Kaisar Amerika Serikat


Pada saat ini banyak bermunculan kerajaan baru dengan raja-raja barunya di Indonesia. Amerika Serikat juga pernah mengalami mendapatkan raja baru di masa Presiden James Buchanan. Seseorang yang tidak waras bernama Joshua Norton mendaulat dirinya sendiri sebagai kaisar pada 17 September 1859 dengan gelar Kaisar Norton I.

Untuk menunjang tugasnya sebagai kaisar, Norton berpakaian seragam militer lengkap dengan pangkat di pundak, memiliki sebilah pedang, dan bertopi bulu merak. Selama 21 tahun mengelilingi jalanan San Fransisco dengan dikawal dua anjing liar.

Seperti raja Keraton Agung Sejagat Toto Santoso yang ditangkap Kepolisian Daerah Jawa Tengah karena dianggap meresahkan warga, Joshua Norton juga pernah ditangkap oleh kepolisian San Fransisco karena dianggap orang gila yang berkeliaran di jalanan. (Saat ini, Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri Bahtiar juga menganggap Toto Santoso sebagai orang kurang waras.)

Nah, penangkapan Norton itu malah dikecam oleh masyarakat San Fransisco. Mereka memprotes kepala polisi dan memintanya untuk membebaskan Norton. Kaisar Norton akhirnya dibebaskan dan kepala polisi meminta maaf secara pribadi. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Norton mengeluarkan “pengampunan raja”.

Norton selain ketidakwarasannya dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan rasional—kecuali tentu tentang dirinya dan kekaisarannya. Masyarakat San Fransisco menerima Norton sebagai maskot tidak resmi kota.

Masyarakat membayar “pajak” kepada Norton. Restoran di San Fransisco memberikan makanan kepadanya. Pemilik teater memberikan tiket bangku khusus kepadanya. Pemerintah kota juga menyediakan anggaran khusus buat seragamnya, jika seragam itu sudah usang. Percetakan membuat logo resmi pemerintahan kaisar yang diterima oleh toko-toko sebagai mata uang kaisar. Toko-toko juga menjual boneka Kaisar Norton.

Norton selain mendapatkan haknya sebagai kaisar juga menjalankan “kewajiban-kewajibannya”, seperti memberikan gelar kebangsawanan abadi kepada petugas kota, memecat gubernur California, melarang Kongres untuk bersidang di Washington D.C., menghapus Partai Demokrat dan Partai Republik, dan memerintahkan Dewan Pengawas Kota untuk ditahan karena tidak bisa menjalankan dekritnya.

Ketika dia meninggal, ribuan warga kota hadir dengan iringan pemakamannya sepanjang dua mil. Media massa memberitakannya secara terperinci, bahkan melebihi pemberitaan pelantikan gubernur baru California. Orang-orang kaya ikut menjadi donator membiayai pemakamannya. Bendera-bendera dikibarkan setengah tiang. Batu nisannya ditulis dengan huruf besar KAISAR AMERIKA SERIKAT DAN PELINDUNG MEKSIKO. Tanpa didahului tanda kutip, sungguh.

Namun patut diingat, dalam delusinya Norton meninggalkan warisan. Seabad kematiannya diperingati. Mata uang Kaisar Norton jadi benda koleksi. Kenal Mark Twain dan Robert Louis Stevenson? Mereka berdua mengabadikan Norton dalam bukunya masing-masing. Ide Norton dalam mendukung perempuan dan kelompok minoritas diterima luas. Ia juga mengusulkan dibentuknya Liga Bangsa-bangsa sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa ada dan pembangunan jembatan San Fransisco-Oakland.

Eric Barker yang menulis cerita Kaisar Amerika Serikat di atas dalam bukunya berjudul Mendaki Tangga yang Salah ini mencatat, “Jika Norton tidak melaksanakan pemerintahannya dengan percaya diri, orang-orang tidak akan mengingatnya dengan hormat hingga satu abad kemudian. Tetapi jika Anda tidak berhati-hati, kepercayaan diri bisa menjadikan Anda seorang kaisar yang tidak punya wilayah di luar kepala Anda sendiri.”

Kini ada Toto Sugianto sebagai Raja Keraton Agung Sejagat dan pendahulunya Nasri Banks sebagai Kaisar Sunda Empire. Pengawal mereka bukan anjing-anjing liar yang setia mengikuti Norton ke mana-mana. Mereka punya banyak pengikut. Dan punya kepercayaan diri yang luar biasa.

Tinggal waktu yang akan membuktikan apakah dengan kepercayaan diri itu mereka akan meninggalkan warisan abadi. Untuk diingat dalam benak pikiran masyarakat. Atau cukup diingat dalam ingatan-ingatan pendek media sosial yang hanya bisa dicari dengan Google?

Karena sebagai kaisar, mereka hanya memiliki wilayah di kepalanya masing-masing.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
23 Januari 2020

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.