INULISASI


25.01.2006 – INULISASI

INUL, GUS MUS, GUS DUR
Masyarakat Indonesia kini digemparkan kedua kalinya oleh Inul dengan adanya pengharaman Bang Haji Rhoma Irama atas lagu-lagunya yang dinyanyikan oleh Inul, Annisa, Uut dan kawan-kawan. Alasannya mereka telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun.
Terelepas dari hukum syar’i mengenai musik, maka kita dapat melihat betapa pada masa sekarang, seseorang yang benar-benar dan jelas-jelas mengumbar aurat dan erotisme seksuil dihadapan ribuan bahkan jutaan pasang mata, telah dibela habis-habisan oleh para penggemarnya mulai dari kalangan artis sendiri, para wartawan, pakar hukum, feminis, pembela HAM, para “kyai”, bahkan DSH Netters pun turut turun tangan.
Secara kasarnya jelas sekali terdapat dua kubu disini. Kubu pertama “FPI” (Front Pembela Inul) yang dibelakangnya banyak juga terdapat para kyai Jawa Timur, dan kubu kedua kubu anti Inul yang dibelakangnya ada MUI (Majelis Ulama Indonesia bukan Majelis Urusan Inul), Front Anti Pornografi dan Pornoaksi, serta Bang Haji Rhoma Irama dengan PAMMI-nya.
Di sini tidak perlu saya ungkapkan argumen dari kubu kedua, yang diungkapkan disini adalah argumen kubu pertama antara lain sebagai berikut:
1. Konsultan Hukum menyatakan bahwa ia akan mengumpulkan sejuta tanda-tangan untuk terus mendukung kreatifitas Inul (yang menurut kalangan dari Kubu Kedua kreatifitas Inul hanya sebatas kreatifitas pantat belaka, maaf);
2. Feminis menyatakan bahwa telah terjadi ketidakadilan gender;
3. Salah satu Artis Sinetron penggerak demo mendukung Inul menanggapi seruan Bang Haji dengan menyatakan bahwa Tuhan yang mana yang diserukan Bang Haji? Dan umat yang mana dibelakang Bang Haji? Tak perlu bawa-bawa agama dong dalam urusan beginian?;
4. Pembela HAM menyatakan bahwa telah terjadi pemasungan terhadap seseorang untuk berkreatifitas;
5. Gus Mus (Mertuanya Ulil Absar Abdilla) menyatakan bahwa goyangannya Inul merupakan goyangan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci;
6. Gus Dur menyatakan bahwa tidak ada yang berhak melarang seseorang tampil di TV kecuali Mahkamah Agung.
Ada tambahan beberapa komentar lagi dari DSH Netters, salah satunya pernah berujar bahwa ada hikmah yang dapat diambil dari “ngebornya” Inul. Bahkan ada yang sampai menyatakan bahwa “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya”.
Komentar dari konsultan hukum, feminis, artis sinetron, pembela HAM sepertinya tak perlu ditanggapi pula karena kita tahu siapa mereka. Tentunya mereka memandang dari satu sisi saja yakni sisi “berkesenian”nya Inul.
Komentar dari salah satu DSHNetters tentang ada hikmah yang dapat diambil sudah ditanggapi oleh Saudara kita Al-Itsar yang pada intinya kita harus melihat terlebih dahulu seberapa besar mudharat atau manfaat yang timbul dari “sesuatunya” Inul itu dan kita tahu dengan jelas mudharatnya ternyata sangat jauh lebih besar dari manfaatnya.
Yang perlu “sedikit” (tidak perlu banyak-banyak soalnya kalau terlalu banyak buang-buang energi saja) kita cermati adalah komentar-komentar dari dua kyai kita ini, yang dua-duanya adalah juga satu daerah dengan Inul, sama-sama orang Jawa Timur.
Saya tidak tahu apakah pembelaan mereka terhadap Inul karena sama-sama satu daerah atau karena Inul adalah salah satu ikon yang akan menjadi maskot PKB kelak di 2004? Semoga saja tidak. Semoga pembelaan mereka semata-mata karena membela Muslim yang “teraniaya” (menurut mereka), tapi anehnya pembelaan mereka sepertinya tidak terlihat ketika benar-benar terjadi penganiayaan bahkan sampai terjadi pengusiran dan penghilangan nyawa atas ribuan saudara-saudara Muslim yang ada di Ambon dulu? Allohua’lam.
Kalau berargumen bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan lalu mengapa kita diperintahkan Allah bahwa untuk selalu memusuhi musuh yang nyata yakni Iblis dan para syaitan yang jelas-jelas mereka adalah juga ciptaan Tuhan juga.
Harusnya kalau Gus Mus tetap ngotot bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan, kiranya perlu ditambahkan dibelakangnya dengan kalimat “yang wajib kita perangi” karena asal muasalnya dari syaitan yang berusaha menggoda manusia dengan bangkitnya syahwat dan bukan dari Allah langsung, karena Allah adalah Maha Suci dan Maha Sumber Kebajikan. Lagi-lagi di sini kita memakai logika ‘aqidah, logika Asmaul Husna.
Bahkan argumen “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya” terbukti keliru besar karena ternyata goyangan itu dilakukan Inul tidak hanya di dihadapan suaminya saja namun di depan jutaan pasang mata yang bukan muhrimnya. Jadi jelas sekali itu bukan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci.
Kalaupun subjek pelakunya bukanlah Inul tapi para istri yang berusaha menyenangkan hati para suaminya, bisa-bisa yang timbul dalam benak para suami yang tak kuat iman adalah fantasi seks dengan citra Inul (maaf) yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam.
Tentang komentar Gus Dur, kita pun tahu beliau hanya tahu dari bisikan orang-orang di samping beliau. Semoga dengan silaturahim Bung Haji dengan beliau, membuka “mata” dan “mata hati” kita tentang perlunya mengedepankan etika moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sudah satnya kita perlu mengusahakan adanya televisi Islam yang berasal dari umat, oleh umat, dan untuk umat.
Ada satu keresahan dalam hati saat mula terjadi Inulisasi ini, yakni saat MUI yang beranjur kepada umatnya. Tak ada sambutan hangat bahkan pertanyaan, hujatan, cacian kepada sebagian ulama kita.
Contohnya pembelaan sebagian teman-teman saya di kantor, dan anehnya sebelum melakukan pembelaan terhadap Inul mereka akan memulainya dengan kalimat berikut ini: “saya tahu Islam telah melarang hal yang demikian, tapi bla…bla…bla…” Sebelum pernyataan itu berubah menjadi perdebatan panjang. Saya hanya berbicara demikian: “stop…stop…stop…itu saja, pakai yang di awal kalimat itu”. Saya tak tahu hukum mana lagi yang begitu sempurna mengatur kehidupan kecuali Al-Islam.
Adalagi teman saya yang lain bertanya, “mengapa harus Inul bukan yang lainnya yang lebih erotis dan lebih gila lagi?” Menurut saya itu karena Inul yang ini begitu di Blow up dan dibesar-besarkan oleh media. Kalau kita membiarkan yang satu ini muncul dengan adem ayem saja maka Inul lainnya akan senantiasa menghiasi layar televisi kita dengan santainya dan tanpa rasa bersalah. “ Satu-satu Bung…..!”
Teman saya yang satu lagi bertanya, “kenapa tidak memberantas terlebih dahulu VCD porno yang jelas-jelas meresahkan masyarakat? Lagi-lagi saya bilang “satu-satu Bung…” dan MUI pun sudah tak perlu memfatwakan haramnya VCD Porno karena Islam sudah dengan jelas dan terangnya menjelaskan tentang keharamannya.
Di sini pun karena pemerintah dan kaum feminis di satu sisi dan masyarakat anti pornografi di sisi lain masih berdebat dalam hal definisi pornografi. Menurut saya mengingkari kewajiban menutup aurat itu sudah merupakan aksi porno itu sendiri.
Yang lebih miris lagi, banyak orang berbondong-bondong untuk segera berdiri di belakang kemaksiatan, melihat semua ini bagaimana Allah akan segera menghilangkan segala azab dan bencana yang menimpa bangsa dan Negara ini. Sungguh dunia ini terbalik.
Akhirnya bersyukurlah kepada Allah atas “penglihatan” yang diberikan-Nya kepada kita, sehingga kita langsung jelas melihat mana yang sesungguhnya haq dan mana yang sesungguhnya bathil. Sehingga kita tak perlu tersesat terlebih dahulu untuk menuju yang haq itu. Untuk itu, tak lupa pada setiap akhir sholat selalu kita lafalkan” Ya Alloh tunjukilah yang haq itu haq sehingga kami bersegera untuk selalu menujunya, dan tunjukilah yang bathil itu bathil sehingga kami pun bersegera untuk selalu menjauhinya.”
Semoga tulisan ini bukan juga untuk membuat Inul semakin di Blow Up.
“Teu aya dei ugi abdi ucapkeun, mung salam ukhuwah, kahormatan, hapunten ka sadayana ti abdi, saudara seiman. Allohua’lam bishowab.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2004
Diedit 12:38 24 Januari 2006

Melihat Ketua BIN dari Jauh


25.01.2006 – Melihat Ketua BIN dari Jauh

Suatu sore, ketika hendak mengambil KTP saya di gerbang komplek BIN, saya dikejutkan oleh teriakan dari anggota TNI yang bertugas di pos tersebut kepada teman-temannya yang sedang duduk santai di samping pos. Mereka yang berpakaian preman langsung bersembunyi masuk ke dalam pos, sedangkan mereka yang berpakaian dinas “sekuriti” langsung mengambil segala atribut yang harus dikenakannya.
Saya yang segera pergi dari pos itu sambil menengok ke belakang bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Ternyata, dari kejauhan ada sosok tegap, berkulit bersih, berpakaian sport menunggang kuda tinggi berwarna coklat. Di belakangnya terdapat beberapa pengawal dengan berjalan kaki dan ada juga yang menaiki kendaraan seperti mobil golf—hanya yang ini lebih besar lagi.
Langsung semua pemakai jalan di suruh minggir oleh pengawal, pos penjagaan yang berada di depan komplek langsung di tutup, sehingga ada beberapa kendaraan yang hendak memasuki komplek terpaksa berada di luar untuk beberapa saat. Sampai sosok berkuda itu menjauh dan di saat saya meninggalkan komplek itu, pintu gerbang masih di tutup.
Pembaca tahu siapa dia? Ya betul, dia adalah orang nomor satu dalam penanganan intelejen di negara republik ini. Hendropriyono. Sosok yang menjadi momok bagi umat Islam di era orde baru berkuasa dan sedang jaya-jayanya. Siapa yang tidak ingat dengan peristiwa Warsidi Lampung yang berdarah-darah itu.
Sekarang, ia menjadi Ketua Badan Intelejen Indonesia, suatu jabatan setingkat menteri, dan bertanggung jawab langsung terhadap presiden. Kalau pembaca adalah orang-orang yang sering melewati jalan antara Kalibata dan Volvo Pasar Minggu, maka pasti Anda akan melihat suatu renovasi besar-besaran di lingkungan komplek. Apalagi kalau Anda adalah orang yang juga sering masuk ke dalam komplek tersebut—karena komplek tersebut juga berbaur dengan komplek perumahan pegawai BIN—maka Anda pasti akan merasakan banyak perubahan tersebut.
Sepengetahuan saya yang kadang-kadang (kalau tidak dikatakan sering) mampir bersilaturahim ke rumah saudara, maka perubahan itu akan dirasakan ketika berada di pos pertama pintu gerbang. Sosok yang menyambut kita selain para anggota TNI juga adalah para petugas ( ini bukan anggota TNI, mereka direkrut utamanya dari para anak-anak pegawai BIN sendiri) yang berseragam hijau dengan bersepatu bot dan bertopi koboi. Sangat amat nyentrik.
Pintu keluar masuk pun di alihkan menjadi satu di sebelah selatan dengan pos yang cukup megah—yang mungkin biaya pembuatannya juga lebih mahal dari perumahan PNS tipe 21. Semua kendaraan beroda empat diperiksa dengan teliti menggunakan piranti anti logam dan kaca penglihatan untuk melihat bagian bawah mobil.
Semua yang masuk—kecuali tukang ojek yang telah dikenal, diwajibkan untuk menyerahkan ID card untuk ditukar dengan tanda pengenal tamu. Ini sebenarnya sudah sejak lama sebelum Hendropriyono menjabat sebagai ketua BIN, namun sekarang lebih ketat lagi (prosedural inilah yang menyebabkan saya kadang malas untuk bersilaturahim dengan saudara saya di komplek BIN). Semua itu terjadi di pos pertama untuk masuk komplek perumahan dan komplek perkantoran BIN. Saya tidak tahu bagaimana pula prosedural di pos perkantorannya yang di kelilingi pagar kawat tinggi itu. Jadi ada pagar tinggi di dalam pagar luar komplek.
Kemudian perubahan lainnya adalah, jalan sisi selatan yang biasanya juga bisa dilalui oleh para pengunjung umum, sekarang diblokir dan di setiap ujung jalannya berdiri pos penjagaan dengan para penjaga yang juga dibekali alat komunikasi primer yakni handy talky. Sekarang jalan itu menjadi jalan khusus karena di situlah Hendropriyono bertempat tinggal di rumah dinasnya. Semua jalan diberikan tanda-tanda lalu lintas standar, yang dulunya tidak ada sama sekali, dan jalan sekunder dijadikan satu arah.
Sekitar beberapa bulan yang lalu saya pernah melihat beberapa atau belasan ekor menjangan Bogor berada di bagian belakang komplek perkantoran di balik pagar kawat tinggi itu. Semua bisa di lihat dengan jelas. Namun sekarang entah kemana menjangan itu, mungkin sudah dipindahkan ke Monas. Dan sekarang di ganti menjadi istal (kandang kuda) yang amat bagus sekali.
Pada saat saya melintas masuk menuju rumah saudara saya sore itu, saya melihat kuda tegap yang sedang dimandikan oleh beberapa orang, dan awalnya saya berpikir bahwa kuda itu diperuntukkan bagi para petugas berseragam koboi itu. “Asyik juga jadi petugas disini”, pikir saya. Namun perkiraan saya salah besar, ternyata kuda itulah yang dipakai Hendropriyono untuk jalan-jalan di sekitar komplek.
Pembaca juga melihat bukan, sekarang telah berdiri kokoh sebuah tugu besar di depan komplek perkantoran BIN. Itulah BIN saat ini, mengalami perombakan luar biasa mungkin juga luar dalam. Entah bermaksud menjadikan BIN sebagai suatu lembaga yang harus dipandang oleh dunia internasional sebagai lembaga bonafid atau lainnya saya tidak tahu.
Tapi yang pasti, sepengetahuan saya (itu pun kalau saya tidak lupa) perombakan itu tidak dilakukannya waktu ia menjabat sebagai menteri transmigrasi di era Gus Dur. Saya juga berpikir, wah sepertinya Hendropriyono jadi anak emasnya Ibu Presiden apalagi dalam masalah pemberantasan terorisme ini. Tentu bukan dengan anggaran yang kecil ia dapat melakukan semua itu. Apalagi setelah ia sukses menangkap Umar Al-Faruq dan mereka yang dianggap olehnya sebagai teroris.
Tapi apa yang saya lihat di sore itu, seperti saya melihat suatu peristiwa di era majapahit atau era mataram dulu, di mana pemimpin feodal begitu dimuliakan, semua warga yang berada di pinggir jalan harus menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan. Dan para orang tua berharap kalau-kalau pejabat kerajaan itu melirik anak gadisnya, setidaknya dapat mengangkat harkat dan martabat orangtua.
Saya juga sempat berpikir, enak juga jadi menteri. Apalagi dengan menunggang kuda sepertinya ia bagaikan Mahapatih yang sedang inspeksi warganya tapi sayang hanya warga di tanah perdikannya (kira-kira rumah di komplek itu sudah bayar PBB belum yah…?:)). Bagaikan Adipati yang berusaha menyusun kekuatannya sendiri.
Saya pun sempat berpikir, “ah itu kan, fasilitas yang pantas ia dapatkan sebagai seorang menteri”. Apa iya…? Sedangkan banyak yang menjadi korban tak bersalah dari penerapan UU anti terorisme, lho apa hubungannya? Entahlah…Anda semua yang bisa menilainya.
Dan sepertinya, saya cukupkan di sini dulu tulisan ini. Terus terang saja, ketika saya menulis ini dan akan mempublikasikannya saya merasa khawatir. Terus terang pula saya merasakan sekali bahwa orde (untuk tidak dikatakan rezim) saat ini, menjadikan saya was was untuk mengungkapkan pendapat saya. Tidak ada bedanya pada waktu era orde baru.
Apalagi dengan adanya Undang-Undang anti terorisme. Dengan undang-undang itu intelejen kita bisa berbuat apa saja. Bahkan bisa juga ada intelejen cyber yang melacak siapa yang membuat tulisan ini. (wah paranoya bgt). Tak mengapalah….walaupun saya PNS dan masih satu almamater dengan Hendropriyono (mantan Ketua Ikatan Alumni STIA LAN), bukan berarti tidak harus dikritik, betul tidak…(gaya AA Gym)?
Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah dari diri saya pribadi, subjektifitas sangat berperan sekali dalam penulisan ini, makanya saya memberi judul Melihat Hendropriyono dari Jauh, tidak dari dekat, karena hanya sebatas informasi terbatas yang saya peroleh, kemudian saya kelola, dan jadilah tulisan ini.
Wassalaam.
: Senin, 21 Juni 2004.
: dedaunan sepanjang isya yang terlalu pendek untuk dilewatkan hanya dengan
menonton tv.
di edit 09:43 24 Januari 2006

Hanya Seorang FIDEL CASTRO


25.01.2006 – Hanya Seorang FIDEL CASTRO

Siapa yang tidak tahu dengan Fidel Castro pada saat ini? Sosok atheis yang telah memimpin Kuba selama 47 tahun ini bahkan kembali membuat merah telinga para petinggi Gedung Putih dengan tawarannya yang seperti mengejek itu.
Sebagaimana diberitakan oleh Republika kemarin (24/1), Castro menawarkan kepada penduduk miskin Amerika Serikat—negara moderen, makmur, dan superpower—bantuan berupa operasi mata sebanyak 150 ribu operasi. Termasuk di dalamnya berupa bantuan jemputan, akomodasi, dan perawatan yang dibutuhkan secara gratis.
Tawaran ini bagi Amerika mungkin merupakan upaya mempermalukan mereka, namun bagi Castro tentu bukan sekadar iseng belaka atau rutinitas pemberian kutukan kepada Amerika sebagaimana biasanya, tapi karena Castro meyakini kemampuan negaranya yang memang perlu dibanggakan. Yakni kemampuannya dalam menyediakan rumah sakit yang canggih, peralatan medis yang lengkap, dan didukung dengan sumber daya manusia yang unggul.
Dan ini semua bermula dari ambisinya menjadikan Kuba sebagai kekuatan medis global. Sejak tahun 1980, Kuba mulai menanamkan investasi pada sektor bioteknologi. Hasilnya adalah pada tahun 1990 Kuba menjadi negara pertama yang mengembangkan dan menjual vaksin Meningitis B disusul dengan Hepatitis B.
Tidak berhenti disitu, bersama Venezuela sejak 10 tahun yang lalu menggelar operasi mata gratis bagi warga warga miskin di Amerika Latin. Tidak tanggung-tanggung enam juta orang telah menerima manfaat dari program ini.
Dan pada akhirnya dunia pun mengakui keunggulan Kuba di bidang kesehatan ini. Bahkan prestasinya mengalahkan Amerika Serikat dalam masalah ketersediaan tenaga medis, yakni satu dokter untuk 177 penduduk. Bandingkan dengan Amerika Serikat dengan satu dokter untuk 188 penduduk.
Tentunya keunggulan itu menjadikan Kuba sebagai daya tarik yang memesona bagi ribuan dokter dari berbagai dunia. Seperti yang ditulis Republika lagi, bahwa tahun lalu saja 1800 dokter dari 47 negara menyelesaikan studinya di Kuba. Pada saat yang sama 25 ribuan tenaga medis Kuba melanglang buana dengan menjelajahi sedikitnya 68 negara, termasuk Indonesia.
Maka dengan semua keunggulan itu pula wajar bagi Castro untuk meyakini bahwa Kuba dapat terselamatkan dari kebangkrutan finansial dan memutuskan ketergantungan pada sektor pariwisata. Wajar bagi Castro untuk membantu warga miskin Amerika Serikat yang sering menggerakkan sisi-sisi kemanusiaan negaranya karena banyak dari mereka terganggu penglihatannya.
Dus, dengan semua keunggulan itu wajar pula bagi Castro untuk menunjukkan izzah (kemuliaan) dirinya dan bangsanya. Wajar bagi Castro untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya dan bangsanya masih tetap eksis di tengah embargo tiada berkesudahan dari negara besar yang selama enam kepemimpinan presidennya tidak sanggup menggulingkan dirinya.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah mengapa ia sanggup tidak bertekuk lutut di bawah kaki Amerika Serikat? Mengapa ia mampu bertahan dari embargo ekonomi itu dengan hanya mengandalkan produksi gula, industri perikanan, dan cerutu Havana-nya yang terkenal itu? Mengapa ia sanggup menunjukkan kemuliaan dirinya hatta ia hanya seorang komunis, atheis pula? Yang seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh seorang muslim. Mengapa?
Seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh para emir negara Arab yang dengan kebijakan cadangan minyaknya bisa mengobrak-abrik tatanan perekonomian global, bukan ditunjukkan oleh Ajami seperti Iran. Ditambah dengan kemampuan salah satu negaranya yang dapat mengumpulkan lebih dari tiga juta manusia dalam satu waktu.
Dengan dua kekuatan itu, dipastikan mereka dapat menggentarkan hati para musuh Islam dan dunia. Namun apa yang terjadi? mereka bahkan menjadi budak-budak setia dari tuannya yang bernama Amerika Serikat.
Bahkan mereka bersorak sorai di saat tuan besarnya menebarkan angkara murka dengan melakukan invasi kepada negara Arab lainnya. Sehingga satu pertanyaan muncul: ”Dimana logika , dimana akal sehat? Saya semakin tidak paham saja membaca kelakuan politik beberapa negara Arab ini. Apa yang mereka cari sebenarnya?” (Syafii Maarif,17/1).
Tidak hanya itu, persoalan Israel pun tidak kunjung selesai sampai saat ini. Walaupun dari hari kehari sejak tahun 1948 nasib dan harga diri Palestina yang nota bene adalah bangsanya sendiri sudah semakin tiada artinya di mata durjana Israel.
Sosok-sosok yang mempunyai izzah itulah yang tidak dapat diberikan negara-negara Arab pada saat ini. Walaupun dulu pernah tercetak satu orang yang dapat melawan dengan gagahnya kesombongan Amerika Serikat dengan upaya yang dilakukan oleh King Faisal bin Abdul Aziz dengan embargo minyaknya pada tahun 1973.
Namun selalu saja di saat tunas kejayaan Islam mulai tumbuh, maka hama kekuatan kotor tak terlihat mulai bermain dengan segala daya dan upayanya. Di tahun 1975 Faisal pun dibunuh oleh keponakannya sendiri. Dunia Islam pun berduka tapi membawa sebuah pengakuan dalam hati yang paling dalam tentang kemuliaan diri seorang Faisal.
Bagaimana dengan Indonesia? Sanggupkah negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini dapat menunjukkan izzahnya di hadapan Amerika Serikat? Sanggupkah ia menandingi sikap yang ditunjukkan oleh Kuba yang luas daratannya hanya 88% dari pulau Jawa itu?
Hanya segunung keraguan untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Karena pada saat yang sama Indonesia pun dipertanyakan keunggulan apa yang dipunyainya, selain dari tingkat korupsinya yang sudah terkenal di dunia internasional.
Lagi dengan tekad kemandirian yang nyaris nihil pada diri para pemimpinnya. Semisal adanya ajakan untuk memboikot produk-produk Amerika Serikat dibalas dengan segudang argumen yang bersembunyi di balik kepentingan rakyat: ”Bahwa kita sendiri yang akan rugi kalau kita melakukan aksi boikot itu.” Lalu dengan alasan: ”berapa pengangguran akan tercipta dengan aksi itu?”, kekanak-kanakan, picik dan lain sebagainya.
Padahal di sisi lain, mereka membungkuk-bungkuk menuruti apa kata IMF dan para kapitalis liberalis dalam menelurkan kebijakan pembangunannya, tanpa melihat apa rakyat masih mampu untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasarnya?
Lalu jikalau tekad kemandirian itu saja nihil akankah mampu untuk menghadapi embargo dan tekanan dari negara-negara yang berusaha menginjak-injak kedaulatan dan harga diri bangsa ini? Tidak, tidak akan mampu.
Maka kita banyak menyaksikan anak-anak bangsa kita di siksa, dianiaya, diusir oleh para majikannya, pemerintah republik ini boro-boro untuk menegur negara pengimpor Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu, bahkan untuk memberikan bantuan hukum saja pun tak mampu.
Bahkan dengan negara tetangga yang bekas salah satu provinsinya saja tidak bisa bersikap tegas dalam menyikapi tiga rakyatnya yang tewas tertembak oleh ulah prajurit perbatasan negara itu. Apatah lagi dengan menghadapi negara Kangguru yang sudah terlalu banyak mengintervensi dan telah lama tidak bisa bersikap sebagai tetangga yang baik bagi Indonesia?
Maka tanpa kemuliaan diri itu, dengan mudahnya bangsa ini ikut turut pula memerangi anak bangsanya sendiri baik individu maupun kelembagaan dengan tuduhan terorisme yang dibuat-buat dan stigma yang amat buruk.
Maka tanpa kemuliaan diri itu kita pun akan melihat pula bangsa ini begitu rendahnya merengek-rengek kepada bangsa lain untuk mendapatkan pinjaman dan investasi baru yang menggiurkan bagi keberlangsungan jalannya pembangunan. Dan merengek-rengek pula untuk dapat menangguhkan pembayaran utang di saat jatuh tempo tak sanggup membayar bunganya saja yang benar-benar mencekik leher.
Maka tanpa kemuliaan itu kehinaan apalagi yang akan menimpa bangsa ini? Padahal tanpa mereka sadari—atau pura-pura tidak tahu—bahwa 85 % bangsa ini punya modal unggul untuk meninggikan izzahnya, yakni Islam.
Karena sungai sejarah peradaban Islam walaupun selalu dialiri dengan airmata, darah, dan pengorbanan, tidak akan jemu-jemunya menyuburkan tanah-tanah sekitarnya untuk senantiasa menumbuhkan dan mencetak generasi-generasi rabbani, para pahlawan, orang-orang besar, dan mempersembahkan tokoh-tokoh agung kepada dunia.
Maka kemuliaan manalagi yang didapat selain dari Islam? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menegakkan panji-panji dan obornya yang terang gemilang itu? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menguatkan geraham untuk senantiasa berpegang teguh pada dua pusaka yang ditinggalkan utusan terakhir-Nya?
Jika itu didapat, tidak hanya seorang Castro yang atheis itu yang akan tunduk dan menghinakan diri pada kemuliaan Islam, beribu-ribu Castro bahkan berjuta-juta nasionalis yankee hawkees pun akan terpaku, tunduk, dan bertekuk lutut di bawah bangsa yang hanya menakutkan dirinya pada satu Tuhan: Allah Sami’il ’Aliim .
Cuma: kapan saat itu akan tiba?
Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08.29 25 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Anti Pornografi = Munafik?


d24.01.2006 – Anti Pornografi = Munafik?

Judul di atas adalah judul sebuah tulisan yang dibuat oleh Jonru. Si pemilik nama asli Jonriah Ukur ini mengumpulkan dan menulis tentang argumen-argumen yang selalu disampaikan para penyuka pornografi. Tentunya ada pula jawaban untuk setiap argumen itu.
Saya kira ini bermanfaat sekali untuk menambah wawasan dan meneguhkan keyakinan kita terhadap bahayanya pornografi. Dan sesungguhnya beribu cara Iblis dan jutaan tentaranya untuk mempersiapkan segala tipu dayanya di balik argumen-argumen cantik, indah, dan humanis, tapi sesungguhnya tipu daya mereka adalah lemah:
76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Annisa 4:76)
Seperti permintaan si penulis sendiri bahwa tentu apa yang diungkap di sini adalah sedikit dari banyak argumen. Oleh karena itu, kalau Pembaca mempunyai argumen lain yang biasa diungkap para penikmat pornografi, mohon untuk di tulis dan diberikan bantahan logis, sederhana, telak, dan menohok. Sehingga mereka tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, terdiam seribu bahasa, ibarat kata tenggorokan mereka tersedak tidak hanya oleh buah Kedondong tapi juga dengan buah Durian lengkap dengan kulit-kulitnya. (Emang enak…?)
Tulisan ini sedikit saya edit (siap-siap untuk menjadi editor) agar gaya bahasa ngeblognya dan penulisannya sesuai kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa mengurangi sedikitpun inti dari apa yang dia ungkap.
Kalau Anda terhubung dengan internet, sila untuk melihatnya langsung di blog Jonru, tepatnya di http://jonru.multiply.com/journal/item/143. Selamat menikmati.
***
Salah satu tudingan yang paling menggelikan dari orang-orang yang propornografi terhadap orang-orang yang anti pornografi adalah: ”MUNAFIK LU!”.
Selain itu, masih banyak argumen-argumen lain yang tak kalah lucunya.
Berikut saya sarikan beserta bantahannya. Jika ada teman-teman yang mau
menambahkan, dipersilahkan ya….
Argumen #01:
Orang yang anti pornografi adalah orang munafik, di satu sisi mereka menentang, tapi di belakang diam-diam menikmatinya
Jawaban:
Para penentang pornografi melakukan aksi kontra seperti itu, bukan
karena mereka tidak suka hal-hal yang berbau seks. Sebagai manusia
normal, tentu saja mereka suka.
Dan justru karena suka itulah mereka menentang pornografi.
Mereka telah tahu dampak buruk pornografi. Mereka tidak mau dampak buruk
itu menimpa orang lain. Karena itulah mereka menentang pornografi.
Info selengkapnya bisa dibaca pada tulisan saya: Saya suka pornografi (http://jonru.multiply.com/journal/item/138 ) Lagipula, sepertinya istilah “munafik” yang Anda gunakan itu tidak tepat.
Mari kita lihat apa pengertian munafik yang sebenarnya: Berdasarkan ajaran Islam, munafik adalah ciri manusia yang tidak taat beragama, tapi dari luar ia mencoba memunculkan kesan bahwa ia sangat alim dan ahli ibadah. Ia juga diam-diam memusuhi Islam dari dalam. Inilah pengertian munafik yang sebenarnya.
Argumen #02:
Majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur
Jawaban:
Alasan ini biasanya dilontarkan oleh sebagian orang yang anti pornografi. Walau saya sama antinya dengan mereka, saya tidak setuju dengan alasan ini. Budaya adalah ciptaan manusia yang akan terus berubah.
Mungkin saat ini majalah Playboy tidak sesuai dengan budaya timur. Tapi bagaimana kondisi lima tahun lagi? Siapa tahu, majalah yang lebih vulgar dari Playboy pun sudah dianggap sangat biasa. Tahun 1940-an, orang pacaran tak berani bergandengan tangan di tempat umum. Tabu. Tapi kini? Berciuman di depan umum pun sudah biasa.
Budaya, norma masyarakat, dan seterusnya, tidak bisa dijadikan patokan dalam hal ini. Kalau mau menentang pornografi, pakailah ajaran agama (Islam) sebagai patokannya. Ajaran Islam sangat tegas mengenai hal ini, dan tidak berubah sejak dulu hingga kiamat nanti.
Argumen #03:
Majalahnya belum terbit, tapi kok sudah ribut duluan?
Jawaban:
Memang pendapat ini ada benarnya. Tapi dalam kasus Playboy, rasanya tak
ada alasan untuk tidak berpolemik. Memang kita belum melihat bagaimana
medianya, karena ia baru akan terbit Maret 2006 nanti. Mungkin ia akan
dikemas secara lebih elegan, lebih berkelas. Mungkin pula tidak terlalu
vulgar.
Tapi terlepas dari itu semua, rasanya tidak mungkin jika Playboy akan
meninggalkan ciri khas mereka yang mengeksploitasi fisik wanita. Rasanya
tidak mungkin jika Playboy Indonesia akan tampil seperti majalah Gatra
atau Sabili.
Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang rasanya sangat
pasti. Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang
mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana.
Jadi, masih adakah alasan kita untuk tidak berpolemik, walau majalahnya
belum terbit?
Argumen #04:
Kenapa hanya Playboy yang diributkan? Toh, selama ini sudah banyak media
sejenis yang bertebaran di mana-mana?
Jawaban:
Anda sepertinya jarang membaca koran atau menonton televisi, ya?
Sudah begitu sering para aktivis anti pornografi melakukan aksi demo.
Mereka menentang hal-hal porno seperti itu. Tapi berhubung sekarang
majalah Playboy sedang naik daun, maka kita mempergunakan kesempatan ini
untuk menentang Playboy. Ini hanya masalah momentum. Bukan berarti kami
tidak peduli pada media porno lainnya.
Argumen #05:
Ini tidak porno, kok. Ini karya seni. Tampilannya elegan dan intelek.
Jawaban:
Saya mau jawaban jujur dari Anda, para pria sekalian. Ada foto seorang wanita yang sangat seksi dan tanpa busana, dikemas dengan selera seni yang amat tinggi, bahkan terkesan amat elegan dan berkelas. Apakah kemasan seperti ini berhasil menghilangkan nafsu birahi Anda ketika melihat tubuh si wanita?
Kalau jawaban Anda Ya, okelah. Argumen Anda saya terima
Kalau jawaban Anda Tidak, maka argumen Anda akan saya tertawakan!
Ketahuilai, kemasan yang elit, elegan, dan bercita rasa seni tersebut, hanyalah salah satu upaya untuk menutupi “perasaan bersalah” yang muncul di dasar hati setiap orang yang terlibat di pengelolaan media pornografi.
Argumen #06:
Kalau mau menentang Playboy, berantas dulu majalah-majalah porno yang sudah banyak beredar di Indoensia. Juga VCD porno dan sebagainya.
Jawaban:
Inilah strategi mengelak yang amat menggelikan. kalau kita berteriak: “Kami anti Playboy,” maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang VCD porno yang duluan ada?
Kalau kita berteiak “basmi VCD porno”, maka mereka berkata, “kenapa Anda tidak melarang majalah Popular yang telah dulu ada?” Kalau kita berteriak “breidel majalah Popular”, maka mereka berkata,”kenapa Anda tidak melarang bla bla bla…” Demikian seterusnya. Ini benar-benar argumen yang tidak mutu!
Lagipula, argumen seperti ini seolah-olah menuding para anti pornografi sebagai pihak yang memberikan iklim yang kondusif terhadap maraknya pornografi. Kalimat “berantas dulu VCD porno” dan sebagainya, sepertinya memperlihatkan bahwa mereka sedang lupa satu hal: Yang seharusnya memberantas hal-hal seperti itu adalah pihak kepolisian, dan pemerintah.
Nanti kalau ada kelompok anti yang melakukannya secara sepihak, misalnya FPI, Anda langsung mencibir lagi. Hehehehehe… Serba salah deh, Anda ini!
Argumen #07:
Anda bilang, pornografi itu meresahkan masyarakat. Masyarakat yang mana?
Toh faktanya, orang yang suka pada majalah porno jumlahnya jauh lebih besar.

Jawaban:
Jika ada 10 orang yang berkumpul, dari 9 di antara mereka mengatakan 1 + 1 = 3, sedangkan yang satu orang mengatakan 1+1 = 2, siapakah yang benar?
Kalau Anda mengatakan “jumlah orang yang doyan majalah porno jauh lebih besar”, maka Anda termasuk orang yang setuju bahwa 1 + 1 = 3. Anda hanya melihat kebenaran berdasarkan suara terbanyak. Padahal suara terbanyak belum tentu benar.

Argumen #08:
Itu semua tergantung moral orangnya, kok. Kalau otaknya sudah ngeres,
lihat kambing aja bisa langsung birahi. Apalagi lihat majalah porno.

Jawaban:
Sepertinya kita terbiasa untuk melihat masalah secara tidak
proporsional. Ada wanita yang berpakaian seksi dan mencoba menggoda pria
lewat penampilannya yang merangsang itu. Dan ketika ada pria yang
mengusilinya, kita semua menyalahkan si pria. Sedangkan si wanita kita
sebut sebagai orang modern karena penampilannya mengikuti perkembangan
jaman.
Kita hanya terbiasa menyalahkan orang yang terjebak melakukan kesalahan.
Ini benar-benar tidak adil. Seharusnya, kedua pihak harus disalahkan. Si
penggoda salah, di tergoda juga salah.
Jadi ketika ada orang yang berpikiran mesum setelah membaca Playboy,
apakah kita hanya menyalahkan orang tersebut dan tidak menyalahkan Playboy? Hihihi.. betapa tidak adilnya dunia ini!
Argumen #09:
Di negara-negara yang sangat permisif terhadap pornografi, kehidupan
mereka normal-normal saja kok.
Jawaban:
Negara mana yang anda maksud? Amerika? Coba tengoklah lebih dekat. Budaya kumpul kebo di sana telah membuat tatanan kehidupan mereka hancur lebur. Banyak anak yang tidak tahu siapa orang tuanya. Banyak orang yang kesepian karena tidak punya pasangan hidup yang setia. Mereka sepertinya baik-baik saja. Tapi coba Anda simak
kehidupan mereka lebih dekat. Janganlah Anda terbuai oleh indahnya film2
hollywood.
Argumen #10:
Playboy dan majalah porno lainnya hanya untuk konsumsi 21 tahun ke atas.

Jawaban:
Oh, apakah ini berarti: hanya orang yang berusia di bawah 21 tahun yang
akan dikenai dosa jika membaca media porno? Apakah orang yang berusia 21
tahun ke atas bebas dari dosa-dosa seperti itu?
Argumen #11:
Masalah dosa dan agama, itu urusan pribadi masing-masing. Jangan
bawa-bawa agama dalam hal ini. Lagipula, yang menentukan dosa itu kan
Tuhan, bukan kamu.
Jawaban:
Kalau agama adalah urusan pribadi masing-masing, kenapa harus ada ulama
atau ustadz? Apakah salah jika kita menasehati orang lain untuk berbuat baik dan
meninggalkan hal-hal yang tidak baik?
Kalau Anda berkata itu tidak baik, maka Alebih baik kembali ke masa
SD dan memarahi para guru Anda yang telah memberikan Anda pelajaran budi
pekerti dan sebagainya.
Dalam konteks tertentu, agama memang urusan pribadi. Tapi setiap
penganut agama juga berkewajiban untuk saling mengingatkan dengan
saudara-saudaranya yang lain.
Soal dosa, memang itu ditentukan oleh Tuhan. Tapi Tuhan juga telah
memberikan penjelasan lewat kitab suci bahwa pornografi itu dosa. Apakah
ini belum jelas bagi anda?
Argumen #12
Batasan porno itu kan relatif!
Jawaban:
Kalau Anda seorang muslim, coba Anda baca Al Quran. Di sana sudah
dijelaskan dengan amat tegas mengenai aurat dan sebagainya.
Argumen #13
Sudahlah, biarkan saja pornografi beredar. Yang penting kita bisa
mengendalikan diri, tidak ikutan menikmati!
Jawaban:
Dari segi pribadi, Anda benar. Tapi apakah Anda tidak peduli pada
masyarakat umum yang tidak bisa mengendalikan diri?
Atau jika Anda tidak peduli pada mereka, apakah Anda tidak peduli pada
anak, ponakan, dan saudara-saudara anda lainnya? Apakah Anda yakin,
mereka juga bisa mengendalikan diri seperti Anda?
Terimakasih dan wassalam, JONRU.
***
Jadi itulah sedikit dari berbagai macam alasan yang dikemukakan oleh mereka yang mengaku (atau tidak) sebagai penikmat pornografi. Kalau memang pembaca adalah orang-orang yang di dalam hatinya ada niat untuk menyelamatkan kita sendiri, anak-anak kita dan keluarga dari bahaya pornografi ini, maka sudah selayaknya untuk menyebarkan pesan-pesan ini kepada teman-teman kita.
Untuk teman-teman yang seide, diharapkan dengan adanya ini semakin menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Tentunya juga ini berguna buat teman-teman yang secara alami memang tidak atau belum bisa berbicara di depan umum dan tidak mampu untuk berdebat ataupun sekadar berbicara atau menjawab argumen sedikit kepada lawan bicara.
Dan untuk teman-teman yang pro pornografi, maka diharapkan pula dengan adanya jawaban-jawaban yang ada di sini, tidak sekadar terdiam seribu bahasa karena tercekik kulit buah durian mendapatkan jawaban yang telak itu, namun pencerahan dan kesadaran itulah yang kita harapkan dari mereka. Tentunya bila Allah berkehendak, yang penting kita telah berupaya semaksimal mungkin.

Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:41 21 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

HADITS PALSU TENTANG JIHAD AKBAR


17.01.2006 – HADITS PALSU TENTANG JIHAD AKBAR

Jihad dewasa ini berkembang menjadi suatu topik yang banyak dibicarakan dan ditulis oleh orang-orang yang bahkan belum pernah melewatkan waktu mereka satu menitpun di medan perang. Berbagai individu Muslim ini menjabarkan apa yang dimaksud dengan jihad dan apa yang bukan. Di antara yang mereka sebutkan adalah bahwa memelihara dan membesarkan anak adalah jihad, berdakwah adalah jihad, mengajak orang lain untuk pergi ke masjid adalah jihad, merendahkan pandangan adalah jihad, dan lain sebagainya.
Hanya sedikit ulama yang menjelaskan makna jihad sebagaimana yang dipahami dan dijelaskan oleh ulama dari mazhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali, yaitu jihad dalam pengertian linguistik berarti “berusaha/berjuang dengan sungguh-sungguh” dan dalam pengertian syari’ah berarti “berperang menghadapi musuh Allah”. Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah Shahih Bukhari, menyatakan bahwa setiap kali kata “fi sabilillah” di sebut dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka hal itu berarti Jihad.
Hanya sedikit ulama yang benar-benar menunaikan kewajibannya mengajak orang lain untuk menyembah Alloh SWT dan mematuhi perintah-Nya. Hanya sedikit ulama yang menerangkan kewajiban jihad dalam Islam dengan semestinya. Dan para ulama ini adalah mereka yang pernah terjun langsung dalam jihad.
Mereka telah mencium bau mesiu, mereka telah merasakan kepulan debu peperangan, keringat mereka mengucur deras di bawah hujan tembakan dan bom musuh. Tidak seorang ulama pun yang pernah terjun langsung ke medan perang yang mengatakan bahwa bangun menegakkan shalat shubuh atau memelihara dan membesarkan anak di lingkungan sekuler dan kafir adalah jihad.
Pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa jihad adalah seperti apa yang disebutkan di atas, adalah pendapat mereka yang sudah kalah sebelum berperang menghadapi musuh orang kafir, pendapat mereka yang bersedia untuk tunduk pada kemauan musuh, yang setuju atas perbuatan orang kafir, yang malu untuk pergi berjihad, yang berusaha untuk menyenangkan hati orang kafir dengan memenuhi tuntutan mereka untuk tidak mengakui jihad sebagai suatu peperangan.
Bertentangan dengan apa yang dikatakan individu muslim ini, salah satu definisi tepat apa yang digunakan orang-orang non-muslim, dalam mengartikan jihad adalah “Perang Suci” (Holy War). Jihad adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam bentuk peperangan secara fisik, yang dilakukan karena sebab-sebab yang agung, suci, dan mulia, yaitu dalam rangka menegakkan Kalimatullah SWT. Kebanyakan orang non-muslim telah memahami jihad dalam definisi ini, namun berbagai individu muslim ini selalu menentang dan menyatakan ketidaksetujuannya jika jihad diartikan sebagai Holy War. (Azzam Publication, 8: 2002).
Tulisan ini tidak akan membicarakan tentang hukum berjihad (fardu ‘ain atau fardhu kifayah) yang sudah jelas dalam Kitabullah, dan Hadits-hadits Nabi, dan telah disepakati oleh para imam mazhab fuqoha salaf maupun khalaf. Namun disini akan diuraikan tentang suatu perkataan bahwa jihad memerangi musuh adalah jihad kecil atau seringkali dianggap sebagai jihad dalam arti sempit., dan ini banyak diungkapkan oleh mereka yang merasa cendekiawan muslim di tanah air ini.
Banyak disinyalir bahwa jihad memerangi musuh agama adalah termasuk jihad kecil (jihadul ashghar). Sedang yang dikatakan sebagai jihad besar (jihadul akbar), adalah memerangi hawa nafsu.
Pendapat tersebut didasarkan pada sebuah riwayat:
“Kita telah melaksanakan jihad kecil, dan akan menuju jihad besar”. Para sahabat bertanya: “Apakah jihad akbar itu wahai Rasulullah?” Rasul menjawab: “Yaitu jihad melawan hawa nafsu.”
Sebagian umat Islam berupaya mengalihkan pandangan umat Islam terhadap pentingnya jihad, mempersiapkan diri, berniat melaksanakan dan mengmalkannya. Tetapi pada kenyataannya, dalil yang digunakan tersebut bukanlah sebuah hadits, demikianlah kata Ibnu Hajar Al-Asqalany di dalam Tasdidul Qaus. Tetapi yang benar adalah perkataan Ibrahim bin ‘Ailah. Memang ungkapan tersebut sangat populer di kalangan umat Islam, sehingga tampak sebagai hadits.
Al-‘Iraqy di dalam Takhriju Ahaditsil Ihya’ mengatakan: “Hadits tersebut oleh Imam Baihaqy dengan sanad dhaif, dari Jabir. Al-Khatib juga meriwayatkan hadtis tersebut di dalam buku sejarahnya, dari Jabir.
Andaikan hadits ini shahih, makna yang dikandung bukan berarti mengenyampingkan persoalan jihad. Sebab, jihad itu dilakukan di dalam rangka melakukan penyelamatan terhadap negara Islam atau menolak serangan musuh dari wilayah Islam. Tetapi yang terkandung dalam hadits tersebut ialah wajib melawan hawa nafsu, sehingga sikap hati menjadi ikhlas hanya karena Alloh. (Imam Hasan Al Banna, 81).
Dalam sebuah buku lain disebutkan: Perkataan: “Kita kembali dari jihad kecil (peperangan) menuju jihad besar”, yang oleh sementara orang disebut sebagai hadits, secara fakta adalah salah, dan merupakan karangan belaka yang tidak memiliki dasar. Sebenarnya perkatan ini adalah ucapan Ibrahim bin Abi Ablah, seorang generasi penerus dan bertentangan antara isi dan realita.
Ibnu Taimiyah di dalam Al-Furqan PP.44-45 menulis: Hadits ini tidak mempunyai sumber yang shahih dan tidak seorang ahli hadits dan ulama pun yang diketahui pernah meriwayatkannya. Jihad melawan orang kafir adalah perbuatan yang paling mulia dan yang lebih penting lagi, jihad adalah perbuatan yang paling penting demi kemanusiaan.
Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa hadits ini adalah hadits dhaif (lemah) karena sumbernya adalah Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al-Khiyam . AlHakim berkata, “Hadits riwayat orang ini tidak dapt dipercaya”. Abu Ya’la Al-Khalili berkata: “Orang ini sering memalsukan hadits, seorang yang sangat lemah dan meriwayatkan hadits yang tidak dikenal” (Masyari-ul-Asywaq, Ibnu Nuhas (1/31).
Perawai lainnya adalah Yahya bin Al-Ula, seorang yang dikenal sebagai pendusta dan pemalsu hadits (Ahmad). Amru bin Ali, An-Nasa’I, dan Ad –Daraqutni menyatakan, “Haditsriwayat orang ini tidak diakui”. Ibnu Adi menyatakan, “Hadits riwayat orang ini adalah palsu” (Tahzibut-Tahzib 11/261-262). Ibnu Hajar berkata, “Dia dituduh telah memalsukan hadits”. (At-Taghrib). Ad-Dhahabi mengatakan , “Abu Hatim berkomentar bahwa orang ini bukanlah seorang perawi hadits, Ibnu Ma’in menggolongkannya sebagai seorang yang lemah, dan Ad-Daraqutni berkata bahwa orang tersebut dapat diabaikan”. (Syeikh Abdullah Azzam, 75: 2002).
Mengapa pula perlu diuraikan derajat perkataan tersebut di sini adalah karena banyak dari kaum muslimin yang mendasari dirinya untuk tidak ikut berjihad hanya karena hadits palsu ini. Dengan ini pula beragam makna tentang jihad muncul ke permukaan. Kalangan yang mengaku ‘aliran Islam yang santun’ menekankan konsep jihad demikian dengan gencarnya.
Golongan intelektual tak ketinggalan mengatakan, menuntut ilmu termasuk jihad, dan lain sebagainya. Bahkan saking takutnya dengan segala yang berbau jihad, maka mereka yang getol menyeru jihad ditangkapi, dan ada ide untuk menutup pondok pesantren dan lembaga yang diduga keras mengajarkan jihad dalam kurikulum pendidikannya. Bahkan tidak mungkin yang menulis artikel inipun dicap sebagai FUNDAMENTALIS ISLAM, ISLAM RADIKAL, PENGIKUT ABU BAKAR BA’ASYIR, dan lain sebagainya.
Sekalipun masih banyak lagi hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai jihad diantaranya ialah amar ma’ruf nahi munkar, tetapi pada prinsipnya, bagi para pelakunya tidak akan mendapatkan syahadah kubra dan pahala sebagai mujahid. Sebab pahala ini sangat dikhususkan kepada mereka yang gugur di medan pertempuran fi sabilillah.
Sebagaimana pula disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal (Shahih Al-Jami’ no. 2828) bahwa “Ibadah yang paling tinggi nilainya adalah jihad”.
Sungguh beda nilainya antara tembaga, perak , emas, platina, alumunium, yang kesemuanya adalah logam. Dan sungguh beda imbalan yang akan di dapat oleh orang yang mengucurkan keringatnya dan darahnya di medan peperangan bila ia ikhlas dengan orang yang mengucurkan keringatnya karena mengetik artikel ini saking ruangannya tak ber-AC.
Joserizal Jurnalis pun berjihad dengan pisau bedahnya, Dyah Risang Ayu pun berjihad dengan penanya, Neno Warisman pun berjihad dengan seminarnya, Hidayat Nur Wahid pun berjihad dengan partainya, Tamsil Linrung pun berjihad dengan dananya untuk mewujudkan penerapan syari’at Islam di Sulawesi Selatan, semuanya berjihad —sekali lagi—dengan keahliannya.
Namun sungguh berbeda pahala yang akan diterima oleh tukang becak asal Tegal yang sudah berada di tanah jihad di Palestina dan telah menjadi syahid di sana atau dengan Habib Rizieq Syihab yang tidak hanya berkoar menyerukan dan membuka posko pendaftaran jihad namun sudah berangkat ke Iraq melalui Yordania untuk membunuh tentara agresor Amirikiyyah wal Britaniyyah.
Sekali lagi sungguh amat berbeda pahala yang akan mereka terima, karena ini berbanding lurus dengan segala kesusahan dan kengerian di medan perang, yang juga berbanding lurus pula dengan azab yang akan mereka (para mujahiddin) terima bila ia tidak ikhlas berjihad karena-Nya semata namun hanya karena mengharap pujian manusia belaka.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Q.S. Al-baqoroh: 216).
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati;bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka…(Q.S. Ali Imron: 169). Allohu a’lam bishowab.

Rujukan:
1. Al-Qur’an yang mulia;
2. Join the Caravan, Syeikh Abdullah Azzam, Azzam Publication, 2001;
3. Laa Izzata illa bil Jihad, Imam Hasan Al-Banna, Generasi Kita Press.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Diedit 18:00 15 Januari 2006

Perkenalkan Nama Saya: HEDONIS


17.01.2006 – Perkenalkan Nama Saya: HEDONIS

Sudah menjadi Hedoniskah Kita……………..?

Dalam suatu program yang ditayangkan setiap malam minggu oleh salah satu stasiun tv, dibahas tuntas tentang kemewahan dunia yang dimiliki para pengusaha dan selebritis dunia. Di tampilkan pula tentang kehidupan mereka dari pagi hingga malam dengan surga dunianya, mulai dari istananya , perabotannya, jet pribadinya, mobil-mobilnya dan banyak lagi yang lainnya.

Salah satunya adalah seorang pengusaha keturunan Arab yang mempunyai kerajaan bisnis di Spanyol. Begitu banyak mobil mewah yang ia punyai mulai dari Lamborghini sampai Jaguar, dari yang terkuno sampai yang paling canggih. Semuanya terparkir di Istananya di selatan Spanyol bak sebuah showroom. Satu lagi ia mempunyai sebuah mobil kuno yang kini tiada duanya di dunia, tentu ini berarti betapa mahalnya mobil tersebut. Belum lagi istana dengan puluhan kamar mewahnya. Dan saya yakin mobil atau kamar itu tak semuanya terpakai.

Tak lupa di akhir acara itu dilukiskan pula bagaimana kehidupan sosialnya dengan warga masyarakat sekitar. Ia membangun sebuah masjid besar dan indah, serta menyumbang berbagai macam kepentingan publik. Pokoknya ia digambarkan sebagai sosok dermawan bagi kota itu.

Ada lagi sosok kaya lain yang berasal dari salah satu negara teluk. Ia begitu membanggakan perhiasan emasnya yang begitu berlimpah, rumahnya yang besar, isri yang cantik dan lain sebagainya. Pokoknya semua keindahan dan kenikmatan dunia ada pada orang tersebut. Yang entah kapan kita akan dapat menikmatinya, kecuali di Surga nanti (itupun kalau kita pantas mendapatkannya).

Sekarang mari kita lihat di Ethiopia, Palestina, Bangladesh, atau Indonesia, di mana kemiskinan sudah menjadi keseharian di sebagian besar penduduknya yang mayoritas muslim. Untuk memenuhi kebutuhan dasarnya—pangan, sandang, papan—saja mereka harus bersusah payah. Bila mereka tak sanggup, lalu putus asa, maka jalan pintas dengan bunuh diri menjadi solusi. Na’udzubillah.
Lalu apa hubungannya antara orang kaya yang disebut di awal tadi dengan kemiskinan yang begitu mencolok di sebagian negara tersebut? Adalah suatu ketimpangan. Ketimpangan yang seharusnya tak pernah terjadi. Yang membuat saya tambah miris lagi adalah ternyata banyak dari mereka yang bertampang Arab dan mengaku Islam.

Dalam Islam, kemiskinan merupakan tanggung tanggung kawab sosial bagi orang-orang yang mampu dan juga merupakan tanggung jawab agama. Apakah mereka tidak mempunyai kepekaan tentang keadaan umat? Sedangkan kemubadziran selalu mereka abadikan dalam setiap detak jantung mereka.

Kita bisa lihat betapa ketika negara-negara penghasil minyak tersebut mulai menghasilkan miliaran dollar dari emas hitamnya, jalanan di Paris terutama di sebuah jalan yang terkenal dengan pusat mode dunianya dipenuhi para emir berjubah dan wanita yang ber-abaya hitam.
Bank-bank di Eropa pun mulai kebanjiran dana dengan banyaknya deposito yang ditanamkan di sana dengan bunga yang tidak mereka ambil. Gaya hidup hedonisme pun bermunculan di negara-negara teluk yang sekitar sembilan puluh tahun lalu masih hidup dengan peradaban nomadennya.

Benar apa yang pernah dikatakan oleh Rosululloh bahwa satu yang dikuatirkan yang akan terjadi pada umatnya adalah kemewahan dunia yang menyilaukan. Ibnu Khaldun –rahimahulloh- dalam Mukadimah-nya berkata: ”Kehidupan mewah (jetset) merusak manusia. Ia menanamkan dalam diri manusia berbagai macam kejelekan, kebohongan, dan perilaku buruk lainnya. Nilai-nilai yang baik yang notabene merupakan tanda-tanda kebesarannya hilang dari mereka dan berganti dengan nilai-nilai buruk yang merupakan sinyal kehancurannya dan kepunahannya. Itulah di antara ketentuan Alloh yang berlaku pada makhluk-Nya yang menjadikan negara sebagai ajang kedzaliman, merusak strukturnya dan menimpakan penyakit kronis berupa ketuaan yang membawa kepada kematiannya.”(Muhammad Sayyid Al-Wakil, 1998:34)

Apa yang akan diperoleh dari suatu negeri yang hedonismenya begitu berurat berakar? kita lihat di Qur’an Surat Al-Isra ayat 16:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Kenyataan apa pula yang akan didapat oleh para hedonis itu? Wahn, ya Wahn itulah yang akan mereka peroleh. Cinta dunia dan takut mati. Dan mereka tidak , akan memperdulikan siapa pun, yang mereka pikirkan bagaimana kesenangan itu akan tetap abadi dengan mereka.
Padahal dengan segala kekayaan yang dimilikinya itu semua bisa untuk mengentaskan dan membawa maju kembali Islam dan umatnya kepada peradaban yang tinggi dan gilang gemilang. Apalagi dengan adanya dua organisasi besar umat Islam yakni OPEC dan OKI. Seharusnya dengan adanya dua organisasi itu umat bersatu dan mendapatkan manfaatnya yang lebih besar. Sungguh luar biasa.
Namun apa yang terjadi? OPEC dan OKI sekarang ini sudah tak mempunyai gigi taring lagi setelah era Faisal bin Abdul Aziz yang pernah menggunakan minyaknya sebagai alat untuk menekan Amerika dan sekutunya pada tanggal 6 Oktober 1973. Produksi minyak dikurangi dan pengirimannya ke Amerika Serikat dan Belanda dihentikan. Kebijaksanaan ini diikuti oleh beberapa negara Arab lainnya, sehingga harga minyak melonjak dan melumpuhkan banyak negara industri.(Ensiklopedi Islam Jilid I, 1999:162)

Sekarang apa yang dikatakan oleh para emir itu ketika mereka diminta untuk memboikot dan mengontrol minyaknya? “Tak semudah membalikkan telapak tangan….”, kata mereka. Padahal Raja Faisal pernah mengatakan sebuah kalimat yang sekarang amat terkenal ketika ditekan oleh Amerika Serikat untuk segera melepas aksi embargo minyaknya, kurang lebihnya demikian: “siapa yang butuh minyak, merekalah yang butuh minyak, kami tidak membutuhkannya, dan kami siap untuk kembali ke zaman onta.” Semoga Alloh memberikan kelapangan padanya.

Entahlah, ketika para penerusnya tidak bisa berbuat apa pun untuk dunia Islam ini. Entahlah mereka yang berada di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi. Dalam tataran kebijakan yang akan diambil oleh suatu negara mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika Saddam dengan seenaknya menganeksasi Quwait—sehingga mereka harus meminta bantuan Amerika Serikat dan sekutunya yang jelas-jelas tidak seiman.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara-saudara mereka di Bosnia dan Chechnya terbantai—hanya Malaysia yang jauh di ujung timur saja mau menerima para pengungsi Bosnia. Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika banyak dari mereka yang merasa terdiskriminasi ketika mereka berada di Amerika Serikat pasca 11 September.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara-saudara mereka dihujani berton-ton bom di Afghanistan, mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika ratusan anak di Irak mati setiap harinya karena kelaparan, dan masih banyak lagi yang lainnya gemingnya mereka.

Sekali lagi mereka tak berbuat apa-apa dalam tataran kebijakan yang akan diambil oleh negara, dan ternyata yang berbuat nyata dari mereka adalah NGO-NGO nya, atau bahkan individual-individual mereka yang tergerak membantu saudara-saudaranya. Yang nyata adalah aksi boikot dari sebagian warganya terhadap produk Amerika Serikat dan Israel, itupun hasil dari kesadaran sendiri bukan hasil dari suatu kebijakan yang ditempuh negara mereka. Jadi apa yang terjadi pada para emir kita yang ada di tanah sana. Wahn kah mereka…?

Kita tak bisa menuduh mereka tanpa kita mengoreksi terlebih dahulu tentang keadaan kita di sini . Di negara yang kaya akan sumber daya alamnya, firdausnya bumi yang kini tetap bertahan untuk tetap hidup setelah lebih dari setengah abad yang lalu merdeka, setelah hampir delapan tahun berlalu dari pesta akbar terakhirnya, yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Apakah hedonisme itu ada di negara kita ini…?
Tak usah jauh-jauh melihatnya, tonton acara televisi kita, sepertinya tak ada krisis di negeri ini, atau bagi yang setiap harinya berkeliling di Jakarta sering melihat begitu banyaknya mobil yang harganya di atas satu milyar berseliweran di jalanan. Atau di sekitar segitiga emas Jakarta, restoran mahal sepertinya tak pernah sepi dari pengunjung di setiap siang atau malamnya. Sekali lagi terasa tidak ada krisis.

Apa salahnya mereka membelanjakan hartanya untuk kesenangan dunia mereka setelah bekerja keras untuk mendapatkan semuanya. Tidak ada yang salah. Kita sebagai muslim tak ada salahnya pula menikmati hidup mewah. Islam tidak menganjurkan untuk selalu hidup menderita dan melarat serta tidak berpakaian trendi.

Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Yazid bin Harun yang berkata bahwa Asma’ pernah mengeluarkan jubah yang di border dengan dibaj dan berkata: “Dengan jubah inilah dulu Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam menemui musuh-musuhnya”. HR Ahmad dan Abu Daud. Jadi penampilan dengan sedikit mewah dibenarkan untuk tujuan menerima tamu undangan dan psy war terhadap musuh-musuhnya. Yang dilarang ialah hanyut dalam kemewahan sebagai gaya hidup dan dasar negara. (Muhammad Sayyid Al-Wakil, 1998: 36-37).

Apakah hedonisme ada pada sebagian pemimpin kita? Apakah tidak cukup bukti dengan adanya pesta tahun baruan di Bali yang menghabiskan uang 10 miliyar dan ulang tahun sebuah partai politik dengan dana 1,4 miliyar, atau konser-konser mahal lainnya? (Sabili 14 Th.X:112), atau penyelenggaraan pesta pernikahan super mewah di hotel? Kalaupun hedonisme itu tak masalah, tapi layakkah itu semuanya dilakukan pada saat anak bangsa ini begitu menderita dengan banyaknya kenaikan harga bahan kebutuhan dasar? Ketika kemiskinan sudah menjalar ke semua sendi kehidupan.

Sekarang kita nilai diri kita sendiri, yang bekerja di sebuah direktorat di departemen ternama di republik ini. Jangan-jangan gaya hidup itu sudah menjangkiti kita. Apakah kita sering berganti-ganti handphone seiring dengan perkembangan trendnya? Atau kita sudah merasa tidak cukup untuk memiliki satu handphone?
Atau dengan mobil yang mentereng itu yang kayaknya sudah bosan untuk kita pakai. Atau dengan pakaian dan ikat pinggang yang kesemuanya harus bermerek? Atau dengan gaya hidup kita yang harus selalu makan siang di luar kota dan kembali pada saat jam kantor sudah menunjukkan jam empat sore?
Atau dengan gaya hidup kita yang malu untuk memakai pakaian yang sama di setiap resepsi sehingga memaksa kita untuk mempunyai pakaian yang harus baru?—sedangkan jika dipikir-pikir kalau memaksakan demikian kayaknya kita layak disebut orang yang simpatik (simpanse pakai batik, maaf), karena tidak mau tahu akan keterbatasan yang kita miliki.
Jadi, pikirkan gaya hidup yang manakah yang sering kita lakukan tanpa memikirkan keadaan sekeliling kita. Gaya hidup yang sering menimbulkan kemubadziran dan kesia-siaan, gaya hidup yang memaksakan diri, gaya hidup yang pada akhirnya lupa akan kesyukuran kita, gaya hidup yang membawa kita pada kufur nikmat, gaya hidup yang menjauh dari sifat qona’ah, gaya hidup materialisme, gaya hidup yang memandang dunia sebagai ukuran, gaya hidup yang bersumber dari harta yang tidak jelas; gaya hidup yang melupakan kematian, dan semua gaya hidup yang melupakan cinta-Nya.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; sampai kamu masuk ke dalam kubur; janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu); dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui; janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin; niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim; dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin; kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). QS At-Takaatsur:1-8.

Jadi ketika hati kita sudah tak tersentuh dengan segala ketidakadilan yang dialami umat di seluruh penjuru bumi ini, maka kita perlu instrospeksi diri kita, jangan-jangan hedonisme itu sudah menjadi darah daging kita, jangan-jangan wahn itu telah menjadi sumsum tulang kita. Kita berlindung dari semuanya itu.

Sekarang apa yang kita harus lakukan untuk memerangi hedonisme itu? Apakah cukup dengan perintah petinggi kita kepada bawahannya untuk memboikot acara pesta pernikahan—yang juga termasuk anak buahnya—karena diselenggarakan di sebuah ballroom hotel berbintang ? (memenuhi undangan pernikahan itu wajib, tapi kita berhak juga untuk tidak datang ketika di pesta itu diperkirakan banyak kemaksiatan, dan kalaupun kita berniat tidak datang, niatkan karena itu, bukan karena takut tidak memenuhi perintah atasan dan nantinya DP3 kita akan jelek).

Contoh di atas sudah cukup baik—karena mulai dari yang di atas terlebih dahulu—tetapi akan lebih baik lagi ketika para atasan juga secara makro menciptakan sistem yang anti hedonisme, sistem yang tidak menjadikan setoran sebagai alat ukur dari keberhasilan seseorang.
Yang paling penting adalah diri kita sendiri untuk mulai saat ini tidak berlaku hedonisme. Sering memandang ke bawah dalam hal keduniawian, dan selalu memandang ke atas dalam prestasi kerja dan keakhiratan. Atau kejarlah duniawimu seakan-akan kau akan hidup selamanya dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok hari.

Dengan berintrospeksi ini, kiranya Alloh memudahkan kita menyingkirkan hedonisme itu, dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang peka terhadap keberadaan umat ini. Sadar tentang akibat yang akan diperoleh bagi orang-orang yang mempunyai wahn dalam dirinya, dan sadar tentang nikmatnya berjihad—karena orang yang wahn boro-boro memikirkan jihad, memikirkan perut saudaranya sendiri pun tak kan pernah terlintas dalam benaknya.

Oh….dunia,
Indahnya engkau selalu menghalangi aku bercinta dengan-Nya
Oh…dunia,
Gemerlapmu sering melupakanku kepada-Nya
Oh…dunia,
Kapankah aku memegangmu hanya dalam genggamanku, tidak dalam hatiku
Oh…dunia,
engkau sesungguhnya tak sebanding dengan setitik debu akhirat sekalipun
tapi mengapa banyak yang masih terpesona olehmu….?
Ya Alloh aku berserah diri padamu, dan hindarkanlah aku dari kebencianmu karena aku mengatakan apa yang tidak aku lakukan, sebagaimana Engkau telah firmankan:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?; amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. Q.S. Ash-Shaff: 2-3.
****
(untuk dua anakku yang tercinta yang sedikit tersia-sia karena aku menulis ini di sepanjang Ahad, di gerimisnya sore, di pinggiran Bojonggede, 2 Pebruari 2003).

Maroji’:
1. Alqur’anul karim;
2. DR. Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam: dari Dinasti Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998;
3. Ensiklopedia Islam Jilid I, PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1999;
4. Sabili Edisi 14 Tahun X, 30 Januari 2003.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ditulis di tahun 2003
diedit 12:52 14 Januari 2006

Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…


16.01.2006 – Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…
Belum juga surut gaung studi banding legalisasi judi, kini masyarakat Indonesia kembali digegerkan upaya segelintir orang untuk menerbitkan majalah Playboy Indonesia. Dengan sistem franchise, izin penerbitannya pun sudah diperoleh pada akhir November 2005 yang lalu.
Kini mereka sudah mengadakan audisi playmate—model yang akan ditampilkan di halaman utama—walaupun secara tertutup. Dan rencananya majalah itu akan beredar Maret 2006 nanti. Pengusung majalah pengeksploitasi aurat perempuan ini tentu saja bersikukuh bahwa penerbitannya akan disesuaikan dengan apa yang bisa diterima oleh masyarakat. Tetapi tak menampik bahwa foto-foto syur pun tetap akan ada. (Detikhot).
Mereka pun tak takut dengan kontroversial yang akan terjadi dengan peluncuran majalah itu di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim ini. Dengan melihat betapa sekarang pun telah banyak beredar dan di jual di lapak-lapak majalah pria yang juga menampilkan aurat wanita. Apalagi dengan harga seribu rupiah sudah mendapatkan tabloid serupa yang lebih hot di sepanjang pintu tol Tomang, Jakarta.
Lagi-lagi alasan klise dengan berlindung di balik keindahan, cita rasa seni yang tinggi dan tidak murahan, ekspresi rasa syukur kepada Tuhan, menjadi justifikasi. Apalagi dengan jaminan bahwa majalah itu tidak akan sembarangan beredar, hanya dijual di toko-toko buku terkemuka, serta menitikberatkan distribusi pada sistem berlangganan untuk meraih pembacanya.
Kembali di sini terjadi pertarungan wacana antara sekulerisasi dan integralisasi ideologi dalam berkesenian. Di mana bertahun-tahun sebelumnya pertarungan ini sudah didahului pada ranah kesusastraan dengan adanya pembagian sastra Islam di satu sisi dengan sastra tanpa embel-embel di belakangnya di sisi yang lain.
Perlu dicermati pula bahwa rencana penerbitan ini yang sengaja diekspos lebih dini dan akan menjadi kontroversial, ditinjau dari aspek pemasaran maka apa yang diinginkan pengusungnya tercapai sudah. Selain publikasi gratis juga akan dapat dilihat kecenderungan ke mana arah angin keinginan masyarakat bertiup.
Menolak atau menerima. Bila iya, maka Rencana A: penerbitan dengan lebih berani akan segera terlaksana. Bila tidak, rencana B harus dilakukan berupa penundaan peluncuran sampai waktu yang tidak dapat ditentukan atau menunggu lengahnya imun dari masyarakat.
Namun tentunya, kelengahan itu jangan sampai terjadi di tengah keinginan mayoritas bangsa ini keluar dari keterpurukan, kemiskinan, degradasi moral, dan rentetan musibah sepanjang tahun lalu bahkan di awal memulai tahun barunya.
Akankah tidak terpikir tentang musibah apa lagi yang akan menimpa bangsa ini dengan adanya niatan semu itu? Akankah tidak terpikir kerusakan moral apalagi yang akan dialami oleh para generasi penerus bangsa ini, yang sudah dibombardir dengan tayangan porno melalui siaran televisi, piranti-piranti cakram bajakan, telepon genggam, dan internet?
Akankah tidak terpikir naiknya angka kejahatan berupa kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemerkosaan, trafficking, pedophilia atau semuanya itu sekadar onggokan angka statistik tiada berguna?
Atau akankah pemerintah pun kembali mengulang langkah paradoksal dengan membiarkannya begitu saja beriring dengan program peningkatan sumberdaya manusia Indonesia?
Mengutip pendapat seseorang di sebuah milis: “ketika di dalam kerja keras membenahi pendidikan bagi anak bangsa, pengupayaan peningkatan pengalokasian dana yang cukup, pembenahan sistem pendidikan, perbaikan gedung-gedung sekolah dan disertai peningkatan kesejahteraan guru, ditengarai ada upaya-upaya yang kontra produktif, yang mengikis dan menggerogoti output yang ingin dihasilkan, maka berapa besarkah dana yang akan terhambur sia-sia?” (Arnoldison, 13/1/06). Ya, sia-sia.
Tapi di saat mata hati menjadi bebal kesia-siaan pun hanya dianggap masalah kecil dan resiko yang harus diterima sebagai negara yang akan maju dalam pergaulan global. Tentu dengan sejuta argumen yang telah dikokang. Semisal tidak ada relevansi yang signifikan antara kemajuan dan kedigdayaan suatu bangsa dengan penerbitan-penerbitan tidak bermoral tersebut.
Namun tidakkah kita bisa mengambil pelajaran penting tentang keruntuhan peradaban umat Islam dengan kota-kota gilang gemilangnya di Baghdad, Cordova, Granada, Sevilla, ataupun Istanbul? Ya, keruntuhan terjadi di saat aspek moral sebagai PONDASI suatu peradaban berada pada titik nadir.
Bahkan Prancis yang tergolong negara besar, memiliki militer terlatih dan dipersenjatai dengan senjata-senjata canggih, serta diprediksikan oleh sebagian pengamat sanggup memberikan perlawanan kepada Jerman di saat perang kedua, pada kenyataannya mereka menyerah dengan mudah, tanpa syarat, bertekuk lutut di bawah kaki Hitler. Satu analisis penting dari kekalahan tersebut adalah Perancis dilanda dekadensi moral parah yang dibungkus dengan nama kebebasan (Alwakkil: 1998).
Ataukah kita akan bercermin pada polisi dunia Amerika Serikat (AS) di mana keluarga sebagai PILAR PENEGAK suatu peradaban dengan berjalannya waktu semakin ringkih dan tidak mempunyai ketahanan mental yang kuat. Single parent akibat perceraian ataupun kumpul kebo, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan psikotropika, hingga gank-gank kejam yang tidak mengenal hukum dan perikemanusiaan.
Tinggal menunggu waktu saja dari keruntuhannya, yakni di saat hukum dan penegakkannya sebagai ATAP PELINDUNG suatu peradaban hanya sanggup mengaum di atas kertas.
Lalu bagaimana dengan tanah air tercinta ini? Di saat penegakan hukum tidak berjalan, akankah dua hal lain paling esensi suatu peradaban yakni moral dan keluarga pun menjadi tidak kokoh, lemah, ringkih bagaikan sarang laba-laba?
Tentu kita akan sama-sama berseru: Tidak! sambil menata langkah-langkah perbaikan ke depan. Maka, langkah pertama adalah sudah sepatutnya pemerintah sebagai pemegang otoritas sah bersikap tegas. Pelegalisasian rencana undang-undang antipornografi dan pornoaksi menjadi suatu hal yang niscaya. Ketegasan ini perlu agar kebingungan para pakar terhadap pendefinisian pornografi dan pornoaksi berhenti. Dan tentu berhenti dengan keperpihakan pada nilai-nilai moral dan etika yang termaktub pada agama yang dianut mayoritas bangsa ini, yang tentunya juga ada pada agama lainnya.
Langkah Kedua tidak bisa dilepaskan dari peran para perwakilan rakyat di DPR RI dalam mempercepat pembahasan rencana undang-undang tersebut yakni dengan memetakan kekuatan kawan dan lawan. Sehingga dengan demikian diketahui seberapa besar kekuatan riil dari para pengusung moral dan pendukung materialisme. Setelahnya jika perlu pengerahan massa berupa parlemen jalanan dapat dibentuk sebagai kekuatan penyeimbang. Selain sebagai bentuk pengawasan atas kinerja anggota DPR yang seringkali lambat dalam menelurkan legislasi dan tidak sebanding dengan gaji/tunjangannya yang diterima.
Langkah ketiga adalah dengan tetap mempererat silaturrahim dan menyinergikan gerak dari para partai Islam, ormas Islam, LSM dan tentunya pula dengan media Islam serta pemuka-pemuka agama-agama lain yang seide agar tetap menjadi kekuatan penekan yang selalu diperhitungkan. Dengan tidak bosan-bosannya membuat pernyataan sikap, pembentukan opini melalui media massa, dan penyebaran ide perlawanan pada setiap khutbah sholat jumat.
Ketiga langkah di atas akan percuma bila tidak ada dukungan dan upaya yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Berupa langkah tidak membeli, tidak membaca, tidak menonton produk-produk erotisme dengan alasan apapun. Yang terpenting lagi adalah azzam atau tekad dari setiap muslim untuk selalu terpanggil melakukan amar makruf nahi munkar. Sebagaimana himbauan Ikatan Da’i Indonesia agar setiap muslim harus proaktif dan terdepan dalam menebar nilai-nilai kebaikan dan memusnahkan nilai-nilai kejahatan.
Bila tidak, maka dengarkanlah firman Allah dalam surat AlJaatsiyah ayat 23 ini: ”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.
Bila tidak, maka bersiaplah-siaplah melihat seorang bapak sembunyi-sembunyi, ragu-ragu membeli Playboy, sambil bergumam: ”oh Yes, oh No.” Ya, karena dia penasaran. Tidak, karena risih, malu, dan takut ketahuan anak-anaknya. Na’udzubillah.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:02 15 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan