Mabuk Gawai


Ini adalah kali kedua, saat sedang memimpin rapat, saya meminta kepada para peserta untuk menaruh telepon genggam mereka di atas meja. Secara sukarela, para peserta rapat memenuhi permintaan ini. Saya menjanjikan bahwa rapat diupayakan berjalan seefektif mungkin.

Ada maksud di balik permintaan saya tersebut. Tujuannya agar saat rapat, fokus mereka tidak terpecah dengan apa yang ada di layar telepon genggam masing-masing. Hal ini saya lakukan, guna menghindari perilaku phubbing. Istilah yang sedang tren saat ini.

Apa itu phubbing? Phubbing adalah kependekan dari phone snubbing, didefinisikan sebagai perilaku pengabaian kepada lawan bicara dengan selalu melihat telepon genggam. Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, belum lama ini, menerjemahkannya sebagai mabuk gawai.

Menurut beberapa ahli, perilaku ini mulai ditemukan pada 2010, saat telepon genggam cerdas mulai marak, serta banyaknya aplikasi melenakan yang terinstalasi di dalamnya. Pada Mei 2012 dibuat neologisme untuk menggambarkan perilaku tersebut.

Penelitian baru dari University of Kent, Inggris menyatakan phubbing secara negatif mempengaruhi hubungan orang-orang. Sebab, pengabaian itu mengancam kebutuhan dasar untuk menjadi bagian dari lingkungan.

Di luar rapat, perilaku phubbing menjadi sebuah ketidaksopanan. Apatah lagi ketika berada di dalam rapat. Saya pernah melihat seorang pejabat sedang memimpin rapat. Ia menyadari banyaknya peserta rapat yang matanya terpaku ke layar telepon genggamnya masing-masing. Maka, ia mencari mata yang masih menatap dan serius mendengarkannya. Ternyata, jumlahnya sedikit. Hal ini tentu memprihatinkan.

Dalam sebuah jurnal penelitian yang diterbitkan pada 2016, kehadiran telepon
genggam dapat menghambat aliran bebas percakapan. Ketika telepon hadir dalam percakapan yang sedang terjadi, percakapan menjadi kurang memuaskan. Selanjutnya, perasaan empati menjadi merosot.

Saya teringat akan eksperimen beras yang ada di dalam buku The Hidden Messages in Water yang ditulis oleh Masaru Emoto. Beras diletakkan dalam tiga botol. Beras pertama diucapkan kata “terima kasih” setiap hari selama sebulan. Botol kedua diberi ucapan “kamu bodoh” selama periode yang sama. Sementara botol ketiga didiamkan begitu saja.

Hasilnya, beras pada botol pertama mulai terfermentasi, tetapi masih tercium aroma lembutnya. Beras di botol kedua membusuk dan menjadi hitam. Namun, siapa sangka beras di botol ketiga lebih cepat membusuknya dibandingkan botol kedua. Ternyata, daya rusak pengabaian begitu cepat dan dahsyat.

Namun, penelitian lain mewartakan bahwa phubbing adalah sebuah kenormalan
baru. Hal ini terjadi karena objek yang diteliti itu adalah mereka yang menerima perilaku phubbing dengan mudah. Meski demikian, kutipan ini pantas untuk direnungkan. Jika Anda phubbing, maka bersiaplah untuk di-phubbing sebagai balasannya. Anda tidak menghendakinya, bukan?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Artikel ini telah diterbitkan oleh majalah elektronik Kementerian Keuangan:
Media Keuangan Edisi September 2018.
Untuk unduh silakan di: https://www.kemenkeu.go.id/media/10450/media-keuangan-september-2018r.pdf

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.