Menjadi Bangsa yang Murah Hati


Apa pun mimpi itu yang penting pengurus amanat dan semangat berbaginya jangan pernah ditinggal. Ia harus menjadi DNA paguyuban.

 

Driver daring itu—sebut saja Hasan—meneteskan air mata. Hasan tak menyangka ia mendapatkan motor baru dari orang tak dikenalnya. Sebelumnya Hasan diminta orang itu untuk mengantarkan tas berisi uang ratusan juta rupiah. Orang itu menunjukkan isinya kepada Hasan. Ia menyanggupi orderan tanpa aplikasi itu dan langsung tancap gas menuju alamat yang dituju.

Sesampainya di sana tidak ada siapa pun. Malah Hasan menjumpai orang yang memberikan order. Dari sanalah kemudian orang tak dikenal memberikan motor baru kepada Hasan sebagai imbalan atas kejujurannya. Bisa saja Hasan membawa kabur tas itu dan menghilang. Tidak ada jejak. Namun, Hasan tak melakukannya.

Awalnya Hasan tak percaya dengan pemberian motor itu. Orang itu meyakinkan Hasan keseriusannya memberikan motor kepada Hasan. Hasan langsung sujud syukur, menangis, dan memeluk sang dermawan.

Konten ini menyebar cepat dengan komentar positif warganet. Tangisan dan raut muka tak percaya Hasan menggugah naluri kebaikan warganet.

Di tengah rayanya hedonisme, media sosial menjadi sarana efektif untuk menyebarkan kebaikan. Tayangan berbagi kepada kaum terpinggirkan divideokan lalu diunggah di media sosial. Seringkali menjadi viral.

Kunci konten menjadi viral adalah konten itu mampu melibatkan sisi terdalam warganet: perasaan terkait. Dari sana banyak orang tersentuh kemudian menjadi aksi.

Beberapa di antaranya dengan berkomentar positif, berniat meniru kebaikan itu, atau langsung bertindak dengan ikut berbagi. Secara sembunyi-sembunyi atau turut memublikasikannya kepada khalayak ramai.

Soal perbuatan baik itu kemudian dianggap sekadar cari sensasi atau mencari nama tentunya tidak bisa divonis demikian karena kita tidak bisa menyelami isi hati orang. Biarlah menjadi urusan dirinya bersama Tuhan.

Konten adem itu semakin meyakinkan kita kalau bangsa ini memang layak disematkan sebagai bangsa yang murah hati. Ini sejalan dengan laporan yang dirilis oleh badan amal Charities Aid Foundation pada 14 Juni 2021.

Laporan yang berjudul World Giving Index (WGI) menempatkan Indonesia di peringkat teratas daftar negara dermawan dengan skor total 69. Skor ini naik daripada skor dalam laporan terakhir pada 2018. Skor ini juga menjelaskan bahwa delapan dari orang Indonesia menyumbangkan uang pada 2020.

Pandemi bahkan tidak melemahkan semangat berbagi masyarakat Indonesia. Laporan itu menyebutkan, zakat menjadi amal yang dipraktikkan secara luas di Indonesia.  Otoritas keagamaan di Indonesia menyerukan pembayaran semacam itu untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan di masa pandemi.

Setelah Indonesia, negara yang masuk peringkat sepuluh besar tertinggi secara berurutan adalah Kenya, Nigeria, Myanmar, Australia, Ghana, Selandia Baru, Uganda, Kosovo, dan Thailand.

Amerika Serikat yang biasa menduduki lima besar terlempar sampai di peringkat 19. Negara langganan 10 besar seperti Inggris, Kanada, dan Belanda juga keluar dari posisi 10 besar. Nigeria dan Ghana adalah dua negara yang baru masuk 10 besar.

Sepuluh negara peringkat paling buncit dari 114 negara adalah Latvia, Prancis, Pakistan, Lebanon, Maroko, Korea Selatan, Italia, Belgia, Portugal, dan Jepang.

Jepang menjadi negara paling buncit, laporan itu menyebutkan, karena soal aturan pemberian amal yang rumit, ketergantungan warganya kepada negara yang sangat tinggi, dan organisasi nirlaba yang menjadi fenomena relatif baru di sana. Berbeda dengan Nigeria yang diyakini memiliki 80 ribu organisasi sejenis di seluruh negeri.

Di Indonesia tumbuh subur banyak lembaga untuk mengumpulkan donasi dan semacamnya. Di era digital, platform tolong-menolong berkecambah. Ditopang dengan kemudahan pembayaran donasi, platform digital semakin dipercaya oleh warganet dalam menyalurkan sumbangan. Semuanya didasari niat baik: kepedulian kepada sesama. Dus, berbagi itu membahagiakan.

Soal kepedulian kepada sesama ini membuat saya teringat dengan organisasi informal pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bernama Perkumpulan Cakti Buddhi Bhakti (CBB)—kalau secara formal ada yang namanya Korpri atau jauh ke belakang sebelum adanya Korpri ada organisasi bernama Serikat Sekerja Djawatan Padjak.

Perkumpulan CBB dibentuk pada 21 Oktober 2019 sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai DJP. Sampai hari ini (Rabu, 8 September 2021), sudah lebih dari 86 persen pegawai DJP bergabung dalam paguyuban, tepatnya 39.350 pegawai.

Setiap anggota membayar iuran bulanan sebesar 100 ribu rupiah. Sampai dengan saat ini beberapa manfaat langsung yang diterima oleh anggota seperti bantuan biaya rawat inap bagi pegawai yang sakit dan dirawat inap di fasilitas layanan kesehatan, jaminan kematian senilai 42 juta rupiah dari BPJS Tenaga Kerja, santunan duka senilai 50 juta rupiah, bantuan karena bencana alam, bantuan untuk kegiatan sosial, atau bantuan pinjaman dengan nilai pinjaman 20 juta rupiah tanpa ada bunga atau biaya administrasi. Soal dua yang terakhir ini menurut saya sesuatu yang luar biasa. Sangat jarang organisasi yang menerapkan metode pinjaman dana tunai tanpa ada itu.

Ini bisa terjadi karena tingkat pengembalian yang tinggi—sistem telah membuat pelunasan secara otomatis dari pemotongan gaji—dan jumlah SDM DJP yang besar. Puluhan ribu anggotanya mengungkit potensi paguyuban sehingga mampu merealisasikan dan meluaskan program-program peningkatan kesejahteraan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dari perbincangan dengan pengurus paguyuban, program di atas baru sebagian saja. Masih banyak mimpi besar yang akan segera direalisasikan di tahun-tahun mendatang seperti rumah sakit untuk pegawai pajak misalnya.

Apa pun mimpi itu yang penting pengurus amanat dan semangat berbaginya jangan pernah ditinggal. Ia harus menjadi DNA paguyuban. Sekaligus untuk memastikan peringkat Indonesia tetap berada di pemuncak dalam WGI di tahun-tahun mendatang dan ada Hasan-Hasan lainnya yang terkejut dan terharu karena uluran tangan dari pegawai DJP di seluruh Indonesia. Insyaallah.

***
Riza Almanfaluthi
Artikel ini ditulis untuk dan telah dimuat pertama kali di situs web Perkumpulan CBB
Foto dari Christian Dubovan (unsplash.com/@cdubo)

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.