RIHLAH RIZA #51: Surya Tenggelam



Surya tenggelam, ditelan kabut kelam

Senja nan muram, di hati remuk redam

Chrisye-Kala Sang Surya Tenggelam

Saya berangkat ke kantor jam tujuh pagi lalu mampir ke warung depan mes untuk membeli nasi bungkus ditambah krupuk gendar. Lalu dibawa ke kantor. Tidak di makan di sana. Sepertinya memang dari dulu saya kurang suka kalau makan di tempat.

Apa lauk nasi itu? Macam-macam. Setiap hari ganti lauk. Sehingga kita tak pernah tahu isi lauknya untuk hari itu seperti apa. Kita bisa ber-H2C. Berharap-harap cemas semoga lauknya menggugah selera. Tapi selama saya beli nasi bungkus di sana selalu tidak mengecewakan. Dan saya bisa jamin, hanya nasi bungkus yang dijual di warung depan itu yang paling enak daripada nasi bungkus lainnya se-Tapaktuan.

Pemilik warung itu yang bikin? Tidak. Pemilik warung itu cuma konsinyi, yang menerima titipan saja. Ada yang mengantarkan barang konsinyasi ke warung itu. Harganya enam ribu perak. Enggak nendang sih tapi yang penting cukup untuk menguatkan tubuh hingga siang.

Setelah itu pergi ke warung kopi Nyanyo. Warung kopi favorit saya di Tapaktuan setelah warung kopi di Simpang Terapung. Sampai sekarang saya belum menemukan kopi yang enaknya setara dengan dua tempat itu. Wuih, setidaknya di Tapaktuan ini “keahlian” saya bertambah satu juga: bisa mencicipi mana kopi enak dan tidak enak.

Kebiasaan baru saya di sini tuh minum kopi sebagai teman sarapan. Kebiasaan yang tidak pernah saya lakukan di Jakarta. Minum kopi instan bikin perut mual dan kepala pening. Merangsang maag saya kambuh. Tapi minum kopi khas Aceh ini, alhamdulillah tak pernah kejadian kayak dulu.

Tapi saya tahu diri. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Saya batasi sehari segelas kopi. Bahkan terkadang dua hari sekali. Setelah minum yang manis di hari itu, saya tidak akan minum minuman yang manis-manis lagi seperti teh dingin atau susu kedelai. Tapi minum air putih banyak-banyak. Ini yang penting.

Minum kopi di tempat? Di Warung Nyanyo itu? Tidak juga. Saya beli satu bungkus kopi panas seharga 3000 perak. Nanti dituang di gelas kantor saja. Kopi kampung itu dimasak dengan air mendidih dan selalu ada ritual mencicipinya dengan menaruh di tangan barang setetes dua tetes kopi yang sudah dicampur dengan gula pasir lalu dijilat dengan lidah. Ibu pemilik warung itu ingin memastikan kalau kopi yang dibuatnya itu sudah cukup memenuhi selera. Lalu kopi itu dituang dan dibungkus ke dalam plastik.

Setelah itu saya tiba di kantor dan absen pagi. Sarapan pagi dengan segelas kopi memang nikmatnya tiada tara. Apalagi sekarang tidak lagi di ruko, tapi di gedung kantor baru. Di lantai paling atas, lantai tiga.

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan ini memang sudah pindah ke gedung baru berlantai tiga pertengahan November ini. Gedung tertinggi dan termegah se-Aceh Selatan. Dulu, waktu dalam proses pembangunan, kalau lewat orang menyangkanya di Tapaktuan ini sedang dibangun mal. Ternyata bukan. Mana mungkin mal. Perlu daya tarik lebih buat orang luar untuk menanamkan duitnya bikin mal di Tapaktuan ini. Sedangkan–kata sebagian orang—Tapaktuan dari dulu begitu-begitu saja. Tidak berkembang.

Tidak salah sebenarnya orang menyangka kantor ini mal, karena kalau malam, ketika lampu depan dinyalakan, pendaran cahaya merah temaram sangat kontras dengan kegelapan malam Tapaktuan. Untung lampunya tidak berkelap-kelip. Ini mah bisa dianggap tempat hiburan malam.

Kembali ke ruangan tempat saya bekerja. Dari ketinggian lantai tiga ini, terbentang pemandangan menakjubkan yang seharusnya dicemburui oleh seluruh pegawai pajak se-Indonesia sepertinya. Pemandangan laut biru itu loh. Sejauh ini saya belum pernah tahu ada kantor pajak lain yang punya “view” seperti ini. Lalu kalau sudah begitu, nikmat mana lagi yang mau saya dustakan coba?

Orang Jakarta akan menyanggah dan bilang, “1000 pemandangan seperti itu, 500 pemandangan seperti Wakatobi, 1 pemandangan seperti Raja Ampat, kalau jauh dari keluarga dan homebase tak akan pernah dicemburui,” Ya, ya, yadimaklumi saja.

Tentang hal ini saya jadi teringat banyak orang yang mendoakan saya untuk segera pulang ke Tanah Jawa. Terutama yang terakhir kemarin yang membeli satu ring cincin Giok Beutong Nephrite beberapa hari yang lalu. Terima kasih atas perhatian dan doanya. Giliran saya untuk menikmati apa yang ada di sini dulu. Akan tiba masanya semuanya berlalu. Dan ingat, 100 tahun lagi, kita semua tidak ada.

Itu kalau pagi. Apalagi kalau senjanya. Kita setiap hari bisa menikmati surya tenggelam. Sebuah momen yang dinanti oleh para pecinta atau para pekerja di seantero Jakarta. Kalau langitnya tak cerah, saya tak putus harapan, senja akan selalu ada esok hari. Enggak perlu cemas kehabisan. Enggak perlu khawatir akan ditelan oleh kabut kelam. Tidak ada kabut di sini. Adanya di atas gunung belakang sana. Enggak perlu memikirkan hitamnya satu bait lagu yang dinyanyikan Chrisye di atas. Karena itu buat orang-orang yang sedang bersedih. Kita di sini maunya bahagia saja.

Birunya laut saat di pagi hari atau jingganya samudera saat surya sedang tenggelam bukankah itu semua bisa menjadi bahan perenungan dan sumber dari kedamaian kita sendiri? “Maka Maha sucilah Allah pencipta yang paling baik,” Ayooooini akhir dari ayat di dalam surat apa coba?

Dari bukunya ‘Aidh Abdullah Alqarni saya mengutip perkataan Ilya Abu Madi:

Wahai penggerutu yang selalu mengeluh tanpa alasan

Bayangkan apa yang akan terjadi jika engkau jatuh sakit

Bukankah engkau melihat duri dan mawar

Namun engkau tetap buta? Ataukah tetesan-tetesan embun

Apakah kau melewatkannya?

Dia yang tidak memiliki keindahan

Tidak akan mampu melihat keindahan di semesta alam.

Sudah cukup sampai di sini. Selalu akan ada sarapan pagi dengan segelas kopi yang nikmatnya tiada tara. Di sini. Dari lantai tiga ini.


Warung Kopi Nyanyo, Tapaktuan (Foto pribadi).


Gedung baru KPP Pratama Tapaktuan (Foto pribadi).


View yang diambil dari ruangan Seksi Penagihan KPP Pratama Tapaktuan (Foto pribadi).


Subhanallah (Foto pribadi)


Ini pemandangan surya tenggelam yang dilihat dari ruangan Seksi Penagihan KPP Pratama Tapaktuan. (Foto milik Fahrul Hady)

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 15 November 2014


Advertisements

4 thoughts on “RIHLAH RIZA #51: Surya Tenggelam

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s