Mangunreja Sareng Warung Peuteuy, Aya Naon di Ditu?



Ibu Jua Mengaduk Ulen via onenews.id

To make something special, you just believe it’s special.

(Mr. Ping, Kung Fu Panda, 2008)

Liburan panjang awal bulan Mei 2016 itu kami ke Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Sebuah nikmat yang patut disyukuri adalah bertemu dengan saudara dan merasakan kembali makanan yang sudah lama tidak pernah dinikmati.

Kami berangkat dari Jakarta hari Kamis pukul 14.00. Keluar dari kemacetan di KM-57 tol Cikampek pada saat magrib. Sempat tersasar di Garut dan sampai di rumah uwa (panggilan hormat kepada kakak ibu) jam satu dinihari. Alhamdulillah dalam perjalanan itu saya tidak terkantuk-kantuk. Masih kuat nyetir tanpa tergantikan sampai tujuan.

Ceritanya sepupu saya menikah. Ayah dari sepupu saya itu adalah adik ibu saya. Ada empat saudara ibu saya berada di Salawu. Dua kakak dan dua adiknya. Semua laki-laki. Mereka sebenarnya asli Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah.

Pada zaman huru-hara dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), dua kakak laki-laki ibu adalah anggota Pemuda Nahdhatul Ulama yang sedang diburu PKI. Ceritanya untuk menghindari perburuan itu mereka hijrah dan sampai ke Salawu itu lalu beranak pinak dengan orang keturunan asli sana.

Sewaktu saya masih kecil, saat liburan sekolah atau pada saat ada saudara hajatan, saya ikut ibu silaturahmi ke Salawu. Dari Indramayu naik bis sampai Tasikmalaya. Lalu lanjut naik mobil elf ke Salawu.

Di Salawu kami sering nge-botram dan piknik bersama. Botram itu istilah dalam bahasa sunda artinya makan bersama di kebun atau di sawah ramai-ramai. Biasanya bersama teman, keluarga, atau tetangga.Pernah juga kami piknik ke Pantai Batu Hiu dan Pangandaran. Perasaan seru saja pada saat itu.

Kini, mereka telah tiada. Ibu saya dan uwa-uwa kami itu. Dan sebagai salah satu cara berbakti kepada orang tua yang telah meninggal adalah dengan tetap menjalin persaudaraan dengan teman dan saudara-saudaranya. Istri saya menasihati itu. Ada hadisnya pula.

“Saya datang ke Madinah, kata Abu Burdah ra, lalu Abdullah bin Umar ra datang menemui saya seraya bertanya: “Tahukah engkau mengapa saya menemuimu?” “Tidak”, jawabku dengan jujur. Lalu ia menjelaskan: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin berhubungan dengan ayahnya yang telah wafat, hendaknya dia menghubungi kenalan dan saudara-saudara ayahnya, sesudah ayahnya meninggal”. Kebetulan antara Umar ayahku, dan ayahmu terjalin persaudaraan yang akrab sekali, maka saya ingin melanjutkan hubungan baik itu” (HR. Abdur Razzaq dan Ibnu Habban dalam Shahih-nya).

Jadilah ratusan kilometer ditempuh bolak-balik. Pun, silaturahmi itu tidak ada ruginya. Betapa banyak kebaikan yang diraih buat para pelaku silaturahmi. Panjang umur dan bertambahnya rezeki. Itu sudah pasti. Yang menjamin adalah Rasulullah saw sendiri.

Setelah acara akad nikah dan resepsi, kami diajak oleh sepupu yang lain—namanya Muhammad Iqbal, biasa kami panggil Ang Iiq—untuk mencicipi kuliner khas Tasikmalaya, yaitu kupat tahu, Mangunreja. Wow, ini pengalaman baru buat saya setelah sekian lama tidak mampir. Terakhir saya datang ke Salawu lima tahun yang lampau. Tepatnya tahun akhir tahun 2010 saat Puput—sepupu saya yang lain—menikah.

Kami berangkat setelah salat Jumat. Jarak rumah makan kupat tahu ini delapan kilometer dari rumah. Kupat tahu Mangunreja berbeda dengan kupat tahu Magelang. Dan saya pastikan kalau saya lebih menikmati kupat tahu Mangunreja ini. Subhanallaah, pas banget di lidah, apalagi dengan krupuk putihnya. Pasangan yang sempurna. Saya yang saat itu membutuhkan kalori melahapnya dengan nikmat. Murah lagi.

Sekarang tempat kuliner sering kali menjadi tujuan buat orang-orang yang datang menginjakkan kaki di suatu daerah yang dikunjunginya. Dulu, saat saya masih kecil, tak ada kunjungan-kunjungan seperti ini. Sepupu saya ini kekinian dan memang kupat tahunya enak, jadi kami diajak ramai-ramai ke tempat itu. Barangkali ini sebagai pengganti ngebotram itu.

Omong-omong dengan Ang Iiq yang berprofesi sebagai desainer dan kaligrafer ini ternyata dialah yang bikin nama-nama korban tsunami di Museum Tsunami Aceh, tepatnya di ruang Sumur Doa atau Space of Sorrow itu.

Dia juga yang merancang dan membuat tugu Konferensi Asia Afrika yang ada bola dunianya itu dan sering jadi tempat selfi, dekat Masjid Raya Bandung. Dia juga yang bikin ornamen kaligrafi di Masjid Alirsyad Kota Baru Parahyangan buatan Ridwan Kamil itu. Selama ini dia memang bekerja sama dengan biro arsitektur Ridwan Kamil.

Kembali ke Salawu, sepulangnya dari Mangunreja, saya mampir dulu ke pertigaan Warung Peuteuy. Pertigaan Warung Peuteuy ini berada di antara Singaparna dan Salawu. Perasaan saya waktu kecil, jarak antara Warung Peuteuy dengan rumah di Salawu itu jauhnya minta ampun.

Waktu itu saya yang sedang mabuk darat saat naik mobil angkutan elf dari Terminal Tasikmalaya. Ibu bilang begini, “Tenang, sebentar lagi sampai.” Tapi kok lama sekali sampainya. Ya wajar, karena elf-nya mengetem lama di pertigaan itu.

Ternyata ketika saya sudah gede begini dan tahu jarak apalagi setelah bisa lari jarak jauh, ketahuan juga kalau jarak pertigaan Warung Peuteuy dengan rumah uwa tidak begitu jauh. Sekitar 1500 meter saja. Dekat sekali ternyata.

Ada apa di Warung Peuteuy. Saya mencari penjual ulen, ketan bakar khas Jawa Barat. Ulen itu ketan bakar yang kulitnya dibakar secara merata sehingga warnanya coklat. Harganya dua ribu rupiah sepotong. Potongannya rapih dan bagus. Ketika dibelah terlihat warna putih ketannya yang sempurna dan ada sedikit potongan kelapa di dalamnya.

Kebetulan pada saat itu hujan sedang turun dan ulennya masih hangat. Pas sekali. Alhamdulillah dan subahanallaah. Saya beli lima, dibagi kepada semua yang ada di dalam mobil. Istri uwa saya yang bernama Uwa Epon menolak menerima ulen karena sudah bosan tentunya. Pastilah. Orang sononya.

Ternyata saya salah, seharusnya saya beli banyak, jangan sekadar icip-icip. Luar biasa nikmatnya. Sampai saya menulis ini, nikmatnya masih terasa di lidah. Saya sudah jelas merindukan makanan itu.

Sudah lama enggak makan ulen. Dulu di pintu keluar tol Citeureup, Bogor, ada satu pedagang yang jual ulen, sekarang sudah enggak ada lagi. Di Warung Peuteuy mereka tetap bertahan, walau sudah berdekade-dekade. Tiga puluh tahun yang lampau, ibu saya selalu membelikannya saat mobil elf mengetem di pertigaan itu.

Satu lagi yang istimewa adalah wajit. Wajit itu semacam penganan yang terbuat dari ketan dicampur dengan kelapa yang dihaluskan dan gula merah. Dibungkus kecil-kecil dengan daun jagung kering. Dulu saya tidak suka dengan penganan itu. Anehnya ketika saya disuguhi wajit itu kemarin pada akhirnya saya suka banget.

Barangkali alasan utamanya adalah kebutuhan saya terhadap sumber kalori berupa gula begitu besar. Ini setelah saya berolahraga secara teratur, mengikuti Freeletics , dan membatasi asupan makanan. Apalagi gulanya gula alami.

Sepulang dari Salawu, salah satu paman saya memberikan oleh-oleh seplastik besar wajit. Hanya saya yang suka wajit ini ternyata. Tidak istri dan anak-anak saya. Sampai saya membawanya ke Tapaktuan dan menghabiskannya sendirian.

Memberikan oleh-oleh kepada yang mau mengakhiri kunjungan adalah sebuah kearifan lokal yang masih bertahan di masyarakat pedesaan. Ini yang seharusnya kami tiru. Bukankah saling memberi hadiah maka akan saling mencintai?

Dari Salawu banyak sekali oleh-oleh yang dibekalkan kepada kami dari istri uwa dan paman-paman kami.

Salawu, Naggerang, Margaluyu, dan Warung Peuteuy memang sudah berubah sekarang. Tidak seperti dulu. Dinginnya sudah berkurang. Tapi memori sudah banyak tercipta di sana. Sejak kecil sampai sekarang. Memori yang tak bisa saya napak tilasi lama-lama karena saya harus kembali ke Jakarta dan Tapaktuan hari itu juga.

Mereka saya tinggalkan jam 16.00 hari Jumat. Setelah bermacet-macet di Garut, berhenti di kilometer 88 Tol Cipularang pada tengah malam karena kantuk yang mendera, akhirnya sampai di Citayam kembali jam dua dini hari. Melelahkan memang. Tapi kesannya tidak hilang sampai saat ini.

Apalagi ketika perjalanan itu bareng-bareng bersama dengan keluarga. Istimewa, ya semuanya istimewa. Dan untuk membuat sesuatu menjadi istimewa kita cuma harus percaya bahwa itu istimewa. Dan saya percaya itu.

Opak, mana opak? I miss it.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14 Mei 2016


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s