestina menghadapi aksi boikot Amerika Serikat dan sekutunya yang menyetop bantuan dananya. Slogan yang dikumandangkan Organisasi Konferensi Islam One Man One Dollar, To Save Palestina menjadi tema sentral dalam kegiatan akbar ini.
Kali ini, saya bersama rombongan kecil dari Bogor, menyempatkan diri untuk berpartisipasi sebagai wujud kecil dari ukhuwah lintas bangsa dan negara. Karena terlambat berangkat, kami putuskan untuk langsung menuju kedubes AS. Dari informasi yang diperoleh tempat itu menjadi titik terakhir dari aksi ini.
Belumlah begitu ramai ketika kami sampai di sana. Namun banyak aparat kepolisian yang sudah berjaga-jaga di sekitar kedubes. Dan sudah dipastikan banyak pula pedagang yang menggelar beraneka ragam macam barang dagangan. Mulai dari sekadar minuman penghilang haus dan dahaga hingga pernak-pernik, aksesoris, jilbab, dan pakaian.
Sembari menunggu itulah saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat keramaian kecil di sekitar. Sampai akhirnya saya menemukan buku kecil itu, lalu menjadi barang kedua yang saya beli setelah sebuah kaset muhasabah jadul berjudul Rihlatulillah.
Buku saku berkaver hitam ini berjudul Manhaj Harakah & Dakwah Menurut Sayyid Quthb. Judul dalam bahasa aslinya adalah Manhaj Sayyid Quthb Fid Da’wah. Ditulis oleh Jamaluddin Syabib—ia memperoleh gelar tertinggi dengan nilai Cum Laude pada perguruan Tinggi Dakwah Islamiyyah Madinnah Al Munawarrah Saudi Arabia. Dan diterjemahkan oleh Aminudin Khozin, alumni Pondok Moderen Gontor, Ponorogo dan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Buku yang pertama kali diterbitkan oleh Pilar Press di tahun 2001 ini menarik perhatian saya karena di dalamnya dijelaskan apa dan bagaimana manhaj dakwah Islam menurut Sayyid Quthb, dasar-dasar, keutamaan, pilar-pilar, dan dampak-dampak manhajnya baik dalam pergumulan pemikiran keislaman dan dalam dunia dakwah islamiyyah. Pelan-pelan saya baca buku itu dan berusaha untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh Sayyid Quthb dengan manhaj dakwahnya itu.
Baru pertama kali saya memiliki buku yang benar-benar dari awal sampai akhir memuat buah pikirannya. Di rumah tidak ada satu pun buku yang saya miliki membahas tentang Sayyid Quthb. Kalaupun ada itu pun hanya memuat sebagian kecil tentang pemikirannya, biografinya, dan kisah-kisah di penjara yang dialaminya.
Hatta buku sekaliber Ma’alim fith-thariq dan sefenomenal Fii Dzilaalil-Qur’an yang ditulis oleh Sayyid Quthb—keduanya bisa dikatakan sebagai buku referensi utama bagi para aktivis pergerakan—sampai detik ini pun belum saya punyai.
Walaupun ada keinginan kuat untuk membelinya pada saat terjemahan Fii Dzilaalil-Qur’an ini pertama kali muncul, namun tidak sampai menggerakkan hati saya untuk membeli dan memilikinya. Bahkan di saat Wakil Presiden Republik ini pernah memerintahkan aparatnya untuk meneliti buku-buku yang ditulis oleh Sayyid Quthb—karena menurut dia menjadi pemicu pemikiran radikal para pengebom Bali dan Kedubes Australia—tidak membuat saya tergugah untuk mendalami lebih lanjut apa yang disebarkan oleh Sayyid Quthb melalui buah pemikirannya itu.
Yang saya kenal darinya pun sebatas riwayat hidupnya belaka. Sebagai seorang pemikir kedua setelah Hasan AlBanna pada jama’ah pergerakan terbesar di Mesir yakni Ikhwanul Muslimin. Sebagai seorang yang dituduh membuat makar oleh Jamal Abdun Nashir—seorang yang diterima oleh Ikhwanul Muslimin sebagai bagian dari jama’ah kemudian membelot hingga sampai pada tindakan menawan, menyiksa, membantai, dan menggantung para anggota jama’ah ini.
Sayyid Quthb yang saya tahu pun hanya sekadar sesosok ringkih yang dibawa ke tiang gantungan sebelum terbit fajar hari Senin, 29 Agustus 1966. Namun walaupun jasadnya telah menjadi tanah namun pemikirannya tetap hidup hingga kini dan menyebar ke belahan dunia lain. Membuatnya sebagai ikon penentangan terhadap ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan. Dan bersamaan dengan itu pula dijadikan sansak caci maki pada dirinya dari segolongan lain yang dialamatkan juga kepada jama’ah yang membesarkannya.
Saya anggap hal itu sebagai suatu kewajaran. Hatta seorang Nabi Besar Muhammad saw sebagai penghulu dari umat ini pun tidak lepas dari orang-orang yang mencintainya dengan sepenuh kasih sayang dan orang-orang yang menghinanya sewaktu ia masih hidup hingga 14 abad kemudian setelah kematiannya—yang terbaru adalah karikatur penghinaan dirinya yang dimuat oleh media Denmark. Jadi biasa sajalah.
Sampai suatu hari saya menemukan sebuah situs di internet, yang secara detail membahas tentang bagaimana supaya ummat ini kembali kepada aqidah yang lurus sesuai dengan pemahaman ahlussunah wal jama’ah. Tapi dalam situs tersebut juga terdapat banyak perkataan caci maki dan membid’ahkan pada banyak nama. Bahkan yang mencolok—karena diletakkan di halaman depan—mereka membuat sebuah artikel yang khusus memuat kesalahan-kesalahan dari Sayyid Quthb. “Apa pula ini?” pertanyaan itu menggantung sampai akhirnya saya menyelesaikan bacaan itu.
Saya merenung, dan saya baru teringat bahwa saya mempunyai sebuah buku yang membahas tentang hal ini. Buku yang ditulis oleh Jasim Muhalhil dan saya beli di tahun 1997 ini berjudul Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan. Memberikan penjelasan detil terhadap tuduhan-tuduhan yang ditudingkan kepada Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan khususnya kepada Sayyid Quthb.
Buku lain dengan tema yang hampir sama pun telah saya punyai di tahun 2003. Kali ini ditulis oleh penulis lokal bernama Farid Nu’man. Buku ini berjudul Al Ikhwanul Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi: Sebuah koreksi Bijak dan Tuntas atas Tuduhan, Fitnah, dan Celaan tak Pantas Terhadap Manhaj dan Tokoh-tokohnya.
Setelah saya baca dua buku tersebut, semua itu ternyata tuduhan-tuduhan lawas dan bukan sesuatu yang baru. Yang memang sudah berkembang sejak dulu dan tidak bermulai dari sini. Mulai tuduhan ia dianggap sebagai seorang Mu’tazilah, Wihdatul Wujud, Asy’ariyyah, mengafirkan kaum muslimin, mencela Mu’awiyyah. ‘Amr bin ‘Ash, dan ‘Utsman bin ‘Affan, serta masih banyak lagi tuduhan yang lainnya.
Walaupun tidak membacanya dengan pelan-pelan dan teliti, saya merasakan cukup dengan segala jawaban yang diberikan dalam kedua buku itu. Tapi sudah membuat kepenasaran saya terobati. Sampai akhirnya…
Pada suatu hari saya bergabung dan terlibat dalam suatu forum diskusi di sebuah situs intranet di kantor kami yang tersebar di pelosok negeri ini. Dan saya terkejut. Baru kali inilah dalam seumur hidup saya, saya menemukan sebuah komunitas yang menjadi penyalur dan corong suara dari situs internet yang telah saya jelaskan di awal—karena sebelumnya dalam kehidupan kampus dan keseharian saya di masyarakat tidak pernah menjumpai dan bergaul secara langsung dengan mereka.
Keterkejutan saya adalah dengan kegarangan mereka dalam tuduhan, hinaan, dan celaan yang dilontarkan kepada siapa saja yang tidak sepaham dan tidak sependapat dengan pandangan mereka dan para masyaikh mereka dalam keberislaman. Apalagi pandangan mereka terhadap jama’ah pergerakan, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf Qaradhawy. Bisa dikatakan setiap hari tidak ada yang terlewatkan dengan caci maki terhadapnya.
Tentunya saya sebagai newbie (pendatang baru) dalam forum tersebut dan melihat terlalu berlebihannya mereka saya merasa terpanggil untuk membalas setiap tuduhan dan celaan itu. Akhirnya saya pun terlibat dalam pertarungan argumen dengan mereka.
Berhari-hari saya ikut serta dalam perdebatan itu. Hingga saya menemukan kesadaran adanya kesia-siaan, kekerasan hati, berhentinya amal, jumud dalam tsaqofah, pengenalan lebih dalam dan pemahaman terhadap karakter mereka. Bahkan bisa dikatakan lengkap. Runut sedari awal mereka eksis bermula di gurun Nejd.
Setelah itu saya cukup diam. Berusaha meredam hawa nafsu dalam setiap perkataan. Karena terhadap mereka tetaplah ada hak-hak yang wajib ditunaikan oleh saya sebagai saudara dalam aqidah yang kokoh ini.
Bahkan dengan diamnya saya ini, membuat tekad saya bertambah untuk membeli buku Ma’alim Fith-Thoriq atau pun Fii Dzilaalil-Qur’an. Dan memberikan sebuah kesempatan emas kepada saya membaca lebih teliti dan mempelajari lebih lanjut tokoh Ikhwanul Muslimin yang paling dibenci oleh mereka, Sayyid Quthb.
Biografinya saya baca kembali pelan-pelan di suatu malam. Perjalanan hidupnya yang ditulis dalam buku: Mereka yang Telah Pergi (ditulis oleh Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqil) menurut saya belumlah memuaskan rasa keingintahuan saya terhadap dirinya. Namun mampu membuat mata dan hati ini berbening kaca dan mengharu biru. Apalagi di sana ada visualisasi dirinya dengan didampingi dua pengawal menuju tiang gantungan. Saya berhenti cukup lama di halaman tersebut, merenungi detik-detik mendebarkan yang akan memisahkan dunia yang telah membuatnya terzalimi dengan pertemuannya kepada Sang Pemilik Jiwanya.
Ada ketegaran dan kemuliaan diri dalam tubuh tua dan kurusnya. Tali gantungan pun dengan Izin Allah tak mampu membelenggu dan mengubur pemikirannya bersama jasadnya di dalam tanah sedalam-dalamnya. Bahkan akhlak dan izzah-nya di tiang gantungan itu mampu menjadi jalan turunnya hidayah Allah bagi dua algojo yang mengeksekusinya. Subhanallah…Semoga engkau menjadi syahid, ya akhi…
Sebuah syair yang dibuatnya di balik jeruji penjara berjudul akhi menggema di dunia Arab hingga penyair Arab ternama dari Yordania dan Irak membuat syair balasannya. Begitu pula malam itu, setelah membacanya saya pun membuat syair sebagai balasannya:
Memoar Agustus 1966
Saudaraku,
pada baju penjara dan kopiah putih lusuh
yang kau pakai pada hari itu
pada tubuh kurus
yang menopang seonggok jiwa lurusmu
pada setiap langkah tegar
yang kau gerakkan dari kakimu
menuju tiang gantungan
di apit dua algojo
dengan tali besar menghias di leher
lalu jenak batas memisahkan
sungguh
ada jejak tertinggal bagi dunia
bagi manusia
untuk bernaung di bawah KalamNya.
***

Tapi saya menyadari sesungguhnya ia adalah manusia biasa, tak luput dari kelalaian dan kesalahan. Dan sebagaimana kaidah yang berlaku umum orang baik adalah orang yg kebaikannya jauh lebih banyak dari kesalahannya. Sungguh ia adalah orang yang baik. Tak pantaslah ia dicaci maki dan di hina dengan serendah-rendahnya dan sejelek-jeleknya julukan.
Cukuplah saya mengambil apa yang dikutip oleh Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqil dari Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab: “ Kita tidak mengatakan Sayyid Quthb orang maksum. Begitu juga ulama dan da’i lain. Setiap orang perkataannya boleh diambil atau ditolak kecuali Nabi saw yang maksum. Kita tidak mengultuskan Asy-Syahid Sayyid Quthb, tapi semata-mata memuliakan dan memenuhi hak-haknya. Kita tidak boleh mendiskreditkan dan menghujatnya. Alangkah celakanya umat yang tidak tahu hak-hak ulama yang berjuang dan syuhada yang telah berjihad. Allah berfirman tentang mereka, “dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (Muhammad:4)”.
Atau seperti yang dikatakan oleh Jasim Muhalhil: “Selain itu kami ingin menegaskan kepada kaum jufat (penghujat) bahwa serendah-rendah apapun Anda mencela Sayyid dan karya-karyanya, semua itu tidak akan mengubah kedudukan beliau yang telah terlanjur istimewa di dada mayoritas umat. Tidak akan ada yang mengingkari beliau kecuali orang-orang yang buta mata hatinya.”
Lebih lanjut ia mengatakan: “Adapun bagi kaum ghullat (pemuja) Sayyid, setinggi apapun Anda menyanjung-nyanjung Sayyid bahkan hingga ke langit tujuh tidaklah mengubah kedudukan Anda dan tidak pula membuat orang lupa terhadap kekeliruan Asy-Syahid Sayyid Quthb seperti apa yang telah diteliti para muhaqqiq. Itulah manhaj yang seimbang dalam menilai kekeliruan dan kebaikan manusia, yaitu manhaj wasathiyah (pertengahan). Semoga Allah Swt mengampuni dosa Sayyid Quthb dan memberikan petunjuk bagi kita yang hidup untuk selalu berada dalam jalan yang haq dan ridha-Nya.”
***
Belumlah sampai setengah saya membaca buku kecil itu, tiba-tiba terdengar suara dan derap dari kejauhan. Rupanya rombongan besar pendemo itu mulai mendekat. Hati saya tergetar mendengar takbir dikumandangkan, melihat panji-panji berkibar dan barisan coklat rapi dan gagah dari para kepanduan yang berada di depan. Hal sama dirasakan oleh seorang polisi yang sedang berbicara melalui handy talky dengan temannya di ujung: “Saya merinding melihat ini.”
Mereka semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Saya pun lalu berteriak: Allohuakbar!!! One Man One Dollar, To Save Palestina…!

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:49 15 Mei 2006

KHALWAT: TIDAK SEKADAR MELIHAT SENJA


Friday, April 28, 2006 – KHALWAT: TIDAK SEKADAR MELIHAT SENJA

Bloggers tercinta, saya sudah menyusun barang satu atau dua paragraf untuk saya sampaikan kepada Anda semua tentang keinginan saya untuk menyepi dulu dari dunia kerja. Niatnya pakai bahasa yang mendayu-dayu, atau bahasa kerennya pengen nyastra gitu. Tapi apa lacur berjam-jam sudah saya lewati tetap dengan tiga paragraf itu. Akhirnya daripada niat itu tidak kesampaian dan ide saya menguap begitu saja, maka saya tulis saja langsung di sini. Tanpa basa-basi.
Ohya, maksud saya menyepi adalah saya kudu mengambil cuti yang sudah lama tidak saya ambil. Cuti ini cuti pribadi loh yah bukan cuti bersama. Walaupun sudah dikatakan sebagai cuti menurut saya cuti yang telah ditentukan oleh pemerintah itu terasa bukan seperti cuti gitu loh. Tetap saja terasa seperti libur panjang. Nah, kalau ambil cuti sendiri kan seperti gimana gitu. Ada nuansa sentuhan pribadinya. Kita yang menentukan, bukan mereka.
Nah, kembali pada masalah cuti tahunan, saya masih punya sisa 18 hari coy. Itu sudah dipotong dengan cuti bersama tahun 2005 dan tahun sekarang loh. Coba bayangkan, banyak sekali bukan…? Makanya rugi banget getu loh kalau cutinya tidak diambil.
Sisa cuti sebanyak itu pun seharusnya tidak sebanyak 18 hari kerja, bahkan bisa lebih karena kalau dihitung-hitung sedari tahun 1997–tahun dimana saya mulai masuk KPP PMA Tiga–banyak sekali cuti saya yang dipotong-potong karena dalam tahun berjalan tidak boleh sisa cutinya melebihi 24 hari kerja.
Dulu sering tidak cuti karena saya maniak kerja. Dan selalu saya simpan, simpan, dan simpan. Sekarang baru terasa sekali kalau tabungan cuti saya kini banyak manfaatnya. Waktu teman-teman di Bagian Umum melihat betapa saya masih banyak mempunyai sisa cuti, mereka terkejut banget. Hare gene, cutinya masih banyak…
Coba kenapa mereka terkejut. Ya menurut saya karena di kantor yang sudah bersistem moderen, hari libur atau cuti selalu dinanti oleh setiap pegawai. Karena dengan semua itu mereka bisa bersitirahat dengan tenang di rumah dan berkumpul dengan keluarganya masing-masing–pemikiran ini mungkin beda dengan Anda-Anda sekalian wahai para jomblo ….
Di sini tidak bisa terlambat dan pulang cepat. Masuk jam setengah delapan, berarti paling telat banget kudu berangkat dari rumah jam enam pagi. Pulang, teng, tepat jam lima. Sampai di rumah minimal jam enam sore. Benar-benar terasa sekali capeknya.
Inilah yang benar-benar saya rasakan sekarang. Capek lahir dan batin. Dan juga jenuh. Mungkin ini disebabkan tidak adanya lagi pekerjaan yang menumpuk dan menyita waktu saya sehari-hari. Sebagai pelariannya posting sana-sini. tapi ya tetap saja bosen dan jenuh. Apalagi–sekali lagi–capeknya itu loh kalau sampai di rumah–maklum rumah dipinggiran kota pinggiran Jakarta (mengerti kan maksudnya ). Perjalanannya pulang pergi harus ditempuh dengan menempuh 52 kilometer ditengah macet dan rusaknya jalanan Jakarta dan kota sekitarnya.
So…sepertinya pagi terasa cepat berganti dengan senja. Dan senja (Senja namamu selalu kusebut )pun terasa cepat berganti dengan pagi. Laksana tubuh yang tak sempat meluruhkan jerih. Berhari-hari saya merasa demikian. Kurang lebih sejak dua bulanan yang lalu. Puncaknya hari Rabu kemarin, saya menyodorkan secarik–eh bukan ding tujuh lembar–surat untuk ditandatangani Ibu Kepala Seksi yang saya hormati.
“Riza…kesini sebentar.” panggil beliau.
“Iya…bu,” dengan sigap saya menjauh dari kursi yang menemani saya dengan setianya berposting ria di DSHNet menuju ke ruangan beliau.
“Mau kemana cutinya, Za?” tanya beliau dengan lembut.
“Ndak kemana-mana bu. Saya di rumah saja. Saya mau berkhalwat dulu Bu…”
“Berkhalwat apaan tuh, Za.”
“Menjauhi keramaian dunia, menyepi, menyendiri. Seperti dulu Muhammad sebelum diangkat sebagai rasul sering menyendiri di gua Hira’.” jelas saya panjang lebar.
“Oke lah kalau gitu.”
Langsung seketika beliau mengabulkan permohonan cuti saya.
So, mulai senin depan ini tanggal 01 Mei 2006 sampai dengan tanggal 03 Mei 2006, saya mau cuti, saya mau berkhalwat, menyendiri, menyepi, istirahat dari dunia kerja, dari dunia Ciblog, dari dunia fordis-fordisan entah di portal DJP atawa di DSHNet, atawa lagi di #madiun (untuk dunia ini saya sudah tidak merindukannya lagi seperti dulu ).
Saya pun akan beres-beres rumah, beriistirahat dan membaca sepuasnya, bercanda dengan para prajurit kecil, berlama-lama memadu rindu dengan shubuh di masjid, menikmati indahnya cahaya pagi, mengantar menjemput Sang Muta’akhir, menikmati keindahan dhuha, menikmati lengangnya jalanan kompleks rumah karena semua pada kerja, menikmati deru deram air sungai, menikmati matahari senja, dan lain sebagainya.
Dengan berkhalwat itu saya harap akan mendapatkan sesuatu yang baru–eits yang pasti bukan wangsit loh–visi dan misi baru, kesegaran, semangat kerja baru, semangat menebarkan kebaikan yang baru, semangat perdamaian yang baru, semangat itsar yang baru, semangat mencintai yang baru, semangat menulis yang baru, semangat baru untuk selalu meluruskan niat, dan semangat-semangat baru lainnya.
Ini harapan besar saya dari berkhalwat. Tentu ini tidak sekadar harapan, karena ini menjadi suatu cita. Cita menjadi yang lebih baik lagi. Cita menjadi sebaik-baik manusia. Itu saja. Selamat tinggal untuk tiga hari saja kawan….

dedaunan di ranting cemara
riza almanfaluthi
14:21 28 April 2006
jika kata adalah pedang…

Thanks For Your Comment


Thursday, April 27, 2006 – Thanks For Your Comments

Terimakasih saya ucapkan kepada semua bloggers yang telah merelakan waktunya untuk sedikit banyak memberikan komentar di blog saya ini. Terimakasih pula kepada semua yang telah menjadikan saya sebagai temannya. Terimakasih pula kepada semua yang telah sudi untuk berkunjung di blog saya yang seperti rumah reot, kumuh, tak nyaman, dan tak indah dipandang mata.
Hanya Allah-lah yang akan membalas kebaikan Anda semua. Sungguh saya belumlah mampu untuk membalas semua kebaikan Anda, dengan tekad yang kuat sudi untuk berkunjung ke blog Anda misalnya, atau memberikan komentar balik, atau menambah Anda dalam daftar teman-teman saya dengan segera.
Kiranya di saat ada waktu dan kemauan yang menggebu-gebu pada diri saya untuk kembali bergabung dengan teman-teman di sini, ternyata Ciblog masih sama seperti yang dulu. Minta ampun lamanya untuk membuka satu atau dua halaman saja. Sehingga lagi-lagi saya putus asa untuk bergabung.
Atau karena saya sudah punya komunitas baru di forum diskusi DSHNet itu? Bisa jadi sih. Di sana kita bisa interaktif sekali dan kecepatan aksesnya sangat berbeda dengan di Ciblog. Atau karena debatnya…?
“Ah, tidak saya tidak ikut-ikutan kok.”
“Iya tapi kamu jadi penonton juga kan…?”tanya sisi lain.
“Iya juga”
“Ya berarti kamu menikmati juga dan asyik di sana berjam-jam sehingga melupakan blogmu yang malang itu, yang tak pernah tersentuh dengan background atau tampilan blog yang baru. Masih saja engkau mempertahankan kebiruanmu itu. sampai kapan kau akan demikian?” tuturnya panjang.
“Ya, sampai hari ini, buktinya saya menulis langsung di menu Add New Entry, suatu kebiasaan yang sudah lama saya tinggalkan.” Jawab saya mengelak.
“Oke, tapi jangan pernah engkau lupakan mereka–teman-teman kamu itu–yang ada di Ciblog ini. Coba sudilah kiranya engkau sedikit memberikan komentar atau membaca postingan-postingan mereka, ada banyak manfaat yang akan kau ambil, sehingga ini akan memberikan kamu pemikiran baru. Tidak sekadar otak di kepalamu itu dipenuhi dengan omongan kosong debat sepanjang hayat itu.”
“Di sini engkau akan melatih kembali sense-mu, untuk mengungkapkan semua apa yang ada di hatimu melalui tulisan, jangan kau pedulikan sejuta pujian yang kau harapkan, karena sesungguhnya pujian itu hanyalah milik Allah. Dan jangan biarkan kritik pun akan menyakitimu, malah seharusnya engkau jadikan kritikan itu sebagai energi positif yang akan merubah dirimu dan dunia dengan coretan-coretan hatimu itu.”
“Coba ketika engkau memalingkan sebentar saja wajahmu dan pikiranmu dari debat sepanjang hayat itu engkau telah menghasilkan begitu banyak karakter yang menghasilkan untaian kalimat, yang dari kalimat itu membentuk jalinan paragraf. Output yang kau hasilkan tidak Nihil. Bedakan dengan kata-kata yang kau tulis di sana, hanya menjadi pembangkit kemarahan dan kalaupun tidak, tak akan pernah membekas. Bekas yang tampak sekali adalah malah jejak-jejak permusuhan dan tambah sengitnya perdebatan. Arrgh…lupakan saja itu.” Panjang sekali sisi lain berpidato dalam relung qalbu.
“Cukup-cukup…saya sudah tahu semuanya. Oke…silakan pergi, saya mau berkontemplasi dulu dengan semua yang telah kau katakan. Tinggalkan saya, jangan sejenak, tapi berjenak-jenak agar saya–sekali lagi–bisa mengambil intinya.” pinta saya memelas.
“Oke…jangan lupakan dan sapalah mereka di sini, teman-temanmu itu.”
****
Pagi beranjak dhuha. Saya mengingat sebuah kata-kata bijak, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya.” Sungguh saya ingin menjadi sebaik-baik manusia dan setelah kontemplasi itu azzam saya semakin kuat. Dan untuk memulainya, pagi ini saya ingin mengucapkan sesuatu pada teman-teman di sini.
“Dari hati yang paling dalam dan tak bisa terukur kedalamannya, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman. Thanks for reading, thanks for your visiting, thanks for your comments.”

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:05 27 April 2006

My Brothers and My Sisters: I Love You All


Wednesday, April 19, 2006 – Brothers & Sisters: I Love You All

My Brothers and My Sisters: I Love You All

Tepat dengan keriangan dua buah hati yang menyambut saya sepulang kantor, terdengar sayup-sayup dari kamar terdepan rumah kami sebuah nasyid yang sangat familiar di telinga saya dua tahun belakangan ini.
Alunan nasyid itu keluar dari sebuah speaker komputer rumah yang sepertinya sedari tadi dinyalakan oleh anak sulung kami: Haqi.
“Haqi, …siapa yang menyalakan nasyid ini, sayang…?” langsung saja saya bertanya. Tidak ada jawaban, cuma isyarat dengan jempol yang ditunjukkan pada dadanya.
”Memang kenapa setel nasyid ini…?” tanyaku lebih lanjut.
”Soalnya enak lagunya,” jawab dia cengengesan. Weks…, anak kecil kayak gini sudah punya apresiasi pada nasyid seperti ini.
Terus terang saja saya kurang menyukai nasyid, walaupun sering juga dulu saya membeli kaset nasyid hanya untuk mendengar sepintas lalu. Apalagi zaman sekarang banyak jenis nasyid yang sudah sangat susah dibedakan dengan lagu-lagu ruhani lainnya. (seperti qasidahan, gambus, apalagi dengan salam min ba’id-nya, dan sebagainya).
Tapi entah kenapa, saya sepakat dengan penilaian anak yang baru menginjak enam tahun ini. Lirik syairnya menggugah urat-urat keindahan kata pada diri saya. Membongkar gudang ingatan pada banyak teman di timur, di utara, di barat, ataupun di selatan, dan pada empat penjuru arah mata angin yang tersisa.
Dan hal ini bertepatan pula dengan hati saya yang lagi melow banget gitu loh pada banyak teman saya sedari kemarin. Maka saya kontak mereka, di kebayoran baru dua, kantor pusat, di pulau seberang sana, di parkiran motor, atau di tempat lainnya. Masih saja belum menuntaskan kerinduan ini. Di tambah lagi dengan nasyid yang mengalun sendu, lengkap sudah ke-melow-an ini.
Doa Perpisahan judul nasyid itu. Disenandungkan oleh Brothers salah satu grup nasyid negeri jiran. Ada kata-kata indah di sana: menitikkan ukhuwah yang sejati, kan kuutuskan salam ingatanku dalam doa kudusku sepanjang waktu, senyuman yang tersirat di bibirmu menjadi ingatan setiap waktu. Subhanallah…
Lalu saya membaca bukunya Abbas As-Siisiy, dan mengetahui hal ini:
“Dari Anas ra.bahwa ada seorang laki-laki berada di dekat rasulullah saw., lalu ada seorang laki-laki lain lewat di depannya. Orang (yang berada di dekat Rasulullah) itu berkata, “Ya Rasul, sungguh saya mencintai orang itu.” Rasulullah bertanya, “Apakah kamu sudah memberitahunya?” Ia berkata, “Belum.” Rasulullah bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Kemudian ia mendekati orang itu dan berkata, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah swt.” Laki-laki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah—yang karena-Nya engkau mencintai aku—mencintamu.” (Era Intermedia, 03/2005)
Maka di saat ini, agar Allah mencintai saya, saya akan menyatakan kepada Anda semua dan khususnya ikhwatifillah yang teringat di benak saya atas kenangan-kenangan masa lalu di perjuangan kampus dan setelahnya, bahwa aku mencintai kalian karena Allah swt.
Sungguh ikhwatifillah—mengutip Abbas As-Siisiy pula—persaudaraan karena Allah adalah curahan perasaan, berjuang untuk membantu saudaranya demi peningkatan potensi diri secara bersama-sama, dengan tarbiyah dan takwiniyah, ”penyemaian biji”, ”pencabutan rumput”, dorongan semangat dan hasrat, penyebaran dakwah melalui persaudaraan yang tulus, ibadah yang khusyuk, serta kontinuitas dalam menyampaikan dakwah dengan cara yang baik. (p 212).
Ikhwatifillah, maka dengarkanlah betapa banyak syair duniawi yang berkata demikian:
-kenapa harus bertemu jika akhirnya berpisah-
-kau yang memulai kau yang mengakhiri-
-kau yang berjanji kau yang mengingkari-
(halaah, dangdut banget).
Tapi ada bedanya ikhwatifillah, bahwa di dalam setiap keberpisahan kita yang dibatasi dengan ruang dan waktu, ada doa diantaranya, sebagai penghubungnya, sebagai jalinannya.
Maka tiada hati yang tersakiti, tiada dukun yang bertindak, tiada seutas tali menghias di leher atau pisau belati yang tertancap di dada dan membelah nadi di tangan seperti kebanyakan para penikmat cinta negeri ala Romeo dan Juliet, Sampek dan Engtay, Qais dan Laila, Mark Antony dan Cleopatra, atau cinta lokal seperti Kamajaya dan Kamaratih, Baridin dan Titin pada sandiwara Kemat Jaran Guyang.
Lalu Ikhwatifillah, seperti pada bait-bait terakhir syair doa perpisahan itu, maka saya berharap kalian mengenang saya dalam doa kalian, agar Allah senantiasa meridhoi persahabatan dan perpisahan ini. Dan semoga pula kita adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang dengan muka berseri-seri, tertawa, dan bergembira ria pada hari saat tiupan sangkakala kedua terdengar memekakkan telinga, tidak dengan muka yang tertutup debu dan ditutup lagi oleh kegelapan (semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian).
Ikhwatifillah, sekali lagi: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala”.
Ikhwatifillah, sila untuk menikmati syair yang saya nikmati tadi malam.

Doa Perpisahan
By Brothers

Pertemuan kita di suatu hari
Menitikkan ukhuwah yang sejati
Bersyukurku ke hadirat Ilahi
Di atas jalinan yang suci
Namun kini perpisahan yang terjadi
Dukaan yg menimpa diri ini
Bersama lagi atas suratan
Kutetap pergi jua

Kan kuutuskan salam ingatanku
dalam doa kudusku sepanjang waktu
Ya Allah bantulah hamba-Mu
Mencari hidayah dari pada-mu
Dalam mendirikan kesabaranku
Ya Allah tabahkan hati hamba-Mu
di atas perpisahan ini

[Teman, betapa pilunya hati ini
Menghadapi perpisahan ini
Pahit manis perjuangan
Telah kita rasa bersama
Semoga Allah meridhoi
Persahabatan dan perpisahan ini
Teruskan perjuangan]

Kan kuutus kan salam ingatanku
Dalam doa qudusku sepanjang waktu
Ya Allah bantulah hambamu
Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam doamu
Semoga Tuhan berkatimu
***

Untuk yang saya sebut namanya di sini:
Mas Eko (Ketum UMMP 1994),
Mas Emil Fadli Sulthan (pengantar saya mengenal Qaulan Sadiida),
Mas Rudi Hartaseptiadi dan Mbak Farrah (baru teringat kemarin dari kang Awe),
Mas Trisna (yang mengenalkan saya pertama kali pada jama’ah ini),
Mas Anang dan Mas Anang Anggarjito yang satunya lagi.
Lukman Bisri Hidayat, Ramli, Ujang Sobari, Bambang Najmuddin, Agus, Faisal Alami (foto kita berdua memang sedang lucu-lucunya), Totok dan kembarannya, Wisnu, Yulianto (masih jadi jurusita?), Sofa, Supriyatno yang di Mataram, Abbas Hs, Rino Siwi, Duet Siti Nur’aini dan Siti Shobiroh, Murdiana, Alkhayatun Widiastuti, Ita (afwan saya lupa nama kepanjangannya), Anandanov, juga Fardi Parawansa di Palangkaraya.
Saksikanlah: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala.”
Dan juga kepada yang belum saya sebutkan namanya satu persatu dan telah menorehkan, memahat, dan merelief banyak bahkan berjuta kebaikan di hati saya: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala.”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
semoga bukan basa-basi belaka
masih dengan brothers yang terus di rewind.
21:54 18 April 2006

WO AI NI


Thursday, April 13, 2006 – WO AI NI

Tanggal 13 April enam tahun yang lalu, dini hari, seorang perempuan berjuang sendirian antara hidup dan mati untuk melahirkan jabang bayinya yang pertama, di sebuah rumah sakit swasta milik gereja di Semarang. Berjam-jam tidak kunjung keluar walaupun sudah diberikan berbagai macam perangsang, akhirnya diputuskan proses persalinan itu dibantu dengan alat vakum. Allah masih memberikan kepadanya kesempatan untuk hidup dan mendidik anaknya.
Lalu kemana sang suami…? Ternyata ia masih ada di Jakarta. Ia sedang mengikuti hari terakhir Acara Pengenalan Kampus di sebuah perguruan tinggi khusus untuk Pegawai Negeri Sipil, yang wajib ia ikuti sebagai salah satu syarat mengikuti pembelajaran di kampus tersebut.
Malam harinya di saat ada api unggun di tengah lingkaran besar sebagai acara penutupan, hatinya merasa tidak enak. Seperti ada sesuatu yang telah terjadi. Dan ia teringat akan istri tercintanya itu, sedang apakah gerangan…? Sudahkah perjuangan itu selesai? Ah, yang ia tahu cuma beberapa hari lagi dirinya akan mempunyai jabang bayi. Tapi saat ini ia tak kuasa untuk berbuat apapun, selain acaranya padat juga pada saat itu telepon genggam adalah masih barang langka dan bukanlah barang murah yang bisa ia miliki.
Setelah acara itu selesai, segera ia bergegas ke wartel, untuk menanyakan perkembangan sang istri kepada keluarga besarnya. Berita yang mengejutkan dan menggembirakan, bahwa ia telah menjadi seorang bapak dari seorang bayi laki-laki. Ah, ia tidak menyangka, umurnya pun baru 23 tahun. Benarkah ia kini telah menjadi seorang bapak…?
Petang keesokan harinya, setelah seharian mempersiapkan perbekalan, segera ia bergegas ke stasiun Jatinegara untuk mengejar kereta api terakhir menuju Semarang. Di tengah senja Jakarta, di tambah suasana mendung, lengkap sudah hiruk pikuk dan kemacetannya.
Persis saat ia menurunkan kakinya dari angkot, baru saja terdengar pengumuman bahwa kereta api akan siap untuk diberangkatkan. Segera dengan terburu-buru ia menuju ke loket, antri sebentar, lalu menyerahkan uang, menerima tiket dan uang kembalian, bersamaan itu terdengar peluti panjang, Pritttttttttttttttttttttt……………! Serta deram dari benda yang bergerak semakin cepat.
Semua yang melihat lelaki muda ini berlarian menuju pintu kereta yang masih terbuka itu, menyemangatinya untuk segera mengejar kereta dan meraih pegangan pintu. Cepat…!Cepat…! Huph…dengan satu lompatan panjang dan terakhir mampulah ia meraih besi itu. Meninggalkan tatapan dan senyuman banyak orang dibelakang, pula Jakarta yang kian pekat, malam.
Pfhhhh…ia menghela nafas, mengelap cairan yang membasahi dahinya. Dan angin yang menerobos dari jendela kereta mampu membantu mengeringkan lebih cepat bekas-bekas usaha kerasnya. Tak hanya itu, mampu membuatnya beristirahat panjang, tertidur, dan menganyam mimpi.
Pukul tiga pagi, kereta api itu akhirnya mengakhiri perjalanannya di Stasiun Tawang. Dengan diantar tukang becak, sang suami menuju rumah sakit yang letaknya tidak sampai satu kilometer dari stasiun. Semarang dini hari masih lelap dan belumlah menggeliat.
Halaman depan rumah sakit kecil itu sepi, yang ada hanyalah seorang lelaki berumur yang berjaga-jaga di pintu gerbang. Setelah berbasa-basi sebentar, sang suami mulai mengutarakan maksud kedatangannya untuk menjenguk istrinya yang baru melahirkan.
Tapi apa lacur, penjaga itu tidak memperbolehkannya masuk dikarenakan bukan waktunya untuk membesuk. Tapi setelah diketahui bahwa kedatangannya jauh-jauh dari Jakarta, penjaga itu akhirnya mengizinkan sang suami untuk menemui istrinya, itupun setelah berdiskusi sebentar dengan suster (berkerudung suster gereja). Namun tetap tidak diperbolehkan masuk ke kamar, dan hanya dipersilakan untuk menunggu di bangku panjang khas rumah sakit yang ada di ruang tunggu itu.
Tiba-tiba di saat ia sedang melihat-lihat suasana yang baru saja diakrabinya. Keluar dari kamar paling ujung, sesosok perempuan berjalan di sepanjang lorong. Tertatih-tatih. Perlahan. Dengan salah satu tangannya masih tetap berpegangan pada dinding.
Sosok yang amat dikenalnya setahun belakangan ini menyembulkan senyumnya kepada sang suami yang bersegera meraih tubuhnya dan menuntunnya pada bangku. Namun terlihat oleh sang suami kegelisahan pada wajah istrinya saat ia duduk. Jahitan yang masih baru, terasa mengganggu dan membuatnya tidak betah untuk duduk berlama-lama.
Melihat penderitaan istrinya, yang perlahan dan tertatih-tatih saat berjalan dan wajah masih berhias ringisan, membuat keteguhan sang suami goyah. Matanya mulai berkunang-kunang dan gelap, perutnya terasa mual dan ingin muntah. Ia segera berlari ke toilet dan menumpahkan semua yang ada diperutnya. Ah, kenapa ia bisa jadi begini…? Empati berlebihan atau ketidaktegaan…?
Beberapa menit kemudian…
“Di mana anak kita…?”tanya sang suami.
“Di ruangan khusus bayi, berkumpul dengan bayi yang lainnya,” jawab istrinya.
“Bisa dilihat sekarang, Dek?”
“Sepertinya tidak bisa, Mas. Soalnya sudah peraturan di sini, bayi bisa dikeluarkan kalau saatnya menyusui memakai ASI. Mungkin mas besok lagi kesini. Sekarang pulang saja dulu ke ibu. Istirahat dulu ya, Mas.”
“Ya, sudah kalau begitu. Tidak ketukar kan dengan yang lain?” sedikit cemas, apalagi di rumah sakit seperti ini.
“Insya Allah, tidak.”
“Maafkan Mas ya Dek…tidak bisa menemani Adek kemarin.” Sang istri mengangguk sambil tersenyum.
Pergilah sang suami menuju pintu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan dari istrinya. Tiba-tiba ia berbalik, “Dek…mirip siapa dia?”
“Mirip bapaknya.”

Malam pun pupus, kerana shubuh mulai bangun.
####

Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa memandang dengan kecintaan dan kerinduan pada wajah lelap anaknya itu. Berdoa agar ia menjadi anak yang shalih, dan tidak hanya itu, menjadi pejuang bagi addin-nya.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa introspeksi diri, betapa banyak waktu yang terbuang karena dunia, dan menyia-nyiakan golden age serta kebersamaan dengan anaknya yang sudah mulai tumbuh dengan segala keriangan dan kepolosannya.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa menyadari bahwa buah hatinya itu adalah asetnya yang paling berharga dan bukan beban. Pula ini adalah amanah yang tiada terkira hitungan bilangannya, bahkan senilai dengan jaminan dikeluarkan diri dari siksa api neraka.
Ah, ingatan enam tahun lalu, membuatnya senantiasa bersabar atas segala perilaku, menjawab sebisa mungkin segala tanya, dan untuk menjadi yang senantiasa dirindukan dan dicarinya saat membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Walaupun tidak seaman dan seabadi perlindungan dan kasih sayang Allah.
Ah, ingatan enam tahun lalu membuatnya berusaha mencari apa yang diminta anaknya pada ibunya tadi pagi sebelum berangkat kantor. “Bu…hadiahnya buku ya Bu. Buku yang ada jamnya itu loh. Soalnya Iz mau belajar jam-jaman, Bu” pintanya.
Ah, ingatan enam tahun lalu membuatnya berusaha untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan setiap momen-momen penting anaknya—yang bisa jadi tidak bermakna buat yang lain—hanya agar kelak anaknya tahu betapa ia mencintai dirinya.
Ah, ingatan enam tahun lalu dan ingatan pagi ini, membuatnya ia teringat sepenggal ayat ini:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (AlKahfi:46)
Ah, ingatan enam tahun lalu dan pagi ini, membuat harapnya membuncah ke angkasa. Tidak hanya satu tapi berjuta harap untuk kebaikan diri dan anaknya pada SangPengabulHarap.
Ah, saat ini ia berkata: “aku mencintaimu, istriku…”
Dan ia pun berkata lagi: “aku mencintaimu, anakku…”