MENGUKIR DI ATAS BATU: KESUNGGUHAN TAK TERNILAI


Ba’da dzuhur yang sejuk, dua anak kecil itu terlihat sedang belari-larian di dalam masjid AlHikmah, Cipayung, Depok. Yang satu mempunyai perawakan yang lebih kecil daripada yang lainnya. Mereka adalah dua diantara beberapa anak seumuran mereka yang ikut pendidikan di Pesantren Tahfidzul Qur’an Terpadu.
”Dek-dek…sini dulu. Saya mau tanya nih…!” seru saya setengah berteriak kepada mereka. Akhirnya mereka berkumpul di hadapan saya.
”Wah…sudah berapa juz nih hafalannya?” tanya saya kepada dua anak kecil pertama.
”Saya baru satu juz, kok”, jawab yang lebih besar.
“Kalau saya lagi menghapal Juz 30,” yang kecil menyahut.
”Satu juz tuh selesai berapa lama,” tanya saya lagi.
“Dua bulan setengah,” jawab yang besar.
”Sering nangis yah…?”
”Iya…”
”Kenapa?”
”Kangen abi sama ummi” jawab mereka berdua serempak, yang ternyata kakak beradik. Yang lebih tua duduk di kelas enam sekolah dasar sedangkan yang kecil kelas tiga.
”Masih ngompol, enggak…?” tanya saya lagi.
”Enggak dong, kalau dia berhenti ngompolnya waktu kelas dua, sekarang sudah enggak lagi,” jawab si kakak sambil menunjuk sang adik.
Tiba-tiba datang lagi di hadapan saya dua anak seumuran dengan mereka. Yang satu—anak dari pengelola pesantren ini—sudah hafal tiga juz yang ditempuh selama 12 bulan. Sedangkan satunya lagi adalah anak dari seorang ustadz sudah hafal lima juz selama setahun.
Subhanallah, mereka, kecil-kecil sudah bisa menghafal banyak surat Al-Qur’an. Sedangkan saya menjaga surat-surat yang sudah saya hafal saja sampai pontang-panting apalagi untuk menambah hafalan lagi. Saya telah dilupakan. Duh, malu euy…Benar kata rasulullah SAW: “Selalulah bersama Al-Quran, demi jiwa Muhammad yang berada di genggaman-Nya, sesungguhnya Al-Quran itu lebih cepat hilangnya daripada tali onta dalam ikatannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
Saya bisa berkaca kepada mereka. Berkaca pada kesungguhan untuk menjadi seorang hafidz, yang akan memahkotai orang tua mereka kelak. Yang tubuhnya utuh tak termakan ulat saat terkubur dalam tanah. Kesungguhan mereka untuk berjauh-jauhan dengan orang tua yang mereka rindukan setiap harinya. Kesungguhan untuk mencapai karakter shahihul ibadah dalam dirinya.
Dan tentunya tidak bisa kita remehkan adalah kesungguhan dari orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan mengorbankan kesenangan berkumpul dengan anak-anak tercinta. Mengorbankan perasaan kangen mereka untuk masa depan anak-anaknya. Kesungguhan yang timbul karena adanya kesadaran bahwa menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua. Kerana menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.
Untuk merajut kesungguhan itu hanya doa yang bisa mereka panjatkan kepada Sang Penguasa Jagat agar senantiasa menjaga anak-anak mereka, mudah menerima pelajaran, menghapal, dan tentunya betah tinggal berjauh-jauhan dengan orang tua, betah tinggal di tempat yang fasilitas untuk mendapatkan kesenangan masa kecilnya terbatas dibandingkan dengan di rumah mereka sendiri.
Sebuah kesungguhan tak ternilai.
Ah, bisakah saya mempunyai kesungguhan seperti mereka…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:55 13/11/2006

Bacalah artikel ini:
1. Materi Tarbiyah: Hifzhil Qur’an Juz 30;
2. Kiat Menghafal Alqur’an, Ummu Abdillah, Ummu Maryam;
3. Kiat-kiat Menghafal Al-Quran menuju Ridho Ilahi, Azzahra (10.9.2.64)
http://10.254.4.4/isi_partisipasi.asp?dsh=5136

AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?


AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?

Masjid di komplek perumahan kami ini bernama Al-Ikhwan. Bangunannya sejak tahun tahun 2001 belum pernah utuh menjadi sebuah masjid. Setelah bergonta-ganti panitia dan telah menghabiskan dana swadaya masyarakat lebih dari 100 juta rupiah, masjid ini pun masih belum beratap. Yang ada cuma reng baja.
Untuk melanjutkan pembangunan ke tahap pengatapan memerlukan dana tunai yang tidak sedikit kurang lebih 75 juta rupiah. Itu pun belum termasuk biaya pemasangan lantai, pemelesteran dan pengecatan dinding, pengadaan kusen dan kamar mandi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sudah banyak usaha yang dilakukan pengurusnya dalam hal penggalangan dana, mulai dari pengumpulan infak dan zakat penghasilan dari donatur, penitipan kotak infak di tiga SPBU, atau penyebaran banyak proposal. Tapi sampai jelang ramadhan 1427 ini pemasangan atap sebagai target utama selanjutnya tidak kunjung terealisir.
Akhirnya agar sholat tarawih bisa terlaksana di bangunan utama masjid—selama ini memakai bangunan kecil yang sudah ada di bagian bawah meskipun tidak layak untuk menampung banyak orang karena kurangnya ventilasi—maka pengurus pun berinisiatif untuk membeli terpal sebagai pengganti atap metal sambil menunggu terkumpulnya dana tersebut.
Maka terpasanglah sudah atap terpal plastik berwarna biru di masjid kami ini. Dan sudah tiga hari tiga malam ini kami melaksanakan sholat berjamaah di bawah atap itu. Jumlah jamaah pun meningkat—tidak sama saat masih di bawah. Ini dimungkinkan karena luasnya masjid dapat menampung mereka semua. Yang kami tidak bisa bayangkan adalah bagaimana kalau hujan deras benar-benar turun. Kuatkah terpal itu untuk menahan derasnya hujan? Allohua’alam. Kami berharap selama ramadhan ini tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas ibadah kami mengisi ramadhan.
Nah, di Sabtu Sore kemarin jelang 1 ramadhan 1427, di saat takmir masjid sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan shalat tarawih, datanglah tetangga saya—yang diikuti dengan sepasang suami istri bertampang arab. Yang laki-laki berpostur khas timur tengah, hitam, tinggi besar. Berbaju putih lengan panjang tanpa krah dan celana jin warna hitam. Sedangkan yang wanitanya berabaya hitam dengan cadar menutupi sebagian mukanya—walaupun ia tidak menutupi dengan rapat telapak kakinya yang sempat tersembul.
Yang laki-laki tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga saat dia berbicara diterjemahkan oleh istri tetangga kami—sebut saja Ibu Ning—yang sempat bermukim di Riyadh selama beberapa tahun. Yang perempuan sanggup berbicara lokal walaupun dengan logat yang aneh. Mungkin karena sudah kelamaan tinggal di bumi Nejed.
Ibu Ning memperkenalkan dua orang tamu tersebut sebagai keponakannya. Suami keponakannya itu—katanya masih keturunan kerajaan, entah menjabat sebagai apa, yang pasti sebutannya adalah Amir—ingin melihat langsung masjid di sini dan berdialog dengan para pengurusnya.
Memang beberapa tahun lalu kami pernah menyampaikan proposal kepada Ibu Ning untuk disampaikan kepada keponakannya. Tapi sampai detik ini tidak ada dana yang cair dari Arab. Ini mungkin dikarenakan suami keponakannya ini belum sempat untuk berkunjung ke tempat kami. Ia dikenal berhati-hati dengan permintaan proposal pembangunan masjid dari Indonesia, soalnya pernah kejadian ternyata masjid yang dibangun tidak sesuai dengan dana yang diberikan. Dana yang diminta tinggi tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang di proposal atau yang dibangun cuma musholla kecil. Istilahnya ada markup dana masjid bodong.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan kami, sang Amir ini pun langsung saja ambil gambar dengan telepon genggam berkameranya. Atap terpal, dinding yang tidak berplester, lantai semen, dan banyak lagi gambar yang diambil olehnya. Setelah itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan olehnya. Satu yang menggelitik adalah: ”masjid ini masjid ahlul bid’ah bukan?” Yang ia maksud adalah sering diadakan acara-acara bid’ah di sini. Soalnya kalau benar demikian, ia tidak akan menyumbang. Kalau menyumbang ia merasa berdosa. Sang ketua takmir, menjawabnya dengan mantap: ”Insya Allah tidak”. Dalam hati saya berkata: ”Ya…Amir, kalau ente bilang bid’ah, belum tentu bid’ah bagi kami”.
Pertanyaan yang lain adalah ”apakah pengurusnya amanah?. Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Ibu Ning dengan nada penuh percaya diri, ”Insya Allah amanah.”
Namun saat sang Amir ini melihat halaman judul proposal di mana nama Masjid Al-Ikhwan ditulis dengan huruf besar-besar, sang Amir protes dan mengusulkan untuk diganti saja. Maksudnya biarlah nama masjid yang ditulis di proposal yang diubah. Dengan nama apa pun boleh asal jangan Al-Ikhwan.
Ketika ditanya mengapa demikian? ”Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, orang nanti takutnya tidak mau pada menyumbang.
Wow…mantap sekali. Kami berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Bila yang benar adalah yang pertama, maka pertanyaan saya adalah sampai sejauh itukah kebencian terhadap Ikhwanul Muslimin terjadi? Sampai ke akar rumput. Atau cuma di akar rumput. Soalnya dari apa yang saya lihat terdapat buku-buku hasil dari tesis dan disertasi di sana yang membahas tema Ikhwanul Muslimin ini dan ini tidak menjadi masalah. Atau ini karena kedewasaan berpikir dan keilmiahan yang menjadi tradisi dari kalangan akademis sana. Allohua’lam, karena saya tidak pernah hidup di tanah arab.
Setelah kami mengganti kaver depan proposal pembangunan masjid dengan nama yang lain, Masjid Citayam —istrinya sempat mengusulkan diganti menjadi Jannatul Khuld—kami pun dijanjikan bahwa Insya Allah ramadhan akan menjadi bulan barokah buat masjid kami ini. Maksudnya ia bertekad akan menuntaskan tahap pengatapannya. Karena banyak kawannya yang rajin berinfak dan sangat senang membangun masjid—sebagai bekal rumah di surga—di saat bulan ramadhan. Kami cuma bisa bersyukur saja. Namun tidak harap-harap cemas karena sudah banyak kami diberi janji tapi nihil realisasi.
***
Setelah mereka pergi, sore itu saya mendapatkan pelajaran ’penting’ bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Padahal belum pernah saya menemukan dalilnya bahwa memberikan infak itu harus melihat nama mustahiqnya terlebih dahulu. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama? Allohuta’ala a’lamu bishshowab.

Kader Masjid Al Ikhwan 
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:46 26 September 2006

Siapa Teroris? Siapa Khawarij?


Siapa Teroris? Siapa Khawarij?
(ini bukan resensi)

Buku yang ditulis oleh Abduh Zulfidar Akaha ini memang luput perhatian dari saya. Buktinya buku yang terbit perdana di Bulan Juni 2006 ini baru saya ketahui hari Kamis (14/09) kemarin. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang buku ini tapi berupa iklan penjualan vcd bedah buku ini di sebuah milis. Pun saya menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik.
Tapi setelah saya melihat keramaian di sebuah forum diskusi dunia maya dan melihat betapa yang kontra terhadap buku ini begitu kerasnya meng-counter buku ini, kepenasaran saya langsung muncul. Sorenya sepulang dari kantor saya sempatkan untuk singgah di toko buku di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
Di toko itu, saya mencari-cari di setiap rak tapi tidak ketemu. Padahal dari komputer pencarian, buku tersebut masih ada delapan eksemplar. Dibantu oleh satu orang pegawai yang ikut membantu mencari akhirnya saya menemukan buku itu di rak buku. Pun setelah pegawai toko itu angkat tangan karena tidak bisa menemukannya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar buku itu sudah diretur.
Buku ini adalah bantahan dari sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Luqman Ba’abduh yang berjudul ”Sebuah Tinjauan Syari’at: MEREKA ADALAH TERORIS!” (untuk selanjutnya disingkat MAT). Buku ustadz Luqman ini awalnya diniatkan untuk menjawab buku ”Aku Melawan Teroris!” karya Imam Samudera. Tapi seperti diungkapkan sendiri oleh Akaha di kaver belakang bukunya, bahwa ternyata buku itu secara membabi buta mengarahkan semua tuduhannya ke berbagai kelompok pegiat dakwah Islam lainnya selain salafi yang tidak ada hubungannya dengan Imam Samudera, terorisme, dan aksi bom bunuh diri.
Maka muncullah buku berjudul Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Ini. Buku yang walaupun berformat bantahan, tetapi diusahakan oleh sang penulisnya untuk senantiasa menjaga etika dan batas-batas kesantunan dalam tutur kata dan gaya bahasa penulisannya. Maka pembaca dapat membandingkan sendiri bagaimana etika itu dimunculkan oleh masing-masing penulis ini. Mana yang lebih santun dan mana yang sebaliknya.
Tidak berpanjang lebar dalam berkata-kata, berikut apa yang saya tangkap setelah membaca buku ini:
1. Desain kavernya (hardcover) bagus. Berlatar belakang warna hitam dengan api yang menyala-nyala seperti seakan-akan membakar kaver buku MAT. Kaver depan MAT pun terdapat ilustrasi api yang membakar buku Imam Samudera itu;
2. Peletakkan isi buku pun layak untuk disebut bagus karena sudah diperhitungkan agar para pembaca mudah untuk menikmati isi buku ini;
3. Referensi yang banyak pada catatan kaki. Ini dimungkinkan karena penulis adalah salah satu manajer Pustaka Al-Kautsar—penerbit buku ini. Sehingga data dan informasi otentik yang dibutuhkan lebih mudah didapat. Tidak perlu aneh karena Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit buku-buku terjemahan dari Timur Tengah.
4. Membuat saya lebih memahami tentang arti sebuah perbedaan pendapat;
5. Satu yang pasti adalah buku ini menjawab hampir semua pertanyaan dan tema kontroversial di forum diskusi DSH;
6. Saya tidak bisa menuliskan kelebihan (yang tentunya terdapat pula kesalahan di dalamnya karena yang pasti sempurna adalah Alquran) yang ada pada buku ini, karena saking banyaknya. Saran saya buku ini layak untuk dibaca bagi para penggiat dakwah.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:56 18 September 2006

ZINAI ISTRI TETANGGA


ZINAI ISTRI TETANGGA

Waktu kultum kemarin di masjid Shalahuddin Kalibata, saya yang maju karena memang sudah dapat gilirannya. Saya nervous, saya tidak pandai bicara, saya demam panggung, saya batuk-batuk (kebiasaan begini memang kalau lagi stress), saya cuma bisanya nulis, ngeblog lagi. Tapi apa mau di kata tugas ya tugas. Saya memberanikan diri untuk menyampaikan secuil nasehat. Nasehat yang diharapkan bisa dilakukan oleh saya khususnya dan para jama’ah tentunya.
Keberanian ini memang harus diadakan karena dalam rangka kebaikan mengapa harus malu. Sedangkan banyak sekali orang yang melakukan kejahtan dan dosa malah bangga dengan dosanya itu. Ah yang benar….? Bener, coba saja lihat di fordis portal DJP, begitu banyak orang dengan entengnya menampilkan gambar-gambar seronok, tidak senonoh, tidak sopan, dan lain sebagainya. Eh…saat dinasehatin, malah ketawa-tawa, cengengesan, bangga lagi. Aneh…
Ya tapi tentang keberanian maju ke depan itu memang banyak godaannya. Godaan supaya kita tidak bisa bersikap ikhlas gitu loh…Godaan dengan senangnya dipuji orang dan ketakutan karena celaan orang. Ini sama-sama tidak ikhlasnya loh…Tidak berhenti di saat mau kultum atawa sudah berakhirnya kultum. Ditengah perjalanan pun si setan dengan mudahnya mengajak kita dalam kesesatan. Yakni dengan menikmati godaannya. Coba apa godaannya.
”Wahai manusia, tuh lihat betapa orang-orang seakan terpana mendengar omonganmu, maka cobalah bergaya dikit, tambah lagi intonasi suaramu…” kata setan. Intinya supaya kita ingin terlihat bagus di mata manusia, pujian lagi akhirnya. Dan tidak menginginkan kebaikan kita di mata Allah. Kalau begini caranya, niscaya sia-sia perbuatan kita ini. Sudah apa yang disampaikan tidak berbekas karena tidak berasal dari hati, tidak akan pernah lama ada dalam benak pendengar, juga tidak akan mendapat apa-apa dariNya. Masak menjual akhirat kita dengan hal dunia yang remeh temeh seperti ini sih…syirik lagi.

Nothing to lose poinnya. Biarlah apa dikata orang, mau memuji kek silakan, mau mencela, mengutuk, mencela, melaknat, ya silakan saja. Cuma penilaian Allah saja kok yang kita harapkan. Betul begitu kan? Tidak untuk yang lain. Tapi saya rasakan benar-benar susah sekali belajar ilmu ikhlas, ilmu yang dikejar-dikejar sama Andre Stinky untuk bisa melamar Sarah, karena calon mertuanya—Dedi Mizwar—menyaratkan demikian. Yah…namanya juga manusia, hidup senantiasa untuk memperbaiki diri.

Coba kita simak apa yang AsySyahid Hasan Al Banna berbicara Al-ikhlas dalam Rísalah Ta’alim-nya:
”Yang kami kehendaki dengan ikhlas adalah bahwa seorang al-akh muslim dalam setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah, ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.”
Ah…jelas sudah bukan untuk ambisi pribadi. Tepat sekali. Menusuk dan menohok ke jantung. Bukan pula untuk yang lanilla, yaitu segala yang dapat meningkatkan harkat dan martabatnya di mata manusia.Jelas sudah.
Dengan berupaya nothing to lose itulah saya maju ke depan membahas satu hadits pada waktu yang singkat itu, cuma tujuh menit belaka. Diambil dari kitab Al-Wafie, terjemahan kitab syarah hadits Arbain. Saya mengambil hadits yang ke-15, yakni hadits tentang etika orang beriman.
Kurang lebihnya demikian hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim ini:
Tidaklah beriman pada Allah dan hari akhir sampai ia berkata baik atau diam, menghormati tetangga, dan memuliakan tamu.

Berkenaan dengan adab menghormati tetangga itu ada salah satu hadits di buku tersebut yang mengutarakan tentang bentuk penzaliman kepada tetanggga yaitu pada hadits di mana suatu saat Rasulullah ditanya perbuatan apa yang termasuk dosa besar. Rasulullah menyebut perbuatan pertama yaitu menyekutukan Allah, lalu setelah ditanya lagi perbuatan apa setelah itu adalah perbuatan membunuh anak, dan terakhir adalah menzinahi istri tetangga.
Nah, pada poin menzinahi istri tetangga itulah saya tekankan sampai dua kali. Sampai di sini tidak ada masalah. Delapan menit pun berlalu, kultum pun selesai. Baru setelah turun dari mimbar dan kembali ke ruangan kantor, teman saya pun berkomentar tentang masalah menzinahi istri tetangga. Ternyata ia melihat banyak jamaah yang saling berbisik saat saya mengutarakan hal ini.

Dan teman saya yang lain mengirim SMS kepada saya, begini bunyinya:
[….tapi jangan terlalu penekanan dong pada poin berzina sama tetangga, 2 kali lo Za, aku melihat banyak yang senyum lo poin itu, kayak di film saja]

Bukan hanya di fim saja, di media massa, wabil khusus di Poskota sering kita lihat fenomena ini. Itulah hebatnya Rasulullah, masalah ini tenyata benar-benar dipahami betul oleh beliau 14 abad yang lalu sehingga mewanti-wanti kepada umatnya untuk menghindari ini.
Paginya, saat saya bersilaturahim dengan kawan di Subbagian Umum, ternyata ada teman juga yang mengomentari kultum saya. Lagi-lagi tentang menzinahi istri tetangga, penekanannya pada pelarangan menzinahi istri tetangga, berarti boleh dong menzinahi istri bukan tetangga. Halah…. 

Seharusnya kita melihat kaidah yang lebih umum yaitu pelarangan berzina dengan yang bukan haknya. Yaitu pelarangan berzina dengan siapapun orangnya di luar hukum agama termasuk berzina dengan binatang. Yang mana hukum dari berzina ini sudah termasuk dosa besar. Apalagi menzinahi istri tetangga, bisa lebih besar lagi dosa yang didapat untuk para pelakunya. Botullll….
Yah itulah di saat saya lagi tidak melucu, orang bisa juga menganggap omongan saya lucu. Tapi di saat saya lagi melucu, tidak ada tuh orang yang tertawa…? (sudah bisa ditebak joke saya basi habisssss…).
So, zinahi istri tetangga….Na’udzubillaahimindzaalik, Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan yang sedemikian rupa. Forever, ever,ever …… 

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:58 08 September 2006

INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”


INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”

Saya rindu menulis. Menulis di Ciblog tentunya. Hampir dua pekan tanpa ide yang menggelayut di benak. Dan tanpa ada tarian jari di atas keyboard. Kali ini, hari ini, saya benar-benar rindu menulis. Menulis apa saja. Menulis di Ciblog tentunya.
Kemarin di kantor, setelah tiga hari lamanya saya kembali cuti untuk pulang ke kampung halaman, teman satu seksi saya yang baru saja memegang Majalah Tempo terbaru setengah berteriak berkata: “Hei, ada Riza di Majalah Tempo!” Sambil menunjuk kaver depan majalah tersebut yang bergambar foto blur seorang muda berkenggot , berbaju putih, tangannya kirinya menyibak baju di bagian dadanya. Di balik pakaian itu ada beberapa benda seperti jam weker, jalinan kabel, dan dinamit.
Tangan kanannya memegang sebuah buku tebal yang ia dekatkan ke dadanya. Ada tulisan besar-besar berwarna kuning kontras dengan background-nya yang berwarna hitam. Judulnya: CATATAN HARIAN SEORANG TERORIS. Lalu di bawahnya ada sebuah nama dari gambaran orang tersebut: Gempur alias Jabir.
Teman saya lalu bilang: “Cuma ada bedanya nih dengan Riza. Kalau di sini lebih kurusan.” Saya penasaran dengan foto itu, dan bergegas menghampiri sang teman untuk melihat dengan jelas kaver majalah itu. Saya memperhatikannya dengan seksama. “Betul sih¸amat mirip dengan saya,” pikir saya. Tapi sungguh saya bukan seorang teroris. 
Selain itu, kemarin juga, saya benar-benar ekstra kerja keras. Saya benar-benar merencanakan dengan detil seluruh kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Dengan mencatatnya dalam buku agenda tentunya. Ada dua puluhan kegiatan. Urusan kantor dan urusan pribadi. Dan setiap satu atau dua kegiatan itu selesai saya melingkari nomornya. Ada kepuasan yang sangat saya rasakan. Ternyata enak loh kalau kita benar-benar merencanakannya terlebih dahulu semua kegiatan yang akan kita lakukan esok hari.

Jadi ingat salah satu ayat dalam Alqur’an:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr, 59:18)

Kemarin juga, dalam sebuah forum diskusi, ada pula yang mengomentari avatar dan signature saya. Katanya: “avatarnya kok bikin merinding, suka perang yah”. Ya, avatar saya adalah penggambaran wajah dari seorang bersurban ala Afghanistan. Bertampang Arab. Dan tentunya dengan janggut lebat yang menjuntai ke bawah. Seram euy… Teman-teman di SJPhone pun sudah menjuluki avatar ini dengan penggambaran diri seorang Osama bin Laden.
Tidak hanya itu, signature saya pun amat lekat dengan dunia peperangan. Untuk yang satu ini adalah foto tiga orang prajurit yang sedang tiarap dengan senjatanya masing-masing di medan Perang Dunia I.
Kalau memang merindingnya hanya karena avatar saya yang mirip-mirip dengan penggambaran sosok-sosok Taliban dan musuh Amerika Serikat (AS), bagi saya ini tidak jadi masalah. Tapi kalau sudah termakan stereotip musuh-musuh Islam maka saya tidak terima. Mengapa seseorang Yahudi dibolehkan menyimpan dan memelihara janggut untuk mengamalkan kepercayaannya, tetapi bila seorang Muslim berbuat demikian, dia dianggap ekstrim, pengganas, fundamentalis, dan teroris. Sungguh, sungguh amat diskriminatif.
Lalu kalau ditanya tentang suka atau tidaknya peperangan. Jelas saya sebagai manusia biasa tidak suka peperangan. Saya orang yang cinta damai bung…Tetapi pula, jikalau Islam sudah memerintahkan untuk memerangi musuh, maka mau tidak mau dan sudah menjadi kewajiban entah fardhu ‘ain atau kifayah untuk maju berperang dan berjihad di jalan Allah.
Jika kita ikhlas maka kematian kita tidak akan pernah ada ruginya. Pahala besar bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah yakni masuk surga tanpa dihisab. Subhanallah. Dan sungguh, sebagaimana semboyan yang selalu digelorakan dalam dakwah ini: Allah tujuan kami. Muhammad teladan kami. Alqur’an petunjuk kami. Jihad jalan kami. Kematian Syahid adalah cita-cita kami. Maka bagaimana saya akan menjadikan kematian syahid itu bukan menjadi cita-cita saya?
Gempur alias Jabir menulis dalam catatan hariannya sebagaimana diungkap oleh Tempo: “Sesungguhnya perjalanan jihad penuh dengan onak dan duri, dibayangi rasa takut, kelaparan, dan hilangnya nyawa…”. Kalaupun benar Jabir menulisnya saya menyetujuinya 100% untuk pernyataan yang ia tulis tersebut.
Tapi ada perbedaan mendasar antara saya dengan Jabir pada jalan jihad yang ditempuh yakni tidaklah seperti yang ia yakini dengan menebarkan ledakan di mana-mana (kalaulah ini benar ia yang melakukannya).
Kali ini jihad saya adalah menebarkan kebaikan kepada semua orang. Agar saya bisa mendapatkan persiapan untuk bekal di akhirat nanti. Bagaimana saya bisa mengembangkan multilevel kebaikan itu dengan mencari downline kebaikan sebanyak mungkin. Itu saja untuk saat ini.
Tapi bila suatu saat jalan jihad melawan thogut besar dan kecil, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan itu sudah terbentang di depan mata dan ada perintah untuk melawannya maka saya harus siap. Tapi ada pertanyaan besar selanjutnya, “apakah saya akan menjadi orang yang dipilih oleh Allah untuk itu?” Jangan-jangan saya malah akan tergantikan dengan umat yang lain karena tidak sanggup dan tidak amanah untuk memikul beban dakwah itu? Allohua’alam. Tapi setidaknya saya selalu punya cita-cita, niat, dan azzam untuk berjihad dan syahid di jalan Allah. Sungguh ini bukan jalan para “teroris” (tuduhan basi dari musuh-musuh Islam).
Insya Allah tekad itu selalu ada di dada karena Allah.
Kiranya saya cukupkan sampai di sini tulisan ini. Kiranya pula kerinduan akan menulis, menulis di Ciblog tentunya, sudah terpuaskan. Pula karena jam setengah sepuluh pagi ini saya harus pergi melakukan kunjungan kepada Wajib Pajak yang akan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Ini jihad pula bukan? Melakukan sebuah tugas Negara?.
Salam ukhuwah dari saya kepada antum semua pecinta kebenaran.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai Satu Kalibata
09:23 13 Juni 2006

My Brothers and My Sisters: I Love You All


Wednesday, April 19, 2006 – Brothers & Sisters: I Love You All

My Brothers and My Sisters: I Love You All

Tepat dengan keriangan dua buah hati yang menyambut saya sepulang kantor, terdengar sayup-sayup dari kamar terdepan rumah kami sebuah nasyid yang sangat familiar di telinga saya dua tahun belakangan ini.
Alunan nasyid itu keluar dari sebuah speaker komputer rumah yang sepertinya sedari tadi dinyalakan oleh anak sulung kami: Haqi.
“Haqi, …siapa yang menyalakan nasyid ini, sayang…?” langsung saja saya bertanya. Tidak ada jawaban, cuma isyarat dengan jempol yang ditunjukkan pada dadanya.
”Memang kenapa setel nasyid ini…?” tanyaku lebih lanjut.
”Soalnya enak lagunya,” jawab dia cengengesan. Weks…, anak kecil kayak gini sudah punya apresiasi pada nasyid seperti ini.
Terus terang saja saya kurang menyukai nasyid, walaupun sering juga dulu saya membeli kaset nasyid hanya untuk mendengar sepintas lalu. Apalagi zaman sekarang banyak jenis nasyid yang sudah sangat susah dibedakan dengan lagu-lagu ruhani lainnya. (seperti qasidahan, gambus, apalagi dengan salam min ba’id-nya, dan sebagainya).
Tapi entah kenapa, saya sepakat dengan penilaian anak yang baru menginjak enam tahun ini. Lirik syairnya menggugah urat-urat keindahan kata pada diri saya. Membongkar gudang ingatan pada banyak teman di timur, di utara, di barat, ataupun di selatan, dan pada empat penjuru arah mata angin yang tersisa.
Dan hal ini bertepatan pula dengan hati saya yang lagi melow banget gitu loh pada banyak teman saya sedari kemarin. Maka saya kontak mereka, di kebayoran baru dua, kantor pusat, di pulau seberang sana, di parkiran motor, atau di tempat lainnya. Masih saja belum menuntaskan kerinduan ini. Di tambah lagi dengan nasyid yang mengalun sendu, lengkap sudah ke-melow-an ini.
Doa Perpisahan judul nasyid itu. Disenandungkan oleh Brothers salah satu grup nasyid negeri jiran. Ada kata-kata indah di sana: menitikkan ukhuwah yang sejati, kan kuutuskan salam ingatanku dalam doa kudusku sepanjang waktu, senyuman yang tersirat di bibirmu menjadi ingatan setiap waktu. Subhanallah…
Lalu saya membaca bukunya Abbas As-Siisiy, dan mengetahui hal ini:
“Dari Anas ra.bahwa ada seorang laki-laki berada di dekat rasulullah saw., lalu ada seorang laki-laki lain lewat di depannya. Orang (yang berada di dekat Rasulullah) itu berkata, “Ya Rasul, sungguh saya mencintai orang itu.” Rasulullah bertanya, “Apakah kamu sudah memberitahunya?” Ia berkata, “Belum.” Rasulullah bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Kemudian ia mendekati orang itu dan berkata, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah swt.” Laki-laki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah—yang karena-Nya engkau mencintai aku—mencintamu.” (Era Intermedia, 03/2005)
Maka di saat ini, agar Allah mencintai saya, saya akan menyatakan kepada Anda semua dan khususnya ikhwatifillah yang teringat di benak saya atas kenangan-kenangan masa lalu di perjuangan kampus dan setelahnya, bahwa aku mencintai kalian karena Allah swt.
Sungguh ikhwatifillah—mengutip Abbas As-Siisiy pula—persaudaraan karena Allah adalah curahan perasaan, berjuang untuk membantu saudaranya demi peningkatan potensi diri secara bersama-sama, dengan tarbiyah dan takwiniyah, ”penyemaian biji”, ”pencabutan rumput”, dorongan semangat dan hasrat, penyebaran dakwah melalui persaudaraan yang tulus, ibadah yang khusyuk, serta kontinuitas dalam menyampaikan dakwah dengan cara yang baik. (p 212).
Ikhwatifillah, maka dengarkanlah betapa banyak syair duniawi yang berkata demikian:
-kenapa harus bertemu jika akhirnya berpisah-
-kau yang memulai kau yang mengakhiri-
-kau yang berjanji kau yang mengingkari-
(halaah, dangdut banget).
Tapi ada bedanya ikhwatifillah, bahwa di dalam setiap keberpisahan kita yang dibatasi dengan ruang dan waktu, ada doa diantaranya, sebagai penghubungnya, sebagai jalinannya.
Maka tiada hati yang tersakiti, tiada dukun yang bertindak, tiada seutas tali menghias di leher atau pisau belati yang tertancap di dada dan membelah nadi di tangan seperti kebanyakan para penikmat cinta negeri ala Romeo dan Juliet, Sampek dan Engtay, Qais dan Laila, Mark Antony dan Cleopatra, atau cinta lokal seperti Kamajaya dan Kamaratih, Baridin dan Titin pada sandiwara Kemat Jaran Guyang.
Lalu Ikhwatifillah, seperti pada bait-bait terakhir syair doa perpisahan itu, maka saya berharap kalian mengenang saya dalam doa kalian, agar Allah senantiasa meridhoi persahabatan dan perpisahan ini. Dan semoga pula kita adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang dengan muka berseri-seri, tertawa, dan bergembira ria pada hari saat tiupan sangkakala kedua terdengar memekakkan telinga, tidak dengan muka yang tertutup debu dan ditutup lagi oleh kegelapan (semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian).
Ikhwatifillah, sekali lagi: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala”.
Ikhwatifillah, sila untuk menikmati syair yang saya nikmati tadi malam.

Doa Perpisahan
By Brothers

Pertemuan kita di suatu hari
Menitikkan ukhuwah yang sejati
Bersyukurku ke hadirat Ilahi
Di atas jalinan yang suci
Namun kini perpisahan yang terjadi
Dukaan yg menimpa diri ini
Bersama lagi atas suratan
Kutetap pergi jua

Kan kuutuskan salam ingatanku
dalam doa kudusku sepanjang waktu
Ya Allah bantulah hamba-Mu
Mencari hidayah dari pada-mu
Dalam mendirikan kesabaranku
Ya Allah tabahkan hati hamba-Mu
di atas perpisahan ini

[Teman, betapa pilunya hati ini
Menghadapi perpisahan ini
Pahit manis perjuangan
Telah kita rasa bersama
Semoga Allah meridhoi
Persahabatan dan perpisahan ini
Teruskan perjuangan]

Kan kuutus kan salam ingatanku
Dalam doa qudusku sepanjang waktu
Ya Allah bantulah hambamu
Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam doamu
Semoga Tuhan berkatimu
***

Untuk yang saya sebut namanya di sini:
Mas Eko (Ketum UMMP 1994),
Mas Emil Fadli Sulthan (pengantar saya mengenal Qaulan Sadiida),
Mas Rudi Hartaseptiadi dan Mbak Farrah (baru teringat kemarin dari kang Awe),
Mas Trisna (yang mengenalkan saya pertama kali pada jama’ah ini),
Mas Anang dan Mas Anang Anggarjito yang satunya lagi.
Lukman Bisri Hidayat, Ramli, Ujang Sobari, Bambang Najmuddin, Agus, Faisal Alami (foto kita berdua memang sedang lucu-lucunya), Totok dan kembarannya, Wisnu, Yulianto (masih jadi jurusita?), Sofa, Supriyatno yang di Mataram, Abbas Hs, Rino Siwi, Duet Siti Nur’aini dan Siti Shobiroh, Murdiana, Alkhayatun Widiastuti, Ita (afwan saya lupa nama kepanjangannya), Anandanov, juga Fardi Parawansa di Palangkaraya.
Saksikanlah: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala.”
Dan juga kepada yang belum saya sebutkan namanya satu persatu dan telah menorehkan, memahat, dan merelief banyak bahkan berjuta kebaikan di hati saya: ”saya mencintai kalian karena Allah ta’ala.”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
semoga bukan basa-basi belaka
masih dengan brothers yang terus di rewind.
21:54 18 April 2006

Tujuh Tahun Berpacaran


Tujuh tahun sudah mereka berpacaran. Banyak kisah sedih, banyak kisah gembira membungkusnya. Di setiap hari, di setiap pekan, di setiap bulan, hingga di setiap tahun yang mereka lalui, selalu berusaha untuk bisa memahami diri masing-masing.
Tentunya selalu ada konflik mengiringi, dan di lain pihak ada pula solusi sebagai klimaksnya. Seperti seorang teman mereka selalu katakan: “setiap hari adalah waktu untuk bisa memahami”.
Dari kesepahaman yang dipilin pelan-pelan di setiap detiknya, selalu ada keinginan membentuk jalinan tambang yang kuat. Hingga akhirnya ada saja keberkahan yang diberikan Allah muncul di dalamnya.
Mulai dari hanya sekadar memiliki rumah yang dicicil hingga lima belas tahun. Pemberian kipas angin, televisi bekas, rak plastik, kompor, talenan, magic jar dari banyak kawan yang bersimpati kepada mereka. Lalu perlahan-lahan memiliki alat transportasi yang membuat mereka sedikit berhemat dan dapat lebih mobil ke sana kemari.
Ditambah dengan lahirnya dua prajurit yang mengisi hari-hari mereka dengan keriangan. Lalu dengan sedikit tabungan merenovasi rumah agar bisa menambah kamar tidur untuk anak-anak mereka.
Dan begitu banyak rezeki lainnya yang tak pernah sempat mereka bayangkan sebelumnya. Tak sempat terlintas seumur hidup mereka. Tak berani mereka impikan karena bagaikan pungguk merindukan bulan. Tapi Allah selalu membuka jalan. Dan mereka berkesimpulan inilah berkah yang Allah berikan kepada mereka selama tujuh tahun pacaran, tentunya setelah menikah.
Ya, karena mereka malah tidak mengenal satu sama lain sebelum ikatan sah itu terjalin. Karena mereka lebih menginginkan proses ta’aruf (pengenalan) dan tafahum (pemahaman) berjalan setelah sahnya hubungan mereka secara agama dan negara, maka mereka rela untuk tidak mengenal terlebih dahulu. Biarlah waktu yang akan membuktikan proses ta’aruf dan tafahum itu.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Lebih dari tujuh tahun lalu. Di saat krisis moneter melanda negeri indah ini, dengan azzam yang tak terkira dan tak terbendung oleh manusia di muka bumi pada saat itu, lelaki muda yang baru setahun setengah lulus dari kampus tercintanya ini, melangkahkan kaki dan mengetuk pintu rumah sang murabbi hanya untuk mengatakan: “Insya Allah, saya siap.”
Setelah itu, sepucuk amplop putih tidak terlalu tebal telah berpindah tangan. Dan menjadi pemikirannya di sepanjang perjalanan pulangnya, di pinggiran jendela Kopaja 613. Ia sudah memahami apa yang ada di dalamnya. Gambaran diri seseorang yang kelak akan memenuhi hari-harinya di masa mendatang.
Tapi ia tak mengetahui siapa. Dari sedikit informasi yang diberikan sang murabbi, ia hanya mengetahui di mana ia bekerja. Lalu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, sosok wajah yang baru dikenalnya dalam sebuah kepanitiaan yang belum lama dibentuk. ”Ia kah…?” Sejuta tanya menggelayut di benak.
Ini adalah sebuah konsekuensi. Kesiapannya yang telah ia katakan belum lama telah membentuk sebuah dinding tebal yang tak mudah untuk diruntuhkan. Yang mudah dan sulitnya harus ia bebankan di pundaknya sendiri.
Sudah dua hari ia tak menyentuh amplop putih yang ia taruh di laci meja kantornya. Ia memasrahkan pada Allah apa yang akan ditunjukkanNya kepada dirinya. Hanya harap yang terbaik yang diberikan kepadanya, sambil mengingat dialognya dulu.
”Kriterianya apa?”tanya sang murabbi.
”Terserah antum, Ustadz. Bekerja atau tidak, bukan masalah. Lebih tua atau muda, bukan masalah. Kaya atau miskin, bukan masalah. Sekalipun janda itu pun bukan masalah bagi saya. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada Ustadz, Insya Allah, siapapun yang antum tawarkan ini akan menjadi yang pertama dan terakhir. Sehingga tidak perlu mengulang proses semuanya dari awal,”jawab lelaki itu panjang, bernas.
Lalu hari ketiga, setelah dhuha yang cerah, saatnya ia menguatkan hati untuk membuka amplop putih itu. Bismillah. Secarik kertas dengan satu lembar pasfoto hitam putih ukuran 4 x 6 telah di genggaman tangannya.
Ternyata bukan yang pernah terlintas dalam pikirannya. Tidak pernah ia kenal. Dan ia pun baru tahu namanya saat itu walaupun perempuan ini adalah adik kelasnya juga. Yang paling mengejutkan bagi dirinya adalah perempuan ini pun menjadi ketua keputrian dalam acara forum silaturahim itu.
Maka ajang rapat final menjadi saat tepat untuk melihat calon pendamping dari dekat. Secukupnya tentu. Lelaki ini pun yakin sang perempuan belum mengetahui bahwa data dirinya ada padanya.
Lalu acara yang diselenggarakan di daerah pegunungan tersebut pun lagi-lagi menjadi saat tepat bagi lelaki muda ini untuk melihat perempuan itu lagi. Tentunya dengan mencuri-curi pandang.
”Ah, inikah yang Allah tunjukkan untukku…?”tanyanya dalam hati.
Lalu setelah acara itu selesai, tanpa menunggu lebih lama lagi lelaki ini langsung meneruskan perjalanan menuju tempat sang murabbi, hanya untuk mengatakan: ”Insya Allah, ya.”
Lagi, di sepanjang perjalanan pulang dengan Kopaja 613, semuanya menjadi bahan perenungannya. Jatidirinya telah ia serahkan kepada sang murabbi untuk diteruskan kepada perempuan itu dengan foto berwarna seukuran kartu pos. Lelaki dalam foto itu bersetelan jas dan dasi pemberian saat menjadi anggota kepanitian wisuda, tentunya dengan senyum sedikit yang tersungging di wajah.
Kini bola ada di tangan perempuan itu yang akan memutuskan menerimanya atau tidak.Dan ia akan sabar menunggu. Entah sampai kapan. Ia cuma berharap akan adanya sebuah kepastian di genggaman tangannya, agar bisa melanjutkan proses selanjutnya perkenalan atau melihat jatidiri orang lain lagi.
Dua minggu setelah itu, tepatnya pada pergantian tahun, kabar kepastian itu datang pada lelaki muda itu.
”Bagaimana ustadz?”
”Insya Allah tidak menolak.”
”Alhamdulillah, lalu kapan kita akan ta’aruf, ustadz?”
”Tidak usah, langsung saja tanya, kapan antum bisa pergi ke orang tuanya untuk menentukan tanggal khitbah dan akadnya.”
Lelaki ini memaklumi tidak ada proses ta’aruf dengan perempuan itu dikarenakan perempuan ini binaan dari istri ustadz itu sendiri. Berarti sudah tahu betul tentang perilakunya. Pun ini agar prosesnya tidak bertele-tele sesuai keinginan lelaki muda itu sendiri.
Akhirnya satu bulan kemudian dengan seorang sahabat terdekatnya, lelaki itu memberanikan diri pergi bersilaturahim dengan keluarga pihak perempuan. Dengan niat baik agar tidak ada zinah hati di antara mereka, maka lelaki itu meminta agar proses khitbah bisa dipercepat.
Satu bulan berikutnya setelah kedatangan pertamanya, maka lelaki itu kembali dengan rombongan kecilnya untuk mengkhitbah sang perempuan. Tanggal pelaksanaan akad nikah pun ditentukan satu bulan setelah khitbah ini.
Suatu waktu yang diluar harapan sang lelaki. Tidak perlu berlama-lama dan cuma mengucapkan akad di depan penghulu, itu sudah lebih dari cukup. Namun pihak keluarga perempuan memandang lain, bahwa ini adalah kesempatan pertama menikahkan anak perempuannya, maka sudah selayaknya ada suatu walimatul ’urusy.
Akhirnya, tiba saat itu, saat di mana sesuatu yang haram menjadi halal, sesuatu yang dilarang menjadi diperbolehkan, sesuatu yang penuh shubhat menjadi ladang amalan sunnah. Walimatul ’urusy yang menjadi puncak penantian selama kurang lebih empat bulan lamanya terlaksana dengan lancar, tentu dengan syarat bahwa ada pemisahan antara tamu pria dan wanita, tidak ada kemubadziran, mengundang tanpa membedakan status seseorang, dan semua ini membuat mata-mata itu memandang heran kepada pasangan baru tersebut.
Sejak saat itulah, proses pacaran itu dimulai untuk bisa saling memahami, mengerti, dan mencintai apa adanya karena Allah ta’ala. Di sana ada tarik ulur, mengalah, diam, marah, sedih, negosiasi, proses komunikasi verbal, bahasa tarbawi dan dakwah, bahkan ssst…dengan bahasa cinta.
Tentu ada saja riak gelombang yang mengguncang perahu yang berlabuh di dermaga. Kadang besar, kadang kecil, membuat perahu itu semakin berkeyakinan ini adalah bentuk ujian untuk bisa menuju kesempurnaan bahkan paripurna dari suatu pemahaman. Lelaki itu cuma bisa berharap agar Allah menguatkan dirinya untuk dapat melindungi dirinya dan perempuan yang telah menjadi istrinya itu dari panasnya siksa api neraka.
Dan waktu pun terus berputar, tak pernah berhenti, kejam dan dingin. Tiba-tiba kemarin angka tujuh terjerembab di hadapan mereka. Memelas dan meminta kepada mereka untuk mengevaluasi diri. Kiranya ini adalah waktu tepat untuk kembali mengilas balik perjalanan mereka.
Ah, lelaki itu masih saja membuka album pernikahannya. Memandang sosok-sosok yang telah membantu mereka agar proses itu cepat selesai, tetap pada koridor Islami, dengan doa, kerja keras tak mengenal lelah, dan jauh dari keluarga. Sungguh tiada balasan yang lebih baik daripada balasan yang Allah berikan kepada mereka.
Senja itu sama seperti senja tujuh tahun lalu, yang masih saja menguning dengan matahari yang membulat. Tiba-tiba anginnya menelusup sejuk melalui sela-sela jendela, membuai, dan menyadarkan masih ada kenangan yang tersisa di antara selaput otaknya yang sudah mulai kehilangan sebagian memorinya. Ah tidak, tidak hilang untuk memori tentang sebagian dari mereka.
Senja itu masih sama seperti senja tujuh tahun lalu…
****

Lelaki yang kini sudah tidak muda lagi itu dan tentunya kini sudah dengan dua prajurit kecilnya, menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawan seperjuangannya yang telah membantu banyak di waktu tujuh tahun lalu itu.
Kepada akh Lukman Bisri Hidayat: sang pendamping setia dan sang saksi, akh Ujang Sobari, akh Ramli, akh Bambang (munsyid Najmuddin), akh Binhadi (MC berbahasa Jawa) akh Henjang, akh Anang Anggarjito, semoga Allah merekatkan ukhuwah dan mengumpulkannya kembali kelak di surga-Nya.
Sang Perempuan menitipkan salam kepada saya untuk kawan-kawannya pula: yakni untuk ukht Ira Melati (seseorang yang sempat terlintas di benak lelaki muda itudan menduga data di amplolp itu adalah data dirinya), Kwatri, Dini, Tari, Azimah Rahayu (yang tak sempat untuk menjadi ketua panitia), Mela, Fitri, Mbak Erna, dan lain sebagainya.
Kata kedua pasangan itu kepada saya, ”maaf untuk yang belum disebut namanya, sesungguhnya Allah Mahamengetahui, dan Mahapembalaskebajikan.”

Jika malam masih meracau dengan kesunyiannya,
maka terlelaplah engkau segera, karena dunia belumlah kiamat.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:14 02 April 2005

Cintanya Tak Semurni Bensinku


20.02.2006 – Cintanya Tak Semurni Bensinku (Kado buat Hizbiyoon)

Berbeda dengan debat yang dilakukan di alam nyata, debat di dunia maya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan suatu tema diskusi. Karena di sana komunikasi yang terjadi antara penyampai dan penerima informasi tergantung dari kualitas jejaring masing-masing peserta diskusi juga perlu digarisbawahi bahwa dalam komunikasi tersebut tidak disertai dengan bahasa tubuh.

Maka terbentanglah jurang di antara mereka, sehingga dengan adanya gap itu kesalahpahaman seringkali terjadi bahkan berujung dengan caci maki, walaupun sudah dibantu dengan visualisasi bahasa tubuh (wajah) melalui ikon Smiley, yang terkadang ternyata digunakan untuk menutupi maksud hati yang sebenarnya.

Maka saya yang merasa jago debat, pandai bersilat tangan (maaf di sini saya tidak memakai lidah karena sama sekali tidak digunakan) dan tidak memakai hati memanfaatkan benar untuk bisa menjatuhkan lawan diskusi, apalagi didukung dengan teman seperjuangan yang satu ide.

Bila perlu celaan dan hinaan harus disampaikan agar benar-benar lawan diskusi dibuat tidak berkutik. Dengan alasan pembenaran bahwa Rasulullah pun seringkali mencela orang-orang jahil. Bahkan tidak hanya lawan diskusi yang perlu dicela, hatta ulama lokal, ulama asal Mesir yang kini tinggal di Doha Qatar dan berkaliber dunia serta telah diakui kapasitas ilmu dan amalnya pun tak luput dari celaan saya hingga sampai pada penyetaraannya sebagai ulama Syaitan. Tak lupa bukunya pun wajib dibakar.

Tanpa disadari (atau memang sadar dengan sesadar-sadarnya) dengan pelabelan itu telah melanggar batasan yang dipegang oleh saya sendiri (tentu juga oleh lawan diskusi saya) untuk tidak mengafirkan sesama muslim. Karena tidak dapat disangsikan lagi dan semua tahu manalagi selain makhluk durhaka bernama syaitan yang berjuluk sebagai penghulu kekafiran. Namun batasan itu tak perlu jika memang saya menganggap ulama tersebut telah keluar dari Islam. Dan saya tak perlu minta maaf.

Selain itu di suatu waktu jika saya telah kehabisan kata-kata yang harus disampaikan kepada lawan diskusi yang menurut anggapan saya mereka masih ngeyel terhadap puluhan hujjah, maka tak dapat disangsikan segala cara dan upaya ditempuh untuk mengambil puluhan sumber hujjah sebagai penguat.

Bahkan jika tidak ada hujjah dalam bentuk softcopy, kalau perlu semalaman saya tidak tidur untuk menyalinnya ke dalam program pengolah kata. Yah, biasanya sholat malam terlewatkan, bahkan shubuh pun kesiangan, tapi ’Alhamdulillah’ di kantor belum ada finger print sehingga kesiangan pun tidak apa-apa, dan yang penting tak ada potongan gaji.

Setelah sampai di kantor, kiranya saya tak perlu memikirkan kerja dululah. Kan ada yang lebih penting lagi yakni menyampaikan kebenaran, amar ma’ruf nahy munkar, sampaikanlah satu ayat walaupun pahit, apalagi untuk melawan para ahlul bid’ah dan hizby yang setiap harinya mereka menulis dan menyebarkan pemikirannya di ” partisipasi”, dan tak pernah memberikan kesempatan kepada saya untuk membanting hujjah mereka yang ringkih seperti sarang laba-laba. Apa karena ada penyensoran?

Tapi tak apalah, saya masih punya kesempatan untuk melawan pemikiran mereka di forum diskusi. Perlu diketahui lawan saya banyak sekali, selain hizby, ada juga dari tahriry, tablighy, dan surury.

Untunglah suasana kantor mendukung sekali karena saya ada di seksi nonteknis jadi lumayan tidak banyak pekerjaan. Bahkan kalaupun berada di seksi teknis pun saya harus berjuang untuk menyisihkan waktu agar perjuangan ini tetap berlanjut.

Andaikan tak ada waktu pun maka saya tetap harus mementingkan perjuangan memberantas kemungkaran yang disebarkan para hizbiyun dan jahiliyun itu. Iya sih, kadang-kadang saya seharian tak pernah menyentuh pekerjaan karena asyik banget melihat mereka kabakaran jenggot dan jilbabnya.

Ada satu tuh akhwat dari mereka kalau kebakaran jilbabnya, nesu-nesu tak karuan. Bahkan menantang untuk datang ke daerahnya. Emang saya cowok apaan. Cowok panggilan? Saya tak peduli. Cintanya tak semurni bensinku. Loh kok nggak nyambung…

Ohya, sebenarnya gampang sekali mematahkan argumen mereka, karena mereka sama sekali tidak mempunyai dalil dan hujjahnya. Jika mereka nyerocos tanpa referensi gampang saja tanyakan kepada mereka: ”mana dalilnya?”. Biasanya mereka langsung terdiam begitu rupa.

Atau dengan menampilkan copy paste-an saya yang bisa berlembar-lembar halaman, mereka langsung keok. Padahal copy paste-an saya ini juga terkadang tidak sempat saya baca seluruhnya tapi saya sih sangat, sangat, sangat tsiqoh sekali kepada ustadz-ustadz dan ulama-ulama saya karena mereka adalah para ahli hadits dan anti hizbiyun. Ohya, saya juga heran mereka kok tak pernah menghujat ulama saya, ”ah pasti karena mereka tidak mempunyai celah untuk menghujat atau karena mereka takut hujjah mereka dibanting atau takut karena Allah? Ah sabodolah.

Tapi ada juga dari mereka yang seringkali mempunyai argumentasi yang kuat bahkan mantap, dan tidak bisa dijawab oleh saya ataupun teman-teman pendukung saya.. Menghadapi hizby seperti ini gampang bilang saja mereka jahil, dasar khawarij, tutup mulutmu, atau sedikit-dikit dengan makian mantap seperti ”embahmu…”.

Walaupun demikian mereka tetap bergeming, ini yang membuatku marah, dongkol, serta sakit hati. Bahkan setiap saat saya selalu memikirkan perkataan mereka. Lagi istirahat, lagi sholat, mau tidur, mau makan, ataupun dalam perjalanan pulang. Dan memikirkan balasan apa yang setimpal untuk mereka. Saya tak peduli mereka sakit hati atau tidak. Jadi memang sakit hati harus dibayar dengan sakit hati pula.

Tapi ada yang bilang dari para hizbiyun itu, ”awas loh penyakit hati.” Ah, saya bilang saja kepada mereka: ”sok menjaga hati lu”. Eh, ngomong-ngomong masalah hati kemarin saya mendapat tugas dari kantor pusat untuk mengikuti diklat manajemen qolbu di pesantren Daruttauhid pimpinan Aa Gym itu. Padahal Aa Gym itu kan sudah diberi raport merah oleh ustadz kami.

Ikut tidak yah…? Ah, ikut sajalah, inikan tugas kantor, nanti kalau tidak ikut saya akan di black list untuk tidak mengikuti diklat apapun. Yang rugi saya juga dong. Ohya, raport merahnya perlu saya sampaikan enggak yah kepada Aa Gym. Ini juga untuk kebaikan dia sendiri agar tidak terjerumus terlalu lama dalam kebid’ahan. Kalau dia tidak terima, ya sudah tugas saya selesai.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Kalau mereka tak puas dengan hujjah saya, saya siap menerima tantangan mereka, ini nih nomor telepon genggam saya 0817-6969-xxx.

Telepon itu saya buka 24 jam setiap harinya, tujuh hari dalam seminggu. Kalau perlu kopi darat juga boleh, ingat saya juga pandai bersilat lidah. Saya pun akan bawa kitab-kitab rujukan, tidak hanya terjemahan, asli Arab gundul juga akan saya bawa. Ini pasti akan membuat mereka gentar dan berkeringat dingin. Tenang saja saya akan membawa termomoter untuk mengukur suhu keringatnya benar-benar telah mencapai titik terendah.

Ah, saya sudah capek nih, pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati. Apa? Saya anti ukhuwah? Heii, hizby. Lebih baik saya menjadi pendosa daripada menjadi ahlul bid’ah seperti kalian.

Ah, sudah. Pokoknya saya memang jago debat, pandai bersilat tangan, tak perlu memakai hati.

****

Teettttttttttt…tettt…!!! Suara rentetan klakson kendaraan di belakang mengagetkan saya yang kiranya sedang berada di dekat pintu lintasan kereta api. Pintu itu sudah terbuka setelah hampir tiada mau membuka karena memberikan kesempatan lewat terlebih dahulu kepada enam kereta rel listrik Jakarta Bogor.

Melihat forum diskusi di ANTAHBERANTAHnet seharian tadi membuat saya melamun begitu panjangnya. Memikirkan si jago dan ahli debat yang menganggap saya ahlul bid’ah dan hizbiyyun yang tak pantas untuk mencium wanginya surga.

Memikirkan mereka dan apa yang dilakukannya malah menguras energi saya untuk beramal. Menguras energi saya untuk memikirkan para tetangga yang setiap malamnya masih bertanya-tanya makan apa besok harinya. Menguras energi saya untuk menghidupkan sholat berjamaah di masjid yang sudah lima tahun lamanya tak kunjung selesai dibangun.

Memikirkan mereka menguras energi saya untuk mendidik dan mempersiapkan generasi rabbani dengan tali ukhuwah yang kuat, yang di malamnya bagaikan rahib dan di siangnya bagaikan singa mengaum membela Islam dari segala rongrongan. Yang dari mulut mereka tak terluncur celaan dan hinaan melainkan penggugah dan penyejuk hati, penyegar pemikiran dan pecerahan menuju ridhonya Allah.

Memikirkan mereka menghalangi diri saya untuk selalu bermuhasabah menghitung dosa-dosa yang menggunung. Malah membuat hati saya yang sudah kotor semakin kotor memikirkan membalas cacian mereka.

Memikirkan mereka menambah penyakit hati dengan adanya kesombongan jikalau sukses menjatuhkan mereka para ahli debat itu. Membuat kebenaran yang sudah tampak di depan mata semakin buram karena tak mau mengalah dan kesombongan.

Alhamdulillah ternyata saya tidak jago debat. Saya tidak pandai mengolah kata. Saya tidak lincah mencela. Saya gagap untuk menyakiti banyak hati. Saya tak bisa membandingkan ilmu dan amalku dengan milik para ulama yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk perjuangan Islam, bahkan untuk menyamakan mereka dengan para syetan.

Biarkan saya akhiri jenak-jenak kata dengan nasehat yang diucapkan Ibnu Taimiyah kepada muridnya, Ibnul Qayyim:

Akhi Da’iyah:

Jangan jadikan hatimu mudah dihanyutkan syubhat, seperti bunga karang di tepi laut yang kian ternoda manakala diterpa gelombang air. Jadilah bak cermin yang tetap kokoh. Berbagai isu dan tuduhan hanya lewat di hadapannya, dan tidak menetap padanya. Cermin menolak semua itu dengan kekokohannya. Bila tidak demikian, bila hatimu mengharap semua syubhat yang melewatinya, niscaya ia akan menjadi sarang segala tuduhan dan isu yang tak jelas.

Ketahuilah, di antara kaidah syari’at dan hikmah menyebutkan, bahwa siapa yang banyak dan besar kebaikannya, dan telah menanam pengaruh nyata dalam Islam, mungkin saja melakukan kekeliruan yang bisa jadi tidak dilakukan orang selainnya. Orang seperti itu dapat dimaafkan. Maaf yang tidak diberikan pada selainnya. Sesungguhnya kema’syiatan itu adalah kotoran, dan air bila mencapai dua kulah, tidak membawa kekotoran.

(Jasim Muhalhil, 1418 H)

Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ba’da maghrib dingin

19:03 19 Pebruari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

riza.almanfaluthi@pajak.go.id

Antara Umar dan Khalid


20.02.2006 – Antara Umar dan Khalid

Saya tertarik dengan apa yang diungkapkan Saudari saya ini pada tulisannya yang berjudul ”Ketika Saya Berkuasa”. Tepatnya pada paragraf sebagai berikut:

Khalid ketika menjadi gubernur Armenia terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya. Yang akhirnya membuat Umar bin Khattab gregetan sehingga menarik kembali Khalid ke Madinah.

Tapi..itu bukan berarti Umar menghinakan Khalid..tapi beliau menyelamatkan Khalid dari ketergelinciran godaan dunia. Buktinya ketika Khalid meninggal..Umar menangis dan mengatakan penyesalannya tidak sempat mengembalikan kedudukan Khalid di tempat yang semestinya.

Kalimat ”terpeleset lebih banyak menggunakan uang demi kekuasaannya daripada untuk rakyatnya” mengguncang kotak memori saya. Dan betulkah pada saat itu beliau sudah menjadi gubernur Armenia? Dari buku yang pernah saya baca sahabat yang berjuluk Pedang Allah ini tidak demikian kiranya. Sehingga dengan kepenasaran ini kembali saya bongkar-bongkar buku sejarah lama.

Dari beberapa referensi tersebut, hanya satu yang benar-benar detil menceritakan tentang pemecatan panglima Khalid bin Walid oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra yakni di buku yang ditulis oleh Muhammad Husin Haekal yang berjudul Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu (penerbit Litera AntarNusa, 2002).

Sebelumnya saya tidak akan menceritakan siapa sahabat Khalid bin Walid ini karena sudah banyak kitab dan tulisan yang menulis biografi beliau. Dan saya pun tidak akan menyalin tulisan pada buku di atas karena akan membutuhkan banyak halaman untuk hanya menginformasikan tentang peristiwa pemecatan ini.

Setelah saya membacanya perlahan-perlahan, saya sedikit banyak kembali mendapatkan gambarannya yang sempat terlupa. Berikut gambarannya secara ringkas:

Pada saat Baitulmukaddas atau Yerusalem telah ditakhlukkan, para panglima perang kembali menuju tugasnya masing-masing untuk mengatur adminsitrasi pemerintahan wilayahnya masing-masing. Abu Ubaidah menuju Hims, Yazid bin Abi Sufyan tinggal di Damsyik, dan Khalid bin Walid menuju Kinnasrin (Bukan Armenia).

Namun kembali ada pemberontakan di utara Syams, pasukan muslimin pun kembali dikirim dan berhasil meredakannya. Tidak berhenti di situ mereka kembali bergerak terus ke arah utara menuju Armenia. Dan Khalid bin Walid dikirim ke Armenia untuk menanamkan rasa gentar dalam hati musuh. Dalam ekspedisi itulah Khalid bin Walid membebaskan banyak tempat dan memperoleh rampasan perang yang sangat banyak.

Sesudah itu ia kembali ke Kinnasrin dengan membawa ghanimah. Dan mendengar kedatangannya yang membawa harta benda itu banyak sekali orang dari sana- sini meminta bantuan berupa hadiah dan Khalid pun cukup bermurah hati kepada mereka. Salah satunya kepada Al-Asy’as bin Qais sebesar sepuluh ribu dirham. Inilah pokok permasalahannya.

Berita itu didengarnya oleh Umar Ra, dan ia marah besar karena sebelumnya ia mendengar sebelumnya tentang kabar Khalid yang menggosok badannya dengan khamar saat di Armenia. Khalid menjawab bahwa pada saat itu tidak ada bahan pembersih selain khamar.

Dalam masalah harta yang diberikan kepada Ibnu Qais ini, Umar ra menulis surat kepada Abu Ubdaidah supaya memanggil Khalid dan mengikatkannya dengan serban serta melepaskan topi kebesarannya sampai terungkap pemberiannya kepada Ibnu Qais: dari hartanya sendiri atau dari harta rampasan perang yang seharusnya disimpan untuk kaum dhuafa Muhajirin.

Sebenarnya kekhawatiran umar selain itu adalah pesona Khalid yang terlalu kuat di hampir sebagian besar prajurit sehingga dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalam puncak kesombongan dan kezaliman serta timbulnya pengkultusan diri Khalid.

Khalid pun datang, kemudian kurir yang diutus Khalifah bertanya kepadanya sampai tiga kali yang tidak dijawab oleh Khalid. Bilal pun mengambil topi dan merangkul kedua tangan Khalid ke belakang punggungnya dan mengikat dengan serbannya sambil bertanya: “Bagaimana? Dari harta Anda atau dari harta perolehan perang?”

Khalid terdiam dan Bilal pun mendesaknya, pada akhirnya Khalid berbicara bahwa harta yang diberikan kepada Ibnu Qais itu adalah harta pribadinya. Khalid bertanya-tanya kenapa Umar memperlakukannya seperti ini. Sehingga Khalid memutuskan untuk pergi menemui Umar di Madinah. Padahal tanpa sepengetahuan Khalid bahwa dirinya telah dipecat oleh Umar namun belum diberitahukan Abu Ubaidah karena kehalusan budi pekertinya yang tidak mau menyakiti hati sang Pedang Allah ini.

Sebelum maksudnya pergi ke madinah terlaksana, telah tiba terlebih dahulu surat dari Khalifah tentang pemanggilannya, baru saat itulah ia tahu bahwa dirinya dipecat oleh Khalifah. Ia kemudian memberitahukan kepada pasukannya tentang hal ini dan berpidato tanpa menjelek-jelekkan sedikitpun tentang Umar.

Setelah tiba di Madinah, di depan Umar ia menjelaskan darimana kekayaan itu. “Dari barang rampasan perang dan dari saham-saham. Yang selebihnya dari enam puluh ribu itu untuk Anda.” Umar menaksir barang-barang Khalid senilai delapan puluh ribu dirham, disisakan buat dia enam puluh ribu dan yang dua puluh selebihnya diambilnya dan dimasukkan ke dalam baitulmal.

Setelah itu Khalifah mengumumkan ke seluruh kota tentang pemecatan Khalid: “Saya tidak memecat Khalid karena benci atau karena pengkhiatan. Tetapi karena orang sudah terpesona, saya khawatir orang hanya akan percaya kepadanya dan hanya akan berkorban untuk dia. Maka saya ingin mereka tahu bahwa Allah Maha Pencipta dan supaya mereka tidak menjadi sasaran fitnah.”

Demikianlah kisah Khalid yang digambarkan melalui tiga puluh halaman di buku tersebut, alangkah lebih fahamnya jikalau pembaca membacanya langsung daripada membaca ringkasan saya ini yang bisa saja menjadi bias terhadap sikap Umar dan Khalid, karena pada senyatanya banyak juga yang berbeda penyikapan terhadap peristiwa itu berdasarkan kefanatikan mereka terhadap Umar atau Khalid.

Namun seperti yang diungkap oleh Haekal semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid dan Umar, karena keduanya merupakan dua kekuatan yang paling tangguh. Semenanjung Arab terbuka luas bagi kedua kekuatan yang tadinya terpencil.

Dapat ditarik kesimpulan di sini bahwa Khalid pada saat itu bukanlah dalam keadaan menjabat sebagai Gubernur di Armenia melainkan Administrator di Kinnasrin (sebuah distrik di Damsyik—sekarang Damaskus). Namun benar Khalid mempunyai kaitan dengan Armenia karena pernah melakukan ekspedisi ke sana.

Terhadap masalah penggunaan hartanya Khalid telah menjelaskan terhadap Umar seperti telah disebutkan di atas yakni dengan menggunakan uang dari bagian rampasan perangnya (ghanimah) dan memberikannya kepada Asy’as bin Qais adalah dalam rangka memberikan penghargaan kepada seorang amir—pemimpin Kindah dan orang yang telah menghadapi cobaan berat dalam hal membebaskan Irak dan Syam. Berapa seringnya orang seperti Asy’as dan orang semacam dia terjun dalam beberapa peristiwa dan berjuang mati-matian menghadapi bahaya (h338).

Demikian sedikit apa yang saya temukan di buku tersebut. Mungkin ada referensi lain yang lebih baik lagi dan dapat dipertanggungjawabkan. Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah semata. Dan Allahlah Mahatahu segalanya.

Maraji’ cuma satu (terjemahan lagi):

Umar bin Khattab: Sebuah Telaah Mendalam tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya Masa Itu; Muhammad Husin Haekal, Litera AntarNusa, 2002

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20:21 17 Pebruari 2006

Prajurit di atas Kuda Trengginas


14.02.2006 – Prajurit di atas Kuda Trengginas

Peluang menyebarkan kebaikan selalu ada kapan saja, di mana saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja yang menginginkan dirinya menjadi prajurit-prajurit kebenaran demi tegaknya panji-panji Islam dimuka bumi ini. Mereka hanya meyakini bahwa Allah lah tujuannya, Muhammad teladannya, Alqur’an hukumnya, Jihad jalannya, syahid cita-cita tertingginya.

Mereka rela berpeluh debu, berkeringat darah, berhias sayatan pedang. Mereka berbaris rapih dengan kuda-kuda trengginas yang siap berlari kencang dengan terengah-engah di padang pertempuran melawan para perintang sejatinya. Karena hakikinya pertempuran itu adalah pertempuran abadi dengan akhir berupa kibaran kebenaran.

Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”. Dengan shalat hanya sekadar penunai kewajiban. Dengan dzikir hanya pemanis mulut. Dengan doa kering tanpa ruh. Dengan malam-malam tetap berselimut tebal. Dengan subuh yang telah menjadi peneman mentari.

Dengan harta dan kemewahan tanpa pembersih. Dengan senyum yang sulit tersungging. Dengan mata penuh kerinduan birahi tak halal. Dengan amarah menjadi desahan nafas. Dengan lisan penuh tuba menoreh luka. Dengan dengki pewarna hati. Dengan haji hanya sebagai pelengkap nama. Dengan kekuasaan penuh tangan-tangan terzalimi meminta ampun. Ada seuntai tanya menggelayut dalam benak, ”engkaukah prajurit-prajurit itu?”.

Jika tidak, akan menjadi apa diri ini sedangkan engkau kelak akan berkeluh kesah: ”Oh nikmatnya menjadi binatang kerana tak ada yang perlu dipertanggungjawabkan di mahkamah yang paling agung di mahsyar sana.”

Tiada kata terlambat jika sadari bahwa nafasmu belumlah satu-satu. Kakimu masih kuat untuk dilangkahkan. Tanganmu ringan selalu di atas. Mulut masih bisa digerakkan seimbang. Dan mata lengkap tiada tara nikmatnya.

Maka sekecil kebaikan yang engkau lakukan adalah mulanya kuncup yang akan bermekaran. Mulanya tetesan air untuk menjadi gelombang. Mulanya pisau tumpul untuk menjadi pedang tajam mengilat. Mulanya prajurit kecil tak bernama untuk menjadi jenderal gagah tawadlu’.

Maka tekadkan diri mulai desah nafas yang engkau hembuskan saat ini untuk tetap menjadi penyebar kebaikan hatta sebesar dzarrah. Karena sekecil apapun kebaikan yang engkau berikan kepada yang lain ia akan memantulkan kembali kebaikan itu kepadamu.

”Siapa saja yang pertama memberi contoh prilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikitpun….” (HR Muslim)

Maka peluang itu telah ada dihadapanmu, di halaman ini, di forum diskusi ini, engkau telah menjadi satu dari sekian para prajurit kebenaran. Yang selalu mengisinya dengan nasihat dan yang selalu memberi sesuatu yang berguna.

Maka tak masalah jika engkau sekadar berkomentar asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyapa asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menulis asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar menyalin asalkan ia adalah kebaikan. Jika engkau sekadar melampirkan asalkan ia adalah kebaikan.

Maka tak terhitungnya pahala yang engkau akan dapatkan dengan memberi AlQur’an Digital, Shollu pengingat waktu sholat, Alquran Ms Word, kumpulan fatwa ulama sholih, murattal merdu para ustadz, nasyid penyemangat ruh, ebook ilmu Islam, kabar gembira dari tanah jihad, artikel pencerahan, antivirus, dan lainnya.

Maka seberapa pahala yang engkau akan dapatkan jika engkau menjadi penyebar kebaikan. Pahala itu akan mengalir dari banyak orang yang telah engkau beri kebaikan. Bahkan dari orang lain yang telah diberikan kebaikan dari orang pertama yang engkau beri kebaikan itu, hingga seterusnya. Maka seberapa lama pahala itu akan mengalir kepadamu hatta engkau telah menjadi penunggu kubur kerana ilmu bermanfaat yang engkau sebarkan.

Sebaliknya…
”…Dan siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun. (HR Muslim).

Cacian, makian, hasutan, kesia-siaan, pornografi, dan penentanganmu pada alHaq yang engkau sebarkan kepada orang lain, sudah sepantasnya gunungan dosa menjadi pemberat pada timbangan sebelah kirimu, tak ada yang bisa merubahnya kecuali dengan rahmat TuhanMu. Itupun kalau engkau pantas menerimanya.

Tak berpanjang lebar, akankah engkau menjadi salah satu prajurit kecil pengusung dan pembawa kemasalahatan pada yang lain atau sebaliknya? Terserah padamu neraca itu berat ke kanan atau sebaliknya? Atau terserah padamu, kitab itu diserahkan padamu dari sebelah kanan atau dari arah belakangmu sembari dilempar?

Kalau engkau pilih yang pertama, sebaik-baiknya tempat adalah untukmu. Jika yang engkau pilih adalah yang terakhir maka tak perlu engkau hidup saat ini juga (aku berlindung pada Mu ya Allah dari semua ini).
Kini peluang itu ada dihadapanmu. Kini pilihan itu ada ditanganmu…

###dialog antara aku dan aku
sebuah introspeksi diri

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
teh manis terhidang di meja
21:52 13 Pebruari 2006