JALAN SUNYI PARA PENYAIR


Jalan Sunyi Para Penyair

Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.

Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.

Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…

Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.

Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.

Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.

Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.

Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”

Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”

Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.

Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.

Untuknya…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.59 18 Februari 2011

Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair

diunggah pertama kali di:

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/

bangun ruang hati


bangun ruang hati

 

 

pagi ini aku kotak,

menyiapkan diri

semedi di sudutnya,

siangnya aku lingkaran,

tanpa sudut,

berputar,

hilang ingatan pada prasasti hati,

sorenya,

kembali aku menjadi kotak,

menghirup sunyi di keramaian,

semedi disudutnya,

malamnya,

aku menjadi segitiga

yang bertumpuk,

yang mengumpulkan kata-kata,

untuk sekadar satu jawaban,

lalu kapan aku menjadi jantungmu?

 

 

***

riza almanfaluthi

di atas kereta yang mencaci maki rel

dedaunan di ranting cemara

06.15 17 Februari 2011

 

menunggu jawab


menunggu jawab

 

 

 

di dalam kereta

yang lari berderit-derit

di pinggir jendela

dengan hitam menganga di kaca

kau kelanakan pikiran

pada pelangi angan

bertopang pada sebelah tangan

meneguhkan keberadaan diri

ada gumpalan tanya

menggelembung di labirin memori

menyumbat jawab hingga

mengering, sekarat, dan mati

adakah?

mengapa?

dan untuk apa?

untuk itu aku mengunci kata

menjadi patung pinggir jalan

tak berdaya

susah untuk bicara

aku tahu engkau tahu

kilatan daun lontar setiap sore

adalah jawab sesungguhnya

jika engkau mengerti
ya jika kau mengerti

 

*****

 

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21.46 11 Februari 2011

 

Yang pulang untuk kembali


yang pulang untuk kembali

(((***)))

siapakah dia yang membawa

tiga ikat papirus tebal

di tengah-tengah malam

membukanya

membacanya

diterangi kunang suram

di atas kencana

yang membawanya pulang

siapakah dia berkemul selimut

merepih dingin

berlapikkan bantal kecil hijau

melandaskan mimpi-mimpi sedikit

tak acuh pada titah-titah

yang bertengger

berkicau

mengacaukan malam

di atas kencana

yang membawanya pulang

jika kau tanya itu padaku

aku akan menjawabnya

siapa dia gerangan:

dia yang hari ini memerintahkan bentala

untuk berputar lebih cepat

dia yang hari ini membawa senja di jubahnya

dia yang hari ini membawa gempita di setiap laku

dia yang hari ini dengan bulan setengah di wajahnya

dia yang hari ini dengan mata dan senyum yang tiada pahitnya

dia yang menatah hari ini menjadi adiwarna

dia yang malam ini di atas kencana

yang membawanya pulang

untuk kembali…

itu cuma tanda tanya

***

riza almanfaluthi

tulus

dedaunan di ranting cemara

01.28 15 Februari 2011

bulan yang kita lihat sama


bulan yang kita lihat sama

 

 

di sana ataupun di sini

bulan yang ada

ya itu-itu saja

sama tak beda

tapi ruang batin kita

masing-masing

yang membuatnya berbeda

 

pada detik yang lari

kita pura-pura terpukau

pada indahnya sabit

yang melubangi langit

dengan terangnya

padahal kita sama-sama

ingin berenang pada

telaga hati masing-masing

sedalam mana dasarnya

sesejuk apa rasanya

lalu kita sama-sama terkejut

tak ada tempat untuk kita

tapi kita abai

karena bulan yang kita lihat sama

sama-sama indahnya

 

maka pada detik

yang kembali datang

kita berjarak

kita berruang

 

sampai kapan?

sampai mana?

jawabmu:

di titik yang berhenti

di ujung kalimat

 

besok

ya besok

kita masih melihat bulan yang sama

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada kamar depan dengan dua pewaris

22.43
10 Februari 2011

TANDA-TANDA


tanda-tanda

 

jika langit gelap

sadarilah ia tak selamanya mendung

jika hujan gerimis menetes

sadarilah ia tak selamanya akan menjadi badai

jika ada pohon ringkih

sadarilah tak selamanya tanda tumbang

jika ada bumi yang bergoyang

sadarilah tak selamanya itu gempa yang mengguncang

tapi kalau ada hatiku yang berdebar-debar

percayalah itu tanda cinta dan rindu

untukmu

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

senja di peron 2 stasiun sudirman

17.31 09 Februari 2011

^_^

titik tanpa jeda


…..titik tanpa jeda

 

adanya adalah desahan nafas

tiadanya adalah perhentian

jika ada koma di antaranya

maka ia adalah rehat sejenak

tuk kelana perjalanan

ke tujuan

 

di sini, aku hapus satu persatu

titik titik

itu

agar tak ada kata sakit

di benak kita

sebelumnya

sesudahnya

 

maka saat kita memintal waktu

bersama di jembatan Adelaide

dalam malam-malam penuh jeritan

binatang gelap

aku terlelap

tersentak…

aku berdiri tertegun

engkau adalah ketiadaan

ketiadaan tanpa titik

besok

biarkan aku menjadi titik-titik itu

buatmu

tanpa jeda

 

***

 

riza almanfaluthi

indah dengan a comme amour

dedaunan di ranting cemara

Citayam , 17.13 05 Februari 2011

jingga


jingga

 

sore ini tak ada jingga

yang ingin kau peluk

sampai bintang bertemu hujan

lalu kau menulis langit

dengan pena lidahmu:

    jingga itu adalah aku

bintang itu adalah kau

hujan itu adalah kita

usailah sudah deretan pesan yang dibawa burung

dan kau bawa pulang nanti

sembari mengharap detik arloji berhenti

sampai kau puas menikmati sunyi

    kita bersama melihat langit

    di atas bukit

    masing-masing memeluk lutut

    lalu kita temukan kembali dia

aku berbisik padamu: peluk erat jingga itu.

setelahnya kubungkus jingga

dan kutaruh di langit-langit rumah

tak perlu kau ke atas bukit lagi

aku cukup melihatmu bahagia

dari jauh…

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam sore tanpa jingga, 18.08

30 Januari 2011

 

    

HARGA SEBUAH KEPERAWANAN


Harga Sebuah Keperawanan

    “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Senilai jumlah uang tertentu? Atau sebatas janji dari rayuan maut para begundal syahwat? Ooooo…ya betul. Terkadang kombinasi dua diantaranya. Maka keperawanan jadi barang yang tak berharga. Hingga diri tak berarti. Tak ada yang bisa dibanggakan. Apatah lagi cuma gadis kampung yang cuma tamatan smp. Yang terkejut-kejut dengan budaya kota. Yang bermodalkan telepon genggam berkamera satu mega pixel-an. Tetapi punya akses ke seantero belahan dunia dengan gprs, 3g, ataupun wifi. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Hingga nanar mata membaca berita 51% gadis remaja sudah tak perawan lagi. Ooooo…ya betul. “Aku dipaksa. Aku dipaksa,” kata salah satunya. Kenapa tak meronta? Kenapa tak lari? Tanyaku lagi bertubi-tubi laksana ribuan panah menghunjam atap istana terlarang di Peking sana. Padahal jawaban itu hanyalah kamuflase untuk kenikmatan yang dirasa tak terkira. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Hingga membuyarkan mimpi para cecunguk yang lidahnya terjulur dengan air liur membasahi bibir memandangi tubuhmu menunggu kesempatan untuk lagi, lagi, dan lagi. Modalnya cuma kata-kata tak bermutu dan obral janji. Aih…bulan pun bisa ngomong kalau mereka itu cuma dusta belaka. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Sampai batok kepala ini tak kuasa menggeleng-geleng karena leher sudah tak mampu tuk berbuat apa-apa lagi. Bosan melihat tingkahmu. Jikalau orang tuamu tahu, apa yang akan mereka derita kecuali makan hati yang tiada berwujud rupa karena itu cuma rasa. “Duh…nduk anakku yang cantik. Mau-maunya kamu begitu. Tak kasihankah engkau dengan diri kami?” Cuma petani pemanjat pohon kelapa untuk mendapatkan secuil air aren yang harus digodok berjam-jam di atas tungku panas berbahan kayu bakar. Kun fayakun jadilah gula jawa. “Duh…nduk anakku yang cantik.” Air mata mereka mungkin sudah habis saat engkau datang menjumpa mereka. Karena bisik-bisik tetangga sudah mengacaukan hidup mereka. “Woro…!!!woro…!!! fotonya sudah sampai Los Angeles.” Kau mengira apa yang kau sudah rekam dalam megapixel-megapixel video dan gambar itu sudah hilang saat engkau tekan tombol delete. “Tidaklahyau…” Ingat kata-kataku ini. “Tidaklahyau…” Zaman sekarang teknologi sudah canggih, membangkitkan arwah gambar yang sudah “mati”, semudah membalikkan tangan dan mengedipkan mata. Makanya CIA dan FBI kudu memformat sampai lima kali harddisk-harddisk rongsokan mereka untuk memastikan tak ada data yang tertinggal. Dan kamu? Bukanlah siapa-siapa hingga hp yang kau jual itu masuk ke toko reparasi hp, dan si reparator menemukan semuanya itu lalu mengunggahnya ke dunia tanpa batas. “Woro…!!!woro…!!! fotonya sudah sampai Los Angeles.” Orang tuamu cuma bisa terpekur kayak burung tekukur mendengkur di atas kasur. Duh Gusti…air mata mereka sudah kering. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Tapi sambil berbisik kini. Karena aku takut mengganggu awal generasi baru dalam perutmu itu. Katamu sambil mengusap perutmu: “aku mencintainya dan isi perut ini.” Kalimat terakhir sebelum engkau menjatuhkan diri dari lantai 27 gedung ini.

“Berapa ???!!!!!” teriakku sepi.

***

 

“buat remaja putri semoga engkau tetap menjadi yang 49% itu”

 

Riza Almanfaluthi

sajak tengah malam

dedaunan di ranting cemara

00.19 30 November 2010

 

senandung fluet di malam hulucai


senandung fluet di malam hulucai

(dibacakan di Theather Epic Camp Hulucai Bogor 09 Oktober 2009)

 

saat ini kawan, kita memeluk dingin

dengan gemuruh di dada dan hangat di telapak kaki

membayangkan suka cita yang akan kita kunyah

bulat-bulat

sama-sama

lalu ada angin malam menyapa

mengemis

untuk membagi sepotong kue kebahagiaan ini padanya

dan di sana di atas sana

ada purnama mengintip dari tirai hitamnya

malu-malu

di waktu yang sama

di petak negeri ini

anak-anak manusia

anak-anak adam

saudara dari saudaranya saudara saudara saudara dan saudara kita

berlomba dengan kita

sama-sama

dipeluk dingin, disapa malam, diintip purnama

di bawah tenda-tenda pengungsian

merenda duka kerana alam yang cemberut pada mereka

menjadikan ayah ibu tak beranak

suami tak beristri, istri tak bersuami, anak tak beribu tak berayah

janda semakin janda, perawan semakin perawan, dan perjaka semakin perjaka

tapi para duda sembunyikan harap dan tawa dibalik gurat sedih

dan lapar mendera menjadi ritual keseharian kerana bantuan dilahap birokrasi

kuburan massal jadi alas tidur

lalu jumlah korban cukup menjadi angka-angka statistik belaka

kawan…saat ini

kita cukup menonton sambil sesekali turut empati

bahkan memilin doa dan mengetuk pintu-pintu langit

keras-keras

berbasa-basi agar mereka diberikan ketabahan

sambil online-online 24 jam memainkan blackberry,

update status dan celoteh di facebook,

menimang-nimang batangan emas yang terkumpul,

menghitung hari untuk karir yang kinclong,

mengilapkan body kuda besi, mengintai pergerakan saham,

mengumpulkan rupiah demi rupiah dari alfamart, indomart,

kos-kosan yang tersebar di mana-mana,

merenovasi istana

sembari menunggu transferan bank mandiri dari bendahara di awal bulan

ssst…..kemarin malam

ritmis gerimis dan harum tanah negeri ini sempat berbisik padaku:

jangan kau buat ibu pertiwi menangis kembali karena polah serakah kita

lalu tadi malam di citayam senandung hujan sempat berbisik padaku:

nikmat tuhan mana lagi yang engkau mau dustakan

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam, 07 Oktober 2009 20.00 WIB