Gamay di antara Microsoft dan Google


GAMAY DI ANTARA MICROSOFT DAN GOOGLE

Malam ini saya sudah tidak sabaran sekali untuk menuliskan tentang Google setelah membaca sebagian halaman dari sebuah buku yang mengisahkan tentang kesuksesan Google—yang dirintis dua orang keturunan Yahudi—untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi terbesar dengan nilai kapitalisasi saham yang tidak pernah dibayangkan para kapitalis untuk perusahaan baru tumbuh seperti Google. Di benak saya sudah tak terbendung lagi air bah ide untuk dituliskan agar tidak meluber kemana-mana.
Tetapi saya tidak akan menuliskan begitu saja isi tentang buku itu, karena apa yang mau saya tulis sedangkan bagi saya semuanya dari halaman pertama hingga halaman 167—halaman yang sedang saya baca, dan saya percaya sampai halaman terakhir pun—menarik semua dan tidak akan membuat saya bosan. Wajar saja kalau Daily Mail menulis sebuah endorsement di sampul depan buku berwarna putih—khas gaya antarmuka Google—itu dengan sebuah ungkapan: ”Sungguh memikat, ditulis dengan gaya kisah detektif…sangat cerdas.”
Di sini saya cuma ingin mengungkapkan sebuah kisah atau beberapa kisah tentang pergaulan saya dengan Google—sebuah ikon tentang citarasa gaya surfing masa kini yang membuat Bill Gates panik karena banyak sekali para lulusan tercerdas dari kampus-kampus ternama Amerika Serikat berusaha bergabung dengan Google alih-alih bergabung dengan Microsoft.
Ya, kisah yang dimulai dari sebuah keputusasaan saya mencari arsip-arsip penting di komputer desktop saya. Dengan mengklik tombol start di Windows bawaan komputer, lalu menekan tombol Search dengan ikon sebuah kaca pembesar maka muncul tampilan search result dengan balloon yang diungkapkan seekor anjing berwarna coklat.
”What do you want to search for?” tanya anjing itu. Maka saya ketikkan keywords dari file yang saya cari itu. Setelah saya memilih salah satu menu yang ada di sana lalu menekan tombol search, maka mulailah pencarian itu dimulai dengan si Anjing berdiri pura-pura sibuk membuka halaman-halaman buku tebal itu. Satu atau dua kemungkinan yang muncul pada search result. “Search is complete. There are no results to display.” Itu kemungkinan yang pertama. Selanjutnya adalah kalau file itu ada maka hasil pencarian memakan waktu yang cukup lama. Bermenit-menit bahkan. Sungguh lama sekali. Saya frustasi dengan hal ini.
Tetapi setelah saya mengenal Google di awal pengenalan saya dengan internet di tahun 2002, apalagi setelah Google mengeluarkan perangkat lunak canggihnya yaitu Google Desktop walaupun masih dalam versi beta, membuat persepsi saya tentang sebuah pencarian di komputer rumahan menjadi berubah, dari semula mengerikan, mimpi buruk menjadi mengasyikkan dan saya sungguh menikmatinya.
Google Desktop memberikan kepuasan manusiawi dalam hitungan detik dari pencarian ribuan file yang bersemayam dalam komputer kita. Sekarang saya tak lagi pusing-pusing lagi menemui file yang lupa disimpan di mana karena tidak suksesnya saya dalam penertiban administrasi file.
Software kecil tersebut juga memberikan fasilitas kotak pencarian kecil di taskbar—letaknya biasanya di sudut kanan bawah. Dengan ini saya tak perlu membuka halaman browser untuk pencarian sebuah file. Dengan mengetikkan satu huruf depan dari keywords maka akan tampil di atas taskbar tersebut indeks dari file-file yang dicari. Microsoft pernah sesumbar untuk membuat search engine desktop yang mampu mencari file dalam setiap bit di pc, tapi MSN Search (mesin pencari buatan Microsft) pun masih tak sanggup menandingi kehebatan PageRank—sistem Google dalam pencarian di dunia maya.
Luar biasa. Dulu hingga kini saya sangat terbantu dengan fasilitas ini. Oleh karena itu di saat saya pindah kantor dan menjumpai personal computer (pc) baru di hadapan saya, yang pertama kali saya lakukan adalah menginstalasi program bagus tersebut. Saya merasa seperti orang buta tanpa tongkat dengan tiadanya fasilitas itu.
Satu lagi bantuan yang membuat saya terpuaskan dari sistem pencarian ini adalah kemampuannya mengorganisir apa yang saya mau saat mencari data jurnal dan tesis. Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada fasilitas ini, kemungkinan besar saya tidak bisa menyelesaikan tesis dalam waktu dua bulan penuh. Karena saya harus kemana-mana mencari data primer ataupun sekunder. Ke lokasi perusahaan, perpustakaan, ataupun ke Bursa Efek Jakarta.
Tapi dengan Google saya cuma cukup dengan memelototinya dan melihat bagaimana ia menginventarisir web-web mana saja yang harus saya kunjungi dan menyediakan data tersebut. Mulai dari Jakarta Stock Exchange, Yahoo! Finance, Reuters, Bloomberg, Republika Online, Kompas Online, dan situs-situs keuangan lainnya. Alhasil saya tak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman berbagai referensi di perpustakaan atapun tempat-tempat yang saya sebutkan tadi.
Saya perlu menyatakan pula, dengan Google itulah saya menemukan satu tesis lengkap—mulai halaman pertama sampai akhir—yang menarik saya dan memberikan ide awal untuk membuat tesis. Menurut saya tesis si fulan ini cukup bagus, mudah dimengerti, dan satu yang pasti adalah sarannya yang memberikan ruang gerak kepada penelitian lanjutan. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan penelitiannya.
Tapi secara moral saya perlu legitimasi untuk ini, oleh karena itu saya perlu meminta izin secara informal dari penulis tesis. Lalu menghubungi siapa? Saya tak tahu kemana saya harus melakukan kontak dengan sang penulis. Tapi saya berpikir cepat, insting saya berjalan, karena dalam kata pengantar tesisnya ia adalah termasuk orang yang tidak gamay (gagap dunia maya) dan juga seorang blogger, saya langsung ketikkan nama si fulan di Google, Jreng….!!! Di layar, tampak alamat dan nomor telepon genggamnya. Saya sukses besar meminta kepadanya untuk mengizinkan saya melanjutkan penelitiannya dengan mengganti variabel-variabel penelitian dan menambah time frame penelitian sesuai apa yang disarankan pada bab terakhir tesisnya itu.
Berkaitan dengan penelitian saya kutip satu paragraf dalam buku tersebut:
Pelajar dan mahasiswa, berapa pun usia mereka, adalah pengguna Google kelas berat, walaupun ada guru dan dosen yang terus menyuruh mereka menggunakan mesin pencari akademik yang lebih khusus, selain mendorong pemanfaatan perpustakaan, pertemuan tatap muka, dan sejumlah cara lain yang tradisional dan telah teruji untuk mendapatkan informasi penting. Tokoh pendidikan masih belum satu pendapat soal manfaat Google. Banyak yang mengatakan Google menjadikan mahasiswa malas, mendorong plagiarisme, dan mengganggu proses belajar dengan memungkinkan pengambilan data secara cepat, alih-alih memaksa mereka melakukan penggalian yang didorong oleh hasrat untuk tahu lebih banyak mengenai suatu bidang. Namun yang lain memujinya, mengatakan bahwa kemudahan dalam penggunaannya mendorong orang mengeksplorasi dan menganalisis dokumen-dokumen penting kapan pun, entah siang atau malam. Mereka juga berpendapat bahwa Google meminimalkan perbedaan yang dihadapi oleh mahasiswa, entah sekolah atau universitas mereka besar atau kecil, entah mereka kaya atau miskin, dan entah mereka mempunyai akses ke perpsutakaan yang lengkap atau tidak sama sekali. Pendek kata, mereka mendukung tujuan Google untuk mendemokrasikan akses ke informasi, termasuk hasil penelitian ilmiah yang terus bertambah.(Vise: 2006).
Bagi saya, manfaat Google adalah menurut pendapat yang kedua. Ya, setidaknya untuk mengimbangi gap intelektualisme dan mencegah diskriminasi penyebaran informasi antara negara maju dan berkembang.
Begitu banyak manfaat yang didapat dari Google yang tidak bisa saya ungkapkan di sini. Dan terakhir saya cuma berpikir tentang kalimat di bawah ini saat memakai Google: ”Al-hikmatu dhaallatul mu’min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa”. Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya.” (Kalimat ini pun saya temukan dengan searching via Google).
Saya tidak tahu bagaimana kontribusi mereka terhadap Israel, saya cuma tahu mereka pernah berkunjung ke Israel untuk memotivasi para murid di satu sekolah khusus para jenius agar tetap eksis dengan ditemani oleh Mikhail Gorbachev dan Shimon Perez (pembantai rakyat Palestina).
Oleh karena itu untuk tetap memelihara semangat dan dukungan perjuangan kepada rakyat Palestina dan berhati-hati terhadap dana yang bisa disumbangkan kepada Israel, saya cuma bertekad untuk tidak mengklik teks iklan yang disediakan oleh Google di sebelah kanan situsnya, karena dari sanalah jutaan bahkan milyaran dollar pemasukan Google di dapat. Berhati-hati tidak mengapa bukan…?
So, sila ber-google-ria, tentunya dengan cerdas.
Allohua’lam bishshowab.

***
”Pak, kok di situs pajak saya tidak mendapatkan peraturan yang saya cari ya?” tanya seorang Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Tiga.
”Ah, yang benar, masak sih Bu…?” tanya saya menyangsikannya.
”Betul Pak, saya sudah lama nyari tapi tetap gak ketemu,” jawabnya dengan dialek jawa yang kental.
”Ya sudah ibu cari di Google saja,” saya memberikan solusi.
“Google? Situs apaan tuh Pak?
“What the…?” pikir saya dalam hati. Wajib Pajak PMA, lokasi di Surabaya, sering pakai email, kejadian ini benar adanya kurang lebih sebulan yang lalu. Gap?

***

Maraji’: Vise, David A. dan Malseed, Mark. (2006). Kisah Sukses Goggle, Cetakan Kedua, Jakarta: PT GPU

Riza Almanfaluthi
(seorang gamay juga)
dedaunan di ranting cemara
malam ramai di gelapnya mendung berhias sabit

05:27 24 Januari 2007

Siapa Teroris? Siapa Khawarij?


Siapa Teroris? Siapa Khawarij?
(ini bukan resensi)

Buku yang ditulis oleh Abduh Zulfidar Akaha ini memang luput perhatian dari saya. Buktinya buku yang terbit perdana di Bulan Juni 2006 ini baru saya ketahui hari Kamis (14/09) kemarin. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang buku ini tapi berupa iklan penjualan vcd bedah buku ini di sebuah milis. Pun saya menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik.
Tapi setelah saya melihat keramaian di sebuah forum diskusi dunia maya dan melihat betapa yang kontra terhadap buku ini begitu kerasnya meng-counter buku ini, kepenasaran saya langsung muncul. Sorenya sepulang dari kantor saya sempatkan untuk singgah di toko buku di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
Di toko itu, saya mencari-cari di setiap rak tapi tidak ketemu. Padahal dari komputer pencarian, buku tersebut masih ada delapan eksemplar. Dibantu oleh satu orang pegawai yang ikut membantu mencari akhirnya saya menemukan buku itu di rak buku. Pun setelah pegawai toko itu angkat tangan karena tidak bisa menemukannya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar buku itu sudah diretur.
Buku ini adalah bantahan dari sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Luqman Ba’abduh yang berjudul ”Sebuah Tinjauan Syari’at: MEREKA ADALAH TERORIS!” (untuk selanjutnya disingkat MAT). Buku ustadz Luqman ini awalnya diniatkan untuk menjawab buku ”Aku Melawan Teroris!” karya Imam Samudera. Tapi seperti diungkapkan sendiri oleh Akaha di kaver belakang bukunya, bahwa ternyata buku itu secara membabi buta mengarahkan semua tuduhannya ke berbagai kelompok pegiat dakwah Islam lainnya selain salafi yang tidak ada hubungannya dengan Imam Samudera, terorisme, dan aksi bom bunuh diri.
Maka muncullah buku berjudul Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Ini. Buku yang walaupun berformat bantahan, tetapi diusahakan oleh sang penulisnya untuk senantiasa menjaga etika dan batas-batas kesantunan dalam tutur kata dan gaya bahasa penulisannya. Maka pembaca dapat membandingkan sendiri bagaimana etika itu dimunculkan oleh masing-masing penulis ini. Mana yang lebih santun dan mana yang sebaliknya.
Tidak berpanjang lebar dalam berkata-kata, berikut apa yang saya tangkap setelah membaca buku ini:
1. Desain kavernya (hardcover) bagus. Berlatar belakang warna hitam dengan api yang menyala-nyala seperti seakan-akan membakar kaver buku MAT. Kaver depan MAT pun terdapat ilustrasi api yang membakar buku Imam Samudera itu;
2. Peletakkan isi buku pun layak untuk disebut bagus karena sudah diperhitungkan agar para pembaca mudah untuk menikmati isi buku ini;
3. Referensi yang banyak pada catatan kaki. Ini dimungkinkan karena penulis adalah salah satu manajer Pustaka Al-Kautsar—penerbit buku ini. Sehingga data dan informasi otentik yang dibutuhkan lebih mudah didapat. Tidak perlu aneh karena Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit buku-buku terjemahan dari Timur Tengah.
4. Membuat saya lebih memahami tentang arti sebuah perbedaan pendapat;
5. Satu yang pasti adalah buku ini menjawab hampir semua pertanyaan dan tema kontroversial di forum diskusi DSH;
6. Saya tidak bisa menuliskan kelebihan (yang tentunya terdapat pula kesalahan di dalamnya karena yang pasti sempurna adalah Alquran) yang ada pada buku ini, karena saking banyaknya. Saran saya buku ini layak untuk dibaca bagi para penggiat dakwah.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:56 18 September 2006

The Hobbit


12.01.2006 – The Hobbit
Kemarin, baru saja saya menyelesaikan membaca yang kedua kalinya buku karangan JRR Tolkien ini. Walaupun Anda sudah membaca novel lainnya yang sudah difilmkan oleh Peter Jackson, trilogi The Lord of The Ring mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, hingga The Return of The King, maka itu belumlah lengkap sebelum Anda baca buku yang berjudul The Hobbit.
Karena peristiwa besar di trilogi itu berawal dari seratus tahun sebelumnya yang diceritakan dalam buku ini. Dengan ditemukannya cincin setan oleh tokoh utamanya Bilbo Baggins, kakek Frodo Baggins, dalam sebuah dasar gua gelap di pegunungan berkabut.
Buku yang saya temukan di rak toko buku di bilangan Kalibata Maret 2004 lalu itu memberikan gambaran utuh dari kisah-kisah yang dibuat oleh Tolkien ini. Membaca bukunya tidak membuat kening berkerut karena selain tampilan font-nya lebih besar dari buku trilogi juga penuh dengan petualangan yang menegangkan dari para tokoh-tokohnya yang terdiri Gandalf sang penyihir putih, satu hobbit dan tiga belas kurcaci.
Sekadar menambah informasi saja, buku Tolkien ini dijadikan oleh bangsa barat sebagai rujukan dalam penamaan dan penggambaran makhluk-makhluk aneh selain manusia, seperti Orc, Goblin, Warg, Troll, Elf, Hobbit, dan Dwarf. Empat nama pertama selalu menjadi pihak kejam, sadis, dan selalu berlawanan dengan tiga yang terakhir kawan manusia.
Saking menariknya hingga saya membacanya berulang-ulang kali dan menambah penasaran saya pada buku-buku Tolkien lainnya. Sampai saat ini saya belum menemukannya, dengan mencarinya di toko buku ataupun searching di internet. Mungkin kalaupun ada, itu pun masih dalam bahasa aslinya. Entah di suatu hari nanti.
So, baca ini baru itu…
dedaunan di ranting cemara
hujan lebat
17:48 10 Januari 2006

Kisah Klan Otori


Kisah Klan Otori
Across The Nightingale Floor

Tomasu menyaksikan bekas-bekas pembantaian terhadap penduduk desa Hidden yang dilakukan Iida Sadamu, pimpinan klan Tohan pemenang pertempuran Yaegahara sepuluh tahun yang lalu atas gabungan klan Otori, Maruyama, Shirakawa.
Namun ia diketahui oleh anak buah Iida dan dikejar ke hutan, hingga diselamatkan oleh Lord Otori Shigeru, pewaris sah klan Otori yang dalam perjanjian dengan klan Tohan, ia tidak boleh menjadi pemimpin klan, oleh karenanya saat ini, pimpinan dipegang paman-pamannya.
Tomasu pun diangkat anak oleh Lord Shigeru dan namanya berganti menjadi Otori Takeo yang mempunyai hak sebagai pewaris kelak. Di Hagi, ibukota klan Otori, ia dididik Muto Kenji—teman Shigeru dan seorang Tribe—berlatih pedang, baca tulis, dan melukis. Dari sanalah ia mengetahui bahwa dirinya pun adalah keturunan Tribe—sebuah kelompok diluar klan yang mempunyai keistimewaan hebat. Ia pun mempunyai kehebatan berupa pendengaran yang peka sehingga dapat mengetahui bunyi-bunyian dan pembicaraan orang dari jarak jauh.
Suatu saat Iida Sadamu menghendaki Lord Shigeru untuk menikah dengan Lady Kaede, putri Lord Shirakawa. Iida Sadamu pun melamar Lady Maruyama Naomi, sepupu Lady Kaede dan pimpinan klan Maruyama. Padahal secara diam-diam antara Lord Shigeru dengan Lady Maruyama telah terjalin hubungan yang membuahkan janin.
Untuk itu Iida sadamu memanggil mereka datang ke kastilnya di Inuyama. Di kastil itulah Iida membuat sebuah bangunan berlantai khusus untuk dirinya. Jika ada orang yang melangkah di atasnya maka lantai itu akan berbunyi, sehingga dinamakan the nightingale floor. Sehingga Iida pun akan merasa aman dari serangan mendadak. Yang tak diketahui Iida pada saat itu telah direncanakan sebuah upaya pembunuhan dirinya oleh Shigeru dan Kenji.
Namun rencana itu gagal total oleh adanya pengkhianatan, dan Iida Sadamu tetap terbunuh bukan oleh mereka, tapi oleh seorang Kaede yang dipaksa untuk melayani nafsunya.

****
Membaca buku pertama dari trilogi Klan Otori yang ditulis oleh Lian Hearn, membawa kita pada pengenalan bermacam-macam klan sebagai budaya masa lampau Jepang. Walaupun ini fiktif setidaknya—ini pun diakui oleh penulisnya sendiri—ada penggambaran yang nyaris dan sempurna mendekati kebenaran fakta sejarah Jepang, seperti tokoh Sesshu, seniman dari klan Sesshu, yang dalam novel pertama ini tak ada peran sama sekali.
Penggambaran karakter tokoh seperti Otori Takeo cukup mendalam. Namun tidak pada Lord Shigeru yang di awal novel ini digambarkan cukup berkarakter dan mumpuni untuk menebas dengan sekejap kepala dan tangan para pengejar Tomasu. Anda harus gigit jari kalau berharap terjadi pertempuran ala samurai antara Lord Shigeru dan Iida. Lord Shigeru digambarkan begitu lemah di akhir-akhir cerita.
Ada yang tidak sesuai pada apa yang ditulis di kaver belakang dan situsnya (www.penerbitmatahari.com) dengan isi dalam novel ini. Kalau Anda baca maka akan temukan paragraph seperti ini:

Iida Sadamu, seorang bangsawan kejam, memandang nightingale floor miliknya di Kastil Inuyama. Lantai ini akan berbunyi bila ada yang melangkah di atasnya. Namun, ada seorang anak bernama Takeo yang mampu melangkah di atas lantai itu tanpa berbunyi.

Di dalamnya tak ada penggambaran bahwa Takeo dapat melalui lantai itu tanpa berbunyi, walaupun sebelum berangkat ke Inuyama ia telah belajar mengatasinya. Yang ada adalah ia berjalan dengan tergesa untuk segera ke kamar Iida, sehingga membuat lantai itu berbunyi. Ini yang menyebabkan Abe, pengawal Iida, tetap mengetahui kedatangannya dan bertarung dengan Takeo. Entah, ini sekadar pemanis kaver atau kecerobohan.
Saya berpikir sama dengan pemberian judul novel ini, karena masalah lantai tidak sebagai focus utama dan hanya beberapa paragraph saja untuk penggambarannya. Tidak ada sisi-sisi istimewa dari lantai itu selain hanya sekadar penyaman tidur Iida. Tidak ada pengisahan yang kuat.
Namun saya memuji disain kaver dengan merah yang mendominasi itu, yang menurut saya “wah”, elegan, dan menarik minat. Penerbit memahami betul salah satu jurus pemasaran ampuh ini. Bungkus menjadi daya pikat nomor satu dan setelahnya baru isi. Tak lupa endorsement memukau dari banyak pihak.
Sebagai sebuah novel yang mendapatkan begitu banyak penghargaan internasional, bagi saya novel ini biasa-biasa saja. Tidak membawa kesan yang cukup mendalam. Entah pada novel yang kedua dan ketiganya. Saya hanya berharap apa yang didapat dari trilogy ini adalah sama seperti saat saya membaca trilogy The Lord of The Ring. Tapi bagi Anda yang membutuhkan bacaan ringan untuk akhir pekan sembari mempelajari salah satu budaya dunia, novel ini cukup layak untuk Anda baca.

dedaunan di ranting cemara
di antara Jenderal Hideki Tojo dan Laksamana Isoruku Yamamoto
09:28 13 September 2005

Novel Imperia


14.7.2005 – resensi NOVEL BARU Akmal: IMPERIA dan Penaklukan Yerusalem

Tentang resensinya Bang Ekky terhadap Imperia-nya Bang Akmal, setidaknya saya sedikit banyak dapat memahami betapa ensiklopedisnya bang Akmal. Ini dapat dilihat dalam paragraph:
“Tetapi, semangat eksplorasi ensiklopedis ini ternyata juga menjadi
bumerang. Akibatnya, cerita menjadi tidak intens dan tidak fokus, di
beberapa tempat. Dan ini yang membedakannya dengan gaya Brown.”
Eksplorasi ensiklopedis ini juga pernah ditanggapi oleh Bang Herry Nurdi dalam resensinya:
“Cerita terakhir, tentang kesaktian Akmal Nasery Basral nampak ketika terjadi diskusi diruang maya milis Forum Lingkar Pena tentang film Kingdom of Heaven. Film yang berkisah tentang Sultan Saladin, King of Lepre, Balian of Ibelin, Tiberias dan berbagai tokoh lain dalam sejarah Perang Salib. Beberapa anggota milis berdebat tentang jalan cerita dan pemerannya. Tentang fiksi dan fakta, tentang eksis atau maya. Dan di antara perdebatan itu, Akmal muncul dengan postingan yang panjang menjelaskan sekian fakta tentang beberapa tokoh, lengkap dengan sejarahnya, asal kotanya, bahkan nama-nama kecil mereka dan nasib mereka setelah peristiwa yang digarap Ridley Scott dalam film itu.”
So, Bang Ekky dan Bang Herri Nurdi tahu persis mengenai Bang Akmal. Ini yang diharapkan bagi para pembaca (saya) dalam membaca resensi kedua abang ini, bahwa peresensi menulis dari kedalaman pengetahuannya dan memahami betul terhadap objek (imperia) juga subjeknya (bank Akmal).
Dalam membaca karya dua peresesensi ini setidaknya saya tidak alami sedikit gangguan. Beda ketika saya membaca sebuah ulasan Film Kingdom of Heaven di Majalah Tempo di halaman 151-152 kolom 6 paragraf 2 edisi 16-22 Mei 2005.
Entah ini sudah diulas (di sadari) oleh Bank Akmal (selaku wartawan Tempo) dalam membaca resensi film itu atau saya juga enggak tahu kalau sudah ada yang mengirim sedikit kritik atas ulasan tersebut dari pembaca Majalah Tempo yang lain—saya sudah mengirim email ke redaksi Majalah Tempo untuk sedikit bercerita tentang paragraph tersebut namun email saya balik lagi dengan “alert” yang berbunyi email undeliverable, mungkin email server di kantor kami yang sedang ngadat.
***
Senin itu Majalah Tempo baru milik teman sudah tergeletak dengan manisnya di meja saya. Setelah sedikit membaca berita utama saya tergerak untuk membaca ulasan film itu yang judul tulisannya adalah “Yang ‘Kudus’ ..yang Berdarah”.
Saya terbentur di halaman, kolom dan paragraph tersebut. Memori saya langsung bergerak memutar sedikit ruang ‘ensiklopedi’ kecil di kepala saya. Apa isi dari paragraph itu, setidaknya saya penggal pada bagian intinya:
“….dan seperti Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala itu, ia mengijinkan warga Yahudi untuk melakukan pekerjaan apa saja, mulai dokter sampai pegawai…”.
Nah di sinilah letaknya yakni pada Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637.
Dapat saya ungkapkan di sini adalah bahwa yang menaklukkan Yerusalem pada era awal pemerintahan Islam Pasca kematian Rosululloh Muhammad SAW adalah sahabat Umar bin Khaththab ra bukan sahabat Abu Bakar (Ashshidiq) ra. Itupun terjadi pada tahun 638 M bukan di tahun 637 M.
Yang pertama ingin saya komentari adalah tahun terlebih dahulu, namun dalam masalah tahun hal ini masih bisa diperdebatkan karena menyangkut adanya konversi dari hijriah ke tahun masehi. Karena dalam berbagai referensi yang saya baca menunjukkan tahun-tahun yang berbeda, berkisar 636 dan 638 M.
Perbedaan tahun penaklukkan itu dapat diungkapkan di sinisebagai berikut:
1. Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 (ensiklopedi ini pas ada di samping Majalah Tempo); PT Ichtiar baru Van Hoeve: terjadinya pada tahun 638 M;
2. Ensiklopedi Islam jilid 5; PT Ichtiar baru Van Hoeve: tahun 636 M (penerbit yang sama memberikan tahun yang berbeda dalam amsalah ini);
3. 100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah; Michael H Hart: Pustaka Jaya: Penakhlukkan Yerusalem terjadi dua tahun setelah Yarmuk (636 M) berarti terjadi pada tahun 638M;
4. Umar Bin Khattab; Muhammad Husin Haekal: Litera Antar Nusa: Penaklukan terjadi 15 Hijriah berarti tahun 622 M (tahun Rasululloh hijrah ke Madinah) ditambah 15 tahun jadi sekitar tahun 637 M, tapi yang fatal (ini entah kesalahan cetak atau bukan saya tidak tahu) ditulis dalam tanda kurung adalah pada tahun 535 M.
5. History of The Arabs; Philip K Hitti: Serambi Ilmu Semesta; tahun penaklukan berkisar tahun 638M.
Saya berusaha mencari di tiga buku lainnya tentang sejarah Daulat Islamiyah yang menyangkut pula Yerusalem ternyata tidak memuat tahun penaklukannya.Sekali lagi bahwa masalah tahun masih bisa diperdebatkan.
Namun yang paling fatal pula adalah bahwa penaklukan Yerusalem itu dilakukan oleh Abu Bakar—saya anggap nama ini adalah nama pendek dari Abu Bakar Assidiq, khalifaturasyidin pertama. Dari delapan buku yang saya baca semuanya jelas-jelas merujuk pada tokoh Umar bin Khattab bukan sahabat Abu Bakar Assidiq.
Salah satu contohnya bisa dilihat pada buku Ensiklopedia Tematis DUNIA ISLAM jilid 2 di halaman 48 kolom 2 paragraf 3:
“Persetujuan ini disampaikan kepada Khalifah di Madinah, yang disertai permohonan agar Umar bersedia datang untuk menerima penyerahan Yerusalem. Pemimpin ini menyetujui perjanjian itu dan segera berangkat ke Palestina. Pada tahun 638 M, penyerahan kota suci itu dilakukan dari Patriach Sophorius kepada Khalifah Umar bin Khaththab.”
Sedangkan pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar belum sampai pada penguasaan Yerusalem, bisa di baca pada halaman 47 buku yang sama pada kolom 2 paragraf 3:
“Pengembangan wilayah pada masa Abu Bakar berlangsung dari 12-13 H. Pada akhir pemerintahannya, pasukan Islam telah dapat menguasai daerah yang cukup luas. Selain Jazirah Arabia, yang dapat disatukannya kembali setelah munculnya gerakan pembangkang, beberapa daerah di luarnya dapat ditaklukan dan dimasukkan ke dalam kekuasaannya. Wilayah-wilayah yang berhasil ditaklukannya pada masa khalifah pertama ini antara lain Ubullah (terletak di pantai Teluk Persia), Lembah Mesopotamia, Hirah, Dumat al Jandal (kota benteng yang terletak di perbatasan Suriah), sebagian daerah yang berbatasan dengan Palestina, perbatasan Suriah dan sekitarnya.”
Kesimpulannya adalah Abu Bakar tidak sempat membebaskan Yerusalem pada masa keperintahannya karena beliau keburu wafat. Pada masa Umar bin Khattab itulah dilanjutkan ekspedisi tersebut hingga akhirnya Yerusalem dapat ditaklukkan.
Demikian koreksi ini saya sampaikan, karena bagi mereka yang terbiasa membaca tentang sejarah Islam akan mengalami “keterperanjatan” yang mengganjal.
Saya mohon maaf kalau hal (ulasan Kingdom of Heaven) ini sudah basi, atau sudah dibahas oleh Bang Akmal dalam postingan yang terdahulu, karena saat itu saya belum mengikuti milis ini.
Kurang lebihnya mohon maaf. Billaahittaufiq wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.
dedaunan di ranting cemara
di antara malam yang smakin menggigit
citayam, 02.15, 15 Juli 2005

The Black Heroes


THE BLACK HEROES: Malam sabtu kemarin, saya kembali menemukan suatu—menurut saya—tayangan bagus di salah satu stasiun swasta. Yakni tentang sebuah film yang menceritakan tentang kepahlawanan orang Afro Amerika. Film itu dibintangi oleh Denzel Washington.
Film berkisah nyata ini mengisahkan tentang seorang petinju terkenal saat itu di tahun 60’an—saat Amerika penuh hawa rasialisme, dituduh dan difitnah seorang polisi kulit putih rasialis, telah membunuh tiga orang. Dan dengan tuduhan tanpa bukti itu ia harus mendekam selama 20 tahun untuk suatu perbuatan yang tak pernah dilakukannya. Dalam penjara ia menulis sebuah buku otobiografinya dengan judul: The 16th Round: From No. 1 to No. 45472.
Kemudian buku tersebut menginspirasikan suatu keluarga untuk membantunya. Dan pada akhirnya dengan upaya keras luar biasa dari keluarga tersebut, Rubin “Hurricane” Carter dapat menghirup kebebasan yang selalu diimpi-impikannya.
Terus terang saja film itu sedikit banyak memberikan suatu paradigma lain tentang kepahlawanan kulit hitam. Seorang Spike Lee (sutradara hitam) sampai mengatakan bahwa untuk membuat tentang kepahlawanan orang hitam harus dibuat oleh orang hitam. Ia berkata demikian ketika Norman Jewinson seorang kulit putih ingin menyutradarai Denzel Washington dalam film Malcom X (1992). Di sini Washington mendapat nominasi Oscar Aktor Terbaik Namun tujuh tahun kemudian Jewinson mendapat kesempatan untuk menyutradarai Washington dalam film pahlawan kulit hitam: Rubin “Hurricane” Carter. Dengan peran ini Washington memperoleh Golden Globe.
Seringkali bagi saya, kalau melihat tontonan Hollywood, selalu yang saya cari adalah bintang utama yang diperankan oleh seorang kulit hitam. Sepertinya itu memuaskan hasrat saya tentang ketidakadilan yang menimpa mereka selama berabad-abad melalui jalur perbudakan di Afrika Barat seperti Mali, Senegal, sampai ke Sungai Mississippi Alabama.
Seperti juga dalam film yang dibintangi oleh Samuel Jackson, yang diadaptasi dari sebuah novel terkenal (judul film dan buku tersebut saya lupa). Ia memerankan seorang ayah yang harus berhadapan dengan hukuman mati karena telah membunuh ketiga orang kulit putih yang dibebaskan dari pengadilan, dimana tiga orang itu telah memperkosa dan menyiksa anaknya yang masih kecil. Kalau tidak salah Jackson juga memperoleh nominasi Oscar.
Ada lagi film televisi dan ini pun kisah nyata, tentang serombongan kulit hitam dari Afrika yang menumpang secara gelap sebuah kapal kargo Eropa, pada akhirnya mereka ditemukan, dibantai habis dan mayat-mayat mereka dibuang ke laut. Satu dari mereka lolos dan dikejar di dalam kapal tersebut. Dengan segala upaya untuk mempertahankan hidup ia berjuang dengan keras sampai polisi pelabuhan Perancis menemukannya. Sayangnya lagi-lagi saya lupa judul filmnya. Sampai saat ini orangnya masih hidup.
Ada lagi tentang pahlawan hitam berlatar belakang pembantaian di Rwanda judulnya HOTEL RWANDA. Film yang dibintangi oleh Don Cheadle dan Sophie Okonedo mulanya saya anggap biasa saja namun dengan segumpal pertanyaan tentang hebatnya film ini—karena sempat menjadi nominator pemeran terbaik dalam Academy Award 2005. Sebuah kisah aksi heroik yang berbuah seabreg penghargaan, termasuk menjadi nomine Academy Awards 2005.
Don Cheadle, pemeran Resesabagina dinominasikan untuk menjadi aktor terbaik. Ia harus bersaing dengan Jamie Foxx (dalam film Ray), Johnny Depp (Finding Neverland), Leonardo DiCaprio (The Aviator), dan Clint Eastwood (Million Dollar Baby). Sementara itu, lawan mainnya, Sophie Okonedo, diunggulkan untuk kategori aktris pemeran pembantu terbaik.
Tak hanya itu, Terry George dan Keir Pearson dinominasikan untuk meraih penghargaan sebagai penulis naskah orisinal terbaik. Sayang, George tak lolos untuk kategori sutradara terbaik.
Setelah usai, akhirnya saya mengakui tentang kehebatan cerita dari film itu. Sampai saya masih tak percaya film ini sudah usai dan tak segera beranjak untuk meninggalkan televisi karena hanya ingin membaca subtitle di akhir film, sambil menikmati iringan musiknya.
Dan kepenasaran saya dengan film ini membuat saya segera meraih ensiklopedia dan surfing internet untuk mengetahui tentang Rwanda dan apa yang telah terjadi disana persis 11 tahun lampau pada tanggal 6 April 1994.
Di situs Kompas yakni Kompas Cyber Media (22 Februari 2005) diulas tentang film ini. Berikut Kisah sosok heroik yang selalu saja menarik untuk disimak. Inilah cerita yang diangkat berdasarkan kisah hidup Paul Resesabagina, seorang manajer hotel yang berhasil melindungi ratusan pengungsi dari ancaman pembantaian.
Upaya Resesabagina menyelamatkan para pengungsi kelompok etnis Tutsi mendapat perhatian luas. Dalam film itu dikisahkan pada sebuah siang yang cerah, suasana normal di Kota Rwanda berubah jadi penuh ketegangan, ketika kelompok etnis Hutu melakukan aksi turun ke jalan. Mereka meneriakkan yel-yel kebencian terhadap kelompok etnis Tutsi, yang mereka nilai telah menjadi antek kaum penjajah.
Sebagai seorang Hutu, Paul taklah terlalu risau. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi sang istri, Tatiana (Sophie Okonedo), yang seorang Tutsi. Pun halnya dengan keluarga istrinya, yang kebanyakan adalah orang-orang Tutsi.
Siang berganti malam, aksi kaum Hutu semakin menjadi. Sikap anti-Tutsi pun kian hari kian bergolak, terlebih ketika ajakan kebencian itu disuarakan lewat radio-radio prorasisme.
Pada sebuah malam, suara gaduh di depan rumah mengundang keingintahuan Paul. Ternyata, perang terhadap kaum Tutsi telah dikobarkan. Razia terhadap mereka yang dituding sebagai orang-orang Tutsi mulai dilakukan. Mereka dikumpulkan. Jika ada yang ketahuan, orang itu akan dihajar bahkan, tak tanggung-tanggung, diculik lalu dihabisi.
Pemandangan tersebut benar-benar membuat Paul tak berdaya. Desakan Tatiana agar berbuat sesuatu tak digubrisnya. Maklum, para pembantai itu datang bergerombol dan menenteng senjata. Paul malah meminta istrinya untuk masuk ke dalam agar tak jadi sasaran aksi pembersihan.
Gerakan razia terhadap orang-orang Tutsi menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Ratusan orang mencari perlindungan di kawasan yang dianggap aman.
Pembersihan kelompok etnis tertentu, yang dipicu oleh rasa kecemburuan sosial, tersebut kian menggila. Pemandangan itulah yang dilihat oleh Paul selepas meninggalkan tempat kerjanya sebagai manajer di sebuah hotel.
Awalnya, tak pernah ia berniat menyelamatkan orang-orang lain. Yang terpikir dalam benaknya, bagaimana istrinya bisa selamat dari incaran kaum milisi Hutu. Tapi, pikiran itu berubah ketika, setibanya ia di rumah, ia mendapati banyak tetangganya yang berasal dari kelompok etnis Tutsi menjadikan kediamannya tempat persembunyian yang aman.
Apa yang ditakutinya akhirnya datang. Sekelompok pasukan bersenjata merazia rumahnya. Paul mula-mula tak bisa berbuat banyak, ketika di rumahnya didapati banyak orang Tutsi.
Paul akhirnya putar otak. Uang sogokan menjadi jalan keluar. Keluarga dan tetangganya berhasil diselamatkannya. Mereka berhasil diungsikan ke lokasi aman, yaitu hotel tempat Paul bekerja. Hotel itu aman karena di sana menginap sejumlah turis asing yang dilindungi oleh pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kepahlawanan Paul mulai disodorkan di bagian ini. Ia datang bak superhero, meski ia bukan Superman atau Spider-Man. Apa yang dilakukannya tak kalah hebat dengan tokoh-tokoh penyelamat rekaan itu. Namun, hal tersebut tentunya tidak selalu berjalan mulus. Ia nyaris putus asa ketika pasukan PBB malah meninggalkannya bersama orang-orang Tutsi tanpa perlindungan.
Ini sebuah kisah yang mengharu biru. Karena itulah, film bertajuk Hotel Rwanda, garapan sutradara kelahiran Belfast, Irlandia Utara, ini berhasil meraih simpati penonton, termasuk menyabet penghargaan favorit penonton di Festival Film Toronto beberapa waktu lalu.
Cerita ini memang menghadirkan simpati yang luar biasa. Resesabagina disebut-sebut telah menyelamatkan sekitar 1.000 orang penduduk Rwanda dari aksi pembantaian etnis di wilayah tersebut. Resesabagina perlu ditiru. Tak harus menunggu kejaiban menjadi Superman atau Spider-Man terlebih dahulu.

Itulah para pahlawan hitam yang berjuang dari segala bentuk rasialisme, sisa dari abad-abad lampau. Yang masih belum juga terhapuskan pada saat ini. Namun sekarang rasialisme berubah bentuk yang semula pada kulit namun juga pada ideologi yang dianut. Seorang Muslim menjadi terdakwa dengan cap terorismenya oleh negara yang mengaku penjunjung tinggi hak asasi manusia.
Inilah dunia saat ini. Namun semua itu bisa dilawan dengan hanya persatuan (ukhuwah) di antara umat ini. Akankah muncul “the back heroes’ yang tidak hanya membela warna kulit mereka tapi ideologi mereka. Layaknya Bilal-Bilal masa lalu. Sang Mu’adzin. Allohua’lam.