Sains Kedokteran Tak Bisa Melakukan Segalanya


Ukuran otak kita sekarang jauh mengecil sebesar bola tenis daripada ukuran otak kita pada sepuluh ribu atau dua belas ribu tahun lalu. Tengkorak kita pun menjadi semakin tipis.

Apakah Anda tahu, penemu prosedur kateterisasi jantung pertama kali dan yang menjadikan tubuhnya sendiri sebagai eksperimen adalah pendukung kuat Partai Nazi dan Liga Dokter Nasionalis Sosialis Jerman? Di kemudian hari ia diganjar Hadiah Nobel Kedokteran.

Penemuan itu terjadi di abad 20 yang bisa juga disebut sebagai abad jantung. Di saat bidang kedokteran jantung mengalami kemajuan teknis yang pesat dan revolusioner dibandingkan bidang lainnya.

Werner Forssmann bergelut di bidang itu. Forssman adalah dokter muda yang baru lulus dan bekerja di rumah sakit dekat Berlin pada 1929. Ia penasaran dengan pertanyaan apakah jantung bisa diakses dengan kateter?

Untuk menjawab kepenasaran dan tanpa mengetahui risiko yang ada, Forssmann memasukkan kateter melalui arteri di lengannya. Ia mendorong kateter sampai bahu dan dada hingga sampailah kateter itu ke jantung. Jantungnya tidak berhenti ketika benda asing sampai di sana.

Sebagai bukti Forssmann telah memasukkan kateter ke jantung, ia pergi ke bagian radiologi dan meminta untuk difoto menggunakan sinar X. Forssmann memublikasikan prosedur itu melalui jurnal kecil. Ini yang membuat penemuannya belum menarik perhatian dunia kedokteran.

Selepas perang dunia kedua, Forssmann menjadi dokter keluarga kecil di Schwarzwald. Sampai kemudian ada para akademisi Columbia University, New York mencari Forssmann. Mereka adalah Dickinson Richards dan Andre Cournand. Dua orang ini memiliki pekerjaan yang berhubungan langsung dengan terobosan Forssmann.

Dari sana, Richards dan Cournand memublikasikan penemuan Forssmann bagi kardiologi. Atas sumbangsih itu, ketiganya mendapat Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran di tahun 1956.

Kembali ke soal otak. Seberapa pun menyusutnya otak manusia, otak memiliki volume besar. Maka Daniel Lieberman dari Harvard menyatakan, “Kita tak bisa punya otak berukuran besar tanpa energi untuk bahan bakarnya.” Untuk mendapatkan bahan bakar itu manusia perlu berburu untuk mengumpulkan makanan dan satu lagi: mengolah dan memasaknya. Memasak kentang membuat kentang dua puluh kali lebih mudah dicerna daripada kentang mentah.

Berbeda dengan Yuval Noah Harari yang menyebutkan komunikasi dan kerja sama yang membuat manusia bisa bertahan hidup sampai sekarang dibandingkan spesies lain, buku ini memberikan tesis yang berbeda.

Memasaklah yang membedakan manusia dengan primata lainnya yang membutuhkan waktu tujuh jam per hari untuk mengunyah. Memasak membebaskan banyak waktu manusia. Kita tak perlu makan terus-menerus untuk mempertahankan hidup. Masalahnya adalah walaupun demikian adanya, manusia tetap saja makan terus-menerus. Ini tragedi. Dan kita hidup di masa lebih banyak orang di bumi yang obesitas daripada kelaparan.

Cerita-cerita menarik di atas ada dalam buku terbitan tahun 2019 yang berjudul The Body, A Guide for Occupants yang ditulis oleh Bill Bryson. Di Indonesia buku itu diterjemahkan dengan judul: Tubuh, Pedoman bagi Penghuni. Bryson ini yang menurut The Guardian adalah salah satu praktisi sastra terbaik—berdasarkan standar apa pun—yang ada sekarang.

Membaca buku ini kita akan menjadi semakin tahu bahwa secanggih apa pun perkembangan dunia kedokteran dan kesehatan, kita masih bodoh mengetahui fungsi organ dan hormon yang ada di dalam tubuh kita. Kalimat “tidak ada yang tahu mengapa” banyak sekali ditemui.

Buku yang menjelahi tubuh manusia ini sejenis buku Genom yang ditulis oleh Matt Ridley. Ridley membahas satu per satu 23 pasang kromosom yang sudah dipetakan oleh manusia. Bryson demikian.

Bryson mengulas detail organ tubuh mulai dari kepala sampai kaki, organ luar sampai dalam, dari otak sampai perasaan nyeri. Namun, buku ini bukan buku teks biologi. Bryson memiliki keahlian menyederhanakan kerumitan ilmu biologi ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam. Anekdot yang membuat pembaca tertawa bertaburan di setiap bagian buku ini. Bryson memiliki keunggulan sendiri dan di atas Ridley tentunya.

Keunggulan terbaik buku ini adalah pembaca banyak mendapatkan cerita sejarah dalam dunia kesehatan dan kedokteran. Ini yang tidak membosankan. Tak luput diperhatikan Bryson adalah kritiknya kepada dunia kedokteran dan farmasi: penanganan medis berlebihan, biaya tinggi pengobatan, obat dan vitamin yang sia-sia, atau seperti hasrat beberapa dokter menambah pendapatan. Bryson beranekdot, “Penanganan berlebihan satu orang adalah aliran penghasilan orang lain.”

Namun, keberhasilan penanganan kesehatan terbukti tidak selalu mengandalkan pada kecanggihan alat-alat kedokteran atau kemanjuran obat-obatan. Penelitian di Selandia Baru pada 2016 menyodorkan fakta bahwa dokter yang memiliki sifat welas asih mampu membuat perbedaan. Penanganan mereka membuat pasien diabetes yang mengalami komplikasi parah menjadi lebih sedikit.

Di sinilah kemudian kita menyadari, bersikap baik memiliki faktor signifikan dalam penyembuhan pasien. Sumpah dokter sudah menegaskan perbuatan baik itu. Sekaligus membuktikan tesis Bryson yang tak keliru: sains kedokteran tak bisa melakukan segalanya.

***

Riza Almanfaluthi
22 Januari 2023

Judul buku: Tubuh, Pedoman Bagi Penghuni
Penulis: Bill Bryson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: Cetakan Kedua, Juni 2022
Halaman: 471 halaman

https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.