JADILAH IKAN SEGAR!!!


JADILAH IKAN SEGAR!!!

Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.

Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.

Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari’at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.

Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.

Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum’ah, Da’watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da’watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)

Nah, Ki Dalang mau berada di tengah-tengah dari mereka berdua. Mampu untuk melahirkan karya dan laki-laki. Dan pada hari ini adalah hari di mana Ki Dalang menjadi sosok produktif ulama hadits tersebut. Dengan demikian beberapa paragraf di atas adalah baru pengantar, bukan isi dari lakon yang Ki Dalang mau mainkan. Sekarang dengarkanlah, atau bacalah, terserah Anda, cerita dari lakon ini.

Lagi, Ki dalang mendapatkan cerita hebat ini dari teman Ki Dalang yang mengirimkan surat elektroniknya kemarin. Cerita ini sebenarnya sudah banyak tersebar di dunia maya. Tetapi Ki Dalang mau membaginya kepada Anda yang sudah mengetahui ataupun yang belum mengetahuinya sama sekali. Oh ya, cerita yang dikirimkan oleh teman Ki Dalang itu cuma mengaitkannya dengan motivasi kita untuk mendahsyatkan potensi diri. Tapi Ki Dalang ingin semuanya dikatikan dengan nilai-nilai dakwah yang menjadi senyawa apik dari kehidupan kita di setiap hari dan malamnya.

Begini ceritanya…

KISAH NELAYAN JEPANG 2)

Ada sebuah cerita tentang nelayan Jepang yang insaya Allah bisa kita ambil hikmahnya. Orang Jepang sejak lama menyukai Ikan yang segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan sekitar Jepan dalam beberapa dekade ini.

Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh nelayan pergi, maka waktu yang dibutuhkan pun semakin lama untuk membawa hasil tangkapannya ke daratan. Jadi, ikan yang dibawanya tersebut sudah tidak lagi segar. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi permasalahan ini, perusahaan memasang freezerdalam kapal mereka.

Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut. Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi senakin jauh dan lama, namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan beku dan ikan segar, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Kemudian sebuah gagasan baru kembali dipakai oleh perusahaan penangkap ikan, yaitu dengan cara memasang tangki-tangki penyimpan ikan dalam kapal mereka. Setelah menangkap ikan para nelayan langsung memasukkan ikan tersebut ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan.

Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas kendatipun tetap hidup. Namun orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa segar ikannya. Orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.

Selanjutnya cara apa lagi yang dilakukan oleh para nelayan untuk menjaga agar ikannya tetap segar, sehingga diminati oleh masyarakat Jepang? Solusi terbaiknya ternyata sederhana, sangat sederhana!

Perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan tersebut di dalam tangki, tetapi kini mereka memasukkan ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi hidup dan sangat segar. Ikan-ikan tersebut ternyata tertantang untuk bertahan hidup dari ancaman.

***

Ya Ayyuhal Ikhwah, dari cerita ini Ki Dalang tidak membahas pada kreatifitas nelayan-nelayan Jepang tapi menitikberatkan pada kalimat ini: orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.

Artinya apa wahai saudara-saudaraku? Orang segar membutuhkan ikan yang segar, ikan yang masih aktif bergerak. Sehingga ketika tiba waktunya untuk disayat dengan pisau masih terasa kesegarannya, masih terasa kaya nutrisinya, dan sudah barang tentu rendah kalorinya.

Orang segar tidak butuh dengan ikan yang tidak segar, lemas, atau mati bahkan busuk.

Begitupula dengan masyarakat kita. Masyarakat yang segar butuh kader-kader dakwah yang segar. Bukan untuk disembelih ataupun disayat dengan pisau. Tapi untuk memberikan tambahan kesegaran yang lebih kepada mereka. Mereka butuh kader-kader dakwah yang senantiasa enerjik, yang tetap semangat dalam kondisi apapun, dan tentunya mampu memberikan kesegaran kepada mereka di tengah himpitan hidup yang membelenggu. Kesegaran yang bagaimana?

Kesegaran yang berupa semangat membina yang tak pernah padam, keluasan ilmu, tawadhu’, jujur, dermawan, bersih, peduli, itqon (profesional), dan terus menerus beramal nyata yang benar-benar dirasakan oleh mereka. Kedatangan kita ditunggu sampai-sampai mereka bernyanyi seperti lirik lagu ini: datanglah, kedatanganmu kutunggu, telah lama, telah lama ‘ku menunggu…3)

Setiap pekannya kesegaran kita ditunggu oleh mereka. Koreksi kita pada tilawah mereka, ilmu tajwid yang menuntun mereka, hadits-hadits Arba’in yang kita bacakan kepada mereka, taujih yang kita sampaikan kepada mereka, bahkan telinga tebal dan kesediaan kita untuk mendengarkan keluhan mereka.

Ayyuhal ikhwah, itu semua butuh kreatifitas kita sebagai refleksi kesegaran itu. Jangan sampai kreatifitas itu baru muncul pada saat kita memang terdesak atau ketika malaikat maut sudah muncul di depan hidung kita. Selagi masih ada suasana kondusif di negeri kita tercinta ini yang memungkinkan kita dengan nyaman dan aman untuk melakukan syiar-syiar kebaikan maka manfaatkanlah itu. Mumpung kesempatan itu masih ada. Suasana aman kiranya lebih baik daripada suasana chaos.

Dus, ketika suasana politik sudah akan menurun desibel hiruk pikuknya, maka sudah saatnya Anda semua sebagai kader dakwah mengasah kembali pedangnya yang tumpul, tapal kudanya yang sudah aus, rentangan busur panahnya yang sudah kendor untuk kembali dibina dan membina, untuk kembali memikirkan sejatinya asholah dakwah itu. “Kembali ke barak!!!”, kata teman Ki Dalang.

Teruslah bergerak, teruslah beramal, karena itu membuat Anda semua para kader dakwah senantiasa segar.

Bergeraklah, sungguh air yang diam itu akan menjadi bibit penyakit. Jadilah air yang mengalir yang senantiasa memberikan manfaat pada jalan yang dilewatinya.

Bergeraklah, karena diam berarti kematian. 4)

Bergeraklah, karena diam itu adalah busuk.

Bergeraklah, maka Allah akan menggerakkan hati manusia. Taharaku wallahu sayuhariku qulubannas.

Bergeraklah engkau.

Jadilah ikan segar!

Wallahua’lam bishshowab.

Catatan Kaki:

  1. Email motivator Febriya Fajri
  2. Ridho Rhoma feat Sonet 2 Band

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

9:12 03 Mei 2009

ALI SEMBIRING TAUBAT


ALI SEMBIRING TAUBAT

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.

Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya. Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.

Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat. Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dapat mengambil pelajaran dari semuanya. Kesulitan yang bertubi-tubi menimpa dirinya adalah ujian. Ujian yang diberikan oleh Tuhannya yang baru ia dekati saat masuk penjara.

“Setelah kesulitan ada kemudahan”, katanya mengutip ayat yang ada di Juz 30.

Sejak itu ia mulai mengais-ngais harap pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia mulai menabung pahala untuk bekalnya nanti. Kebaikan-kebaikan ia cicil setiap hari. Satu tujuan adalah ridho-Nya dapat ia raih.

Sebagai manusia yang hidup di muka bumi, dengan cahaya iman di hati, ditambah beban sebagai khalifah fil ‘ardhi maka adakalanya hidup dipenuhi dengan banyak kesulitan yang datangnya tidak disangka-sangka. Paradoks dari rezeki yang diberikan Allah yang datangnya pula tak disangka-sangka.

Pada akhirnya Ali Sembiring tahu dari ceramah Ustadz di masjid dekat pengkolan. Tempatnya ia melepas penat setiap adzan dhuzur berkumandang. Ada enam pintu kebaikan yang akan melepaskan dirinya dari berbagai macam kesulitan.

Pintu pertama, mudahkan kesultian orang lain.

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.

Ali sadar betul. Dulu banyak proposal yang masuk pada dirinya dan ia tak akan meneruskan proposal dari konstituennya sebelum ia tahu betul berapa persen fee yang akan ia dapat dari upaya bantuan dengan pamrih itu. Ali taubat.

Pintu kedua, perbanyak shadaqah.

Sudah terlalu banyak keutamaan shadaqah yang diceramahkan oleh para ustadz. Tapi hanya sedikit yang masuk ke otaknya dan berbuah amal. Terbayang pada dirinya bagaimana ia juga banyak “shadaqah” tapi itupun dengan niat lain agar orang yang diberi infak atau shadaqah tersebut mencoblos dirinya. “Pak, Bu ini sembako dari saya, ingat yah nomor partai saya” atau dengan amplop putih berisi uang cebanan yang ia bagikan habis shubuh pada hari-H. Serangan fajar. Ali taubat.

Pintu ketiga, menghindari apa-apa yang diharamkan Allah.

Duh, ceramah ustadz itu menggedor hatinya. Malu dirinya mengungkapkan semua yang telah dilakukannya dulu. Kamar hotel bintang tiga menjadi saksinya saat bergumul dengan wanita yang bukan muhrimnya. Ia kaya. Ia sehat. Tapi istrinya tak mengizinkan dirinya berpoligami. Dan ia tak bisa menceraikan isitrinya. Pun ia takut dengan cercaan masyarakat kalau ia berpoligami. Shorcut ia tempuh. Apatah lagi seringkali kalau demikian ia ditemani sampanye dan anggur merah berharga mahal. Ah…Ali taubat.

Pintu keempat, “birrul walidain”, kata ustadz itu.

Untuk yang ini, Ali merasa ia jagonya. Tak pernah sedikitpun ia menyengsarakan batin dan lahir kedua orang tuanya. Ia merasa lega sebentar. Tapi sejenak ia tertegun. Uang darimana yang ia berikan kepada mereka. Ia ingat setiap ia mendapat fee dari rekanan pelaksana proyek pemerintah yang melalui dirinya ia berikan setengahnya buat mereka. IA sama saja dengan meracuni mereka. Air mata pun menetes perlahan dari matanya yang sudah sedari tadi berkaca-kaca. Ali Taubat.

Pintu kelima, iman dan amal sholeh.

Keduanya adalah dua yang tidak bisa dipisahkan. Lebih dari 300 ayat yang berbicara tentang masalah ini dala Al-Qur’an. Keduanya adalah dwi tunggal. Keduanya harus ada pada diri seorang beriman. Tak bisa seseorang yang beriman tanpa adanya amal sholeh. Begitu pula sebaliknya.

Betapa banyak orang yang bersyahadat lebih dari sepuluh kali setiap harinya, zakat setiap bulannya, puasa ramadhan dan pergi haji setiap tahunnya, tapi tetap membiarkan tetangganya berkubang dalam rintihan lapar atau membiarkan hati mereka tersakiti karena tiadanya adab yang baik dari dirinya. Iman tanpa amal sholeh dalam wujud amal-amal sosial adalah sebuah egoisme diri.

Dan betapa banyak orang yang seringkali melakukan amal shaleh tapi dengan keimanan yang rusak, karena niat yang tak sempurna karena-Nya. Atau digerogoti sikap menduakan Allah yang akan melenyapkan setiap amal yang ada. Sungguh tak akan bisa tercampur antara syirik dan amal sholeh.

Dan betapa banyak orang yang tak pernah mengucapkan kalimat Syahadat dalam seumur hidupnya lalu ia mendarmabaktikan hidupnya itu untuk berbuat baik (amal sholeh) kepada siapapun tanpa batas-batas agama, sungguh tak sedikitpun amal itu diterima. Karena syahadat adalah pintu masuk kepada Islam. Tertolaklah ia.

Iman dan amal sholeh. Amal sholeh adalah buah dari Iman. Ali tahu ia tipis dari keduanya. Ali taubat.

Pintu keenam, perbanyak doa.

Ali tahu, ia baru memperbanyak doa saat kesulitan itu mulai menanggalkan kenikmatannya satu persatu. Ali taubat.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia mampu menyerap sebuah hikmah. Hikmah kehidupan. Seabrek dosa dan segunung penyesalan membebani pundaknya tak membuat ia berputus asa dari rahmat Allah. Ia paham betul, telah terbentang di depannya padang luas ampunan Allah. Tak perlu malu ia beringsut seinchi demi inchi untuk mendekatiNya demi hanya menjadi budak-Nya. Untuk seumur hidupnya yang tersisa.

“Belum terlambat Li,” kataku, “selama nyawa masih ada di kandung badan.”

Ayo maju, maju…

Ayo maju, maju…

Ayo majuuu, majuuuuu…

***

Maraji’:

  1. AlQur’anul Kariim;
  2. Hadits riwayat Muslim;
  3. Ceramah Ustadz Zainal Muttaqien.

Nama di atas adalah bukan nama sebenarnya dan fiktif belaka. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:03 01 Juni 2009

64 tahun lahirnya Pancasila

HAJI – GEMBEL


HAJI – GEMBEL

Musim haji telah berlalu lama. Tapi masih banyak yang perlu diceritakan di dalam dan karenanya. Dan saya memang senantiasa tertarik menikmati setiap kisah itu. Apatah lagi saat musim pemberangkatan haji di mana banyak calon haji yang menyelenggarakan walimatus safar. Selain silaturahim yang didapat, banyak ilmu dan hikmah yang bisa diraih dari ceramah para ustadz yang mengiringi acara itu.

Pun, setelah para haji dan hajjah itu pulang ke tanah air maka tak luput saya sambangi dan bersilaturahim dengan mereka. Banyak jua cerita yang diperoleh. Pada akhirnya, semuanya itu berujung pada kerinduan yang membuncah, meledak-ledak untuk turut serta pergi ke tanah suci dan menapaktilasi perjalanan anak-anak manusia bernama Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar.

Dan ada satu kisah menarik yang perlu saya bagi kepada Anda semua. Tentang apa yang dialami oleh teman dekat saya, sebut saja Alexandrus, dalam perjalanan haji 1429H yang lalu. Dengan niat yang lurus ia berangkat sendirian tanpa ditemani istri dan keluarga yang lainnya. Ia ambil haji mandiri, tidak ikut KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Dari tanah air ia sudah bertekad untuk sebisa mungkin melaksanakan sholat lima waktu di Masjidil Haram. Karena ia tahu sekali sholat di sana seperti melaksanakan sholat 100.000 kali di masjid yang lain. Ini berarti seperti melaksanakan shalat lima waktu berjama’ah di masjid selama kurang lebih 55 tahun berturut-turut tanpa putus.

Nah, untuk itu ia punya rutinitas. Setelah shalat shubuh ia pulang ke maktabnya, mencuci pakaian, istirahat sebentar, lalu jam 10 pagi ia berangkat lagi ke Masjidil Haram. Di sepanjang perjalanan bolak-balik dari rumah ke masjid tentunya ia menjumpai banyak orang dari berbagai bangsa dengan berbagai tingkah dan kebiasaannya. Stereotip yang ia bawa dari tanah air dan melekat kuat di kepalanya adalah tingkah jama’ah haji dari Afrika yang kasar-kasar. Pada kenyataannya ia menjumpai kebalikannya. Bahkan mereka sangatlah sopan terutama jama’ah dari Nigeria. Itu menurut pandangannya dan dari apa yang ia rasakan. Maka berubahlah stereotip itu.

Tapi dalam benaknya muncul stereotip baru, bukan pada orang Afrika tapi pada jama’ah Bangladesh dan India. Dari pengalaman bergaul dengan kelompok pertama maka muncullah stereotip bahwa orang Bangladesh itu kasar, tidak punya aturan, tidak sopan, preman, bahkan penjahat di Arab Saudi, terutamanya sering menjadi tukang menghamili TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia.

Buktinya adalah ketika semua orang dengan sabar mengantri untuk naik eskalator, eh tiba-tiba orang Bangladesh dari belakang mendorong kursi rodanya ke arah kerumunan di depannya. Hingga membuat sebagian orang terjungkal. Dan orang Bangladesh itu tak peduli dengan semuanya.

Tidak hanya itu, Alexandrus ditunjukkan video amatiran oleh teman sekamarnya. Video yang berisi rekaman proses hudud (eksekusi) penggantungan lima orang Bangladesh di tiang listrik. Cara hududnya tergolong unik, mereka dinaikkan ke atas drum yang telah disusun tinggi. Lalu tali gantungan yang terjuntai di tiang listrik dililitkan ke leher mereka. Dan ketika aba-aba eksekusi dimulai, maka ada mobil yang dengan kecepatan tinggi menabrak kelima susunan drum itu. Orang-orang di jalan pun histeris melihatnya. Kelimanya dihukum mati karena telah memerkosa dan membunuh remaja putri Riyadh. Lengkap sudah stereotip Alexandrus terhadap orang Bangladesh.

Suatu saat di Kota Madinah, ketika Alexandrus mau shalat di Masjid Nabawi ia kelupaan untuk membawa air minum. Padahal ia harus segera makan nasi bungkus yang telah ia persiapkan sebelumnya. Ia sadar ia tidak boleh makan di dalam masjid. Maka ia harus makan di luar. Ia pikir tak apa-apa tidak ada air sebagai teman makan karena kalau ia sudah menyelesaikan makannya ia akan segera masuk ke dalam masjid untuk meminum air zam-zam yang telah disediakan di sana.

Di tengah asyiknya ia makan dan tentunya dengan tenggorokan yang seret datang seseorang menghampirinya, mengajaknya berkenalan. Setelah itu tanpa disangka-sangka orang itu mengeluarkan dari balik jaketnya satu botol penuh berisi air berkarbonasi lengkap dengan gelas plastik.Tutupnya pun belum dibuka. Setelahnya ia langsung pergi.

“Thank you, Sir. Where do you came from?” tanya Alexandrus.

Dari jauh sambil pergi orang itu menjawab, “Bangladesh!”

Teman saya terpana.

**

Pada orang India, stereotip baru yang terbentuk dalam pikirannya adalah kumpulan orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi utama mereka, dengan cara apapun, berbohong dan menipu para jama’ah haji. Stereotip lainnya adalah mereka kumpulan orang miskin yang bisanya hanya membuat repot negara Arab Saudi. Makan sembarangan di tengah jalan hingga mengganggu lalu lalang jama’ah lainnya. Semuanya itu melekat kuat di benak Alexandrus.

Suatu ketika, ba’da shubuh ia keluar dari Masjidil Haram untuk pulang. Ia menjumpai—lagi-lagi—orang India tua yang sedang makan roti dan minum susu dengan lahapnya di tengah jalan. Alexandrus sambil berjalan teru memperhatikan orang India itu. Tahu sedang diperhatikan, orang itu menatap Alexandrus dengan tersenyum dan bahkan dengan isyarat jelas orang India itu menyuruh Alexandrus untuk mendekat kepada dirinya.

“Ayo makan sama-sama,” ajak orang tua itu kepada Alexandrus.

“Oh tidak, terimakasih,” jawab Alexandrus.

Melihat Alexandrus menampik tawarannya, orang tua itu merogoh saku bajunya dan mengeluarkan segepok Real dan mencabut banyak lembar uang kertas itu dan memberikannya kepada Alexandrus.

Teman saya itu benar-benar melongo. Pemberian uang itu pun ditolak olehnya. “Terimakasih, saya masih ada uang. Mungkin buat yang lainnya,” katanya.

Ia lalu berpikir, “mungkin Allah memberikan penglihatan di mata orang India tua itu bahwa saya adalah gembel yang layak untuk diberi makan dan uang.”

**

Di akhir ceritanya ia berkata, “Saya mengambil hikmah dari dua kejadian itu. Allah sungguh masih sayang kepada saya. Allah hanya menegur saya dengan mempertunjukkan secara langsung bahwa apa yang saya pikirkan itu salah. Coba kalau Allah tidak sayang sama saya, mungkin Allah akan memberikan teguran yang lebih keras lagi. Bisa dengan hilangnya barang-barang saya, sakit yang tak kunjung sembuh hingga membatalkan ibadah haji saya.”

Hikmah yang menarik. Padahal apa yang dilakukan oleh Alexandrus itu adalah semata perbuatan hati belaka. Tak pernah terucap dan tak pernah terlakukan. Teladan kita Muhammad SAW pernah berkata, “sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku apa-apa yang ada dalam hatinya, selama tidak ia ucapkan atau ia lakukan.” (Shahihain). Tapi memang Allah sudah menyuruh kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka karena sebagian besar dari prasangka itu adalah dosa.

Saya bersyukur teman saya bisa mengambil hikmah dan tersadarkan langsung. Itu adalah lebih baik daripada menunggu hisab di yaumil akhir nanti. Dan bagi saya cerita itu adalah nasehat yang luar biasa.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.35 09 Januari 2008

 

 

 

 

TOMBOL JEBOL


TOMBOL JEBOL

Saya punya hp jadul. Setiap mau sholat saya selalu mematikan dering hp itu agar tidak mengganggu kekhusu’annya. Cara yang biasa saya lakukan adalah dengan menekan sekali (tidak terlalu lama) tombol on/off. Maka di layar hp muncul profiles
seperti switch off, general, silent, dan lain-lainnya. Saya tentunya memilih pilihan silent untuk membisukan berisik bunyi hp jika ada sinyal yang masuk.

Walhasil karena sering dipakai, tombol karetnya yang semula menggelembung menjadi tertelan, cekung ke bawah. Dengan demikian tidak bisa lagi dimatikan hanya dengan menggunakan jari, harus dibantu dengan sesuatu yang tumpul untuk mematikannya. Dan saya biasa menggunakan kancing baju untuk menekan tombol itu. Cara itu semakin membuat tombol itu melesak ke dalam. Sempat terpikir untuk membawanya ke tempat reparasi hp untuk mengganti tombol yang telah tidak berfungsi dengan semestinya itu.

Tapi, hari ini (Senin, 01/31), saya baru tahu sebenarnya ada cara lain untuk men-silent-kan hp tanpa harus dengan menekan tombol on/off. Itu pun baru saya ketahui saat saya melangkahkan kaki menuju masjid kantor. Dalam perjalanan itu seperti biasa saya harus menekan tombol hp, dan secara tiba-tiba terlintas dalam benak saya harusnya ada cara pintas (shortcut) untuk menggantikan cara “kejam” itu. Tidak dengan cara kekerasan tapi dengan cara yang lembut. Iseng-iseng saya tekan tombol di keypad hp yang menunjuk pada perintah Go to, berada di sudut kanan bawah layar hp.

Jreng…ternyata memang ada pilihan silent di sana. Letaknya tidak pada layar pertama tapi pada layar kedua sehingga membuat pilihan itu tersembunyi dan tidak diketahui dengan cepat. Hanya dengan menggulung layar itu ke bawah maka pilihan silent terlihat di layar. Oalah…inilah hasil kebodohan saya yang memang jarang mengeksplor menu-menu di hp itu. Kalau itu sedari dulu saya ketahui, tak akan mungkin tombol itu jebol.

Pelajaran moral: pelajari betul manual hp. Ma’rifati (kenali) betul fungsi-fungsi yang ada di dalamnya. Niscaya kejadian yang saya alami tak akan pernah terjadi.

Seringkali kita merasa bahwa kitalah yang paling mengenal diri kita sendiri. Tidak orang lain. Dengan demikian kita sudah merasa jumawa dan paling benar sendiri sehingga telinga pun ditutup dan tak perlu belajar dari orang lain. Tak perlu belajar dari kehidupan yang setiap jenaknya ada nafas-nafas pendek kita yang menandakan bahwa kita sejatinya masih hidup dan bukan mayat yang membusuk di dalam tanah.

Jumawa itu membuat mata hati kita tertutup. Tak menyadari bahwa sesuatu yang kita anggap benar, di selanya ada orang lain yang menganggap bahwa apa yang kita yakini itu ternyata salah. Tak menyadari pula bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa. Sejatinya ini pula adalah ketiadaan mengenal diri kita sendiri. Pada akhirnya tombol kemanusiaan kita jebol. Tidak ada kelembutan. Tidak ada kesadaraan pada sang Khalik. Peri kebinatangan yang menjadi keseharian bahkan sampai laksana fir’aun yang berkata: akulah tuhanmu yang paling tinggi. Semoga kita terlindungi dari hal yang sedemikian rupa.

Lalu bagaimana untuk bisa mengenal diri kita itu? Eksplorlah diri kita. Evaluasi diri kita setiap saat. Muhasabahi setiap amal yang dilakukan dalam setiap detiknya. Jikalau kesadaran itu dieksplor niscaya kita menjadi orang yang mudah untuk empati. Tidak menjadi orang yang paling benar dengan pendapatnya sendiri. Menjadi pandai mendengar, tidak hanya pandai berbicara. Dan pada akhirnya ia tahu hakikat dirinya sebagai insan yaitu cuma sebagai budak, babu, jongos, dan hamba sahayaNya Allah.

Bermuhasabahlah. Jangan jadi tombol yang akan jebol.

Di pinggir sana ada orang yang merasa dirinya muda terus, Riza, sedang mengangguk-anggukan kepalanya seperti burung tekukur, mendengar nasehat itu.

 

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13:36 01 Desember 2006

AKU DIKEHENDAKI ALLAH?


AKU DIKEHENDAKI ALLAH?

Telepon genggamku menjerit nyaring mengisi sisi kosong di lantai ruangan kantorku. Segera kuambil dan kusempatkan membaca nama yang tertera di sana. Aku mengenalnya sebagai sahabat lama yang terlupakan untuk aku sempatkan bersilaturahim dengannya. Tiba-tiba terdengar suara dari seberang.

“Halo Dek…” sapanya. Tumben nih ia memanggilku dengan sebutan akrab seperti itu. Kayak kakak beradek.

“Iya ada apa Mbak?” tanyaku.

“Ada dimana?”

“Di kantor.”

“Tolong antarkan ke Tiki Dong…”pintanya.

Aku terdiam lama, ia memanggilku dengan sebutan Dek, lalu ia menyuruhku untuk mengantar sesuatu ke Tiki. Padahal aku belum sempat berurusan apapun dengannya. Dan betul ada jeda di sana dengan jawaban aku selanjutnya.

“Wah…kayaknya Mbak salah sambung nih…” kataku.

Dan pada akhirnya kesadaran itu muncul. Mbak yang sudah naik haji ini salah pencet, niatnya mau menghubungi seseorang bernama “Dede” tetapi yang tertekan nomor dari sebuah nama “dedaunan riza”.

Walaupun demikian, salah sambung ini membawa berkah. Setidaknya ia ikhlas menginfakkan sebagian hartanya untuk pelaksanaan baksos yang kedua nanti di tanggal 9 Agustus 2008. Maklum pada pelaksanaan baksos tanggal 06 Juli 2008 lalu ia ketinggalan berpartisipasi. Katanya, dalam sebuah sms lanjutan, “iya, ini aq lg diingetin sama Allah, biar gak ktinggalan baksos kek kemarin..:-D”

Sejatinya, ladang amal terbuka buat siapapun yang dikehendaki oleh Allah. Jika tidak, maka betapapun ladang amal itu terbentang dihadapannya yang pada akhirnya akan menuai balasan berlipat ganda dari Allah, maka tetaplah ia tidak tergerak hatinya untuk menggarap ladang amal kebaikan itu. Sekali lagi karena Allah tidak menghendakinya.

Aku sering merenung dan memuhasabahi diri sendiri, jangan-jangan saya termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak dikehendaki Allah untuk berbuat kebaikan (Ya Allah aku berlindung dari semua itu). Ya, karena aku merasa sering terlambat untuk menekan tombol otomatis kebaikan. Gerakku tidak refleks ketika terbentang ladang amal di hadapan.

Tidak seperti para sahabat Rasulullah yang tanpa disuruh mau menginfakkan seluruh hartanya tanpa meninggalkan sesuatu buat dirinya sendiri dan keluarganya. Mau berpeluh-peluh dan berdarah-darah membela Rasulullah. Mau dan sigap bersegera menggarap ladang amal di hadapan mereka. Ya, karena mereka adalah golongan yang dikehendaki Allah. Mereka ridha terhadap Allah dan Allah pun ridha kepada mereka.

Sedang aku? Jauh…

Allah Rabbi, ampuni aku.

***

Terimakasih kepada Mbak Lis Rin (Liestya Rien) yang telah mengingatkan saya, di tengah kekhawatiran saya pada banyaknya kata-kata daripada aksi yang dilakukan.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15.10 5 Agustus 2008

FRAGMEN JUM’AT


FRAGMEN JUM’AT

Pagi ini saya usahakan untuk tidak membuka apapun terkecuali program pengolah kata saat pertama kali menyalakan komputer. Sudah lama saya tidak menulis di pagi hari. Dan kemudian saya berpikir lagi ternyata di lain waktu pun saya tidak menulis juga. Artinya memang sudah beberapa hari atau hitungan pekan ini saya belum menemukan satu, dua atau banyak kepingan gagasan yang enak untuk dijadikan mozaik tulisan.

    Tiba-tiba setelah membuka program pengolah kata itu saya teringat sebuah episode kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkan oleh seorang ulama. Tidak dibuat-buat, tulus, dan apa adanya. Dan ini membuat saya teramat terkesan padanya.

    Suatu ketika, di hari Jum’at, Ia datang memenuhi undangan untuk menjadi khotib di masjid kantor pajak Kalibata. Ia sudah sering kami undang ke masjid kami itu seperti mengisi ceramah bulanan dan ramadhan. Sudah beberapa kali saya mendengar ceramahnya. Insya Allah sudah menjadi jaminan ceramahnya itu tidak membuat pendengarnya terkantuk-kantuk.

Pada Ramadhan 1428 H yang lalu tema ceramahnya tentang dua orang yang berbeda nasib saat di alam kubur, saya sampaikan kembali di hadapan jamaah tarawih masjid komplek rumah saya, Al-Ikhwan. Penuturannya yang lembut amat menggedor batin saya hingga membuat mata saya berkaca-kaca.

Sebenarnya tidak kali itu saja ia membuat mata saya berbening kaca, dulu pada tanggal 3 Sya’ban 1427 H atau bertepatan dengan tanggal 27 Agustus 2006 beliau menjadi salah satu penceramah tabligh akbar majelis Akhlakul Karimah di Masjid At-Tiin yang dihadiri puluhan ribu orang. Pun demikian, ajakannya kepada seluruh peserta tabligh akbar untuk meminta ampunan kepada Allah diiringi isak tangis banyak orang. Allah yang mahamulia. Sungguh mengharukan. Itulah pertama kali saya mendengar ceramahnya.

Dan pada jum’at itu ceramahnya saya dengarkan baik-baik. Pula setiap ayat-ayat yang dilantunkannya saat mengimami jamaah sholat jum’at. Setelah selesai sholat, saya dan takmir masjid yang lain mengajaknya masuk ke ruang khusus takmir. Lalu mempersilakannya menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Ya, sudah menjadi tradisi kami setiap ba’da sholat Jumat kami makan ringan bersama-sama dengan khotib dan pengurus masjid yang lain. Tujuannya selain silaturahim juga adalah dalam rangka mengenal lebih dekat para khotib yang datang memenuhi undangan kami.

Nah, fragmen kerendahhatiannya ditunjukkannya pada saat ia sudah duduk di meja makan tersebut. Saat dipersilakan ia bukannya menunggu piring datang ke hadapannya atau menunggu diambilkan oleh orang lain, tetapi ia langsung mengambil piring dan membagikannya kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. “Silakan-silakan…,”katanya. Ia juga mengambilkan lontong yang terhidang di sana satu persatu kepada kami semua. Lalu sambalnya beliau yang menuangkannya ke piring-piring kami. Kami jadinya merasa tidak enak. Saat kami mencegahnya, ia bersikeras biar ia yang melakukannya saja.

Aih, padahal ia adalah seorang tamu yang harusnya kami layani. Ia doktor ilmu syariah lulusan timur tengah. Pengasuh rubrik konsultasi Pusat Konsultasi Syariah atau syariah online. Pengurus Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), dan wajahnya sering terlihat di layar kaca mengisi siraman rohani pagi.

Dalam hati saya berkata, “Subhanallah, inilah sejatinya ulama yang ilmunya senantiasa dihiasi dengan keindahan akhlaknya.” Ya, seringkali kita melihat betapa banyak mereka yang disebut ulama tetapi akhlaknya berbanding terbalik dengan ilmu yang dimilikinya. Bahkan bukannya malah menjadi penerus mulia kanjeng Nabi Muhammad saw dengan akhlaknya yang paripurna tetapi malah menjadi ulama pemecah umat. Semoga kita terlindung dari semua itu. Saya berdoa semoga ia tetap istiqomah dengan ilmu dan amalnya itu.

Fragmen yang beliau tunjukkan kepada kami meneguhkan tentang dua hal yang tak boleh ditinggalkan oleh orang-orang yang telah menjual hidupnya kepada Allah. Yaitu kelembutan dan kerendahhatian. Dua-duanya mutlak diperlukan untuk memperlancar jalan dakwah. Kebetulan pula saya membaca sebuah transkrip taujih pekanan yang berjudul Bersikap Lembut dan Rendah Hati.

Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan dan badan. BUkanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (nyelekit). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan. Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (qaulan syadidan), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabyyun, buruk sangka, ghibah, pendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.

Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya mendekatkan/mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar, dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur/menyapa terlebih dahulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, cuek dan antipati merupakan lawan dari rendah hati.

Allah berfirman dalam surah Asy-Syu’araa ayat 215, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu.” Bila Rasulullah saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap murabbi, rendah hati terhadap mutarobbi, dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang yang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan kebenaran Al-Qur’an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Qur’an dan Hadits.

Membaca tiga paragraf taujih itu membuat saya termenung. Apa yang dilakukan oleh ulama itu adalah implementasi ayat di atas, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu”.
Menjadi
ulama bukanlah sebuah penisbatan diri bahwa yang lain yaitu pengikut atau umatnya harus melayani dirinya. Bahkan sebaliknya ialah yang kudu melayani dan merendahkan dirinya pada orang-orang yang beriman yang mengikutinya. Satu hal lagi ternyata kelembutan dan kerendahhatian lebih melanggengkan/mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.

Semoga saya bisa meniru akhlak ulama tersebut. Dan sekali lagi semoga beliau senantiasa istiqomah. Insya Allah kami akan mengundang beliau pada tanggal 10 Agustus 2008 di Masjid Al-Ikhwan, Puri Bojong Lestari tahap II, Pabuaran, Bojonggede, pada acara Tarhib Ramadhan.

Kalau antum semua ingin tahu siapa beliau? Ini dia fotonya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    

 

 

 

Dr. Muslih Abdul Karim

(Ia pernah dicaci maki sebagai “gembong Ikhwani” oleh mereka yang membencinya, tapi tak menyurutkan beliau untuk tetap berdakwah mengajak dan mengajarkan kebaikan kepada masyarakat).

***

Riza Almanfaluthi

masih ada di rantingnya

09:34 18 Juli 2008.

dedaunan di ranting cemara

SEKEHENDAKMU, UMMI!


Sore itu, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, menyusuri jalan rindang penuh rerimbunan pohon, di jalan setapak Kampus Universitas Indonesia.
“Alhamdulillah, Ummi bersyukur punya suami kayak Abi,” bisiknya meningkahi deru motor.
“Syukurnya kenapa?”tanyaku penasaran. Maklum pembicaraan ini seumur-umur baru terdengar.
“Jangan geer yah…”tegasnya padaku.
“Insya Allah enggak.”
“Syukurnya Abi tidak banyak menuntut macam-macam. Kayak menghalangi Ummi untuk dibina dan membina.”
“Ah masak?”
“Betul kok…”
“Emang ada contoh yang menghalangi istrinya untuk itu?” tanyaku lagi. “Banyak,” jawabnya sambil menyebut nama salah seorang dari ustadz kami.
“Sebenarnya satu saja bagi Abi untuk membiarkan Ummi tetap menjalani apa yang Ummi kehendaki. Itu ‘kan komitmen awal kita sebelum menikah bukan? Masak lupa sih?”
“Terus apa lagi?” tanyaku lagi tentang kesyukuran dia memilikiku.
“Ummi enggak masak, Abi tidak marah.”
“Karena dalam biodata Ummi ‘kan sudah jelas ditulis tidak bisa masak, ya Abi pasrah saja. Nrimo apa adanya. He…he…he….”
“Ada lagi?” tanyaku.
“Cukup itu saja dulu.”
“Kayaknya banyak deh yang harus Ummi banggakan dari diri Abi ini,” kataku.
“Iya sebanding pula dengan kelemahan yang ada pada diri Abi,” tukasnya.
“He…he…he…tahu saja Ummi sih…” jawabku sambil tersenyum.
***
Pembicaraan di atas motor tadi adalah sarana paling efektif yang sering kami lakukan untuk bisa saling memahami. Di atas motorlah, di sepanjang perjalanan pulang, kami membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan sampai tuntas untuk membunuh rasa jenuh saat melintasi jalanan dengan rute yang sama dari hari ke hari. Tapi terkadang kami sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama kalau dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari. Sehingga bisa jadi tanpa sepatah katapun saling terucap. Tidak mengapa.
Ada pertanyaan buat kami, mengapa pembicaraan itu tidak dilakukan ketika sampai di rumah ketika kita semua sudah dalam keadaan tubuh yang segar dan sedang istirahat? Jawabannya adalah bahkan kalau di rumah sepertinya kami tidak bisa berkomunikasi dengan efektif karena selalu diganggu oleh anak-anak dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sehingga seringkali kami memanfaatkan waktu yang ada di manapun berada untuk berkomunikasi dengan efektif. Dan di atas motor itu adalah salah satu cara terbaik bagi kami walapun terkadang dengan suara yang harus dikeraskan karena sering ditingkahi oleh deru kendaraan yang lain.
Dalam majalah Safina No. 1/ Th II Maret 2004 ditulis tentang pentingnya komunikasi buat pasangan suami istri.
Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga Islam adalah komunikasi dan dialog yang intensif dan sehat antara suami istri. Pada saat ini tidak jarang terjadi adanya sumbatan komunikasi diantara pasangan suami istri. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal itu, misalnya kesibukan kerja, terlampau letih dan lain-lain. Bahkan karena begitu sibuk dan letihnya, ada pasangan bertatap mukapun tidak sempat. Sebagai akibatnya, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi satu dengan lainnya.
Komunikasi yang hambar biasanya mengakibatkan hubungan kemesraan menjadi berkurang. Bahkan tidak jarang menimbulkan ketegangan dan terjadilah perselisihan, kalau sudah begini suami istri akan mengalami penderitaan. Sangat disayangkan apabila hubungan yang hambar ini terjadi pada keluarga muslim yang dibangun dalam rangka beribadah kepada Allah. Diperlukan pengertian yang mendalam dari kedua pasangan agar komunikasi dapat berjalan secara kontinyu.
Tidak ada yang menjamin bahwa saat kita sudah merasa sekufu, satu agama, sama-sama ngaji, sama-sama aktifis dakwah, setara, sama, cocok, dan percaya seolah-olah semua urusan rumah tangga akan beres. Padahal, banyak pasangan gagal meneruskan bahtera rumah tangga mereka karena kurang peduli dengan urusan komunikasi seperti ini.
Dengan komunikasi di atas motor itulah saya bisa tahu apa yang diinginkan oleh istri saya, bagaimana perasaan saya pada saat itu terhadapnya atau sebaliknya. Dan adanya keterbukaan yang terjalin pada saat itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hingga terbentuknya rasa kerinduan di hati saat ia tidak membonceng di belakang saya karena ia pulang duluan.
Saya senantiasa berharap komunikasi yang senantiasa kami jalankan di setiap harinya, dengan cara kami sendiri itu, bisa menyadarkan kami betapa komunikasi itu sangatlah penting untuk bisa saling memahami. Dengan pemahaman itulah saya harapkan dia bisa mengerti apa yang aku kehendaki dari dirinya dan sebaliknya, hingga saya bisa berkata pada dirinya: “Sekehendakmu saja, Ummi!”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:59 09 Oktober 2007

MEMBERI ATAU…?


Seorang teman selalu berangkat ke kantor lebih pagi daripada yang lainnya. Ia selalu naik motor dari rumah menuju tempat kerjanya. Dan di dalam tasnya selalu tersedia pembalut luka, obat merah, dan beberapa gelas air kemasan. Saat ditanya untuk apa ia membawa semua itu di setiap harinya, ia selalu menjawab, “agar saya bisa menolong orang lain.”
Setiap pagi, ia seringkali menjumpai para pengendara motor yang tergeletak di tepian jalan. Entah karena menabrak atau tertabrak kendaraan lain. Sudah barang tentu pengendara motor tersebut mengiris kesakitan karena luka dalam ataupun luar. Kalaupun tidak ada luka, muka pucat sudah menandakan ia mengalami guncangan adrenalin yang amat hebat.
Semuanya harus ditangani segera. Tapi senyatanya orang-orang yang menolong seringkali hanya memindahkan korban kecelakaan tersebut ke pinggir jalan. Lalu setelah itu panik, bingung, lalu telepon kesana kemari. Bahkan yang lainnya cuma terbengong-bengong. Tidak dipikirkan bahwa korban perlu pertolongan pertama segera. Peran kosong itulah yang diisi oleh teman saya ini. Dengan sigap ia memberikan yang ia bawa itu kepada korban. Peran kecil tapi sungguh membantu.
Itulah mengapa ia selalu berangkat lebih pagi. Karena dengan berangkat lebih pagi, ia tidak perlu terburu-buru mengejar absen, dan ia masih sempat untuk berhenti menolong orang lain. Jika tidak, jiwanya seringkali berkecamuk, berperang batin antara berhenti untuk menolong atau terus melaju demi rupiah di awal bulan yang utuh tidak terpotong. Dan ia seringkali memilih yang terakhir. Untuk itu ia cuma bisa beristighfar dengan air mata yang membasahi pipi menyesali ketidakmampuannya. Menyesali ada suatu kesempatan besar yang hilang begitu saja dari dirinya.
“Apa untungnya kamu menolong mereka?” tanya saya penasaran.
“Duniawi? Tidak ada!” akunya. “Saya cuma mengharap dari-Nya,” Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas. Ia merasa ia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu sebelum ia memberikan sesuatu. Ia tidak akan ditolong orang sebelum ia menolong orang. Ia percaya, sesungguhnya setiap kebaikan sekecil apapun akan diberikan balasan kebaikan yang sama atau yang lebih besar lagi.
“Percayalah, seseorang tidak akan pernah menerima saat ia tidak pernah memberi. Percayalah, saat ia mengedepankan penolakan implisit dan eksplisit terhadap suatu kata bernama “tolong”, ia tidak akan pernah mendapatkan anugerah besar berupa upaya baik dari orang lain. Saat itu juga atau suatu saat kelak,” jelasnya panjang lebar.
Dalam sekali apa yang dikatakan teman saya ini. Sebuah pembelajaran yang membuat saya merenung sepanjang perjalanan menyusuri Margonda sore ini. Hingga di suatu pertigaan…
“Pak, minta uang dong Pak…” seorang bocah kecil berbaju kumal menyodorkan tangannya kepada saya yang sedang menunggu lampu hijau menyala.
Saat saya menoleh kepadanya, lampu kuning sudah menyala.
Duh, memberi atau…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
jelang perjuangan nomor 1
21:57 07 Juli 2007

Cuma Kisah Sederhana 5: Saya yang akan Menanggung Semua


Musala Al Barkah, persis di sebelah utara empang kampus STAN, menjadi tempat yang tidak bisa dilupakan oleh saya hingga saat ini. Musala yang kini telah berubah menjadi masjid itu memang persis di samping tempat indekos saya selama tiga tahun menuntut ilmu di STAN. Lima kali dalam sehari azan yang diperdengarkan memenuhi ruang keseharian saya di sana.

Tempatnya yang strategis karena dekat pintu alternatif keluar masuk kampus dan di tengah-tengah kos-kosan para mahasiswa membuatnya tidak pernah sepi dari jemaah lima waktu salat itu. Bahkan sampai harus meluber ke bangunan tambahan yang didirikan di pelataran depannya bila tiba waktunya salat.

Pernah dalam suatu periode kepengurusan remaja musala, saya ditunjuk dan diberi amanah untuk memimpin organisasi kecil ini. Mulai dari memikirkan dan mengatur strategi pengumpulan infak demi terselenggaranya kegiatan kajian keislaman yang diisi oleh ustaz-ustaz ma’had, membuat majalah dinding, melengkapi isi perpustakaan dan mengatur sistem peminjamannya, sampai kepada terselenggaranya pengajaran baca tulis Al-Qur’an untuk anak-anak dan remaja.

Setelah salat Magrib, aktivitas di musala sangatlah ramai. Beberapa mahasiswa yang tempat indekosnya tidak jauh dari musala meluangkan waktu dari kesibukan dan ketatnya sistem perkuliahan untuk mengajar baca tulis Al-Qur’an (Taman Pendidikan Al-Qur’an/TPA).  Tentunya tidak hanya itu, nilai-nilai Islam dan sirah diajarkan pula kepada anak-anak dan remaja itu agar senantiasa ada akhlak indah, wawasan yang bertambah, dan kukuhnya benteng akidah di era modern sekarang ini. Itulah harapan kami dari pengajar dan pengurus terhadap mereka.

Salah satu pengajar itu—sebut saja Abdullah—adalah tetangga kos, teman satu angkatan di kampus, dan teman akrab saya. Kesabaran dan kedekatannya pada anak-anak membuatnya cukup dikenal di kalangan mahasiswa lain. Dan dengan bermodalkan itu saya memercayainya untuk mengambil amanah sebagai ketua bidang pengajaran TPA . Akhirnya dengan dibantu oleh teman-teman yang lain, ia sanggup untuk memegang amanah itu.

Beberapa bulan kemudian ada usulan dari anak-anak TPA untuk mengadakan piknik bersama. Usulan itu pun disampaikan kepada saya oleh Abdullah. Saya cukup menghargai usulan tersebut. Dan saya pikir ini adalah suatu hal yang pantas bagi anak-anak untuk dapat menghilangkan kejenuhan belajar. Sekaligus untuk dapat merekatkan ukhuwah di antara mereka dan nanti pada akhirnya dapat membangkitkan semangat belajar lagi.

Bersama saya, akh Abdullah dan beberapa teman yang lain merumuskan rencana piknik persama itu. Mulai dari kepanitiaan, tempat yang dituju, waktu penyelenggaraannya, hingga dana yang dibutuhkan.

Semua telah selesai direncanakan, kecuali faktor klise yakni ketidaktersediaan dana. Apalagi kami membutuhkan bus besar sebagai sarana transportasi menuju lokasi karena ada banyak peserta yang akan ikut serta. Tentunya ini membutuhkan biaya yang lebih besar lagi.

Untuk itu saya ditugaskan dalam rapat terebut untuk mengecek seberapa besar biaya yang diperlukan untuk menyewa bus. Esoknya saya pergi ke daerah Blok M—tempat di mana kantor bus pariwisata terkenal itu berada.

Saya terkejut mendengar harga sewanya. Jumlah sebesar 350 ribu rupiah hanya untuk pemakaian sehari saja adalah jumlah yang besar sekali di tahun 1996. Saya pun kembali ke kampus dengan membawa beban berat. Akan didapat darimana lagi uang untuk menutupi ongkos transportasi ini.

Untuk meminta kepada peserta jelas tidak mungkin. Karena jelas kalau akan dipungut biaya mereka tidak akan berangkat. Untuk meminta patungan lagi kepada para panitia terasa segan karena mereka telah banyak mengeluarkan uang untuk membiayai terselenggaranya acara ini. Meminta infak kepada para mahasiswa sekitar…? Wah, bisa diusahakan, tetapi berat dan lama uey… Kepada pengurus musala? Jelas tidak mungkin, ada banyak kebutuhan yang harus ditunaikan seperti melanjutkan penambahan teras depan. So

Akhirnya di rapat selanjutnya, saya meminta kepada teman-teman berusaha mencari dana untuk menutupi sisanya. Padahal waktu yang telah dijanjikan kepada para peserta telah mepet dan kami harus segera memesan bus tersebut sepekan sebelumnya. Setelah itu saya cuma bisa berharap kepada Allah agar Ia selalu memudahkan langkah-langkah kami.
Tidak berapa lama, Akh Abdullah mendatangi saya untuk menanyakan perkembangan masalah ini. Saya hanya menggeleng saja. Yang mengejutkan adalah reaksi dari akh Abdullah ini.

“Kalau memang demikian, biar saya saja yang akan menanggung semua ongkos sewa bus ini,” katanya mantap.

“Akhi, benar nih…?” setengah tidak percaya.

“Insya Allah, sekarang tinggal mematangkan acara kita,” ujarnya meyakinkan.


Subhanallah… Allah telah memberikan kepada kami seorang al-akh yang berguna di saat–saat kami membutuhkan pertolongan. Padahal kami tahu, beliau tidaklah kaya-kaya amat, sama keadaannya seperti mahasiswa lainnya, bahkan terlalu sederhana malah. Namun jiwa sosialnya itulah yang mengesankan saya. Dan saya melihat tidak kali itu saja ia berbuat demikian.

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah kami ke Kebun Binatang Ragunan. Terlihat begitu gembiranya anak-anak melakukan rihlah ini. Sepanjang perjalanan, nasyid penyemangat pun didendangkan entah dari tape bus ataupun dari mulut-mulut kecil mereka.

Selain jalan-jalan melihat beraneka ragam hewan, di sana kami juga mengadakan berbagai macam permainan yang menarik sampai menjelang Ashar. Lalu setelah itu kami bersiap-siap pulang.

Di tengah perjalanan pulang itulah saya bersyukur kepada Allah karena telah diberikan kelancaran pada jalannya acara. Bersyukur pula saya mempunyai teman baik seperti al-akh Abdullah ini. Yang mampu berinfak di kala senggang ataupun sulit. Yang begitu supel dan luar biasa perhatiannya terhadap anak-anak.

Sepuluh tahun berlalu kebaikan yang dilakukannya masih saja teringat oleh saya. Dan saya berharap untuk tidak pernah melupakan kebaikannya itu. Sungguh saya malu pada diri saya sendiri yang belum mampu melaksanakan banyak amal nyata seperti dia. Sungguh dari satu bibit kesederhanaan akan tumbuh sejuta pohon kebaikan. Saya bertekad untuk mencontoh dan meneladani ini. Insya Allah.

***

Untuk Akh Suprayitno di Lombok, Saya tak akan pernah melupakan kebaikan Anda. Semoga Allah membalas dengan balasan yang lebih baik. Tetap di jalan ini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
sekadar ingatan belaka dari memori lapuk
15:05 16 Mei 2006

Cuma Kisah Sederhana (3)


Cuma Kisah Sederhana (3)

Dalam sebuah halaqoh (pertemuan) di sebuah masjid di bilangan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seorang Syekh berasal dari Timur Tengah yang juga veteran perang Afghanistan sedang memberikan taushiyah kepada sekelompok anak muda yang dengan tekun menyimak semua perkataannya dengan bantuan seorang penerjemah.
Pada saat mereka asyik mendengarkan, tiba-tiba Sang Syekh terdiam saat melihat kedatangan seorang tua yang memasuki masjid tersebut. Ini membuat yang lainnya terheran-heran. Ditambah pula Sang Syekh tidak lagi melanjutkan taushiyahnya. Bahkan beliau meminta semua hadirin yang ada dalam halaqoh tersebut untuk diam sejenak.
Sang Syekh tampaknya tertegun dan terus memandangi orang tua yang saat itu sedang melakukan shalat. Beberapa saat, orang tua itu sudah menyelesaikan shalatnya. Setelah berdzikir dan berdoa, ia pun melangkahkan kakinya keluar masjid sambil tak lupa mengucapkan salam kepada peserta halaqoh.
”Subhanallah,” seru Sang Syekh.
”Ada apa Ustadz?” seorang hadirin bertanya keheranan.
”Masya Allah,” ucap Sang Syekh tidak menjawab.
”Memang ada apa Ustadz?” tanya hadirin yang lain.
Terlihat Sang Syekh masih melantunkan dzikirnya lagi nyaris tanpa terdengar. Hening sejenak.
”Tahukah kalian apa yang sedang aku rasakan,” tanya Sang Syekh dibantu oleh penerjemah.
”Tidak Ustadz!,” jawab hadirin hampir serentak.
”Saat aku melihat orang tua yang memasuki masjid tadi, hatiku langsung tergetar. Aku merasakan keteduhan yang sungguh luar biasa saat melihatnya. Aku merasakan seperti ada cahaya yang memancar darinya. Cahaya ketenangan. Cahaya yang hanya dimiliki oleh para orang sholih. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bangun di sepertiga malam terakhir. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang ikhlas. Mahasuci Allah dan Segala Puji hanya untuk Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang tua sepertinya,” tutur Sang Syekh panjang.
”Oleh karena itu aku meminta kalian untuk diam sejenak sampai orang tua itu selesai melaksanakan hajatnya. Sambil aku menikmati apa yang Allah berikan kepadaku. Nikmat merasakan ketenangan, kekhusyu’an, dan keteduhan dari orang tua itu. Sungguh, sungguh, sungguh luar biasa orang tua itu,” lanjutnya lagi. “Aku harus belajar banyak kepada dirinya, kepada kalian aku sarankan pula untuk menggali ilmu padanya.”
”Tahukah kalian siapakah dia?” tanya Sang Syekh kepada para hadirin.
”Ia adalah pemilik yayasan pendidikan Islam di sebelah Masjid ini Ustadz, ”jawab salah satu hadirin. ”Masjid ini pun dikelola oleh yayasan tersebut.”
”Ustadz Hasib namanya.”
***
Natijah (buah) dari keimanan seseorang dapat dirasakan oleh orang disekitarnya, yang tentunya pula memiliki kadar keimanan yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan dalam tataran orang biasa pun natijah itu dapat dirasakan. Dengan tutur katanya yang halus, keteduhan yang terpancar dari wajahnya, sikapnya yang lemah lembut, pancaran mata yang menyejukkan, tiada yang keluar dari mulutnya kecuali kebaikan dan hujjah yang kuat.
Dengan keteguhan, kesabaran, dan kesalihan yang ia miliki maka siapa yang tidak mengenal Ustadz Hasib, seorang yang menjadi ’awwalun’ dalam pergerakan dakwah kontemporer di bumi Indonesia ini. Yang kemudian pergerakan tersebut memasuki dan menempuh salah satu dari sekian banyak wasilah (sarana) dalam berdakwah, menjadi sebuah partai Islam berlambang dua bulan sabit yang mengapit padi menguning.
Saatnya semua itu tidak hanya dirasakan oleh Sang Syekh, tapi seluruh umat di penjuru tanah air ini, bahkan kepada semua golongan. Karena sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil’alamiin.
Allohua’lam bishshowab.

dedaunan di ranting cemara
masih mencari kisah-kisah pencerahan lainnya
22:42 12 Desember 2005