ratkirani


ratkirani

*

aku tuli dengan teja di barat

kau hanya bilang jangan terbang ke sana

aku buta dengan semerbak seruni

kau hanya bilang jangan sentuh ia

di bawah beringin bogor

ada banyak juntaian renjana

yang kau gantung untukku di malam itu

kau hanya bilang ada yang telah menjadi yudistira pada drupadi

–ratkirani untukmu kelopaknya jatuh satu-satu

guernica menjelma di dada

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.32 – 18 September 2011

T E R P E R A N G K A P


image

:bayangmu seringkali terperangkap

:pada ranting-ranting dan daun-daun pohon jati cikamurang

:di pagi yang tak sengaja untuk menjadi beku

:di matahari yang hendak mengakhiri agustus

:di kemarau yang salah datang di hatimu

:bayangmu seringkali terperangkap di lingkaran-lingkaran otak yang tak punya sudut

:di bilik jantungku yang kerap tanpa bunyi

:kau, ramaikanlah segera ruang itu.

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Ramadhan 1432
06.05

sekarat


sekarat


kata orang
aku tak layak mengharap debu cintaMu
apatalah lagi mengharap remah kasih sayangMU
aku adalah pendosa di bawah kaki gunung maksiat

kata orang
aku tak layak berteduh di pohon maafMU
apatalah lagi berenang di samudera ampunanMu
aku adalah pendosa berbaju kesombongan

kata orang
aku tak layak mencium bau surgaMu
apatalah lagi meminum telaga KautsarMu
aku adalah pendosa buat para tetangga

tapi kataMu

rahmatMU adalah bilangan yang tak terhingga

pada hambaMu yang terpilih

oh, di tepian maut yang mencekik leher

aku sungkurkan hidupku yang tinggal sedikit

aku tak mau menjadi fir’aun

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Diikutkan dalam lomba menulis puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

 

Gambar dari sini.

m u h a s a b a h


muhasabah


saat KAU tiada di hati

gelisah itu sudah pasti,

nelangsa apalagi,

sepi mesti,

sedih tak pernah menyisih,

perih tibalah merintih

apalagi setelah ini?

sajadah panjang dicari-cari

sepertiga malam ditelikung berdiri

untuk qalb menjadi suci

putih

itu jika taubatku KAU kehendaki

aduuuh

jika tak

hiduplah yang perlu disesali

Rabb, bisakah aku dapatkan pintu surgawi

dengan kantung penuh duniawi

bekal yang tanpa isi

di hari ini

dalam kesendirian di lain sisi

sebuah introspeksi

menjadi setengah mati

untuk menggapai cintamu Ilahi

terimalah

terimalah

terimalah

***

 

Riza Almanfaluthi

10.53 Lantai 19 24 Juni 2011

Diikutkan dalam Lomba Menulis Puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

P A K U


paku

*


kata-kata

hangus terbakar oleh pening

pada tengah malam yang mengguncang jiwa

karena sepinya

karena rapuhnya

sebentar lagi sepertiga malam terakhir anggun datang

seperti khalifah berdiri di atas karang kemenangan

di setiap medan-medan pertempuran

aku menggigil dipeluk bekunya air wudhu

aku tak menyerah pada detik-detik yang memanggul lena

pada hangatnya selimut

pada empuknya tilam

pada gemerlapnya mimpi

dan lalu aku ciumi sudut-sudut sajadah di setiap milimeternya

menyatukan diri, berusaha moksa,

mikraj mencariMu

dipilin dengan ribuan pinta usir derita

ribuan harap penuh ratap

“masih Kau dengar semuanya ini Rabb?”

dari hambaMU yang berpaku dosa di sekujur tubuh

***

Riza Almanfaluthi

Diikutkan dalam Lomba Menulis Puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

Juni 2011


Sumber gambar


Mata Api


mata api

**

 

 

 

 

 

 

aku dekap hujan yang datang seketika padaku di sore hari ini

ia menangis, mengadukan berpuluh kesah

karena sungai yang tak mau terima

pohon yang tak mau tumbang

awan yang tak mau hitam

dan tanah yang tua

ia tak tahu

kalau aku

harusnya yang dipeluk

karena setangkai biru berduri

yang mendadak menusuk jantungku

hingga menembus tulang belakang, dan aku

hanya bisa merintih, merintih, dan merintih tak berkesudahan ini

lalu aku tatap hujan

tepat pada sepasang bola matanya

menembus ke relung terdalam

dan aku masuk ke labirin menyesatkan

yang tak tahu ujung dan arahnya

mencari sebuah tanya, bukan jawab

sembari itu aku masih lihat di sudut matanya

ada bening yang bertengger abadi

tidak butuh untuk jatuh dan lalu sirna

agar tetap menjadi saksi akan sebuah peristiwa

di saat itulah aku tergugah

bagaimana mungkin akan ada jawab jika tak ada tanya

aku hanya terdiam

saat isak menjadi iramanya

bahkan saat aku menjadi api

lihat !

aku adalah api yang dipagut hujan

tetap membara
sampai aku lipat dirinya

mengalungkannya di atas leher

dan berjalan menuruni tebing

di bawah sana

ada jeram yang kuat

untuk aku terjun

dan pergi ke laut

aku menjadi salmon

bermantel hujan

bersisik biru

dengan sepasang mata api

:dengarkan aku

***

Riza Almanfaluthi

4 Ramadhan 1432 H
Kebahagiaan adalah kesedihan yang salah tempat.

Gambar

baut


baut


dalam ramai

di atas jembatan penyeberangan

ada sedih terlukis di tangan-tangan lusuh hitam dan bau

tengadah dan sedang menunggu lemparan kertas bergambar para pahlawan

atau koin logam yang berisik jika timpa pada mangkuk-mangkuk jelek

gurat hidup yang durjana terpatri pada wajah ibu

di samping anak perempuan yang lelap dipeluk bulan

pak bu

sedekahnya buat makan

terucap getir mengguncang malam-malam yang lapar

dari apa yang sudah terkumpul

banyak atau sedikit

mustad’afinlah mereka

dan hidup tak berhenti di situ

di bawah jembatan

sudah menunggu laki-laki bermuka minyak

menunggu setoran

ah…di mana-mana laku culas selalu ada

aku rindu Umar al Faruq membawa sekarung gandum di tengah malam

kini para Umar itu masih bergelut dengan selimut hangat

kasur empuk, tv kabel, dan satpam yang menjaga

tak jauh-tak jauh

dari jembatan penyeberangan itu

dan aku hanya baut padanya

tak bisa berbuat apa-apa

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17 Juni 2011

Ikut disertakan dalam Lomba Menulis Puisi Alamanah Fair Kementerian Keuangan

Sumber gambar: di sini

taring


taring

dik…,istriku yang baik

izinkan aku bercerita nestapa di atas kertas pikiranku

yang mengelana tak karuan di shubuh ini

di belantara jakarta, di atas getaran kaca jendela bus,

semata-mata untuk aku dapat tepat waktu menaruh jari di mesin absen,

dengarkan saja ya dik…jangan kau sela

aku hanya mau curhat, agar bebanku lepas, dan tidak menjadi gila

dik, di negeri ini yang laku adalah skeptis, tak patut disalahkan

karena sepertinya orang sudah putus asa

dengan apa yang dikatakan para pemimpinnya

ketika mereka berkata timur, lakunya adalah barat

ketika mereka menulis langit, lagaknya adalah bumi

bahkan jabatan adalah mata air kesenangan untuk diperas

hingga darah yang tersisa, itu pun kalau ada

jika tak ada maka daging-daging yang menjijikkan itu

tak akan tersisa dimakan, oh…kanibalisme menjelma tiba-tiba

jika kau katakan kepada mereka, “amanahlah kalian!”

kau akan jumpai wajah mereka serupa para petaubat

yang mendengarkan ceramah ustadz di pagi hari

sejuk, kalem, indah, seperti ada cahaya yang keluar dari ubun-ubun mereka

tapi dibalik itu, kau tahu dik, ada taring-taring tersembunyi di balik bibirnya

aku takut jadinya…”untung di pagi ini leherku utuh seperti biasanya”

dik, jadinya apa? kau sampai bosan menerima pengemis di depan rumah dan di mana-mana

seperti tiada habisnya dan semakin hari semakin bertambah

bayi dan anak-anak yang seharusnya menikmati hangatnya pelukan kita

menjadi penguasa jalanan,

lalu alam kita ludes dik, ikan-ikan takut di setrum, dibom, dipukat , jalanan karut,

sekolah pada ambruk, banyak orang sakit, fisik, batik, dan suluknya

birokrasi bertambah ribet, kejujuran hanya dilipat di atas jok mobil,

orang-orang semakin keras kepala, tak ada tuh dik, keramahan yang pernah kita nikmati

walau hanya ada di buku-buku pendidikan moral sekolah kita dulu…

iiihh, kejam sekali mereka.

dik…aku benci mereka, benci sebenci-bencinya

tapi tahu tidak dik, entah kenapa mulutku ada yang tidak biasa

sebelum berangkat tadi, saat kau masih tertidur pulas di ranjang

aku berkaca, ada tumbuh taring dik…tumbuh taring!!!

aku ingat, kemarin, tasku bertambah berat dik, ada kertas warna merah, banyak-banyak sekali

tuh masih di sana…di dalam tas. aku menangis dik, aku tak mau jadi mereka

tapi aku tetap jadi mereka.

sebelum shubuh nurani berperang, hati menjadi kurusetra

dik, pagi ini aku mau kembalikan semuanya

dan aku akan benturkan kepalaku ini di lantai masjid yang dingin dhuha nanti

akankah aku temukan DIA?

**

Riza Almanfaluthi

Diikutkan dalam lomba menulis puisi Alamanah Fair Kementerian Keuangan.

sajak gagal


 

sajak gagal

 

 

ada huruf yang gagal menjadi kata

ada kata yang gagal menjadi kalimat

ada kalimat yang gagal menjadi alinea

ada alinea yang gagal menjadi puisi, prosa,

dongeng dan seribu ucap

dari mulut-mulut lancang

berbusa dan penuh dusta

di akhir malam

makanya aku menjadi gagu

 

lalu aku sobek pagi dan keheningannya

dengan meminum seribu tetes embun yang tersaji

di daun-daun pohon rambutan dan rumput-rumput tetangga

menaruh butiran cahaya di atas kepala

dan hangatnya terasa di ubun-ubun

hingga menembusnya dalam-dalam

lalu aku kehilangan memori tentangmu

padahal sudah berbilang waktu

aku menaruh jariku di atas bak tinta biru dan kertas putih

bertuliskan statemen-statemen lara

kalau aku tiada daya menjadi amnesia

tapi kau tetap memaksaku

dengan kata yang menjadi cambuk

mendera punggung

sakitnya tiada terkira

kala itu di atas roda-roda baja

yang berputar tak pernah bosan

kecuali masinisnya yang punya kemauan

dan sepasang rel yang enggan

untuk berpisah 1 senti pun

 

aku terhenyak memejamkan mata

dan menaruh kepala di jendela

mengusir setiap warna dan benang

yang terpilin menjadi kain yang kau pakai saat itu

mengusir setiap uluran sendok dan garpu

ditambah dentingannya yang mengamuk

setiap rintihan angin yang menggigit-gigit kuduk

dan setiap irama yang kau perdengarkan

atau bola mata yang terkesiap ke atas

saat kau tertawa

dan aku tetap tak bisa menjadi orang gila

yang berpura-pura gila, setengah gila

atau gila yang nol

 

dan bagaimana aku bisa menjadi abai

untuk tiga huruf k a u

ketika aku mencoba menghitung debit air Pesanggrahan

yang mengalir di depan rumah

lagi-lagi banyak yang terkirim kepadaku

kata-kata dan gambar-gambar serupa sajak-sajak

di dhuha yang meronta-ronta

sejak itu aku menjadi tawananmu

dalam penjara tarik ulur

dan ketika kau buka pintu gerbangnya

aku tak mau keluar

karena aku adalah pesakitan seumur hidupku yang renta

 

ada yang gagal menjadi satu huruf pun

detik ini

untuk menjadi lupa

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.53 12 Juni 2011

 

 

 


 

tabal di jeruji


tabal di jeruji

**

 

 

 

aku lapar

pada bayang -bayangmu

di jendela bus

di sepanjang perjalanan pulangmu

 

aku lapar

pada kantuk yang menusuk
matamu

hingga kau terantuk-antuk

dengan relavitas einstein

yang menggoda tabir memori:

lama

 

dan aku lapar

menjadi panorama

menjadi pepohonan

menjadi danau

menjadi sungai

menjadi rumah-rumah

menjadi gedung-gedung

menjadi tiang-tiang listrik

menjadi papan-papan reklame

menjadi lampu merah, kuning, dan hijau

menjadi penunjuk jalan

menjadi lampu penerang

menjadi gelap

menjadi mural-mural

menjadi toko-toko

menjadi layar-layar penutup warung

menjadi pemulung

menjadi mobil dan motor

menjadi pengasong

menjadi pengamen

menjadi slogan-slogan kampanye

menjadi bendera-bendera usang dan lapuk

menjadi apa saja yang kau lihat

di balik jendela

 

inilah tabal di jeruji sepi

pada lapar yang melangit

 

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam-malam ramai

10.18 03 Juni 2011