Yang Berjasa, Yang Disingkirkan



Hoxsey via altcancer.net

Kanker merenggut tubuhnya. Penampilannya seperti mayat hidup. Kulit burik mengelantung lepas dari leher kurus. Kepalanya botak. Morfin telah banyak disuntikkan ke tubuhnya untuk meredakan sakit. Di bahunya ada sekumpulan daging rusak tersembunyi dengan diameter 6 inci. Gosong terpanggang sinar x yang gagal menghentikan laju kembang penyakitnya.

Itu yang digambarkan dalam buku lama yang ditulis di tahun 1999 oleh Jonathan Eisen, Guru Besar Universitas California, berjudul Suppresed Inventions & Other Discoveries. Buku yang sudah lama saya miliki terjemahannya dan baru saya baca di akhir Oktober 2015 ini.

Dr. Harry Hoxsey optimis mampu menyembuhkan pasien ini. Apalagi ia sudah menangani pasien yang kondisinya jauh lebih buruk daripada sakit yang diderita sang pensiunan sersan ini. Dr. Harry mengoleskan ramuan bubuk kuning tebal ke bahunya dan memberikan beberapa obat yang harus diminum tiga kali sehari. Sebuah pengobatan tanpa ada rasa sakit seperti dengan sinar x itu.

Dua minggu berlalu luka sang sersan mengering. Minggu keempat kankernya menciut. Minggu keenam sang sersan sudah bisa berjalan. Dan ia benar-benar bangkit dari kematiannya.

Pengobatan alternatif Dr. Harry ini sayangnya tak diakui oleh kedokteran Amerika Serikat. Karena di dunia kesehatan, gengsi dan uang jutaan dollar yang diinvestasikan pada peralatan sinar x dan radiasi serta obat-obatan telah menjadi benteng kukuh status quo yang tak mau menerima perubahan. Ini telah menjadi bisnis yang menggiurkan senilai milyaran dollar Amerika Serikat.

Dr. Harry harus menerima kenyataan bahwa pengobatan alternatifnya yang terbukti mampu menyembuhkan banyak orang ditolak oleh sekelompok orang yang mendominasi dunia kesehatan dan kedokteran. Ia dikucilkan dan tak diperbolehkan untuk membuka praktik dokternya. Sekali lagi karena penemuannya mengancam bisnis banyak orang.

Kejadian ini di tahun 1940-an. Dan sampai sekarang pun demikian. Pengobatan alternatif dianggap tidak ilmiah dan modern. Serta harus benar-benar berhadapan dengan stigma pengobatan yang tidak dijamin keberhasilannya.

Kalau kita flashback maka kita akan menemukan banyak sekali cerita tentang ortodoksi dunia kedokteran ini. Tahun 1848, Dr. Semmelweis lulusan University of Vienna, mengenalkan gagasan revolusioner meminta kepada dokter di Vienna Obstetrical Clinic buat mencuci tangan dengan air klorin sebelum masuk klinik. Hasilnya kematian setelah melahirkan berkurang drastis.

Tapi ia dikeluarkan dari rumah sakit dan butuh waktu 10 tahun membuktikannya dengan menulis teks medis yang tidak dianggap oleh rekannya yang lain. Ia meninggal dalam keadaan gila, padahal ide revolusionernya saat itu benar-benar telah menyelamatkan nyawa ibu-ibu yang melahirkan.

Dr. Joseph Lister di tahun 1867 pun mengalami hal yang sama saat ia mengenalkan pemberian antiseptik kepada pasien pasca pembedahan. Ia sering melihat pasien meninggal karena luka nanahnya. Sebuah konferensi diadakan di Inggris untuk menyerang konsep antiseptiknya itu. Seakan-akan menunjukkan Lister itu siapa berani-beraninya mengajari ahli bedah di London tentang protokol pembedahan.

Kalau kita mengenal Dr. Louis Pasteur yang bukan dokter melainkan ahli kimia saat mengenalkan bakteri pada penyakit infeksi. Dunia kedokteran berang karena orang kimia menerobos “dunia”-nya mereka.

Apalagi kita mengenal Dr. Alexander Fleming dengan antibiotik penisilin. Pengabaian dunia kedokteran pada dirinya butuh waktu 12 tahun. Ini mending, setelah dicemooh ia bahkan mendapatkan Nobel untuk sesuatu yang pernah dicela banyak orang.

Sejarah dunia bisa akan berbeda jika James Lind di tahun 1747 tidak menjalani percobaan pola makan di angkatan laut Inggris. Ia menyimpulkan kalau buah-buahan sitrun dapat menyelamatkan para pelaut Inggris dari penyakit sariawan perut. Kapten Cook mulai membagikan jeruk nipis kepada para pelautnya. Tak ada satu pun mati karena itu.

Tapi butuh waktu 48 tahun untuk memberlakukan kebijakan satu ons jus jeruk nipis setiap hari di angkatan laut Inggris. Makanan yang pada akhirnya menjadi pengganda kekuatan armada laut terbesar di dunia. Menjadi pembeda karena kemampuan angkatan lautnya mampu berlayar lebih jauh dan lebih lama. Walau nantinya angkatan laut ini disebut secara sinis sebagai limeys (si jeruk nipis).

Masih banyak contoh-contoh lain untuk menggambarkan betapa penemuan-penemuan yang benar-benar membantu dan menyelamatkan jiwa manusia seringkali harus berhadapan dengan status quo yang didukung oleh politikus dan pemerintah. Di baliknya, enggak jauh-jauh dari duit, duit, dan duit.

Maka wajar juga sih ketika ada alat yang dapat menghancurkan kanker ditemukan oleh Warsito Purwo Taruno juga awalnya dicemooh dan sampai sekarang masih belum direkomendasikan dunia kedokteran. Saya pernah baca berita tentang orang-orang yang meragukan alat ini. Bahkan ia pernah tidak diberi izin oleh Kementerian Kesehatan untuk menjadi pembicara di sebuah seminar. Alasannya Kementerian Kesehatan mendapatkan protes dari asosiasi dokter. Waow

Sebenarnya tidak hanya dunia kedokteran, ada juga di dunia energi. Kita tahu tentang blue energy yang hanya dengan air maka kendaraan bermotor bisa jalan dan kemampuannya setara dengan bahan bakar minyak. Itu memang bukan temuan baru seperti yang ditemukan di tahun 2008 dan sempat dikampanyekan oleh SBY.

Sebelum abad ke-20 pun upaya memakai energi alternatif dengan air sudah ditemukan dan dilakukan tapi masalahnya mereka berhadapan dengan sekelompok orang yang ingin sistem energi minyak tetap tidak terusik, karena bila energi air itu diterapkan maka akan menghancurkan dominasi mereka terhadap bangsa-bangsa dan dunia. Ini yang tidak mereka inginkan.

Maka dari beberapa catatan, upaya penghentian dan bahkan pembunuhan terjadi terhadap orang-orang penemu blue energy dan perusak sistem mereka itu. Salah satunya M Malcolm Vincent yang meninggal secara misterius di tahun 1989. Jadi saya berpikir juga dan ingat sewaktu ada berita yang berusaha mengerdilkan penemuan blue energy dari Jawa Timur itu. Tiba-tiba senyap saja berita itu dan dianggap sebagai upaya penipuan yang dilakukan oleh penemunya. Terbayang, para penemu di zaman dulu pun sering dianggap sebagai penipu dan penyihir.

‘Ala kulli hal, saya cuma mau berbagi yang sedikit ini dari hasil bacaan saya di akhir pekan. Sedikit pesan: “Jangan meremehkan sesuatu yang berbau alternatif.” Semoga manfaat. Tabik.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 Oktober 2015


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s