banal


banal

*

 
 

teriakku pada macan

yang ada di kebun binatang:

aku ambil lorengmu!!!

pada zebra:

aku ambil belang-belangmu!!!

pada singa:

aku ambil surai di lehermu!!!

pada buaya:

aku tak akan ambil kulitmu!!!

Bosan,

aku akan ambil matamu saja,

pada ular:

aku akan ambil lidahmu!!!

Satu-satu,

aku permisi pada semua penghuni,

setelahnya aku menjadi binatang…

banal  

 
 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

Februari Maret 2011

 
 

  

tak pernah sampai


tak pernah sampai

**

 

coba lihat pada ilalang yang tumbuh

di depan rumah kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang paling tinggi

tapi tak acuh pada air gunung

yang bersemedi dengan butirannya

membasuh daun-daun

coba lihat pada bisunya langit

yang indah di atas kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang tercepat

tapi tak acuh pada mendung hitam

yang segera akan menelannya

dan tak perlu mencoba

melihat aku

karena aku terlepa

di atas tanah yang rindu hujan

tak bisa tak acuh

untuk setiap anak panah pesan

yang berlari dari busurnya

tak pernah sampai

di setiap detiknya

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

menunggu

10.13 12 Maret 2011

 

senampan biru


senampan biru

**

 

aku taruh senampan biru

yang kupersembahkan

melalui rinai hujan yang jatuh di atasmu

atau geliat ikan yang lincah

tak hendak menangkap umpan

yang kau taburkan siang tadi

atau kelabu yang membebat diri

 

aku taruh senampan biru

untuk kau pilih

kau simpan

kau bawa

ke atas gunung

dengan tas carrier

bersama selembar matras

bersama sepotong jaket

bersama seperangkat tenda

bersama sleeping bag warna jingga

 

malamnya

kau memandang langit

mengambil segelas coklat panas

dan sepucuk biru

lalu menyentak

aku datang padamu

bersama petrichor

sampai pagi

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam, ruang biru

11.04 06 Maret 2011

 

 

 

 

BROWNIES


Brownies

**

 

sekotak brownies

terpotong-potong sadis

harum coklatnya menghingar bingar pagi

ada senyum menabuh sunyi

saat lidah bersua lezatnya

jika tinggal satu

bolehlah aku sampaikan sepotongnya

untukmu

 

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

08.01 7 Maret 2011

 

 

berapa mawar


berapa mawar

kau letakkan di jalananku

agar aku pungut

setiap pucuk yang tergeletak itu

yang mencerabih tanpa henti

memberitakan kepadaku

ada hari di ujung jalan

membawa sekeranjang penuh

merah mewangi

aku terkapar

padahal cuma sehasta lagi

beri aku satu yang terakhir

lirihku

kembali…

dia menaburkan

aku tergagap:

berapa

mawar

lagi

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada mawar yang tergeletak di ujung jalan kesepian

01.55 5 Maret 2011

tebal


tebal

 

jika semua kata yang pernah terucap

di muka bumi adalah engkau

maka aku ingin menjadi kamus

dan thesaurusnya

tidak lain dan tidak bukan

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dini hari

01.00 03.03.2011

RIP


RIP

*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pak tua,

akhirnya kau meninggalkan kami

ada sedih yang menumpuk di ribuan mata

satunya adalah milikku

pak tua,

aku tahu, kau bukan siapanya aku

tapi ada buhul yang membelenggu

antara kau dan aku

:buhul iman

pak tua,

aku tahu, 2,68 milyar detik lebih

telah kau tempuh perjalanan hidup

sebagiannya kau panggul beban

perjuangan kejayaan islam

di penjara,

di parlemen,

di antara teriakan para penggugat

di kancah melawan musuh bersama kita:

zionisme

pak tua.

malaikat akhirnya masih peduli pada kau

mengangkatmu pada kehidupan yang lain

yang aku yakin lebih baik daripada di sini

pak tua,

aku sedih kau meninggalkan aku

tapi kau mewariskan kepadaku

warisan yang tiada tara nilainya:

semangat perjuangan tanpa henti

pak tua

aku malu padamu

kau hanya berpikir dan beramal besar

aku di sini sebaliknya

aku malu…

pak tua

necmettin erbakan

beristirahatlah dalam damai

huzur içinde yatsın

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

berita yang mengejutkan dan teramat menyedihkan

20.24 02 Maret 2011

laut dan samudra


laut dan samudra

 
 

 
 

matamu adalah laut mati

yang aku ingin merenanginya tak pernah tenggelam

matamu adalah laut merah

yang aku ingin menjadi saksi atas terbelah dirinya menyambut musa

matamu adalah samudra pasifik

yang aku ingin menjadi satu dari ribuan bangkai pesawat sisa-sisa Perang Dunia II

terkubur di dalamnya

matamu adalah samudra hindia

yang aku ingin menjadi biru untuk bersamamu

kapan?

 
 

 
 

 
 

***

 
 

 
 

riza almanfaluthi

gedung micrografik pancoran lantai 1

dedaunan di ranting cemara

11.45 01 Maret 2011

agar tak ada namanya


agar tak ada namanya

*

 

Rabb, beri aku sejenak

agar tak ada namanya

yang tersebut dalam setiap igauan

 

Rabb, beri aku sebentar

agar tak ada namanya

yang terdengar dalam setiap bisikan

 

Rabb, beri aku sekejap

agar tak ada namanya

yang terlihat dalam setiap mimpi

 

Rabb, beri aku selintas

agar tak ada sungkawa

yang terbangun dalam setiap kesadaran

 

jika tidak, kapan lagi aku akan bisa

mengingatMu?

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam setengah mendung

13.57 26 Februari 2011

Menunggu


Menunggu

 

ada secawan pagi datang terhuyung-huyung

menyeret matahari di belakangnya

menepuk embun menawarkan

tampuk kesegaran pada sekitar

tak luput untuk kereta yang lari

tak sempat perlahan

tak sempat berhenti

dengan pria yang asyik mematut-matut diri

pada cermin jendela

bertanya:

kemana sapa yang biasa dihela?

pria yang tak sempat

bermonolog hanya karena

gagu mencium dirinya

tapi tak pernah berhenti asa

untuk cat warna jingga itu

menyapu bidang putih kanvas hatinya

sampai?

jawaban tidak sebelum titik.

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas KRL Pakuan

06.05 24 Februari 2011